Laman

Jumat, 29 Maret 2019

Sejarah Yogyakarta (29): Agresi Militer Belanda II di Jogjakarta 19 Desember 1948; Ir. Soekarno Ingin Pindah Ibukota ke India?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Yogyakarta dalam blog ini Klik Disini

Ibukota RI pindah ke Jogjakarta adalah satu hal, sedangkan pembentukan negara-negara federal adalah hal lain lagi. Namun dua hal itu selalu dikaitkan. Itulah latar belakang dilakukannya aksi polisional ke wilatah RI menurut versi Belanda atau agresi militer Belanda oleh para Republiken, Dalam konteks spasial ada dua wilayah kerajaan di Indonesia yang berada dalam balapan: wilayah kerajaan Jogjakarta dan wilayah kerajaan Sumatra Timur. Di dua wilayah yang berseberangan inilah pertarungan politik antara Belanda dan RI paling sengit: Jogjakarta pro RI dan Sumatra Timur pro Belanda.

Sidempuan, Bukittinggi dan Jogja (Trouw, 23-11-1948)
Agresi Militer Belanda II di Jogjakarta 19 Desember 1948 hanyalah satu titik penting dari berbagai titik penting peristiwa yang terjadi apakah sebelum dan sesudahnya. Secara defacto, wilayah RI semakin menyusut dan memusat di wilayah Pantai Selatan Jawa di Jogjakarta dan Soeracarta dan di wilayah Pantai Barat Sumatra di Tapanoeli dan Sumatra Barat. Sementara secara dejure pusat RI di Jogjakarta dan Soeracarta telah ditekan dari dua sisi negara federal: Negara Pasoendan di barat dan Negara Jawa Timur di timur; sedangkan di pusat RI di Tapanoeli dan Sumatra Barat juga telah ditekan dari dua sisi negara federal: Negara Sumatra Timur di timur dan Negara Sumatera Selatan di selatan. Itulah mengapa ketika pemimpin RI ditangkap dan dibunuh pada serangan 19 Desember 1948 muncul Pemerintahan Darurat RI di Bukittinggi.   

Peristiwa Agresi Militer Belanda II di ibukota RI di Jogjakarta dan wilayah-wilayah RI lainnya yang dimulai tanggal 19 Desember 1948 tidak sepenuhnya tanggungjawab Belanda tetapi juga para pemimpin lokal negara-negara federal juga. Demikian sebaliknya, reward juga tidak sepenuhnya dimiliki Jogjakarta tetapi juga wilayah-wilayah RI lainnya terutama di Pantai Barat Sumatra. Bagaimana itu bisa terjadi? Itulah pertanyaannya. Suatu pertanyaan yang selama ini kurang terinformasikan. Mari kita sarikan beritanya menurut surat kabar sejaman.