Laman

Minggu, 19 Januari 2020

Sejarah Kota Sibolga (1): Pembangunan Kota Sibolga dan Pembentukan Residentie Tapanoeli (1845); Riwayat Pulau Poncan


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sibolga dalam blog ini Klik Disini

Kota Sibolga adalah kota tua. Sebelum terbentuk kota Medan, kota Sibolga sudah eksis sebagai ibu kota Residentie Tapanoeli. Kota Sibolga dibangun pada tahun 1842 sebagai ibu kota Residentie Tapanoeli. Penetapan Sibolga sebagai ibu kota Residentie Tapanoeli, bersamaan dengan penetapan Panjaboengan sebagai ibu kota Afdeeling Mandailing en Angkola. Residen Tapanoeli berkedudukan di Sibolga dan Asisten Residen Mandailing en Angkola berkedudukan di Panjaboengan. Tempat kedudukan pejabat tertinggi di suatu wilayah menjadi ibu kota (hoofdplaat). Pada tahun 1870 ibu kota Afdeeling Mandailing en Angkola, Residentie Tapanoeli dipindahkan ke Padang Sidempoean.

Ibu Kota Pantai Barat di Pulau Pocan (1821) dan Kota Sibolga (1867)
Sebagaimana di tempat lain, Pemerintah Hindia Belanda membangun ibu kota tidak mengakuisisi (per)kampong(an) lama, tetapi membangun baru di suatu area kosong yang tidak jauh dari kampong lama. Prinsip ini dijalankan karena penduduk asli (pribumi) adalah patner. Model pembentukan serupa ini bahkan sudah diterapkan seperti di Batavia, Semarang, Soerabaja, Padang, Bandoeng, Medan, Panjaboengan dan Padang Sidempoean. Ibu Kota wilayah Pantai Barat Sumatra pernah di (kampong) Tapanoeli (1821).  

Bagaimana sejarah Kota Sibolga? Tentu saja belum pernah ditulis secara komprehensif. Apa hebatnya sejarah Kota Sibolga? Itulah hebatnya. Tidak jauh dari Kota Sibolga yang sekarang di sebuah pulau, Pontjan Ketjil pernah menjadi pos perdagangan penting di wilayah Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust) pada era Inggris. Tidak jauh pula dari Sibolga terdapat kota Barus, kota kuno. Dalam hal ini seperti dapat dibaca dalam blog ini, penulisan sejarah Kota Sibolga adalah bagian dari rangkaian penulisan sejarah kota-kota di Indonesia seperti serial artikel sejarah Jakarta, Semarang, Soerabaja, Padang, Medan, Bandoeng dan lainnya. Untuk memulai memahami sejarah Kota Sibolga, seperti kota yang lainnya kita perlu menelusuri sumber-sumber tempo doeloe. Mari kita mulai menyusun sejarah Kota Sibolga dengan artikel pertama.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pulau Poncan dan Ibu Kota Wilayah Pantai Barat Sumatra: Baroes dan Angkola

Sebelum memulai menyusun sejarah Kota Sibolga haruslah dimulai dengan memahami terlebih dahulu Pulau Poncan (Pulo Pontjan Ketjil). Hal ini karena kota Sibolga belum terbentuk ketika Pemerintah Hindia Belanda memulai pemerintahan di Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust). Pada tahun 1821 pemerintah menempatkan seorang Asisten Residen di (kampong) Tapanoeli. Ini menandai ibu kota wilayah Pantai Barat Sumatra kali pertama di Tapanoeli (sebelum dipindahkan ke kota Padang).

Pemerintah Hindia Belanda dibentuk pada tahun 1800 (suksesi VOC/Belanda). Ketika perhatian pemerintah baru terbatas di Jawa, terjadi pendudukan militer Inggris tahun 1811. Gubernur Jenderal Daendels digantikan oleh Letnan Gubernur Jenderal Raffles. Namun pendudukan Inggris berakhir tahun 1816 dan kembali digantikan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Bengkoeloe yang sudah sejak lama menjadi benteng Inggris tidak termasuk yang dikuasai Belanda. Pada tahun 1819 Pemerintah Hindia Belanda mulai memperluas pemerintahan ke Pantai Barat Sumatra. Namun persoalannya, pengaruh Inggris di Pantai Barat Sumatra masih kuat. Bahkan pedagang-pedagang Inggris masih beraktivitas di Padangsche.

Pada tahun 1819 Belanda berhasil mengambil alih propertinya di sejumlah tempat termasuk Padang. Pada tanggal 17 Mei 1819 Residentie Padang dapat dibebaskan dari Inggris; Air Bangies dibebaskan pada tanggal 3 Oktober 1820. Residentie Natal dibebaskan tanggal 17 Oktober 1820. Inggris sendiri sebelumnya telah mengambil alih wilayah dan properti VOC/Belanda tanggal 30 November 1795 di Bengkulu, Natal dan Tapanoeli termasuk kantor di Padang, Ajer Bangies dan Poeloe Tjinko. Secara keseluruhan baru terbebaskan (kecuali Bengkulu) pada tanggal 17 Agustus 1921 berdasarkan Resolutie Gouverneur Generaal. Sejak inilah Pemerintah Hindia Belanda mulai menata pemerintahan di Sumatra’s Westkust. Situasi kondisi inilah yang menyebabkan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1821 menempatkan Asisten Residen di Tapanoeli. Posisi Tapanoeli sendiri agak jauh dari posisi Inggris di Bengkoeloe (untuk menghindari gesekan).

Untuk mengurangi ketegangan diantara Belanda dan Inggris, Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda melakukan perjanjian di London pada tahun 1824 (yang disebut Traktat London). Satu keputusan terpenting dari perjanjian ini adalah dilakukan tukar guling antara Bengkoelo (Inggris) dan Malaka (Belanda). Dengan demikian seluruh wilayah Sumatra di bawah pengatuh Belanda dan seluruh wilayah Semenanjung di bawah pengaruh Inggris. Sejak perjanjian tahun 1824 inilah pusat pemerintahan Hindia Belanda direlokasi dari Tapanoeli ke Padang.

Singkel, Baros, dan Padang sudah berada di bawah kekuasaan Belanda (dengan membangun pos perdagangan yang berpusat di benteng). Namun dalam perkembangannya, Inggris mengirim seorang utusan ke Atjeh dan mendapat persetujuan untuk mendirikan maskapai di Pariaman tahun 1684 untuk perdagangan lada (Oprechte Haerlemsche courant, 11-04-1686). Lalu Belanda bereaksi dengan mengirim utusan dari Malaka (Belanda) ke Kerajaan Pagaroejoeng pada tahun 1684 untuk melakukan kerjasama. Pada tahun 1685 terjadi pertempuran berdarah antara Inggris dan Belanda, lalu Inggris pindah ke Bengkulu 1686. Pada tahun 1693 VOC/Belanda diketahui membuat kontrak dengan Raja Baros, untuk berbagai kebutuhan pokok. Pada fase inilah diketahui terjadi hubungan yang intens antara Angkola dan Baros. Jarak antara Angkola dan Baros ditempuh dengan jalan darat selama 11 hari. Keterangan dapat dilihat pada laporan seorang Tionghoa yang selama 10 tahun berada di Angkola 1693-1703 yang dicatat pada catatan harian Kasteel Batavia (Daghregister) 1703..

Dalam perkembangannya, Inggris memprovokasi Kesultanan Atjeh agar Baros tetap independen. Tidak diketahui hasilnya apa. Yang jelas, lambat laun Belanda mundur ke Air Bangies dengan pusat di Padang. Belanda juga memperluas ke Indrapoera dan pantai selatan Palembang (Lampong). Di pihak Inggris ingin Padang dan Bengkulu disatukan. Untuk memperkuat pertahanan Inggris di Pantai Barat Sumatra, pada tahun 1714 benteng Malborough dibangun di Bengkulu. Penetrasi Inggris di Bengkulu memunculkan pemberontakan penduduk pada tahun 1719 (lihat Groninger courant, 14-12-1824). Hubungan Angkola dan Baroes kembali dilaporkan pada tahun 1772 ketika seorang Botanis Inggris Charles Miller melakukan ekspedisi ke wilayah Angkola hingga ke Batang Onang (Padang Lawas). Ekspedisi ini dimulai dari Pulo Pontjan Ketjil dan kembali ke pulau tersebut lagi. Keterangan ini mengindikasikan bahwa Inggris membangun pos pedagangan (benteng) di Pulo Pontjan Ketjil.

Situasi dan kondisi di Pantai Barat Sumatra kurang terinformasikan, lebih-lebih setelah kekuatan Prancis semakin menguat dan berhasil melumpuhkan Batavia (Belanda) pada tahun 1795. Sementara itu kinerja VOC/Belanda lambat laun semakin menurun hingga akhirnya VOC/Belanda digantikan oleh Pemerintah Hindia Belanda (di bawah kekuasan Napoleon/Prancis).

Pembentukan Pemerintahan di Tapanoeli: Perang Bondjol (1837) dan Perang Pertibi (1838)

Sebelum dibentuk Residentie Tapanoeli, Afdeeling Mandailing dan Angkola sudah terbentuk lebih dahulu. Pembentukan Residentie Tapanoeli bermula ketika wilayah pemerintahan Hindia Belanda diperluas ke utara dengan menempatkan Controleur LA Galle pada tahun 1843 di Tapanoeli sebagai bagian dari Residentie Air Bangis.

Pada tahun 1843 wilayah utara dipisahkan dari Residentie Air Bangis dan kemudian dibentuk menjadi Residentie Tapanoeli. Sebagai pejabat pelaksana Residen diangkat Majoor Alexander van der Hart (lihat  Dagblad van 's Gravenhage, 25-12-1843). Majoor Alexander van der Hart adalah anak buah kesayangan dari Kolonel AV Michiels. Pada saat Perang Padri, Kapten A van der Hart adalah orang yang memimpin ke jantung pertahanan Padri di dalam Benteng Bondjol.

LA Galle yang sebelumnya bertindak sebagai Controleur yang berkedudukan di Tapanoeli ketika ibu kota dipindahkan ke Sibolga diposisikan sebagai Sekretaris Residen Tapanoeli. Selain van der Hart dan Galle, satu pejabat lagi yang diangkat adalah seorang commies merangkap pakhuismeester di Sibogha (Sibolga) JJ Koopmans.

Dagblad van 's Gravenhage, 25-12-1843
Bersamaan dengan pengangkatan A van der Hart sebagai Residen Tapanoeli, TJ Willer diangkat sebagai Asisten Residen Afdeeling Mandailing en Angkola. TJ Willer sebelumnya sebagai pejabat tertinggi di Afdeeling Manailing dan Angkola yang berkedudukan di (kantor) Residen di Air Bangis. Afdeeling Mandailing an Angkola dibentuk pada tahun 1839 dengan menempatkan Controleur di Onderdistrict Mandailing yang berkedudukan di Panjaboengan dan Controelur di Onderdistrict Angkola yang berkedudukan di Pijorkoling. Pembentukan Afdeeling Mandailing dan Angkola ini seiring dengan berakhirnya Padri tahun 1838.

Pada tahun 1829 pejabat tertinggi di Sumatra’s Westkus adalah seorang Residen berkedudukan di Padang. Dalam hal ini struktur pemerintahan  di wilayah Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust) baru berpangkat Resident dengan dibantu tiga asisten residen masing-masing di Padang, Zuidelijke afdeeling dan Benkoelen yang berkedudukan di Padang. Ini berarti wilayah Benkoelen masuk Sumatra’s Westkust dan wilayah Tapanuli yang sekarang, belum disebut sebagai bagian dalam sistem pemerintahan Belanda di Sumatra’s Weskust sejauh ini. Lalu terjadi perlawan Padri. Benteng (perang) Bondjol berhasil dilumpuhkan militer Belanda pada tahun 1937 dengan menangkap Tuanku Imam Bondjol. Lalu pada tahun 1838 seluruh wilayah Mandailing, Angkola dan Padang Lawas berhasil dibebaskan setelah berakhirnya Perang Pertibi (Tuanku Tambusai menghilang). Pada tahun 1839 Afdeeling Mandailing dan Angkola dibentuk sebagai bagian dari Residentie Air Bangis (yang dipimpin oleh LA Galle).

Pada tahun 1844 Afdeeling Mandailing dan Angkola dipisahkan dari Residentie Air Bangis dan kemudian dimasukkan ke Residentie Tapanoeli. Pada tahun 1845 Afdeeling Natal dipisahkan dari Residentie Air Bangis dan kemudian dimasukkan ke Residentie Tapanoeli. Pada tahun 1845 jabatan Alexander van der Hart diformaslkan menjadi Residen seiring dengan kenaikan pangkatnya dari Majoor menjadi Luitenant Colonel. Bersamaan dengan dipisahkannya Afdeeling Natal, Residentie Air Bangis dilikuidasi dan dimasukkan ke Residentie Padangsche Benelanden (yang beribukota di Padang).

Pembangunan Kota Sibolga

Pembangunan kota Sibolga dan kota Padang Sidempoean bersamaan pada tahun 1842. Ini dimulai ketika militer mulai bekerja membangun kota sebelum ditempatkan Controleur di Sibolga dan Controleur di Padang Sidempoean (onderdistrict Angkola) pada tahun 1843. Selama pekerjaan proyek garnisun militer yang sebelumnya berada di (kampong) Tapanoeli dipindahkan ke Sibolga dan garnisun militer di Pidjor Koling dipindahkan ke Padang Sidempoean.

Pada saat terjadi pengepungan Daloe-Daloe (pusat Tuanku Tambusai) 1838, didirikan garnisun militer di Kotanopan, Panjaboengan, Pidjor Koling, Pertibi dan Tapanoeli. Pos-pos militer pembantu didirikan di Siaboe dan Loeboek Raja. Benteng hanya terdapat di Panjaboengan (Fort Elout), Rao dan Natal. Garnisun militer di Tapanoeli ini kemudian dipindahkan ke Sibolga dan garnisun militer di Pidjor Koling dipindahkan ke Padang Sidempoean,   

Pada tahun 1846 datang utusan Raja Belanda Jenderal von Gagern ke Tapanoeli yang didampingi oleh Gubernur Province Sumatra’s Westkust AV Michiels. Kedatangan utusan ini dalam rangka untuk meninjau situasi dan kondisi di wilayah Tapanoeli pasca Perang Pertibie (pusat pertahanan di Pertibie dalam perang melumpuhkan Tuanku Tambusai di Daloe-Daloe). Kunjungan ini adalah kali pertama Gubernur Michiesls ke Tapanoeli setelah menjabat Gubernur pada tahun 1838.

Rute yang ditempuh oleh rombongan utusan Raja dan Gubernur adalah Fort de Kock, Loeboek Sikaping, Rao, Kotanopan, Panjaboengan, Siaboe dan Padang Sidempoean. Sebelum rombongan tiba di Padang Sidempoean sudah lebih dahulu Residen van der Hart tiba di Padang Sidempoean. Dari dua hari yang direncanakan di Padang Sidempoean diperpanjang menjadi empat hari. Utusan Raja selama di Padang Sidempoean selain memeriksa garnisun militer, rumah sakit dan apotik juga berkesempatan berburu rusa di utara Batoenadoea. Itulah sebab mengapa ada perubahan jadwal dua hari menjadi empat hari. Setelah dari Padang Sidempoean, rombongan menuju Sibolga dan selanjutnya dengan kapal layar ke Padang. Tidak dijelaskan berapa lama rombongan berada di Sibolga.

Seperti halnya kota Padang Sidempoean dibangun di dekat kampong Sidempoean, kota Sibolga dibangun di area kosong di dekat kampong Sibolga di daratan dekat pantai berhadapan langsung dengan Pulau Pontjan Ketjil (lihat Gambar 1846). Kota baru Sibolga ini berpusat pada gedung kantor/rumah Residen Tapanoeli (A van der Hart). Bangunan-bangunan lainnya di sekitar adalah kantor/rumah sekretaris Residen, garnisun militer, rumah sakit/apotik dan kantor/rumah commies/pakhuis. Itulah awal mula kota Sibolga.

Peta 1835
Kampong Tapanoeli sendiri adalah suatu pelabuhan yang keberadaannya sudah eksis sejak era VOC/Belanda. Pelabuhan (kampong) Tapanoeli ini dirintis oleh para pedagang/militer Inggris (sementara). Pelabuhan ini dipilih baru karena pelabuhan/benteng Baros tidak Pelabuhan ini dipilih baru karena pelabuhan/benteng Baros tidak kondusif lagi (selain sangat dekat dengan ancaman Atjeh), pelabuhan Tapanoeli juga lebih sesuai untuk navigasi (berada di teluk yang terhalang oleh pulau Moersala). Pelabuhan (kampong) Tapanoeli ini berada di utara kampong Sibolga. Sementara kantor Residen di dekat kampong Sibolga berada di dekat sungai (aek) Doras yang pada masa kini berada di area pelabuhan Sibolga yang lama. Dalam hal ini pelabuhan terdahulu (kampong Tapanoeli) di era Inggris telah dipindahkan ke kampong Sibolga pada era Pemerintah Hindia Belanda.

Demikianlah sejarah awal Kota Sibolga, kota yang awalnya dibangun sebagai ibu kota Residentie Tapanoeli.


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar