Laman

Sabtu, 10 Agustus 2019

Sejarah Tangerang (12): Sejarah Mauk, Jauh di Mata Dekat di Hati; Pusat Perdagangan di Pantai Utara Tangerang Tempo Doeloe


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini
 

Sejarah Mauk belumlah lama, tetapi juga tidak baru. Namanya mulai dikenal di publik sejak tahun 1829. Ini sehubungan dengan perubahan perbatasan (residentie) Batavia. Mauk sebelumnya masuk wilayah Residentie Banten. Berdasarkan beslit tanggal 7 Februari 1829 No. 180 batas wilayah Batavia adalah sungai Tjikande, Mauk menjadi bagian dari wilayah Batavia. Sejak itu namanya semakin dikenal, lebih-lebih setelah dijadikan sebagai tanah partikelir (land). Namun malang terjadi pada tahun 1883, land Mauk tenggelam disapu tsunami, gelombang laut yang tinggi akibat meletusnya gunung Krakatau.

Mauk, jauh di mata dekat di hati
Sebelum dilakukan perubahan batas Batavia di sebelah barat, pada tahun 1818 telah dilakukan perubahan batas Batavia. Lahan-lahan yang berada di sebelah barat sungai Tjitaroem masuk wilayah Batavia. Lahan-lahan tersebut antara lain Tjabangboengin, Tjikarang, Kedoeng Gede, dan Tjibaroesa. Sebelumnya wilayah ini masuk Residentie Krawang. Dengan adanya penambahan wilayah Mauk maka wilayah Batavia berada diantara sungai Tjitaroem di sebelah timur dan sungai Tjikande di sebelah barat. Batas wilayah Batavia di sebalah barat ini pada masa kini menjadi batas wilayah Kabupaten Tangerang.

Pada masa ini, Mauk seakan wilayah terbelakang, padahal di masa lampau Mauk adalah wilayah terdepan. Pelabuhan Mauk bahkan pelabuhan yang setara dengan pelabuhan Tanara dan Tangerang, pelabuhan Bekasi, dan pelabuhan Tjikarang. Perubahan haluan ini seiring dengan semakin intensnya arus perdagangan di sepanjang jalan Trans-Java Daendels (Batavia-Anjer) melalui Tangerang, Balaraja, Serang dan Tjilegon. Kejayaan masa lalu tamat. Kini, Mauk hanya sebatas jauh di mata dekat di hati. Namun demikian, Mauk adalah Mauk, kota yang memiliki sejarah. Untuk memahami sejarah Mauk, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pelabuhan Mauk: Pusat Perdagangan

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

10 komentar:

  1. Bisa kah saya minta no telpon penulis
    Saya faisal guru sma paradigma mauk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan Pak alamat emailnya dikirim ke alamat email saya di atas.

      Hapus
  2. Pak akhir matua saya minta tolong dicarikan sejarah mauk.
    Tentang peristiwa gedoran cina dan terbunuhnya otto iskandar dinata

    BalasHapus
  3. selamat siang pak akhir matua, jika tidak merepotkan saya ungin tau sejarah kecamatan sepatan yang sangat dekat dengan mauk, apakah bapak memiliki sumber yang bisa saya baca..?? ini alamat email saya mingzomnia@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya akan kirim ke alamat email tersebut
      Selamat belajar sejarah

      Hapus
  4. Selamat pagi pak Akhir Matua, saya Lastri hanafi, apa kah bpk tau kisah dari Gedoran kampung pekayon yang Konon kampung itu di huni banyak orang keturunan china.
    Bila berkenan untuk membalas ini alamat email saya lastrihanapi@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya tidak tahu kalau itu di Pekayon. Tetapi di dalam permberitaan surat kabar pada bulan Juni 1946 terjadi pengepungan terhadap orang Cina di district Meoek yang kemudian setelah kedatangan KNIL mereka terbebaskan. Saudara Lastri, pertanyaannya tolong via email saja. Terimakasih

      Hapus
  5. Pak Akhir matua, boleh saya minta sumber sejarah sepatan, karena orang tua saya asli sana. Selama ini saya belum menemukan artikel tentang sejarah sepatan. Ini email saya pak. Zaallah589@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Secara spesifik yang tidak mengetahui banyak sejarah Sepatan. Hanya secara umum dalam bingkai sejarah Mauk. Pada awal tahun 1860an dibentuk land/tanah partikelir Sepatan di sebelah barat land Kedaoeng. Lalu oleh Pemerintah Hindia Belanda membentuk district Maoek. Pada saat gunung Krakatau meletus tahun 1883 tusnami menyapu Maoek, termasuk desa Kramat dan sekitar. Warga Kramat mengungsi ke Pakoeadji dan ke Sapatan. Setelah itu di Sepatan dibentuk onderdistrict (di bawah district Maoek). Lalu warga Cina dari arah pantai mulai tinggal di Sepatan. Pada era perang kemerdekaan onderdistrict Sepatan masuk wilayah Republik. Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia (1950) wilayah onderdistrict menjadi suatu kecamatan.

      Hapus