Laman

Jumat, 15 Juni 2018

Indonesia di Piala Dunia (4): Indonesia vs Hungaria Piala Dunia Prancis 1938; Siaran Pandangan Mata dari Reims via Erres Radio


*Lihat semua artikel Sejarah Indonesia di Piala Dunia di blog ini Klik Disini
 

Beberapa hari ke depan para ‘gibol’ akan menikmati pesta sepak bola Piala Dunia di Moskow, Rusia melalui siaran langsung (live) yang menghadirkan tim-tim elit dunia dari 32 negara. Siaran langsung tersebut dapat diakses melalui berbagai channel: televisi (Trans TV), radio (RRI) dan video (live streaming). Dengan keterlibatan RRI untuk kali pertama dalam siaran langsung Piala Dunia akan memperluas exposure Piala Dunia, bahkan sampai ke pelosok-pelosok tanah air.

Soerabaijasch handelsblad, 02-06-1938
Pada tahun 1938 ketika Indonesia (baca: Hindia Belanda) berpartisipasi dalam Piala Dunia di Prancis penduduk Indonesia juga mendapat akses langsung melalui siarang langsung pandangan mata. Ini terjadi ketika Indonesia bertemu Hungaria di kota Rheim Prancis. Siaran langsung pandangan mata ini dilakukan oleh Erres Radio. Formasin tim Indonesia melawan tim Hungaria ini terdiri dari delapan orang pribumi, dua orang Belanda dan satu orang Tionghoa. Boleh dikatakan meski bernama Nederlandsch Oost Indie sejatinya adalah tim yang melawan Hungaria tersebut adalah (putra asli) Indonesia.

Bagaimana kisah siaran langsung pandangan mata Piala Dunia di tanah air tentu saja menarik untuk diketahui. Dan bagaimana pula jalannya pertandingan dan sambutan warga Rheims khususnya dan warga Prancis umumnya, tentu juga menarik disimak. Lantas bagaimana kisah siaran langsung pandangan mata itu sendiri dalam dunia sepak bola Indonesia masa kini?. Itu semua juga menarik untuk diperbandingkan.

Saat menulis artikel ini saya bersamaan mendengar RRI via internet (tidak perlu lagi menyediakan fisik radio seperti dulu, kecuali sedang di perjalanan dimana di dalam mobil sudah tersdia radio. RRI Pro-3 pada gelombang FM 88.8 terus mengulas Piala Dunia dan juga tentunya siaran langsung (pandangan mata) pertandingan. Ini belum ditemukan pada perhelatan Piala Dunia 2014. Hanya pada saat istirahat menulis saya nyalakan televisi untuk melihat visual pertandingan. Dunia telah berubah, sambil mendengar siaran langsung sepak bola Piala Duia tetap bisa menulis.

Siaran Langsung Pandangan Mata dari Rheims 5 Juni 1938

Radio PHOHI, satu-satunya stasion radio di Nederland yang melakukan ’siaran pandangan mata’ ketika berlangsungnya pertandingan ‘Perdelapan Final’ Piala Dunia 1938 antara Indonesia vs Hungaria tanggal 5 Juni 1938 pukul 5 sore dari stadion Stade Veledrome Minicipal, Rheims, Prancis. Han Hollander, reporter PHOHI dari Rheims mengawali reportasenya sejak pukul 11.10. Sebelum membaca tulisan di bawah ini, dan mengikuti siaran pandang mata tersebut, simak dulu video DISINI.

Stadion Senayan 1985: PSMS vs Persib
Saat mendengar siaran langsung yang sekarang (sambil menulis) saya teringat ketika masih SMP akhir 1970an di sebuah kota kecil di pedalaman Sumatra, ketika RRI menyiarkan secara langsung kejuaraan antar perserikatan di stadion Senayan (kini Stadion GBK). Pada tahun 1985 ketika saya sudah kuliah saya juga hadir dalam partai Final antara PSMS dan Persib di Stadion Senayan dan tidak lupa saya juga membawa radio. Saat langsung menonton di dalam stadion saya juga mendengar siaran langsung pandangan mata. Saya dan teman-teman berada di tribun sektor timur lantai atas. Jumlah penonton saat itu sangat fantastis: 149.999 orang plus saya sendiri. Saat itu penyiarnya adalah Samsul Muin Harahap, Sambas dan Abraham Isnan Simanjuntak.

Jelang pertandingan antara Indonesia vs Hungaria tim Indonesia belum tiba di Rheims, namun sejak tanggal 1 Juni 1938 tiket pertandingan sudah sold out sebanyak 19.000 tiket (Bataviaasch nieuwsblad,  03-06-1938). Warga Rheims memang bertanya-tanya dimana itu Indonesia (mereka menyebutnya Oost Indie, seperti apa permaiannya, tetapi nyatanya tetap antusias datang ke stadion. Baru pada hari pertandingan, setelah membaca koran pagi, penduduk kota mulai mengenal dimana Indonesia dan serupa apa profil Tim Indonesia. Rupanya, koran-koran lokal memberitakan secara lengkap hasil liputan ketika Walikota Rheims mengundang kedua tim dan menjamu makan malam di balai kota. Setelah jamuan makan malam selesai, dilangsungkan konferensi pers secara terpisah antara dua tim. Antusias wartawan sangat tinggi di blok konferensi pers Tim Indonesia (Bataviaasch nieuwsblad, 07-06-1938). Dari sinilah, informasi tentang Indonesia disajikan lengkap di koran-koran yang terbit di Kota Rheims pada pagi hari itu.

Selama pertandingan
.
Orang Prancis ternyata memiliki cara pandang tersendiri tentang sepakbola. Ternyata penduduk Kota Rheims datang berbondong-bondong ke stadion untuk menonton dan menunaikan tiket yang telah mereka beli jauh sebelum hari pertandingan. Mereka sangat respek terhadap Tim Indonesia setelah membaca semuanya di dalam koran pagi. Tapi, tak mereka sangka, sebelum pertandingan dimulai, dari tengah lapangan para pemain Indonesia memberi salam hormat kepada para penonton yang telah duduk manis baik ke arah tribun barat maupun tribun timur (hal serupa ini tidak dilakukan Tim Hungaria). Sontak, para penonton berdiri untuk membalas salam hormat Tim Indonesia. Rasa hormat di balas dengan rasa hormat.
.
De Indische courant, 07-06-1938
Pertandingan dimulai. Priiit. Roger Conrie, wasit asal Prancis meniup pluit, tanda pertandingan dimulai. Mo Heng, yang sudah sembuh dari cedera pergelangan tangan, berada sigap di depan gawang. Pertahanan Tim Indonesia yang dikawal oleh dua center back, Hukom dan Samuel agak rapuh, sehingga Mo Heng harus beberapa kali menyelamatkan gawang Tim Indonesia sebelum akhirnya gawang Tim Indonesia kebobolan. Tidak ada riuh rendah, melainkan penonton terdiam saja ketika gol pertama terjadi. Ini menujukkan tanda bahwa kelihatannya penonton yang hampir seluruhnya orang Prancis dan sebagian besar penduduk Kota Rheims memihak Tim Indonesia. Tidak ada sorak sorai penonton setiap gol yang tercipta kepada Tim Hungaria. Akan tetapi, setiap ada adegan indah dan heroik dari pemain Indonesia, para penonton bergemuruh.
.
Boleh jadi, orang Prancis melihat pertandingan ini sebuah drama: antara tim kuat vs tim lemah. Memang akhirnya, Tim Hungaria menang telak enam kosong, tetapi para penonton puas melihat penampilan Tim Indonesia yang sangat heroik. Inilah drama dalam sepakbola dan orang Prancis yang hadir di stadion memang menikmati betul drama itu. Sisi humanis penonton Prancis lebih mengemuka dalam pertandingan Tim Indonesia vs Tim Hungaria.
.
Pasca Pertandingan
.
SuasanLihata penonton pertandingan Indonesia vs Hungaria
Koresponden Kantor Berita Aneta dari Rheims melaporkan bahwa jumlah penonton yang hadir ternyata melebihi kapasitas stadion (20.000 penonton, kapasitas 19.000 tempat duduk). Bahwa setiap ada terobosan dari pemain-pemain Indonesia penonton bersorak, sementara setiap pelanggaran yang dibuat Tim Hungaria, penonton menjawab dengan ejekan. Tim Indonesia yang mengenakan kostum kemeja oranye. Pertandingan pada awalnya tampak saling serang. Para pemain Indonesia berani adu bodi dengan pemain-pemain Hungarian yang tinggi besar, namun pemain Indonesia seringkali terlempar. Mo Heng sangat aktif dan berulang-ulang menyelamatkan gawangnya, di lini tengah Meeng unggul dan berulang kali mematahkan sayap Hungaria dengan baik. Kesan umum adalah bahwa permainan kolektif Tim Indonesia belum terjalin, tetapi kinerja individu pemain sangat baik. Pemain-pemain Indonesia yang mendapat pujian dari petandingan ini adalah Taihitu, Hong Djien, Mo Heng, Samuels dan Meeng (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-06-1938).

Tiba di Tandjong Priok (Het nieuws voor NI, 20-07-1938
Di Indonesia, siaran langsung pandangan mata pertandingan antara Indonesia vs Hungaria dapat ditangkap melalui radio sekitar pukul sepuluh malam yang direley oleh beberapa stasion radio, seperti Eress Radio. Pengumuman adanya siaran radio ini sudah diiklankan di berbagai surat kabar di tanah air sejak tanggal 2 Juni 1938 (bersamaan dengan keberangkatan Tim Indonesia dari Den Haag menuju Rheims, Prancis). Demam sepakbola Piala Dunia kala itu di Indonesia memang tidak ubahnya dengan situasi dan kondisi sekarang, namun kala itu ‘jauh di mata, tetapi dekat di telinga’.

Selamat mendengar. Jangan lupa sambil melakukan aktivitas yang lain.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar