Tampilkan postingan dengan label Sejarah Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Jakarta. Tampilkan semua postingan

Sejarah Jakarta (116): Sejarah Duren Sawit, Pondok Bambu, Pondok Kelapa, Pondok Kopi; Kleinder Orang Malaka, Duren Sawit


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Nama kampong tempo doeloe, kini menjadi nama kelurahan dan kecamatan di Jakarta Timur: Duren Sawit. Kecamatan yang dibentuk tahun 1993 ini terdiri dari tujuh kelurahan, yakni: Pondok Bambu, Pondok Kelapa, Pondok Kopi, Malaka (Jaya dan Sari), Klender dan Duren Sawit. Keluruhan-kelurahan ini sebelumnya ada yang masuk kecamatan Jatinegara, kecamatan Bekasi Barat dan kecamatan Pondok Gede.

Jembatan Toll Kleinder (Peta 1775 dan Peta 1824)
Semua nama kelurahan di Kecamatan Duren Sawit adalah nama-nama kampong lama. Sebagai kampong lama akan berbeda dengan persepsi umum pada masa sekarang. Kampong Duren Sawit bukanlah berasal dari nama tanaman duren dan sawit. Sebelum tanaman sawit diimpor dari Amerika Selatan sudah ada nama kampong Duren Sawit. Nama kampong Duren Sawit merujuk pada perkampongan orang Jawa berasal dari Doeren Sawit. Demikian juga nama kampong Malaka merujuk pada perkmapongan orang yang berasal dari Malaka. Namun untuk tiga nama kmapong Pondok Bambu, Pondiok Kopi dan Pondo Kelapa sesuai namanya untuk mengidentifikasi nama kampong: terdapat pondok di kebun kopi, pondok di kebun kelapa dan pondok di hutan bambu. Lantas bagaimana dengan nama kampong Klender? Nama kampong Klender tidak mengacu pada kalender (penanggalan) tetapi lahan yang kecil (Kleinder Land).

Sebagai nama kampong lama, sejarah tujuh kelurahan di Kecamatan Duren Sawit ini memiliki sejarah sendiri-sendiri yang dapat ditelusuri ke masa lampau. Oleh karena itu, masing-masing nama kampong/kelurahan dibuat terpisah dalam artikel ini. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (115): Sejarah Cipayung, Bambu Apus, Ceger, Lubang Buaya dan Cilangkap; Taman TMII dan Mabes TNI


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini
 

Nama-nama tempat Cipayung, Bambu Apus, Ceger, Lubang Buaya dan Cilangkap bukanlah nama baru, tetapi nama tempat yang sudah lama ada sejak era Hindia Belanda. Nama-nama tempat ini kurang dikenal karena areanya terbilang terpencil diantara dua jalan poros tempo doeloe (antara jalan jalan Raya Bogor dan jalan Hankam yang sekarang). Namun demikian, meski kurang dikenal dan terpencil tetapi nama-nama tempat ini memiliki sejarah sendiri-sendiri.

Wilayah Kecamatan Cipayung
Pada awal Republik Indonesia Cipayung, Bambu Apus, Ceger, Lubang Buaya dan Cilangkap berada di dalam wilayah administratif Kecamatan Pasar Rebo. Pada tahun 1992 sejumlah desa di Kecamatan Pasar Rebo dipisahkan dan kemudian disatukan dengan membentuk Kecamatan Cipayung. Pada masa ini Kecamatan Cipayung terdiri dari delapan kelurahan: Lubang Buaya, Ceger, Cipayung, Munjul, Pondok Rangon, Cilangkap, Setu, dan Bambu Apus. Sebelum terbentuknya Kecamatan Cipayung, desa Cibubur dimekarkan dengan membentuk desa Pondok Ranggon dan dalam perkembangannya desa Pondok Ranggon dimekarkan dengan membentuk desa Munjul; Sementara itu desa Bambu Apus juga dimekarkan dengan membentuk desa Ceger. Taman Mini Indonesia Indah (TMII) berada di Kelurahan Ceger dan Markas Besar TNI berada di Kelurahan Cilangkap serta bumi perkemahan pramuka berada di Kelurahan Pondok Ranggon. Tentu saja di desa Lubang Buaya pernah terjadi kejadian yang mengerikan pada peristiwa G 30 S PKI 1965 dan di desa Cipayung pernah dibentuk suatu kelompok yang disebut Kelompok Cipayung (1972) yang berseberangan dengan pemerintah. Pada masa ini di Cipayung sebagai ibu kota kecamatan terdapat markas pembinaan pebulutangkis Indonesia.
.
Lantas seperti apa sejarah area yang kini menjadi satu wilayah adnministratif Kecamatan Cipayung. Sejarahnya tentu saja sudah banyak ditulis, tetapi hanya terpisah-pisah dan terbatas sejak pembangunan TMII (1972) dan sejak relokasinya markas besar (mabes) TNI dan sejak ditetapkannya bumi perkemahan Cibubur (1980). Sebagai satu kesatuan wilayah sejak lama, untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (114): Sejarah Kramat Jati, Hutan Jati di Land Tjililitan; Markas Polisi di Land Tjililitan Besar, Pasar dan Bandara


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Nama Kramat Jati bukanlah berasal dari nama suatu kompong, Nama Kramat Jati berasal dari suatu nama area di land Tjililitan. Sedangkan nama Cililitan pada tempo doeloe berasal dari nama suuatu kampong di sungai Tjililitan yang bermuara ke sungai Tjiliwong. Dalam perkembangannya land Tjililitan dimekarkan menjadi dua land. Oleh karena luasnya berbeda maka nama dua land disebut land Tjililitan Ketjil dan land Tjililitan Besar. Kampong Tjililitan tempo doeloe berada di land Tjililitan Kecil (sekitar terminal-PG Cililitan yang sekarang).

Pada masa ini nama Kramat Jati ditabalkan menjadi nama kelurahan. Nama Kramat Jati juga ditabalkan menjadi nama kecamatan. Pada tahun 1990 lima kelurahan, yakni Cipinang Melayu, Halim Perdana Kusuma, Kebon Pala, Makasar dan Pinang Ranti dipisahkan dari kecamatan Kramat Jati dan kemudian dibentuk satu kecamatan yang diberi nama Kecamatan Makassar. Kini, Kecamatan Kramat Jati terdiri dari tujuh kelurahan, yakni: Kramat Jati, Batuampar, Balekambang, Kampung Tengah, Dukuh, Cawang dan Cililitan. Kelurahan Cililitan sendiri merupakan pemekaran dari kelurahan Cawang pada tahun 1986. Nama Cililitan seakan yang pertama (nama kampong pertama) dan juga nama yang terakhir ditabalkan sebagai nama kelurahan. Itulah nasib Tjililitan. Pada tempo doeloe bandara Tjililitan dibangun di kampong Kebon Pala di land Tjililitan Besar. Tapi kini bandara Halim Perdana Kusuma berada di kelurahan Halim Perdana Kusuma, kecamatan Makassar.

Lantas mengapa nama Kramat Jati menjadi sangat terkenal dan nama Cililitan lambat laun menjadi sangat tidak dikenal. Itulah pertanyaan yang harus dijawab untuk menyusun sejarah Karamat Jati, suatu area tempo doeloe yang kini menjadi nama kelurahan dan kecamatan dimana terdapat pasar yang terkenal Pasar Kramat Jati. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (113): Sejarah Pondok Ranggon, Kampong Setua Pondok Gede di Timur Sungai Sunter; Bumi Perkemahan


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini
 

Pondok Ranggon (kini masuk Jakarta Selatan) bukanlah nama kampong baru, tetapi kampong yang setua Pondok Gede (kini masuk Kota Bekasi). Kampong Pondok Ranggon sudah ada sejak era VOC/Belanda. Kampong Pondok Ranggon sangatlah luas. Kampong Pondok Ranggon diakses dari Pondok Gede via Pondok Melati. Jalan akses ini kini dikenal sebagai jalan Hankam/Kranggan. Sedangkan Cibubur adalah kampong baru. Di kelurahan Pondok Ranggon kini dikenal sebagai area bumi perkemahan, juga area TPU. Dimana posisi GPS origin kampong Pondok Ranggon?

Pondok Ranggon dari masa ke masa
Pada era Republik Indonesia, kampong Pondok Ranggon menjadi terpencil. Kampong Pondok Ranggon dimasukkan ke wilayah desa Cibubur. Pada tahun 1973 diadakan pertemuan pramuka penegak-pandega Raimuna di desa Cibubur. Area yang dipilih berada di kampong Pondok Ranggon. Ketika jalan tol Jagorawi dibangun (1973-1978) desa Cibubur terbelah dimana kampong Pondok Ranggon yang menjadi area bumi perkemahan terpisah di sisi timur jalan tol. Kampong Pondok Ranggo yang sejak lama sepi sendiri, dengan pembangunan jalan tol mengubah nasib kampong Pondok Ranggon menjadi terkenal kembali seperti dempo doeloe. Akhirnya kampong Pondok Ranggon mendapat martabatnya kembali ketika statusnya ditingkatkan menjadi desa yang terpisah dari desa/kelurahan Cibubur. Dalam perkembangannya desa Pondok Ranggon dengan membentuk desa Munjul.
.
Lantas seperti apa sejarah Pondok Ranggon? Nah, itu dia. Belum pernah ditulis. Sebagai bagian dari penulisan Sejarah Jakarta, nama Pondok Ranggon haruslah mendapat tempat terhormat karena Pondok Ranggon juga termasuk kampong tua. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (112): Sejarah Condet dan Perkebunan Salak; Posisi Kampong Tengah, Antara Kampong Makassar-Kampong Jawa


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Salak Condet sangat terkenal, dikenal sejak tempo doeloe karena banyak kebun salak. Condet tidak jauh dari gunung Salak. Namun tidak diketahui secara pasti apakah salak Condet berasal dari gunung Salak. Yang jelas nama Condet sudah dikenal sebelum munculnya perkebunan salak. Orang yang pertama menguasai wilayah Condet adalah Kapitein Makassar berdasarkan Hooge Regeering tahun 1656 (lihat De opkomst van het Nederlandsch gezag over Java, 1878).

Kawasan Condet (Peta 1724)
Nama Condet tidak pernah dicatat sebagai nama kampong, tetapi dicatat sebagai suatu kawasan (area) yang berada diantara sungai Tjiliwong dan sungai Tjililitan. Nama Condet diduga berasal dari nama sungai kecil Tji Ondet. Tidak seperti Tjiliwong, Tjililitan, Tjipinang dan Tjidjantoeng, nama Tji Ondet mereduksi menjadi Tjondet. Nama-nama kampong terawal di sekitar kawasan Tjondet adalah kampong Makassar dan kampong Djawa. Kampong Makassar berada di timur di sungai Tjipinang dan kampong Djawa di barat di sungai Tjiliwong. Lalu dalam perkembangannya di kawasan Tjondet muncul nama kampong yang ketiga yang disebut kampong Tengah (kampong antara kampong Makassar dan kampong Djawa). Di kawasan Tjondet kemudian terbentuk dua pemukiman baru yang disebut Tjondet Bale Kambang dan Tjondet Batoe Ampar. Pada masa ini wilayah Condet meliputi Kampung Tengah, Balekambang dan Batu Ampar. Nama Tjondet tidak ditabalkan sebagai nama kesatuan wilayah administratif apakah nama kelurahan atau nama kecamatan. Mengapa?
.
Sebagai kawasan terkenal (bahkan sejak tempo doeloe), sejarah Condet sudah barang tentu telah banyak ditulis. Namun artikel ini tidak bermaksud untuk menulis ulang yang sudah ada, tetapi lebih pada upaya menambahkan yang belum ada dan meluruskan yang keliru. Sejarah tetaplah sejarah. Sejarah adalah narasi fakta dan data. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (111): Sejarah Makassar dan Landhuis Villa Nova di Kampong Makassar; Mengapa Asrama Haji di Pondok Gede?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Nama Makassar di Batavia tidak hanya di dekat Rawamangun. Nama Makassar juga terdapat di dekat Pondok Gede. Pada masa ini di Makassar terdapat asrama haji, namun kerap disebut Asrama Haji Pondok Gede. Tentu saja itu membingungkan. Sejatinya posisi GPS asrama haji tersebut berada jalan (ke arah) Pondok Gede di kampong Makassar.

Kampong Makassar (Peta 1901)
Kampong Makassar adalah kampong lama, kampong yang lebih tua dari kampong Pondok Gede. Ketika kampong Makassar sudah menjadi kampong besar, Pondok Gede masih berupa kebun yang memiliki pondok yang gede. Kebun ini kemudian disebut kampong Pondok Gede. Akses menuju kampong Pondok Gede dari kampong Makassar. Dalam perkembangannya di era VOC/Belanda nama kampong Makassar dijadikan nama land yakni Land Makassar dan nama (kampong) Pondok Gede dijadikan nama land yakni land Pondok Gede. Pada era Pemerintah Hindia Belanda land Makassar dan land Pondok Gede masuk wilayah Afdeeling Buitenzorg, namun dalam perkembangannya land Makassar masuk wilah district Meester Cornelis, land Pondok Gede masuk district Bekasi. Afdeeling Meester Cornelis terdiri dari tiga district: Meester Cornelis, Bekasi dan Kebajoran. Sebelum nama Makassar menjadi nama kecamatan seperti pada masa ini, kelurahan Makassar termasuk wilayah Kecamatan Kramat Jati, Pada tahun 1990 lima kelurahan, yakni Cipinang Melayu, Halim Perdana Kusuma, Kebon Pala, Makasar dan Pinang Ranti dipisahkan dari kecamatan Kramat Jati dan kemudian dibentuk satu kecamatan yang diberi nama Kecamatan Makassar.      

Mengapa Asrama Haji tidak disebut di Kampong Makassar? Itu satu hal. Hal yang lebih penting adalah bagaimana sejarah Makassar sendiri. Sejauh ini, nama kampong Makassar yang telah bertransformasi menjadi nama kecamatan di wilayah Jakarta Timur kurang terinformasikan. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Sejarah Jakarta (110): Sejarah Cililitan, Dari Pelabuhan hingga Bandara; Landhuis Land Tjililitan dan Hutan Jati (asal Kramat Jati)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Sejarah masa lalu adakalanya tidak lagi menggambarkan kondisi masa kini. Misalnya ketika ditanyakan mana yang lebih duluan ada (terbentuk) Cililitan atau Kramat Jati. Warga Cililitan akan menjawab Cililitan; sebaliknya warga Kramat Jati menjawab Kramat Jati. Demikian juga jika ditanyakan mana lebih tua Cililitan atau Cawang? Warga Cawang akan menjawab Cawang. Hal ini boleh jadi karena warga masa kini merujuk pada pembagian wilayah administratif yang sekarang.

Cililitan (Peta 1695 dan Peta 1775)
Pada masa kini, nama Kramat Jati ditabalkan sebagai nama kecamatan di wilayah Jakarta Timur. Kecamatan Kramat Jati terdiri dari tujuh kelurahan, yakni: Kramat Jati, Batuampar, Balekambang, Kampung Tengah, Dukuh, Cawang dan Cililitan. Kelurahan Cililitan sendiri merupakan pemekaran dari kelurahan Cawang pada tahun 1986.

Namun sejatinya, di masa lampau nama Cililitan adalah nama yang pertama muncul dari tujuh nama yang menjadi nama-nama kelurahan di kecamatan Kramat Jati. Sebelum nama yang lain lahir, nama Cililitan sudah eksis sejak lama. Cililitan adalah area tertua di kecamatan Kramat Jati. Cililitan awalnya adalah pelabuhan dan nama Cililitan kelak digunakan sebagai nama bandara. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (109): Pasar Pisang, Dari Pasar Buah Menjadi Pusat Perdagangan (Bisnis) Penting di Batavia; G Koff en Co


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Tempo doloe di Batavia terdapat nama suatu pasar yang disebut Pasar Pisang. Lokasi area pasar ini pada masa kini berada di jalan Kali Besar Timur III. Apa yang menarik dari Pasar Pisang adalah usianya yang sudah sangat tua. Pasar Pisang sudah terbentuk sejak era VOC/Belanda. Pasar Pisang pada era Pemerintah Hindia Belanda juga dianggap sebagai pusat perdagangan yang penting.

Toko buku G Koff en Co di Pasar Pisang (1872)
Gubernur Jenderal Coen pada tahun 1619 merancang kota (stad) Batavia, lalu pengembangannya dilanjutkan oleh penerusnya. Satu yang terpenting dari Gubernur Jenderal (Jenderal) Specx (1629-1632) adalah membangun kanal sungai Tjiliwong yang kemudian dikenal sebagai kanal Kali Besar. Kanal ini menjadi pelabuhan air sepanjang kanal. Untuk mendukung ketinggian air kanal Kali Besar pada tahun 1648 dibangun kanal Molenvliet dan dua tahun berikutnya (1650) dibangun kanal Antjol.

Kapan pasar Pasar Pisang terbentuk sulit diketahui. Pasar ini diduga terbentuk karena semakin berkembangnya perpasaran di stad Batavia. Pasar Pisang diduga muncul setelah adanya Pasar Ikan dan Pasar Borong. Lantas bagaimana sejarah area Pasar Pisang? Tentu saja belum pernah ditulisn. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.