Tampilkan postingan dengan label Sejarah Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Bandung. Tampilkan semua postingan

Sejarah Bandung (46): Eddy Chatelin 1957, Pionir Musik Rock’n Roll (Crazy Rockers); Kelahiran Bandung, Nenek Moyang Padang


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Menelusuri masa lampau adakalanya sangat mengejutkan. Musik rock;n roll yang selama ini dikenal berkembang di Amerika Serikat, sesungguhnya bermula di Belanda. Kelahiran musik rock’n roll haruslah dikaitkan dengan jari-jari tangan Eddie Chatelin dalam memainkan gitar yang menimbulkan sound roll. Eddie Chatelin tergabung dalam grup musik Indorock (rock’n roll) The Crazy Rockers. Eddie Chatelin adalah seorang musisi Indo kelahiran Bandung dan neneknya adalah orang Padang. Bagaimana bisa? Itulah kejutannya.

Eddie Chastelin dan The Crazy Rockers
Grup musik Crazy Rockers meniru grup musik Tielman Brothers. Sidney Rampersad kelahiran Paramaribo, Suriname di Belanda mendirikan grup musik The Crazy Rockers. Sidney berperan sebagai penyanyi, gitaris dan drummer. Lalu bergabung penyanyi dan gitaris Woody Brunings (melodi) dan gitaris tunggal Eddy Chatelin (rhythm). Woody Brunings kelahiran Karibia dan besar di Suriname terbiasa dengan musik rock yang berasal dari Amerika Serikat. Sedangkan Eddy Chatelin yang berasal dari Indonesia terbiasa dengan musik kroncong. Gabungan musik rock dan musik kroncong inilah oleh dua musisi di dalam grup musik The Crazy Rockers melahirkan irama musik rock’n roll. The Crazy Rockers adalah pionir dalam musik rock’n roll. Aliran musik rock’n roll dari The Crazy Rockers kurang diterima di Belanda. Para kritikus musik Belanda menyebut musiknya musik hutan dan pemainnya monyet. Namun musik ini diterima dan digandrungi di Jerman. Musik rock’n roll The Crazy Rockers yang diterima di Jerman ini kemudian berkembang pesat di Amerika Serikat (yang boleh dikatakan diadopsi musisi Amerika Serikat seperti Elvis Presley). Dalam hal ini Tielman Brothers adalah grup musik lima Indo yang memulai karir musik di Soerabaja. Catatan tambahan: Eddie van Halen, grup musik rock asal Pasadena Amerika Serikat, ibunya kelahiran Rangkasbitung dan neneknya orang Purworejo. Itulah kejuatan tambahannya.

Lantas bagaimanan riwayat keluarga Eddie Chastelin? Itulah pertanyaan utamanya. Lalu bagaimana Eddie Chastelin dan grup musiknya The Crazy Rockers muncul dan masuk sebagai satu-satunya grup musik dari Belanda dalam Top Ten? Itulah pertanyaan berikutnya. Untuk menjawab dua pertanyaan tersebut, serta untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.  

Sejarah Bandung (45): Fakta Sejarah Radio Malabar, Diresmikan 5 Mei 1923; Misteri Kematian Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Di Bandung tempo doeloe terdapat stasion radio. Lokasi stasion radio berada di pegunungan Malabar. Stasion radio terkuat di dunia ini diresmikan oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock pada tanggal 5 Mei 1923. Namun sebelum diresmikan, pada tanggal 1 Mei antena stasion radio disebutkan disambar petir. Oleh karenanya dalam peresmian tanggal lima tersebut, Gubernur Jenderal hanya bisa mengirim telegram kepada Ratu dan Menteri Koloni (lihat De Preanger-bode,  05-05-1923). Apakah telah terjadi sabotase? Beberapa bulan sebelum proyek diresmikan terbit peraturan pemerintah bahwa penerimaan pesan oleh radio-radio amatir dilarang dan akan dipidana.

Stasion Malabar, CJ de Groot dan monumen di Bandoeng
Orang penting di belakang maha karya stasion radio Malabar ini adalah Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot. Dalam pembangunan stasion radio ini, sang arsitek de Groot didukung habis oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock. Tidak lama setelah berakhirnya jabatan Dirk Fock sebagai Gubernur Jenderal pada tahun 1826, Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot dikabarkan meninggal mendadak tanggal 1Agustus 1927. Kematian de Groot dianggap suatu misteri. Meski demikian, banyak pihak yang mengapresiasi Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot sebagai orang Belanda yang berhasil menghubungkan Belanda dan Hindia. Suatu komite telah dibentuk untuk penggalangan dana untuk membangun monumen di Bandoeng (lihat Haagsche courant, 29-12-1927).

Sejarah stasion Malabar tentu saja sudah banyak ditulis. Namun diantara tulisan-tulisan tersebut banyak keterangan yang berbeda dengan fakta dan informasi yang sebenarnya. Siapa sesungguhnya Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot kurang terinformasikan secara baik. Padahal maha karya stasion Malabar dan si jenius de Groot tidak terpisahkan satu sama lain. Sehubungan dengan itu, untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri (kembali) sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Bandung (44): Sinar Pasoendan (1933-1942) dan Parada Harahap; Surat Kabar Terbanyak di Bandung Era Kolonial


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Pada era kolonial Belanda surat kabar dalam pers nasionalis (baca: Indonesia) sudah eksis. Meski ada yang cepat gulung tikar tetapi masih lebih banyak yang bertahan lama dan terus eksis hingga berakhirnya era kolonial Belanda. Salah satu surat kabar nasionalis yang bertahan adalah Sinar Pasoendan yang didirikan pada tahun 1933. Meski surat kabar Sinar Pasoendan berbahasa daerah (Sunda) tetapi sangat nyaring dalam perjuangan nasional.

Bataviaasch nieuwsblad, 28-03-1941
Di kota Bandung pers Belanda sudah lama eksis (sejak 1902). Namun itu hanya terbatas untuk orang-orang Eropa/Belanda dan kelompok elit pribumi. Surat kabar berbahasa Melayu dan berbahasa Sunda menjadi segmen penting untuk mencerdaskan semua golong pribumi dan ruang penalaran untuk mempertajam perjuangan bangsa (melawan) Belanda. Surat kabar Sinar Pasoendan termasuk surat kabar nasional yang pernah terkena delik pers.

Surat kabar Sinar Pasoendan diterbitkan secara sadar sehubungan dengan kiprah Pagujupan Pasoendan yang semakin menguat dalam perjuangan nasional. Surat kabar Sinar Pasoendan digagas oleh tokoh PPPKI sebagai bagian dari penguatan persatuan nasional. Surat kabar Sinar Pasoendan secara tak langsung telah menjadi organ penting bagi Pagujupan Pasoendan. Meski pada awal pendiriannya sulit, tetapi surat kabar Sinar Pasoendan secara bertahap mampu menjadi surat kabar yang berpengaruh di Bandung dan Priangan.

Sejarah Bandung (43): Letnan Kolonel Ir. MO Parlindungan, Direktur PT PINDAD Pertama; Insinyur Teknik Kimia, Delf, 1943


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Tidak ada nama Letnan Kolonel Ir. MO Parlindungan pada masa ini di Bandung. Namun nama Letnan Kolonel Lembong masih dikenal di Bandung sebagai nama Jalan Lembong. Sama-sama letnan kolonel tetapi memiliki latar belakang yang berbeda. Adolf Gustaaf Lembong memulai karir sebagai serdadu KNIL di era kolonial Belanda, AFP Siregar gelar MO Parlindungan memulai karir sebagai insinyur teknik kimia di era pendudukan Jepang. Dalam perang kemerdekaan keduanya memiliki start yang berbeda.

Bandoeng 1951: MO Parlindungan (kiri; AH Nasution (kanan)
Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 terjadi perang kemerdekaan melawan Sekutu/Inggris dan NICA/Belanda. Dalam masa perang kemerdekaan ini dua markas Tentara Rakyat Indonesia (TRI) yang kemudian berganti nama menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah Jogjakarta dan Bandoeng. Ini semua karena NICA/Belanda dengan pasukan KNIL-nya telah menguasai sepenuhnya Djakarta, Soerabaja dan Semarang. Praktis pusat kekuatan Republik Indonesia berada di dua kota pedalaman ini. Intensitas perang kemerdekaan juga terjadi di seputar dua kota ini.

Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (27 Dsember 1949) beberapa tempat strategis segera dikuasai oleh TNI. Salah satunya berada di Bandoeng yakni Perusahaan Sendjata dan Mesioe (PSM). Perwira TNI yang ditunjuk untuk menanganinya adalah Letnan Kolonel Ir. MO Parlindungan. Perusahaan yang memproduksi senjata dan mesiu di Bandoeng ini kemudian dikenal PT Pindad. Bagaimana itu bisa terjadi? Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. .   

Sejarah Bandung (42): Mengenal Letnan Kolonel Lembong, Nama Jalan di Bandung; TNI Desersi KNIL Dibunuh oleh KNIL


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Ada nama jalan di Bandung disebut Jalan Lembong. Adolf Gustaaf Lembong adalah Letnan Kolonel TNI yang terbunuh di Bandung 23 Januari 1950 oleh pasukan KNIL di bawah komando  Raymond Westerling. Atas permintaan keluarga, kuburun Letnan Kolonel Lembong dipindahkan dari Bandung ke Djakarta. Juga atas permintaan keluarga kepada pemerintah Kota Bandung nama Adolf Gustaaf Lembong dijadikan nama jalan.

Nieuwsblad van het Zuiden, 18-07-1945
Sebelum pendudukan militer Jepang banyak pemuda Indonesia yang menjadi tentara Belanda (KNIL), Adolf Gustaaf Lembong termasuk diantaranya. Sejarah Lembong berlika-liku. Lembong sebagai pasukan Amerika Serikat bergerilya melawan militer Jepang di Filipina. Ketika Belanda kembali ke Indonesia, Lembong kembali bergabung dengan KNIL. Dalam perkembangannya Lembong membelot ke RI dan menjadi TNI. Sebagai perwira TNI pasca pengakuan kedaultan Indonesia ditugaskan ke Bandung. Lembong termasuk korban dari pembunuhan pasukan KNIL di bawah komando Westerleing.

Adolf Gustaaf Lembong adalah tentara yang langka. Kisahnya yang berlika-liku membuat Letnan Kolonel Lembong semakin langka. Itulah alasan artikel ini dibuat. Untuk memahami sejarah Letnan Kolonel Lembong mari kita telusuri sumber-sumber tempo dulu.  

Sejarah Bandung (41): Pertandingan PSMS Medan vs Persib Bandung Mengapa Disebut Pertemuan El Clasico Sejati di Indonesia?

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini


Beberapa menit lagi akan dilakukan kick-off antara Persib Bandung vs PSMS Medan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung dalam babak penyisisihan grup Piala Presiden 2018. Seorang pembaca dari Semarang sore tadi mengirim email menanyakan mengapa akhir-akhir ini pertandingan Persib Bandung va PSMS Medan dinobatkan sebagai pertandingan El Classico di Indonesia? Pembaca tersebut sebelumnya telah membaca Sejarah Sepak Bola di Semarang yang dimuat dalam blog ini.

Persib vs PSMS: Final Kejuaraan Nasional di Stadion Senayan, 1985
Sambil menunggu kick-off dan selama jalannya pertandingan antara PSMS vs Persib saya akan coba mengkompilasi pertemuan kedua tim (sejak era kejuaraan perserikatan) dan pertemuan kedua klub (sejak era liga Indonesia). Mungkin pertanyaan tersebut sedikit dapat dijawab, tetapi semoga itu dapat membantu. Artikel ini seyogianya dilihat sebagai rangkaian sejarah sepak bola di Indonesia. Dalam blog ini juga telah diupload artikel tentang sejarah sepak bola di Medan, di Bandung, di Jakarta, di Semarang, di Surabaya, di Padang dan di Makassar.

Pada malam ini PSMS dan Persib kembali lagi untuk bertemu untuk yang ke-54 kali sejak Persib Bandung dan PSMS Medan bertemu pertama kali pada tahun 1952. Kedua tim perserikatan teresebut bertemu dalam kejuaraan perserikatan. Lantas apa spesialnya pertemuan Persib Bandung dan PSMS Medan pada malam ini. Mari kita lacak sejarah pertemuan kedua tim/klub legendaris ini.

Sejarah Bandung (40): Sejarah Sepak Bola Bandung Bermula 1904; Riwayat Suporter, El Clasico Bandung vs Jakarta Sejak 1927

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini


Suporter sepak bola adalah bagian dari sepak bola. Sejarah suporter sepak bola setua klub sepak bola. Pertandingan derby (rivalitas) dua klub sepak bola menjadi hal yang ditunggu suporter sepak bola. Suporter fanatik adalah suporter setia klub yang mendukung klub kemana pun bertanding. Pertandingan derby clasico (El Clasico) adalah pertandingan rivalitas dua klub yang sudah ada sejak doeloe dan berlangsung hingga kini. El Clasico tidak hanya antara Real Madrid dengan Barcelona, tetapi juga antara lain: PSMS Medan versus Persib Bandung.

Iklan El Clasico Jakarta vs Persib, 1927
Pada tahun ini di antara enam klub legenda Indonesia, Persib Bandung sedikit murung. Prestasi Persib Bandung agak kendor. Persija Jakarta dan PSM Makassar sama-sama berada di peringkat empat besar (Big Four) Liga-1. Tiga klub legenda lainnya, Persebaya Surabaya, PSMS Medan dan PSIS Semarang berada di peringkat tiga besar Liga-2 dan sama-sama promosi ke Liga-1. Pada tahun 2018 ini untuk kali pertama enam klub legenda Indonesia bertemu dalam liga level tertinggi sejak era perserikatan..

Suporter sepak bola Bandung, yang disebut Bobotoh terbilang suporter fanatik di Indonesia. Suporter fanatik Bandung bahkan sudah muncul sejak tahun 1910. Bagaimana kisah suporter Bandung di masa lampau tidak pernah ditulis. Tentu riwayat para suporter ini menarik untuk diperhatikan, karena kelahiran mereka juga setua klub yang didukungnya. Mari kita telusuri.

Sejarah Bandung (39): Delft dan Sejarah ITB Bandung, Utrecht dan Sejarah IPB Bogor; MO Parlindoengan dan Sorip Tagor

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini


Di kalangan mahasiswa dan alumni Technische Universiteit Delft (TU Delf) asal Indonesia terjadi kehebohan beberapa minggu yang lalu. Hal itu dipicu dengan adanya kebohongan publik yang diakui oleh Dwi Hartanto. Kasus Dwi Hartanto TU Delf mengakibatkan munculnya polemik seputar sekolah tinggi eksak di Indonesia. TU Delft sendiri sejak dari doeloe sudah cukup dikenal di Indonesia karena TU Delft memiliki hubungan historis dengan Technische Hoogeschool Bandoeng (cikal bakal Institut Teknologi Bandung).

Logo Technische Universiteit Delft
TU Delft adalah sekolah sulit tapi prestisius. Salah satu alumni sekolah tinggi teknik ini adalah direktur pertama PT. PINDAD Bandung (1950-1954). Sejak doeloe, selain TU Delft sebagai jalur mahasiswa asal Indonesia di bidang eksak adalah Fakultas Kedokteran Universiteit van Amsterdam, salah satu alumninya adalah perempuan Indonesia pertama bergelar Doktor (Ph.D) di bidang kedokteran tahun 1931. Satu lagi universitas yang sulit adalah Fakultas Kedokteran Hewan Universiteit Utrecht yang mana salah satu alumninya adalah orang Indonesia pertama berlisensi Eropa sebagai Dokter Hewan tahun 1920. Dokter hewan yang memulai karir di Istana Gubernur Jenderal ini kemudian dipromosikan menjadi Kepala Dinas Kedokteran Hewan Province West Java di Bandoeng (kelak dikenal sebagai kakek Inez/Risty Tagor).

Bagaimana sejarah perguruan tinggi di Indonesia khususnya perguruan tinggi di bidang eksak terutama ITB dan IPB tidak terinformasikan dengan lengkap.  Oleh karena munculnya kasus Dwi Hartanto di Delf memungkinkan untuk menelusuri kisah-kisah mahasiswa Indonesia di masa lampau. Mari kita telusuri dengan memulai kisah MO Parlindoengan, alumni kedua sekolah tinggi teknik di Delft.

Sejarah Bandung (38): Siti Rachmiati Meutia; Gadis Kelahiran Bandoeng Menjadi Istri Wakil Presiden Mohammad Hatta

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini


Sangat jarang nama asli istri Mohammad Hattta, Wakil Presiden pertama Indonesia disebut. Di dalam Wikipedia disebut Siti Rahmawati. Di dalam sumber lain disebut Rahmi Rachim. Lantas mana yang benar? Untuk itu kita perlu telusuri nama aslinya. Di dalam sumber lama, De nieuwsgier, 12-03-1954 menyebut nama asli istri Mohammad Hatta adalah Siti Rachmiati Meutia.

Siti Rachmiati, istri Mohammad Hatta (foto 1963)
Informasi nama asli istri Mohammad Hattta, Wakil Presiden ditulis oleh Herawati Diah, seorang wartawati kawakan. Tulisan Herawati Diah ini dimuat dalam surat kabar De nieuwsgier edisi 12-03-1954. Dengan demikian penulisan nama asli istri Mohammad Hattta dapat dikatakan sumbernya sangat kuat.

Lantas mengapa nama asli istri Mohammad Hatta menghilang dan sangat jarang ditemukan pada masa ini? Siti Rachmiati Meutia sendiri menuturkan kepada Herawati Diah bahwa nama Meutia tidak digunakan lagi karena dua nama sudah cukup. Oleh karenanya, nama yang kerap ditulis adalah Siti Rachmiati.

Sejarah Bandung (37): KF Holle, Tokoh Pendidikan di Preanger; Kweekschool Bandoeng Dibuka 1866

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini


Seseorang menulis pada surat kabar Java Bode 03-02-1864 mengindikasikan bahwa di Bandoeng dibutuhkan 15 guru. Namun tidak praktis dengan cara mengirim siswa untuk studi ke Belanda (seperti yang telah dilakukan oleh Willem Iskander). Pembaca menulis ini besar dugaan adalah KF. Holle.

KF Holle, 1860
Gubernur Sumatra’s Westkust Van den Bosche telah datang ke Tanobato untuk melihat sekolah guru yang didirikan dan diasuh Willem Iskander tanggal 13 September 1863. Dia melihat kemajuan sekolah guru itu dan mengusulkan kepada Gubernur Jenderal di Batavia agar sekolah guru di Fort de Kock dan sekolah guru di Tanobato ditutup dan dibangun di Kota Padang sekolah guru yang besar yang dapat dipimpin oleh Willem Iskander. Dalam tindak lanjut usul itu, parlemen (Raad van Indie) menolak usul itu. Yang mengemuka dalam sidang itu adalah perlunya reformasi pendidikan. Isu inilah yang diduga mengapa seseorang menulis di surat kabar Java Bode yang coba membentangkan kebutuhan guru sebanyak 15 orang tersebut.

KF Holle adalah seorang pengusaha perkebunan sukses di Preanger. Pengusaha perkebunan ini ternyata sangat suka belajar, mempelajari budaya dan kesusasteraan Soenda. KF Holle tampaknya memiliki misi yang ideal dan sesuai dengan kebutuhan di Preanger: meningkatkan literasi penduduk sambil mengembangkan kesusasteraan dan mengembangkan industri perkebunan dengan meningkatkan ketersediaan tenaga kerja pribumi yang terdidik.

Sejarah Bandung (36): Faisal bin Abdul Azis, Raja Arab Saudi Pernah ke Bandung (1955); Kini, Raja Salman bin Abdul Azis ke Bogor


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

De nieuwsgier, 25-04-1955
Radja Arab Saudi tiba di Indonesia tanggal 1 Maret 2017. Kunjungan bersejarah ini diagendakan berakhir tanggal 9 Maret 2017. Saya berangkat tanggal 2 Maret 2017 ke Arab Saudi dan pulang tanggal 10 Maret 2017 di Indonesia, Saya dalam rangka melaksanakan umroh, Radja Saudi dalam tugas kenegaraan. Jumlah hari kami sama—sembilan hari. Ketika Raja Arab Saudi datang saya masih ada di Indonesia, ketika dia selesai berkunjung saya masih ada di Arab Saudi. Jadi, saya seakan harus menunggu kedatangannya dan juga saya baru pulang setelah berakhir kunjungannya di Indonesia. 

Dalam kunjungan Raja Salman, di hari kedatangan (2 Maret) di Istana Bogor langsung dilakukan penandantanganan MoU yang dilakukan para menteri kedua Negara di hadapan Raja Salam dan Presiden Jokowi. Kesepatatan mencakup peningkatan hubungan kedua negara di antaranya mencakup kerja sama hubungan luar negeri, kesehatan, kebudayaan, transportasi, perdagangan, keagamaan serta pendidikan. Dalam pertemuan tersebut, sejumlah menteri kedua negara turut serta di dalamnya. Dari Indonesia, hadir Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan (detik.com).

Artikel ini tidak dalam membicarakan tentang kewajiban saya sebagai hamba Allah dan juga tidak dalam mendiskusikan tugas Raja Arab Saudi sebagai pemimpin Negara Arab Saudi. Artikel ini sekadar menelusuri hubungan antara Negara Arab Saudi dengan Negara Indonesia di masa lampau, spesifiknya saling mengunjungi antara Raja Arab Saudi dan Presiden Indonesia.

Hubungan antara Indonesia dengan Arab Saudi sesungguhnya sudah terjalin sejak masa lampau, terutama pada penggal sejarah antara era Batavia dan Jeddah. Pada masa ini terus berlangsung antara hubungan Jakarta dan Jeddah dan hubungan Arab Saudi dan Indonesia.

Sejarah Bandung (35): Sungai Cikapundung, Air Mengalir Dari Curug Dago Sampai Dayeuh Kolot; Riwayatmu Kini

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Curug Dago, Lukisan Groneman 1860
Sungai Tjikapoendong adalah sungai terbesar di Kota Bandoeng yang mengalir dari utara ke selatan. Batas paling utara dari sungai Tjikapoendong adalah Tjoeroeg Dago dan batas paling selatan dari sungai Tjakopendoeng adalah Kampong Dajeuh Kolot.

Kota Bandoeng dalam hal ini adalah kota yang dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1829 ketika kali pertama Controleur ditempatkan di Bandoeng. Lalu dalam perkembangannya, sejak 1946, ketika Asisten Residen Bandoeng ditempatkan, kota Bandoeng berkembang semakin pesat. Saat itu, sungai Tjikapoendoeng sebagai sungai terbesar di Kota Bandoeng masih tampak deras, jernih dan indah. Sungai Tjikapoendoeng saat itu airnya disodet di hulu dengan membangun kanal-kanal untuk mengairi perkebunan dan persawahan yang dikerjakan oleh penduduk di bawah arahan Bupati Bandoeng.

Sejarah Bandung (34): Kampung Cicendo; Kampung Terpencil, Tempat Makam Belanda Hingga Peristiwa Bom Panci

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini


Kampung Cicendo di Bandoeng sudah dikenal sejak masa Daendels. Nama kampong yang berada di area lebih tinggi di utara cekungan Bandoeng ini bahkan sudah dipetakan sebagai nama kampong yang dilalui jalan pos trans-Java (Peta 1818). Pada tahun 1829, jalan pos digeser ke area lebih rendah (jalan lurus) yang kemudian disebut Groote post weg. Akibatnya, Kampong Tjitjendo semakin jauh dari jalan pos dan kampong tersebut tampak semakin terpencil. Sementara di jalan pos yang baru, Lambat laun tampak semakin ramai dan terus berkembang yang menjadi sebagai pusat kota Bandoeng. Bahkan ketika area jalan pos yang baru ini telah menjadi kota besar, Kampong Tjitjendo tetap terpencil dan sunyi.

Peta 1818
Sesungguhnya embrio kota Bandung mulai terbentuk tahun 1829 saat mana Controleur Bandoeng ditempatkan kali pertama yang berkedudukan (ibukota) persis di sisi utara jalan pos dan sebelah timur sungai Tjikapoendong. Dalam perkembangan lebih lanjut, pada tahun 1846 Asisten Residen Bandoeng ditempatkan dan istana Bupati Banndoeng dibangun di sisi selatan jalan pos dan sebelah barat sungai Tjikapoendoeng.

Sejak nama Tjitjendo muncul dalam peta  (1818) kabar berita tentang kampong Tjitjendo tidak pernah terdengar. Namanya baru terdengar tahun 1880an sebagai wilayah administratif yang berstatus desa di dalam distrik Odjoeng Brung Koelon, Afdeeling (Kabupaten) Bandoeng, Residentie (Province) Preanger Regentshappen. Desa Tjitjendo terdiri dari beberapa kampong, selain kampong Tjitjendo juga termasuk kampong Tjikokak dan kampong Tjitepoes. Di desa Tjitjendo ini kerap terbaca di surat kabar tentang adanya transaksi jual-beli lahan.

Sejarah Bandung (33): Novel Karya F. Springer ‘Bandung, Bandung’; Bukti Orang Belanda Tetap Cinta Bandung

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini


Semua orang Belanda boleh jadi ingat nama Bandung. Bahkan para veteran Belanda sangat merindukan Kota Bandung. Hemat kata: ‘orang-orang Belanda selalu membicarakan Bandung. Akan tetapi dari mereka semua hanya satu orang yang mengabadikannya dalam bentuk novel, yakni F. Springer. Novel karya kelahiran Batavia 1932 ini diberi judul: ‘Bandung, Bandung’. Karya ini terbit tahun 1993 yang masuk nominasi AKO Literatuur Prijs (Nederlands dagblad : gereformeerd gezinsblad / hoofdred. P. Jongeling ... [et al.], 25-10-1994). AKO Literatuur Prijs adalah Hadiah Sastra bergengsi di Belanda).

De Telegraaf, 16-04-1993
Novel yang berbau nostalgia ini digarap dengan bahasa apa adanya, Namun sangat menyentuh, karena penulisnya yang bernama asli Carel Jan Schneider mengalami hidup di negeri tropis termasuk di Bandung bahkan ikut dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Jepang. F. Springer adalah nama samaran karena ia adalah seorang diplomat yang di waktu luangnya menulis buku fiksi. Karya fenomenal ‘Bandung, Bandung’ boleh dikata merupakan hasil karya terbaik Carel Jan Schneider alias F. Springer (De Telegraaf, 16-04-1993).

Judu karya F. Springer sangat simple, pengulangan nama kota Bandung. Ini mengindikasikan bahwa Bandung ya Bandung.  F. Springer seakan ingin membatasi ruang imajinasi pembaca hanya tertuju ke Bandung, tetapi dengan pengulangan nama (dibaca dua kali) dapat dianggap sebagai hal yang tersirat Bandung sebagai nama yang sangat special dan begitu penting.

Sejarah Bandung (32): Bandoeng Vooruit! Mooi Bandoeng; Dari Bandung, Oleh Bandung, Untuk Bandung

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Kawah gunung Tangkoeban Prahoe (1900)
Wali Kota Bandung sangat menyadari bahwa Kota Bandoeng harus dikembalikan ke awal: Kota yang Indah dan Nyaman. Wali Kota yang enerjik ini juga ingin ‘marwah’ Kota Bandung perlu direcall melalui pentingnya sejarah. Seperti kata orang Bogor: ‘Dinu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga’. Untuk membangkitkan ‘batang tarandam‘ tersebut Wali Kota juga menekankan pentingnya partisipasi warga. Dengan demikian Wali Kota tidak bisa sendiri, harus ‘total footbal’: semua harus maju tetapi juga semua harus bisa melihat ke belakang.

Semangat serupa inilah yang pernah muncul pada tahun 1925 di Bandoeng dimana sejumlah orang memprakarsai didirikannya klub pecinta Bandoeng dengan nama Vereeniging Bandoeng Vooruit (Sarikat Bandung Maju). Klub ‘sadar kota’ ini adalah seperti klub-klub social lainnya, seperti Societeit Concordia, klub Paroekoenan. Namun klub Bandoeng Vooruit lebih focus pada upaya promosi kota agar kunjungan para wisatawan lebih meningkat lagi.

Sejarah Bandung (31): Gedung Merdeka, Eks Gedung Societeit Concordia; Lahirnya Sarikat-Sarikat Kebangsaan Indonesia

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini


Gedung Merdeka Bandung sungguh sangat terkenal. Di Gedung Merdeka ini diselenggarakan Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Pemberian nama gedung dengan nama Gedung Merdeka dilakukan sebelum penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika yang juga disebut Konferensi Bandung 1955. Saat itu bangunan termewah di Bandung adalah Gedung Merdeka.

Societeit Bandung (foto) 1935.
Gedung Merdeka sendiri adalah hasil renovasi dari bangunan sebelumnya, Societeit Concordia. Jika mundur ke belakang, Gedung Societeit Concordia yang sebelumnya menghadap ke Braga weg, pada tahun 1920 diperluas dengan membentuk gedung utama tetapi menghadap ke Groote post weg. Gedung Societeit Concordia yang menghadap ke Braga weg dibangun tahun 1895. Bangunan ini dibuat baru untuk menggantikan bangunan societeit lama yang dibangun tahun 1870.

Gedung Merdeka menjadi tempat pertemuan (konferensi) para pemimpin dunia dari negara-negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika. Oleh karenanya Gedung Merdeka dapat dikatakan sebagai simbol gedung pertemuan para pemimpin dunia. Gedung Merdeka sendiri adalah eks gedung Societeit Concordia, suatu klub sosial orang-orang Eropa/Belanda yang diberi nama Concordia.  

Sejarah Bandung (30): Nama-Nama Jalan di Bandoeng Tempo Doeloe; Jalan Braga Paling Terkenal; Jalan Lain Juga Perlu Dikenal

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini


Hampir semua nama jalan pada era Belanda di Bandung yang berbau Belanda telah diganti, kecuali beberapa yang masih terus eksis. Demikian juga nama Tionghoa telah digeser. Yang ada sekarang umumnya nama-nama pahlawan. Nama-nama seperti pulau, nama daerah, nama gunung sebagian besar masih tetap dipertahan.

Winkel straat di Bandoeng (foto 1900)
Di Bandung hanya beberapa berbau Tionghoa dan itu telah diganti. Di medan nama-nama Tionghoa sangat banyak dan semuanya telah diganti bahkan nama Sun Jat Sen. Di Bandung masih dipertahankan nama-nama berbau Eropa/Belanda, seperti jalan Braga dan jalan Pasteur. Di Medan, semua nama berbau Eropa/Belanda diganti. Kekecualian untuk jalan Max Havelaar diubah dengan nama jalan Multatuli. Pasteur memiliki ikatan emosional dengan Bandung, demikian juga Multatuli memiliki ikatan emosional dengan Medan.

Nama Jalan Pertama

Nama jalan pertama di Bandung adalah Groote post weg (jalan besar) yang merupakan jalan pertama yang ada di Bandung. Jalan ini sudah ada sejak era Daendels. Groote post weg (mulai dari Tjimahi hingga Odjoengbrung) telah dibagi ke dalam beberapa ruas jalan dengan nama yang baru seperti jalan Asia Afrika.

Sejarah Bandung (29): Kampung Merdika di Bandung; Merdeka Sejak Era Belanda, Kawasan Elit di Bandung Utara

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini


Di Medan sempat muncul surat kabar Benih Mardeka tahun 1916. Karena itu orang Medan sangat bangga karena sudah ada surat kabar yang menyuarakan merdeka sebelum kemerdekaan Indonesia. Demikian juga di Padang Sidempuan tahun 1919 terbit surat kabar Sinar Merdeka dengan editor Parada Harahap. Di Bandung bahkan lebih awal lagi, sejak 1892 dilaporkan ada nama kampong bernama Merdika.

Woningen aan de Nieuwe Merdikaweg te Bandoeng 1905
Merdika, Mardeka dan Merdeka tiga kata yang memiliki pengertian yang sama, hanya beda pelafalan saja. Surat kabar Benih Mardeka memiliki motto 'Orgaan Oentoek Menoentoet Keadilan dan Kemerdekaan'. Sedangkan Sinar Merdeka dengan motto ‘Organ Ontoek Kemadjoean Bangsa dan Tanah Air'.

Kampong Merdika Bandung tidak dalam konteks berpolitik. Namun namanya cukup terkenal di Bandung. Terkenal karena letak kampong ini tidak jauh dari rumah Asisten Residen Bandung dan sekolah guru (Kweekschool) Bandung. Kampong Merdika merupakan transformasi Kampong Lio namanya kemudian menjadi desa Merdika Lio yang dalam perkembangannya menjadi kawasan elit di Bandung (Utara). Lantas mengapa nama kampong itu disebut Merdika? Ini ceritanya.

Asal Usul Kampong Merdika

Pada tahun 1846 pemerintah membangun sejumlah bangunan yang memerlukan bata. Bangunan-bangunan tersebut adalah rumah Asisten Residen, istana Bupati Bandoeng, kantor pos, penjara, gedong mahkamah dan tentu saja renovasi kantor Controleur (yang sudah dibangun sejak 1829). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pabrik bata dibangun karena tanahnya sesuai untuk menghasilkan bata berkualitas.

Sejarah Bandung (28): Nama-Nama Kampung di Bandung Tempo Doeloe; Mengapa Tidak Ada Nama Kampong Asli?

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Kantor Controleur Bandoeng  (foto 1880)
Asal-usul Kota Bandung sangat unik. Tidak memiliki nama kampong asli. Semua nama-nama kampong atau nama area yang ada sekarang merupakan nama-nama yang mencul kemudian. Awal munculnya Kota Bandung (di sekitar titik nol Bandung) adalah ketika controleur (pejabat Pemerintah Hindia Belanda terendah) ditempatkan kali pertama di Regetschap (kabupaten) Bandoeng. Kantor controleur dipilih di sisi utara jalan pos trans-Java yang baru dan di sisi timur sungai Tjikapoendoeng. Kampong Bandoeng sendiri berada di pertemuan sungai Tjikapoendoeng dengan sungai Tjitaroem. Nama kota baru (bentukan Belanda ini) mengadopsi nama kampong Bandoeng. Nama kompong Bandoeng lama berubah menjadi Dajeuh Kolot. Bupati Bandoeng, pindah dari Dajeuh Kolot ke kota Bandoeng tahun 1846 (bersamaan dengan penempatan pertama Asisten Residen Bandoeng di kota Bandung).

Identifikasi Nama Bandoeng

Nama Bandoeng sudah lama ada. Orang-orang Portugis sudah mengidentifikasi nama Bandoeng di dalam peta 1755 sebagai suatu wilayah di utara wilayah Sidamer. Di dalam peta tersebut, di timur wilayah Bandoeng adalah wilayah Priangan. Sementara di selatan wilayah Priangan adalah wilayah Soekapoera. Di pantai selatan Jawa, wilayah antara Soekapoera dan wilayah Sidamer adalah wilayah Kandang Wessi.

Sejarah Bandung (27): Peta Bandung Tempo Doeloe; Dari Jalan Setapak Hingga Jaringan Jalan Kota Modern

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Kota Bandung yang ada sekarang adalah suatu jaringan jalan kota modern. Jika kita kembali ke masa lampau, sejauh yang masih bisa ditelusuri, di tengah jaringan kota Bandung yang sekarang awalnya hanya ada satu jalan: Yakni jalan setapak yang merupakan jalan penghubung antara Bandoeng (di pertemuan sungai Tjikapoendoeng dengan sungai Tjitaroem) dengan Tjipaganti (di hulu sungai Tjipagantie).

Kota Bandung di tengah bukit barisan, 1920
Peta adalah salah satu bentuk data otentik yang dapat digunakan untuk menyusun sejarah suatu kota. Namun demikian, peta harus didukung informasi lain seperti lukisan/foto dan surat kabar (berita, iklan dan data statistic) atau buku/majalah. Peta-peta kuno, peta awal tumbuhnya kota-kota di Hindia Belanda (baca: Indonesia) dibuat oleh kantor tofografi (yang bekerjasama dengan militer). Sebelum ada peta kota, umumnya terlebih dahulu ada peta wilayah dimana kota itu ada.

Untuk memahami wilayah Preanger dan kota Bandung mari kita telusuri semua peta-peta yang ada ditambah dengan informasi-informasi yang bersumber dari surat kabar dan foto-foto serta surat-surat keputusan Gubernur Jenderal. Tentu saja juga didukung dengan buku-buku yang telah diterbitkan.