Sejarah Kota Padang (7): Koffiecultuur, Koffiestelsel dan Koffiesocieteit; Pendidikan, Kesehatan dan Infrastruktur

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Gudang Kopi (koffiepkhuizen) di Kota Padang, 1867
Kota Padang telah menjadi kota pelabuhan kopi di Sumatra. Kopi-kopi itu mengalir dari Padangsch Bovenlanden, Mandailing dan Angkola. Produksi kopi sejak 1847 telah melonjak tajam dan mendapat apresiasi harga kopi tertinggi dunia tahun 1862. Lelang kopi di Kota Padang semakin menjadi perhatian perusahaan perdagangan dari Batavia. Itulah hasil introduksi budidaya kopi (koffiecultuur) yang kemudian ‘digenjot’ dengan system yang baru (koffiestelsel). Ketika harga kopi Mandailing dan Angkola menjadi kopi terbaik dan harga tertinggi dunia, kopi telah dianggap sebagai berkah dan bukan siksaan lagi tetapi telah menjadi bagian terindah dalam kehidupan penduduk di pedalaman (koffiesocieteit).

Dampaknya, penduduk diberi fasilitas pendidikan, dengan mendirikan sekolah-sekolah. Penduduk juga semakin mudah mendapat akses pelayanan kesehatan. Infrstruktur jalan dan jembatan dibangun. Pembangunan infrastruktur yang semula hanya ruas Kota Padang, Fort de Kock dan Lima poeloeh Kota telah diperluas ke Tapanoeli hingga ke Sibolga melalui Padang Sidempuan. Era baru moda transportasi darat dimulai. Itu semua karena ekonomi kopi. Kota Padang dengan sendirinya lebih cepat tumbuh dan berkembang.

Introduksi Kopi

Ekonomi gula di Jawa telah mulai terseok-seok. Introduksi kopi dimulai tahun 17??. Keberhasilan koffiecultuur di Preanger telah meluas hingga ke Semarang dan sekitarnya. Ekspansi kofficultuur terjadi pasca Perang Jawa (yang dipimpin Pangeran Diponegoro). Para Bupati di Preanger semakin giat, karena hubungan psikologis antara Preanger dan Jawa telah terputus. Para bupati mulai leluasa memimpin penduduknya untuk menggiatkan kembali kofficultuur.