Sejarah Sukabumi (14): Gemeente (Kota) dan Gemeenteraad Soekaboemi, 1914; Burgemeester dan Mr GF Rambonnet, 1926


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Dalam administrasi pemerintahan di era kolonial Belanda, status sebuah Kota (Gemeente) adalah salah satu hal dan penetapan seorang pejabat menjadi Wali Kota (Buurgemeester) adalah hal lain. Kota Soekaboemi menjadi Gemeente pada tahun 1914. Anggota Dewan Kota (Gemeenteraag) langsung bekerja. Namun baru tahun 1926 Gemeente Soekaboemi secara definitif memiliki Wali Kota. Sebelum adanya Burgemeester, Gementeraad dipimpin oleh (Asisten) Residen yang dibantu oleh seorang wakil (Aldemar).

Kota (Gemeente) Soekaboemi dan Burgemeester GF Rambonnet
Hingga tahun 1921 di seluruh Hindia Belanda terdapat sebanyak 53 buah pemerintah daerah (Kabupaten/Kota) yang memiliki dewan (Raad) yang mana diantaranya sebanyak 31 daerah yang berstatus Kota (gemeente). Uniknya, diantara 53 dewan tersebut, hanya satu dewan yang berada di level onder-afdeeling (kecamatan), yakni Angkola en Sipirok (kini Padang Sidempuan). Gemeente dibagi dalam tiga karegori: besar, sedang dan kecil. Oleh karena itu jumlah anggota dewan kota (gemeente) bervariasi. Gemeente Soekaboemi termasuk dalam kategori gemeente kecil. Jumlah anggota sebanyak 11 orang. Wali Kota (Burgemeester) Soekaboemi yang pertama adalah Mr GF Rambonnet.

Lantas mengapa kota Soekaboemi dibentuk (terbentuk) menjadi status Kota (Gemeente)? Dan mengapa Burgemeester baru ditetapkan kemudian? Semua itu ada sebabnya dan semua itu ada alasannya mengapa pemerintah pusat mengesahkannya. Untuk memahami sebab-sebab dan berbagai alasannya mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Sukabumi (13): Ternak Besar dan Pacuan Kuda di Soekaboemi; Kesehatan Hewan dan Kebutuhan Dokter Hewan


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Penggunaan ternak besar sebagai pengganti tenaga kerja manusia sudah sejak lama disadari oleh penduduk di Soekaboemi. Ternak besar seperti kerbai digunakan untuk membajak sawah dan menarik pedati. Demikian juga ternak besar yang sangat lincah yakni kuda digunakan sebagai kuda tunggangan untuk perjalanan jarak jauh. Orang-orang Eropa/Belanda juga menggunakan kuda sebagai alat transportasi yang tidak hanya ditunggangi tetapi kuda juga dijadikan sebagai penarik kereta. Dalam perkembangannya, kuda juga dijadikan aset penting,  juga diikutsertkan dalam lomba pacuan kuda.

Arena pacuan kuda di Soekaboemi (1890)
Pacuan kuda tidak hanya sekadar lomba, Tetapi pacuan kuda juga menjadi simbol gengsi para pemilik kuda, pacuan kuda menjadi sarana hiburan massal yang murah dan tentu saja secara diam-diam di dalam tribun muncul praktek judi. Pacuan kuda adalah satu hal, dan penggunaan tenaga kerbau di pertanian dan perdagangan adalah hal lain lagi. Namun dua hal tersebut menjadi permasalahan ternak besar secara umum yang satu sama lain terkait.

Ternak besar (terutama kerbau dan kuda) yang menjadi aset dan faktor penting dalam pembangunan ekonomi (perdagangan dan pertanian) menjadi salah satu perhatian pemerintah. Munculnya penyakit ternak menjadi persoalan penting bagi pemerintah. Oleh karenanya ternak besar selalu menjadi perhatian. Namun yang menjadi tantangan bagi pemerintah adalah bangaimana menjaga kesehatan ternak besar dan bagaimana upaya yang dilakukan untuk mengisolasi wilayah jika terjadi wabah penyakit. Ketiadaan dokter hewan menyebabkan perihal ternak besar selalu dihantui oleh bayang-bayang ketakutan.

Sejarah Sukabumi (12): Societeit (Klub) Soekamanah di Soekaboemi; Societeit Jadi Sumber Inspirasi Pribumi Berorganisasi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Hanya ada organisasi pemerintah di Soekaboemi. Namun dibukanya jalur kereta api Buitenzorg-Soekaboemi pada tahun 1882, banyak hal yang muncul baru di Soekaboemi. Pembangunan hote mulai marak. Para pengusaha pertanian (planter) mulai menyatukan diri dengan membentuk asosiasi. Asosiasi yang disebut Vereeniging van Beheerders van Laadbouwondernemingen te Soekaboemi disahkan pemerintah pusat pada bulan Novemver 1882 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 17-11-1882). Asosiasi inilah yang kemudian memicu didirikannya societeit (klub) sisial di Soekaboemi yang disebut Societeit Soekamanah.

Societeit Soekamanah di Soekaboemi (1908)
Societeit sudah sejak lama didirikan di Batavia. Keberadaannya bahkan sudah diketahui sejak 1683. Pada era pendudukan Inggris (1811-1816) keberadaan societeit juga tetap dipertahankan. Pada tahun 1834 muncul societeit pertama di luar Batavia yang didirikan di kota Padang. Pendirian societeit kemudian meluas ke berbagai kota-kota. Di Batavia dalam perkembangannya tidak hanya satu buah societeit tetapi telah bertambah menjadi tiga buah. Di Bandoeng, dibentuk societeit yang disebut Societeit Concordia yang disahkan oleh pemerintah pada tahun 1879 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 05-07-1879). Pendirian societeit di Bandoeng didahului oleh pendirian societeit di Buitenzorg (yang keberadaannya paling tidak sudah diketahui pada tahun 1872).     

Societeit Soekamanah di Soekaboemi dicetuskan pada akhir tahun 1882. Awalnya tempat societeit ini berada di samping rumah/kantor Asisten Residen. Namun dalam pertemuan yang diadakan pada awal Januaru 1883, tempat societeit akan dipindahkan ke tempat lain dengan membangun gedung baru (lihat De locomotief, 05-01-1883). Lantas dimana lokasi gedung societeit di Soekaboemi ini? Keberadaan Societeit Soekamanah menjadi penting karena menjadi pemicu bagi warga pribumi untuk membentuk hal sejenis. Untuk itu mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.