Laman

Rabu, 15 Mei 2019

Sejarah Jakarta (43): Benteng Rijswijk dan Gedung Societeit Harmonie; Gedung Sosial Inspirasi Pribumi Kini Sekretariat Negara


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini
 

Harmoni, nama suatu kawasan di Jakarta hingga kini sangatlah terkenal. Namanya diturunkan dari sebuah gedung pertemuan yang disebut Gedung Societeit Harmonie. Suatu gedung pertemuan yang dimiliki oleh organisasi sosial Societeit Harmonie. Gedung societeit ini dibangun tahun 1810 tetapi telah dibongkar tahun 1985. Jauh sebelum adanya Societeit Harmonie, kawasan ini disebut Risjwijk. Suatu nama yang diturunkan dari nama sebuah benteng yang disebut benteng (fort) Risjwijk.

Sosieteit Harmoni (Peta 1903); Insert googlemap)
Societeit Harmonie adalah organisasi sosial pertama di Batavia dan di Hindia. Organisasi ini pada awalnya adalah klub sosial para pensiunan militer yang kembali ke masyarakat. Dalam perkembangannya wajahnya telah bergeser menjadi klub sosial kemasyarakat umum. Para pensiunan militer generasi berikutnya mendirikan organisasi sosial yang baru yang disebut Societeit Concordia di Waterlooplein (kini lapangan Banteng). Klub sosial sejenis juga muncul di Meester Cornelis yang diberi nama Amicitia. Sejak adanya klub Societeit Concordia, di berbagai kota juga didirikan klub sosial sejenis seperti di Soerabaja, Semarang, Padang, Bandoeng, Singapore, Penang dan Medan. Tentu saja warga pribumi mulai belajar membentuk organisasi sosial meniru societeit orang Eropa/Belanda. Societeit pribumi pertama didirikan di Padang tahun 1900 yang diberi nama Medan Perdamaian. Organisasi sosial Medan Perdamaian ini adalah organisasi sosial (pribumi) Indonesia pertama, delapan tahun lebih awal dari pendirian organisasi sosial Boedi Oetomo. Peta 1903 (insert: googlemap)

Kawasan Harmonie atau tempo doeloe disebut Rijswijk adalah kawasan dimana awal mula hal yang bersifat sosial muncul diantara kalangan orang Eropa.Belanda di Hindia. Itulah hal terpenting dari kawasan ini. Hal itu pula mengapa begitu penting sejarah kawasa ini untuk diketahui. Untuk menambah pemahaman kita, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Gedung Societeit Harmonie di Risjwijk, 1810

Pada Peta 1740 tampak benteng (fort) Noordwijk dan benteng (fort) Angke masih eksis, tetapi benteng (fort) Rijswijk tidak diidentifikasi lagi. Di lokasi dimana benteng (fort) Risjwijk hanya disebut Stalmeester (posisinya diujung sebelah barat kanal Molenvliet). Stalmeester ini kemudian menjadi pusat kavelari Cavelary Kazerne (kini area Bank BTN).

Rijswijk (Peta 1740)
Benteng (fort) Rijswijk berada di sisi timur sungai Croekoet dibangun bersamaan dengan benteng Noordwijk di sisi barat sungai Tjiliwong pada tahun 1650a, Dalam perkembangan antara dua benteng ini dibangun kanal selatan (kali antara jalan Juanda dan jalan Veteran yang sekarang). Dalam perkembangan berikutnya dibangun kanal barat yang kini menjadi kali antara jalan Gajah Mada dan jalan Hayam Wuruk (lihat Peta 1740). Kanal selatan dan kanal barat ini menjadi kali utama. Kanal yang menuju Croecoet dikerdilkan. Peta 1740

Kawasan Rijswijk dari waktu semakin rampai. Perkembangan wilayah pemukiman orang Eropa/Belanda semakin bergeser ke wilayah/kawasan Rijswijk. Kota Batavia yang semakin padat menjadi tidak nyaman. Wilayah Rijswijk terbilang wilayah yang masih asri. Semakin ramainya di sekitar Caverlary Kazerne di kawasan Rijswijk, maka gedung Societeit Harmonie di Batavia dipindahkan dari Stad (kota) Batavia ke area Rijswijk.

Bataviasche koloniale courant, 07-09-1810
Societeit Harmoni di Batavia paling tidak namanya diberitakan pada tahun 1810 (lihat Bataviasche koloniale courant, 07-09-1810). Disebutkan para anggota merayakan tahun kelahiran Societeit Harmoni. Tidak diketahui secara jelas kapan Societeit Harmoni didirikan. Nama Societeit Harmoni diduga berasal dari Belanda, karena nama Societeit sudah lama ada di Rotterdam. Pada saat pendudukan Inggris, Societeit Harmoni masih tetap aktif di Batavia (lihat Java government gazette, 18-06-1814). Disebutkan gedung Societeit Harmoni tengah dihiasi untuk suatu acara (lihat Java government gazette, 18-06-1814). Gedung Societeit Harmoni (Societeit huis) ini disebut berada di Nieuwepoort-straat.

Gedung baru Societeit Harmoni ini mengambil posisi di huk antara Risjwijk Straat (Jalan Veteran sekarang) dengan terusan jalan Molenvliet. Saat itu baru ada satu jalan yakni jalan Hayam Wuruk yang sekarang (jalan  Majapahit saat itu belum sampai ke huku jalan Juanda dan jalan Majapahit yang sekarang. Pada tahun 1817 Societeit Harmoni gedungnya diketahui berada di Rijswijk (lihat  Bataviasche courant, 25-01-1817).

Harmonie, 1870 dan 1880
Societeit Harmoni lambat laun namanya makin populer, sering teridentifikasi di surat kabar. Kegiatannya juga semakin intensif dilaporkan. Satu berita penting pada tahun 1822 Societeit Harmoni telah mengumpulkan dana dari berbagai anggotanya di Hindia untuk menyumbang korban kebakaran di Paramaribo (Bataviasche courant, 17-08-1822), Jumlah sumbangan yang terkumpul sebesar f 8.573 yang mana diantaranya termasuk sebesar f450 dari direksi Societeit Harmonie.

Tidak diketahui secara jelas apakah gedung dui Rijswijk ini gedung baru atau gedung mereka yang lama, dimana pada saat pendudukan Inggris kegiatannya dipindahkan ke Nieuwepoort straat di stad (kota) Batavia dan setelah pendudukan kembali ke Rijswijk. Selama era pendudukan Inggris tidak terlalu menyukai di Batavia, pemerintah Raffless lebih memilih di Semarang dan Buitenzorg.

Rijswijk (Peta 1824)
Pada Peta 1824 area Rijswijk sudah ramai dengan perumahan dan gedung-gedung. Di area Risjwijk ini situs benteng Risjwik masih terlihat sebagai Cavelary Kazerne. Di atas kanal yang menuju sungai Croecoet sudah dibangun jembatan. Benteng Rijswijk yang telah berubah menjadi Cavelary Kazerne terlihat berada diantara dua kanal menuju sungai Croecoet. Pada Peta 1824 ini juga telah dibangun jembatan di atas kanal yang menghubungkan jalan Molenvliet (jalan Hayam Wuruk yang sekarang) dengan Noordwijk Straat (jalan Juanda yang sekarang). Peta 1824

Yang menambah keramaian di sekitar Rijswijk adalah dibangunnya gedung pemerintah seperti Dep. Justice. Di sekitar area Rijswijk di arah timur Societeit Harmoni ini juga bermunculan hotel seperti Hotel der Nederland dan Hotel van den Gouvernoeur Generaal. Di Molenvliet muncul Hotel Wisse (sisi timur) dan Hotel des  Indes (sisi barat). Hotel des Indes ini dibangun tahun 1856 (kini lokasinya berada di area Duta Merlin yang sekarang).

Hotel de Indes 1870
Hotel des Indes adalah hotel yang sangat luas. Hotel ini memiliki kandang kuda. Hotel ini juga menjadi pusat (stasion) kereta kuda yang menghubungkan Batavia dengan Buitebnzorg. Hotel di Buitenzorg yang juga memiliki stasion kereta kuda adalah Hotel Buitenzorg yang berada persis di depan istana Gouv. Generaal di Buitenzorg (areanya kini balai kota Bogor). 

Prapatan Rijswijk

Seperti tampak pada foro tahun 1870 jalan Veteran yang sekarang menjadi jalan utama di depan gedung Societeit Harmoni, sementara di sisi lain kanal sudah terbentuk jalan Juanda yangsekarang. Sedangkan di jalan utama ke arah kota (stad( Batavia pada foto 1880 hanya terlihat jalan Hayam Wuruk yang sekarang. Dengan kata lain jalan utama adalah jalan Hayam Wuruk yang sekarang dengan jalan Veteran yang sekarang. Di jalan Veteran yang sekarang terlihat ada rel kereta yang lurus ke terusan jalan Hayam Wuruk yang sekarang. Rel kereta api ini besar dugaan adalah kereta lori.

Prapattan Rijsiwijk (Peta 1897)
Pada Peta 1897 gambaran keseluruhan di sekitar area Rijswijk terlihat lebih jelas. Jalan Majapahit dan jalan Juanda belum terhubung langsung, tetapi harus melalui jalan Hayam Wuruk melalui dua buah jembatan. Jalan kereta api sudah terlihat ada, tetapi tidak garis lurus seperti foto pada tahun 1880 melainkan rel dari kota (stad( Batavia belok ke jalan Veteran yang sekarang di depan gedung Societeit Harmoni. Rel kereta api ini adalah untuk trem, bukan untuk kereta api. Rel kereta api yang dibangun tahun 1871 hanya menghubungkan kota dan Meester Cornelis melalui Saah Besar, Noordwijk. Trem sendiri baru dibangun tahun 1895 denga rute Kali Besar, stasion Beos (stasion kota), Molenvliet, Rijswijk, Noordwijk, Pasar Baroe, Waterloplein (kini lapangan Banteng) terus ke Senen melalui Tanah Tinggi dan selanjutnya menuju Meester Cornelis dan berakhir di Kampong Malajoe,    

Prapattan Rijswijk seperti tampak pada Peta 1897 telah terlihat lebih rapih. Rel lori telah disingkirkan dari jalan-jalan kota.Hanya moda transportasi trem yang ditambahkan di dalam jalan-jalan kota. Kawasan Rijswijk juga semakin ramai dan tertata dengan baik. Peta kawasan Rijswijk dapat dilihat pada Peta 1915.

Kawasan Harmonie (Peta 1915)
Kebijakan penataan kota seungguhnya sudah mulai dikampanyekan sejak tahun 1838 (lihat Javasche courant, 05-11-1836). Disebutkan Residen Batavia, sesuai dengan resolusi Pemerintah Hiinda, tanggal. 18 Oktober mengumumkan antara lain, ketentuan umum berikut telah ditetapkan oleh resolusi tersebut, untuk mempercantik dan meningkatkan ibukota Batavia di jalan-jalan di Molenvliet, Rijswijk, Noordwijk, Weltevreden, Prapattan, Koningsplein, Tanabang, Goenong Saharie, Selemba, Kramat, dan selanjutnya lintas dan jalan-jalan lain disana, setiap halaman di sepanjang jalan akan dilengkapi dengan pemisahan rapi, yang harus ada ketika halaman dibangun..’   

Societeit Harmoni dan Societeit Pribumi

Societeit Harmoni adalah klub atau organisasi sosial biasa, tetapi karena Societeit Harmoni memiliki anggota yang cukup banyak, maka posisinya menjadi sangat kuat di tengah masyarakat Eropa/Belanda. Societei Harmoni seakan bayang-bayang organisasi pemerintah sendiri. Societeit Harmoni memiliki struktur organisasi yang baik. Setiap tahun melakukan rapat umum dan setiap tiga tahun memilih pengurus baru, Setiap anggota memiliki hak suara sendiri. One man one vote. Societeit Harmoni, meski hanya suatu klub sosial, tetapi prinsip-prinsip organisasi secara demokratis lebih nyata jika dibandingkan dengan organisasi formal pemerintah.

Societeit Concordia di Waterlooplein, 1930
Organisasi sosial lainnya yang dianggap mumpuni adalah Bataviasche Genootschap, suatu organisasi ilmu pengetahuan. Bataviasche Genootschap sudah ada sejak 1787. Organisasi sosial ini adalah klub para peminat ilmu pengetahuan yang mengorganisasikan pengumpulan data, analisis dan publikasi. Organisasi ini menerbitkan jurnal. Mereka yang tergabung dalam organisasi ini adalah para ahli dan pejabat yang memiliki minat di dalam bidang ilmu pengetahuan.

Dalam perkembangannya Societeit Harmoni diketahui tidak hanya di Batavia, tetapi juga ada cabang yang berada di Soerabaja dan Semarang (lihat  Javasche courant, 09-11-1830). Boleh jadi munculnya societeit di dua kota ini seiring dengan semakin kondusifnya situasi dan kondisi di wilayah Midden Java dan Oost Java setelah berakhirnya Perang Jawa (1825-1830). Societeit kemudian juga didirikan tahun 1837 di Padang. Ini sehubungan dengan berakhirnya Perang Padri tahun 1837. Pembentukan societeit di Padang ini bersamaan dengan pembentukan Province Sumatra’s Westkust.

Foto udara Kawasan Harmonie (1935)
Area di sekitar Rijswijk terus berkembang. Gedung Societeit Harmonie juga semakin tampak anggun di antara bangunan-bangunan lain di sekitar Rijswijk. Dalam foto udara yang dibuat tahun 1935 terlihat jalan Noordwijk (kini jalan Juanda telah terhubung dengan jalan Molenvliet sisi timur (jalan Hayam Wuruk yang sekarang). Jalan di samping Societeit Harmoni juga telah tampak rapih dan ramai. Pintu gerbang gedung Societeit Harmoni seakan telah berubah arah yang dulunya ke arah utara (Rijswijk atau jalan Veteran) kini menjadi ke arah barat (terusan jalan Molenvliet atau jalan Majapahit yang sekarang). Dalam foto juga terlihat sudah ada pos lalu lintas di tengah (persimpangan) jalan.

Gedung Societeit Harmonie ini setelah dua abad harus berakhir. Pada tanggal 5 Maret tahun 1985 harus dibongkar. Tidak diketahui secara jelas mengapa harus dibongkar. Lahan eks gedung Societeit Harmonie ini menjadi kawasan hijau di kawasan Istana Negara yang menjadi bagian dari area Sekretariat Negara. Gedung Societeit Harmonie tamat.

Foto udara Kawasan Harmonie (1940)
Sebelumnya, bangunan sepopuler Societeit Harmoni yakni Hotel des Indes telah lebih dahulu dibongkar. Hotel des Indes juga di masa doeloe sangat terkenal, Hotel ini yang berlokasi di Molenvliet paling tidak sudah diketahui keberadaannya pada tahun 1929 dengan nama Hotel de Provence (lihat Javasche courant, 17-03-1829). Setelah beberapa kali pindah kepemilikan, pada tahun 1856 hotel yang berada di lokasi ini dikenal dengan nama baru yakni Hotel des Indes (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 31-05-1856). Sejak tahun ini nama Hotel des Indes tidak pernah berubah,

Satu keutamaan gedung Societeit Harmoni, meski nasibnya harus berakhir, tetapi namanya tetap terjaga hingga pada masa kini sebagai kawasan yang disebut Kawasan Harmoni. Namun tidak banyak warga Jakarta yang mengetahui mengapa kawasan disebut Harmoni. Dalam hal ini nama kawasan Harmoni berasal dari nama sebuah gedung/societeit Harmoni,

Hotel des Indes, 1950
Pada tanggal 22 Mei 1848 di gedung Societeit Harmonie diadakan pertemuan publik yang kontroversial, suatu pertemuan penting dimana masalah politik ke arah liberal dikumandangkan. Pertemuan publik ini untuk mendukung van Hoevell yang menyuarakan pembebasan perbudakan di Hindia. Pemerintah melakukan penyelidikan di gedung ini dan kemudian Van Hoevell ‘diusir’ dan kembali ke Belanda. Tahun berikutnya van Hoevell di Belandan terpilih menjadi anggota Tweede Kamer (Dewan Perwakilan Rakyat) sebagai wakil Partai Liberal. Pada tahun 1862 van Hoevell menjadi anggota Raad van State (Dewan Negara). Gedung Societeit Harmoni telah memberi kontribusi dalam penghapusan perbudakan di Hindia.

Pada tahun 1900 di Padang muncul societeit pribumi pertama. Societeit ini diberi nama Medan Perdamaian. Penggagas societeit ini adalah Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda, seorang pensiunan guru yang telah mendirikan sekolah swasta di Padang sejak tahun 1895. Dja Endar Moeda pada tahun 1900 telah mengakuisisi surat kabar Pertja Barat dab percetakannya. Pada tahun 1902 Medan Perdamaian telah memberikan sumbangan sebanyak f14.000 untuk peningkatan pendidikan di Semarang. Medan Perdamaian dapat dikatakan sebagai organisasi kebangsaan (pribumi) Indonesia yang pertama.

Dalam perkembangannya di Batavia pada tahun 1908 didirikan societeit Boedi Oetomo. Organisasi kebangsaan Boedi Oetomo ini didirikan oleh mahasiswa-mahasiswa sekolah kedokteran STOVIA yakni Soetomo dan kawan-kawan. Sekolah kedokteran STOVIA ini berada di area rumah sakit militer di Weltevreden (kini RSPAD).

Societeit Harmoni berumur panjang. Gedung Societeit Harmoni awalnya berlokasi di Nieuwepoort straat di Batavia. Lalu kemudia pada tahun 1817 gedung Societeit Harmoni sudah berada di Rijswijk (lihat  Bataviasche courant, 25-01-1817). Namun dimana lokasi gedung Rijswijk tidak diketahui secara jelas. Sejarah Societeit Harmoni baru tahun 1940 dikumpulkan (lihat De Indische courant, 03-01-1940).

De Indische courant, 03-01-1940
De Indische courant, 03-01-1940: ‘...sejarah awal Harmoni' telah dijelaskan oleh Landarchivaris, Dr. FRJ Verhoeven. Artikel itu juga telah dimuat dalam publikasi Desember ‘Studi Kolonial’ 1939 dengan judul ‘Dari Sejarah Societeit Warga Batavia’. Alasan publikasi ini adalah bahwa pada tanggal 18 Januari, 125 tahun yang lalu (baca: 1825) bahwa perayaan publik pertama terjadi di gedung De Harmonie saat ini, setelah sebelumnya gedung societeit berada di Buiten Nieuwpoortstraat di kota bawah, sebelum menempati gedung baru di Rijkswjjk. Dr. Verhoeven memberikan ikhtisar sejarah De Harmonie, berdasarkan sejumlah data historis, sebagian besar berasal dari arsip yang tersimpan di Arsip Nasional; Tujuan utamanya adalah untuk mendorong studi menyeluruh tentang societeit di Hindia, yang sangat penting bagi sejarah budaya kita selama satu setengah abad terakhir. Pertama kali suatu societeit dibentuk di Batavia pada tahun 1776. Gubernur Jenderal Reinier de Klerk berpikir bahwa di kota utama ini cara hidup harus (sebanyak mungkin) dibuat secara beradab dengan mendorong publisitas. pertemuan yang meningkatkan moralitas dan memberikan kesempatan untuk penggabungan yang tepat. Sejarah De Harmonie sangat menarik karena bagian penting yang dimiliki Daendels di pemerintahan dan kemudian Raffles dalam realisasi gedung baru di Rijkswijk serta hubungan dengan Pemerintah di tahun-tahun berikutnya. Pada awal tahun 1823, tidak ada bukti dalam arsip societeit mengenai apakah dan bagaimana, ketika otoritas Belanda dipulihkan tujuh tahun sebelumnya, itu dikonfirmasi dalam penggunaan bangunan yang ditempati pada saat itu..’.

De Sumatra post, 13-01-1940: ‘Arsip. Sejarah awal. Pada peringatan De Harmonie. De Harmonie, tempat pertemuan orang-orang Batavia ini pada tanggal 18 Januari seratus dua puluh lima tahun. Itu berarti: bangunan di Rijswijkstraat. Societeit De Harmonie sebelumnya terletak di Buiten-Nieuwpoortstraat, tetapi pada tanggal 18 Januari 1815 gedung baru dan dibuka secara meriah.. Relokasi De Harmonie dari Nieuwpoortstraat ke Rijswijk dibahas pada akhir 1809, ketika Maarschalk Daendels, salah satu cara untuk memindahkan penduduk dari kota (lama) Batavia ke Weltevreden dimana ia percaya udara yang sehat.. Karena De Harmonie tidak memiliki dana yang diperlukan - hanya beberapa anggota yang termasuk yang paling tinggi bayarannya - dan pembangunan sebuah bangunan sosial baru adalah masalah, menurut Daendels, untuk kepentingan umum, Weeskamer diotorisasi untuk mengajukan anggaran f75.000 hingga f80.000 yang dianggap perlu untuk pembelian tanah dan pembangunan.. Kurang dari dua bulan kemudian, spesifikasi dan kondisi bangunan societeit baru diajukan untuk tender sebesar f105.000... Kontraktornya adalah Louw Kietko, penjamin dan ko-kontraktor adalah Louw Engko, Koe Sonko, Sieuw Sienko dan I. Atjiet. Untuk pengawasan pekerjaan adalah Komisaris dari Societeit, JC Goldman, JC Schultze, Van de Poel, JF Jongkind dan George Blume, sekretaris.. Namun, spesifikasi final dimulai dari 1812. Itu akan menjadi 18 Januari 1815, sebelum pembukaan berlangsung. Koloni kami sejak itu jatuh ke tangan Inggris setelah pertempuran luar biasa di Meester Cornelis... Raffles dengan senang hati mendukung rencana itu ketika diajukan untuk dilanjutkan pembangunannya... Pertunjukan musik diberikan di gedung societeit baru segera setelah pembukaan; misalnya, konser besar dilakukan oleh Batavia pada tahun 1816.. Pertemuan di De Harmonie dapat, tanpa berlebihan, dianggap sebagai tonggak penting dalam sejarah Hindia Belanda; itu menandai awal periode liberal di wilayah ini...’.

Sebelum pendudukan Jepang gedung societeit ini sempat digunakan oleh para pimpinan perang sekutu/Inggris untuk dijadikan sebagai tempat persinggahan. Selama pendudukan Jepang, bagaimana situasi dan kondisi gedung Societeit Harmoni tidak diketahui secara jelas.

Penyerahan senjata Jepang (Het dagblad, 16-05-1946)
Pada saat Belanda/NICA kembali ke Indonesia/Djakarta, gedung Societeit Harmoni diaktifikan kembali. Pada bulan Juni 1946 keberadaan Societetit Harmoni sudah diberitakan diaktifkan kembali (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 16-05-1946). Disebutkan Societeit Harmoni akan dibuka untuk anggota lagi.Untuk persiapan yang diperlukan, sebuah dewan sementara telah dibentuk, yang pada waktunya akan membuat mandatnya tersedia untuk majelis umum anggota sesuai dengan peraturan. Ketua sementara adalah F de Boer dan sebagai sekretaris LC van Aken.

Hotel des Indes sebagai tempat interniran Eropa/Belanda (1946)
Juga disebutkan bahwa demi kepentingan militer, tiga aula di bagian depan gedung Societeit Harmoni sementara waktu disediakan untuk Welfare Comité (Komite Kesejahteraan) Batavia. Oleh karenanya untuk sementara waktu hanya ruang depan, ruang baca dan ruang makan malam dengan galeri terkait yang akan tersedia untuk anggota societeit. Foto disamping ini memperlihatkan Hotel des Indes dijadikan tempat pemulihan interniran Eropa/Belanda yang telah dibebaskan pasukan Sekutu/Inggris (1946).

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (1950) gedung Harmonie telah diubah namanya menjadi gedung Noesantara (lihat Het vrije volk: democratisch-socialistisch dagblad, 14-09-1957). Societeit yang dibentuk di gedung Noesantara itu bukan lagi dengan nama Societeit Harmoni, tetapi dengan nama Djakarta Club. Anggota klub tidak lagi hanya orang Eropa/Belanda tetapi juga sudah ada sejumlah orang Indonesia.. Djakarta Club menjadi klub internasional.

Het vrije volk, 14-09-1957
Perubahan nama ini seiring dengan perubahan nama-nama lainnya. Perubahan nama   pertama adalah menetapkan nama Batavia menjadi Djakarta (juga Buitenzorg menjadi Bogor). Nama-nama jalan, nama-nama lapangan dan taman juga diubah. Tentu saja nama Istana Gubernur Jenderal telah diubah menjadi Istana Merdeka. Era kolonial Belanda telah berganti menjadi era kemerdekaan.

Gedung Societeit Harmonie ini setelah dua abad harus berakhir. Pada tanggal 5 Maret tahun 1985 harus dibongkar. Tidak diketahui secara jelas mengapa harus dibongkar. Lahan eks gedung Societeit Harmonie ini menjadi kawasan hijau di kawasan Istana Negara yang menjadi bagian dari area Sekretariat Negara. Gedung Societeit Harmonie tamat.

Hotel des Indes, 1900
Sebelumnya, bangunan sepopuler Societeit Harmoni yakni Hotel des Indes telah lebih dahulu dibongkar. Hotel des Indes juga di masa doeloe sangat terkenal, Hotel ini yang berlokasi di Molenvliet paling tidak sudah diketahui keberadaannya pada tahun 1929 dengan nama Hotel de Provence (lihat Javasche courant, 17-03-1829). Setelah beberapa kali pindah kepemilikan, pada tahun 1856 hotel yang berada di lokasi ini dikenal dengan nama baru yakni Hotel des Indes (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 31-05-1856). Sejak tahun ini nama Hotel des Indes tidak pernah berubah,

Satu keutamaan gedung Societeit Harmoni, meski nasibnya harus berakhir, tetapi namanya tetap terjaga hingga pada masa kini sebagai kawasan yang disebut Kawasan Harmoni. Namun tidak banyak warga Jakarta yang mengetahui mengapa kawasan disebut Harmoni. Dalam hal ini nama kawasan Harmoni berasal dari nama sebuah gedung/societeit Harmoni,

Pembongkaran eks gedung Societeit Harmonie (1985)
Seorang wartawan Belanda pada tahun 1985 berkunjung ke Jakarta. Dalam laporannya yang dimuat dalam surat kabar De Volkskrant, 17-08-1985 menyebut ‘niet alle sporen van Nederland zijn gewist’ (Tidak semua jejak Belanda telah dihilangkan). Namun sang wartawan, Peter Brusse merasa kehilangan dua bangunan bersejarah yakni Harmonie dan Hotel de Indes. Disebutnya Harmonie adalah societeit tertua di Asia.    

Hotel des Indes, 1935
Menghilangnya atau dihilangkannya dua situs kuno yang megah di sekitar Rijswijk tentu saja bukan tanpa alasan. Hotel des Indes milik swasta yang dibongkar tahun 1971 besar dugaan karena tidak menguntungkan lagi, sebab sejak 1962 sudah ada pesaingnya Hotel Indonesia (HI). Lebih menguntungkan dibongkar dan digantikan dengan bangunan lain untuk pusat perbelanjaan Duta Merlin. Sebelumnya karena adanya kebijakan ‘nasionalisasi’ nama Hotel des Indes sempat diubah menjadi Hotel Duta Indonesia sebagaimana gedung Societeit Harmoni diubah dengan nama gedung Noesantara.

Garis pembongkaran gedung Societeit Harmoni
Setali tiga uang dengan gedung Societeit Harmoni yang ‘terpaksa’ harus dibongkar karena untuk kebutuhan publik untuk memperlancar lalu lintas di sekitar. Sebab dengan membongkar gedung Societeit Harmoni dimungkinkan untuk membuat terusan jalan Gajah Mada lebih ideal dan membuatnya dua lajur. Dengan memuat dua lajur maka eks jalan Molenvliet yang sudah dua lajur (jalan Gajah Mada dan jalan Hayam Wuruk) akan selaras dengan pembentukan dua lajur terusan jalan Molenvliet (terusan jalan Gajah Mada).

Seperti tampak pada foto googlemap terusan jalan Gajah Mada seakan memiliki dua sisi (barat dan timur) sementara eks jalan Molenvliet yang barat menjadi jalan Gajah Mada dan yang timur jalan Hayam Wuruk. Oleh karena itu dalam soal penamaan terusan jalan Gajah Mada kemudian menjadi dua lajur, yang barat adalah eks jalan Molenvliet barat (jalan Gajah Mada) dan yang timur adalah perluasan terusan jalan Gajah Mada (eks lahan gedung Societeit Harmoni). Itulah sebab mengapa dua lajur itu disebut jalan Gajah Mada, dan itu pula mengapa tahun 1985 gedung Societeit Harmoni yang menjadi milik pemerintah harus ‘terpaksa’ digusur (dibongkar). Digusur atau dibongkar untuk kepentingan umum (jalan raya).

Demikianlah sejarah panjang secara singkat Rijswijk menjadi Harmoni. Sejarah mengapa disebut kawasan Harmoni.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

1 komentar: