Laman

Rabu, 03 Juli 2019

Sejarah Bekasi (14): Sheriff Becassie Tempo Doeloe Menghadapi Situasi di Remote Area; District Bekasi Bagai 'Wild West' di Timur


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini

Pada era kolonial Belanda district Bekasi adalah wilayah yang unik. Dari empat afdeeling yang berada di Residentie Batavia, hanya Afdeeling Bekasi yang tidak memiliki Asisten Residen. Pemangku tertinggi di district Bekasi hanya setingkat Sheriff yang dalam bahasa Belanda disebut Schout. Padahal luas Bekasi jauh lebih luas dari Afdeeling Meester Cornelis dan Afdeeling Tangerang. Afdeeling Bekasi dirangkap oleh Asisten Residen Meester Cornelis. Perpanjangan tangan Asisten Residen Meester Cornelis di district Bekasi adalah seorang Schout. Di berbagai daerah Schout adalah setingkat Cotroleur.

Lencana Sheriff (illustrasi)
Schout (di Amerika disebut Sheriff) memiliki fungsi ganda dengan berbagai macam tugas. Seorang Sheriff  sejatinya bukan sipil tetapi juga bukan seorang militer (mantan militer dapat dijadikan Sheriff). Peran penting seorang Sheriff adalah pengendali keamanan (semacam polisi), di satu sisi seorang yang memiliki nyali untuk bertarung dan di sisi lain seorang yang tenang untuk melindungi kepentingan warga dan sekaligus memiliki keahlian bernegosiasi dengan penjahat. Di Amerika, di Wild West, banyak (bandit) juga ditemukan jagoan bandit yang sudah bertobat dijadikan sebagai Sheriff. Pada era sejaman Wild West di Amerika (1820-1900), di district Bekasi diberlakukan Schout.    

Lantas mengapa di district Bekasi diberlakukan Schout? Itu yang menjadi pertanyaan. Padahal district Bekasi tidak jauh dari ibukota (Stad Batavia). Sementara di tetangga Bekasi, wilayah dipimpin oleh seorang Asisten Residen di Meester Cornelis (di barat), di Buitenzorg (di selatan) dan di Krawang (di timur). Di Buitenzorg sendiri, pemerintahan juga menyertakan bupati (Regent) dan Demang. Di district Bekasi tidak ada regent dan juga tidak ada demang. Oleh karenanya, district Bekasi adalah wilayah yang khas. Hanya sesuai dipimpin oleh seorang Sheriff?. Untuk itu, nari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.    

Sejarah Bekasi (13): Sejarah Banjir Bekasi; Kali Mati, Kali Malang Rawa Malang, Rawa Siloeman, Tjiboentoe dan Rawa Pandjang


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini

Sejarah banjir di Bekasi adalah sejarah panjang, bahkan sejak jaman purba. Muara sungai Bekasi yang sekarang sebelumnya jauh lebih ke dalam. Pada era VOC, kampong  Moara diidentifikasi sebagai batas daratan dan lautan. Kampong Moara tempo doeloe ini kini menjadi batas Kecamatan Muara Gembong hingga ke laut. Seluruh wilayah kecamatan ini dapat dikatakan hasil proses sedimentasi jangka panjang. Proses sedimentasi yang kuat mengindikasikan adanya arus deras di kawasan rendah yang membawa lumpur dari hulu. Tipologi daratan dan sungai semacam ini kerap menimbulkan banjir besar. Seringnya banjir di Bekasa pada masa ini adalah gambaran banjir yang intens pada masa lampau. Banjir besar di Bekasi terjadi pada tahun 2016.

Banjir bandang di Bekasi 1961 (De Volkskrant, 24-01-1961)
Pada tahun 2007 pernah terjadi banjir besar di Bekasi. Namun banjir yang terjadi pada bulan April 2016 dianggap sangat besar. Banjir bandang tahun 2016 ini terjadi karena luapan Kali Bekasi yang tidak bisa ditahan. Banyak orang menganggap banjir Bekasi tahun 2016 ini sebagai banjir terbesar sepanjang sejarah. Idem dito dengan sejarah banjir di Jakarta. Tipologi wilauah Bekasi dan Jakarta yang wilayahnya berdekatan kurang lebih sama. Banjir gede di Jakarta terjadi pada tahun 2007, banjir yang bersamaan dengan banjir Bekasi tahun 2007. Banjir Bekasi tahun 2016 jauh lebih besar dari banjir Bekasi tahun 2007.

Banjir gede pada  tahun 2016 bukanlah banjir terbesar dalam sejarah banjir Bekasi. Pada tahun 1961 pernah terjadi banjir hebat di Bekasi yang disebabkan oleh sungai Bekasi dan sungai Tjitaroem. Sebanyak 211.600  jiwa penduduk mengungsi dan 60.000 rumah ditelan banjir. Otoritas militer yang melakukan pengamatan dari pesawat menyatakan bahwa daerah Bekasi menyerupai satu lautan coklat besar (lihat  De Volkskrant, 24-01-1961). Peristiwa banjir 1961 inilah yang kemudian memantapkan penyegeraan rencana lanjutan pembangunan kanal Kalimalang dari Bekasi ke (bendungan) Tjoeroek di Poerwakarta. Sebelumnya, pada tahun 1959 kanal Kalimalang ruas Bekasi-Jakarta sudah selesai dibangun.