Sabtu, 19 Agustus 2023

Sejarah Mahasiswa (28): Ida Loemongga Nasoetion Berjuang di Belanda; Perempuan Pribumi Hindia Mampu Raih Gelar Doktor


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Mahasiswa dalam blog ini Klik Disini

Siapa Ida Loemongga Nasoetion? Nyaris tidak terinformasikan hingga saya menemukan dokumennya dan menulis riwayatnya di dalam blog saya. Sejak itu banyak dikutip. Kini nama Ida Loemongga Nasoetion sudah ada yang menulisnya di dalam laman Wikipedia. Dalam hal ini nama Ida Loemongga Nasoetion dideskripsikan kembali dalam konteks sejarah mahasiswa dihubungkan dengan soal emansipasi wanita pribumi. Tentu saja ada data baru yang memperkayanya.


Ida Loemongga Nasution lahir di Padang, 22 Maret 1905 adalah perempuan Indonesia pertama bergelar doktor (PhD), di bidang kedokteran. Diberitakan kantor berita Aneta dari Amsterdam, 29 April 1932. Dari Universiteiten Van Utrecht en Leiden nama Ida Loemongga Haroen al Rajid Nasution dinobatkan wanita pribumi pertama meraih gelar Doktor, tesis Diagnosis dan Prognosis Cacat Jantung Bawaan. Ayahnya adalah Haroen Al Rasjid Nasution, dokter lulusan Docter Djawa School 1902. Ibunya adalah Alimatoe Saadiah br. Harahap, perempuan pribumi pertama mendapat pelajaran dari sekolah Eropa. Orang tuanya berasal Padang Sidimpuan. Ida Loemongga Nasution belajar di ELS Tandjong Karang, dan Prins Hendrik School (afdeeling-B/IPA) di Batavia 1918. Ia lulus 1922, diterima ujian masuk STOVIA. Berkat kecerdasannya Ida direkomendasikan melanjutkan pendidikan ke Belanda. Pada usia 18 tahun, ia berangkat sendiri ke Amsterdam. Ia memperoleh gelar sarjana kedokteran di Universiteit Utrecht 1927. Ida langsung mengambil dokter spesialis di Universiteit Lieden. Setelah menjadi asisten Dr. Caroline Lang, ia meneruskan pendidikan doktoral di Amsterdam. Ia dipromosikan 1931 sebagai doktor di bidang kedokteran dengan promotor Dr. Lang dengan judul disertasi, ‘Diangnose en Prognose van aangeboren Hartgebreken (Diagnosa dan Prognosa Cacat Jantung Bawaan)’. (Wikipedia: sumber: Sumut24 diakses tanggal 2023-03-11; Kaldera 2023-03-11; Padangkita.com 2023-03-11; Warta Mandailing 2023-03-11).

Lantas bagaimana sejarah Ida Loemongga Nasoetion berjuang di Belanda? Seperti disebut di atas, Ida Lomongga adalah perempuan pribumi studi ke Belanda. Perempuan pribumi asal Hindia yang mampu meraih gelar doctor dalam bidang kedokteran. Lalu bagaimana sejarah Ida Loemongga Nasoetion berjuang di Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Mahasiswa (27): Caroline V Tan di Belanda, Pejuang Kesetaraan Wanita Cina di Hindia; RA Kartini hingga Ida Loemongga


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Mahasiswa dalam blog ini Klik Disini

Siapa Caroline V Tan? Membicarakan Caroline V Tan sebenarnya membicarakan soal emansipasi di Hindia (baca: Indonesia tempo doeloe) diantara orang Cina. Membicarakan emansipasi wanita Cina sejatinya juga membicarakan emansipasi wanita pribumi. Dalam hal inilah kita menghubungkan antara RA Kartini dengan Caroline V Tan. Lalu kemudian kita menghubungkan antara Caroline V Tan dengan Ida Loemongga.


RA Kartini menikah 12 November 1903. Anak tunggalnya Soesalit Djojoadhiningrat lahir 13 September 1904. Sebelumnya, pada bulan April 1903 Alimatoe’saadiah menikah dengan Dr Haroen Al Rasjid di Padang. Anak pertama mereka tanggal 22 Maret 1905 lahir diberi nama Ida Loemongga. RA Kartini dan Alimatoe’saadiah sama-sama disekolahkan orang tua mereka di sekolah dasar Eropa (ELS). Alimatoe’ Saadiah melanjutkan studi ke sekolah guru sebelum menikah (ayahnya Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda adalah seorang guru alumni sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean). Dalam konteks inilah Tan Thwan Soen rela meninggalkan keluarga dan bisnis di Indonesia (baca: Hindia Belanda) demi mewujudkan cita-cita dua putrinya yang masih kanak-kanak untuk melanjutkan studi di Belanda yakni CV Tan Thwan Soen dan LG Tan Thwan Soen pada tahun 1905. Caroline V Tan Thwan Soen kemudian menjadi pionir perjuangan perempuan Cina di Hindia.

Lantas bagaimana sejarah Caroline V Tan di Belanda, pejuang kesetaraan wanita Cina di Hindia? Seperti disebut di atas, Caroline V Tanda dapat dikatakan pionir emansipasi Wanita Cina di Hindia. Bagaimana dengan wanita pribumi? RA Kartini hingga Ida Loemongga. Lalu bagaimana sejarah Caroline V Tan di Belanda, pejuang kesetaraan wanita Cina di Hindia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.