Laman

Selasa, 28 April 2020

Sejarah Bogor (34): Sejarah Baranang Siang Dimana IPB Bogor Berada; Kebun Raya, Rumah Sakit PMI, Terminal Tol Jagorawi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini

Nama Baranang Siang [Baranangsiang] di Bogor sangat terkenal pada dekade 1980an. Entah kalau sekarang. Nama Baranang Siang bahkan sama populernya dengan nama Bogor sendiri. Apa pasal? Karena kampus pusat Institut Pertanian Bogor (IPB) berada di Baranang Siang yang disebut Kampus Baranang Siang. Tidak hanya itu, jika datang dari jauh, dari terminal Cililitan maka terminal Baranang Siang menjadi tujuan. Terminal Bogor sendiri berada di jalan Merdeka. Terminal Baranang Siang dibangun sehubungan dengan pembangunan jalan tol Jagorawi yang menghubungkan terminal Cililitan di Jakarta.

Kampong Baranang Siang (Peta 1701) dan Kampus IPB
Di seberang jalan dari Kampus Baranang Siang (yang dipisahkan jalan Pajajaran) terlihat dekat hutan kota Kebon Raya. Kebon raya ini dibangun sejak era pendudukan Inggris (Raffles). Jalan di samping Kampus Baranang Siang disebut jalan Malabar (kini telah diganti menjadi jalan Andi Hakim Nasution, mantan Rektor IPB 1978-1987). Di area Malabar ini terdapat rumah sakit terkenal Rumah Sakit PMI (Palang Merah Indonesia). Saya pernah berobat di rumah sakit ini pada tanggal 5 September 1983. Layanannya keren, harganya terjangkau masayarakat dan tidak terlalu berat bagi mahasiswa. Saya tahu persis karena saya tinggal di Gang Mexindo (Mexico-Indonesia). Gang ini hanya dibatasi jalan Malabar ke rumah sakit.

Lantas bagaimana sejarah awal Baranang Siang? Yang jelas artikel ini mengumpulkan data sejarah dan mengalisisnya. Di dalam artikel ini tidak dimasukkan unsur cerita atau ‘katanya’ karena artikel ini disusun dengan pendekatan metodologi sejarah untuk mendapatkan gambaran Sejarah Baranang Siang yang sebenarnya. Sejarah adalah narasi fakta dan data (bukan mendata narasi fiksi). Ada perbedaan besar antara metodologi sejarah dan metode cerita. Metodologi sejarah berupaya memverifikasi data tahun sejarah berlangsung, sedangkan metode cerita adalah metode fiksi yang cenderung menggunakan pendekatan toponimi dan tidak peduli kapan kisah itu terjadi (fiktif). Okelah, itu satu hal. Hal yang lebih penting adalah untuk menambah pengetahuan dan mengurangi ketidaktahuan serta menambah wawasan nasioanl, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kelurahan Baranang Siang, Kec Bogor Timur (Now)
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.  

Kapan Nama Baranang Siang Dicatat: Cerita Ridwan Saidi

Asal-usul nama tempat penting, tetapi di dalam sejarah tidak terlalu penting-penting amat. Namun entah bagaimana mengapa asal-usul menjadi segalanya untuk menggambarkan sejarah suatu tempat. Akibatnya esensi sejarah menjadi tidak tergambarkan secara keseluruhan dengan baik. Demikian juga tentang sejarah Baranang Siang yang hanya heboh pada soal asal-usul nama saja. Bahkan Ridwan Saidi pun ambil bagian dalam memperkeruh sejarah Baranang Siang. Ridwan Saidi, yang katanya ahli sejarah, mengatasnamakan sejarah tetapi dalam prakteknya soal asal-usul Baranang Siang nyatanya hanya menggunakan metode cerita.

Menurut Ridwan Saidi nama Baranang Siang memiliki arti ‘pergi dengan bermartabat’. Entah darimana sumbernya (mungkin hanya toponimi). Masih menurut Ridwan Saidi setelah hancurnya Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi berpindah ke Astana Anyar di Bandung. Menurut Ridwan Saidi Astana Anyar adalah ibu kota baru Pajajaran. Menurut Ridwan Saidi pula kata Astana berasal dari bahasa Armenia. Padahal menurut sumber lain tidak demikian.

Menurut sumber yang dapat dipercaya, nama Astana Anyar baru muncul pada era Pemerintah Hindia Belanda (lihat Sejarah Bandung). Pada permulaan pembentukan cabang pemerintahan di District Bandoeng, tempat dimana yang dimaksud Ridwan Saidi berada Astana Anyar masih rawa. Pada tahun 1846 Pemeritah Hindia Belanda membangun ibu kota (district) Bandoeng yang baru di sekitar areal rawa-rawa tersebut dengan cara mengeringkan rawa (membuat kanal-kanal). Di ibu kota ini ditempatkan seorang pejabat Belanda setingkat Controleur. Untuk mendekatkan fungsi pemerintahan Belanda dengan fungsi pemerintahan lokal, Pemerintah Hindia Belanda membangun istana yang baru untuk Bupati Bandoeng (di seberang jalan kantor/rumah Controleur Bandoeng). Lantas bupati yang berkedudukan di kampong Bandoeng yang terletak di muara sungai Tjikapoendoeng (sungai Tjitaroem) relokasi ke istana yang baru di dekat kantor Controleur. Nama kampong lama kemudian disebut Dajeh Kolot dan area kantor Controleur dan istana baru bupati Bandoeng menjadi Bandung (sekitar jalan Asia-Afrika yang sekarang). Lingkungan (wijk) sekitar istana Bupati Bandoeng lambat laun disebut (wijk) Astana Anyar.

Dengan membaca risalah asal-usul kota Bandoeng tersebut, apa yang menjadi pendapat Ridwan Saidi bahwa radja Siliwangi mengungsi ke ibu kota Padjadjaran di Astana Anyar menjadi terkesan dislokasi, nama tempat dimana? kejadiannya entah kapan? Tidak sinkron antara suatu kejadian dengan nama tempat. Ngawur, Beh.

Nama Baranang Siang adalah nama lama, tetapi juga tidak kuno-kuno amat. Catatan pertama tentang nama (tempat) Baranang Siang terdapat pada Peta 1701. Catatan ini dapat dianggap sebagai catatan tertua tentang keberadaan Baranang Siang. Nama-nama tempat lainnya yang diidentifikasi dalam peta tersebut adalah nama kampong Babakan, Bantar Jati dan Parung Benteng. Peta 1701 ini dibuat oleh Michiel Ram dan Cornelis Coops dua tahun setelah gunung Salak meletus (1699).


Pada peta hasil ekspedisi yang dilakukan Pieter Scipio yang disalin kembali Isaac de Graaff dan diterbitkan tahun 1695 nama kampong Baranang Siang tidak diidentifikasi. Nama kampong yang diidentifikasi adalah kampong Parakan, kampong Kedonghalang dan kampong Tjiloear. Tidak ada nama tempat yang diidentifikasi di sisi selatan-barat sungai Tjiliwong maupun di daerah aliran singai Tjisadane (lereng gunung Salak). Nama-nama yang dicatat di sisi selatan-barat sungai Tjisadane hanya nama-nama sungai seperti Pamoyan[an] di dekat Batoe Toelis, Cartek [Tjikereteg?], Sipako [Tjipakoe?], Caliko [Tjipakantjilan?] dan Sivarag [Tjiparay?].

Semua nama tempat yang diidentifikasi berada di sisi utara dan timur sungai Sadany [Tjisadane]. Jika mengacu pada lokasi pusat kerajaan Pakwan-Padjadjaran berada di sekitar titik singgung terdekat antara sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane (sekitar Istana dan Pasar Bogor yang sekarang) area tersebut kosong (tidak ditempati) karena ditinggal oleh ahli warisnya. Pada saat terjadi gempa besar dan gunung Salak meletus tahun 1699 area Pakwan-Padjadjaran yang kosong telah rata dengan tanah.

Nama-nama kampong yang diidentifikasi pada Peta 1701 (setelah gempa dan letusan gunung) hanya nama kampong Kedong Halang yang eksis. Nama-nama kampong yang baru muncul (atau baru diidentifikasi?). Nama-nama kampong baru tersebut antara lain Campon Baroe (Kampong Baroe), Baranang Siang, Babakan, Bantarjati dan Parongbenteng. Tiga nama terakhir berasosiasi dengan (bahasa) Soenda [babakan, bantar dan parung], namun nama {Kampong) Baroe dan kampong (Baranang) Siang sebagai nama kampong baru yang berasosiasi dengan penduduk pantai [bahasa Melayu di muara sungai Tjiliwong, Batavia]. Nama Kampong Baroe banyak ditemukan di sekitar Batavia. Nama kampong baru sendiri di wilayah (bahasa) Soenda adalah Paboearan. Dalam nama kampong Baranang Siang, nama Siang jelas jauh dari ‘sanghyang’, tetapi nama ‘baranang’tentu saja jangan buru-buru dihubungkan dengan bahasa Minangkabau (baranang=berenang). Kalaupun digunakan pendekatan toponimi, kata ‘baranang’kemungkinan lebih dekat dengan bahasa setempat (bahasa Soenda) yakni ‘beurang’ yang artinya ‘siang’. Namun itu tidak cukup, sebab pada saat itu ada marga orang Belanda disebut Siang, demikian juga nama orang Cina. Singkat kata, banyak kemunkinanlah. Fakta bahwa nama Baranang Siang sudah tercatat paling tida tahun 1701. Jadi hal seperti ini yang lebih penting daripada soal darimana asal-usul nama.

Pada Peta 1701 di sisi selatan-barat sungai Tjiliwong (tepatnya di area antara sungai Tjiliwong dengan sungai Tjisadane) sejumlah nama kampong (baru) diidentifikasi. Nama-nama kampong tersebut di arah hilir adalah Kedongwaringin [Kedongbadak], Kedongdalam, sementara di arah hulu adalah kampong Katoelampa, Tadjoerangon [Tadjoer]. Rantjamaja, Djamboeloewoek (di Ciawi) dan Tjiseroea. Secara geografis nama-nama kampong tersebut berada di luar area kerajaan Pakwan-Padjadjaran.

Tampaknya ada indikasi terdapat perbedaan sejumlah nama kampong di sisi utara-timur sungai Tjiliwong sebelum dan sesudah gunung Salak meletus. Perbedaan yang mencolok adalah munculnya nama Kampong Baroe dan nama kampong Baranang Siang. Pada Peta 1701 kampong Baranang Siang. kampong Pondok Sempoer dan kampong Babakan berada di antara kampong Bantar Kemang dan kampong Bantar Jati.

Kel Baranang Siang dan Kel Babakan (Now)
Pada masa kini, kampong Baranang Siang adalah kelurahan Baranang Siang, kecamatan Bogor Timur. Sementara kampong Babakan dan kampong Pondok Sempoer adalah kelurahan Babakan dan kelurahan Sempur, kecamatan Bogor Tengah. Sedangkan area diantara kelurahan Baranang Siang dan kelurahan Babakan ada lahan kelurahan Tegallega. Pada Peta 1701 nama kampong Teggallega tidak teridentifikasi. Boleh jadi nama-nama yang diidentifikasi adalah nama-nama kampong yang berada di sisi jalan utama. Namu ada kemungkinan dalam perkembangannya kampong/desa Babakan dimekarkan dengan membentuk kampong/desa baru yakni Tegallega.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Baranang Siang: Kebun Raya dan Rumah Sakit Roode Kruis

Di suatu lahan, tanaman yang pertama tidak selalu menjadi lebih tinggi dari yang menyusul kemudian. Nama Baranang Siang termasuk nama kampong yang dicatat pertama, tetapi nama kampang yang lebih baru yang disebut Kampong Baroe justru menjadi lebih cepat populer. Hal ini karena kapala Kampong Baroe ditinggikan Pemerintah VOC sebagai bupati dan berkedudukan di Kampong Baroe. Bupati yang diangkat tersebut diduga adalah (salah satu) pewaris Kerajaan Pakwan-Padjadjaran. Bupati ini menjadi partner Pemerintah VOC di hulu sungai Tjiliwong.

Pada tahun 1745 Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff membangun villa di hulu sungai Tjiliwong. Villa ini dibangun di dekat benteng Fort Padjadjaran. Benteng ini dirintis ketika Sersan Pieter Scipio melakukan ekspedisi kali pertama ke hulu sungai Tjiliwong pada tahun 1687. Lokasi benteng yang dipilih berada tepat di titik singgung terdekat antara sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane. Benteng dan villa ini kini tepat berada di Istana Bogor. Lahan sekitar benteng dan villa ini diakuisisi (dibeli atau disewa?) Imhoff dari Bupati Kampong Baroe dan dijadikan sebagai tanah partikelir (land) yang disebut land Bloeboer. Area sekitar villa ini kemudian disebut Buitenzorg.

VOC dibubarkan pada tahun 1799 dan lalu properti dan hak VOC diteruskan oleh Kerajaan Belanda dengan membentuk Pemerintah Hindia Belanda. Pada era Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811), sejumlah lahan di Buitenzorg dibeli pemerintah termasuk land Bloeboer. Pembelian lahan ini dimaksudkan untuk membentuk kota pemerintah (Buitenzorg) dan juga untuk membangun istana Gubernur Jenderal.

Pada tahun 1811 terjadi pendudukan Inggris. Pemerintah Hindia Belanda digantikan oleh VOC-nya Inggris yang sebelumnya berbasis di Bengkoelen) yang mana sebagai Letnan Gubernur Jenderal adalah Raffles (Gubernur Jenderalnya sendiri di India) Pada saat kekuasaan Inggris ini kemudian sebagian lahan di belakang istana dijadikan sebagai Kebun Raya. Kebun raya ini hanya sebatas jalan Juanda yang sekarang dan jalan Otista hingga sungai Tjiliwong. Kekuasaan Inggrsi hanya berlangsung singkat dan pada tahun 1816 kekuasaan kembali kepada Pemerintah Hindia Belanda.

Pada tahun 1826 Pemerintah Hindia Belanda menata ulang wilayah administratif pemerintahan. Wilayah Buitenzorg diintegrasikan dengan Batavia sebagai satu residentie yang mana di Buitenzorg hanya ditempatkan pejabat setingkat Asisten Residen. Tanah-tanah yang dibebaskan pemerintah pada era Daendels dijadikan satu district (regentschap) yang dikepalai oleh seorang Bupati. Sejak ini ibukota regentschap (Bupati) lahan pemerintah dipindahkan dari Kampong Baroe ke Empang.

Wilayah bupati lahan pemerintah (sejak 1826)
Wilayah Bupati lahan pemerintah ini meliputi area Istana dan sekitar (Hoofdplaats Buitenzorg), Pasar, Bloeboer dan Kampong Baroe. Wilayah Pasar ini termasuk Empang dan Pasar Bogor, sementara wilayah Kampong Baroe adalah area di sisi utara sungai Tjiliwong yang meliputi kampong-kampong Baranang Siang, Babakan, Sempoer dan Kedong Halang. Sedangkan wilayah (sisa) land Bloeboer di luar area Pasar yang meliputi Bondongan, Batoetoelis hingga Tadjoer.

Dalam perkembangannya, pada tahun 1860an area Kebun Raya diperluas ke sisi utara sungai Tjiliwong hingga jalan raya (jalan Pajajaran yang sekarang, depan IPB). Luas Kebun Raya telah mencapai luas kebun raya yang sekarang. Meski pembangunan kota hingar bingar di sekitar Istana (Paledang), Pasar (termasuk Empang) kampong Baranang Siang, Babakan dan Sempoer tetaplah sebagai area terpencil di dalam wilayah kota. Jalan akses ke wilayah ini melalui jembatan kayu dari Pasar Buitenzorg (kini jalan Otista). Atau juga dapat diakses dari jembatan Kedong Badak (kini jebatan Warung Jambu). Dalam perkembangannya dibuka jalan akses melalui kampong Sempoer.

Kampong Baranang Siang (Peta 1900)
Dalam perkembangan berikutnya, lahan untuk perumahan bagi orang Eropa-Belanda di sisi barat sungai Tjiliwong semakin terbatas dengan semakin meningkatkan kebutuhan perumahan. Untuk mengatasinya dibuka area perumahan ke sisi utara sungai Tjiliwong dengan membangun jalan dan jembatan akses di kampong Sempoer. Jalan dan jembatan ini kini dikenal sebagai jalan Harupat.

Sehubungan dengan munculnya perumahan di sekitar kampong Babakan, dua situs penting muncul. Pertama adalah pembangunan kampus sekolah kedokteran hewan yang lebih representatif (untuk menggantikan gedung yang berada di jalan Merdeka yang sekarang). Lokasi pembangunan kampus sekolah kedokteran hewan (Veeartsenschool) ini kini dikenal sebagai kampus FKH Taman Kencana. Sementara sekolah pertanian (Middlebarelandbouwschool) masih tetap di Pantjasan. Satu lagi situs yang dibangun adalah sebuah rumah sakit swasta di Desa Tegalllega. Rumah sakit ini kemudian bergeser menjadi rumah sakit palng merah (Roode Kruis). Rumah sakit ini dikenal sebagai rumah sakit PMI (Palang Merang Indonesia).

Menjelang sensus penduduk tahun 1930 dilakukan penataan wilayah pemerintahan terkecil dengan membentuk satuan wilayah desa (tidak lagi berdasarkan land). Satau kampong atau beberapa kampung disatukan untuk membentuk desa. Dua desa yang dibentuk di sisi utara sungai Tjiliwong adalah Desa Tegallega dan Desa Bantardjati. Kampong Baranang Siang, kampong Tegallega dan kampong Babakan disatukan menjadi satu desa dengan nama Desa Tegallega. Kampong Sempoer sendiri menjadi bagian dari Desa Bantardjati.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kampus IPB dan Jalan Tol Jagorawi di Baranang Siang

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

2 komentar:

  1. Assalamualaikum.... Numpang lewat Cerita baranangsiang di sebutkan dalam sejarah raden kamandaka dan juga di ceritakan dalam sejarah gunung kumbang jadi kalau melihat pada berbagai Cerita sejarah nama baranangsiang mulai ada sejak jaman anak-anakprabu siliwangi berguru di gunung kumbang salam santun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam. Bisa jadi iya, bisa tidak. Yang jelas berdasarkan data sejarah setelah ibu kota kerajaan Pakwan-Padjadjaran runtuh (serangan Banten), wilayah kawasan ibu kota ditinggal (sekitar kota Bogor sekarang). Pada saat ekspedisi VOC tahun 1687 kawasan ditemukan tidak berpenghuni, lalu militer VOC membangun benteng di jarak terpendek antara sungai Tjiliwong dan Tjisadane yang diberinama Fort Padjadjaran. Sejak itu para pemimpin pasukan pribumi pendukung militer VOC yang berasal dari berbagai tempat mulai membangun kampong-kampong baru (tujuan produksi) termasuk kampong Baru, kampong Baranang Siang dan sebagainya. Tujuananya adalah untuk membuka ruang wilayah ekonomi baru di hulu sungai Tjiliwong (arah pedalaman Batavia). Dalam hal ini nama Baranang Siang adalah nama baru. Namun pimpinan pasukan pribumi mana yang memberi nama tempat itu tidak diketahui. Yang jelas pasukan pribumi pendukung militer VOC ada yang berasal dari Jawa, Melayu, Sunda, Bugis dan lainnya. Lalu untuk mendukung pengembangan (pertanian di kawasan) para penduduk asli (Sunda) yang sudah lama menyingkir ke luar kawasan ditempatkan kembali.
      Dermikian

      Hapus