Sejarah Menjadi Indonesia (26): Sejarah Darah Indonesia; Pemisahan Pribumi 1898 dan Debat Soal Negara Nenek Moyang 1928


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Soal ‘darah Indonesia’ marak lagi pada minggu terakhir ini. Itu dipicu oleh soal pro-kontra jawaban artis Agnes Monica dalam suatu wawancara. Munculnya pro kontra karena yang ditanya (pewawanvara) dan yang dijawab (Agnes Monica) tidak sinkron. Demikian juga antara apa yang dimaksudkan Agnes Monica dengan apa  yang dipikirkan netizen (pembaca dan pendengar) tidak sinkron pula. Akibatnya muncul gaduh.

‘Darah Indonesia’ adalah frase menunjukkan ‘bangsa Indonesia’. ‘Bangsa Indonesia’ adalah dua kata yang sejarahnya berbeda tetapi beriringan. Perdebatan yang muncul pertama adalah soal ‘bangsa’, lalu muncul soal ‘Indonesia’. Baru kemudian memasuki perdebatan soal ‘bangsa Indonesia’. Kesadaran soal ‘bangsa’ dimulai tahun 1898 ketika pemerintah membuat kebijakan yang memisahkan diantara para pribumi (inlandsche) dan perihal naturalisasi. Lalu pada tahun 1927 muncul perdebatan soal klaim wilayah ‘Indonesia’ sebagai negara nenek moyang antara ‘orang pribumi’ dan ‘orang Eropa/Belanda’. Perdebatan yang terakhir adalah soal ‘pembauran’ di dalam ‘bangsa Indonesia’ yang terjadi pada tahun 1938. Semua hasil perdebatan itu itu dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 telah dikunci, Ir. Soekarno membacakan dengan jelas ‘bangsa Indonesia’ (‘darah Indonesia’).

Kegaduhan karena kurangnya pengetahuan sejarah. Artikel ini tidak dalam konteks membicarakan soal kegaduhan itu. Artikel ini hanya fokus untuk menyusun kronologis soal (perdebatan) ‘darah Indonesia’ atau ‘bangsa Indonesia’ mulai dari ‘kesadaran berbangsa’ hingga proklamasi kemerdekaan ‘bangsa Indonesia’. Sejauh ini soal kronologis ini kurang mendapat perhatian dalam sejarah Indonesia. Untuk menambah pengetahuan kita soal ‘bangsa Indonesia’ ini mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (60): Kiprah Abdurrahman Baswedan, Kakek Gubernur DKI Jakarta; Sejarah Keluarga Baswedan di Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Belum lama ini kekek Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dianugerahi Pahlawan Nasional. Abdurrahman Baswedan disebutkan telah ikut berjuang di era kolonial Belanda hingga Indonesia merdeka. Peran awal yang terpenting Abdurrahman Baswedan adalah menyatukan warga keturunan Arab untuk bersatu berjuang demi Indonesia. Abdurrahman Baswedan juga turut aktif  dalam persiapan kemerdekaan Indonesia sebagai anggota BPUPKI.

Keluarga Baswedan tidak hanya Abdurrahman Baswedan dan Anies Baswedan tetapi juga ada nama Novel Baswedan. Tentu saja masih banyak lagi. Nama Baswedan sebagai marga (family name) sudah muncul sejak era kolonial Belanda. Jumlahnya tidak banyak tetapi perannya cukup menonjol. Yang  paling populer adalah Abdurrahman Baswedan.

Sejarah Abdurrahman Baswedan tentu saja sudah ditulis. Namun bagaimana kiprah keluarga Baswedan sejak era kolonial Belanda belum pernah ditulis. Oleh karena itu sejarah Abdurrahman Baswedan tidak cukup sampai disitu. Abdurrahman Baswedan sebagai Pahlawan Nasional dan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta menambah daya tarik untuk mengetahui sejarah keluarga Baswedan. Untuk itu mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.  

Sejarah Menjadi Indonesia (25): Sejarah Jalan Pos Trans-Java; Jalan Tol Doeloe Ala Daendels dan Beslit 11 Desember 1809


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Dalam sejumlah artikel dalam blog ini sudah disinggung tentang sejarah awal pembangunan jalan pos Trans-Java, jalan yang kerap diasosiasikan dengan Gubernur Jenderal Daendels. Dalam artikel ini dihadirkan dasar hukum yang digunakan dalam pembangunan jalan pos tersebut yakni Beslit 11 Wintermaand 1809. Di dalam beslit ini banyak informasi yang selama ini kurang terinformasikan seperti apa jalan pos tersebut dibangun.

Bataviasche koloniale courant, 05-01-1810
Jalan pos trans-Java ini kerap dihubungkan dengan nama Daendels, jalan yang sering disebut jalan yang menghubungkan antara Anyer dan Panarukan. Jalan pos ini pada awalnya hanya terbatas di Jawa, karena itu jalan pos ini juga disebut jalan Trans-Java. Jalan ini dapat dikatakan jalan darat pertama yang dirancang untuk menghubungkan tempat-tempat utama di seluruh Jawa. Fungsi utama jalan pos ini adalah untuk jalur pengangkutan barang-barang pos. Jalan pos ini juga digunakan sebagai lalu lintas utama di daratan dalam pergerakan militer.  

Untuk menambah pengetahuan kita tentang sejarah awal jalan pos Trans-Java Daendels tersebut ada baiknya ditinjau pasal demi pasal dalam beslit tersebut. Dengan begitu kita akan mengetahui tempat-tempat utama mana saja yang dihubungkan oleh jalan pos tersebut. Hal yang juga penting apa saja yang terkait dengan pembangunan jalan pos tersebut. Untuk mengetahui hal tersebut mari kita tinjau beslit tersebut dan memperkayanya dengan sumber-sumber terkait sejaman.

Sejarah Sukabumi (40): Sejarah Gempa Bumi dan Bencana Alam di Sukabumi; Sejarah Letusan Gunung Api di West Java


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Satu ancaman manusia tempo doeloe sudah punah di Soekaboemi yakni macan. Namun masih ada satu hal lagi yang terus mengancam kehidupan di Soekaboemi yang sudah kerap muncul sejak dari doeloe yakni banjir dan gempa. Ancaman banjir boleh jadi sudah dapat ditangani tetapi tidak dengan gempa. Peristiwa gempa kejadiannya adakalanya tidak terduga dan kejadiannya dapat berulang (bahkan hingga ke masa depan).

Dampak gempa di Sukabumi (De Volkskrant, 12-02-1975)
Gempa terjadi karena disebabkan dua hal: proses vulkanik dan proses geologi atau proses tektonik (pergeseran lempengan bumi). Gempa akibat proses vulkanik di Soekaboemi sudah lama terjadi yakni meletusnya gunung Salak (1699) dan meletusnya gunung Gede (1834). Namun gempa akibat proses tektonik masih kerap terjadi bahkan belum lama ini dirasakan dan sempat menimbulkan kepanikan di Sukabumi.

Upaya kita warga Sukabumi untuk merespon gempa adalah dengan cara mengantisipasinya agar dampak yang ditimbulkan minimal--tidak tidak ada korban jiwa. Peristiwa gempa sebagai kejadian yang berulang menjadi penting untuk mencatat kembali kejadian-kejadian yang terjadi di masa lampau. Informasi ini selain dapat memperkaya data badan/instansi terkait, catatan sejarah ini paling tidak sebagai pengingat agar kita tetap waspada terhadap ancaman gempa bumi. Untuk itu mari kita catat kejadian-kejadian gempa yang pernah terjadi di Soekabimi berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Sukabumi (39): Adakah Harimau, Macan, Maung di Sukabumi? Harimau Hitam (Black Panther) di Djampang Koelon


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Harimau atau macan adalah raja hutan. Tempo doeloe hutan masih tersebar luas. Ketika kegiatan manusia semakin mempersempit area hunian mereka, tidak jarang harimau-harimau ini memasuki perkampungan penduduk untuk mengincar ternak dan bahkan manusia juga menjadi target. Saat itu tentu saja belum ada kebijakan pelestarian hewan, karena harimau belum dikatakan langka. Dengan kata lain saat itu harimau masih diburu.

Harimau Hitam (Blacj Panther)
Pada saat itu harimau masih ditemukan di Batavia (kini Jakarta). Selain ditemukan beberapa kali di Sunter, juga pernah ditemukan di Salemba (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 04-08-1896). Lokasi terdekat dimana ditemukan harimau di Tjibinong. Disebutkan seekor harimau besar telah membunuh satu orang penduduk (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-02-1888). Beberapa tahun sebelumnya di Depok ditemukan macan tutul (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 23-08-1878).

Pada masa ini mengetahui sejarah harimau sangatlah penting. Satu hal yang pasti harimau di (pulau) Jawa sudah punah (tidak bersisa). Pengetahuan ini akan memberi kontribusi dalam dunia ilmu pengetahuan untuk menjawab sejak kapan harimau di (pulau) Jawa punah di suatu tempat (merujuk pada tahun terakhir ditemukan). Pengetahuan sejarah ini juga penting bagi para peneliti yang memerlukan data untuk  memetakan habitat harimau dimana saja pda masa lampau. Sehubungan dengan itu, apakah ada harimau di Soekaboemi. Mari kita lacak!

Sejarah Sukabumi (38): Dinamika Proses Pemerintahan; Mulai dari Regentschap Tjiandjoer hingga Regentschap Soekaboemi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Kota Sukabumu dan Kabupaten Sukabumi yang sekarang adalah akhir dari suatu proses transformasi wilayah administratif di wilayah Priangan (Preanger) pada basis afdeeling. Kota (Gemeente) Soekaboemi dibentuk pada tahun 1914 dan Kabupaten Sukabumi pada tahun 1921. Dalam hal ini Kota Sukabumi dibentuk pada era Kabupaten Tjiandjoer.  

Tahapan Pemeritahan di Sukabumi
Di dalam wilayah administrasi (afdeeling) terdapat dua sistem pemerintahan yakni sistem pemerintahan Eropa/Belanda dan sistem pemerintah lokal (Inlandsch Bestuur). Dua sistem pemerintahan ini dapat dibedakan dan bersifat subordinatif. Pemeritahan Eropa/Belanda dipimpin oleh Residen/Asisten Residen, sedangkan pemerintah lokal dipimpin oleh Bupati (Regent). Di luar tanah-tanah partikelir (land), Residen/Asisten Residen memimpin warga Eropa/Belanda. Pada level afdeeling Asisten Residen mengarahkan Bupati dalam memimpin penduduk lokal di dalam wilayah administratif di afdeeling.. Sifat subordinatif (penguasaan) ini menjadi kan sistem pemerintahan bersifat kolonial (adanya koloni).

Proses pembentukan wilayah administratif di Soekaboemi (kebijakan administrasi Pemerintahan Hindia Belanda) tergantung dari perkembangan politik, ekonomi dan sosial setempat. Dengan terjadinya perubahan wilayah administratif juga diikuti pembentukan pemerintahan wilayah yang baru. Proses ini bersifat dinamis karena tujuan dan misi Pemerintah Hindia Belanda berbeda dengan Pemerintah RI yang sekarang. Untuk memahami lebih lanjut proses dinamik itu mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Sukabumi (37): Presiden Soekarno Kembali Berkunjung ke Kota Sukabumi 31 Agustus 1952; Idul Adha di Sukabumi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Presiden Soekarno telah berkunjung ke Sukabumi pada tanggal 1 Maret 1951. Presiden Soekarno kembali berkunjung ke Sukabumi pada tanggal 31 Agustus 1952. Ada apa? Pada hari dimana Presiden Soekarno di Sukabumi tepat pada hari raya Idul Adha. Apakah karena setahun  sebelumnya Presiden Soekarno hari raya Idul Fitri di Bandoeng? Tentu saja semua ini bukan karena itu.

Soekaboemi, 31 Agustus 1952
Pada tanggal 1 Maret 1951 Presiden Soekarno mengunjungi Sukabumi dan melakukan pidato di Lapangan Merdeka di Sukabumi. Setelah kunjungan ke Sukabumi ini pada bulan Juli 1951 Presiden Soekarno berkunjung ke Bandoeng. Pada hari Minggu tanggal 6 Juli 1951 Presiden Soekarno melaksanakan sholat Idul Fitri di Lapangan Tegallega Bandoeng. Setahun setelah (Hari Raya) Lebaran di Bandoerng, kemudian Presiden Soekarno kembali berkunjung ke Soekabumi. Pada tanggal 31 Agustus 1952 melaksanakan sholat Idul Adha di Lapangan Merdeka Sukabumi. Untuk sekadar catatan: 65 tahun kemudian pada tanggal 1 September 2017 Presiden Jokowi melaksanakan sholat Idul Adha di Sukabumi sambil berkurban. Selama di Sukabumi, Presiden Jokowi didampingi oleh Gubernur Jawa Barat, asli Sukabumi, Ahmad Heryawan.   

Namun yang tetap menjadi pertanyaan penting adalah mengapa Presiden Soekarno berkunjung kembali ke Sukabumi tepat pada hari Raya Kurban atau hari Lebaran Hadji? Dalam sejarah Sukabumi catatan ini tidak ditemukan dan baru ketika Presiden Jokowi berkunjung ke Sukabumi pada tahun 2017 catatan kunjungan Presiden Soekarno di Sukabumi ini dianggap penting. Untuk mengetahui itu mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Sukabumi (36): Pidato Ir. Soekarno di Lapangan Merdeka Sukabumi 1 Maret 1951; Ide Bangun Hotel di Pelabuhan Ratu


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Presiden Soekarno tidak hanya tanggal 31 Agustus 1952 ke Soekabumi, tetapi juga jauh sebelumnya. Tepatnya tanggal 1 Maret 1951. Kunjungan Ir. Soekarno tahun 1951 justru lebih penting dari kunjungannya yang lain. Pada tanggal 1 Maret 1951 Presiden Soekarno berpidato di Lapangan Merdeka sangat herois: ‘Sebelum tanggal 1 Januari 1952 Belanda harus mengembalikan Irian kepada Indonesia’ Demikian inti pidato Presiden Soekarno. Itulah pidato berapi-api Ir. Soekarno di tengah lautan massa di Lapangan Merdeka Soekaboemi tanggal 1 Maret 1951.

Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 02-03-1951
Ir. Soekarno adalah seorang nasionalis sejati yang sangat senang berkunjung ke kampong halaman teman-teman seperjuangannya. Ketika Partai Indonesia didirikan pada tahun 1932 Ir. Soekarno berkunjung ke Sibolga dan Padang Sidempoean (lihat (De Sumatra post, 13-05-1932). Ir. Soekarno juga ke Soekaboemi. Kunjungan Ir. Soekarno ke tiga kota itu tidak hanya urusan sosialisasi Partai Indonesia tetapi karena Padang Sidempoean adalah kampong halaman Amir Sjarifoeddin Harahap dan Soekaboemi adalah kampong halaman Raden Sjamsoedin. Amir Sjarifoeddin Harahap dan Raden Sjamsoedin adlaah pengurus teras Partai Indonesia. Kunjungan ulang ke Soekaboemi baru terjadi kembali pada bulan Oktober 1945 (lihat De Tijd : godsdienstig-staatkundig dagblad, 17-10-1945). Setelah kunjungan ke Soekaboemi pada Agustus 1952 Presiden Soekarno berkunjung ke Padang Sidempoean (lihat De nieuwsgier, 19-03-1953).    

Yang menjadi pertanyaan, apa yang menyebabkan Presiden Soekarno berkunjung ke Soekaboemi pada tanggal 1 Maret 1951? Yang jelas hanya kunjungan 31 Agustus 1952 yang tercatat dalam sejarah Sukabumi. Lalu bagaimana dengan tanggal 1 Maret 1951. Apa pentingnya Presiden Soekarno menyegerakan berkunjung ke Sukabumi? Untuk itu mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Sukabumi (35): Soeria Danoeningrat Diangkat Bupati Soekaboemi 31 Mei 1933; Bersumpah Kepada Leluhur dari Sumedang


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Kabupaten Sukabumi di era kolonial Belanda hanya ada dua. Bupati yang pertama adalah Soeria Natabrata dan bupati yang kedua adalah Soeria Danoeningrat. Mereka bedua adalah sepupu dari garis keturunan Bupati Soemedang. Posisi Bupati Soekaboemi sempat lowong (selama hampir satu tahun) karena Bupati Soeria Natabrata sudah pensiun. Soeria Danoeningrat diangkat menjadi Bupati Soekaboemi pada tanggal 31 Mei 1933.

Bupati Soekaboemi Soeria Danoeningrat
Pada tahun 1921 Afdeeling Soekaboemi dipisahkan dari Afdeeling Tjiandjoer. Selama ini pemimpin lokal tertinggi di Afdeeling Soekaboemi adalah Patih. Sehubungan dengan pemisahan ini Bupati Soekaboemi diangkat untuk kali pertama. Bupati yang diangkat adalah Soeria Natabrata. Dengan diangkatnya Soeria Natabrata sebagai Bupati Soekaboemi maka dinasti Limbangan (Garoet) berakhir di Soekaboemi. Dengan diangkatnya Soeria Danoeningrat sebagai bupati berikutnya maka dinasti Sumedang terus belanjut.     

Ada perbedaan waktu antara berakhirnya masa jabatan bupati Soeria Natabrata dengan berawalnya jabatan bupati Soeria Danoeningrat. Ini bukan kasus pertama di Residentie Preanger Regetschappen. Namun yang menjadi soal adalah mengapa pada masa ini 'dies-natalis' dicatat pada tahun 1930. Itu satu hal. Hal lainnya, yang penting adalah mengapa Soeria Danoeningrat yang dipromosikan menjadi Bupati Soekaboemi dan bagaimana Soeria Danoeningrat mendapatkannya? Untuk itu mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Sukabumi (34): Surat Kabar yang Pertama di Sukabumi; Surat Kabar Siesta (1905) dan Sejarah Awal Pers Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam sejarah kota-kota adalah kehadiran media umum, surat kabar atau majalah. Keberadaan surat kabar atau majalah dapat dijadikan suatu indikasi apakah suatu kota sudah bersifat kosmopolitan. Syarat perlu munculnya media di suatu kota paling tidak karena adanya penerbit dan pembaca. Syarat cukupnya adalah para pembaca dari waktu ke waktu semakin meluas dan intensitas iklan meningkat (agar bisa bertahan dan berkesinambungan).

De locomotief, 24-01-1901
Surat kabar atau majalah sudah ada sejak era VOC. Namun surat kabar atau majalah tersebut umumnya berbahasa Belanda (yang ditujukan untuk orang Eropa/Belanda dan para elit pribumi). Pada tahun 1850 mulai terdeteksi adanya media berbahasa Melayu yang ditujukan untuk orang-orang Tionghoa dan pribumi. Awalnya media berbahasa Melayu ini diinisiasi oleh orang-orang Eropa/Belanda lalu diminati oleh orang-orang Tionghoa dan kemudian diikuti oleh orang-orang pribumi. Media-media berbahasa Melayu inilah yang kemudian menjadi persemaian awal dalam tumbuh dan berkembangnya pers Indonesia.     

Sehubungan dengan perkembangan awal pers di Hindia Belanda (baca: Indonesia) di masa lampau, apakah kota Soekaboemi  juga mengikuti tren kosmopolitan tersebut? Surat kabar atau majalah apa yang pertama dan sejak kapan bermula? Pertanyaan-pertanyaan ini memerlukan perhatian kita untuk menelusuri sumber-sumber tempo doeloe. Mari kita lacak!

Sejarah Sukabumi (33): Si Jampang dan Si Pitung Asal Soekaboemi? Soekaboemi di Batavia dan Djampang di Soekaboemi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Ada dua tokoh yang kerap disebut pendekar di Batavia. Namanya Si Pitoeng dan Si Djampang. Pada masa ini Si Pitung disebut berasal dari Rawabelong, padahal Si Pitoeng berasal dari Soekaboemi. Juga pada masa ini disebut Si Djampang berasal dari Sukabumi, padahal Si Djampang berasal dari Djampang. Judul di atas sepintas tampak membingungkan. Tapi cara berpikirlah yang membuat kita bingung.

Si Pitung dan Si Jampang (sketsa, sumber internet)
Dalam penulisan sejarah, kesalahan sering terjadi. Sumber kesalahan yang kerap muncul berasal dari sumber lisan (cerita ke cerita turun temurun). Sumber tulisan lebih dapat diverifikasi karena buktinya dapat ditunjukkan. Yang jadi persoalan adalah sulitnya menemukan sumber tulisan menyebabkan menyebarnya sumber lisan. Namun sejarah tetaplah sejarah. Sejarah bukanlah cerita. Sejarah adalah fakta atau kejadian yang benar-benar terjadi (di masa lampau). Dalam upaya penulisan sejarah, perbaikan dapat dilakukan sejauh ditemukan sumber baru yang lebih andal (valid).

Lantas dari mana asal sebenarnya Si Jampang dan Si Pitung? Itulah pertanyaan intinya. Untuk mengurangi kesalahpahaman kita  tentang asal-usul dua tokoh di Tanah Betawi (Batavia) ini ada baiknya kita menelusuri kembali sumber-sumber tempo doeloe. Semoga penelusuran ini berhasil menjelaskan kebingungan yang ada.