Sejarah Menjadi Indonesia (32): Hubungan Jepang dan Indonesia Tidak Pernah Putus; Parada Harahap dan Akhir Tragis Belanda


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
 

Secara defacto tidak pernah putus hubungan antara Jepang dan Indonesia. Kekalahan Jepang terhadap Sekutu (Eropa dan Amerika Serikat) hanya menyebabkan Jepang tidak bisa bernuat banyak ketika Belanda (NICA) kembali tahun 1945. Secara dejure, pasca perang kemerdekaan, ketika pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda tahun 1949, dibubarkannya RIS dan kembalinya ke kittah NKRI (1950) serta kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahan Belanda (1957), Presiden Soekarno mengundang kembali ‘kawan lama’ Jepang yang diresmikan sebagai Penandatanganan Perjanjian Perdamaian antara Jepang dan Republik Indonesia pada bulan April 1958. Disebut ‘kawan lama’ karena faktanya tidak pernah pemimpin Indonesia berselisih dengan pemimpin Jepang (hanya Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap yang membenci Jepang).

Hubungan baik bangsa Indonesia dan bangsa Jepang dimulai ketika, seorang revolusioner Indonesia yang anti Belanda, Parada Harahap memimpin rombongan tujuh revolusioner Indonesia berkunjung ke Jepang pada tahun 1933. Parada Harahap di Jepang disambut bagaikan raja, sementara di Indonesia orang-orang Belanda serasa kebakaran jenggot. Media-media Jepang menjuluki Parada Harahap sebagai The King of Java Press. Selain Parada Harahap, rombongan tujuh revolusioner ke Jepang tersebut antara lain adalah pemimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan, Abdullah Lubis; ekonomi Dr. Sastra Widagda, Ph.D, guru di Bandoeng dan Drs. Mohamad Hatta (yang belum lama pulang studi dari Belanda). Kepergian tujuh revolusioner Indonesia ini karena Ir. Soekarno ditahan dan akan diasingkan. 

Pemimpin Indonesia hanya berselisih dengan Belanda. Ketika Jepang menduduki Tiongkok, Pemerintah Hindia Belanda mendorong orang Cina di Indonesia untuk membantu Tiongkok. Sementara Soekarno dan Mohamad Hatta di pengasingan, pemimpin Indonesia menyambut baik kerjasama yang ditawarkan Jepang pada tahun 1938. Dalam program Jepang ini, MH Thamrin diproyeksikan sebagai pemimpin Indonesia. KonsulatJepang di Batavia mulai mengambil langkah berpartisipasi dalam pembentukan surat kabar berbahasa Melayu (sebagai corong propaganda Jepang). Bagaimana kisah itu berlangsung sebelum terjadi pendudukan militer Jepang? Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.