Laman

Senin, 11 Juni 2018

Sejarah Kota Padang (53): Mohamad Rasad Maharadja Soetan; Ayah Soetan Sjahrir dan Pionir Pers Perempuan Siti Rohana Koedoes


Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini

Mohamad Rasad gelar Maharadja Soetan bukanlah orang biasa, tetapi pegawai pemerintah dan orang tua yang luar biasa. Mohamad Rasad lahir di Fort de Kock tahun 1866 dan meninggal di Medan tahun 1929. Selama masa hidup, Mohamad Rasad memilki dua anak yang luar biasa: Soetan Sjahrir dan Siti Rohana. Kedua anak Mohammad Rasad ini tergolong yang luar biasa: Soetan Sjahrir adalah Perdana Menteri RI yang pertama dan Siti Rohana adalah perintis pers perempuan Indonesia.

Anak Mohamad Rasad gelar Maharadja Soetan
Sangat sedikit riwayat para tokoh tua ditampilkan seperti Mohamad Rasad. Padahal mereka adalah orang tua dari para tokoh-tokoh besar. Penulisan riwayat para tokoh besar seringkali tak terhindarkan justru menenggelamkan tokoh-tokoh yang berdiri dibelakangnya. Itulah mainstream dalam penulisan sejarah. Mohamad Rasad adalah tokoh yang berdiri di belakang munculnya tokoh sekaliber Soetan Sjahrir dan Siti Rohana. Sudah waktunya penulisan sejarah para orang tua digali lebih banyak, sangat berguna pada masa ini yang dapat dijadikan sebagai inspirasi bagi para orang tua untuk membimbing anak-anak untuk melahirkan tokoh-tokoh besar.  

Bagaimana para orang tua, seperti Mohamad Rasad menjalani karir dan pada waktu yang sama bagaimana mereka membina anak-anak mereka sehingga berhasil menarik untuk diperhatikani. Mereka orang tua ini adalah orang yang berperan penting lahirnya tokoh-tokoh besar di Indonesia. Jasa mereka seharusnya tidak terlewatkan dalam sejarah. Merekalah yang dengan sadar bagaimana anak-anak mereka diarahkan. Pada masa lampau, justru para orang tualah yang dijadikan inspirasi pertama oleh para tokoh-tokoh besar.

Mohamad Rasad, Tokoh yang Menginspirasi Soetan Sjahrir

Soetan Sjarir tidak melaihat ayahnya, Mohamad Rasad meninggal dan diantarkan ke pemakaman. Mohamad Rasad gelar Maharadja Soetan meninggal dunia di Medan tanggal 18 September 1929 (lihat De Sumatra post, 19-09-1929). Mohamad Rasad meninggal pada usia tinggi, 63 tahun. Sementara, Soetan Sjahrir sedang menjalani studi di Belanda. Paling tidak, Soetan Sjahrir masih di Belanda hingga awal tahun 1930 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 05-04-1930). Kepengurusan Perhimpoenan Indonesia (PI) baru terbentuk yang mana Soetan Sjahrir sebagai wakil ketua. Kepengurusan baru ini menggantikan kepengurusan lama, Mohamad Hatta dan kawan-kawan (1926-1930).

Meninggalnya Mohamad Rasad menjadi masalah bagi keluarga Soetan Sjahrir yang ditinggalkan. Masalah keluarga, terutama yang berimbas pada pembiayaan kerap terjadi dialami mahasiswa Indonesia yang jauh belajar di Belanda. Ini dialami oleh Amir Sjarifoeddin, ketika keluarganya menghadapi masalah di Sibolga tahun 1926, Amir Sjarifoeddin yang baru lulus sekolah menengah di Haarlem tahun 1927, dan tengah register di perguruan tinggi harus pulang ke tanah air. Masalah pembiayaan yang tinggi di Belanda boleh jadi menjadi faktor penting tidak bisa menlanjutkan studi.  

Soetan Sjahrir yang baru berangkat studi ke Belanda tahun 1928 harus pulang ke tanah air. Soetan Sjahrir tidak kembali ke Belanda dan juga tidak melanjutkan studi. Soetan Sjahrir dengan sendirinya harus memutar haluan. Langsung terjun ke dunia politik yang memang lagi marak pada waktu itu. Pengalaman berpolitik semasa kuliah di Belanda menjadi modal dasar untuk merintis jalan di dunia politik praktis. Mulai dari bawah.

Ayah Soetan Sjahrir, Mohamad Rasad merintis karir dari bawah. Mohamad Rasad pada tahun 1923 pensiun dengan jabatan tinggi Kepala Djaksa di pengadilan Landraad Medan setelah berkarir selama 40 tahun (De Sumatra post, 12-07-1923). Mohamad Rasad mulai bekerja sebagai pegawai di kantor pemerintah di Alahan Pandjang dengan tugas boekbinder (penjilid buku) lalu kemudian menjadi schrijver (pencatat). Selanjutnya menjadi pakhuismeester (kepala gudang). Dengan ketekunan, Mohamad Rasad mendapat promosi sebagai adjunct hoofd-djaksa (asisten jaksa) di Padang.

Setelah berziarah ke makam ayahnya di Medan, Soetan Sjahrir kembali ke Bandoeng, tempat dimana sebelumnya Soetan Sjahrir menyelesaikan pendidikan sekolah menengah. Nama Soetan Sjahrir muncul ke permukaan muncul di Bandoeng pada tahun 1931. Soetan Sjahrir ikut dalam gerakan protes terhadap pemerintah Hindia Belanda yang mengkampanyekan buruh untuk melawan pemerintah dan menyampaikan rasa simpatik kepada eks pemimpin PNI yang telah menyuarakan melawan imperialis dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia (lihat Het volk: dagblad voor de arbeiderspartij, 18-02-1931). Eks pemimpin PNI yang dimaksud adalah Dr. Tjipto Mangoenkoesoemoe yang telah diasingkan.

Mengapa Soetan Sjahrir seratus persen berbalik menentang imperilis Belanda, sementara ayahnya Mohamad Rasad selama 40 tahun berkarir di dalam pemerintahan Belanda? Boleh jadi ini bermula ketika tahun 1927 didirikan PPPKI (organisasi partai-partai politik kebangsaan Indonesia) yang menjadi patokan dilakukannya Kongres PPPKI (senior) dan Kongres Pemuda (junior) pada tahun 1928. Setelah proklamasi kebangsaan Indonesia itu dinyatakan, Soetan Sjahrir berangkat studi ke Belanda dan bergabung dengan PI. Para mahasiswa Indonesia di Belanda sudah sejak lama menyuarakan gerakan kemerdekaan. Setelah pulang ke tanah air (karena ayahnya meninggal), beberapa lama kemudian langsung bergabung dengan massa di Bandoeng yang pada intinya aksi solidaritas terhadap penangkapan sejumlah pimpin PNI. Dalam aksi massa ini juga turut Soekarno yang baru keluar dari penjara. Soetan Sjahrir tampaknya telah mengikuti garis karir (politik) meski berbeda dengan ayahnya. Soetan Sjahrir mengetahui betul ayahnya seorang yang bekerja keras hingga mampu mencapai puncak karir. Teladan inilah yang membangkitkan motivasi Soetan Sjahrir untuk tekun menjalani karir meski bidangnya pertentangan dengan sang ayah untuk sampai ke puncak. Pilihan politik Soetan Sjahrir yang berbeda dengan sang ayah yakni non-cooperative menjadi tidak terbebani Soetan Sjahrir karena ayahnya sudah tiada. Ayahnya, Mohamad Rasad setelah dari Alaha Pandjang dipromosikan menjadi asisten jaksa, karirnya terus lempang. Mohamad Rasad memulai karir jaksa di Rao. Mohamad Rasad, asisten djaksa di Rao ketika sakit diberi cuti ke Pajacombo (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 09-06-1900). Mohamad Rasad dipindahkan dari Rao ke Taloe (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 14-09-1900). Mohamad Rasad ditetapkan sebagai jaksa di Taloe (De locomotief, 24-01-1903). Mohamad Rasad setelah menjadi asisten jaksa di Padang Panjang dipindahkan menjadi asisten jaksa di Padang (Bataviaasch nieuwsblad, 30-01-1906). Beberapa tahun kemudian setelah menjadi Kepala Djaksa di Djambie diangkat menjadi districthoofd (demang) di Djambie (De Preanger-bode,   09-01-1913). Keputusan menjadi demang tersebut baru muncul beberapa buln kemudian (Bataviaasch nieuwsblad, 30-12-1913).      

Soetan Sjahrir, yang lahir di Padang Pandjang 5 Maret 1909, mulai bergabung dengan massa eks PNI yang tidak berafiliasi dengan partai baru yang didirikan oleh Mr. Sartono, Partai Indonesia. Orang-orang eks PNI ini telah mendirikan majalah Daulat Ra’jat. Semasa Soetan Sjahrir masih di Belanda kerap mengirim tulisan ke majalah tersebut. Lalu kemudian eks PNI ini membentuk partai pada bulan Desember 1931 yang diberi nama partai Pendidikan Nasional Indonesia yang diketuai oleh Soekemi. Soetan Sjahrir menjadi anggota partai Pendidikan Nasional Indonesia.

Sementara itu Soetan Sjahrir terus melakukan propaganda menyuarakan Pendidikan Nasional Indonesia. Dalam suatu pertemuan besar di gang Kenari, PNI berbicara tentang politik dan ekonomi. dan krisis. Pemimpin pertemuan tersebut seorang mahasiswa Soetan Sjahrir yang kembali dari Belanda (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 01-03-1932).

Dalam Kongres Pendidikan Nasional Indonesia bulan Juni 1932 yang berlangsung di Bandung, Sjahrir terpilih menjadi Pimpinan Umum Pendidikan Nasional Indonesia menggantikan Soekemi. Mohammad Hatta yang akan pulang ke tanah air setelah selesai studi diharapkan bergabung dengan Pendidikan Nasional Indonesia.

Partai PNI dibubarkan Mr. Sartono selama Soekarno di tahanan dan lalu mendirikan partai baru Partai Indonesia (PI). Soekarno sendiri setelah keluar dari penjara belum tergabung dengan PI dan baru menetapkan pilihannya pada tanggal 1 Juli untuk batas penentuan baginya untuk memilih partai, yakni Partai Indonesia atau Pendidikan Nasional Indonesia (De Indische courant, 20-06-1932). Beberapa media memprediksi Soekarno akan memilih PI, bukan PNI. Jika Soekarno memilih PI, diharapkan bahwa PNI akan hancur berantakan, karena kemudian para pendukung Ir. Soekarno akan meluap ke Partai Indonesia.

Pada bulan November 1932, Mohammad Hatta dilaporkan berduet dengan Sjahrir di dalam pertemuan publik di Megelang. Mohammad Hatta akan berbicara tentang kelebihan perdagangan, dan Sjahrir tentang prinsip partai (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 17-11-1932). Mohammad Hatta juga pada tanggal 9 dan 10 Februari di Semarang untuk menyelenggarakan konferensi darurat PPPKI. Mohammad Hatta bertindak sebagai penasehat (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 31-01-1933). Lalu kemudian Mohammad Hatta menjadi Ketua PNI.

Sudah beberapa partai didirikan, seperti Partai Bangsa Indonesia, PI dan Pendidikan Nasional Indonesia. Sejak makin gerncarnya perjuangan para revolusioner Indonesia, pemerintah melalui intel/polisi terus mengawasi. Akhirnya kembali Soekarno ditangkap, sementara Amir Sjarifoeddin dan Mohamad Jamin juga ditangkap. Dalam perkembangannya, Soekarno akan diasingkan dan Amir Sjarifoeddin dan Mohammad Jamin sedang dipertimbangkan. Selain itu, pemerintah melakukan pembekuan (breidel) semua media yang dipandang bersifat radikal, termasuk surat kabar bertiras tinggi Bintang Timoer dan majalah dua mingguan Daulat Ra’jat, organ partai Pendidikan Nasional Indonesia. Melihat situasi ini, Parada Harahap pemimpin surat kabar Bintang Timoer yang juga penggagas pendirian PPPKI tahun 1927 tidak bisa menahan marahnya lagi terhadap pemerintah. Parada Harahap yang pernah mendirikan surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempoean tahun 1919, memimpin tujuh revolusioner ke Jepang pada bulan November 1933. Tiga dari tujuh revolusioner ini adalah Drs. Mohammad Hatta, Abdoellah Lubis dan Dr. Samsi. Saat ini Mohamamad Hatta adalah Ketua Pendidikan Nasional Indonesia; Dr. Samsi adalah anggota dewan pusat Partai Indonesia. Abdoellah Lubs, meski non partai tetapi surat kabarnya Pewarta Deli di Medan terbilang radikal yang juga turut dibreidel. Abang Mohammad Jamin bernama Djamaloedin yang kerap disebut Adinegoro adalah editor Pewarta Deli di Medan yang sebelumnya sebagai editotor Bintang Timoer di Batavia (pimpinan Parada Harahap). Rombongan revolusioner kembali dari Jepang tanggal 13 Januari 1934 turun di Soerabaja yang disambut oleh dua pengurus Partai Bangsa Indonesia, Dr. Soetomo dan Dr. Radjamin Nasution. Pada saat rombongan ini sampai di darat diperoleh kabar pada hari yang sama Soekarno diberangkatkan ke pengasingan di Flores. Setelah beberapa lama di Sorebaya, sambil memonitor situasi, para revolusioner ini kembali ke rumah masing-masing. Namun tidak lama kemudian, Parada Harahap dan Mohammad Hatta ditangkap di Batavia. Mereka berdua lolos karena konsulat Jepang memberikan kesaksian di pengadilan. Akan tetapi Mohammad Hatta ditangkap lagi karena dituduh menyebarkan propaganda enam bulan sebelumnya di majalah Daulat Ra’jat. Para pengurus pusat Pendidikan Nasional Indonesia ditahan. Penangkapan ini terjadi pada awal bulan Februari 1934. Dalam prosesnya, pada akhir tahun 1934 Mohammad Hatta (juga Soetan Sjahrir) diasingkan ke Digoel.

Soetan Sjahrir Mengagumi Semangat Kakaknya Siti Rohana

Soetan Sjahrir memulai pendidikan di sekolah Eropa (ELS) di Medan tahun 1916. Setahun sebelumnya, Residentie Oostkust Sumatra yang beribukota di Medan ditingkatkan statusnya menjadi provinsi. Masih di Medan, Soetan Sjahrir mengikuti pendidikan di MULO tahun 1923. Saat itu ayah Soetan Sjahrir adalah pejabat tinggi di Medan. Setelah lulus MULO tahun 1926 Soetan Sjahrir kemudian melanjutkan studi ke Bandoeng (AMS).

Ayah Soetan Sjahrir, Mohamad Rasad demang di Djambie dipindahkan ke Medan sebagai Hoofddjaksa (kepala Jaksa) di Landraad Medan (Bataviaasch nieuwsblad, 11-07-1914). Nama Mohamad Rasad tampaknya cepat populer. Belum lama di Medan, nama Mohamad Rasad tampaknya cepat populer. Beberapa tokoh di Medan dicalonkan untuk menjadi anggota dewan kota (gemeenteraad) Medan yakni Ismail, Kajamoedidin gelar Radja Goenoeng, Mohammad Sjaaf, Mohamad Rasad dan Waworoentoe (lihat De Sumatra post, 16-07-1918). Yang terpilih adalah Kajamoedin Harahap gelar Radja Goenoeng penilik sekolah di Medan, lulusan Kweekschool Fort de Kock ((lihat Bataviaasch nieuwsblad, 25-01-1899). Radja Goenoeng merupakan orang pribumi pertama melalui pemilihan duduk di dewan kota. Meski Mohamad Rasad tidak terpilih, dengan karir jaksa yang jabatannya di Medan sebagai kepala jaksa termasuk salah satu di Hindia Belanda yang mendapat bintang jasa dari Kerajaan Belanda, Ridder in de Orde van Oranje Nassau (Bataviaasch nieuwsblad, 30-08-1923).

Soetan Sjahrir berangkat studi ke Jawa ingin sekolah setinggi-tingginya. Di Medan belum ada HBS maupun AMS. Sudah barang tentu, Soetan Sjahrir mengetahui bahwa Amir Sjarifoeddin kakak kelasnya yang lulus di ELS Medan tahun 1921 telah melanjutkan sekolah menengah ke Leiden. Di Bandoeng, Soetan Sjahrir selama mengikuti pendidikan AMS Bandoeng, yang dimulai tahun 1926 mulai ikut berpartisipasi organisasi pelajar. Saat itu, sudah terdapat banyak organisasi pemuda maupun organisasi pelajar.

Sudah barang tentu Soetan Sjahrir mengingat (terinspirasi) dari kiprah kakaknya yang sulung Siti Rohana yang sejak tahun 1912 telah aktif dalam pergerakan wanita. Meski saat itu Soetan Sjahrir masih berumur tiga tahun, tetapi kiprah kakaknya yang masih berjalan menjadi teladan bagi Soetan Sjahrir. Pada tahun 1918/1919 terjadi heboh di Medan dan pada saat itu Soetan Sjahrir sudah duduk di ELS. Kehebohan untuk kali pertama pribumi (warga biasa, bukan Eropa/Belanda) diakomodir menjadi anggota dewan kota (terpilih Radja Goenoeng). Masih pada tahun itu surat kabar Benih Merdeka menurunkan laporan tentang penindasan para kuli di perkebunan (penerapan poenale sanctie) yang menjadi heboh hingga ke Jawa. Laporan itu dikirimkan oleh seorang krani di perkebunan, Parada Harahap. Akibat keberanian mengirim laporan yang sensitif itu Parada Harahap oleh perusahaan tempatnya bekerja dipecat. Parada Haraap hijrah ke Medan, melamar jadi wartawan Benih Mardeka malah justru diberikan posisi editor. Pada tahun 1919 surat kabar memakai kata ‘merdeka’ ini dibreidel. Parada Harahap lalu pindah ke Pewarta Deli. Pada saat Parada Harahap menjadi editor Pewarta Deli, Parada Harahap juga membantu para perempuan muda yang ingin mendirikan surat kabar perempuan. Surat kabar perempuan ini diberi nama Perempuan Bergerak dengan editor Boetet Satidjah dan dipandu Parada Harahap dengan motto ‘Pasangan Terbaik Ada di Depan’ (lihat De Sumatra post, 17-05-1919). Lambang majalah ini dua perempuan dengan meniup terompet. Tujuan pendirian majalah perempuan ini untuk mendukung tindakan perempuan yang sesuai dengan keinginannya saat ini, dan juga untuk membantu aksi para laki-laki. Majalah ini juga memuat masalah anak-anak, pendidikan, kehidupan wanita dan urusan rumah tangga. Majalah ini juga menyediakan editorial (lihat De Preanger-bode, 19-06-1919).

Sejak itu kata-kata ‘merdeka’ dan ‘bergerak’ menjadi menu setiap pelajar di Medan pada tahun-tahun selanjutnya. Soetan Sjahrir yang tengah di bangku sekolah dan yang secara fisik dalam masa pertumbuhan dan secara psikologis dalam tahap perkembangan, suasana kota Medan secara langsung  mulai menyemai pikiran Soetan Sjahrir, seorang anak yang cerdas yang tumbuh dan berkembang bersama anak-anak lainnya sebagai anak Medan yang cenderung memiliki sifat radikal (rasa tidak senang melihat sepak terjang para planter dan penjajah Belanda). Masa-masa ini pula besar dugaan peran kakaknya Siti Rohana (yang pada tahun 1919 sudah berada di Medan). Siti Rohana pernah mendirikan majalah perempuan dan telah pernah berkunjung ke Belanda.

Siti Rohana, kakak Soetan Sjahrir pada tahun 1912 mendirikan majalah di Padang yang diberi nama Soenting Melajoe. Majalah ini diedit oleh Zoebaidah dan Siti Rohana. Majalah ini mencakup prosa dan puisi. Dalam edisi pertama menggarisbawahi sarana pendidikan yang baik, manakala begitu sedikit buku yang ditulis dalam bahasa Malejoe, juga dapat disediakan media yang baik seperti surat kabar dan majalah, yang satu dapat belajar banyak dan mendorong para perempuan, tidak lagi hanya laki-laki dan perempuan tinggal di belakang, untuk belajar dan berdiskusi, yang satu dapat memperoleh pengetahuan juga tentang pengetahuan Belanda. Selain itu, pendapat ibu-ibu kuno diperbincangkan, seolah-olah pendidikan untuk anak perempuan dianggap berlebihan. Mereka semua mengatakan tanpa pendidikan, gadis-gadis-gadis masih bisa membuat tenun, memasak dan renda. Harus diakui, Soenting Melajoe mengatakan pendidikan diperlukan tidak hanya untuk sekadar untuk dapat membaca dan menulis juga yang lainnya, juga disebutkan perlu belajar bagaimana mengamati kebersihan, tahu sopan santun dan juga mempertajam pikiran. Menggugah ibu-ibu kuno (agar) membiarkan putri mereka pergi ke sekolah, dan bisa membawanya untuk lulus yang dapat diterapkan dalam menenun, mereka dapat menarik semua jenis pengetahuan dari buku masak untuk mempersiapkan masakan baru untuk menyenangkan keinginan ibunya yang dalam hal ini ada beberapa ratus gadis semangat  untuk mejadi guru, vaccinatrices (mantri tjatjar perempoean) dan pelatihan bidan, yang ada kebutuhan besar di tempat-tempat yang didominasi laki-laki (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-08-1912). Siti Rohana yang sudah berumur 28 tahun ini, terbilang tidak muda lagi, tetapi belum terlambat memulai perjuangan membebaskan kaumnya (perempuan) di lingkungan yang didominasi laki-laki. Untuk meningkatkan pemahamannya, Siti Rohana berinteraksi dengan perempuan-perempuan Eropa (yang boleh jadi sejalan dengan pikirannya). Karena itu, Siti Rohana berksempatan berangkat ke Eropa atas dukungan finansial ayahnya, kepala jaksa di Djambi (Mohamad Rasad) dan suaminya (Koedoes?) pegawai di kantor Resident di Fort de Kock (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 08-03-1913). Siti Rohana dari Kota Gadang bersama keluarga Westenenk berangkat ke Belanda yang ingin memperoleh lebih banyak pengetahuan di Belanda. Catatan: Westenenk adalah Residen Palembang yang mana saat itu Residen Palembang masih mencakup wilayah Djambi dimana ayah Siti Rohana bertugas sebagai demang.

Soetan Sjahrir sadar tidak sadar sifat ulet kerja ayahnya (Mohamad Rasad) dan sifat inisiatif kepeloporan kakaknya (Siti Rohana) telah menginternalisasi di dalam diri Soetan Sjahrir yang meski masih muda belia. Sangat wajar Soetan Sjahrir, teladan ayahnya telah menginspirasinya dan kekagumannya terhadap kepeloporan kakaknya di bidang pers perempuan. Soetan Sjahrir secara gradual menjadi tumbuh dan berkembang di dalam keluarga yang berpikiran maju dan di dalam kota yang sangat dinamis. Soetan Sjahrir mulai paham mengapa kakaknya ‘disejajarkan’ dengan RA Kartini dan mengapa ayahnya bisa menerima bintang jasa tertinggi bagi seorang pribumi Ridder in de Orde van Oranje Nassau.   

De Sumatra post, 22-02-1921: ‘Een tweede Kartini?  Seorang Kartini kedua? ‘Oetoesan Melajoe' memberitahukan bahwa Siti Rohana, putri kepala jaksa di Medan, tidak akan diizinkan lagi untuk bergabung dengan 'Soenting Melajoe' oleh suaminya Koedoes (yang kini sebagai) editor dari surat kabar Deli ‘[Benih] Mardeka', dimana dia sekarang akan menyumbangkan penanya untuk bekerja sama. Dalam tulisannya yang termuat pada editorial surat kabar (Oetoesn Melajoe) disebutkan Reina Tenoen, putri Datoek Soetan Maharadja (bedakan dengan Mohamad Rasad gelar Maharadja Soetan) yang masih murid sebelas tahun kelas 5 di sekolah Mulo di Padang. Menurut ayah yang berbahagia itu (Datoek Soetan Maharadja) memasukkan (Reina Tenoen) lebih awal dalam jurnalistik bertujuan untuk melatih wanita muda (Reina Tenoen) sebagai pemuka teman-temannya sesama perempuan, sebagaimana Kartini bagi perempuan di Jawa’.

Majalah 'Perempuan Bergerak' (1919)
Soetan Sjahrir  yang saat ini berumur 12 tahun juga melihat sendiri kiprah kakaknya. Siti Rohana yang sudah tinggal di Medan. Soetan Sjahrir menjadi lebih dekat dan intens dengan Siti Rohana yang nota bene menjadi pembimbingnya. Soetan Sjahrir juga menyadari kakaknya setelah dulu merintis pers perempuan di Padang, kini masih tetap aktif menulis di surat kabar.

Surat kabar Benih Mardeka (dibawah editor Koedoes) yang sekarang haruslah dibedakan dengan surat kabar Benih Mardeka yang dulu (berada dibawah Mohamad Joenoes kemudian Parada Harahap). Surat kabar Benih Mardeka didirikan setelah rapat publik tahun 1915. Mohamad Samin dari SI dan Abdoellah Lubis dari Sarikat Goeroe menjadi pemimpin dan editor surat kabar Benih Mardeka yang didirikan tahun 1916. Namun tidak lama kemudian pindah ke Pewarta Deli. Pada saat Benih Mardeka dibawah editor Mohamad Joenoes, Parada harahap mengirim tulisan dan dimuat tentang penyiksaan kuli di perkebunan. Pada tahun 1919, Benih Mardeka kemudian dibreidel bukan karena delik pers melainkan pimpinannya Mohammad Samin tersandung tuduhan kasus perdata. Sejak itu, Parada Harahap pindah ke Pewarta Deli dan ikut membantu pendirian majalah perempuan ‘Perempuan Bergerak yang dipimpin Boetet Satidjah’. Masih pada tahun 1919 Parada Harahap pulang kampung ke Padang Sidempoean dan mendirikan surat kabar yang lebih revolusioner Sinar Merdeka. Parada Harahap di Padang Sidempoean kerap terkena delik pers. Setelah beberapa waktu, Benih Mardeka diaktifkan kembali oleh Radja Sabaroeddin dibawah bendera NV Setia Bangsa. Radja Sabaraoedin, pahlawan Belanda dalam Perang Atjeh, pada tahun 1915 Radja Sabaroedin sebagai wedana di Batavia dipecat karena terlibat persekongkolan atas suatu pembunuhan ((Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-06-1915). Sejak itu nama Sabaroedin menghilang. Setelah sekian lama Radja Sabaroedin muncul di Medan menjadi direksi NV Seti Bangsa yang menerbitkan (kembali) Benih Mardeka (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-09-1923). Radja Sabaroedin meski pernah dipecat dari jabatannya, tetaplah sebagai pahlawan Belanda. Pada ulang tahun Benih Mardeka (1923) oleh NV. Setia Bangsa, dibawah direksi Tengkoe Badja Sabaroedin pada tanggal 31 Agustus tahun ini mengadakan sejumlah kegiatan yang dihiasi oleh berbagai potret termasuk anggota keluarga kerajaan dan otoritas administratif tertinggi dan pemerintah SOK (Sumatra’s Oostkust), pelopor perkebunan di Deli Cramer dan Nienhuys. Sementara itu, Parada Harahap tahun 1923 hijrah ke Jawa dan kemudian mendirikan surat kabar Bintang Hindia di Batavia. Catatan: Boetet Satidjah, editor majalah Perempuan Bergerak’ kemudian diketahui menjadi istri Parada Harahap; Tengkoe Radja Sabaroedin meninggal dunia tahun 1924 dalam usia 63 tahun di Batavia (De Sumatra post, 21-07-1924). Radja Sabaroedin adalah pemegang bintang jasa militer pribumi tertinggi. Deze was in den Atjeh-oorlog bekend en verkreeg de Militaire Willemsorde 4de kl. (De Preanger-bode, 23-07-1924).

Soetan Sjahrir setelah menyelesaikan pendidikan MULO di Medan tahun 1926 hijrah ke Jawa untuk melanjutkan studi sekolah menengah (AMS) di Bandoeng. Pada tahun ini (1926) Parada Harahap yang juga boleh dikatakan ‘anak Medan’, sebagaimana halnya Soetan Sjahrir sebagai ‘anak Medan’, mendirikan surat kabar baru yang lebih radikal yang diberi nama Bintang Timoer. Parada Harahap sendiri baru-baru ini (1925/1926) telah melakukan perjalanan jurnalistik ke sejumlah kota di Sumatra dan Semenanjung yang hasilnya dibukukan dan diterbitkan NV Bintang Hindia tahun 1926. Surat kabar Bintang Timoer ini langsung melejit dengan tiras paling tinggi di Batavia. Masih di tahun yang sama (1926) pers Eropa menyebut Parada Harahap sebagai wartawan terbaik pribumi.

Parada Harahap tahun sebelumnya (1925) mendirikan kantor berita pribumi yang diberi nama Alpena (dengan merekrut WR Supratman sebagai editor). Pada saat itu sudah ada kantor berita Eropa/Belanda bernama Atena. Surat kabar Bintang Timoer mengikuti platform surat kabar yang didirikan Parada Harahap di Padang Sidempoean, Sinar Merdeka (1919-1922). Parada Harahap yang tidak memiliki hutang kepada Belanda, sangat intens menyuarakan keadilan (melawan Belanda) dan mendorong kemajuan bagi pribumi. Soekarno dari Bandoeng kerap mengirim tulisan ke surat kabar Bintang Timoer. Surat kabar Bintang Timoer juga kerapa memberitakan kiprah Soekarno.

Dengan portofolio tinggi, Parada Harahap yang menjabat sebagai sekretaris Sumatranen Bond  menggagas organisasi induk kebangsaan tahun 1927 yang dikenal sebagai PPPKI (Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia). PPPKI ini tertdiri dari Sumatranen Bond, Kaoem Betawi. Pasoendan, Boedi Oetomo dan lainnya yang mana  ssebagai Ketua adalah MH Thamrin dan Sekretaris Parada Harahap. Dalam pembentukan PPPKI juga dihadiri oleh Soekarno, pendiri organisasi kebangsaan Perhimpoenan Nasional Indonesia (PNI) yang berpusat di Bandoeng). Atas inisiatif Soekarno (PNI) dan Parada Harahap (dari PPPKI) diadakan rapat umum di Bandoeng akhir tahun 1927. Hasil yang muncul dari rapat umum ini platform organissasi induk ini diubah menjadi Perhimpoenan Partai-Partai Kebangsaan Indoensia yang singkatannya tetap sama: PPPKI.

Organisasi adalah wujud dari kesadaran kolektif yang secara sadar diinisiasi oleh seseorang terpelajar (suka membaca dan mengamati) yang telah memiliki pemahaman yang mendalam dan pandangan yang luas. Inilah yang muncul pada tahun 1900 di kota Padang. Dja Endar Moeda, seorang pensiunan guru, yang telah mendirikan sekolah swasta, editor dan pemilik percetakan yang menerbitkan surat kabar Pertja Barat menggagas didirikannya suatu organisasi kebangsaan yang diberi nama Medan Perdamaian di Padang (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-02-1900). Munculnya kesadaran Dja Endar Moeda bermula ketika tahun 1899 orang-orang Eropa/Belanda mendukung dengan menggalang dana untuk Transvaal sementara penduduk dalam kehidupan terpuruk, miskin dan menderita. Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda pemilik portofolio tertinggi di Padang melalui Medan Perdamaian berupaya mengkampanyekan bahwa hanya melalui organisasi kemajuan bangsa dapat dipercepat. Medan Perdamaian adalah organisasi nasional (organisasi kebangsaan berifat trans-nasional). Dja Endar Moeda, direktur Medan Perdamaian bahkan telah ikut membantu pendidikan di Semarang dengan memberi sumbangan bagi peningkatan pendidikan di Semarang sebesar f 14.490 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-08-1902). Organisasi kebangsaan (Indonesia0 yang pertama ini kemudian didirikan tahun 1907 di Medan dan Fort de Kock. Lalu keumudian, kesadaran kolektif muncul di Jawa dengan didirikannya Boedi Oetomo di Batavia bulan Mei 1908. Organisiasi Boedi Oetomo yang melakukan kongres pertama pada tanggal 3 Oktober 1908 di Djogjakarta merupakan copy paste dari organisasi Medan Perdamaian (lihat Soerabaijasch handelsblad, 20-10-1908). Lalu seorang mahasiswa di Leiden, Soetan Casajangan bereaksi karena Boedi Oetomo cenderung bersifat kedaerahan (di Jawa) dan didukung oleh pemerintah, sementara Medan Perdamaian mengusung platform yang bersifat nasional. Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, yang juga adik kelas Dja Endar Moeda di sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean kemudian menggagas organisasi mahasiswa yang bersifat nasional yang diberi nama Indische Vereeniging (Perhimpoenan Hindia) yang diproklamirkan tanggal 25 Oktober 1908 di Leiden. Dalam perkembangannya kemudian, Boedi Oetomo yang terus mendapat sokongan pemerintah menyebabkan pembangunan di Jawa menjadi jauh lebih meningkat dan muncul ketimpangan (pembangunan) antara Jawa dan luar Jawa. Soetan Casajangan setelah selsai studi kembali ke tanah air tahun 1913 dan ditempatkan sebagai guru Eropa di Buitenzorg dan segera dipromosikan ke Kweekschool Fort de Kock (saat-saat inilah Soetan Casajangan bertemu  dengan Sorip Tagor, asisten dosen di Veartsen School dan Dahlan Abdoel dan Tan Malaka, dua alumni Kweekschool Fort de Kock yang akan segera berangkat studi ke Belanda). Sementara kader-kader Soetan Casajangan tengah serius di tahun awal kuliah di Belanda, Soetan Casajangan di Fort de Kock melakukan gebrakan awal. Ini dapat dibaca pada De Preanger-bode, 08-09-1914: ‘ Fort de Kock. Atas prakarsa Mr. RS [Radjioen Soetan] Casajangan Sp [Soripada], pada tanggal 25 Agustus 1914, pertemuan para pemimpin, pejabat, dan warga Fort de Kock dan masyarakat sekitar, societeit Madjoe. RSCSp, sebagai ketua, membuka rapat dan mengadakan ceramah. Sifat kedaerahan yang begitu menonjol di Jawa (Boedi Oetomo) memunculkan euforia di kalangan pemudanya dengan didirikannya Jong Java (1915). Dengan berpedoman pada risalah Soetan Casajangan yang kini membangunkan penduduk Sumatra di For dek Kock dan Tapanoeli dan situasi Sumatra yang terus terpuruk (terabaikan, malahan pemungutan pajak terlalu berlebihan) dan euforia Jong Java, Sorip Tagormahasiswa kedokteran hewan di Utrecht mempelopori didirikannya organisasi orang Sumatra yang diberi nama Sumatra Sepakat yang diproklamirkan pada tanggal 1 Januari 1917 di Utrecht. Pengurus terdiri dari Sorip Tagor Harahap sebagai ketua, Dahlan Abdoellah sebagai sekretaris dan Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia sebagai bendahara. Salah satu anggota adalah Ibrahim gelar Tan Malaka. Teman-teman mereka di Batavia kemudian merespon dan mendukung dengan mendirikan sarikat pemuda yang diberi nama Jong Sumatranen (head to head dengan Jong Java). Jong Sumatranen yang umumnya mahasiswa-mahasiswa STOVIA diketuai oleh T. Mansoer, Wakil Ketua Abdoel Moenir Nasution, sementara Amir dan Anas sebagai sekretaris serta Marzoeki sebagai bendahara (lihat De Sumatra post, 17-01-1918). Sejak itu bermunculan organisasi-organisasi pemuda seperti Kaoem Betawie, Pasoendan dan sebagainya. Pada tahun 1918 didirikan Sumatranen Bond (senior) dalam kaitannya dengan pemilihan kandidat ke Volksraad. Dua kandidat akhirnya bersaing untuk satu ke Volksraad: Dr. Abdoel Rasjid Siregar (dokter di Padang Sidempoean) dan Abdoel Moeis, pengurus SI di Bandoeng. Pada bulan Mei 1919 diadakan kongres Jong Sumatranen yang pertama di Padang: Ketua Panitia Mohamad Amir dan pembina kongres Dr. Abdoel Hakim Nasution (dokter di Padang). Dalam kongres ini turut hadir ketua Jong Sumatranen wilayah Tapanoeli Parada Harahap dan Mohammad Hatta, seorang pelajar MULO di Padang. Pada kongres kedua Jong Sumatranen di Padang 1921 pembina kongres masih tetap Dr. Abdoel Hakim yang sudah menjadi anggota dewan kota (gemeenteraad) Padang. Parada Harahap, yang sudah mendirikan surat kabar Sinar Medeka di Padang Sidempoean dan Mohamad Hatta yang sekolah di Prins Hendrik School Batavia turut hadir. Pertemuan di dua kongres inilah muncul persahabatan antara Parada Harahap dan Mohamad Hatta, Pada tahun 1921 sehabis kongres Mohamad Hatta berangkat studi ke Belanda dan Parada Harahap pada tahun 1922 hijrah ke Batavia dan mendirikan surat kabar Bintang Hindia. Pada tahun-tahun selanjutnya di Belanda, Mohamad Hatta dan kawan-kawan mengubah platform Indisch Vereeniging menjadi lebih radikal dengan nama baru Perhimpoenan Indonesia (PI) yang mana Mohammad Hatta kemudian menjadi ketua PI (1926-1930). Sementara di Batavia, Parada Harahap dalam top performance (potofolio tinggi) menggagas didirikannya supra organisasi nasional, sebagaimana dulu Medan Perdamaian dan Indisch Vereeniging/Perhimpoenan Indonesia, yang diberi nama Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Pembentukan supra organisasi ini diadakan di rumah Husein Djajadiningrat (dosen Rechts Hooge School) yang juga dihadiri oleh Soetan Casajangan (direktur sekolah Normaal School di Meester Cornelis). Soetan Casajangan adalah pendiri dan presiden pertama Indisch Vereeniging tahun 1908 dan Husein Djajadinigrat yang juga anggota pendiri dan pernah menjadi sekretaris Indisch Vereeniging. Catatan: Dja Endar Moeda, Soetan Casajangan, Sorip Tagor dan Parada Harahap secara kebetulan sama-sama kelahiran Padang Sidempoean.

Agenda PPPKI tahun 1928 melakukan Kongres PPPKI pada bulan Sepetember dan diintegrasikan dengan Kongres Pemuda pada bulan Oktober. Parada Harahap menunjuk Dr. Soetomo sebagai ketua panitia Kongres PPPKI (senior) dan Parada Harahap dan Dr. Soetomo ‘menempatkan’ tiga mahasiswa Rechts Hooge School sebagai panitian inti Kongres Pemuda (junior): Soegondo (dari Persatoen Peladjar-Peladjar Indonesia) sebagai ketua, Mohamamad Jamin (dari Jong Sumatranen Bond) sebagai sekretaris dan Amir Sjarifoeddin Harahap (dari Bataksch Bond). MH Thamrin dan Parada Harahap adalah pengusaha. Ketua pengusaha pribumi (semacam KADIN masa ini) di Batavia adalah Parada Harahap. Besar dugaan yang membiayai dua kongres besar ini adalah pengusaha-pengusaha pribumi Batavia. Itulah mengapa Parada Harahap dan Dr. Soetomo memposisikan tiga mahasiswa tersebut.

Kongres Pemuda pada dasarnya adalah kongres para individu pelajar/pemuda yang juga tergabung dalam organisasi pelajar dan organisasi pemuda seperti PPPI yang menginduk ke PPPKI, Jong Sumatranen Bond ke Sumatranen Bond, Jong Java ke Boedi Oetomo, Jong Bataksch ke Bataksch Bond, Pemoeda Indonesia di Bandoeng ke Perhimpoenan Nasional Indonesia dan lainnya. Soetan Sjahrir yang masih sekolah menengah di Bandoeng (AMS) tergabung dalam organisasi Pemoeda Indonesia. Sjahrir tidak pernah terlibat organisasi kedaerahan. Pada masa-masa inilah Soetan Sjahrir banyak berinteraksi dengan senior (seperti Parada Harahap, Dr. Soetomo dan Ir.Soekarno) dan juga dengan para junior (seperti Mohamad Jamin dan Amir Sjarifoeddin). Mohamad Hatta yang saat itu ketua PI di Belanda tergolong organisasi pelajar. Akan tetapi Parada Harahap mengundang Mohamad Hatta berbicara di Kongres PPPKI (bukan di Kongres Pemoeda). Inilah cara Parada Harahap untuk membesarkan Soekarno dan Mohammad Hatta. Namun jelang kongres Mohammad Hatta tidak bisa hadir karena kesibukan di Belanda tetapi Mohamad Hatta mengutus Ali Sastroamidjojo untuk mewakilinya. Sedangkan Soetan Sjahrir hadir di Kongres Pemoeda. Catatan: Abang Mohammad Jamin bernama Djamaloedin alias Adinegoro, kelak tahun 1929 menjadi editor Bintang Timoer (pimpinan Parada Harahap) dan setahun kemudian dipindahkan ke Pewarta Deli (pimpinan Abdoellah Lubis). Abdoellah Lubis juga adalah pendiri Benih Mardeka tahun 1915/1916, surat kabar yang kini dimana kakak Soetan Sjahrir, Siti Rohana dan iparnya Koedoes semakin intens mengelola Benih Mardeka. Pasca Radja Sabaroedin, surat kabar Benih Mardeka kembali ke platform awal: surat kabar bersifat radikal (sebagaimana Pewarta Deli sudah lebih dahulu berubah menjadi bersifat radikal).     

Mohamad Rasad gelar Maharadja Soetan
Siti Rohana Koedoes, kakak Soetan Sjahrir yang dikaguminya sejak dulu masih terus giat menulis apakah di Benih Mardeka, juga mengirim tulisan ke Pewarta Deli. Siti Rohana juga mengirm tuisan  ke surat kabar yang terbit di Sibolga (Tapanoeli), surat kabar Pertjatoeran, pimpinan M. Arif Lubis. Salah satu tulisan Siti Rohana di surat kabar Pertjatoeran seakan melanjutkan pemikirannya ketika dulu merintis pers perempuan: untuk kemajuan perempuan. Kini, Siti Rohana ingin mendobrak kebiasaan lama yang lain yang terkait perempuan: masalah poligami. Persoalan ini tidak hanya semata-mata yang hidup di dalam masyarakat, boleh jadi Siti Rohana melihat sendiri di dalam keluarganya? Catatan: dalam silsilah keluarga mereka, Siti Rohana berbeda ibu dengan Soetan Sjahrir. Ayahnya Mohamad Rasad tercatat (pernah) memiliki istri sebanyak enam orang dan anak sebanyak 25 orang (termasuk Siti Rohana dan Soetan Sjahrir).

Nieuwe Rotterdamsche Courant, 13-07-1928: ‘Posisi perempuan adalah subjek yang menjadi perhatian yang semakin meningkat di pers pribumi. Kami membaca tulisan seorang perempuan sendiri yang dimuat di surat kabar Pertjatoran yang terbit di Sibolga, Tapanoeli. Seorang wanita Melayu, [Siti] Rohana suatu ulasan dan perbandingan antara pengertian tentang menikah dengan gadis pribumi di Tapanoeli dan gadis asli Priaman (West Sumatera), di Tapanoeli orang tua berkonsultasi tentang calon pengantin kepada siapa yang harus dikatakan keinginannya. Di West Sumatra benar-benar berbeda, orang tua melihat hanya pada kelahiran, meskipun calon pengantin  sudah di atas usia atau sudah menikah, dll. Semua ini membuat tidak ada pengaruh jika ia mendapat keturunan jika dibandingkan dari keluarga yang berbeda. Akibatnya banyak perceraian dan berdampak pada perempuan, seperti keadaan miskin, perzinahan, prostitusi, dll. Penulis meminta editor untuk mengirim beberapa salinan untuk dikirim untuk para kepala di tanah airnya (kampung halaman),  berharap ada perubahan itu dimasa yang akan datang jika dibandingkan dengan keadaan yang tidak diinginkan saat ini. Namun jawabannya belum muncul dalam edisi berikutnya. Di dalam tulisan oleh penulis yang diharapkan berubah terhadap (masalah) poligami, yang mempengaruhi salah satu ketentuan dalam Islam, yang memungkinkan laki-laki lebih banyak perempuan untuk dimilikinya. Untuk mencapai hasil, perlu dicatat [Siti] Rohana, yang pertama harus fokus pada Al-Quran. Perempuan modern untuk Java asli sementara sudah terlibat perang melawan poligami dan para intelektual laki-laki (sudah) menemukan bahwa poligami umumnya tidak ada (yang perlu) dipertahankan lagi’.
Siti Rohana sudah lama meninggalkan kampung halaman di Fort de Kock, paling tidak Siti Rohana (dan suami: Koedoes) sudah diketahui berada di Medan tahun 1919. Kota Medan, kota melting pot, yang sangat dinamis telah mempengaruhi secara radikal cara berpikirnya. Hal ini juga yang telah dialami oleh adiknya Soetan Sjahrir. Sebagai anak Medan, Soetan Sjahrir telah disemai di Medan sebagai pemuda radikal sebelum hijrah studi ke Jawa di Bandoeng tahun 1926. Tulisannya tentang permasalahan poligami, meski bukan isu baru dalam pers pribumi (bahkan di Padang), namun karena tulisan permasalahan poligami ini dibuat oleh seorang perempuan menjadi lain magnitudenya.

Namun pertanyaannya mengapa Siti Rohana mengirim tulisannya ke surat kabar Pertjatoeran yang dieditori oleh M. Arif Lubis di Sibolga, dan bukan ke Padang. Ini semua karena di Padang lebih adem. Pers di Sibolga sama hangatnya dengan pers di Medan. Surat kabar Pertjatoeran adalah surat kabar berhaluan radikal seperti Pewarta Deli di Medan. Bebeberapa tahun setelah tulisan Siti Rohana (1928), M. Arif  Lubis tersandung perkara delik pers tahun 1931. Surat kabar Pertjatoeran dibawah editor M. Arif Lubis dimajukan ke pengadilan (lihat De Sumatra post, 16-09-1931). Pangkal perkara diajukannya ke meja hijau M. Arif Lubis karena melaporkan seorang kepala polisi Belanda melakukan tindakan kekerasan terjadap penduduk. Setelah surat kabar Pertjatoeran dibreidel, M. Arif Lubis dibebaskan hijrah ke Medan. Pada tahun 1932 sebagaimana dilaporkan De Sumatra post, 19-01-1932 di Medan didirikan Partai Indonesia. M. Arif Lubis di dalam dewan Partai Indonesia cabang Medan menjabat sebagai sekretaris. Kota Sibolga (ibukota Residentie Tapanoeli) juga menjadi tempat bersamainya partai politik. Ir. Soekarno pernah datang ke Sibolga dalam rangka pembentukan cabang Partai Indonesia (lihat De Sumatra post, 13-05-1932). Ir. Soekarno setelah keluar dari penjara lebih memilih Partai Indonesia (bersama Amir Sjarifoeddin dan Mohammad Jamin). Sementara Soetan Sjahrir di partai baru Pendidikan Nasional Indonesia.  M. Arif  Lubis menjadi editor Pewarta Deli (De Sumatra post, 19-10-1933). M. Arif Lubis membantu kepala editor Pewarta Deli Adingoro. Parada Harahap yang sangat dekat dengan Ir. Soekarno menjadi alasan bagi Soekarno bersedia ke Sibolga. Sementara jaringan politik Sibolga-Medan sudah berada diantara orang-orang Partai Indonesia. Di Jawa terdapat Amir Sjarifoeddin (ketua cabang Batavia) dan Mohammad Jamin (ketua cabang Soerabaja). Amir Sjarifoeddin dan Mohammad Jamin pada kongres pemuda (1928) berada dibawah arahan Parada Harahap. Abang Mohamad Jamin sendiri, Adinegoro saat ini kepala editot Pewarta Deli (pimpinan Abdoellah Lubis yang mana sebelumnya Adinegoro sebagai editor Bintang Timoer (pimpinan Parada Harahap). Parada Harahap sendiri dulu tahun 1919 adalah editor Pewarta Deli. Di antara grup anak-anak Medan ini Ir. Soekarno merasa nyaman dan bersedia ke Sibolga. Pada tahun 1934 M. Arif Lubis melakukan aktivitas politik (Partai Indonesia) di Padang Sidempuan. Namun belum lama, di Padang Sidempoean terjadi penangkapan aktivis politik dan penggeledahan di bernagai tempat (De tribune: soc. dem. Weekblad, 26-06-1934). Disebutkan pada tanggal 11 Mei pukul 1 siang di Padang Sidempoean dilakukan pencarian, termasuk di rumah Moh. Arif Lubis. Dalam penggeledahan juga disita gambar Sukarno, Sartono dan lain-lain. Alasan untuk pencarian tidak ditentukan, tetapi mungkin terkait dengan larangan pertemuan rapat-rapat politik. Tidak hanya di Padang Sidempoean, juga di Pematang Siantar. De Sumatra post, 27-10-1934 melaporkan dalam pertemuan pada hari Minggu di Siantar ditangkap Adam Malik, anggota dewan dari Partai Indonesia di Siantar. Penangkapan itu terjadi atas permintaan hakim Sipirok sejak Adam Malik diduga mengadakan pertemuan partai ketika ia berada selama di Siporok. Adam Malik dibawah pengawalan polisi dibawa ke Sipirok. Adam Malik setelah diadili dijebloskan ke penjara Padang Sidempoean, penjara dimana pada sekitar tahun 1919-1922 Parada Harahap kerap dijebloskan ketika memimpin surat kabar Sinar Merdeka.

Setelah tulisan Siti Rohana tentang permaslahan poligami, nama Siti Rohana tidak terdeteksi lagi. Adiknya Soetan Sjahrir baru mulai berorganisasi, seakan ingin melanjutkan kiprah kakaknya. Soetan Sjahrir di Bandoeng semasa pendidikan sekolah menengah (AMS) menjadi bagian organisasi pemuda Pemoeda Indonesia (organ pemuda dari Perhimpoenan Nasional Indonesia). Pasca kongres pemuda 1928 Soetan Sjahrir lulus dan kemudian pada tahun 1929 melanjutkan studi ke Belanda.Namun belum lama Soetan Sjahrir di Belanda, ayahnya Mohamad Rasad gelar Maharadja Soetan dikabarkan  meninggal dunia di Medan tanggal 18 September 1929. Boleh jadi Siti Rohana masih terlibat pembiayaan sekolah Soetan Sjahrir, namun situasi boleh jadi berkehendak lain, Soetan Sjahrir harus pulang ke tanah air dan meningglkan studinya tahun 1931. Di tanah air, Soetan Sjahrir mulai terlibat dengan organisasi politik yang baru dibentuk tahun 1932: partai Pendidikan Nasional Indonesia (yang menjadi saingan Partai Indonesia).

Setelah tidak terdengar kabar berita Siti Rohana, Sabariah dan Boetet Satidjah di Medan, tokoh wanita yang muncul ke permukaan adalah Ronggoer Harahap, guru di Joshua Instituut (De Sumatra post, 02-01-1934). Ronggoer Harahap adalah pengurus perhimpuena bola basket Korfbal Comite Medan (De Sumatra post, 29-10-1934). Ronggoer Harahap kemudian menjadi Kepala Sekolah Neutrale HIS Medan (De Sumatra post, 14-06-1937). Ronggoer Harahap adalah satu-satu perempuan kepala sekolah HIS di Medan. Dari 11 buah sekolah HIS di Medan hanya tiga orang yang dijabat pribumi. Mr. GB Joshua Batubara yang juga anggota dewan kota adalah kepala sekolah HIS terkenal dari Joshua Instituut (masih eksis hingga kini). Nama nona Ronggoer Harahap kali pertama diberitakan tahun 1915 sebagai siswa yang diterima di sekolah elit di Batavia, Prins Hendrik School, afdeeling HBS (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 17-05-1915). Mohamad Hatta diterima pada Afdeeling-A di sekolah Prins Hendrik School pada tahun 1919. Mohamad Hatta lulus tahun 1922 lalu kemudian melanjutkan studi ke Belanda. Pada tahun yang sama (1922) Ida Loemongga, kelahiran Paang tahun 1905 lulus di Afdeeling-B (IPA) Prins Hendrik School dan juga kemudian melanjutkan studi ke Belanda. Ida Lomongga meraih gelar doktor (Ph.D) di bidang kedokteran tahun 1931 di Universiteit Utrecht. Dr. Ida Loemongga, Ph.D adalah perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar Ph.D. Ida Loemongga adalah putri dari pasangan Dr. Haroen Al Rasjid Nasution dan Alimatoe Saadiah (pasangan ini sama-sama lahir di Padang Sidempoean). Alimatoe Saadiah adalah perempuan pribumi pertama yang berpendidikan Eropa (ELS). Alimatoe Saadiah adalah putri Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda (alumni Kweekschool Padang Sidempoean, 1884; Radja Persuratkabaran di Soematra). Dengan kata lain, Dr. Ida Loemongga, Ph.D adalah cucu dari Dja Endar Moeda. Foto Ronggoer Harahap (De Sumatra post, 28-06-1937).

Sarikat Oesaha Amai Setia di Fort de Kock dan NV Setia Bangsa di Medan

Di Kota Gadang, Fort de Kock desebutkan berdiri Sarikat Oesaha Amai Setia dan juga Studie Fonds. Sarikat Amai  didirikan tahun 1911. Dua paguyuban ini telah tumbuh dan berkembang (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 11-01-1916). Sebagaimana disebutkan pada tahun 1916 di Kota Gadang tetap dalam situasi tenang meski baru-baru ini terjadi kerusuhan di Padang Pandjang dan dua orang dipaksa di Singkarak untuk membayar pajak mereka dengan ancaman bayonet dari prajurit. Ini mengindikasikan bahwa Kota Gadang di Fort de Kock saat itu terbilang cukup aman dan kondusif. Kota Gadang sendiri tidak jauh dari Fort de Kock. Sementara Fort de Kock sendiri adalah tempat dimana orang Eropa/Belanda cukup banyak. Pada masa inilah Siti Rohana berkreasi mengembangkan bakatnya untuk mempelopori pers perempuan. Siti Rohana dan kawan-kawan telah memulai majalah perempuan Soenting Melajoe pada tahun 1912.

Paguyuban Amai Setia tentu saja tidak sendiri. Tenunan terkenal dari Siloengkang sudah sampai pemasarannya ke Jawa. Kini muncul pesaing di Soelit Air, Singkarak yang telah membentuk paguyuban yang diberi nama Andeh Setia (Algemeen Handelsblad,    25-09-1912). Pada saat ini 150 wanita bekerja pada mesin tenun di Soelit Air yang (hasilnya) sangat bagus. Boleh jadi Andeh Setia telah mendengar Amai Setia di Kota Gadang, Fort de Kock. Tampaknya dua paguyuban ini dibentuk setelah melihat industri kerajinan yang sudah terbilang maju di Siloengkang hanya bisa dikejar dengan cara berorganisasi. Pada sekitar tahun-tahun ini juga marak sarikat usaha dibentuk di Jawa. Jenis sarikat usaha saat itu bermacam ada yang berdasarkan komunitas (seperti Amai Setia dan Andeh Setia), nasional, agama (SI), pribumi (sarikat boemipoetra), Indo (Insulinde) atau kombinasinya (seperti Setia Oesaha di Soerabaja yang berafiliasi SI dengan menerbitkan surat kabar Oetoesan Hindia). Sebaliknya sarikat Medan Perdamaian yang didirikan di Padang tahun 1900 adalah sarikat sosial yang bergerak antara lain dalam bidang pendidikan (studiefonds) yang saat itu situasi dan kondisi masih berfokus pada bidang elementer (pendidikan dan kesehatan). Pada fase berikutnya organisasi-organisasi kebangsaan dibentuk dalam upaya memajukan usaha pribumi (untuk mengimbangi dominasi bisnis orang-orang Tionghoa). Ini dapat dilihat dengan pendirian Sarikat Tapanoeli di Medan yang didirikan tahun 1907 juga telah memiliki sarikat usaha yang didirikan tahun 1909 dengan berbadan hukum NV Sarikat Tapanoeli. Sarikat in kemudian menerbitkan surat kabar Pewarta Deli tahun 1909 (sebagai sarana penyerbaran pengetahuan dan medium untuk mempromosikan usaha para anggota khususnya).   

Mohammad Rasad yang menjadi jaksa dan demang di Djambie tentu saja mendukung putri sulungnya itu. Juga turut mendukung paguyuban perempuan Amai Setia yang mana menjadi nama sarikat oesaha (kaoem perempuan) di Kota Gadang yang juga disebut Amai Setia. Sarikat oesaha Amai Setia ini pada tahun 1915 telah mendapat legalitas dari pemerintah dengan nama Vereeniging/Perkoempoelan Karadjinan Amai Setia (KAS).

Diantara usaha yang dilakukan untuk peningkatan pengetahuan perempuan (pendidikan dan media) dan pemberdayaan perempuan (di bidang kerajinan) Perkoempoelan Keradjinan Amai Setia di Kota Gedang (Fort de Koek) juga diketahui turut menyelenggarakan loterai berdasarkan Besluit van den Directeur van Onderwijs en Eeredienst ddo. 18 April 1911, No. 7261 (Bataviaasch nieuwsblad, 11-08-1914). Seperti dalam penyelenggaran Agustus-Oktober 1914 penyelenggara (Perkoempoelan KAS) menyediakan loterai sebanyak 8.000 kupon yang harga per kupon f2.5 (plus biaya kirim f0.1 via pos). Hadiah terdiri sebanyak 132 pemenang dengan pembagian kategori sebagai berikut: 1 pemenang dengan hadiah f3500; 1=f500, 1=f100; 2=f50; 2=f25; 25=f10; 100=f5; Catatan: dana maksimum yang akan terkumpulan sebesar f20.000, sementara jumlah total nilai hadiah yang diundi sebesar f5.000. Setelah dikurangi pajak undian (bagi pemerintah) dan biaya-biaya operasional maka sisanya adalah keuntungan bagi penyelenggara. Masa pembelian kupon selama 2.5 bulan. Hadiah diambil paling telat delapan hari setelah pengundian di bank Agam.

Sementara itu masih tahun 1916 didirikan sarikat dagang usaha perdagangan Setia Bangsa di Medan (De Sumatra post, 14-11-1916). Sarikat ini mendapat legalitas pada tahun 1917 dengan nama NV Setia Bangsa (Bataviaasch nieuwsblad, 01-02-1917). Di Medan sudah sangat banyak organisasi. Satu organisasi disebut organisasi para istri dengan nama Setia Istri. Organisasi para istri ini telah mendirikan sekolah PAUD, Frobel School di Medan (De Sumatra post, 22-03-1917). Ketua sarikat Setia Istri adalah T. Sabariah (De Sumatra post, 16-04-1918). Mereka ini telah mulai menginisiasi perempuan mendapat hak pilih dalam pemilihan anggota dewan kota (gemeenteraad).

Dalam bahasa Minangkabau ‘amai’ dan ‘andeh’ adalah ‘ibu’ yang berarti Amai Setia dan Andeh Setia adalah Ibu (yang) Setia. Pengunaan kata ‘setia’ sudah banyak digunakan di berbagai tempat seperti di Jawa. Kata ‘setia’ dalam hal ini harus dilihat konteksnya: setia dalam makna para ibu yang setia (kepada suaminya), jiwa persatuan (dalam organisasi) atau komunitas yang setia (terhadap Pemerintah Hindia Belanda). Siti Rohana adalah bagian daripada ibu-ibu tersebut. Disebutkan Siti Rohana telah menikah dengan Koedoes pada tahun 1908 sebelum Amai Setia didirikan.

Tidak diketahui keluarga Siti Rohana pindah ke Medan. Besar dugaan Siti Rohana pindah dari Fort de Kock ke Medan antara tahun 1916 dan 1919. Yang jelas tahun 1919 Siti Rohana sudah menjadi guru kerajinan di sekolah perempuan Sekolah Derma di Medan (De Sumatra post, 25-02-1919). Sekolah ini didirikan tahun 1914 dengan bantuan Tjong A Fie dan Sultan menyediakan lahan. Sekolah Derma ini juga dibawah pengawasan dewan kota dari komisi pendidikan yang dipimpin Radja Goenoeng (De Sumatra post. 23-11-1922). Sementara itu, diberitakan setelah terjadi pertemuan publik dan pembentukan dewan Indisch Partij (IP) di Loeboekpakam, Deli, yang menjadi sekretaris adalah Abdoel Koeddoes (De Sumatra post, 01-10-1919). Abdoel Koeddoes adalah suami Siti Rohana.

Indische Partij (IP) adalah Partai Hindia partai politik pertama di Hindia Belanda yang didirikan tanggal 25 Desember 1912. Para pendiri IP adalah EFE Douwes Dekker, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan RM Soewardi Soerjaningrat. Di Padang juga telah dibentuk dewan IP tahun 1919. Ketua dewan IP di Padang adalah Dr. Abdoel Hakim (lihat De Sumatra post, 14-01-1922). Dr. Abdoel Hakim (Nasution) adalah kepala dinas ksehatan di Padang yang juga anggota dewan kota (gemeenteraad) Padang. Abdoel Hakim adalah pembina kongres Jong Sumatranen yang diadakan di Padang tahun 1919 dan tahun 1921. Dr, Abdoel Hakim, alumni ELS Padang Sidempoean sekelas dengan Dr, Tjipto Mangoenkoesoemo di Docter Djawa School (sama-sama lulus tahun 1905).

Siti Rohana di Medan sudah barang tentu menjadi bagian dari sarikat perempuan Setia Istri. Tampaknya Siti Rohana telah menemukan kota yang diimpikannya. Kota multi etnik yang dinamis. Kota dimana segala apa yang dipikirkan dimungkinkan terwujud. Dengan latar belakangan emampuannya berorganisasi dan menulis di media yang sudah teruji selama di Fort de Kock dan Padang, Siti Rohana akan betah. Suami yang telah menjadi editor Benih Mardeka (1923) dengan sendirinya Siti Rohana ikut aktif mendukung. Hingga tahun 1923 masih mengajar di sekolah perempuan Sekolah Derma di Medan (De Sumatra post, 31-01-1923). Namun anehnya Siti Rohana tidak bersedia lagi menulis di majalah Soenting Melajoe dan lebih memberi perhatian kepada media-media yang terbit di Medan. Hal ini boleh jadi akibat adanya pergeseran orientasi cara berpikir yang lebih terkembang. Siti Rohana yang sudah melewati upaya-upaya pencerdasan (pendidikan) di Fort de Kock dan kini ke arah upaya-upaya yang bersifat politis/radikal. Situasi ini tengah marak di Medan tidak hanya laki-laki juga para perempuan sudah mulai terlibat.

Kabar tentang Siti Rohana tidak menulis lagi di Soenting Melajoe diketahui tahun 1921. Meski demikian, penggantinya Reina Tenoen, anak Datoek Soetan Maharadja dari Oetoesan Melajoe di Padang sudah muncul. Sarikat oesaha Amai Setia tetap eksis yang diketuai oleh Ny. Hasidah (Soerabaijasch handelsblad, 23-03-1936). Sarikat ini disebut adalah yang tertua di bidang kerajinan tangan dan telah eksis selama 29 tahun. Eksistensi Perkoempoelan Keradjinan Amai Setia di Kota Gadang dilaporkan tahun 1941 yang tetap eksis yang masih dibawah kepemimpinan Hasidah (De Sumatra post, 29-09-1941). Sarikat Amai Setia hingga tahun 1956 masih eksis dengan ikut pameran pada penyelenggaraan pekan raya perempuan keempat di Djakarta (De nieuwsgier, 08-03-1956).

Surat kabar Benih Mardeka di Medan, tempat dimana suami Siti Rohana sebagai editor, didirikan pada  tahun 1916. Sementara itu NV Handels Mij Setia Bangsa sudah pula didirikan tahun 1916 (De Sumatra post, 14-11-1916). Perusahaan perdagangan ini kemudian mendapat akta pendirian (Bataviaasch nieuwsblad, 01-02-1917). Surat kabar Benih Mardeka tersebut dicetak oleh percetakan NV Setia Bangsa (salah satu bidang usaha perusahaan). Sementara  surat kabar Pewarta Deli yang didirikan 1909, organ organisasi Sjarikat Tapanoeli yang dibentuk 1907, dicetak oleh NV Sjarikat Tapanoeli.

Abdoel Koeddoes
Pada tahun 1919 Benih Mardeka terkena delik pers (De Sumatra post, 14-08-1919). Editor Mohamad Joenoes diseret ke meja hijau di pengadilan Landraad Medan karena Benih Mardeka membuat puisi berjudul ‘O Maharadjalela?’ Dalam kasus ini juga dikaitkan dengan artikel yang berisi tentang beberapa hasutan untuk kebencian, permusuhan atau penghinaan terhadap pemerintah atau beberapa kelompok populasi *termasuk kesultanan). Mohamad Joenos membantah menyerang pemerintah, hanya menekankan bahwa pemerintah gagal memenuhi janji-janjinya, di tengah-tengah untuk menuntut pemenuhan, Pengadilan pada akhirnya memutuskan tidak terbukti dan dibebaskan dari tuntutan. Dalam sidang ini juga dihadirkan pihak percetakan NV Setia Bangsa sebagai saksi (untuk menelusuri distribusinya). Dalam perkembangannya Benih Mardeka harus ditutup bukan karena delik pers tetapi semata-mata karena masalah perdeta. Sebagaimana diketahui bahwa Mohamad Rasad sejak 1914 sebagai kepala jaksa di Landraad Medan sudah barang tentu mengikuti proses peradilan ini. Lalu kemudian, Mohamad Joenoes mengundurkan diridari Benih Mardeka tahun 1920 dan digantikan editor baru, Mohamad Noer (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-04-1920). Dalam sabutan, pada edisi pertamanya, Mohamamd Noer belum bisa mengatakan apakah misinya di Benih Mardeka bersifat radikal, atau pemerintah, atau nasionalis, atau ekstremis. Dalam perkembangannya saham NV Setia Bangsa sendiri diakuisisi seluruhnya oleh keluarga Radja Sabaroedin pada tahun 1921 (lihat De Sumatra post, 22-02-1929). Radja Sabaroedin sebelumnya memiliki saham di Benih Mardeka. Sejak diakusisi Radja Sabaroedin, editor Benih Mardeka adalah Abdoel Koedoes (lihat De Sumatra post, 22-02-1921). Dalam perjalanannya, Benih Mardeka tersandung kembali delik pers dibawah editor Raden Mangoen Atmodjo (De Sumatra post, 28-02-1922). Abdoel Koedos tidak lama di Benih Mardeka. Pada tahun 1923 Abdoel Koedoes disebut pengurus salah satu organisasi radikal (De Sumatra post, 02-01-1923). Organisasi ini diduga adalah NIP. Saat-saat ini surat kabar Benih Mardeka (sudah) terkesan sangat dekat dengan pemerintah, para planter dan kesultan (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-09-1923). Sebagaimana diketahui ayah Siti Rohana, Mohamad Rasad pada tahun 1923 pensiun sebagai djaksa di Landraad Medan. Namun dalam perkembangannya Surat kabar Benih Merdeka dan surat kabar Warta Timoer dilaporkan kekurangan iklan, sementara surat kabar Pewarta Deli justru iklan melimpah (De Indische courant, 22-03-1924). Apakah ini tanda Benih Mardeka akan bangkrut?. Masih pada tahun 1924 Radja Sabaroeddin dikabarkan meninggal dunia di Batavia (De Sumatra post, 21-07-1924). Radja Sabaroedin disebutkan dimakamkan disamping kuburun ayahnya, Boerhanoedidin. Lalu kemudian manajemen NV Setia Bangsa diisi putra Rada Sabaroeddin yakni Radja Boerhanoeddin (nama yang sama dengan kakeknya). Namun yang muncul ke publik, Benih Mardeka di satu sisi menghilang dan di sisi lain muncul surat kabar (baru) Benih Timoer (De Preanger-bode, 23-08-1924). Apakah surat kabar Benih Mardeka dan surat kabar Warta Timoer telah merger dengan mengusung nama baru Benih Timoer?. Dan kemudian dua tahun berikutnya, Radja Boerhanoeddin yang mengambil alif fungsi editor di Benih Timoer. Sebagaimana pemerintah terus menekan pers, Benih Timoer tersandung delik pers (De Sumatra post, 09-02-1928). Artikel yang dipersoalkan adalah berjudul ‘O, Itoe indonesische Meer der heid’ yang dimuat pada Benih Timoer edisi tanggal 3 Desember 1927. Artikel ini merekomendasikan gangguan ketertiban umum atau menggulingkan atau membuat serangan terhadap otoritas pemerintah. Di pengadilan coba membantah namun Boerhandoeddin tetap dituntut hukuman penjara. Di dalam pengadilan itu terungkap bahwa Radja Baoehanoeddin sebagai editor sudah dua tahun dan di manajemen sudah selama empat tahun. De Indische courant, 17-02-1928 memberitakan Radja Boerhanoedidin dikenakan hukuman tiga bulan penjara, Beorhanoedidin masih sempat meminta gratifikasi (pengampunan) atas hukuman tiga bulan penjara tetapi permintaan ini ditolak (De Sumatra post, 10-05-1928).
Setelah kasus tersebut, Benih Timoer yang diterbitkan dan dicetak oleh NV Setia Bangsa yang (setelah akuisisi) mayoritas sahamnya dari keluarga dan Boerhanoeddin sendiri,  tampaknya Radja Boerhanoeddin menutup Benih Timoer. Radja Boerhanoeddin pindah ke Batavia. Radja Boerhanoeddin dikabarkan sudah berada di Batavia (lihat De Sumatra post, 19-04-1929). Mantan direktur-editor-in-chief dari surat kabar Benih Timoer, Radja Boerhanoedin kembali muncul di Medan, akan tetapi (dilaporkan) untuk menghadap pengadilam karena pencurian permata yang dilakukan Radja Boerhanoeddin atas milik permaisuri Sultan Serdang. Disebutkan Radja Boerhanoeddin saat ini masih dalam penahanan preventif (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 10-10-1929). Diberitakan Radja Boerhanoeddin sebelum dibawa ke Medan telah ditangkap di Weltevrden pada bulan April lalu (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-12-1929).

Setelah kasus terakhir Radja Boerhandoeddin di Medan, Radja Boerhanoeddin di Batavia tersandung (kembali) karena kasus penggelapan dengan Firma Lindeteves-Stokvis yang berakhir dengan tuntutan pengadilan bagi Radja Boerhanoeddin dengan ganjaran kurungan penjara selama satu tahun (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-07-1931). Lalu dalam perkembangannya keberadaan Boerhanoeddin muncul dan dikenal sebagai pengusaha di Kudus (Midden-Java). Disebutkan Radja Boerhanoeddin adalah sebagai Voorzitter van den strootjes-fabrikantenbond di Koedoes.

Saat mana dilaporkan ada pembentukan Komisi Tjoekai yang anggotanya terdiri dari para residen, bupati dan anggota Volksraad, dalam pembentukan komisi ini, Sstrootjes-fabrikantenbond ingin memiliki perwakilan sendiri di komisi tersebut yang mana sebagai kandidatnya adalah Radja Boerhanoeddin. Saat pembentukan komisi tersebut, pada bulan Desember 1932 dan Januari 1933 surat kabar Bintang Timoer yang dipimpin Parada Harahap menyoroti kiprah Radja Boerhanoeddin. Surat kabar Bintang Timoer menulis bahwa Radja Boerhanoeddin tidak memenuhi syarat untuk menjadi anggota komisi. Berbagai ulasan muncul dalam Bintang Timoer yang mengaitkan Radja Boerhanoeddin adalah mantan narapidana dan bahkan riwayat orang tuanya, Radja Sabaroedin pada masa lalu turut diungkapkan.

Pemberitaan tentang Radja Boerhanoeddin yang dianggap menyudutkan Radja Boerhanoeddin dalam pencalonan tersebut mendapat reaksi dari Radja Boerhanoeddin sendiri. Surat kabar Bintang Timoer dianggap Radja Boerhanoeddin telah menghina dan menuntut pasal penghinaan ke pengadilan. Parada Harahap dari Bintang Timoer lalu didakwa dengan pasal penghinaan. Di pengadilan, Parada Harahap berdalih, perihal latar belakang Radja Boerhanoeddin (yang diketahui Parada Harahap) ditulis untuk kepentingan umum. Parada Harahap beranggapan bahwa tulisan itu tidak bermaksud untuk menyerang nama baik atau kehormatan Radja Boerhanoedin tetapi hanya semata-mata untuk diketahui publik. Pengadilan akhirnya memutuskan para terdakwa dianggap telah menghina dan diancam kurungan. Para terdakwa (Parada Harahap dan para wartawannya) mengajukan banding bahwa mereka tidak bersalah dan dilakukan pembebasan atau cukup dengan hukuman ringan saja. Pengadilan akhirnya mengetok palu Parada Harahap dan kawan-kawan dihukum denda f50 atau kurungan 25 hari (tentu saja Parada Harahap dkk akan memilih bayar denda).

Parada Harahap dalam hal ini tentu saja tidak memiliki hutang kepada Pemerintah Hindia Belanda. Sebaliknya Parada Harahap sangat menentang ketidakadilan (karena penjajah) dan ratusan kali dimejahijaukan. Sebaliknya Parada Harahap selalu ingin membela penduduk yang tertindas dan melindungi semua dari kejahatan dan orang-orang jahat serta melindungi kepentingan publik. Itulah mengapa Parada Harahap menulis riwayat buruk Radja Boerhanoeddin seperti dikatakannya hanya semata-mata untuk diketahui publik. Tentu saja Parada Harahap yang pernah menjadi wartawan di Medan mengetahui bagaimana riwayat keluarga Radja Boerhanoeddin. Ayah Radja Boerhanoeddin yakni Radja Sabaroeddin pernah dipenjara di Batavia karena persekongkolan dalam suatu kasus pembunuhan ketika menjabat sebagai demang. Radja Sabaroedin sebelum mendapat posisi di Batavia adalah komandan militer Belanda dalam melawan penduduk Tamiang (Perang Tamiang). Kakeknya Radja Boerhanoeddin yakni Boerhanoeddin (nama sama dengan cucu) juga adalah pahlawan Belanda dalam berperang melawan rakyat Atjeh (Perang Atjeh). Atas jasa-jasa kakek dan ayahnya mendapat posisi bagus di dalam Pemerintahan Hindia Belanda di Batavia seperti Komandan di Senen, Komandan di Tanah Abang dan juga diangkat sebagai demang di Batavia.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar