Sejarah Padang Sidempuan (1): Guru Dja Mangantar Wafat di Kemajoran Batavia, 1874; Murid Terbaik Willem Iskander


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Dja Mangantar gelar Baginda Radja hanyalah seorang guru sekolah dasar, namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Pemerintah Hindia Belanda membangun makamnya di Kemajoran Batavia begitu megah. Hal itu sangat jarang terjadi. Pemerintah Hindia Belanda memberikan penghargaan kepada seorang pribumi jika benar-benar sangat berjasa. Bukankah Dja Mangantar gelar Baginda Radja hanya seorang guru?

Sejarah Padang Sidempuan adalah serial artikel sejarah Padang Sidempuan dan sekitar. Sejak 1905 Afdeeling Padang Sidempoean, Residentie Tapanoeli terdiri dari tiga onderafdeeling, yakni Onderafdeeling Angkola en Sipirok, Onderafdeeling Mandailing en Natal, Onderafdeeling Batangtoroe dan Onderafdeeling Padang Lawas. Kota Padang Sidempoean pernah menjadi ibu kota Residentie Tapanoeli (1875-1905). Pada masa kini Afdeeling Padang Sidempoean adalah Tapanuli Bagian Selatan yang terdiri dari empat kabupaten dan satu kota (Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas dan Kabupaten Padang Lawas Utara). Serial artikel Padang Sidempuan ini telah melengkapi sejarah kota-kota di dalam blog ini. Seelumnya sudah ada serial artikel Kota Jakarta, Kota Depok, Kota Bogor, Kota Bandung, Kota Surabaya, Kota Jogjakarta dan lainnya (lihat peta). Masih ada beberapa kota yang masih tahap pengumpulan data.

Makam Dja Mangantar gelar Baginda Radja disebutkan berada di Kemajoran, Batavia. Disebutkan dalam keterangan foto yang dibuat Petz & Co, Dja Mangantar meninggal di Batavia pada tanggal 8 Oktober 1874 dalam usia 22 tahun dan dimakamkan di Kemajoran (Overleden op 8 Oktober 1874 op 22-jarige leeftijd). Masih muda, namun sudah mendapat penghargaan dari Pemerintah Hindia Belanda. Bagaimana bisa? Untuk memahaminya, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.    

Sejarah Jakarta (78): Sejarah Kemayoran, Majoor St Martin hingga Jozef Benjamin de Buda; Sejarah Musik Keroncong di Batavia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Ada nama lagu Krontjong Kemajoran. Itu tempo doeloe. Lagu ini dibawakan oleh Miss Netty di bawah label Muziek Vereeniging Jong Java. Namun bukan lagu Krontjong Kemajoran itu yang akan diperhatikan, tetapi tentang sejarah awal Kemayoran dan sejarah musik keroncong di Batavia (kini Jakarta). Tempo doeloe di Kemajoran terdapat tempat pertujukan musik keroncong yang pengunjung harus membayar tiket masuk. .

Lagu Krontjong Kemajoran direkam oleh Delima Recording dalam gramplaat (piringan hitam), Lagu ini dinyanyikan oleh Miss Netty atas pesanan Muziek Vereeniging Jong Java. Kapan tahun beredarnya tidak disebutkan. Namun karena ini dipesan oleh divisi Jong Java (Muziek Vereeniging) maka maka rekaman ini dibuat antara tahun 1915 dan 1929 (didirikan dan dibubarkannya Jong Java). Jika dikaitkan dengan perusahaan rekaman pertama di Batavia (Populair milik Yokintjam di Pasar Baroe) tahun 1927, maka rekaman ini dibuat sekitar 1927-1929. Lantas siapa itu Miss Netty? Tentu saja seorang penyanyi dari grup orschest tertentu (boleh jadi dalam hal ini Delima Orchest). Miss Netty dikenal sebagai seorang penyanyi (lihat De Indische courant, 09-10-1937).  

Tentu saja sejarah Kemayoran sudah pernah ditulis yang lain. Namun tentu saja masih banyak bolongnya. Sementara itu soal sejarah keroncong di Batavia tapaknya belum tergali secara mendalam. Dengan meminjam judul lagu Krontjong Kemajoran artikel ini akan menggali lebih dalam lagi sejarah Kemajoran dan sejarah keroncong di Batavia. Untuk meningkatkan pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.