Laman

Rabu, 15 Mei 2019

Sejarah Jakarta (42): Benteng Noordwijk Jadi Masjid Istiqlal; Fort Frederik Hendrik, Wilhelmina Park, Taman Wijaya Kusuma


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Satu sejarah penting di Jakarta pada masa lampau adalah keberadaan benteng (fort) Noordwijk. Di area sekitar benteng ini banyak hal yang dapat diceritakan. Pertama, lokasi benteng Noordwijk berada di hulu sungai Tjiliwong di sisi seblah barat. Dari sinilah sungai Tjiliwong disodet membentuk kanal ke arah barat (sepanjang Jalan Juanda/Veteran yang sekarang) dan kemudian disodet lagi membentuk kanal ke arah timur (Pasar Baru yang sekarang). Akibat penyodetan sungai Tjiliwong tersebut, sungai Tjiliwong ke arah hilir tamat. Eks sungai Tjiliwong ke hilir ini kelak di atasnya dibangun rel kereta api, yaitu ruas rel kereta api antara stasion Juanda dan stasion Mangga Dua yang sekarang.

Fort Noordwijk (Peta 1740)
Kedua, benteng Fort Noordwijk ini kemudian dibongkar dan dibangun baru benteng Frederik Hendrik (dari nama pangeran Belanda). Area sekitar benteng baru ini kemudian dibangun taman yang disebut Wilhelmina Park (dari nama ratu Belanda). Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (1949) nama Wilhelmina Park diubah namanya menjadi Taman Widjaja Koesoema. Sehubungan dengan adanya pembangunan masjid besar di Djakarta, Presiden Soekarno mengusulkan lokasi masjid berada di Taman Widjaja Koesoema. Dengan dibangunnya masjid besar yang diberi nama masjid Istiqlal, maka tamat sudah benteng Frederik Hendrik sebagai suksesi benteng (fort) Noordwijk.   

Bagaimana kisah-kisah ini berlangsung tentub masih menarik untuk diperhatikan. Ini diawali dengan pembangunan benteng (fort) Noordwijk dan kemudian diakhiri dengan membangun masjid besar Istiqlal. Bagaimana detail ceritanya? Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
  
Benteng (Fort) Noordwijk

Bayangkan sungai Tjiliwong pada masa lampau. Di sisi sebelah barat sungai Tjiliwong dimana sekarang terdapat masjid Istiqlal dibangun benteng (fort) Noordwijk. Benteng ini dibangun sekitar tahun 1650. Benteng Noordwijk, di selatan stad (koa) Batavia  ini dibangun bersamaan dengan benteng Risjwijk (di barat) dan benteng Jacatra (di timur). Benteng Jacatra ini berada di hilir benteng Noordwijk di sisi barat sungai Tjiliwong. Posisi benteng Jacatra ini kira-kira di Mangga Dua yang sekarang. Beberapa puluh tahun kemudian, untuk mengatasi banjir di stad (kota) Batavia sungai Tjiliwong disodet di hulu benteng Noordwijk dengan membangun kanal mengitari benteng dan menarik garis lusrus ke sebelah barat menuju sungai Kroekoet di sekitar benteng Risjwijk (kanal selatan). Kanal ini adalah kali yang berada diantara jalan Juanda dan jalan Veteran yang sekarang.

Lukisan Jacatra, 1675
Dalam perkembangannya, untuk memudahkan hubungan antara wilayah di Risjwijk dengan stad (kota) Batavia dibangun kanal dengan menyodet kanal di Risjwik (kanal barat). Kanal ini kini dikenal sebagai kali yang berada diantara jalan Gajah Mada dan jalan Hayam Wuruk. Dalam Peta 1682 kanal selatan dan kanal barat ini sudah dipetakan.  

Pembangunan kanal selatan tetap menyisakan persoalan banjir di stad (kota) Batavia. Untuk mengatasinya, sungai Tjiliwong disodet kembali di hilir benteng Noordwijk dengan membangun kanal baru ke timur. Kanal ini kini adalah kali di pasar Baru dan kali di sisi jalan gunung Sahari. Aliran ini langsung diteruskan ke pantai di Antjol (kanal timur). Untuk mengatur debit air kanal timur ini terlebih dahulu dibangun bendungan yang kini dikenal sebagai Pintu Air. Pada Peta 1740 kanal timur belum ada.

Sungai Tjiliwong (Peta 1825)
Pada situasi dan kondisi ini, posisi benteng (fort) Noordwijk seakan berada diantara dua sungai. Benteng seakan diperkuat karena terbentuknya barier sungai. Akan tetapi persoalan banjir tetap muncul di stad (kota) Batavia meski sudah ada kanal selatan (jalan Juanda/Veteran yang sekarang) dan kanal timur (Pasar Baru dan jalan Gunung Sahari yang sekarang). Untuk mengatasi persoalan, debit air melalui kanal timur diperbesar, Jika terjadi rob, kanal timur di Antjol meluap. Untuk mengurangi abrasi (rob) kanal timur disodet di sekitar jalan Gunung Sahari yang sekarang dengan membangun kanal ke utara (masuk kembali) ke sungai Tjiliwong di Mangga Dua yang sekarang. Situasi dan kondisi telah sesuai yang diharapkan, telah mampu mengatasi persoalan banjir di stad (kota) Batavia

Dalam perkembangannya, sungai Tjiliwong ke arah kota (stad) Batavia ditutup (mulai dari sekitar bendungan air (Pintu Air) hingga sekitar Mangga Dua. Kanal utara seakan menjadi pengganti sungai yang ditutup. Dengan kata lain sungai Tjiliwong antara benteng (fort) Noordwijk dan Mangga Dua yang sekarang dihilangkan (ditutup sama sekali). Oleh karenanya sungai Tjiliwong yang asli hanya sampai di benteng (fort) Noordwijk atau masjid Istiqlal yang sekarang. Pada Peta 1825 eks sungai Tjiliwong hanya disebut Oud Tjiliwong. Besar dugaan penutupan sungai Tjiliwong ini terjadi antara tahun 1740 dan tahun 1825. Pada tahun 1870 di atas eks sungai Tjiliwong ini dibangun rel kereta api (kini rel kereta api ruas stasion Juanda dan stasion Mangga Dua).

Fort Noordwijk Dipugar dengan Nama Baru Fort (Citadel) Frederik Hendrik

Pada era Pemerintahan Hindia Belanda mulai diadakan pembangunan kota-kota secara terintegrasi dan pembangunan jalan-jalan baru sesuai rencana pembangunan Gubernur Jenderal Daendels. Beberapa persil lahan swasta mulai dibeli pemerintah. Sejumlah kawasan (area) ditingkatkan. Salah satu area yang ditata adalah kawasan benteng (fort) Noordwijk.

Program ini sempat terhenti karena pendudukan Inggris (1811-1816). Pemerintah Inggris dibawah Letnan Gubernur Raffless lebih memilih ibukota di Semarang dan Buitenzorg. Praktis pembangunan di Batavia sedikit melambat. Setelah kembalinya Belanda berkuasa, banyak persoalan pemerintah Hindia Belanda, selain perdagangan yang melambat juga terjadinya berbagai perang di berbagai wilayah, termasuk Perang Jawa (1825-1830).

Pasca Perang Jawa, pada era Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch (1830-1833) pembangunan ekonomi pertanian dipaksakan dengan menerapkan sistem stelsel (kultuur/koffie). Untuk memperkuat militer dalam mendukung sisten stelsel, tata pertahanan mulai dirapihkan. Pembangunan kampement militer di Batavia dilakukan. Rumah sakit militer dibangun. Kawasan Weltevreden menjadi pusat militer. Pada saat inilah kawasan (area) Fort Noordwijk dikembangkan menjadi taman yang disebut Wilhelmina Park.

Cidatel Frederik Hendrik (Peta 1897)
Untuk menyesuaikan kawasan dengan taman yang baru, benteng (fort) Noorwijk dilakukan pemugaran. Fungsi pemugaran benteng ini lebih pada aspek aestika dan pelestarian warisan. Fungsi benteng telah digantikan oleh kampemen (markas militer atau garnizn). Hasil pemugaran benteng ini tidak lagi menggunakan nama Noordwijk tetapi dengan memberi nama baru Frederik Hendrik. Peta 1897

Wilhelmina Park atau Taman Widjaja Koesoema Menjadi Masjid Istiqlal

Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, pada tahun 1950 sejumlah nama tempat yang berasosiasi Belanda diganti. Yang pertama ibukota RIS dari nama Batavia diganti dan ditetapkan dengan Djakarta dan nama Buitenzorg menjadi Bogor. Selain itu nama-nama jalan juga diubah dengan nama-nama Indonesia.

Monumen Atjeh di Wilhelmina Park (1914)
Nama lapangan (plein) dan nama taman (park) juga diubah. Wilhelmina Park diganti dengan nama baru Taman Widjaja Koesoema. Tentu saja nama istana juga diubah menjadi Istana Merdeka. Lapangan Koningsplein juga diubah menjadi Lapangan Merdeka. Beberapa monumen juga dibongkar, termasuk Monumen Atjeh yang berada di kawasan Wilhelmina Park. Peta 1914

Pada tahun 1951 muncul gagasan untuk membangun masjid yang besar di Djakarta. Sejumlah nama disurvei yang mana salah satunya adalah kebun binatang di Tjikini. Namun dalam perkembangannya lokasi Tjikini tidak sesuai. Dalam diskusi yang dilakukan panitia pembangunan masjid dengan Presiden Soekarno diputuskan lokasi masjid dibangun di Taman Widjaja Koesoema.

Foto udara Cidatel Frederik Hendrik di Wilhelmina Park (1943)
Untuk menetapkan anggaran dan desain masjid lalu diputuskan bahwa untuk desain akan disayembarakan. Sejumlah arsitek dan perusahaan arsitek mengirimkan desain masing-masing. Yang terpilih adalah desain dari Frederik Silaban dari Bogor. Foto udara Wilhelmina Park, 1943

Tentu saja Frederik Silaban yang membuat desain Masjid Istiqlal yakin akan menang dalam sayembara desain masjid, tetapi tidak mengetahui bahwa lokasi masjid itu akan dibangun di Wilhelmina Park tempat dimana terdapat Cidatel (benteng) Frederik Hendrik. Kebetulan namanya sama. Taman Wilhelmina dan Cidatel Frederik Hendrik (eks Fort Noordwijjk) tamat.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar