Laman

Sabtu, 25 Mei 2019

Sejarah Jakarta (47): Pasar Senen, Pasar Snees, Pasar Lama di Weltevreden; Cornelis Chastelein, Vinck, Mossel, Parra, Daendels


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Pasar Senen buka tiap hari, tetapi tempo doeloe awalnya hanya buka pada hari Senin. Pasar ini terbentuk di sisi jalan poros (hoofdplaat) baru antara benteng (fort) Noordwijk di Batavia melalui kampong-kampong utama di sisi timur sungai Tjiliwong hingga fort Padjadjaran di hulu sungai Tjiliwong. Fort Noordwijk dibangun 1660 dan fort Padjadjaran dibangun 1687. Pasar ini dibentuk untuk menggeser pusat transaksi ke luar stad (kota) Batavia agar terjadi pertemuan pedagang-pedagang Tionghoa dan Arab dari Batavia dengan pedagang-pedagang pribumi dari wilayah pedalaman.

Jalan poros lama adalah antara benteng (fort) Noordwijk dengan pedalaman di sisi barat sungai Tjiliwong melalui Tjikini, Kalibata, Sringsing, Pondok Tjina, Depok terus ke hulu sungai Tjiliwong di benteng Padjadjaran. Oleh karena sisi timur dianggap lebih aman maka dibuka jalan baru sehubungan dengan pembangunan jembatan di atas sungai Tjiliwong di dekat fort Noordwijk. Jembatan ini juga disebut Sluisburg (Pintu Air). Jalur baru ini mengikuti kanal Pasar Pasar Baru yang sekarang berbelok ke kanan menuju ke Lapangan Banteng yang sekarang terus ke arah Pasar Senen yang sekarang, Kramat, Salemba hingga Meester Cornelis (kini Jatinegara). Di jalan poros baru inilah Cornelis Chastelein membangun land baru untuk usaha perkebunan yang kelak land itu disebut Weltevreden dengan landhuisnya berada dekat sungai di Lapangan Banteng yang sekarang.

Inisiatif pembentukan pasar ini dilakukan oleh Justinus Vinck setelah sebelumnya pada tahun 1733 Justinus Vinck membeli lahan Weltevreden dari (keluarga) Cornelis Chastelein. Pasar yang buka setiap hari Senin ini terus berkembang dan adakalanya pasar ini disebut Pasar Vincke merujuk pada nama Justinur Vinck sebagai pionir. Sementara Land Weltevreden yang pertama kali dikembangkan oleh Cornelis Chastelein sering disebut sebagai Bapak Weltevreden.

Benteng (fort) Noordwijk, 1725 dan desain konstruksi 1660
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*

Bagaimana Pasar Senen terhubung dengan kota baru Weltevreden tentu masih menarik diperhatikan. Hal ini tidak semata-mata tentang Cornelis Chastelein, seorang botanis dengan Weltevreden dan Justinus Vinck, seorang pengacara (procureur) dengan Pasar Senen, tetapi di sekitar kawasan Pasar Senen di Weltevreden pada era selanjutnya terjadi dinamika yang sangat intens yang juga menjadi menarik untuk diperhatikan. Setelah era Jacob Mosel dan Petrus Albertus van der Parra, Gubernur Jenderal Daendels tidak hanya membangun jalan baru antara Anjer dan Panaroekan, tetapi juga di Weltevreden Daendels membangun Istana Gubernur Jenderal untuk menggantikan Stadhuis di stad (kota) Batavia. Popularitas Pasar Senen menjadi semakin meningkat. Itulah keutamaan Pasar Senen di Weltevreden.

Cornelis Chastelein dan Justinus Vinck

Pada saat Gubernur Jenderal VOC masih tinggal dan berkantor di Casteel Batavia di muara sungai Tjiliwong, Cornelis Chastelein membuka lahan dan membangun pertanian dengan rumah pedesaan di suatu lahan di sisi barat sungai Tjiliwong yang disebut land Antonij Paviljoen (lihat Algemeen Handelsblad, 26-10-1932). Lahan yang kelak disebut Weltevreden saat itu sebagian masih terdiri dari hutan lebat dan sebagian rawa. Di lahan ini juga Cornelis Chastelein membangun pabrik gula yang lokasinya di era Pemerintah Hindia Belanda dibangun Hertogspark. Pada tahun 1697, Chastelein sudah memiliki sebuah rumah dan dua pabrik gula di land ini. Chastelein juga memiliki lahan di Sringsing dan Depok.

Peta kuno Tjiliwong, 1695 (Tjililitan dan Sringsing)
Pada tahun 1896 Cornelis Chastelein juga membeli lahan di Sringsing di sisi barat di hulu sungai Tjiliwong  (kini Serengseng Sawah). Pada tahun-tahun sebelumnya dua lahan yang paling subur di sisi barat sungai Tjiliwong telah dimiliki oleh sang pionir sisi barat sungai Tjiliwong, Sersan St. Martin, seorang tentara pemberani yang menguasai bahasa)-bahasa) pribumi. Lahan yang dimiliki Sersan St, Martin ini berada di Tjiliwong di Tjinere dan Tjitajam (sebagai pemberian hadiah oleh pemerintah atas prestasinya dalam meradakan situasi keamanan di Banten).

Lokasi landhuis C. Chastelein yang jadi Hertogpark
Lokasi landhuis Cornelis Chastelein di Sringsing berada di dekat sungai Tjiliwong (di ujung jalan Gardu, Serengseng Sawah yang sekarang). Pada tahun 1704 kembali  Cornelis Chastelein membeli lahan subur yang berada di Depok. Lokasi landhuis Cornelis Chastelein berada di dekat sungai Tjiliwong. Jika diperhatikan secara cermat lokasi landhuis dari tiga lahan (land) yang pernah dimiliki Cornelis Chastelein ini ada kemiripan yakni landhuis (bangunan rumah utama dan bangunan lainnya) ditempatkan di sisi sungai yang membentuk setengah lingkaran. Perlu dicatat saat itu moda transportasi masih menggunakan perahu di sungai Tjiliwong dari Noordwijk hingga Depok. 

Dalam hubungan ini, Cornelis Chastelein bukanlah seorang petualang yang suka adventure. Cornelis Chastelein adalah seorang pejabat VOC yang tekun yang memiliki minat pada bidang botani. Cornelis Chastelein adalah orang yang melanjutkan pekerjaan St. Martin dalam melanjutkan tugas ahli botani Rumphius yang tinggal di Ambon. Tugas yang dilakukan Rumphius tersebut adalah menyusun buku botani yang terdiri dari lima volume. Pekerjaan ini juga tidak dapat diselesaikan St. Martin karena meninggal muda. Untuk melanjutkan ‘mega proyek’ diteruskan oleh Cornelis Chastelein.
Land milik Briel dekat Noordwijk (Peta 1744)

Itulah mengapa Cornelis Chastelein tidak terlalu tertarik untuk membangun rumah dan kota di Weltevreden. Cornelis Chastelein setelah tidak menjabat lebih menyukai membangun pedesan dan meneruskan pekerjaan buku botani yang telah dimulai oleh Rumhius. Cornelis Chastelein meninggal pada tahun 1714 dan mewariskan lahannnya di Depok kepada para pekerjanya. Sementara lahan Sringsing dan lahan Paviljoen tetap dikuasai oleh ahli warisnya.

Bagaimana kesudahan lahan Sringsing tidak diketahui secara jelas, tetapi lahan Paviljoen yang kemudian dikenal Weltevreden telah dijual keluarga Chastelein kepada seoerang pengacara (procureur) Justinus Vinck pada tahun 1733. Justinus Vinck mengembangkan lahan-lahan tersebut dengan membangun landhuis di arah timur landhuis Cornelis Chastelein. Landhuis Justinus Vinck ini kelak dibangun oleh Jacob Mossel sebuah villa. Dalam perkembangannya Justinus Vinck memulai membangun pasar di simpang jalan ke landhuis-nya di jalan poros Batavia menuju hulu sungai Tjiliwong yang kelak disebut Pasar Senen atau Pasar Vincke.

Landhuis di Weltevreden (A. Hoffer, 1739)
Sementara itu, ada dinamika tersendiri di Batavia. Casteel Batavia yang dibangun sejak Coen mulai dirasakan tidak nyaman dan tidak sehat. Lebih-lebih setelah ada peristiwa pembantaian orang-orang Cina di Batavia tahun 1740. Gubernur Jenderal Valckenier (1737-1741) adalah Gubernur Jenderal terakhir yang tinggal di Casteel Batavia. Lalu dalam perkembangannya pusat pemerintah dipindahkan ke Stadhuis di stad (kota) Batavia. Ketika perusahaan (Compagnie) tumbuh dan keamanan meningkat secara bertahap berbagai jenis layanan dipindahkan ke kota. Stadhuis berada di Prinsenstraat antara Casteel dan Stadhuis. Pada tahun 1745 Geubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff (1743-1750) membangun villa di hulu sungai Tjiliwong sebagai tempat peristirahatan, tepat berada di lokasi fort Padjadjaran. Area dimana villa ini kemudian disebut Butenzorg.

Semakin ramainya jalan poros baru di sisi timur sungai Tjiliwong dari Batavia ke Buitenzorg, posisi Pasar Senen menjadi sangat penting.

Jacob Mosel dan Petrus Albertus van der Parra

Gubernur Jenderal Jacob Mossel (1750-1761) tidak seperti van Imhoff. Jacob Mossel yang telah membeli lahan Paviljoen tahun 1749, mulai membangun lahannya dengan membangun rumah besar, rumah yang mirip dimiliki oleh para bangsawan Eropa. Sejak itulah lahan Weltevreden menjadi cikal bakal kota. Rumah besar ini kini lokasinya berada di RSPAD.

Gerbang rumah van der Parra di Weltevreden (J. Rach, 1771)
Rumah besar dengan taman luas ini kini berada di sebelah kiri Pasar Senen. Taman yang luas ini berbatasan dengan jalan Kwini I yang sekarang (doeloe disebut gang Mendjangan). Di taman yang luas ini juga ditempatkan sejumlah menjangan (rusa). Penampakan pintu gerbang rumah van der Parra di Weltevreden dapat dilihat pada lukisan Johannes Rach (1771)..   

Land Paviljoen yang telah dikenal sebagai Weltevreden, pengganti Mossel, Gubernur Jenderal van der Parra (1761-1775) pada tahun 1767 membeli rumah dan taman Jacob Mossel. Boleh jadi van der Parra telah melakukan sejumlah renovasi rumah dan taman peninggalan Jacob Mossel tersebut.

Pasar Senen dan parade vab der Parra (J. Rach, 1770-1772)
Pada era dimana van der Parra menjadi Gubernur Jenderal, ekonomi kopi mencapai puncaknya. Upaya ini sejatinya hasil pekerjaan Jacob Mossel tetapi yang menikmatinya tepat berada di masa pemerintahan van der Parra. Produksi kopi ini terutama di Buitenzorg dan Preanger di West Java dan wilayah Semarang (Ambarawa) dan Vostenlanden di Miiden Java. Introduksi kopi ini dilakukan pada era Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck (1708-1713) yang ketika itu Cornelis Chastelein masih hidup.

Bagaimana van der Parra membangun Weltevreden berhasil direkam oleh Johanner Rach dalam lukisannya. Demikian juga bagaimana hiruk pikuk di Pasar Senen juga diabadikan oleh Johannes Rach dalam lukisannya. Dalam lukisan Rach itu disebut kereta van der Parra tengah menuju istananya di Weltevreden.

Rumah van der Parra di Wiltevreden, 1770-1772
Dalam lukisan ini terlihat bahwa pintu gerbang menuju rumah van der Parra berada di sisi timur jalan Kwitang yang sekarang. Tentu saja jembatan Kwitang saat itu belum ada sehingga jalan Kwitang yang sekarang adalah jalan menuju rumah van der Parra.

Gubernur Jenderal van der Parra boleh dikatakan salah satu gubernur jenderal yang suka dalam kehidupan mewah. Selain di Weltevreden, van der Parra juga memiliki lahan luas di Tjimanggis di tempat dimana pada masa kini masih ditemukan bekas bangunan kuno yang sering disebut Rumah Cimanggis.

Rumah dan taman di Weltevreden tetap menjadi milik pribadi. Sementara kantor gubernur jenderal berada di Stad Batavia (Stadhuis). Pada era Gubernur Jenderal Siberg (1801-1805), Siberg tidak berkantor lagi di Stadhuis karena dianggap tidak nyaman. Johannes Siberg lalu berkantor di Molenvliet.

Herman Willem Daendels: Membangun Istana Gubernur Jenderal di Weltevreden

Pada era Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) mulai memikirkan ibukota baru. Seperti halnya Siberg, Daendels juga tidak nyaman di Batavia. Gubernur Jenderal Daendels membeli Weltevreden untuk dijadikan ibukota yang baru. Daendels juga membeli lahan-lahan yang dimiliki swasta untuk dijadikan tempat-tempat bangunan pemerintah. Hal yang sama juga dilakukan Daendels di Buitenzorg. Istana Gubernur Jenderal di Buitenzorg tidak cukup. Daendels juga menjadi lahan-lahan di Buitenzorg untuk dijadikan kota pemerintahan.

Sketsa benteng baru dan kota oleh Jan Pieterszoon Coen, 1619
Sebagaimana halnya dengan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen (1617-1623) yang merancang benteng baru dan pembangunan kota Batavia, Herman Willem Daendels dapat dikatakan sebagai pendiri ibukota baru untuk menggantikan ibukota (stad) Batavia.

Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mulai membangun ibukota (stad) yang baru di Weltevreden. Untuk membangun kota baru ini, Daendels menggunakan batu-batu eks Casteel Batavia sebagai fondasi untuk bangunan-bangunan baru. Casteel Batavia dianggap sudah tidak berguna dan tidak dimanfaatkan lagi. Daendels memutuskan untuk menghancurkan gedung yang sementara itu menjadi tidak berguna untuk pertahanan dan juga tidak layak lagi untuk tempat tinggal.

Istana Gub. Jenderal Daendels (1870)
Satu bangunan terpenting di ibukota baru di Weltevreden yang mulai dibangun Daendels adalah Istana Gubernur Jenderal yang representatif. Istana ini dilengkapi dengan lapangan yang luas yang diberi nama Waterlooplein (kini Lapangan Banteng). Bangunan utama lainnya adalah Raadhuis. Kampement militer juga dibangun di sekitar Waterlooplein.

Pembangunan ibukota baru ini belum sepenuhnya selesai, pada tahun 1811 Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels harus menyerahkan kekuasaannya kepada Inggris. Sebagai pengganti Daendels, Letnan Gubernur Jenderal Raffles tidak memilih pusat pemerintah di Batavia, tetapi lebih memilih di Buitenzorg dan Semarang. Hanya kantor-kantor tertentu yang tetap berada di Stad Batavia.

Tidak diketahui secara jelas siapa yang meneruskan pembangunan ibukota baru di Weltevreden, apakah Letnan Gubernur Jenderal Raffles atau dihentikan atau dilakukan oleh swasta.

Pendudukan Inggris berakhir tahun 1816. Pemerintah Kerajaan Belanda menempatkan Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1816-1826). Boleh jadi pada masa Capellen, pembangunan ibukota di Weltevreden dilanjutkan. Namun tidak lama kemudian meletus perang di Jawa (Perlawanan dari Pangeran Diponegoro).

Weltevreden (Peta 1824)
Defisit pemerintahan yang berkepanjangan terutama dalam Perang Jawa (1825-1830), Johannes van den Bosch (1830-1833) memulai program pemerintah yang sangat radikal yang dikenal dengan nama kultuurstelsen. Seperti halnya Mossel dan van der Parra yang mengandalkan kopi, van den Bosch juga mengandalkan kopi dengan menerapkan koffiestelsel di Buitenzorg, Preanger, Semarang dan Vorstenlanden (Soeracarta dan Jogjakarta). Program ini tampaknya berhasil untuk mendongkrak penerimaan pemerintah. Program koffiestelsel diperluas di Padangsche dan Tapanoeli sehubungan dengan berakhirnya Perang Bondjol (1837) dan Perang Tambusasi (1838). Weltevreden (Peta 1824)  

Salah satu pahlawan yang terkenal dalam Perang Diponegoro (Jawa), Perang Bonjol (Padangsche) dan Perang Tambusai (Tapanoeli) adalah Andreas Victor Michiels. Setelah berakhirnya Perang Bonjol, Kolonel Michiels diangkat menjadi Gubernur Sumatra’s Weskust (Pantai Barat Sumatra) dengan menaikkan pangkatnya menjadi Mayor Jenderal. Gubernur Michiels berhasil menyukseskan koffiestelsel di Padangsche dan Tapanoeli.

Monumen Michiels di WaterlEditooplein, Weltevreden (1852)
Di Waterlooplein di Weltevreden, nama Andreas Victor Michiels diabadikan dengan pembangunan monumen Michiels. Monumen Michiels juga terdapat di kota Padang. Sebagai ahli perang, Andreas Victor Michiels jasanya masih diperlukan yang sejatinya sudah harus pensiun sebagai militer, Mayor Jenderal. Michiels harus meninggalkan jabatannya sebagai Gubernur Sumatra’s Westkust pada tahun 1849 untuk mengisi posisi Komandan Militer di Batavia.

Andreas Victor Michiels yang telah dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Jenderal dan kemudian memimpin ekspedisi ke Bali. Sang pahlawan Belanda Andreas Victor Michiels terbunuh di rumahnya di Bali yang dilakukan oleh bekas pembantunya yang diduga menaruh dendam. Andreas Victor Michiels tamat, tetapi namanya tetap harus dengan berdiri kokohnya monumennya di Waterlooplein di Weltevreden. Foto tertua Monumen Michiels di Waterloplein bertahun 1880. Satu pahlawan lagi yang ada di Waterlooplein adalah monumen/patung Jan Pieterszoon Coen, sang pahlawan Belanda pada era VOC (foto monumen tertua tahun1875). Hanya dua pahlawan ini yang namanya diabadikan di Waterlooplein yang seakan menggambarkan dua pahlawan beda generasi: generasi nenek moyak VOC dan generasi penerus Pemerintah Hindia Belanda.

Weltevreden (Peta 1866)
Pada era Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch (1830-1833) benteng (fort) Noordwijk direvitalisasi yang dilengkapi dengan taman dengan mengganti namanya menjadi Cidatel (benteng) Frederik. Tamannya sendiri disebut Wilhelmina Park. Setelah sukses Perang Atjeh 1874 di dekat Wilhelmina Park ini juga dibangun Monumen Atjeh. Di area Wilhelminan Park dan benteng Frederik ini kelak dibangun masjid Istiqlal (1951), Di Weltevreden juga dibangun monumen van Heutsz. Pada era Gubernur Jenderal Johannes Benedictus van Heutsz (1904-1909) berhasil menuntaskan Perang Atjeh.

Kawasan ibukota baru Weltevreden hampir separuhnya adalah untuk lokasi yang terkait dengan kebutuhan militer, seperti lapangan Wateerlooplein (kini lapangan Banteng), Istana Gubernur Jenderal yang berbau militer, garnizun, kampement militer, societeit (Concordia), rumah sakit militer (kini RSPAD), laboratorium, monumen pahlawan. Istana Gubenur Jenderal adakalanya disebut Istana Daendels. Salah satu hal yang kerap terlupakan adalah keberadaan Docter Djawa School.

Peta Rumah Sakit dan Dokter Djawa School 1915 (insert gedung)
Pada tahun 1851 di sebelah timur rumah sakit militer diselenggarakan pelatihan kedokteran untuk pribumi untuk membantu dokter-dokter Belanda dalam mengatasi epidemik dan berbagai penyakit yang muncul di berbagai daerah. Gagasan pendirian sekolah kedokteran ini sudah muncul pada tahun 1849 untuk mendidik pemuda pribumi untuk menjadi tenaga medis. Lalu keputusan pemerintah menetapkan tiga puluh orang untuk dilatih selama dua tahun untuk tugas utama vaksinisasi (lihat Leydse courant, 30-05-1849). Lalu angkatan pertama dimulai pada tahun 1851.

Leydse courant, 30-05-1849
Pelatihan kedokteran lalu kemudian berkembang menjadi sekolah kedokteran. Sekolah kedokteran ini karena awalnya hanya ditujukan untuk pemuda Jawa disebut Docter Djawa School. Lalu setelah sekian dasawarsa sekolah kedokteran ini ditingkatkan dengan mengubah namanya menjadi STOVIA. Pada awalnya sekolah ini hanya menerima jumlah siswa setiap angkatan sekitar 10 siswa tetapi setelah era STOVIA jumlahnya kian bertambah. Gedung STOVIA ditingkatkan pada tahun 1900. Kini gedung STOVIA ini dijadikan sebagai gedung Kebangkitan Bangsa di Jalan Dr. Abdul Rahman Saleh.

Pada tahun 1915 dimana lokasi Docter Djawa School ini semakin jelas.Di seberang Docter Djawa School ini kemudian terbentuk jalan (gang) Menjangan. Apakah nama menjangan (rusa) ada hubungannya dengan taman rumah Jacob Mossel yang pertama membangun (kota) Weltevreden? Apakah masih ada rusa di taman ini ketika terbentuk gang ini? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus kembali ke awal di masa lampau yakni dimana posisi pintu gerbang rumah Mossel yang telah dibeli van den Parra.

Foto udara Waterlooplein, 1943
Dalam lukisan yang dibuat Johannes Rach pada tahun 1771 pintu gerbang rumah dan taman van der Parra masuk dari jalan Kwitang yang sekarang. Dalam lukisan lainnya yang dibuat Rach mengindikasikan bahwa pintu gerbang ke rumah van der Parra melewati jembatan di atas sungai kecil (kanal). Kanal ini dibuat dengan cara menyodet sungai Tjiliwong yang dialirkan ke arah Tandjong Priok. Sementara itu di lukisan lain yang dibuat oleh Rach menggambarkan bagian belakang rumah van der Parra yang dikitari oleh sungai besar (sungai Tjiliwong?). Pada era Gubernur Jenderal Daendels juga dibuat kanal di utara bangunan rumah van der Parra yang diteruskan ke jalan Goenoeng Sahari. Fungsi kanal ini diduga sebagai barier untuk Istana Gubernur Jenderal Daendels.

Jalan Hospitalweg dan Senenweg di Weltevreden
Dari gambaran yang dilukiskan oleh Johannes Rach (1770-1772) dapat disimpulkan bahwa pintu gerbang rumah van der Parra berada di jalan Kwitang yang sekarang. Dari gate ini masuk jauh ke dalam melalui koridor yang mana di ujung koridor di sisi kiri adalah rumah van der Parra yang membelakangi sungai Tjiliwong dan di sebelah kanan (seberang lapangan) rumah van der Parra adalah taman yang luas. Di bagian pekarangan rumah dipinggir taman terdapat kandang menjangan (rusa). Pada masa ini, pintu gerbang dan koridor masuk ke rumah van der Parra tersebut diduga kuat adalah jalan Abdul Rahman Saleh yang sekarang (dulu Hospitalweg) yang mana rumah van der Parra dan pekarangannya tersebut sudah barang tentu adalah rumah sakit RSPAD yang sekarang (dulu Groote Militaire Hospital). Jalan Hospitalweg dan Senenweg dibangun pada era Gubernur Jenderal Daendels ketika ibukota Weltevreden mulai dibangun. Bagunan bagian depan rumah sakit militer dibangun kemudian.

Pada era Pemerintahan Hindia Belanda ketika Gubernur Jenderal Daendels membangun ibukota di Weltevreden yang pertama dibangun adalah situs Istana Gubernur Jenderal dengan (situs) halaman yang luas di depannya (disebut Waterlooplein). Dengan memperhatikan posisi dua persil lahan situs tersebut (istana dan lapangan) dengan pembangunan jalan yang menghubungkan jalan Pasar Baroe dan jalan Gunung Sahari/Senen maka jalan baru yang dibuat pertama sebelum dua situs adalah membangun (peningkatan jalan) dari jalan Pasar Baru menuju dua sisi lapangan dan Istana. Sisi lapangan/Istana sebelah utara ditarik garis lurus ke Pasar Senen sedangkan sisi selatan ditarik garis lurus ke rumah van der Parra. Akibat pembangunan jalan baru ini, taman dan rumah van der Parra menjadi terpisah. Lahan yang kosong yang sebelumnya berfungsi sebagai taman menjadi peruntukkan pembambngunan gedung-gedung baru termasuk Istana, sedangkan bangunan-bangunan rumah van der Parra tetap dipertahankan yang kemudian menjadi bagian dari pembentukan rumah sakit militer, gudang peluru (arsenal) dan garnisun militer serta di sekitarnya kemudian didirikan sekolah kedokteran (Docter Djawa School).

Lapangan Banteng (Waterlooplein) masa kini (googlemap)
Pada masa ini penamaan jalan di seputar kawasan Weltevreden tersebut adalah di lingkar utara jalan Pasar Baru (Soetomo), di lingkar timur adalah jalan gunung Sahari/ Senen, di lingkar selatan adalah jalan Kwitang, dan di lingkar barat adalah jalan Merdeka Barat. Jalan poros di dalam kota Weltevreden adalah jalan Lapangan Banteng, jalan Katedral (dari jalan Pasar Baru/Juanda) dan jalan Senen Raya (dari jalan Gunung Sahari). Ke jalan lingkar dan jalan poros inilah semua jalan-jalan kecil terhubung di Weltevreden. Seperti yang disebut di atas jalan (gang) Menjangan berpangkal di jalan poros (kini jalan Senen Raya). Kondisi Lapangan Banteng (Waterlooplein) pada masa ini sudah semakin mengicil karena di bekas Istana Gubernur Jenderal Daendels tersebut pada era Presiden Soekarno telah dibangun Hotel Brobudur dan sebagian lapangan Waterlooplein dijadikan sebagai lokasi Monumen Pembebasan Irian Barat.

Weltevreden: Pasar Senen, Pasar Vinck, Pasar Snees dan Pasar Lama

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar