Laman

Sabtu, 06 Januari 2018

Sejarah Barus, Tapanuli (1) Barus Titik Nol Islam Nusantara; Kota Barus Telah Terkenal Sebelum Adanya Agama Islam dan Kristen

*Semua artikel Sejarah Barus, Tapanuli dalam blog ini Klik Disini.


Baru-baru ini (tahun 2017), Kota Barus ditetapkan sebagai Titik Nol Islam Nusantara dan telah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Penetapan Kota Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara dengan sendirinya menambah situs baru tentang peradaban (permulaan, pertumbuhan dan perkembanga) penyiaran agama Islam di masa lampau. Bukan tidak mungkin suatu waktu akan muncul suatu situs baru.

Peta Tapanoeli, 1830
Penetapan Kota Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara ternyata tidak semua pihak sepakat. Lalu, suatu seminar diadakan di Aceh. Satu panelis menyebutkan Kota Pasai adalah Titik Nol Islam Nusantara. Panelis lainnya yang satu panggung menyatakan, bukan Pasai tetapi Peureulak; sedangkan panelis satunya lagi, Titik Nol Islam Nusantara bukan Pasai dan juga bukan Peureulak tetapi Lamuri. Berbeda pendapat dalam satu panggung itu berarti memiliki bukti empiris yang berbeda satu sama lain. Yang jelas ketiga kota itu ada di wilayah administrasi Aceh. Lalu muncul aksioma: Oleh karena ketiga tempat itu ada di Aceh, maka Titik Nol Islam Nusantara ada di Aceh (bukan di Pasai, bukan di Peureulak dan juga bukan di Lamuri). Kalau itu ada di wilayah administrasi Aceh berarti bukan di Kota Barus. Sebaliknya, ada tiga orang ahli mengatakan bahwa secara defacto Titik Nol Islam Nusantara di Barus. Tidak ada beda pendapat diantara ketiganya. Tidak ada pendapat yang mengatakan di Sorkam atau di Tapus. Semua mengatakan di Barus dan juga tidak mengatakan di Tapanuli. Okelah, jika tidakpun di Tapanuli dan juga tidak di Aceh, ya, di Sumatralah.

Serial artikel ini tidak dalam konteks pembuktian Kota Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara. Akan artikel-artikel sejarah Kota Barus berikut lebih pada pembuktian (empiris) bahwa hal apa saja yang terkait (dikaitkan) dengan Kota Barus. Kota Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara sudah dibuktikan oleh pihak yang lain, tetapi masih banyak yang dihubungkan dengan Kota Barus belum teruji (terbuktikan). Mari kita telusuri dengan artikel pertama.

Serial artikel Sejarah Barus ini merupakan rangkaian serial sejarah lainnya, seperti Sejarah Kota Medan, Sejarah Kota Padang, Sejarah Jakarta, Sejarah Kota Depok, Sejarah Bogor, Sejarah Bandung, Sejarah Semarang, Sejarah Kota Surabaya, Sejarah Kota Makassar dan Sejarah Kota Padang Sidempuan. Suatu saat akan tiba waktunya Sejarah Singapoera, Sejarah Kota Kualalumpur, Sejarah Palembang dan Sejarah Kota Banda Aceh.

Barus Sudah Terkenal Sedari Doeloe

Setiap masa (era) ada permulaan, pertumbuhan dan perkembangannya: era kolonial Eropa/Belanda, era Budha/Hindu, era Islam, era pendudukan Jepang dan era Republik Indonesia. Jauh sebelumnya ada yang disebut era perdagangan (komoditi) kuno: emas, kamper, kemenyan, damar, benzoin, koelit manis, getah poeli dan sebagainya.

Siapa yang memulai adanya perdagangan (transaksi dagang) di Barus di jaman kuno tentu tidak mudah membuktikannya. Namun pengetahuan berikutnya dapat digunakan untuk menjelaskan masa lampau. Komoditi kuno adalah komoditi komersil, ada penjual (hingga ke sumber di gunung-gunung di Tapanuli) dan ada pembeli (hingga ke end user di Yunani). Pusat transaksi strategis ini muncul di Barus. Lantas mengapa pedagang-pedagang di era kuno (sebelum ada agama Islam dan Kristen) Mesir, Arab dan Persia data berniaga jauh ke Barus. Itu karena sudah ada sebelumnya perantara (pedagang-pedagang India) yang meneruskan dari Barus ke Eropa oleh para pedagang Mesir, Arab dan Persia. Lambat laun pedagang-pedagang Mesir, Arab dan Persia tidak tergantung kepada pedagang-pedagang India, melainkan langsung berniaga ke Barus seiring dengan perkembangan pelayaran (kapal dan navigasi). Lantas mengapa pedagang-pedagang India mengetahui ada komoditi kuno di Barus. Itu juga karena informasi yang diperoleh dari pedagang-pedagang lokal di pesisir pantai Baru atau langsung mendapat informasi dari perilaku penduduk Batak di Tapanuli (menggunakan komoditi kuno sebagai bahan obat dan bahan kecantikan dan bahan pengawetan, sebagai minyak lampu, rempah-rempah dalam masakan). Semua itu sudah barang tentu dimulai oleh demam emas sebelumnya, yang mana pedagang-pedagang India melakukan pengumpulan emas dari pedagang-pedagang lokal di Baru, Tapanoeli, Batahan dan Natal (yang menjadi teritori penduduk Batak). Para pedagang internasional dari India ini menjualnya kepada penduduk India yang memang sangat membutuhkannya. Secara teoritis, ada penjual baru ada pembeli atau dengan kata lain ada sumber (sentra produksi) baru ada rantai perdaganga. Penduduk yang memproduksi di tempat sumber komoditi adalah awal semua permulaan. Ada dulu penduduk Batak, baru ada produksi dan perdagangan baru kemudian muncul tempat transaksi yang tetap (kota).   

Pada era perdagangan awal (komoditi kuno) termasuk dalam hal ini era Hindu/Boedha dan era Islam. Dalam fase transisi dari era Boedha/Hindu ke era Islam inilah awal masuknya agama Islam ke Nusantara (baca: Nederlandsch Indie atau Indonesia). Arus orang dan komoditi di Barus bersifat kontinu dari masa lampau hingga agama Islam bermula, tumbuh dan berkembang di Tanah Arab.

Pada saat sebelum masuknya Islam ke Nusantara di Barus, hubungan perdagangan di Barus sudah lebih dahulu ada pedagang-pedagang Mesir, Arab dan Persia yang berniaga ke Barus untuk mendapatkan komoditi kuno yang boleh jadi ditemukan di tempat lain. Hanya ada di wilayah sekitar Kota Barus (kini Tapanuli). Selain itu, tentu saja belum ada kerajaan di Barus yang menjadi pusat transaksi. Kerajaan-kerajaan yang menjadi Islam disebut Kesultanan. Pendiri kesultanan-kesultanan ini umumnya adalah orang-orang Moor. Dengan demuikian, transaksi perdagangan di Barus yang dilakukan oleh pedagang-pedagang Arab (yang telah beragama Islam) di Barus menjadi awal mulanya kemudian munculnya (kerajaan menjadi) Kesultanan. Jaraknya tentu sangat jauh: antara permulaan adanya agama Islam di Barus dengan kesulutanan yang terbentuk dan berkembang hingga mampu menyebarkan Islam secara luas di Nusantara.  

Bukti bahwa keberadaan Barus sudah sejak lama ada sudah didiskusikan oleh Ptolomaeus (sebelum adanya agama Kristen dan agama Islam). Juga terdapat terminologi kafura (yang diduga Kapur/Kamper Barus) di dalam kita suci Injil dan Alquran melalui bahasa Persia. Dengan demikian, Kota Barus sudah terkenal sebelum adanya agama Kristen dan agama Islam. Pada saat permulaan orang-orang Arab beragama Islam (abad ke tujuh) agama Islam juga turut dibawa ke Barus. Pada fase inilah awal kontak penduduk asli di Nusantara dengan ajaran agama Islam.

Lantas apa itu Titik Nol. Suatu titik awal dalam perjalanan jarak dan waktu antara satu tempat dengan tempat lain. Titik akhir dalam suatu interval garis contnuum perjalanan jarak dan waktu adalah Titik Nol berikutnya. Jika disebut nusantara atau Indonesia, maka dimana akhir perjalanan jarak dan waktu bagi yang membawa suatu pesan, maka akhir perjalanan itu adalah titik nol untuk perjalanan jarak dan waktu berikutnya. Inilah yang dimaksud Titik Nol Barus (kontak pertama, awal mula di Nuasantara). Titik Nol yang lain boleh jadi Titik Nol Penyebaran agama Islam di Jawa, titik nol penyebaran agama Islam di Makassar dan sebagainya. Titik nol yang lain juga bisa titik nol perguruan tinggi Islam, titik nol mahasiswa Islam bersatu (HMI) dan sebagainya.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

1 komentar: