Laman

Jumat, 21 Juni 2019

Sejarah Bekasi (2): Perang Lawan Belanda di ‘Provinsi China’; Rama van Ratoe Djaja, 1869 dan Mayor Madmuin Hasibuan, 1947


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini

Kota Bekasi kini dijuluki sebagai Kota Patriot. Bahkan tidak jauh dari kota tua dibangun stadion yang diberi nama Patriot. Kota tua berada di jalan Veteran, stadion baru yang diberi nama Patriot berada di jalan Jenderal Ahamad Yani. Pada awal terbentuknya kota Bekasi tahun 1857 sebagai ibukota distrik, penduduk mulai resah karena pajak kuda dan jalan, Lalu muncul perang melawan kompeni (Pemerintah Hindia Belanda) tahun 1869 yang dipimpin oleh Rama van Ratoe Djaja. Setelah perang, orang Eropa/Belanda enggan di Bekasi dan sejak itulah semua land di Bekasi menjadi milik orang Tionghoa. Orang Eropa/Belanda menyebut Distrik Bekasi bagaikan ‘Provinsi China’ (baca: pengaruh Eropa/Belanda minim).

Eksekusi Patriot di Bekasi (1870) dan kota Bekasi (Peta 1901)
Pada tahun 1946 Bekasi kembali menjadi area perang. Lagi-lagi untuk melawan kompeni Belanda. Saat Pemerintah RI mengungsi ke Jogjakarta, pada tahun 1947 sejumlah pihak di Priangan memproklamirkan berdirinya Negara Pasundan yang pro Belanda. Para patriot Bandoeng Laoetan Api menjadi ‘ngembang kadu’. Rakyat Pasundan yang sebelumnya 100 persen republik, molohok dan penduduk menjadi terpecah: pro RI menolak Belanda dan pro Belanda menolak RI. Muncul reaksi di Bekasi. Mayor Madmuin Hasibuan dan kawan-kawan secara tegas menyatakan melepaskan diri dari Djakarta (yang dikuasai Belanda) dan ‘ogah’ menjadi bagian Negara Pasundan (yang pro Belanda), dan bersama-sama dengan urang Priangan eks patriot Bandoeng Laoetan Api ingin tetap mempertahankan Bekasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Republik Indonesia. Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, Mayor Madmuin Hasibuan, ketua dewan Bekasi yang pertama, berjuang di dewan Provinsi Jawa Barat tahun 1957 untuk meningkatkan taraf hidup para petani, Madmuin Hasibuan pernah menjadi sekretaris Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap dan ketua Sarikat Petani Islam. Itulah mengapa nama Madmuin Hasibuan ditabalkan sebagai nama jalan di Kota Bekasi.

Itulah sejarah singkat soal patriotisme di Bekasi: diawali Bapak Rama dari Ratoe Djaja dan diakhir Mayor Hasibuan. Lantas bagaimana sejarah keseluruhannya dari awal, tengah dan hingga akhir? Itulah yang akan disarikan. Untuk menulis sari patriotisme di Bekasi, kita harus menelusuri peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dari masa lampau ketika Bekasi masih sebuah kampong, lalu menyajikannya secara utuh agar warga metropolis Bekasi tidak gagal paham.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Perang Bekasi Jilid I: Rama van Ratoe Djaja (1869)

Surat kabar yang terbit di Belanda Algemeen Handelsblad, 11-04-1853 menurunkan sebuah artikel yang meringkas peristiwa yang terjadi terhadap pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia pada tahun 1740. Tidak diketahui motif penulisan sejarah yang sudah dilupakan tersebut, karena peristiwanya sudah berlalu satu abad yang lampau. Apakah tulisan tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan peristiwa masa lalu seiring dengan kebangkitan orang-orang Tionghoa di seputar Batavia?

Fakta bahwa dari waktu ke waktu orang Eropa/Belanda semakin banyak yang melepaskan kepemilikan land partikelir dan menjualnya ke publik. Pembelinya banyak diantaranya adalah orang-orang Tionghoa. Ini bermula saat pendudukan Inggris (1811-1816) banyak orang Belanda menjual hak miliknya dan suatu kesempatan bagi orang Tionghoa memiliki lahan sendiri. Pada tahun 1818 di Bekasi, land Oedjoeng Menteng diketahui sudah dimiliki oleh seorang Tionghoa. Pada tahun 1833 diketahui bahwa lahan-lahan yang berada di Bekasi bagian utara ke arah pantai sudah dimiliki sepenuhnya oleh Lim Kee Seeng (lihat Javasche courant, 03-07-1833). Para investor Tionghoa terus bertambah. Land Tjilengsi juga sudah dimiliki oleh investor Tionghoa dan juga land Tjibaroesa sudah disewakan orang Eropa/Belanda kepada investor Tionghoa.  Investor Tionghoa bernama Lauw Tek Lok juga telah mengakuisisi land Telok Poetjoeng (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 19-10-1853). Praktis boleh dikatakan jika tidak semuanya, hanmpir seluruh land di Bekasi dari sungai Tjakung hingga sungai Tjitarum sudah dikuasai oleh prang-orang Tionghoa. Orang Belanda yang nyinyir menyebut Bekasi (seakan) sebuah provinsi China.

Lantas apakah penulis artikel di Algemeen Handelsblad mengungkit sejarah peristiwa tragis tahun 1740 setelah melihat peta kepemilikan lahan partikelir (land) di luar Batavia, terutama di Bekasi? Tentu saja tidak dikatakan penulis. Yang jelas pada tahun 1854 pemerintah mengeluarkan beslit bahwa wilayah sekitar Residentie Batavia dibagi menjadi dua afdeeling, yakni Afdeeling Meester Cornelis di selatan dan timur dan Afdeeling Tangerang di barat yang masing-masing akan dipimpin oleh Asisten Residen (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 01-05-1854).

Selama ini Residen Batavia hanya dibantu oleh dua Asisten Residen yang berkedudukan di Batavia dan di Buitenzorg. Dengan adanya pemekaran di sekitar Batavia dan pengangkatan dua asisten residen di Meester Cornelis dan di Tangerang, maka Residen Batavia akan dibantu olej tiga asisten residen. Sudah barang tentu penambahan jumlah asisten residen tidak hanya untuk mengefektifkan jalannya pemerintahan, tetapi juga untuk mendekatkan para pejabat ke TKP. Apakah kebijakan penambahan jumalh asisten residen adalah respon terhadap situasi dan kondisi terkini?

Dalam hal ini, sejatinya Residentie Batavia terdiri dari empat afdeeling, yakni Stad Batavia en Voorsteden (Weltevreden); Meester Cornelis, Tangeang dan Bekasi. Dalam struktur baru ini, nama pemerintahan Meester Cornelis diubah menjadi Afdeeling Meester Cornelis en Bekasi. Asisten Residen ditempatkan di Meester Cornelis yang (tetap) dibantu oleh seorang Schout di Bekasi. Schout adalah seorang pejabat pemerintah yang diisi oleh seorang Eropa/Belanda yang diluar wilayah Batavia disebut Controleur. Keberadaan schout di Bekasi paling tidak sudah diketahui sejak tahun 1823.   

Pada tahun 1869 dalam struktur pemerintahan di Residentie Batavia sebagaimana dicatat dalam Almanak 1869, Resident berkedudukan di Stad en Voorsteden. Masing-masing asisten residen di di afdeeling Tangerang, Meester Cornelis en Bekasi dan Buitenzorg. Afdeeling Meester Cornelis en Bekassi terdiri dari tiga distrik yakni (Meester Cornelis, Kebajoran dan Bekasi). Asisten Residen Meester Cornelis adalah Mr. ERJC de Kuijper (sejak November 1967).

Schout te Bekassi adalah FJB Maijer (sejak Mei 1867). Dalam pemerintahan di district Bekasi, schout dibantu oleh seorang Djaksa Raboedien (sejak 1861). Dalam struktur pemerintahan Bekasi ini juga termasuk Luitenant der Chinezen te Bekasssi Lauw Tek Lok (sejak 1854). Sebagaimana diketahui Lauw Tek Lok juga adalah pemilik land Telok Poetjoeng. Dalam daftar pemilik land juga diketahui bahwa land Bekassi West. Land Rawa Posong, land Kali Abang dan land Kali Poetih dimiliki oleh Khouw Tjeng Tjoan (yang juga pemilik land Tanah Seratoes Lima Poeloeh, land Tjikoennir dan land Pondok Gedeh). Semua land milik Khouw Tjeng Tjoan disewa oleh Tio Tian Sioe. Sementara land Bekassi Oost dimiliki oleh Kang Keng Tiang cs yang disewakan kepada Kam Boen Pin. Antara pemilik land dan penyewa terjadi koneksi antar orang Tionghoa.

Itu baru di Afdeeling Bekasi. Di Afdeeling Buitenzorg, land Pondok Terong atau Ratoe Djaija dimiliki oleh Jo Tjoeta. Land Tjilengsi dan juga land Tjimanggis diketahui telah dimiliki investor orang Tionghoa, sementara land Tjibaroesa meski masih dimiliki oleh orang Eropa/Belanda tetapi telah disewa oleh seorang investor Tionghoa. Secara geografis land Tjiliengsi dan land Tjibaroesa meski masuk wilayah Afdeeling Buitenzorg, tetapi secara sosial ekonomi lebih dekat dengan Afdeeling Bekasi. Jumlah orang Tionghoa di land Tjilengsi sebanyak 1.200 orang merupakan jumlah orang Tionghoa terbanyak kedua di Afdeeling Buitenzorg setelah (kampement) Butenzorg. Oleh karenanya seorang pelancong Belanda yang datang dari Soerabaja tidak salah menggambarkan (district) Bekasi sebagai sebuah provinsi Cina.

Pada tanggal 3 April 1869 Asisten Residen Meester Cornelis Mr. ERJC de Kuijper dan Schout Bekassi FJB Maijer tewas terbunuh di Tamboen (lihat Bataviaasch handelsblad, 07-04-1869). Dalam kerusuhan di Tamboen ini juga beberapa personil polisi terbunuh.

Pada malam hari tanggal 2 para pemberontak dari Bekasi datang ke Meester Cornelis untuk meminta dibebaskan Sie Nata dari penjara. Asisten Residen Kuijper diperingatkan bahwa penduduk Bekassie pada saat gerhana matahari perang akan pecah dan Nata (yang berada di tahanan Meester Cornelis) akan dibebaskan. Sherif Meester Cornelis menemui pemberontak sekitar 500 orang di land Tjakoeng. Sherif lalu melaporkan ke Major Bloom, komandan Batalion ke-11 Meester Cornelis untuk mengambil tindakan. Pasukan bergerak yang lamanya 3 jam ke Bekasi. Di dalam perjalanan ditemukan satu pembakaran. Pemberontak tidak berhenti di Tjacoeng lalu membuat onar di Bekasi dan kemudian bergerak ke Telok Poetjoeng yang jumlahnya 200 orang. Pasukan kembali ke Batalion ke-11 dan akan menyusun pasukan dua kompagnie. Ekspedisi ini akan dipimpin Kapten Stoecker. Kongsiehuis di Tamboen dibakar. Kongsiehuis juga menjadi tempat tinggal anak Bapak Beirah. Sedangkan Bapa Beirah berhasil melarikan diri (kemudian diketahui melarikan diri ke Buitenzorg).

Setelah mendapat laporan pada keesokan harinya Asisten Residen Meester Cornelis Mr. EECC de Kuijper, tanpa menunda segera ke tempat gangguan (TKP), ditemani oleh beberapa personil polisi, schout di Bekassi FJB. Maijer juga bergabung dengan asisten residen. Asisten Residen Kuijper dan schout datang ke TKP untuk menenangkan situasi. Namun menjadi sumber petaka. Dalam peninjauan ke TKP itu Asisten Residen yang tidak didampingi militer diserang. Dr. Amenoellah, dokter djawa yang bertugas di Bekasi membanttu yang luka. Di Meester Cornelis pada pukul setengah 12 datang berita bahwa Asisten Residen Kuijper dan schout Meijer terbunuh. Lalu kemudian dilakukan tindak lanjut.

Pasukan Kapten Stoecker, Letnan vis Eijbergen, Letnan Altensteijn, Letnan von Ende dan Letnan de Jongh bersiap jam 12. Petugas kesehatan Hamilton diperbantukan ke pasukan. Di area antara pal 11 dan pal 15 kemudian bergabung Residen Batavia dan asisten residen polisi yang datang naik kereta (kuda). Di Oedjoeng Menteng (Pal 17) kira-kira 5 pal sebelum Bekasi, pasukan akan dipecah. Pasukan utama di bawah Komando Stoecker menuju Telok Poetjoeng. Satu detasemen di bawah komando Letnan von Ende bersama Residen menuju Bekasi untuk berjaga-jaga. Pada pal 16 datang gerobak yang mengangkut jasad Asisten Residen dan schout. Tubuh Asisten Residen luka bekas tombak yang telah dijahit antara rusuk 5 dan 6 dada kiri. Jenasah Asisten Residen dan schout diteruskan ke Meester Cornelis. S

Di Oedjoeng Menteng pasukan dipecah pasukan utama menuju utama menuju Telok Poetjong dan pasukan sekunder bersama Residen Batavia menuju Bekasi untuk memperkuat pertahanan. Di Kali Abang, 2 pal dari Telok Poetjoeng, pasukan pemberontak sekitar selusin orang sudah terlihat di sisi jalan. Asisten Residen polisi meminta meletakkan senjata. Lalu senjata pisau, golok, klewang dan tombak dimuat ke dua gerobak. Pasukan merangsek ke Kali Abang (Telok Poetjoeng). Pasukan Stoecker bertemu pemberontak. Mereka bersenjata klewang, tombak dan beberapa senapang.

Setelah dikepung diminta menyerah. Para pemberontak yang dalam posisi dikepung sempat terdengar satu teriakan untuk melawan. Namun para pemberontak mengikuti perintah musuh (pasukan militer) dengan membaringkan badan (tiarap) di tanah. Diantara pemberontak yang berbaring di tanah masih tampak seorang yang berdiri dengan senjata. Untuk menghindari para pemberontak bangkit mengikuti yang berdiri, para pasukan militer mengikat para pemberontak yang berbaring dengan tali agar menghambat gerakan mereka selanjutnya.

Para pemberontak akhirnya menyerah tanpa perlawanan. Gerobak yang bersisi senjata juga dibawa ke Bekasi. Sebanyak 162 yang ditangkap (dalam posisi terikat) akan dibawa oleh satu detasemen kavelari ke Bekasi untuk ditahan. Diantara tahanan ini terdapat orang yang melakukan pembunuhan terhadap Asisten Residen. Pasukan infantri melakukan penyusuran hingga pal 20. Namun karena pasukan yang sudah tampak lelah diputuskan kembali ke Bekasi. Tahanan dibawa ke Bekasi dimana penjara sebagai markas. Ekspedisi akan dilanjutkan esok harinya.

Pasukan kembali ke Batalion ke-11 dan akan menyusun pasukan dua kompagnie. Ekspedisi ini akan dipimpin Kapten Stoecker. Di Bekassi, dimana sebuah kantor telegraf sementara dijadikan tempat Residen.

Pagi hari tanggal 4, Residen pergi ke Tamboeu, dimana asisten residen Mr. de Kujper dan sepuluh petugas polisi dibunuh; seorang djaksa telah diselamatkan dengan segera. Ada kehancuran besar pada rumah kongsi besar tuan tanah Tionghoa Bapa Beirah dan tempat tinggal putranya dan penulisnya dibakar mati masih berasap dan kayu-kayu yang membara. Yang terbakar dari kayu yang terbuat dari batu masih utuh. Tubuh Dr. Amenoellah ditemukan di depan halaman dalam kondisi dimutilasi

(Sementara itu) Detasemen Buitenzorg dengan kekuatan 60 orang Eropa yang dipimpin Letnan Opscholten yang didampingi Asisten Residen Buitenzorg Muschenbroek tiba pagi di Bekasi. Setelah bertemu Asisten Residen dengan Residen, pada hari yang sama Asisten Residen bersama Residen kembali ke Batavia. Asisten Residen selanjutnya akan melanjutkan perjalanan ke Buitenzorg.

Pada sore hari jenazah Asisten Residen Meester Cornelis dan schout Bekasi akan segera dimakamkan di Tanah Abang di Batavia. Jasad asisten-residen dan schout Bekasi dilaksanakan dengan kehormatan militer pada malam tanggal 4 di pemakaman Tanah Abang, Batavia. Dalam suasana dukacita dihadiri oleh kerumunan besar orang yang tertarik, termasuk Jaksa Agung Pengadilan Tinggi Hindia Belanda, Mr. TH der Kinderen dan oleh pendeta dari komunitas yang sama, H van Ameylen untuk memberi penghormatan pada almarhum.

Sementara itu, ekspedisi Kapten Stoecker dihentikan dan sore hari kembali ke Bekasi. Tujuan utama untuk meyakinkan penduduk dan menangkap pemimpin utamanya mandor dari Tjibaroesa. Namun sang mandor yang bernama Raden Koesoema tidak ditemukan. Raden Koesoema, tampaknya telah pergi ke Tjibaroesa; mereka dikejar oleh asisten residen Buitenzorg yang didampingi seorang militer yang terdiri dari enam puluh orang telah ditambahkan untuk tujuan ini. Perbatasan Krawang dijaga ketat. Alasan yang tepat untuk menghindari gangguan. Dua kompagnie (pasukan) dari Batalion ke-11 akan kembali ke garnisun di Meester Cornelis eesok hari.

Pada tanggal 5 untuk tugas pengamanan di Bekasi ditransfer kepada satu detasemen infantri dari Tjilingsie. Sore jam 6 tiba detasemen kavelary di bawah komando Letnan Ritmeester Jhr dan Letnan Dussenten Bosch. Pasukan berkuda ini akan membantu infantri untuk patroli di Kali Abang, Tjikarang, Tjitaroem dll. Pada tanggal 6 Residen Batavia dan didampingi sheriff berangkat ke Depok dengan membawa pasukan 70 orang.

Keberangkatan Residen ke Depok sehubungan dengan ada laporan dari pendeta Biekhof di Depok bahwa pada hari kerusuhan di Tamboen terdapat sejumlah orang berpakaian putih-putih yang berada di sekitar Ratoe Djaja. Laporan dari Depok ini juga dikaitkan dengan acara yang dilakukan beberapa waktu lalu (12-17 Maret) pada saat pesta perkawinan di Ratoe Djaja dan adanya pertemuan. Disebutkan dalam acara pertemuan tersebut juga turut dihadiri Raden Saleh, pelukis terkenal yang pernah belajar di Belanda.

Di Depok, Residen tidak menemukan indikasi. Residen pada malam harinya memutuskan kembali ke Batavia dengan meninggalkan sebanyak 25 orang militer untuk keamanan dan melakukan penyelidikan di Ratoe Djaja.

Bapa Toenda, salah satu pemimpin utama perlawanan di Bekasi, pada tanggal 6 ini di Residentie Krawang tertangkap dan ditawan ke Meester Cornelis. Juga Bapa Tugat dari Tjibaroesa ditangkap di Krawang. Dari introgasi yang dilakukan terhadap Toenda dan Tugat diperoleh keterangan bahwa Gerakan Buitenzorgsche dan kampung Ratoe-Djaya, telah dimulai.

Pada tanggal 8 di ketahui bahwa di Tjimanggis ditangkap sebanyak 10 orang. Dengan penambahan ini kini jumlah tahanan keseluruhan menjadi 172 orang. Yang ditangkap di Tjimanggis termasuk Bapa Kollot alias Raden Malang, salah satu pemimpin pemberontakan bersama istrinya, ayah mertua dan saudara ipar. Selain itu, Nisa kepala Ratoe Djaja, Sipitang dan Boeang pembantu dari Rama alias Pangeran Alibasa, kepala penghasut pemberontak. Di Tjilingsi juga ditangkap Aijang Toebagoes Glentjer dan istrinya, dua diantara penggagas utama pertemuan tersebut.

Mereka yang ditangkap ini dibawa dan ditahan di Depok di bawah pengawasan detasemen infantri Tjimanggis. Dalam penyelidikan ini termasuk pelukis terkenal Raden Saleh. Yang ditangkap di Buitenzorg. Penangkapan ini berdasarkan informasi yang muncul di Depok bahwa Raden Saleh datang ke Ratoe Djaja pada saat pesta/pertemuan dilakukan pada tanggal 14 Maret.

Pada tanggal 12 Residen Batavia berangkat ke Buitenzorg pagi dan akan melanjutkan ke Bekassie melalui Depok. untuk melanjutkan peninjauan dalam kasus ini. Alasan Residen Batavia ke Buitenzorg yang turut didamping jaksa penuntut umum dalam rangka tuduhan terhadap Raden Saleh. Sebagaimana diketahui Raden Saleh tidak hanya memiliki rumah di Menteng tetapi juga di Buitenzorg (di Empang).

Dalam kasus Raden Saleh, diketahui dari penyelidikan yang mengaku sebagai Raden Saleh adalah Bapak Kollot alias Raden Malang. Dalam pesta/pertemuan di Ratoe Djaja, Bapak Kollot di depan publik mengaku sebagai Raden Saleh. Pada situasi inilah ‘mata-mata’ dari Depok yang hadir menginformasikan kepada pendeta Biekhof. Informasi inilah yang kemudian disampaikan oleh pendeta Biekhof ketika Residen Batavia berada di Depok pada tanggal 6 April. Sementara di sisi penduduk, pengakuan Raden Saleh alias Bapak Kollot menjadi daya tarik sendiri untuk membangkitkan semangat undangan yang hadir, Kehadiran Raden Saleh di pesta/pertemuan Ratoe Djaja telah mengalami difusi secara cepat di seluruh Afdeeling Buitenzorg dan Afdeeling Bekasi. Dari Buitenzorg, atas kemauan sendiri, Raden Saleh bersama Residen dan dan jaksa penuntut berangkat ke Depok untuk mempertemukan Raden Saleh dengan Bapak Kollot. Dari hasil konfrontir ini bahwa Bapak Kollot telah menyalahgunakan nama Raden Saleh. Selanjutnya media menyindir Residen sebelum ke Buitenzorg seharusnya memastikan kebenaran tuduhan terhadap Raden Saleh. Bapak Kollot telah berhasil membentuk opini dan membangun semangat penduduk. Sementara Residen Batavia telah gagal mengklarifikasi informasi yang berasal dari pendeta Biekhof. Dalam hal ini Bapak Kollot kalah taktis dibandingkan Residen.

Pada tanggal 19 di Afdeeling Buitenzorg, Residentie Batavia telah dilakukan oleh satu detasemen untuk memastikan situasi dan kondisi keamanan. Datasemen ini juga untuk mendukung polisi dalam penyelidikan terhadap pemberontak, Detasemen kavelery ini telah menyisir wilayah rata-rata 23 pos per hari selama 14 hari.

Semua informasi di atas selama periode April 1869 dikompilasi dari surat kabar Bataviaasch handelsblad, Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie dan De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad. Juga informasi ini diperkaya dari sejumlah surat kabar yang terbit di Belanda.

Peristiwa di Bekasi dan kejadian di Depok menjadi satu kesatuan ekskalasi politik di Residentie Batavia. Residen Batavia dalam tekanan. Salah satu asisten residennya (Asisten Residen Meester Cornelis) telah tewas. Asisten Residen di Buitenzorg, setelah pulang dari Bekasi melakukan konsolidasi peningkatan keamanan di wilayah Buitenzorg. Sementara Asisten Residen di Tangerang juga melakukan tindakan yang sama. Fungsi Asisten Residen Meester Cornelis (yang juga mencakup Bekasi) telah diambilalih oleh Residen.

Wilayah Residentie Batavia sejatinya belum tahap zona perang, Batavia dapat dikatakan masih dalam tahap persoalan keamanan wilayah. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa terjasdi eskalasi politik; apa yang menyebabkan terjadi peristiwa terbunuhnya asisten residen Meester Cornelis di Tamboen? Apakah ada kaitan Tamboen dengan Ratoe Djaja. Siapa tokoh Raden Koesoema dari Tjibaroesa pemimpin peristiwa di Tamboen? Apa peran yang dilakukan oleh Bapa Rama di Ratoe Djaja? Siapa Bapa Toenda? Lantas apa hubungan peristiwa dengan Bapa Beirah seorang Tionghoa tuan tanah di Tamboen dan dengan Biekhof, pendeta di Depok? Dan sebagainya

Para tokoh utama pemberontakan ini adalah Bapak Rama alias Pangeran Alibasa di Ratoe Djaja sebagai penggagas; Bapak Kollot alias Raden Malang alias Raden Saleh di Tjilingsi; Bapak Toenda di Tibaroesa; Bapak Selang pemimpin lokal di Tamboen; Djaidin Bapak Djiba di Kali Djambe yang menewaskan Asisten Residen dengan tombak; Arsain alias Raden Sipat dan Raden Moestapa serta Djamas alias Rjoengkat Bapa Nata.

Dari pihak musuh pemberontak antara lain Residen Batavia, Asisten Residen Meester Cornelis (yang terbunuh), Asisten Residen Buitenzorg, Asisten Residen Polisi Meester Cornelis, Major Bloem; Kapten Stoecer dan para letnanya; sherif Meijer (yang terbunuh) dan sherif Sprew, Bapa Beirah, pendeta Biekhof dan dokter Djawa Amenoelah (yang dibunuh).

Penyerangan di Tamboen dalam hal ini pada dasarnya tidak berdiri sendiri, tetapi suatu rangkaian eskalasi politik di Bekasi, Buitenzorg dan Meester Cornelis di Residentie Batavia. Keseluruhan rangkaian ini dapat dikatakan dengan satu nama peristiwa ‘Pemberontakan Batavia’. Pemberontakan di Batavia dapat dikatakan suatu pemberontakan yang terencana (memenuhi semua unsur seperti alasan memberontak cinta tanah air dan mengusir penjajah, konsolidasi, perencanaan strategi, penyerangan dan perlawanan).  Pemberontakan Batavia ini juga boleh dikatakan unik.

Setelah Perang Jawa (yang dipimpin Pangeran Diponegoro yang berakhir 1830), pemberontakan di Batavia ini satu-satunya kejadian di Jawa. Keutamaan pemberontakan di Batavia (dibanding di tempat lain) adalah pemberontakan terjadi berada tidak jauh dan yang menjadi target akhir adalah Batavia, ibukota pemerintahan Hindia Belanda. Dalam perspektif sejarah, Pemberontakan Batavia sangat lengkap (valid): terdapat liputan (pemberitaan) day to day baik terhadap jalannya peristiwa, proses penyelidikan dan penangkapan maupun proses pengadilan dan keputusan hukum. Namun ada tampak kejanggalan dari sumber yang dikutip oleh media Belanda. Surat kabar The Straits Time melaporkan bahwa jumlah orang Eropa yang tewas adalah sebanyak 160 orang. Juga diberitakan bahwa para pemberontak yang sempat ditahan di Bekasi telah membakar penjara dan melarikan diri (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 19-04-1869). Apakah pemerintah dan militer telah menyembunyikan fakta yang tidak diketahui jurnalis Hindia, tetapi ada seseorang mengirim berita dari Batavia ke Singapoera? Java Bode telah melansirnya.

Dua tokoh penting yang merupakan perencana Pemberontakan Batavia adalah Bapak Rama dan Bapa Kolot. Untuk membangun karakter dan memposisikan diri mereka di tengah oenduduk mulai dari Ratoe Djaja hingga Tamboen, Bapa Rama menyebut dirinya sebagai Pangeran Alibasa (mengambil nama dari Sentot Alibasa?) dan Bapa Kollot menyebut dirinya sebagai Raden Saleh. Para pemimpin lapangan (para panglima) antara lain Bapa Selang di Tamboen, Bapa Toenda di Tjibaroesa, Bapa Djiba di Kali Abang (Pondok Poetjoeng, Bekasi), Moestapa di Ratoe Djaja dan Basiroen di Pondok Terong. Djaidin alias Bapa Djiba, orang yang menewaskan Asisten Residen Meester Cornelis dengan tombak,

Tunggu deskripsi lengkapnya

Perang Bekasi Jilid II: Mayor Madmuin Hasibuan (1947)

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

1 komentar:

  1. Sebagai informasi Bapa Rama atau Pangeran Alibasa , yang nama lengkapnya Pangeran Sadewa Alibassa Kusuma Wijaya Ningrat, seorang pangeran yang berasal dari Gebang Cirebon. Beliau banyak berkelana ke berbagai tempat dan akhirnya meninggal di Cigugur Kuningan, keturunannya saat ini dapat dijumpai di Gedung Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur Kuningan.

    BalasHapus