Laman

Rabu, 27 Februari 2019

Sejarah Yogyakarta (13): Sejarah Hotel Grand Inna Malioboro; Grand Hotel 1911; Isu Hotel Merdeka vs Garuda 1950; Hotel di Jogjakarta Bermula Losmen Malioboro 1865


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Yogyakarta dalam blog ini Klik Disini
 

Hotel Grand Inna Malioboro di Yogyakarta memiliki sejarah yang panjang. Nama hotel ini awalnya adalah Grand Hotel yang mulai beroperasi pada tahun 1911. Grand Hotel dibangun untuk bersaing dengan Hotel Mataram yang sudah eksis sejak tahun 1869. Investor Grand Hotel adalah investor Grand Hotel di Soekaboemi. Namun dalam perjalanannya, Grand Hotel beberapa kali harus berganti nama hingga namanya kini disebut Grand Inna Malioboro.

Nama dan usia Hotel Grand Inna Malioboro (1908-1919)
Grand Hotel adalah hotel terbaik di Jogjakarta di era kolonial Belanda. Hotel ini dirampas menjadi properti pada pendudukan Jepang. Segera setelah kemerdekaan Indonesia, hotel ini diambilalih para Republiken dan memberinya nama baru Hotel Merdeka. Pada perang kemerdekaan, pasca Agresi Militer Desember 1948, kepemilikan hotel dikembalikan kepada pemilik lama NV Grand Hotel. Pasca pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda 1950 muncul sengketa apakah Hotel Merdeka milik pemerintah atau milik swasta. Kisruh kepemilikan ini bahkan terkait dengan mertua Wakil Presiden Mohamad Hatta. Akhirnya nama Hotel Merdeka diubah menjadi Hotel Garuda. Bagaimana itu bisa terjadi? Mari kita lacak.

Sejarah Hotel Grand Inna Malioboro adalah bagian dari sejarah hotel di Yogyakarta. Hotel yang pertama muncul di Jogjakarta adalah Losmen Malioboro yang didirikan pada tahun 1865. Losmen ini kemudian diakuisisi oleh Hotel Mataram. Dalam perkembangannya lokasi eks Losmen Malioboro ini dijadikan sebagai Loge Mataram. Pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda) 1950, Loge Mataram (eks Loge Malioboro) dijadikan sebagai gedung dewan (kini di lokasi tersebut berada Gedung DPRD).
 
Grand Hotel Jogjakarta

Di Soekaboemi terdapat sebuah hotel bernama Grand Hotel. Investor Grand Hotel di Soekaboemi diduga yang menjadi investor dalam pembangunan hotel Grand Hotel di Jogjakarta. Pelaksanaan pembangunan Grand Hotel di Jogjakarta dimulai tahun 1908. Grand Hotel Jogjakarta mulai beroperasi pada tahun 1911. Sebelumnya, di Jogjakarta sudah ada tiga tempat penginapan yaitu Losmen Malioboro, Losmen/Hotel Mataram dan Hotel Centrum.

Grand Hotel Jogjakarta, 1910
Losmen (logement) Malioboro adalah tempat penginapan yang pertama didirikan di Jogjakarta. Losmen Malioboro mulai beropesi pada tahun 1865 oleh Vincent (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 26-06-1865).. Jika dari arah simpang (Toegoe) posisinya di sebelah kiri jalan sebelum pasar (kini Pasar Beringhardjo). Area antara losmen dan pasar adalah kampement (perkampungan Tionghoa). Dalam perkembangannya pada tahun 1869 muncul nama losmen baru di Djogjakarta yang dibuka pada tanggal 18 (De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 18-06-1869. Losmen ini diberi nama Mataram. Losmen Mataram ini berada di sebelah utaranya Losmen Malioboro. Dua losmen ini memiliki terminal kereta kuda dan tempat penginapan kuda (istal).

Setelah dioperasikannnya besi (kereta api) di Jogjakarta, moda transportasi dari dan ke Jogjakarta tetap eksis kereta kuda. Fungsi dua losmen yang ada tetap menyediakan fasilitas istal. Hal ini karena kereta kuda jarak jauh masih intens digunakan seperti dari dan ke Magelang. Dengan semakin tingginya arus orang dari Semarang dan Soerakarta ke Jogjakarta dengan mengginakan moda kereta api, seperti pejabat dan pelancong, maka kualitas penginapan semakin dibutuhkan dan kemudian dibukan hotel di dekat kantor Residen. Hotel itu disebut Hotel Centrum. Hotel ini paling tidak sudah beroperasi pada tahun 1898 (De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 01-11-1898).

Foto sebuah losmen di Magelang, 1864
Sebelum didirikannya Hotel Centrum di pusat kota (dekat dengan Kraton Djogjakarta dan Kantor Residen), Losmen Mataram sudah sejak lama ditingkatkan dan adakalanya disebut sebagai Hotel Mataram. Namun karena masih meiliki istal, para pengunjung juga masih kerap menyebutnya sebagai Losmen Mataram. Nama Losmen Mataram disebut sebagai Hotel Matarm paling tidak sudah muncul tahun 1872 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 22-11-1872). Sementara itu, Losmen Malioboro tetap sebagai Losmen Malioboro. Meski demikian, nama Losmen Malioboro cukup terkenal, tidak hanya karena tempat penginapan yang pertama di Jogjakarta, juga Losmen Malioboro kerap digunakan Boedi Oetomo sebagai tempat rapat umum.

Hotel Centrum dan Hotel Mataram kemudian mendapat saingan baru dengan adanya rencana investor baru membuka hotel di Jogjakarta. Hotel baru itu disebut Grand Hotel. Pembangunan hotel baru ini dimulai tahun 1908 dan selesai pada tahun 1911. Bangunan dan fasilitas Grand Hotel cukup mewah. Jalan yang berada di depan hotel kemudian disebut Jalan Malioboro. Dengan kehadiran Grand Hotel, nama Hotel Centrum tidak pernah muncul lagi. Terakhir terdeteksi Hotel Centrum tahun 1905. Grand Hotel dapat dikatakan suksesi Hotel Centrum yang terus bersaing dengan Hotel Mataram.

Pada tahun 1912 nama Losmen Malioboro sudah diidentifikasi oleh publik sebagai pananda navigasi dalam kota (pada Peta 1909 ruas jalan tersebut sudah ditandai sebagai Malioboro). Area sekitar losmen juga kerap disebut sebagai kawasan Malioboro (lihat misalnya Bataviaasch nieuwsblad, 09-12-1912). Pada tahun 1918 sudah ada yang secara eksplisit menyebut jalan di depan Losmen Malioboro sebagai jalan (weg) Malioboro. Disebutkan perusahaan NV Djokjasche Machinehandel mangadakan rapat umum di Toko Van Biene yang terletak di Jalan Malioboro (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 30-11-1918). De Indische courant, 09-08-1923 menyebutkan jalan utama (di) Jogjakarta adalah ruas jalan Toegoe, Malioboro, Patjinan dan Résidentielaan.

Area di sekitar Grand Hotel semakin berkembang. Pada tahun 1924 dibuka jalan baru di Jogjakarta (De Indische courant, 11-02-1924). Disebutkan bahwa pada hari Sabtu pagi diadakan di gedung Nillmij pembukaan jalan baru sebagai jalan penghubung dengan lingkungan baru (nieuwe wijk) Malioboro. Pembukaan jalan baru ini dilakukan oleh Sultan dan Residen. Jalan baru ini terletak dekat dengan Grand Hotel. Masyarakat akan diizinkan untuk berjalan di jalan/jembatan tersebut pada pukul 12 siang.

Lokasi Grand Hotel di Jogjakarta (Peta 1925)
Dari informasi-informasi tersebut bahwa nama Malioboro tidak hanya sebagai nama jalan utama (hoofdweg) tetapi juga nama area di sekitar menjadi kelurahan baru (nieuwe wijk) yang baru.

Lantas bagaimana dengan Losmen Malioboro?.Meski sudah ada hotel besar (Hotel Grand dan Hotel Mataram) di Jalan Malioboro, keberadaan Losmen Malioboro masih tetap eksis, paling tidak hingga tahun 1924 ini (lihat  De Indische courant, 15-08-1924). Disebutkab bahwa di Loge Malioboro diadakan pertemuan umum. Jalan Malioboro lambat laun menjadi sangat ramai. Akan tetapi dalam perkembangannya Loge Malioboro tidak pernah muncul lagi. Pada Peta 1925 di sekitar Jalan Malioboro tidak ditemukan lagi nama Losmen Malioboro. Nama-nama bangunan di seputar Jalan Malioboro yang terkenal adalah Hotel Grand, Hotel Mataran dan Loge Mataram.

Hilangnya nama Loge Malioboro sepintas adalah teka-teki. Tetapi sesungguhnya mudah ditebak. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Pada tahun 1909 Loge Malioboro berada di taman kota (stadtuin), Losmen Maliboro dan Losmen Mataram berdampingan. Lalu pemilik Losmen Mataran membangun Hotel Mataram. Dalam perkembangannya, pemilik Losmen Mataran tidak hanya membangun hotel, tetapi juga mengakuisisi Losmen Malioboro. Lalu Hotel Mataram tetap di tempatnya, sedangkan losmen yang sebelumnya bernama Malioboro diganti dengan nama Loge Mataram. Lantas bagaimana dengan losmen Mataram? Area losmen ini telah diubah menjadi perluasan Hotel Mataram.  Dengan demikian di area sisi timur Jalan Malioboro ini hanya eksis Hotel Mataram dan Loge Mataram.

Losmen Maliboro telah tamat. Nama Losmen Malioboro adalah situs paling tua di kawasan jalan utama. Nama Losmen Malioboro telah bertransformasi menjadi nama jalan utama yakni Jalan Malioboro. Situs baru yang kian populer di Jalan Malioboro adalah Grand Hotel. Hal yang mirip dengan ini di Bandoeng, gedung seni Braga telah bertransformasi menjadi nama Jalan Braga.

Grand Hotel di Jalan Malioboro di bawah kepemilikan NV Grand Hotel de Djokja menjadi penanda navigasi terpenting di Jalan Malioboro. Grand Hotel memiliki daya tarik tersendiri tidak hanya sebagai tujuan tempat penginapan bagi tamu yang datang ke Jogjakarta, tetapi juga bagi para investor. De Sumatra post, 25-06-1929 melaporkan emisi Grand Hotel Djokjakarta. Disebutkan obligasi 6 persen Grand Hotel di Djokja sehingga hanya sekitar 50 persen dapat digunakan. Bataviaasch nieuwsblad, 30-11-1933 melaporkan bahwa keputusan Pemerintah memberikan persetujuan atas perubahan anggaran dasar dari NV yang didirikan di Jogjakarta: NV Grand Hotel de Djokja.

Hotel Merdeka Jogjakarta, 1945 dan NV Honet

Seperti di tempat lainnya, ketika pada bulan Maret 1942 militer Jepang mendarat di Jawa, Grand Hotel de Djokjakarta di Jalan Malioboro adalah salah satu hotel terbaik di Jawa yang dimiliki publik di bawah kepemilikan nama NV Grand Hotel de Jogjakarta. Grand Hotel menjadi salah satu tempat (penginapan) militer Jepang.

Direktur NV Grand Hotel de Jogjakarta, Ny Trutenau menyatakan otoritas pendudukan Jepang tinggal di hotel dengan cara mereka sendiri, menggunakan properti tanpa memikirkan sewa apa pun dengan pemilik yang sah. Lambat laun hotel itu yang mewah tersebut tidak lagi memenuhi syarat sebagai kualifikasi untuk hotel dalam tempo yang singkat. Hanya hotel ini yang terakhir yang berstatus hotel tetapi orang Jepang membuat hotel itu beralih fungsi.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 diumumkan kemerdekaan Indonesia. Dengan kedatangan sekutu hotel ditinggalkan. Pada saat itu, sekitar 75 persen interior hotel itu tidak memadai lagi. Properti yang tidak memadai terutama tempat tidur. Grand Hotel kemudian diambil alih dan digunakan pemerintah Republik. Setelah pengambilalihan ini hotel diberi nama Merdeka.

Kepemilikan hotel yang kini disebut Hotel Merdeka berada di bawah Departemen Perhubungan melalui salah satu bidangnya. Orang yang ditunjuk sebagai pejabat yang menangani adalah A. Rachim yang juga akan menjadi pemimpin (manajer) untuk hotel-hotel pemerintah (Staatshotels). Hotel-hotel yang dimaksud selain Grand Hotel juga beberapa hotel lainnya sebagai hotel pemerintah.

Meski sudah dibentuk badan pengelola hotel pemerintah dan menunjuk A. Rachim, namun uang pemerintah tidak cukup untuk melakukan renovasi atau perbaikan yang diperlukan. Saat inilah inisiatif A Rachim untuk mengumpulkan dana dengan meminjam uang ke berbagai pihak dan juga melakukan peminjaman barang untuk menjaga agar hotel bisa beroperasi kembali. A. Rachim telah berusaha keras menjalankan hotel sesuai standar hotel.

Namun dalam perkembangannya, A. Rachim yang sejatinya mengoperasikan Hotel Merdeka untuk Pemerintah, tetapi pada kenyataannya sebagai individu pribadi. Ini dapat dipahami karena yang bekerja keras adalah A. Rachim sementara Departmen Perhubungan yang memberikan penugasan tidak pernah meminta pertanggungjawaban/ Hal ini boleh jadi karena pemerintah melalui Departemen Perhubungan tidak pernah mengalokasikan anggaran.

Pada bulan Desember 1948 terjadi Agresi Militer Belanda, yang dalam hal ini termasuk menduduki Jogjakarta. Otoritras pemerintah Republik terbilang berakhir dan digantikan otoritas Belanda. Sehubungan dengan itu, Hotel Merdeka kembali bernama Grand Hotel. Kepemilikan Grand Hotel diberikan (kembali) kepada pemilik yang sah yaitu NV Grand Hotel de Djokjakarta. Ny Trutenau kembali mengelola hotel. Namun pengelolaan itu harus berakhir pada tanggal  27 Juni 1949.

Oleh karena terjadi gencatan senjata antara Republik Indonesia dan Belanda yang akan dilanjutkan pada konferensi (LMB), Ny Trutenau mulai meninggalkan Jogjakarta. Ny Trutenau memberikan pengelolaannya kepada pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Perhubungan dengan risko sendiri dalam perjanjian. Di dalam perjanjian tersebut penyelesaian akhir akan dibahas kemudian. Dalam hal pengelolaan sepeninggal Ny Trutenau, hotel kembali dikelola oleh A Rachim.

Permasalahan kembali berulang. A Rachim melakukan inisiatif sebaliknya pemerintah melalui Departemen Perhubungan tidak pernah mengalokasikan anggaran. Tidak diketahui sebab yang jelas, sejatinya A Rachim adalah seorang pegawai negeri sipil (pejabat) yang bertugas untuk menempatkan hotel-hotel yang harus dia kelola atas nama Departemen tetapi dalam kenyataannya menjadi perusahaan publik Perseroan Terbatas, terlepas dari apakah hal ini dilakukan dengan atau tanpa sepengetahuan Pemerintah.

Perusahaan perseroan terbatas tersebut diberi nama NV Hotel Negara dan Touri.snie disingkat NV Honet. Dalam perseroan ini disebutkan sebagai pemegang saham adalah A Rachim, Tjipto Roeslan dan Djody.   

Isu Hotel Merdeka dan Namanya Berganti Menjadi Hotel Garuda

Hotel Merdeka di Jogjakarta dan NV Honet dipertanyakan (lihat
De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 26-08-1950). Pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana hal itu mungkin, bahwa seorang pejabat dengan perusahaan negara mendirikan NV. Sementara itu pemerintah pemerintah melalui Departemen Perhubungan mengeluarkan keputusan pendirian perusahaan perseroan terbatas Marba.

Pada tanggal 15 Agustus, Pemerintah melalui Departemen Perhubungan mengesahkan pendirian perusahaan perseroan terbatas Marba. Perusahaan ini kemudian membeli semua saham NV Grand Hotel de Jogjaltarta (pemilik sebelum perang) dan dengan demikian mempertahankan haknya atas hotel. Keputusan pembelian itu diterbitkan oleh VV Marba melalui iklan di surat kabar harian yang terbit di Djokjakarta, Anehnya, di surat kabar yang sama juga NV Honet memasang iklan bahwa NV Honet memberi tahu ke publik bahwa pengelolaan Hotel Merdeka adalah NV Honet.

Melihat kenyataan tersebut, pihak NV Marba bereaksi. Dalam keterangannya ke media, A Loebis mewakili NV Marba mengatakan bahwa pada hari Sabtu 19 Agustus datang ke Hotel Merdeka untuk pengambilalihan. Namun pihak NV Honet menolak. Pada tanggal 20 Agustus  hari berikutnya, A Loebis datang ke Hotel Merdeka untuk mengganti plang nama Hotel Merdeka dengan nam Grand Hotel. Namun kembali pihak NV Honet menolak. Oleh karena surat keputusan yang dipegang oleh A Lubis resmi, polisi yang tadinya berjaga-jaga kemudian membolehkan A Loebis masuk dan tinggal di hotel serta mulai menjalankan tugas operasional hotel.

Pada saat yang sama pejabat pengadilan di Djogjakarta telah mengirim surat panggilan kepada manajemen NV Honet. Surat panggilan tersebut dikirim sebagai tanggapan terhadap iklan dimana keputusan Departemen Perhubugan diabaikan. Permasalahannya tidak sampai disitu, sebab selain Departemen Perhubungan telah secara resmi menempatkan A Rachim sebagai manajer hotel juga telah memerintahkan A Rachim untuk tanggal 25 Agustus untuk melakukan pertanggungjawaban.

Isu Hotel Merdeka menjadi semakin terbuka ke publik. Surat kabar De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 13-09-1950 memberitakan perselisihan antara NV Marba dan NV Honet tentang manajemen Hotel Merdeka di Djokjakarta. Disebutkan Menteri Perhubungan Ir. Djuanda menyatakan kementerian saat ini sedang melakukan penyelidikan. Ir. Djuanda disebutkan secara eksplisit menyatakan bahwa Hotel Merdeka Djokjakarta telah dijual kepada NV Marba. Dengan demikian, NV Marba adalah pemilik sah hotel.

Sementara kasus antara NV Marba dan NV Honet sedang diselidiki. Surat kabar De vrije pers: ochtendbulletin, 07-11-1950 memberitakan bahwa sampai saat ini hanya kantor Honet di Bandung dan Djoj'ja yang dibuka. Pembukaan kantor pusat di Jakarta akan segera menyusul demikian juga dengan cabang di Surabaya. Juga kemungkinan dibuka kantor baru di Bali, yang mana delegasi dari Jakarta akan segera pergi untuk kunjungan eksplorasi. Selanjutnya ada rencana untuk membuka kantor di Medan, Padang, Makasar dan Manado.

Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 16-11-1950 memberitakan bahwa di Bandung belum lama ini didirikan kantor Honet (Badan Hotel Negara dan Tourisme), sebuah layanan resmi untuk industri perhotelan dan tourisme, yang merupakan bagian dari Departemen Pehubungan. Kantor tersebut berlokasi di Tjikinilaan No. 16 dan saat ini berada dibawah kepemimpinan Mr MRA James. Juga disebutkan bahwa Honet didirikan di Djogjakarta sebelum pengalihan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia. Tujuan utama Honet adalah untuk mempromosikan pariwisata di seluruh Indonesia oleh semua kedutaan Indonesia di luar negeri untuk dijual kepada para peminat yang ingin mengunjungi Indonesia. Honct mengatur perjalanan domestik, mempromosikan antara berbagai wilayah Indonesia. Honet disebutkan tidak dimaksudkan untuk bersaing dengan bisnis hotel swasta. Sebaliknya, Honet membantu diri sendiri dan juga untuk membantu bisnis hotel swasta berdasarkan bisnis dan dengan demikian mengoperasikan hotel itu sendiri.

Sementara Honet, badan pemerintah di bidang perhotelan dan tourism memperluas cabang di berbagai kota di Indonersia, di Djogjakarta diadakan Kongres Staf Hotel (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 02-12-1950). Dalam kongres ini resolusi dibuat yang meminta kepada pemerintah memutuskan secara jelas status NV Hotel Negara dan Tourism (NV Honet) sesegera mungkin dengan ketentuan bahwa hotel-hotel di bawah NV Honet murni sebagai staatshotels (hotel pemerintah) dan staf mendapatkan status sebagai pegawai pemerintah.

De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 02-12-1950 juga memberitakan bahwa pengadilan telah menyatakan keputusannya tentang masalah Hotel Merdeka. NV Honet yang dalam hal ini A Rachim dan Mr Tjipto Roeslan harus menyerahkan kepada NV Marba. Jika pihak NV Honet tidak mematuhi ini maka penggusuran akan dilakukan di bawah pengawasan polisi. NV Honet dimohonkan untuk (naik) banding. Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 05-12-1950 juga memberitakan masalah hotel di Djokjakarta. Pada hari Kamis, Dewan Pertanahan di Djokjakarta mengumumkan keputusan dalam isu Hotel Merdeka yang terkenal. NV Honet yang diwakili oleh direkturnya, Mr Rachim dan Mr Tjipto Roeslan tidak berhasil dan harus mengosongkan gedung hotel secepat mungkin untuk NV Marba. NV Honet telah mengajukan banding.

Dalam kasus Hotel Medeka di Jogjakarta NV Honet tampaknya tidak berhasil dalam banding. Kekuatan hukum dan pemilik yang sah dari Hotel Merdeka tetap di tangan NV Marba. Surat kabar De nieuwsgier, 05-01-1951 memberitakan bahwa per 31 Desember 1950 Hotel Merdeka di Jogjakarta secara resmi dipindahkan dari NV Honet kepada NV Manba. Disebutkan dengan izin dari Wali Kota Djokjakarta nama hotel diubah menjadi Garuda.

Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 13-01-1951: ‘Pemberitahuan Kepada khalayak ramai umumnja dan pihak-pihak yang berkepenüngan khususnja dengan mi kami permaklumkan bahwa: SEJAK TANGGAL 30 DESEMBER 1950 kami telah menyelenggarakan sendiri perusahaan hotel kami di Jalan Malioboro No. 24 Jogjakarta (dulu ditempati olch perusahaan Hotel Merdeka) dengan memakai nama HOTEL GARUDA. Jogjakarta, 30 Desember 1950. Direksi NV GRAND HOTEL de DJOKJA. A LOEBIS.

Selesai sudah permasalahan yang timbul pada Hotel Merdeka Jogjakarta yang kemudian namanya diubah Direksi NV Grand Hotel de Djokja. Alamat Direksi NV Grand Hotel de Djokja diketahui berada Djakarta (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-11-1951). Ini terkait dengan pengumuman NV Grand Hotel de Djokja yang membuka lamaran untuk manager yang berpengalaman yang mana disebutkan surat lamaran disertai dengan salinan suratsurat keterangan dialamatkan kepada: Direksi NV Grand Hotel de Djokja, Djalan Tjengkeh 1 Djakarta.

Hotel Grand Inna Malioboro

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

6 komentar:

  1. Mohon info, apakah NV Marba yg dimaksud di situ sama dg pemilik gedung Marba di Semarang serta rumah proklamasi Pegangsaan 56 Jkt ? Atau hanya namanya saja yg sama ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. NV Marba adalah perusahaan baru orang Belanda yang belum lama didirikan di Singapoera dan membuka cabang di Djakarta tahun 1947. Pada tahun 1948 cabang NV Marba sudah ada di Semarang, dan kemudian menyusul di Soerabaja. Sebagai perusahan commanditer maka pemilik saham bisa lebih dari satu orang. NV Marba cab Soerabaja adalah orang Indonesia. Pada tahun 1949 NV Marba diketahui berkantor pusat di Amsterdam (mungkin telah dipindahkan dari Singapoera ke Belanda). Soal Gedung Indonesia (rumah proklamasi)saya tidak nelihat relasinya karena rumah itu sudah sejak 1945 sebagai gedung proklamasi sementara NV Marba baru didirikan tahun 1947. Pada tahun 1949 Gedung Indonesia itu semacam gedung Keduber RI di wilayah federal (Belanda/NICA).
      Demikian. Hanya itu yang saya ketahui.

      Hapus
  2. Saya punya teman yang kakek nya pernah bekerja di bagian pembukuan waktu bernama Hotel Merdeka Yogyakarta. Nama nya : Djojodihardjo. Apakah ada informasi yang di temukan tentang hal ini? Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam catatan saya ada beberapa orang dengan nama Djojodihardjo, tetapi tidak ada yang berkaitan dengan hotel.

      Hapus
  3. Saya ada Foto yang menunjukan Sdr. Sugijono Djojodihardjo sedang duduk menulis di Meja dengan Plakat : Direksi Pusat NV HONET. Apakah ada informasi tetang foto NV Honet yang Bapak miliki? Terima Kasih sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada satu yang terkait Roeslan. Silahkan dialamatkan ke email di atas

      Hapus