Laman

Minggu, 10 Februari 2019

Sejarah Kota Palembang (3): Sejarah Awal Pendidikan di Palembang, 1849; Sekolah Guru Soeracarta, Fort de Kock dan Tanobato


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Palembang dalam blog ini Klik Disini
 

Pada tahun 1852 praktis situasi dan kondisi keamanan di Palembang dan sekitar (Residentie Palembang) kondusif untuk pengembangan sosial penduduk. Salah satu aspek pengembangan sosial adalah (introduksi) pendidikan aksara Latin. Sementara itu, di berbagai tempat pendidikan sudah terlaksana dengan baik, apakah di (pulau) Jawa atau di Sumatra terutama di Padangsch dan Mandailing en Angkola (Tapanoeli). Meski demikian, pada tahun 1849 sudah ada wacana agar di Palembang dilakukan pengembangan sekolah (pendidikan). Usul ini diduga kuat datang dari Residen Palembang CPC Steinmetz. Namun usul ini tidak segera terealisasi. Tidak diketahui sebab apa.

Sekolah di Batoe Radja, Residentie Palembang (1909)
Kebutuhan pendidikan di Palembang sudah muncul pada tahun 1849 (lihat Nederlandsche staatscourant, 22-12-1849). Disebutkan untuk pengembangan sekolah di Palembang akhir-akhir ini, proposal ditawarkan kepada pemerintah. Yang mengusulkan ini diduga kuat adalah Residen Palembang CPC Steinmetz (sejak 1848). Pada saat menjadi Residen di Padangsche Bovenlanden,  Steinmetz tahun 1846 memperkenalkan pendidikan di Fort de Kock. Beberapa tahun kemudian Asisten Residen AP Godon memperkenalkan pendidikan di Afdeeling Mandailing en Ankola (Residentie Tapanoeli).

Yang terealisasi adalah pengadaan sekolah untuk orang Eropa. Lalu komisi pendidikan dikirim ke Palembang untuk menyiapkan pendidikan. Dalam perkembangannya sekolah yang didirikan di Palembang tidak berjalan baik. Hal ini diduga karena kekurangan anak usia sekolah. Jumlah orang Eropa/Belanda belum banyak. Akhirnya sekolah yang baru didirikan di Palembang harus berhenti (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 21-11-1856). Juga disebutkan sekolah sejenis (untuk orang Eropa/Belanda) yang berada di Banjoemas juga ditutup. Lantas bagaimana selanjutnya pendidikan di Palembang? Mari kita telusuri.

Adanya guru dan adanya jumlah siswa yang cukup menjadi syarat adanya sekolah. Namun bagi orang Eropa/Belanda memberi pelajaran bagi anak tidak terlalu persoalan besar. Setiap orang Eropa/Belanda yang ada di Hindia Belanda (baca: Indonesia) sudah pasti bisa baca tulis aksara Latin. Jika mereka memiliki anak usia sekolah dan tidak terdapat sekolah untuk orang Eropa/Belanda mereka bisa mengajari anak-anak mereka di rumah atau mengundang guru privat. Namun hal itu tidak mungkin dilakukan oleh orang pribumi. Bagi pribumi pendidikan aksara Latin adalah suatu yang baru. Oleh karena itu harus ada guru. Yang terpenting ada kemauan anak didik dan dukungan orang tua dan pemimpin lokal. Pendidikan adalah upaya untuk meningkatkan taraf pengetahuan. Dinamika ini menjadi tantangan bagi pegiat pendidikan dan pemerintah. Adanya guru dan adanya kemauan anak usia sekolah bersekolah adalah faktor penting

Sekolah Pertama di Palembang, Sekolah Guru Pertama di Soeracarta

Usul pendirikan sekolah di Palembang muncul tahun 1849 (lihat Nederlandsche staatscourant, 22-12-1849). Namun usul ini tidak segera terlaksana. Sementara di Riaouw (Tandjong Pinang, Bintan) sudah dibuka sekolah dua tahun pada awal tahun ini oleh guru J. Ijzelman (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant : staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 21-05-1850).

Di Batavia sudah terdapat dua sekolah pemerintah di Molenvliet dan di Weltevreden (lihat Nederlandsche staatscourant, 22-12-1849). Sekolah di Molenvliet sekarang ada 83 murid dan sekolah di Weltevreden terdapat 140 murid. Di Soerabaja akan ditambah satu lagi sekolah kedua. Sekolah juga akan diterapkan di Semarang. Guru yang layak untuk di Samarang disulkan J Wilkens. Selain sekolah pemerintah, sekolah-sekolah swasta juga muncul di Batavia seperti di Parapattan yang sekarang siswanya 56 orang. Subkomite memantau terus perkembangan sekolah-sekolah di Batavia.

Usul pendirian sekolah di Palembang baru terlaksana pada tahun 1854 (lihat Rotterdamsche courant, 19-01-1855). Disebutkan pada tanggal 14 sekolah baru diresmikan di Palembang dan guru W. Beerekamp diangkat oleh Residen. Dalam pembukaan ini turut dihadiri oleh Dr SA Buddingh.

W. Beerekamp adalah seorang guru yang didatangkan dari Belanda sebagai bagian dari program pemerintah dalam pengadaan guru untuk pengembangan pendidikan. Jumlah guru-guru yang didatangkan dari Belanda dari waktu ke waktu semakin banyak. Pada tahun 1854 jumlahnya 57 orang dan bertambah menjadi 64 orang pada tahun 1855. Selain tenaga kependidikan, pemerintah juga mendatang sukarelawan (mahasiswa) dari Belanda (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 21-11-1856).

Salah satu guru yang didatangkan dari Belanda pada gelombang pertama adalah Dr. Palmer van den Broek yang ditempatkan di Soeracarta. Namun dalam perkembangannya Dr. Palmer van den Broek berinisiatif untuk memperbanyak guru pribumi, Dr. Palmer van den Broek yang masih lajang tersebut berinisiatif mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Soeracarta yang sekaligus menjadi kepala sekolah. Jumlah siswa pada tanggal 31 Mei 1855 sebanyak 15 siswa. Empat lulusan sudah ditempatkan di Kedoe, Pekalongan, Japara dan Bagelen. Dr. Palmer van den Broek menggunakan dua buku yang ditulis oleh guru E Netscher berbahasa Melayu yang telah diterjemahkan oleh CF Winter ke dalam bahasa Jawa di Soeracarta. Dr. Palmer van den Broek menikah dengan SH Quentin di Soerakarta 9 November 1852 (Opregte Haarlemsche Courant, 25-01-1853).

Akan tetapi sekolah yang didirikan di Palembang ini tidak lama kemudian ditutup (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 21-11-1856). Sekolah ini diduga baru berumur satu tahun lalu kemudian berhenti. Tidak jelas mengapa berhenti. Yang jelas di berbagai tempat penyelenggaraan pendidikan justru diterima secara positif baik untuk kalangan Eropa/Belanda maupun untuk kalangan pribumi. Bahkan lulusan sekolah bagi pribumi di Mandailing en Angkola (Residentie Tapanoeli) sudah ada dua orang yang melanjutkan studi kedokteran ke Batavia tahun 1854,

Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws-en advertentieblad, 18-01-1855: ‘Batavia,  25 November 1854. Satu permintaan oleh kepala Mandheling (Batta-landen) dan didukung oleh Gubernur Sumatra’s Westkust, beberapa bulan yang lalu, ditetapkan oleh pemerintah, bahwa dua anak kepala suku asli terkemuka, yang telah menerima pendidikan dasar dibawa atas pembiayaan pemerintah ke Batavia dan akan mengikuti pendidikan kedokteran, bedah dan kebidanan. Para pemuda yang disebut Si Asta dan Si Angan di rumah sakit militer di Batavia baru saja tiba dari pelabuhan Padang disini (Batavia), dan akan disertakan di pelatihan perguruan tinggi (kweekschool) dokter asli’. Nederlandsche staatscourant, 03-04-1857: ‘Pada tanggal 18 Desember 1856 dua siswa, yang berasal dari Sumatra, dan enam orang dari Jawa di Batavia, setelah pelatihan mereka di sekolah kedokteran rumah sakit militer di Weltevreden, mengikuti ujian dokter-Djawa dan berhasil’.

Dua siswa asal Mandailing en Angkola tersebut adalah dua siswa pertama yang diterima dari luar Jawa. Sekolah kedokteran ini dibuka tahun 1851. Setelah lulus dua siswa tersebut kembali ke kampung halaman masing-masing. Dr. Asta di onderafdeeling Mandailing dan Dr. Angan di onderafdeeling Angkola. Sekolah kedokteran ini kemudian dikenal sebagai Docter Djawa School (cikal bakal STOVIA dan Universitas Indonesia).

Pada saat sekolah dasar bagi orang Eropa/Belanda di Palembang ditutup (1856), JAW van Ophuijsen, Residen Padangsche Bovenlanden menginisiasi pendirian sekolah guru (kweekschool) bagi pribumi di Fort de Kock tahun 1856. JAW van Ophuijsen menjadi pionir kedua bagi pribumi di Fort de Kock, setelah yang pertama Residen CPC Steinmetz pada tahun 1846 memperkenalkan pendidikan bagi pribumi di Fort de Kock. Seperti disebutkan di atas, CPC Steinmetz adalah orang yang mengusulkan didirikannya sekolah di Palembang pada tahun 1849. Dalam hal ini, sudah terdapat dua sekolag guru di Hindia Belanda yakni di Soeracarta dan di Fort de Kock.

Seorang lulusan sekolah di Mandailing bernama Si Sati, tidak menginginkan sekolah kedoteran ke Batavia. Pada tahun 1856 kembali dua siswa asal Afdeeling Mandailing dan Angkola diterima di Docter Djawa School (Si Dorie dan Si Napang). Si Sati juga tidak berkeinginan melanjutkan ke sekolah guru (kweekschool) yang baru dibuka di Fort de Kock. Pada saat Asisten Residen Mandailing en Angkola cuti dua tahun ke Belanda (setelah berdinas selama delapan tahun di Mandailing dan Angkola) mengajak Si Sati melanjutkan sekolah guru ke Belanda. Dua anak muda itu berangkat tahun 1857.

Ada persamaan antara AP Godon dan Dr. Palmer van den Broek yakni sama-sama muda  saat mulai menginisiasi pendidikan kepada penduduk pribumi, Mereka sama-sama masih lajang. Idealis mereka muncul diantara banyak orang Belanda yang rasis. Dr. Palmer van den Broek berinisiatif mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Soeracarta (1851); AP Godon berinisiatif membimbing SI Sati di Mandailing en Angkola untuk studi guru langsung ke Belanda.

Sekolah di Palembang Dihidupkan Kembali, Sekolah Guru Tanobato di Mandailing en Angkola Menjadi Sekolah Guru Terbaik

Tidak diketahui apa sebab sekolah di Palembang ditutup, dan juga tidak diketahui apa selanjutnya. Boleh jadi berbagai upaya telah dilakukan, Namun sejauh ini tidak ada indikasi penyelenggaraan pendidikan (sekolah) di Palembang. Pejabat untuk subkomite pendidikan diangkat kembali untuk melakukan persiapan penyelenggaraan pendidikan aksara Latin. Namun tidak lama kemudian pejabat tersebut ECF Happé meminta kepada Residen untuk mengundurkan diri. Permintaan disetujui (Nieuw Amsterdamsch handels- en effectenblad, 01-10-1860).

Pada tahun 1861 Si Sati alias Willem Iskander lulus sekolah guru di Belanda dan kembali kampung halaman di Mandailing. Si Sati mengambil nama dari Radja Belanda, Willem III dan sastrawan terkenal Rusia yang bermukim di London Iskander Hartzen. Pada tahun 1862 Willem Iskander mendirikan sekolah guru (kweekschool) di kampong Tanobato do Onderfadeeling Mandailing. Sekolah guru yang langsung diasuh Willem Iskander menerima 18 murid di tahun pertama yang berasal dari sekolah-sekolah di Afdeeling Mandailing dan Angkola (jumlah sekolah di Afdeeling Mandailing tahun 1862 sebanyak enam buah).

Kembali pejabat subkomiter pendidikan dikirim ke Palembang. Namun hasilnya belum terdeksi apakah sudah ada penyelengggaraan sekolah aksara Latin di Palembang. Pejabat subkomite pendidikan di Palembang F van Kolwich mengundurkan diri (lihat Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 01-10-1864). Sementara itu, Inspektur Pendidikan Pribumi. JA van Chijs berkunjung ke Tanobato untuk melihat langsung kemajuan sekolah guru yang diasuh Willem Iskander. Kunjungan itu diduga dipicu sebuah laporan Gubernur Sumatra’s Westkust yang dimuat pada surat kabar tahun sebelumnya.

Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels, nieuws- en advertentieblad, 20-03-1865: ‘Izinkan saya mewakili orang yang pernah ke daerah ini. Di bawah kepemimpinan Godon daerah ini telah banyak berubah, perbaikan perumahan, pembuatan jalan-jalan. Satu hal yang penting tentang Godon telah membawa Willem Iskander studi ke Belanda dan telah kembali kampungnya. Ketika saya tiba, disambut oleh Willem Iskander, kepala sekolah dari Tanabatoe diikuti dengan enam belas murid-muridnya, Willem Iskander duduk di atas kuda dengan pakaian Eropa murid-muridnya dengan kostum daerah….Saya tahun lalu ke tempat dimana sekolah Willem Iskander didirikan di Tanobato…siswa datang dari seluruh Bataklanden…mereka telah diajarkan aritmatika, ilmu alam, prinsip-prinsip fisika, sejarah, geografi, matematika…bahasa Melayu, bahasa Batak dan bahasa Belanda….saya sangat puas dengan kinerja sekolah ini’.

Berita-berita pendidikan di Palembang sunyi senyap. Tidak ada perubahan tidak ada berita. Ketika pendidikan bangkit di sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatra, pendidikan di Palembang justru tenggelam hingga muncul berita JAW van Ophuijsen dipindahkan ke Palembang sebagai Residen Palembang yang baru tahun 1867. Apakah kehadiran JAW van Ophuijsen menjadi pertanda baik untuk kebangkitan pendidikan di Palembang? Seperti telah disebutkan JAW van Ophuijsen pada tahun 1856 mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kock, sekolah guru uang kini mutunya sudah dilampaui oleh sekolah guru di Tanobato, Afdeeling Mandailing en Angkola.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-11-1868 yang mengutip dari surat kabar Soerabayasch Handelsblad edisi 5 November sangat menyentuh: ‘Mari kita mengajarkan orang Jawa, bahwa hidup adalah perjuangan. Mengentaskan kehidupan yang kotor dari selokan (candu opium). Mari kita memperluas pendidikan sehingga penduduk asli dari kebodohan’. Orang Jawa, harus belajar untuk berdiri di atas kaki sendiri. Awalnya Chijs mendapat kesan (sebelum ke Tanobato) di Pantai Barat Sumatra mungkin diperlukan seribu tahun sebelum realisasi gagasan pendidikan (sebaliknya apa yang dilihatnya sudah terealisasi dengan baik). Kenyataan yang terjadi di Mandailing dan Angkola bukan dongeng, ini benar-benar terjadi, tandas Chijs’

Setelah lama tidak terdeteksi kegiatan pendidikan di Palembang, pada tahun 1868 pemerintah mengirm kembali subkomite ke Palembang CPK Winkel dan dan A van Davelaar (lihat Algemeen Handelsblad, 09-03-1868). Tidak lama kemudian untuk sekolah dasar pemerintah Openbare Lagere School di Palembang diangkat seorang guru bernama E Asbeek Brusse (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie,         05-09-1868). Diduga kuat sejak ini sekolah di Palembang terus bertahan. Pada tahun 1873 diberitakan seorang gurubantu (hulponderwijzer) ditambahkan ke Openbare Lagere School di Palembang, J Ros (lihat Bataviaasch handelsblad, 02-04-1873).

Pengembangan pendidikan di suatu kota atau suatu wilayah tidaklah selalu didahului untuk orang Eropa/Belanda baru kemudian untuk pribumi, tetapi juga bisa sebaliknya. Hal ini tergantung pada kebutuhan setempat. Untuk pendidikan bagi orang Eropa/Belanda jumlah populasi atau jumlah anak usia sekolah ,emjadi faktor pembatas. Sedangkan bagi pribumi penyelenggaraan pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: situasi dan kondisi ekonomi setempat, kemampuan ekonomi daerah (semacam PAD) menjadi faktor penting; keinginan para pemimpin lokal dan kemauan anak usia sekolah untuk bersekolah; dan tersedianya guru. Penyelenggaraan pendidikan dapat dilakukan oleh pemerintah lokal (Residen, Asisten Residen atau Controleur) atau oleh pemerintah pusat.

Akhirnya penyelenggaraan pendidikan aksara Latin di Pelembang untuk kalangan pribumi terlaksanan pada tahun 1874 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-04-1874). Berdasarkan beslit/keputusan Gubernur Jenderal tanggal 22 April 1874 menetapkan bahwa di ibukota Palembang akan dibentuk sekolah pribumi pemerintah (gouvernement inlandsch school).

Pada bulan April 1874 guru Kweekschool Tanobato Afdeeling Mandailing dan Angkola Willem Iskander berangkat studi kembali ke Belanda untuk mendapatkan akte kepala sekolah. Hal ini terjadi sebagai bagian dari program peningkatan mutu pendidikan pribumi, pemerintah mengirim tiga guru muda studi ke Belanda yakni Banas Lubis dari Tapanoeli, Raden Adi Sasmita dari Kweekschool Bandung, dan Raden Soetono dari Kweekschool Soeracarta yang mana sebagai pembimbing adalah Willem Iskander. Untuk itu, Willem Iskander diberikan beasiswa untuk melanjutkan studi akte kepala sekolah. Oleh karena itu Kweekschool Tanobato ditutup tahun 1873, dan Willem Iskander akan direncanakan menjadi direktur sekolah guru yang lebih besat di Padang Sidempoean yang akan dibuka pada tahun 1879 (ibukota Afdeeling Mandailing edan Ankola sejak 1870 telah dipindahkan dari Panjaboengan di Mandailing ke Padang Sidempoean di Angkola..

Dalam hal ini, meski Palembang adalah kota yang terbilang salah satu kota tua di Hindia Belanda, tetapi dalam penyelenggaraan pendidikan khususnya bagi pribumi terbilang terlambat. Untuk ukuran sekolah guru bahkan di Soeracarta (Midden Java) sudah didirikan pada tahun 1851, di Fort de Kock (Residentie Padangsche Bovenlanden) tahun 1856 dan di Afdeeling Mandailing dan Angkola (Residentie Tapanoeli) tahun 1862. Tentu saja sekolah-sekolah dasar sudah ada jauh sebelum berdirinya sekolah guru tersebut.

Pada tahun 1875 seorang pegawai pemerintah yang baru lulus di Belanda ditempatkan di Panjaboengan, Namun baru setahun bekerja di kota kecil itu, pegawai tersebut tertarik dengan sastra Batak dan lalu mendalaminya. Beberapa tahun kemudian pegawai tersebut meminta kepada pemerintah untuk dirinya diangkat sebagai guru. Lalu pada tahun 1879 calon guru tersebut diuji sebuah komisi di Padang dan berhasil menjadi guru lalu ditempatkan di Kweekschool Probolinggo. Setelah dua tahun magang di Probolinggo meminta dipindahkan ke sekolah guru di Padang Sidempoean (1881). Guru baru tersebut adalah Charles Adrian van Ophuijsen. Selama delapan tahun menjadi guru di Keekschool Padang Sidempoean, lima tahun terakhir sebagai direktur sebelum diangkat menjadi Inspektur Pendidikan di Pantai Barat Sumatra. Charles Adrian van Ophuijsen yang telah menulis buku Tata Bahasa Melayu pada tahun 1905 diangkat sebagai guru besar (profesor) bahasa Melayu di Universiteit Leiden. Asistennya dalam pengajaran bahasa Melayu di kampus legendaris itu adalah Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, murid Charles Adrian van Ophuijsen di Kweekschool Padang Sidempoean yang sejak tahun 1905 berada di Belanda untuk studi lebih lanjut untuk mendapat akta kepala sekolah..

Charles Adrian van Ophuijsen adalah anak dari JAW van Ophuijsen. Seperti disebutkan di atas JAW van Ophuijsen adalah pendiri sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kock tahun 1856. JAW van Ophuijsen, Residen Palembang sejak 1867 mulai membangkitkan kembali penyelenggaraan pendidikan di Pelembang. Permulaan pendidikan bagi kalangan pribumi di Palembang tahun 1874 secara tidak langsung adalah kontribusi dari JAW van Ophuijsen. Dalam hal ini Charles Adrian van Ophuijsen: like father, like son. Untuk sekadar catatan: JAW van Ophuijsen memulai karir sebagai pejabat di yakni sebagai Controleur dimulai di Onderafdeeling Natal, Afdeeling Mandailing en Ankola pada tahun 1852, ketika dimana Asisten Residen AP Godon memperkenalkan pendidikan aksara Latin di Afdeeling Mandailing en Angkola. Beberapa tahun sebelumnya, Edward Douwe Dekker juga memulai karir sebagai Controleur di Natal. Edward Douwe Dekker kelak dikenal sebagai Multatuli,pengarang buku Max Havelaar.

Itulah sejarah awal pendidikan (aksara Latin) di Palembang.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar