Laman

Senin, 25 Februari 2019

Sejarah Menjadi Indonesia (17): Kapal Titanic 1912 dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck 1936; Kapal Tampomas II, 1980


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Kapal Titanic adalah kapal raksasa. Kapal yang tenggelam dari pelayaran dari Towns ke New York tangga 14 April 1912. Tenggelamnya kapal Titanic juga menjadi berita besar di koran-koran di Hindia Belanda seperti Batavia, Soerabaja, Semarang, Bandoeng, Padang dan Medan. Mengapa berita tenggelamnya kapal Titanic begitu heboh di Hindia Belanda? Berita tenggelamnya kapal juga terjadi di Hindia Belanda, Kapal tersebut adalah kapal van der Wijck.

Kapal Van der Wjick (Soerabaijasch handelsblad, 20-10-1936)
Tenggelamnya kapal Titanic dan juga tenggelamnya kapal van der Wijck menjadi berita yang menarik di Hindia dan mendapat liputan yang luas. Itu karena orang-orang Belanda yang ada di Hindia datang dari Belanda ke Hindia menggunakan pelayaran jarak jauh. Tidak itu saja, di Hindia sebagai wilayah kepulauan, pelayaran adalah moda transportasi utama. Oleh karenanya, orang-orang Belanda di Hindia sangat paham betul tentang urusan pelayaran. Berita tenggelamnya kapal Titanic dan kapal Van der Wijck dengan sendirinya menjadi pembicaraan semua orang.

Lantas bagaimana sejarah kapal Titanic itu sendiri? Itu sudah banyak ditulis. Lantas apa perlunya ditulis kembali? Itu dia. Artikel ini tidak mengulang tulisan sejarah Titanic secara keseluruhan, tetapi mendeskripsikan detail yang tidak pernah diceritakan. Selain itu, artikel ini juga memperkaya dengan berita-berita yang terkait sebelum dan setelah kejadian di berbagai tempat sehingga memberikan gambaran kontekstual pada waktu kejadian tenggelamnya kapal. Lalu bagaimana dengan sejarah kapal Van der Wijck? Sangat minim informasinya. Untuk kedua kapal itu, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Itu terjadi pada era kolonial Belanda. Pada era kemerdekaan Indonesia, juga pernah terjadi musibah di laut yakni tenggelamnya Kapal Tampomas II tahun 1980. Kapal Tampomas II adalah kapal raksasa untuk ukuran kapal Indonesia saat itu.

Kapal Titanic

Nama Titanic sudah lama digunakan. Yang pertama kali menggunakan nama Titanic adalah perusahaan baja Mushets Titanic Steel di Dresden, Jerman (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant : staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 30-01-1868). Lalu muncul nama kapal. Kapal Titanic kali pertama terdeteksi di pelabuhan Mobile, Alabama, USA tahun 1890 (lihat Algemeen Handelsblad, 27-01-1890). Kapal dengan nama Titanic ini kemudian terdeteksi di pelabuhan Bremen, Jerman (Algemeen Handelsblad, 26-01-1892). Demikian seterusnya kapal Titanic ini terdeteksi di berbagai pelabuhan dalam kurun waktu hingga tahun 1900 di Rio de Jeneiro, Tampa, Florida, Duitschland, Barbados, Liverpool, Harmburg, Trinidad, Liverpool, London, Trinidad, Barbados, West Indie dan terakhir di pelabuhan Lota (lihat Algemeen Handelsblad, 04-12-1900).

Sejak berada di pelabuhan Lota tahun 1900, kapal Titanic tidak terdeteksi lagi. Kapal Titanic ini diduga sebagai kapal dagang. Sebelumnya kapal Titanic ini adalah kapal internasional yang melayari lautan di benua Amerika Utara, Eropa dan Amerika Selatan. Sejak 1900 kapal internasional Titanic diduga telah turun kelas menjadi kapal pelayaran regional di Amerika Selatan.

Setelah menghilangnya kapal dagang Titanic dari publikasi internasional, pada tahun 1908 muncul kabar di Inggris bahwa White-Star Company akan membangun dua kapal raksasa yang diberi nama Olympic dan Titanic (lihat De Maasbode, 13-06-1908). Surat kabar yang terbit di Belanda tersebut menyebutkan bahwa dua kapal yang beritonase 45.000 GT ini akan melampaui dua kapal raksasa sebelumnya yang dimiliki Cunard Company, Mauretania dan Lusitania yang masing-masing dengan bobot 31,000 GT. Kapal terbesar Belanda sendiri adalah kapal Het Nieuwe Schipp dengan tonase 32,500 GT dan kapal Rotterdam dengan tonase 24.149 GT.

Saat itu, di Belanda sudah terdapat sebanyak 20 mahasiswa pribumi asal Hindia (baca: Indonesia). Salah satu diantaranya, mahasiswa senior Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan menggagas didirikan organisasi mahasiswa. Organisasi teresebut didirikan pada tanggal 25 Oktober 1908 di Leiden yang mana Soetan Casajangan didaulat sebagai Presiden pertama. Soetan Casajangan berangkat dari Batavia 5 Juli 1905 dan tiba di Rotterdam 30 Juli 1905 dengan kapal Prinses Juliana. Pada tahun 1908 kapal Prinses Juliana ini akan digantikan dengan kapal baru yang lebih besar dengan bobot 3.000 GT (panjang 363 kaki,  yang akan mulai dipoerasikan pada tahun 1910.

Juga disebutkan kapal Titanic akan dibangun di dermaga Harland and Wolffdan di Belfast dan akan selesai dalam 21 bulan. Kapal Titanic itu berukuran panjang 810 kaki (sekitar 275 M) dan lebar 78 kaki (40 M). Kapal Titanic akan jauh lebih besar dari kapal Lusitania, tetapi dari segi kecepatan lebih cepat Lusitania. Kapal Titanic dibuat dengan konsumsi batubara yang lebih sedikit.

Kapal Lusitania panjang 210 M dengan kekuatan mesin sebesar 65.000 tenaga kuda pada kecepatan rata-rata 24,5 knot dengan perpindahan air 36.000 ton. Kapal Titanic dengan pemindahan air sebsar 50,000 ton. Satu permasalahan kapal Lusitania adalah konsumsi batubara yang besar. Lusitania dalam perjalanannya dari Queenstown (Inggris) ke Sandy Hook (Amerika) yang ditempuh dalam perjalanan 4 hari 18 jam dan 40 menit telah mengkonsumsi 1.090 ton batu bara per hari untuk semua mesin dan instalasi mesin yang secara keseluruhan perjalanan menghabiskan 4.996 ton batu bara (lihat Middelburgsche courant, 25-06-1908).  

Perkejaan kapal Olympic telah dimulai, sementara kapal Titanic baru dimulai pada musim semi mendatang. Dua kapal ini direncanakan melayani Trans-Atlantic dari Southhampton ke New York dan sebelaiknya (De Telegraaf, 17-09-1908).

Kapal Titanic tidak unggul dalam kecepatan, tetapi unggul dalam ukuran dan bahkan disebut kapal Titanic dapat dengan memudah menyimpan Menara Eiffel berada di dalamnya. Kapal uap Jerman mengambil rekor kecepatan selama beberapa tahun; tetapi sejauh menyangkut ukuran, kapal-kapal White Star Line yang berada di garis depan. Kapal Titanick juga akan dilengkapi keindahan yang akan jauh melebihi segalanya, yang bahkan sebagian besar kesenangan wisatawan dimana dapat bermimpi. Kapal Titanic dirancang sebagai istana terapung dengan kecepatan 21 knot. Kapal Titanic ditaksir akan menelan biaya pembuatan berkisar antara 40 dan 50 juta Gulden (lihat Rotterdamsch nieuwsblad, 02-10-1908).

Rotterdamsch nieuwsblad, 29-01-1912
Akhirnya kapal Titanic selesai dibangun. Sambil mempersiapkan manajemen kapal yang akan melakukan pelayaran pertama dari Southampton menuju Newyork yan dijadwalkan pada tanggal 10 April 1912, tiket sudah mulai dipasarkan sejak bulan Januari di seluruh Eropa termasuk di Belanda (lihat Rotterdamsch nieuwsblad, 29-01-1912). Disebutkan di dalam iklan bahwa kapal Titanic akan menempuh 4.5 hari ke New York dan 6 hari ke Canada. Iklan ini dipasang di berbagai surat kabar dan bahkan iklan yang sama masih dimuat sejumlah surat kabar hingga jelang keberangkatan, seperti surat kabar Rotterdamsch nieuwsblad edisi tanggal 09-04-1912.

Kapal Titanic di pelabuhan Southampton (April 1912)
Kapal Titanic benar-benar berangkat dari Southampton tepat waktu pada tanggal 10 April 1912. Kapal Titanic lebih dahulu menuju pelabuhan Cherbourg di Prancis untuk mengambil penumpang lalu kemudian singgah di pelabuhan Queenstown (kini Qobh) di Ireland dan selanjutnya mengarungi Samudra Atlantik menuju New York.

Saat pemberangkatan di pelabuhan Southampton terjadi suatu kejadian yang tidak terduga (De Telegraaf, 11-04-1912). Disebutkan kapal New York yang tengah berlabuh di dekatnya terhisap oleh gelombang air yang ditimbulkan kapal Titanic pada saat pemberangkatan. Tujuh tali tambang yang menambat kapal New York di pelabuhan putus yang mengakibatkan kapal terseret ke laut. Peristiwa serupa juga pernah terjadi sebelumnya dimana kapal yang tertambat putus oleh gerakan air yang ditimbulkan kapal Olympic dan kapal tersebut menabrak kapal Olyimpic yang tengah beringsui menuju laut lepas.

Tunggu deskripsi lengkanya

Kapal Van der Wijck

Pagi tanggal 20 Oktober 1936 pukul delapan pesan diterima oleh redaksi surat kabar yang terbit di Hindia (baca: Indonesia) bahwa kapal Van der Wijck telah tenggelam di Tandjong Pakis. Surat kabar tersebut antara lain surat kabar yang terbit di Soerabaja yakni Soerabaijasch handelsblad dan De Indische courant; surat kabar yang terbit di Batavia yakni Bataviaasch nieuwsblad dan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie. Juga pesan diterima surat kabar yang terbit di Medan, De Sumatra post. Semua surat kabar tersebut hingga siang hari sangat sibuk mengumpulkan berita dan menempatkannya pada halaman depan (headline) untuk terbit siang tanggal 20-10-1936.

Bataviaasch nieuwsblad, 20-10-1936
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-10-1936 menulis ratapan di kolom pertama: ‘Selama berabad-abad, kami orang Belanda berjuang melawan laut. Dengan tanggul dan kunci kami telah mendorongnya kembali dari daratan, Anda tahu kami memiliki kapal yang semakin besar dan semakin besar, kami memilikinya dengan semangat, dan menaklukkan lautan dan dalam abad teknologi ini struktur kapal kami semakin kuat, layanan radio yang sempurna telah memberi kami rasa aman. Namun, tetap saja laut menang lagi’.

Berita tenggelamnya kapal Van der Wijck juga dengan cepat sampai ke Belanda. Puluhan surat kabar di Belanda pada hari yang sama (20-10-1936) memberitakan tenggelamnya kapal Van der Wjick. Ada perbedaan waktu antara Batavia dan Amsterdam selama tujuh jam sehingga surat kabar yang terbit di Belanda juga memberitakan pada hari yang sama tanggal 20-10-1936.

Tenggelamnya kapal Van der Wijck sangat cepat hanya dalam tempo lima menit sejak sinyal SOS ‘kapal miring berat’ diterima pukul 1.03 di pangkalan Angkatan Laut di Soerabaja. Tidak ada sinyal berikutnya yang diterima. Meski tidak ada sinyal berikutnya, segera kapal dan pesawat bergegas membantu mereka di tengah lautan malam yang masih gelap gulita.

Kapal Van der Wijck adalah pelayaran jarak pendek Batavia-Makassar (pp) via Buleleng, Soerabaya dan Semarang. Pada pukul 9 malam hari Senin (19-10-1936) berangkat dari pelabuhan Tandjong Perak, Soerabaja dengan tujuan Semarang dan Batavia, setelah sebelumnya dari Buleleng dan Makassar.  
   
Pada hari kejadian sudah diidentifikasi yang selamat dan berapa orang yang tersisa yang masih dicari. Sebagai suatu berita besar, pada hari itu juga menjadi viral di semua surat kabar di Hindia Belanda dan di Eropa (Belanda). Satu kurang yang dianggap penting dalam pemberitaan musibah ini adalah koran yang terbit di Surabaya (Soerabaijasch handelsblad). Hal ini karena akses menuju TKP paling cepat dan banyak jalur yang digunakan.

Soerabaijasch handelsblad, 21-10-1936: ‘Editor kami, yang kemarin berangkat dengan kapal torpedo Banckert ke lokasi bencana, memberi pesan kepada kami sebagai berikut: Kemarin sore Banckert melintasi tempat bencana dengan sangat hati-hati; reruntuhan, dll. Ladang minyak yang tersebar luas adalah indikasi menyedihkan dimana tragedi terjadi pada malam hari. Gelembung minyak yang naik menunjukkan tempat dimana jatuhnya bangkai kapal, yang posisinya ditentukan secara akurat. Menjelang matahari terbenam, Banckert mengeluarkan pelampung awal. Kemarin sore kami mengunjungi kapten kapal Reael, Koning, yang mengumumkan bahwa pada malam dimana bencana itu terjadi, pada jam 12.55 menit dia menerima sinyal lampu dari Van der Wijck tentang pantai lampu. Sepuluh menit kemudian sinyal marabahaya datang yang tidak diterima di Reael yang tidak memiliki nirkabel di kapal. Kapal ini kembali ke lokasi bencana kemarin pagi dari Surabaya, mengamankan tiga sloop tak berawak. kegelapan kembali Reael ke Surabaya; Banckert menjatuhkan jangkar, menunggu Pollux, yang dimulai pukul setengah enam pagi ini dengan pemasangan pelampung gas di atas bangkai kapal. Pekerjaan penyelamatan lebih lanjut tidak lagi berguna, sehingga Bankert akan kembali ke Surabaya pada hari itu’.

Berita surat kabar Soerabaijasch handelsblad, 21-10-1936 telah menginformasikan bahwa posisi GPS kapal Van der Wijck telah ditemukan secara akurat. Pengukur posisi tentu dilakukan dengan pengukuran navigasi yang lengkap. Sudah barang tentu dicatat dan disimpan sebagai dokumentasi.

Tunggu deskripsi lengkanya

Kapal Tampomas

Tunggu deskripsi lengkanya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar