Sejarah Kota Padang (14): Orang Padang sama dengan Orang Minangkabau; Keliru, Orang Melayu disebut Orang Medan

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Minangkabauers te Kotagedang, 1890
Padang adalah nama tempat, sebagaimana Tapanoeli dan Medan. Padang menjadi nama generik untuk seluruh wilayah Sumatra Barat yang sekarang. Ini bermula penyebutan wilayah rendah dan wilayah tinggi Padang dengan Padangsche Benelanden dan Padangsche Bovenlanden. Penamaan serupa ini juga pernah terjadi untuk penyebutan Langkat Benelanden dan Langkat Bovelanden.

Asal usul (menurut berbagai versi): Minangkabau—Menang Kerbau atau Minanga; Tappanoeli—Tapian na Oeli (dipopulerkan oleh Inggris). Bata—Mada (dibaca: Bata). Pada awalnya penyebutan orang Minangkabau belum dibedakan dengan orang Melayu, namun sejak abad ke-19, penyebutan Minangkabau dan Melayu mulai dibedakan karena adanya perbedaan (system) pewarisan (matrilineal).

Tapanoeli juga digunakan sebagai nama generik untuk seluruh wilayah Tapanuli yang sekarang. Tapanoeli sebelumnya, dan kemudian nama tempat berikutnya yang lebih popular Sibolga. Tapanoeli mendahului Sibolga. Karena itu nama Tapanuli yang digunakan sejak Inggris. Pada era VOC awal, Tapanoeli belum dikenal. Di Pantai Barat Sumatra nama tempat yang sudah dikenal sejak masa lampau adalah Baros, Batahan, Tikoe, Pariaman dan Indrapoera.

Sejarah Kota Padang (13): Ombilin dan WH de Greve; Batubara Terbaik Dunia Moda Transportasi Kereta Api dan Kapal Laut

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Eksploitasi batubara di Ombilin, Residentie Padangsche Bovenlanden, Province Sumatra’s Westkust adalah sebuah lompatan kemajuan ekonomi. Ombilin tidak hanya menyimpan deposit batubara yang sangat banyak, juga kualitasnya berada di atas kualitas batubara monopoli Inggris selama ini. Biaya angkut yang besar karena medan yang berat antara Ombilin dan pelabuhan Kota Padang (yang berjarak 100 Km) dapat diimbangi oleh petensi ekonomi (pertanian) di sekitarnya.

Makam Ir, WH de Greve di Doerian Gedanng, 1872
Tambang batubara Ombilin tidak hanya ‘mempercantik’wajah ekonomi di Province Sumatra’s Westkust, tetapi juga memperkuat pertumbuhan ekonomi perkebunan di Jawa (kina dan teh) dan Sumatra’s Oostkust (tembakau dan karet), Batubara Ombilin juga menggandakan keunggulan efisiensi ekonomi pelayaran (domestic kepulauan) dan pelayaran internasional (ke Eropaa/Belanda) lebih-lebih terusan Suez dibuka pada tahun 1869. Singkat kata:batubara Ombilin memainkan peran yang strategis kala itu.

WH de Greve: Netscher, Hennij dan Petel

Dua orang yang bersemangat untuk eksploitasi tambang batubara Ombilin adalah Gubernur Province Sumatra’s Westkust dan sekretaris bidang ekonomi Mr. WA Hennij. Kedua orang ini mendukung habis-habisan pekerjaan WH de Greve yang terus melakukan kajian potensi ekonomi batubara Ombilin. WH de Greve memulai pekerjaannya berdasarkan kajian awal terdahulu oleh C. de Groot van Embden.