Laman

Senin, 13 Januari 2020

Sejarah Kota Depok (59): Riwayat Tiang Telepon di Depok, Kapan Sebenarnya Mulai Dibangun? Sejarah Telepon di Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini

Diantara situs-situs tua di Depok, ada satu situs yang selalu menarik perhatian warga maupun para peminat sejarah. Situs tua tersebut adalah tiang telepon yang kini masih berdiri tegak di pertigaan jalan Kartini dan jalan Pemuda. Tiang telepon ini sekarang meski tidak difungsikan, tetapi tetap dipertahankan apa adanya.

Tiang telepon kuno di Depok (Now)
Sebelum ditemukan fungsi telepon, alat komunikasi jarak jauh yang paling efisien dan efektif adalah telegraf. Penggunaan telepon di Indonesia (baca: Hindia Belanda) baru diintroduksi pada tahun 1882. Baru sebatas jaringan telepon jarak jauh antar instansi tertentu semisal antara Weltevreden dan Tandjoeng Priok, antara Batavia dan Soerabaja dan antara Batavia dan Buitenzorg (menarik kabel sepanjang jalur jalan pos Batavia dan Buitenzorg via Tjimanggis dan Tjibinong). Lalu jaringan telepon kemudian diperluas dengan membangun jaringan telepon lokal (dalam kota). Dalam tahap berikutnya baru dikembangkan telepon umum antar kota (intercommunale).

Bagi peminat sejarah, boleh jadi sayang tiang telepon di kota Depok ini dibongkar (toh juga tidak mengggangu dan menghalangi yang lain). Tiang telepon di kota Depok dapat dianggap sebagai bagian dari sejarah (kota) Depok. Namun yang menjadi persoalan dan kerap ditanyakan di internet, sejak kapan tiang telepon ini dibangun? Sejauh ini tidak ada keterangan yang memuaskan. Lantas kapan pesisnya? Itulah yang menjadi pertanyaan? Untuk menjawabnya mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.  

Onderdistrict Depok

Jalur kereta api Batavia-Buitenzorg mulai dioperasikan pada tahun 1873. Salah satu halte/stasion dibangun di Depok. Sejak adanya jalur kereta api, Depok yang sebelumnya kurang populer menjadi perhatian bagi orang-orang Eropa/Belanda warga Batavia untuk bertempat tinggal di Depok. Hal ini karena di Depok hawanya lebih sejuk dan lebih sehat dibandingkan di Batavia dan Weltevreden. Adanya gereja di Depok menjadi faktor tambahan bagi mereka tinggal Depok. Mereka yang memilih tinggal di Depok banyak diantaranya pensiunan.

Terhubungnya jalur kereta api Batavia dan Buitenzorg juga kota Buitenzorg cepat berkembang. Arus wisatawan ke Buitenzorg meningkat drastis. Hotel-hotel juga semakin banyak di Buitenzorg.  Keutamaan Buitenzorg tidak hanya viewnya yang menawan ke gunung Salak, juga terdapat istana Gubernur Jenderal dan kebun raya. Buitenzorg sendiri adalah ibukota Afdeeling Buitenzorg. Secara admininistratif wilayah Afdeeling Buitenzorg terdiri dari beberapa district, salah satu diantaranya District Paroeng yang beribukota di Paroeng. Gemeente Depok berada di wilayah District Paroeng. Perkembangan Buitenzorg juga dipengaruhi perubahan district Soekaboemi menjadi Afdeeling pada tahun 1870. Soekaboemi yang sebelumnya berorientasi ke Tjiandjoer bergeser ke Buitenzorg. Hubungan Soekabomi dengan Buitenzorg semakin intens sehubungan dengan beroperasinya jalur kereta api ruas Buitenzorg-Soekabomi pada tahun 1882. Satu yang penting dari perubahan ini adalah dipindahkannya rumah sakit militer yang awalnya di Buitenzorg menjadi di Soekaboemi pada tahun 1884. Seperti halnya Buitenzorg, kota Soekaboemi juga cepat berkembang.

Sejak dimulainya pembangunan jaringan telepon di Batavia tahun 1882 (di Molenvliet, Rijswijk, Noordwijk. Weltevreden, termasuk Konongsplein dan Parapattan), jaringan juga diperluas ke Buitenzorg dan Soerabaja via Semarang. Jaringan telepon ini masih terbatas untuk instansi-instansi tertentu seperti kantor Residen/Asisten Residen dan pusat-pusat militer. Sehubungan dengan adanya rumah sakit militer di Soekaboemi, jaringan kabel telepon diperluas hingga Soekaboemi. Dalam hal ini kota Buitenzorg dan kota Soekaboemi adalah kota-kota Eropa di selatan Batavia.

Pada tahun 1884 seorang pengusaha pertanian RA Eekhout di Soekaboemi berinisiatif untuk membangun kabel koneksi telepon dari perusahaannya di Baros terhubungan dengan rumah sakit militer di Soekaboemi (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 31-03-1884). Permohonan RA Eekhout ini telah disetujui oleh Direktur Pekerjaan Umum Sipil, tetapi dengan syarat hanya dapat digunakan untuk penggunaan pribadi. Informasi ini menjelaskan tidak mudah untuk mendapatkan layanan telepon (yang masih terbatas). Pemerintah tampaknya sangat selektif untuk memberi izin sambungan telepon. RA Eekhout membangun kabel sendiri. Jaringan koneksi telepon antara Buitenzorg dan Soekaboemi untuk umum baru diadakan pada tahun 1896 (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 21-04-1896). Disebutkan yang mendapat lisensi untuk pembangunan ini adalah A Mijer.

Layanan telepon umum interlokal (intercommunale) antara kota Buitenzorg dan kota Soekaboemi terhubung pada tahun 1896. Sementara telepon umum antara Buitenzorg dan Batavia baru bisa direalisasikan pada tahun 1896 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 04-01-1897). Dengan demikian Batavia, Buitenzorg an Soekaboemi sudah terhubung dengan telepon umum.

Bataviaasch nieuwsblad, 16-08-1898
Sebagai gambaran penggunaan telepon umum ini Buitenzorg diatur oleh Buitenzorgsche Intercommunale Telefoon Maatschappij (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 16-08-1898). Buka setiap hari dari pukul 8 pagi hingga pukul 6 sore. Pada hari Minggu dan hari libur dari pukul 9 hingga pukul 12. Untuk setiap tiga menit Soekaboemi-Batavia sebesar f2.5; sebesar f1.2 masing-masing untuk Buitenzorg-Soekaboemi dan Buitenzorg-Batavia. Untuk berlanggan dapat membayar abonemen (semacam kereta api beberapa waktu yang lalu).      

Di Depok sendiri belumlah ada keneksi telepon. Meski sudah banyak orang Eropa/Belanda di Depok, tetapi (gemeente) Depok bukanlah kota tetapi tetap sebagai pedesaan. Ibu kota distrik di Paroeng juga belum ada koneksi telepon (hanya menggunakan komunikasi telegraf). Penggunaan telegraf di Depok hanya terbatas di halte/stasion Depok (karena belum ada kantor pemerintah).

Memang jalur kabel telepon Batavia-Buitenzorg berada di sepanjang jalur kereta api, tetapi kenyataannya halte-halte yang berada di antara dua kota ini baru sekadar dilayani oleh jaringan kabel telegraf. Komunikasi antar halte hanya dilakukan dengan penggunaan alat komunikasi telegraf. Pada tahun 1900 perusahaan telepon akan memperbarui kabel tembaga telepon antar kota (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 29-08-1900). Boleh jadi penggantian ini karena kabel yang lama dianggap usang.

Pada tahun 1908 sejumlah district di Residentie Batavia dimekarkan dengan membentuk onderdistrict. Salah satu district yang dimekarkan adalah district Paroeng dengan membentuk onderdistrict Depok yang mana Asisten Wedana berkedudukan di Depok (lihat Bataviaasch handelsblad, 29-01-1908). Onderdistrict lainnya yang dibentuk adalah Tjimanggis (pemekaran dari district Tjibinong). Asisten Wedana dibantu oleh pegawai administrif dan petugas polisi.

Bataviaasch handelsblad, 29-01-1908
Pembentukan onderdistrict Depok mengakibatkan jaringan telegraf diperluas hingga ke Depok agar komunikasi antara Wedana di Paroeng dan Asisten Wesana di Depok berjalan efektif. Penggunaan telepon sendiri di Depok belum ada, karena halte/sendiri masih menggunakan alat komunikasi telegraf. Telepon masih hal yang langka. Sehubungan dengan pembentukan onderdistrict Depok, sebagai di tempat lain, pembangunan kantor pos dan telegraf dibangun. Kantor pos Depok inilah yang melayani telegraf untuk kantor Asisten Wedana  dan juga untuk pengguna umum. Kantor Asisten Wedana dan kantor pos/telegraf ini dibangun berdekatan. Pada masa ini kantor Asisten Wedana ini adalah kantor Kecamatan Pancoran Mas yang sekarang. Kantor pos itu sendiri beberapa tahun yang lalu masih saya gunakan untuk mengirim surat tetapi kini sudah ditutup karena di sebelahnya sudah dibangun gedung yang baru.

Menjelang Sensus Penduduk 1930 dilakukan perubahan administarif pemerintahan terkecil. Gemeente (land)  Depok dan kampong-kampong yang berdekatan disatukan menjadi satu desa. Di Afdeeling Buitenzorg, kelurahan (wijk) hanya ditemukan di Buitenzorg.

Pembangunan Jaringan Telepon di Depok

Adanya kantor telepon di Depok paling tidak sudah dilaporkan pada tahun 1931 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 03-08-1931). Disebutkan kantor telepon ini berada disamping kantor pos. Kantor telepon Depok inilah yang melayani pengguna telepon lokal dan telepon interlokal di Depok. Layanan koneksi telepon di halte kereta api di Depok juga diketahui telah terhubung. Hal ini diketahui ketika ada kecelakaan penumpang di halte Pondok Tjina, petugas halte/stasion melaporkan langsung kejadian kepada Asisten Wedana melalui telepon (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-09-1931).

Area pemerintah di Depok (Peta 1901)
Situasi dan kondisi ibu kota onderdistrict Depok pada tahun 1931 adalah sebagai berikut. Suasananya masih pedesaan dan kondisi jalan di dalam desa terbilang buruk. Hanya jalan menuju Paroeng dan Tjimanggis yang terbilang bagus. Meski sudah ada listrik, tetapi sama sekali tidak ada lampu penerangan jalan sehingga terkesan gelap di malam hari. Selain halte kereta api, baru ada kantor kantor pemerintah (kantor Asisten Wedana), kantor pos dan kantor telepon. Tidak ada toko-toko Eropa, Cina dan Arab. Belum ada tempat hiburan. Hanya ada satu ditemukan cafe (de Koude Hoek) yang menyediakan minuman ringan, kue-kue dan dodol terkenal Depok. Hari pasar adalah hari Senin dan hari Jumat. Dari desa-desa sekitar berdatangan pedagang sayuran, buah-buahan, ayam, kambing dan lainnya. Di Depok sudah ada tiga sekolah, yakni sekolah Eropa, sekolah HIS dan sekolah zending. Jaringan air bersih sudah ada. Jumlah orang Eropa memilih tinggal di Depok terus meningkat, Selain alasan yang telah disebut di atas, di Depok harga sewa rumah murah. Jika membangun rumah tidak dikenakan pajak di Depok.

Lantas kapan jaringan telepon lokal (sambungan ke rumah-rumah) di Depok mulai dioperasikan? Pertanyaan ini menjadi penting karena pengoperasian telepon lokal di Depok menjadi sebab mengapa ada tiang telepon yang dipertanyakan di atas. Bentuk penampilan tiang telepon yang diperlihatkan pada foto di atas menunjukkan tiang telepon tersebut adalah tiang telepon utama, tiang distribusi ke rumah-rumah warga.

Tiang telepon utama ini adalah satu-satunya yang dibuat dengan struktur (kerangka) yang kuat dari baja. Kabel tembaga dari kantor telepon dihubungkan ke tiang utama. Lalu dari tiang utama ini kemudian kabel tembaga didistribusikan ke tiga arah (utara, timur dan selatan) dengan menggunakan tiang yang lebih kecil sebelum disambungkan ke rumah-rumah. Tiang utama ini berfungsi sebagai tiang pembagi dari kantor telepon. Jarak kantor telepon (yang berada di dekat kantor pos) dengan tiang utama ini cukup dekat (sekitar outlet Indomaret yang sekarang). Oleh karena tiang utama dibuat sangat kuat dari (kerangka) baja maka hanya tiang utama ini yang dapat bertahan hingga masa ini seperti yang masih kita bisa lihat sekarang.

Berdasarkan data dan keterangan yang sejauh ini bisa ditelusuri, tiang utama telepon di Depok diduga dibangun setelah tahun 1908 dan sebelum tahun 1928. Angka tahun 1928 diperoleh dari seorang pemasang iklan di Depok telah mencantumkan nomor telepon rumah. Namun tahun berapa persisnya tiang utama telepon tersebut dibangun masih memerlukan penelusuran lebih lanjut. Namun kecenderungan lebih dekat ke tahun 1928. Sebagai proksi dapat diinterprestasi dari suatu iklan yang diterbitkan pada surat kabar pada tahun 1922.

Iklan penyewaan rumah 1922 dan 1928
Pada tahun 1922 seorang warga Depok [Emil] Harahap menyewakan dua buah rumahnya masing-masing dengan harga sewa f35 dan f25 per bulan di dalam suatu iklan tidak menyebutkan nomor telepon (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-01-1923). Informasi nomor telepon sudah barang tentu penting bagi calon penyewa. Dalam hal ini boleh jadi pada tahun 1922 belum ada jaringan telepon di Depok.

Dengan mengacu pada iklan tahun 1922 dan iklan tahun 1928, range tahun pembangunan tiang telepon utama di Depok diperkirakan setelah tahun 1922 dan sebelum tahun 1928.


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar