Laman

Jumat, 28 Juni 2019

Sejarah Bekasi (9): Perang 1945 Melawan Sekutu/Inggris; Merapikan Narasi Sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia di Bekasi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini

Perang kermedekaan di Bekasi adalah bagian dari perang kemerdekaan Indonesia. Seperti di tempat lain, di Bekasi juga terjadi perang melawan Sekutu/Inggris. Perang kemerdekaan melawan Sekutu/Inggris di Bekasi dipicu oleh sebab terjadinya kecelakan pesawat militer Inggris di Rawa Gatel. Setelah seminggu dari kejadian baru pasukan Inggris dikerahkan ke Bekasi untuk tindakan operasi mencari lorban selamat dan evakuasi korban.

Tentara Sekutu/Inggris di Bekasi, 1945
Setelah Jepang takluk kepada Sekutu, Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Aguistus 1945 di Djakarta. Untuk melucuti militer Jepang dan membebaskan interniran Eropa/Belanda di Indonesia dilakukan oleh militer Inggris. Tugas itu dilakukan di Djakarta dan kota-kota pantai lainnya seperti di Semarang dan Soerabaja. Lalu dari kota-kota itu pasukan Sekutu/Inggris merangsek ke kota-kota di pedalaman. Prioritas pertama pasukan Sekutu/Inggris dari Djakarta adalah untuk membebaskan Bogor dan Bandung. Dalam perjalanan dari Djakarta ke Bogor juga termasuk pembebasan di Depok.   

Namun ada beberapa kejadian di Bekasi yang diceritakan (lisan) pada masa ini tidak sinkron dengan fakta yang benar-benar terjadi yang diberitakan di dalam surat kabar pada waktu itu. Karena alasan itu perlu kiranya sejarah perang kemerdekaan di Bekasi ditulis kembali. Dalam rangka untuk merapikan narasi sejarah perang kemerdekaan melawan Sekutu/Inggris kedua sumber tersebut dikombinasikan, tetapi dengan mengutamakan sumber tertulis (surat kabar sejaman).

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pasukan Sekutu/Inggris ke Bekasi

Pesawat Dakota yang mengangkut pasukan Sekutu/Inggris dari Djakarta ke Semarang mendarat darurat di Rawa Gatel, Tjakoeng pada Jumat 23 November 1945. Pesawat ini tidak segera diketahui oleh Inggris dimana posisi jatuhnya pesawat. Dan tentu saja tidak ada mandat pimpinan Sekutu/Inggris memerintahkan pejabat Indonesia untuk mengurusnya apalagi untuk mengumumkan ultimatum. Situasi dan kondisi sudah memasuki status perang.

Pasukan Sekutu/Inggris tanggal 29 September 1945 merapat di pelabuhan Tandjong Priok. Lalu mulai melakukan tigas pelucutan senjata militer Jepang dan pembebasan interniran Eropa/Belanda. Sebagai respon terhadap pasukan sekutu Inggris dan NICA yang tidak peduli terhadap Proklamasi Kmerdekaan Indonesia, lalu Tentara Rakjat Indonesia mengumumkan Proklamasi Perang pada tanggal 13 Oktober 1945 dan yang juga hal yang sama dilakukan Oemat Islam sebagaimana dilaporkan Keesings historisch archief: 14-10-1945. Seperti dketahui pada tanggal 5 Oktober 1945, Pemerintah Republik Indonesia telah mengeluarkan maklumat pembentukan tentara nasional yang diberi nama Tentara Rakyat Indonesia (TRI). Dalam masa konsolidasi TRI ini, tentara Sekutu/Inggris sudah masuk jauh ke pedalaman di Buitenzorg.

Lalu pada tanggal 15 Oktober pasukan Sekutu/Inggris ke Buitenzorg. Pada hari yang sama satu detasemen Punjabi ke Depok untuk membebaskan sandera akibat kerusuhan tanggal 11 Oktober. Setelah membebaskan sandera, pasukan bersama sandera ke Buitenzorg. Robert Kiek, wartawan ANP ikut dalam pembebasan ke Depok ini. Pada tanggal 16 Oktober 1945 pasukan Belanda telah mengambil kendali lapangan terbang Tjililitan dan pada tangga 17 Oktober 1945 terjadi pertempuran antara pasukan Belanda dengan nasionalis (lihat De patriot, 18-10-1945). Pada tanggal 18 Oktober 1945 pasukan Sekutu/Inggris memasuki Bandoeng. Pasukan Sekutu/Inggris pada tanggal 20 Oktober 1945 mendarat di Semarang dan pada tanggal 25 Oktober 1945 di Surabaya. Lalu pada tanggal 28 Oktober hingga 31 Oktober 1945 terjadi pertempuran yang hebat di Surabaya. Pertempuran di Soerabaja puncaknya terjadi pada tangga 10 November.

Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap meminta Kepala Staf Umum Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo untuk mengadakan konferensi diantara para pimpinan tentara untuk menentukan pimpinannya sebagai Panglima untuk menggantikannya. Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap ingin fokus pada fungsi manajemen keamanan dan pertahanan. Panglima adalah yang memimpin pertempuran di lapangan. Konferensi yang diadakan pada tanggal 12 November 1945 di Djogjakarta menghasilkan sejumlah keputusan yang antara lain pembagian wilayah pertahanan Indonesia (terutama di Jawa) dan penetapan pimpinan militer tertinggi sebagai Panglima. Yang terpilih adalah salah satu pimpinan TKR/TRI, Soedirman.

Dalam fase konsolidasi organsiasi tentara ini, perang terus berkobar dimana-mana, Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap menilai terdapat tiga wilayah TKR yang melakukan tugasnya dengan rapih seperti dikutip oleh surat kabar Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia. 21-11-1945: ‘TKR di Tjikampek, Tangerang dan Depok Jawa Barat. Sjarifoeddin Harahap menyatakan TKR di tiga wilayah ini lebih rapih (disiplin) jika dibandingkan di Jawa Timur’. Dalam situasi pergerakan pasukan inilah, pasukan Sekutu/Inggris dari Djakarta dikirim ke Semarang pada tanggal 23 November 1945 (dan mendarat darurat di Tjakoeng, Bekasi).

Setelah seminggu, setelah cukup informasi (dan dianggap memiliki waktu dan sumber daya), pada hari Kamis [29-11-1945] batalion Punjabi dikirim ke Bekasi yang didukung satu pasukan 9 buah tank dan pasukan kaveleri serta satu skuadron empat pesawat pembom (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 30-11-1945). Berita ini dikirim koresponden yang ikut serta dalam ekspedisi ini pada Kamis sore dari Bekasi.

Edisi pertama Het dagblad: te Batavia, 23-10-1945
Het dagblad adalah surat kabar berbahasa Belanda yang diterbitkan di Patjenongan, Batavia (Djakarta). Surat kabar ini terbit pertama pada edisi tanggal 23-10-1945. Surat kabar ini adalah surat kabar pertama asing yang diterbitkan pasca pendudukan militer Jepang (Proklamasi Kemerdekaan Indonesia). Surat kabar ini segera diterbitkan setelah pasukan militer Belanda/NICA berhasil mengendalikan Batavia, sementara pasukan Sekutu/Inggris terus merangsek ke Bandoeng setelah berhasil mengatasi situasi dan kondisi di Buitenzorg. Sebagaimana diketahui bahwa pasukan Sekutu/Inggris diizinkan untuk mengamankan tawanan perang yang selama ini dikurung oleh militer Jepang. Namun di tengah jalan Belanda (NICA) ikut di belakang memunculkan reaksi keras dari Indonesia. Kehadiran Sekutu/Inggris) menjadi hambar apalagi NICA telah mengkonsolidasikan eks KNIL Di sisi lain, surat kabar ini melaporkan situasi dan kondisi secara khusus day to day di wilayah Djakarta dan sekitar. Surat kabar ini meski tamu yang tidak diundang, tetapi pada masa kini dapat dianggap sebagai log book dalam penulisan sejarah perang kemerdekaan di seputar Dajakarta.

Het dagblad yang mendapat pasokan berita dari koresponden Robert Kiek, wartawan ANP yang ikut ke Bekasi mengatakan bahwa beberapa para korban selamat awalnya dipindahkan ke Oedjoeng Menteng dan kemudian dipindahkan ke penjara Bekasi yang lalu dibunuh di sebuah lapangan di belakang penjara. Di dalam penjara ini juga terdapat tahanan Belanda lainnya. Pasukan Sekutu/Inggris menurut koresponden tidak satu pun yang masih ditemukan.

Ketika pasukan memulai ekspedisi, mereka menemukan semua penduduk Krandji telah melarikan diri, tetapi ada satu orang yang masih tertinggal. Dari orang ini pasukan mendapat keterangan. Pasukan ini menemukan markas pejuang di Krandji yang telah kosong yang diduga sebagai pasukan pelopor. Pasukan juga menemukan rumah Asisten Wedana telah dijadikan sebagai tempat pembuatan seragam pejuang dan ditemukan gulungan kain hitam. Pasukan lalu membebaskan Eric von Pritzelwitz van der Horst dari penjara serta 21 orang lainnya termasuk perempuan dan anak-anak serta empat wanita Ambon karena alasan suami mereka menjadi tentara Hindia Belanda.

Koresponden juga melaporkan semua petugas polisi di Bekasi telah melarikan diri. Di kantor polisi, yang berada di sebelah penjara, banyak dokumen yang memberatkan ditemukan. Seorang perwira polisi berpangkat rendah ditemukan, terlepas dari kenyataan bahwa dia mengenakan pita Palang Merah dan kemudian dia dibawa ke Batavia untuk diinterogasi. Orang Indonesia lain juga ditangkap yang memiliki senjata. Seluruh operasi berlangsung di bawah pengawasan skuadron udara. Tank menembakkan beberapa tembakan ke penghalang jalan. Pesawat mengamati beberapa pergerakan orang Indonesia yang menyamar. Tembakan-tembakan terhadap penghalang tadi cukup untuk membuat para pejuang menghindar menjauh. Ekspedisi ini adalah pertama kalinya pasukan Sekutu/Inggris tidak tertembak, ini indikasi yang jelas bahwa sikap agresif yang dilakukan Sekutu/Inggris selama operasi ini telah memberikan efeknya.

Sehari setelah Het dagblad melaporkan kejadian di Bekasi, surat kabar republik yang terbit di Djakarta, Merdeka pimpinan BM Diah [Harahap] menyebut peristiwa itu hanya kesalahpahaman. Disebutkan "Sebuah pesawat Dakota jatuh di Pondok Gedeh kemarin. Penduduk datang untuk menawarkan bantuan, tetapi tentara Inggris mulai menembaki mereka’. Lalu dalam perkembangannya, api yang ditembakkan dengan karet (semacam bom molotov?) menjadi alasan pintu pesawat terbakar. Artikel itu diakhiri dengan kalimat berikut: ‘Apa yang kita lakukan sendiri adalah membela diri kita, membela kebebasan kita’.

Apa yang telah terjadi di Bekasi terpaksa Perdana Menteri Sjahrir membuat pernyataan kepada Inggris dan menyatakan penyesalannya dan akan menghalangi tindakan-tindakan para pejuang (lihat Friesch dagblad, 03-12-1945). Disebutkan, untuk menghalangi pemuda pejuang ini Sjahrir belum melakukannya karena membutuhkan keberanian besar dan berbahaya untuk memberikan nasihat yang bertentangan dengan perasaan rakyat. Sayangnya, menurut Sjahrir, Jepang merusak pemuda ini dan sangat sulit bagi kami untuk mendapatkannya kembali di jalur yang benar.

Algemeen Handelsblad, 04-12-1945
Juga disebutkan bahwa pihak yang melakukan pembunuhan tersebut di Bekasi adalah kumpulan (organisasi) Zwarte Buffel (Banteng Hitam). Mereka ini adalah kelanjutan dari sekelompok anggota pasukan kelima yang dimanjakan oleh Jepang (lihat Friesch dagblad, 03-12-1945). Mayat yang dimutilasi berat ditemukan terkubur di sebelah sungai dekat penjara Bekasi (lihat Bredasche courant, 03-12-1945). Mayat yang ditemukan di Bekasi terdiri dari 18 tentara Inggris/India dan empat orang tentara Inggris (lihat De waarheid, 03-12-1945). Pesawat itu sendiri mendarat di persawahan di Tjakoeng dimana terdapat penumpangnya lima Inggris dan 20 Inggris/India. Dua orang Inggris/India terbunuh di TKP di Tjakoeng (lihat  De Volkskrant, 04-12-1945). Foto: Luit.generaal Christison, Sjahrir en Dr. Van Mook (Algemeen Handelsblad, 04-12-1945).

Sementara Perdana Menteri Soetan Sjahrir yang juga merangkap Menteri Luar Negeri sibuk bekerja dengan pimpinan militer Sekutu/Inggris dan menghadapi tekanan diplomasi, Menteri Pertahanan (BKR) Mr. Amir Sjarifoeddin yang juga merangkap Menteri Penerangan sangat sibuk mengkonsolidasikan organisasi tentara dengan para pejuang rakyat (laskar) dari satu tempat ke tempat lainnya.

Pada tanggal 13 Desember 1945 dibentuk Komando Tentara dan Teritorium di Jawa (Kolonel Abdul Haris Nasution sebagai Panglima). Lalu beberapa hari kemudian Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin akhirnya menetapkan dan mengangkat Kolonel Soedirman menjadi Panglima pada tanggal 18 Desember 1945 (dengan tetap berpangkat Kolonel). Dengan demikian fungsi perencanan dan pengaturan (anggaran dan personel) ditangani oleh Menteri Mr. Amir Sjarifoeddin dan pelaksana tugas di medan perang dikomandokan oleh Panglima Soedirman. Sebagai panglima yang baru, Mr. Amir Sjarifoeddin memberi layanan tersendiri bagi Kolonel Soedirman dengan menunjuk dokter berbakat Dr. Willer Hutagalung sebagai dokter pribadi Kolonel Soedirman.

Untuk meningkatkan kualifikasi TRI dan menjaga korps keamanan, ruang pertempuran di wilayah luar Batavia (yang meliputi seluruh West Java) berada di bawah komando Siliwangi yang berpusat di Bandoeng dan kemudian di relokasi ke Poerwakarta. Peristiwa pembunuhan terhadap korps militer Sekutu/Inggris di Bekasi (oleh pasukan Banteng Hitam) menjadi alasan untuk memindahkan markas dari Bandoeng ke Poerwakarta. Boleh jadi untuk mengantisipasi kemungkinan tentara Sekutu/Inggris melakukan balas dendam.

Untuk mengatur perlawanan di Bogor dan sekitarnya Kolonel Abdul Haris Nasution mengangkat Letkol Kawilarang. Wilayah pertahanan Kawilarang juga meliputi Soekaboemi dan Tjiandjoer. Untuk wilayah Bogor dan sekitarnya (termasuk Depok) dipimpin oleh Majoor Ibrahim Adjie. Sedangkan untuk wilayah Tjikampek Kolonel Abdul Haris Nasution mengangkat Letkol Moeffreni Moe’min. Dua wilayah ini saling bahu membahu karena wilayahnya yang berdekatan dan langsung bersinggungan dengan Batavia. Pusat komando Siliwangi berada di Poerwakarta. Untuk wilayah front terdepan di Bekasi diangkat Mayor Sambas Atmadinata,

Saat terjadinya pesawat Dakota jatuh di Tjakoeng, Mayor (laut) Madmuin Hasibuan dan pasukannya yang berada di Tjilinting bergegas ke TKP. Pasukan yang dipimpin Hasibuan ini pada akhirnya dapat mengepung tentara korban Dakota dan mengevakuasinya ke Oedjoeng Menteng untuk diteruskan ke pos berikutnya di Bekasi sebagai tahanan. Orang-orang yang dianggap POW ini akan dijadikan sebagai tameng atau sandera untuk kebutuhan tawar menawar dalam perang. Komando Mayor (laut) Madmuin Hasibuan kembali ke Tjilintjing.

Namun tidak disangka pasukan Banteng Hitam yang berada di Bekasi mengambil langkah yang lain dengan cara menghabisinya. Ini dapat dimaklumi karena situasi dan kondisi status perang. Boleh jadi situasi saat itu orang kembali teringat ketika tujuah pejuang Bekasi digantung Belanda pada tahun 1870. Akan tetapi tindakan baru-baru ini bukan jalan terbaik. Sebab belum lama ini Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap memuji habis kedisiplinan TKR (kemudian disebut TRI) di wilayah Bekasi, Depok dan Tangerang. Pasukan Banteng Hitam telah mencoreng nama baik di wilayah.

Ketika Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap dalam sebuah konferensi pers, koresponden Amerika mengkonfirmasi tentang peristiwa di Bekasi. Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap menjawab sebagai berikut: ‘Saya telah menerima laporan kecelakaan udara pada hari Minggu dan tanpa memberi tahu markas Inggris, saya mengirim seorang utusan dengan sepucuk surat yang meminta para komandan di Bekasi untuk membawa para tahanan mereka ke Batavia. Utusan itu sejauh ini belum kembali, tetapi saya baru mengetahui kemudian (setelah terjadi pembunuhan) bahwa surat itu tidak sampai hingga para korban itu terbunuh.  Setelah utusan dikirim, sehari berikutnya baru markas besar Inggris pertama kali diberitahu tentang hal ini’ (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 05-12-1945).

Bekasi Lautan Api?

Cerita Bekasi lautan api diiterpretasi dengan cara berbeda. Kisah yang diceritakan secara lisan dengan fakta yang benar-benar diberitakan pada masa itu berbeda. Fakta yang sebenarnya dimulai setelah pasukan Sekutu/Inggris menemukan dua mayat yang dibunuh di tempat lain, dengan amarah yang tinggi lalu mereka membakar rumah di dua kampung. Pembakaran ini bukan di kota Bekasi tempat dimana ditemukan 18 Inggris/India dan empat Inggris melainkan di dua kampung yang berada di dekat dua mayat Inggris/India yang ditemukan. Seperti disebutkan dua Inggris/India ini terbunuh di TKP di Tjakoeng.

Dalam satu konferensi pers Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap juga menuduh pasukan Sekutu/Inggris telah membakar dua kampong (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 08-12-1945).  Jelas bahwa counter Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap tidak akan mengubah keadaan dimana pasukan berharga Sekutu/Inggris telah dibunuh.

Dalam perkembanganya, markas Sekutu/Inggris meminta bantuan pasukan TKR untuk mengawal kereta api Rapwi yang hendak ke Bandoeng dan (sebaliknya) dari Poerwakarta ke Batavia. Permintaan ini dituruti dan dapat dilaksanakan sesuai dengan jadwal keberangkatan dan kedatangan. Kereta api di Bekasi sempat diserang oleh para pejuang bersenjata (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 10-12-1945). Namun berita ini tidak menjelaskan seperti apa dampaknya.

Permintaan markas Sekutu/Inggris muncul, sebab sebelumnya kereta api yang membawa barang-barang dari Batavia ke Bandoeng di Tjibadak telah diserang. Atas serangan pejuang tersebut, kemudian 13 pesawat pembom Sekutu/Inggris menghancurkan Tjibadak dan markas Sekutu/Inggris kemudian menambah kekuatan di Sukaboemi. Situasi dan kondisi di Tjibadak , Soekabomi inilah yang menyebabkan munculnya permintaan markas Sekuti/Inggris untuk menggunakan jalur Poerwakarta. Sebelum dilakukan pemboman Tjibadak sudah lebih dahulu diperingatkan oleh pamflet pemboman yang akan segera dilakukan. Tidak ada korban jiwa, hanya sepenuhnya korban fisik.

Dengan dalih untuk melakukan tindakan balasan terhadap pejuang di Bekasi, pasukan Sekutu/Inggris yang disertai tank melakukan perjalanan ke Bekasi kamis pagi. Dilaporkan pagi ini ekspedisi tersebut diketahui tidak menemukan pejuang di Bekasi (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 13-12-1945). Pasukan Sekutu/Inggris kemudian membakari rumah-rumah penduduk.

Pasukan Sekutu/Inggris menduduki Bekasi dan hanya menemukan kompong-kampong kosong. Setiap rumah dibakar oleh pasukan Sekutu/Inggris setelah diisi bensin. Kepulan asap setinggi 300 meter dan semakin meluas. Dari Batavia, 20 Km jarak ke Bekasi, kepulan asap ini terlihat jelas Pasukan menangkap empat anggota Banteng Hitam dan senjata. Pesawat pembom yang melihat truk yang melarikan diri berhasil dibom dan terbakar (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 14-12-1945). Tampaknya sindiran Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap yang mana pasukan Sekutu/Inggris telah membakar rumah dua kampong sebelumnya tak cukup bagi markas Sekutu/Inggris di Batavia.

Sementara itu, pusat para pejuang Bekasi telah bergeser ke Tjikampek. Sebuah sumber yang dapat dipercaya memberi tahu kami bahwa para pejuang telah memindahkan pusat pergerakan mereka dari Bekasi yang sekarang hampir hancur total--600 rumah diratakan ke tanah—kini berada di Tjikampek, sekitar 110 Km sebelah timur Batavia (lihat Bredasche courant, 17-12-1945).   

Boleh jadi balas demdam hanya sekadar alasan, tetapi secara strategis ini dapat diinterpretasi untuk membuka ruang bagi Sekutu/Inggris. Perjalanan kereta api melalui Soekaboemi tidak hanya jauh juga medan yang tidak menguntungkan. Namun melalui Poerwakarta juga bukan hal yang mudah. Dalam perjalanan kereta api Rapwi dari Batavia ke Bandoeng (dan sebelaliknya) kereta telah diserang di Tjikampek dan menahan enam kru dimana dua orang terbunuh dan empat orang belum diketahui, Serangan di Tjikampek ini dilakukan oleh sekitar 800 orang pejuang (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 17-12-1945).

Pemindahan pusat pergerakan dari Bekasi ke Tjikampek mungkin tidak masalah bagi para pejuang Bekasi meninggalkan kota karena secara gerilya Tjikampek lebih strategis untuk bergerilya dibandingkan wilayah Bekasi yang lebih terbuka. Wilayah Tjikampek memiliki wilayah hutan dan jurang yang dalam ke arah selatan. Boleh jadi pembakaran kota Bekasi yang menelan rumah terbakar 600 buah dianggap sepadan oleh pasukan Sekutu/Inggris terhadap pembunuhan 22 serdadu, tetapi sebaliknya bagi pejuang Bekasi yang pindah ke Tjikampek ini justru menjadi pemicu untuk mengobarkan semangat patriotisme.

Di Tjikampek, pejuang Bekasi tidak sendiri. Tjikampek telah dijadikan sebagai pusat pertahanan. Diberitakan pada akhir bulan Oktober sejumlah besar senjata diangkut dari Bandoeng ke Tjikampek, tempat sebagian senjata tersebut didistribusikan kepada penduduk. Sekitar waktu itu juga kontingen pertama pasukan Indonesia dari beberapa bagian wilayah di Jawa telah tiba yang datang untuk memperkuat garnisun Tjikampek. Tujuannya adalah untuk membangun apa yang disebut ‘garis pertahanan pertama’ di Tjikampek, yang dimaksudkan untuk menahan pergerakan Sekutu/Inggris ke arah Timur. Garis pertahanan pertama ini sekarang, ketika pejuang Bekasi datang sudah sangat siap. Sementara itu dalam minggu-minggu terakhir ini semakin banyak orang Indonesia dari beberapa bagian wilayah dari Jawa telah diangkut ke Tjikampek dimana saat ini beberapa ribu orang telah terkonsentrasi. Sebagian yang telah tiba ini adalah orang-orang yang telah berpartisipai dalam perang di Soerabaja, Semarang dan Bandoeng.  

Ekses dalam pembakaran rumah-rumah di Bekasi, terdapat sebanyak 60 buah rumah orang Tionghoa yang terbakar. Pasukan Sekutu/Inggris ketika dikonfirmasi seorang jurnalis Tionghoa hanya menyatakan tidak sengaja (Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 18-12-1945). Kemenangan Sekutu/Inggris menjadi hambar, karena jurnalis tersebut menyebutkan bahwa orang-orang Tionghoa sudah cukup menderita selama pendudukan (militer) Jepang. Mereka berhak atas tempatnya dan tugasnya di negara ini dan jangan sampai mereka dilewatkan.

Warga Tionghoa di Bekasi tetap tinggal. Mereka jelas tidak perlu takut dengan pasukan Inggris. Atas nama Inggris, mereka bahkan berpartisipasi dalam pekerjaan pembersihan kota.. Ekses dari pembakaran 600 rumah yang menyebabkan terbakarnya 60 buah rumah Tionghoa telah mengakibatkan sebanyak 300 jiwa kehilangan tempat tinggal. Namun, tak terduga, setelah kepergian semua pasukan Inggris dari Bekasi, orang-orang Indonesia kembali dan kemudian melakukan pembalasan terhadap orang-orang Tionghoa. Lebih dari 20 diantara mereka ditawan, sementara banyak rumah orang Tionghoa yang selamat dari kebakaran menjadi korban perampasan penduduk ((Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 18-12-1945). Bekasi selalu dalam dilema, bahkan sejak tempo doeloe pada saat terjadinya Perang Tamboen 1870.

Tentu saja ada negara lain yang membela Bekasi dan mencela perbuatan pasukan Sekutu/Inggris. Sejumlah surat kabar di Amerika Serikat mengecam tindakan pasukan Sekutu/Inggris di Bekasi (lihat  Het vrije volk : democratisch-socialistisch dagblad, 18-12-1945). Disebutkan, sejumlah surat kabar di Amerika Serikat pada tanggal 15 Desember menyebut Bekasi yang dibom sebagai ‘Lidice Kedua’. Lidice adalah sebuah desa di Polandia, dihancurkan oleh Jerman sebagai tindakan balasan. Koresponden New York Times mengirim pesan dari Batavia bahwa RAF tampaknya telah menimbulkan banyak korban.

Sesungguhnya dengan peristiwa Bekasi ini, markas Sekutu/Inggris di Batavia tengah berada di persimpangan jalan (linglung). Tugas yang berat untuk melucuti tentara Jepang dan membebaskan para interniran Eropa/Belanda dan semakin berat dengan ulah sendiri yang membakar Bekasi. Kebencian terhadap Inggris akan semakin meningkat. Di sisi lain, Belanda/NICA tidak sabar dengan tugas-tugas pasukan Sekutu/Inggris, sebab masih banyak orang Belanda yang belum terbebaskan seperti di Jogja sekitar 2.000 orang dan di Malang sekitar 3.000 orang. Desakan Belanda/NICA terhadap Sekutu/Inggris dapat dipahami karena Belanda/NICA ingin segera berkuasa kembali. Keinginan ini sangat kuat di Belanda, karena secara ekonomi Indonesia dipandang sebagai sumber kemakmuran Belanda. van Mook mulai diragukan, dianggap kurang agresif memainkan peran untuk kepentingan Belanda. Sebaliknya, Inggris yang angkuh tidak ingin disetir oleh siapapun, apalagi oleh Belanda. Inggris terus melakukan tugasnya seberapa pun kelambatan yang dihadapi. Inggris ke depan akan dihantui oleh peristiwa yang pernah terjadi di Jogjakarta pada tahun 1812. Pembakaran di Bekasi, bagi orang Jogjakarta menunjukkan kelemahan Inggris. Kini, pasukan dari Jogjakarta sudah ada yang berada di Tjikampek. Pembakaran di Bekasi juga dikecam seorang anggota parlemen di Belanda, tentu saja tidak untuk maksud prihatin, tetapi karena peristiwa di Bekasi telah memperlambat sampai ke tujuan.

Dalam perkembangannya, perhatian Sekutu/Inggris segera bergeser dari Bekasi ke Bandoeng, demikian juga fokus Kolonel Abdul Haris Nasution terkonsentrasi di Priangan. Ini sehubungan dengan semakin memuncaknya perseteruan TKR/TRI plus pejuang rakyat (laskar) menghadapi Inggris di Bandoeng. Ini juga terkait dengan rencana pemerintah memindahkan ibukota dari Djakarta ke Jogjakarta. Komandan Sekutu/Inggris di Bandoeng saat ini adalah Brigadir Jenderal MacDonald.

Ibukota RI akhirnya dipindahkan dari Djakarta ke Djogjakarta tanggal 4 Januari 1946. Lalu di Jogjakarta TKR diubah menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia) pada tanggal 25 Januari 1946. Penyesuaian ini dimaksudkan untuk menjadikan TRI sebagai satu-satunya organisasi militer yang mempunyai tugas khusus dalam bidang pertahanan darat, laut, dan udara. TRI ini kemudian dibiayai oleh negara atas pertimbangan banyaknya perkumpulan atau organisasi laskar pada masa itu yang mengakibatkan perlawanan tidak dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.

Di Bandoeng, Sekutu/Inggris sudah nekad. Komandan Sekutu/Inggris di Bandoeng telah memberi ultimatum agar TRI (Tentara Rakyat Indonesia) mengosongkan kota sejauh 11 Km dari pusat kota paling lambat pukul 24.00 tanggal 24 Maret 1946. Maklumat ini diumumkan sehari sebelumnya. Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap lantas bergegas dari Jogjakarta dengan menggunakan kereta api ke Bandung dan mendiskusikannya dengan Panglima Divisi III/Siliwangi, Kolonel Abdul Haris Nasution.

Kolonel Abdul Haris Nasution, Panglima Divisi III Siliwangi, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, lantas menyampaikan pengumuman agar TRI dan penduduk untuk meninggalkan kota. Ultimatim tanggal 24 Maret 1946 merupakan rangkaian ultimatum pertama tentara sekutu pada tanggal 21 November 1945 yang mana tentara Sekutu/Inggris meminta Bandung Utara dikosongkan selambat-lambatnya tanggal 29 November 1945. Tentu saja ultimatum ini tidak diindahkan oleh para pejuang yang menyebabkan terjadinya sejumlah insiden. Pasukan Sekutu/Inggris sendiri mendarat di Bandoeng sejak 17 Oktober 1945.

Pada tanggal 12 Maret 1946 Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap bersama Kolonel Zulkifli Lubis membentuk Departemen Pertahanan RI di Djogja (lihat  De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 20-07-1948). Disebutkan satu cabang utama Departemen Pertahanan ini berada di Poerwakarta-Tjikampek. Salah satu divisi (divisi ke-5) Departemen Pertahanan ini adalah agitasi dan propaganda (Agitprop). Beberapa bulan kemudian Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap, Komandan Intelijen RI Kolonel Zulkifli Lubis dan Soeltan Djogja mendesain organisasi pertahanan. Mereka bertiga inilah founder father Kementerian Pertahanan RI (dihilangkan atau hilang dari sejarah Kementerian Pertahanan). Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap menyediakan secara khusus dokter pribadi, seorang dokter muda berbakat (Dr. Willer Hoetagaloeng) dan sebagai ajudan pribadi Soeltan Djogja ditunjuk M Karim Loebis (yang menguasai bahasa Belanda dan Inggris).

Saat pejuang dan penduduk Kota Bandung mengungsi disana sini terjadi pembakaran. Terjadinya kobaran api yang besar ini yang kelak dikenal sebagai ‘Bandung Lautan Api’. Politik bumi hangus di Bandung terjadi di Bandung Selatan. Tindakan bumi hangus ini bersamaan dengan serangkan mortir yang dilancarkan oleh republic ke Bandung Utara tempat dimana pasukan Sekutu/Inggris berada. Tindakan ini telah memicu kemarahan Sekutu/ Inggris. Ini bukan provokasi tetapi tindakan patriot antara TRI dan penduduk di Bandung.

Limburgsch dagblad, 26-03-1946: ‘Dilaporkan dari Bandung, Minggu malam di Bandung Selatan telah terjadi kebakaran hebat berdasarkan pemantaun yang dilakukan patroli pesawat. Ini mengingatkan tempat kejadian menunjukkan banyak kesamaan dengan kebakaran pertama yang disebabkan oleh serangan udara di London pada tahun 1940. Beberapa menit sebelum tengah malam terjadi kebakaran di Onion saat yang bersamaan saat dilakukan tembakan mortir yang ditujukan ke Bandung Utara dalam melawan posisi Inggris. Meskipun tidak mungkin untuk melakukan estimasi kerusakan di malam hari, adalah, tanpa diragukan lagi, lebih dari sepertiga dari Zuid Bandung dibakar. Ini adalah politik bumi hangus yang digunakan oleh pejuang dengan maksud untuk menunda ultimatum Inggris. Kebakaran Minggu itu yang disebabkan sebagian besar oleh lingkaran Republik berakibat permohonan TRI penundaan operasi Inggris ditolak’

Aksi bumi hangus yang dilakukan oleh republik karena sebelumnya Inggris menolak penundaan ultimatum. TRI coba memuinta ultimatum ditunda tetapi atas penolakan itu penduduk gerah dan melakukan tindakan bumi hangus. TRI tidak bisa menenangkan penduduk. Terjadilah pembakaran dimana-mana. Republik dituduh dibantu tentara Jepang sehingga cukup tersedia bahan bakar yang menjadi api mudah berkobar.

Politik bumi hangus di Bandung telah menyebabkan lautan api. Area yang kebakaran meliputi sepertiga dari Bandung Selatan. Jumlah bangunan yang terbakar ditaksir sebanyak 150 bangunan (Algemeen Handelsblad, 30-03-1946).

Sehubungan dengan semakin menguatnya Belanda/NICA yang telah menggantikan Sekutu/Inggris, wilayah pertahanan Indonesia kembali dibagi ke dalam beberapa Divisi dengan mengangkat panglimanya. Pemerintah RI membentuk panita organisasi tentara yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. Hasil kerja panitia diumumkan pada tanggal 17 Mei 1946 yang terdiri dari struktur pertahanan (yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap) dan struktur kemiliteran. Dalam pengumuman ini juga Soedirman dipromosikan menjadi panglima tertinggi dengan pangkat Jenderal, sementara personil militer disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi (lihat Nieuwe courant, 29-05-1946). Nama-nama para pimpinan TRI ditetapkan untuk mengisi jabatan-jabatan strategis.

Nieuwe courant, 29-05-1946: ‘Perubahan dan penunjukan pada posisi baru TRI telah diterbitkan. Dalam penunjukkan ini terlihat keterlibatan orang-orang muda dan perwakilan dari tentara rakyat di Jawa. Soedirman dipromosikan menjadi panglima tertinggi dengan pangkat Jenderal. Ketua Pengadilan Tinggi Militer ditunjuk Mr. Kasman Singodimedjo. Kepala staf diangkat Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. Kolonel Soetjipto diangkat menjadi Kepala Dinas Rahasia; Kolonel TB Simatoepang sebagai Kepala Organisasi; Kolonel Hadji Iskandar sebagai Kepala Departemen Politik; Kolonel Soetirto sebagai Kepala Urusan Sipil; Kolonel Soemardjono sebagai Kepala Hubungan dan Kolonel Soeyo sebagai Kepala Sekretariat. Sudibyo diangkat menjadi Direktur Jenderal Departemen Perang yang mana Didi Kartasasmita adalah Kepala Infantri. Di dalam Departemen Perang juga diangkat: Kepala Departemen Artileri Letnan Kolonel Soerjo Soermano; Kepala Departemen Topografi Soetomo (bukan penyiar radio); Kepala Geni Kolonel Soedirio; Kepala Persenjataan Mayor Jenderal Soetomo (juga bukan penyiar radio) dan Kepala Polisi Militer Mayor Jenderal Santoso (bukan penasihat Dr. Van Mook). Mayor Jenderal Abdoel Haris Nasution ditunjuk sebagai Panglima Divisi-1 dengan Letnan Kolonel Sakari sebagai Kepala Staf. Panglima Divisi-2 Mayor Jenderal Abdulkadir (bukan penasihat Dr. Van Mook) dengan Letnan Kolonel Bamboengkoedo sebagai Kepala Staf; Panglima Divisi-3 Mayor Jenderal Soedarsono (bukan menteri) dan Letnan Kolonel Pari sebagai Kepala Staf; Panglima Divisi-4 Mayor Jenderal Sudiro dengan Letnan Kolonel Fadjar sebagai Kepala Staf; Panglima Divisi-5 Mayor Jenderal Koesoemo dengan Letnan Kolonel Bagiono sebagai Kepala Staf; Panglima Divisi-6 Mayor Jenderal Songkono dengan Letnan Kolonel Marhadi sebagai Kepala Staf, dan Panglima Divisi-7 Mayor Jenderal Ramansoedjadi dengan Letnan Kolonel Iskandar Soeleiman sebagai Kepala Staf.

Dalam struktur organisasi tentara yang baru ini kali pertama diperkenalkan pangkat tertinggi yang disebut Jenderal (Soedirman, sebagai Panglima). Pangkat dibawahnya Letnan Jenderal (Oerip Soemohardjo, sebagai Kepala Staf). Lalu kemudian pangkat Mayor Jenderal disematkan kepada tujuh Panglima Divisi plus Kepala Persenjataan dan Kepala PM. Pangkat di bawahnya sejumlah Kolonel dan sejumlah Letnan Kolonel (belum digunakan pangkat Brigadir Jenderal).

Lautan api tidak hanya di Bekasi dan Bandung, juga di kota-kota lain di Indonesia. Politik bumi hangus (verschroeide aarde) terjadi dua cara: Pertama, pihak yang menyerang melakukan pembakaran baik akibat granat, bom darat atau udara. Pasukan Sekutu dan pasukan Jepang banyak melakukan tindakan ini seperti di Birma, Singapora, Australia, Batam dan Soerabaja. Kedua, pihak yang diserang melakukan pembakaran dengan cara konvensional agar bangunan tidak dapat digunakan musuh. Tindakan heroik serupa ini hanya ditemukan di dua kota yakni di Bandoeng dan Padang Sidempoean, Kota Padang Sidempuan di Tapanuli Selatan adalah kota kampung halaman Panglima Siliwangi Kolonel Abdul Haris Nasution dan Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap.

Demikianlah sejarah perang kemerdekaan Indonesia melawan Sekutu/Inggris di Bekasi. Kota Bekasi terkenal sebagai kota patriot, sudah terkenal sejak tahun 1870.


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar