Tampilkan postingan dengan label Sejarah Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Jakarta. Tampilkan semua postingan

Sejarah Jakarta (28): Sejarah Notaris di Indonesia; Hasan Soetan Pane Paroehoem, Satu dari Tujuh Notaris Pertama Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Hingga tahun 1941 di Indonesia hanya terdapat sebanyak 49 notaris. Sebanyak enam orang pribumi dan satu orang Tionghoa. Pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, tujuh orang notaris inilah yang tersedia di seluruh Indonesia. Mereka ini kemudian menjadi tulang punggung dalam pembuatan akte pendirian berbagai perusahaan, jajasan dan bentuk-bentuk perjanjian lainnya. Notaris Soewandi adalah pembuat akta pendirian (yayasan) Universitas Indonesia di Djakarta tahun 1951 dan Hasan Harahap gelar Soetan Pane Paroehoem adalah pembuat akta pendirian (yayasan) Universitas Sumatra Utara di Medan tahun 1951.

Hasan Soetan Pane Paroehoem
Kegiatan praktek notariat di Indonesia (baca: Hindia Belanda) secara resmi diberlakukan pada tahun 1860 (Stbl.1860 No.3). Undang-undang kolonial ini masih menjadi rujukan bahkan hingga tahun 2004 (Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris). Ini mengindikasikan bahwa para pionir notaris Indonesia tersebut bekerja berdasarkan Stbl.1860 No.3 (Reglement op Het Notaris Arnbt in Nederlands Indie).  

Sejauh ini belum pernah ditulis riwayat awal kegiatan kenotariatan di Indonesia. Juga belum pernah ditulis bagaimana para pionir notaris ini menjadi notaris. Lantas, peran apa saja yang telah meraka lakukan selama karir di bidang kenotariatan. Pertanyaan-pertanyaan ini menarik untuk diketahui. Untuk itu, mari kita telusuri sumber-sumber masa lampau.

Sejarah Jakarta (27): Sekolah Hukum Recht School di Batavia; Mr. Radja Enda Boemi, Ph.D, Meraih Gelar Doktor di Leiden, 1925


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Sekolah Hukum Rechts School di Batavia (1909-1927) telah meluluskan banyak ahli hukum. Namun tidak semuanya melanjutkan studi ke Belanda. Diantara yang studi hukum di Belanda hanya beberapa yang meraih gelar doktor (Ph.D). Yang jelas, Rechts School ini telah turut melahirkan pejuang-pejuang yang turut merebut kemerdekaaan Indonesia.

Selain Rechts School juga terdapat jenis sekolah yang lainnya. Yang pertama didirikan adalah sekolah guru (Kweekschool) tahun 1850, kemudian disusul pendirian sekolah kedokteran Docter Djawa School tahun 18951 (yang kemudian tahun 1902 berubah menjadi STOVIA). Sekolah kedokteran hewan Veeartsen School didirikan di Buitenzorg tahun 1875 lalu disusul pendirian sekolah pertanian Lanbouw School. Di Bandoeng didirikan sekolah tinggi teknik Technisch Hooge School tahun 1920. Pada tahun 1924 STOVIA ditingkatkan statusnya menjadi sekolah tinggi kedokteran (Geneeskundige Hooge School) dan kemudian disusul Rechts School menjadi Rechts Hooges School tahun 1927.

Rechts School di Batavia menjadi cikal bakal Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Lantas bagaimana riwayat perjalanan para alumninya. Sudah barang tentu sudah banyak ditulis, namun tetap dirasakan masih belum cukup. Dengan upaya penggalian data masih dimungkinkan untuk memperkaya tulisan-tulisan yang sebelumnya. Mari kita mulai dari Rechts School itu sendiri.

Sejarah Jakarta (26): Tempe, Makanan Kuno Asli Indonesia Dipopulerkan Prof Dr Jansen (1927); Kini, Tempe Semakin Mendunia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Tempe sebagai makanan dianggap tidak penting jelas keliru. Tempe sudah diketahui sejak lama sebagai makanan bergizi. Dalam sejarahnya, makanan tempe sesungguhnya telah banyak menyelamatkan penduduk dari bahaya kekurangan gizi yang menyebabkan kematian. Makanan tempe juga telah memberi kontribusi besar dalam menghemat anggaran (pemerintah). Tempe memiliki kekuatannya sendiri. Pentingnya makanan bukan ditentukan harganya melainkan nilai nutrisinya. Karena itu, tempe sudah sejak lama dijadikan solusi.

Prof. Dtr BCP Jansen (1927)
Pada masa kini, tempe sudah semakin mendunia. Produksi tempe tidak hanya di Indonesia, juga sudah ditemukan di Jepang dan Prancis. Meski banyak orang terkesan malu-malu, tempe telah menjadi salah satu diet yang cukup sehat di jaman penyakit generatif ini. Para vegetarian kini melihat tempat sebagai makanan mewah. Pada waktunya, tempe akan menjadi cara hidup dan gaya hidup. Dulu, tempe memiliki perbedaan relatif terhadap daging, tapi kini, tempe memiliki perbedaan relatif dengan gizi yang sehat. Inilah kekuataan tempe yang akan menjadi cara hidup dan gaya hidup cerdas di zaman now.

Bagaimana sejarah tempe sebagai makanan bergizi tidak pernah ditulis secara komprehensif. Padahal tempe adalah keseharian kita di Indonesia. Tempe sendiri dalam menu makanan sejak nenek moyang kita hingga ini hari tidak pernah putus. Lantas mengapa sejarah tempe terputus. Mari kita sambung lagi sejarah tempe.

Sejarah Jakarta (25): KERAK TELOR, Dulu Namanya KERAK KETAN; Sejarah Buku Masakan Indonesia dan Satiaman P. Harahap


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Kerak telor adalah makanan asli Betawi. Jenis makanan ini meski sudah tergolong tua, tetapi hingga ini hari masih eksis dalam daftar kuliner khas Betawi. Apa hebatnya? Itu dia. Namun setelah dilacak ke masa lampau, ternyata kerak telor tidak dikenal. Yang ada adalah kerak ketan. Lantas mengapa kini kerak ketan disebut kerak telor? Nah, itu dia.

Tukang kerak telor (wikipedia)
Makanan asli dan makanan khas beda. Makanan asli adalah makanan yang bersifat lokal yang tercipta dari masyarakat setempat. Sedangkan makanan khas adalah makanan yang umumnya dikonsumsi oleh komunitas masyarakat setempat relatif terhadap komunitas masyarakat lainnya. Kerak ketan atau kerak telor adalah makanan asli dan juga makanan khas Betawi.

Selama ini, di berbagai media, kerak telor atau kerak ketan disebutkan sudah ada sejak era kolonial. Akan tetapi itu tentu tidak cukup informatif. Untuk itu, mari kita tinjau kembali, sejak kapan kali pertama keberadaan kerak telor dilaporkan? Paling tidak upaya itu akan menambah pengetahuan kita dalam memahami sudah seberapa tua makanan khas yang satu ini.

Sejarah Jakarta (24): Asal Usul Nama Tempat di Jakarta; Banyak Keliru, Keliru karena Kurangnya Upaya Pencarian Data


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Asal usul nama tempat di berbagai kota di Indonesia sudah banyak diceritakan. Tapi tampaknya masih diceritakan dengan asal usil yang keliru. Itu dapat dimaklumi, karena ada ambisi kuat untuk menceritakan tetapi lemah dalam menunjukkan bukti. Dalam bahasa sekarang: nafsu besar tenaga kurang. Namun ambisi adalah ambisi, bagaimana munculnya nama tempat, dengan jalan pintas hanya didasarkan pada arti dan kedekatan arti dari nama tersebut.  

Pemukiman (perkampungan) di Batavia, 1860
Upaya menceritakan asal usul nama tempat pada masa ini banyak yang keliru, keliru karena kurangnya data pendukung. Seharusnya menceritakan asal usul nama tempat berdasarkan informasi yang akurat, siapa yang menceritakan dan tahun-tahun tertua ketika diceritakan. Lebih baik menyebutkan ‘tidak/belum diketahui’ daripada harus dipaksakan seolah-olah sudah diketahui.

Sejarah asal usul nama-nama tempat di Jakarta tentu saja menjadi pusat perhatian yang menarik. Sebab nama-nama tempat di Jakarta sudah sangat dikenal di seluruh Indonesia, sebut saja Senen, Senayan, Kemayoran, Kebayoran, Tanah Tinggi, Tanah Abang dan lain sebagainya. Mari kita mulai sejarah asal usul Kemayoran.

Sejarah Jakarta (23): Macan Kemayoran, Julukan Klub Persija Bukan Mitos, Macan Memang Benar Pernah Ada di Jakarta, 1882


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Pada masa ini nama Macan Kemayoran selalu dikaitkan dengan nama julukan klub Persija Jakarta. Kapan klub Persija Jakarta diberi nama julukan Macan Kemayoran tidak diketahui jelas. Nama Macan Kemayoran dikaitkan dengan cerita rakyat yang mengisahkan pemuda bernama Murtado yang dijuluki sebagai Macan Kemayoran.

Macan Batavia terakhir ditembak oleh Simons van Kemayoran
Kisah Murtado yang dijuluki Macan Kemayoran dapat dibaca dalam buku berjudul ‘Cerita Rakyat Dari Sabang Sampai Merauke’ yang diterbitkan Pustaka Widyatama. Murtado dikisahkan hidup di zaman kompeni (era kolonial Belanda). Murtado diriwayatkan sebagai pemuda tampan dan juga pemberani. Ketika di kampungnya di Kemayoran sering terjadi kejahatan, Murtado tampil untuk melakukan perlawanan. Dalam suatu pengejaran penjahat, Murtado bersama teman-temannya dapat melumpuhkan para garong tersebut. Barang-barang yang dijarah perampok tersebut dikembalikan Murtado kepada pemiliknya. Penduduk Kemayoran memuji tindakan Murtado.

Kisah legenda Murtado yang dijuluki sebagai Macan Kemayoran tentu menarik untuk sekadar bacaan. Namun pertanyaannya adalah apakah benar-benar ada sesesorang disebut Macan Kemayoran? Lantas apakah pernah ada macan (harimau) di Kamayoran? Pertanyaan ini sudah sejak lama muncul di pikiran, tetapi secara tidak sengaja baru ini dapat menemukan jawabannya. Mari kita simak.

Sejarah Jakarta (22): Sejarah KADIN, Kamar Dagang Industri; Parada Harahap Pimpim Pengusaha Pribumi ke Jepang 1933

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Sejarah organisasi kamar dagang dan industri Indonesia sejatinya memiliki sejarah yang panjang, bahkan sudah ada sejak lebih dari satu abad yang lalu. Oganisasi kamar dagang dan industri orang-orang pribumi saat itu secara sadar telah mempelopori kebangkitan bangsa. Organisasi dagang dan industri pribumi ini tetap konsisten dalam pergerakan bangsa hingga tercapainya kemerdekaan bangsa Indonesia. 

De Indische courant, 29-12-1933
Seakan ada anggapan bahwa pengusaha Indonesia baru lahir dan memulai organisasi pada zaman Orde Baru. Ini dapat dibaca di dalam Sejarah Kadin Indonesia. Disebutkan pembentukan organisasi Kadin Indonesia pertama kali dibentuk tanggal 24 September 1968 atas prakarsa Kadin Jakarta. Faktanya, Kadin Indonesia di era Belanda sudah eksis yang disebut Inheemsche Middenstands Vereeniging (1929). Jika mundur lagi kembali akan ditemukan kadin-kadin yang lebih tua: Sarikat Dagang Islam di Solo (1911) dan Sjarikat Tapanoeli di Medan (1907),

Bagaimana para pengusaha pribumi tersebut berkiprah? Itu yang menjadi pertanyaannya. Sejarah organisasi dagang dan industri pribumi meski ada yang menulis tetapi tidak memadai. Anehnya, sejarah organisasi dagang dan industri para pengusaha pribumi ini sejak era kolonial Belanda tidak disertakan dalam sejarah Kadin Indonesia masa kini. Sejarah organisasi para pengusaha pribumi ini sudah barang tentu menarik untuk diperhatikan. Mari kita telusuri.

Sejarah Jakarta (21): Rekor Pertemuan Tim Persija vs PSMS dan Pertandingan Klasik; Memori 26 Desember 1954 di Stadion Ikada

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Baru saja Persija Jakarta mengalahkan lawannya dengan skor 3-1 dalam perempat final (8 Besar) turnamen Piala Presiden 2018. Dengan kemenangan ini, Persija Jakarta menantang PSMS Medan di partai semi final. PSMS Medan sehari sebelumnya berhasil mengalahkan Persebaya Surabaya. Tiga kesebelasan ini mengingatkan kembali dengan nama-nama tim kesebelasan legandaris di era sepakbola perserikatan. Pertandingan Persija Jakarta vs PSMS akan ditunggu para gibol dengan sangat antusias, karena pertemuan PSMS dengan Persija masuk dalam label El Clasico di sepak bola Indonesia.

Stadion IKADA  Djakarta 1955
Dalam partai semi final Piala Presiden 2018 menggunakan format pertandingan home (leg-1) dan away (leg-2). Format ini pernah diterapkan pada Kejuaraan Antar Perserikatan pada tahun 1967 yang diselenggarakan di Stadion Utama Senayan. Namun kini, PSMS pada leg pertama menjadi tuan rumah dan pada leg-2 Persija menjadi tuan rumah. Masalahnya, Stadion Teladan Medan (yang dibangun 1952) proses renovasinya belum selesai, sementara Stadion Gelora Bung Karno Senayan baru saja selesai direnovasi dan Persija menginngikan menjadi laga kandangnya melawan PSMS. Anehnya, PSMS yang notabene tidak memiliki stadion bersedia memilih kandang di kandang Persija. Jika ini yang terjadi maka akan teringat memori tahun 1967

Disebut pertandingan El Clasico, pertemuan antara Persija dan PSMS sudah terjadi sejak tempo doeloe dan telah dilakukan untuk yang kesekian kali. Pertandingan PSMS vs Persija kali ini akan merecall kembali memori kejadian 26 Desember 1954 di Stadion Ikada Jakarta. Pertandingan ini adalah pertemuan kali kedua antara tim Persija dan PSMS. Pertandingan ini juga merupakan pertandingan terakhir dalam partai 6 Besar Kejuaraan Antar Perserikatan 1953/1954 (partai menentukan untuk mnjadi juara: Persija atau PSMS).

Sejarah Jakarta (20): Sejarah Nama Jalan; Tan Boen Tjit (Buncit) di Mampang dan Usulan Nama Jalan Abdul Haris Nasution

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Hari ini Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan menunda sosialisasi perubahan nama jalan terusan Rasuna Said, Jalan Mampang Prapatan dan Jalan Warung Jati Barat (Warung Buncit) menjadi Jalan AH Nasution. Usulan ini muncul dari Ikatan Keluarga Nasution tetapi ada penolakan dari pihak tertentu. Gubernur Anies Baswedan disamping masih memerlukan kajian dan juga menginginkan partisipasi sejarawan, budayawan dan ahli tata kota dalam penentuan nama jalan juga ingin meninjau Surat Keputusan Gubernur Nomor 28 Tahun 2009 terkait pedoman penetapan nama jalan.

Peta 1938
Sejarah Jenderal Abdul Haris Nasution sudah diketahui sejak lama dan siapa Abdul Haris Nasution sudah dipahami secara luas oleh rakyat Indonesia. Sementara sejarah Mampang dan sejarah Buncit masih simpang siur. Disebut bahwa Mampang dan Buncit berkaitan dengan memori kolektif warga Betawi. Namun tidak bisa dijelaskan memori kolektif dalam hal apa dan sejak kapan memori kolektif itu terbentuk.

Artikel ini akan mendeskripsikan sejarah perubahan nama-nama jalan di Jakarta, sejak era Batavia hingga Pasca Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia (1950). Dalam artikel ini juga akan dideskripsikan asal-usul nama Mampang dan asal-usul nama Buncit. Nama Buncit diduga kuat adalah seorang Tionghoa pemilik lahan di Mampang dan sekitarnya yang bernama Tan Boen Tjit. Deskripsi ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman para sejarawan (yang belum menemukan data).

Sejarah Jakarta (19): 'Gerhana Bulan Total' 31 Maret 1866 Tempo Dulu Tidak Seheboh 'Super Blue Blood Moon' 31 Januari 2018

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Baru saja kita melewati peristiwa alam yang spektakuler, gerhana bulan total yang istimewa yang disebut  Super Blue Blood Moon tepatnya tanggal 31 Januari 2018 yang dimulai pukul 20.00 WIB. Gerhana bulan total ini disebut istimewa karena hanya terjadi sekali dalam 150 tahun. Berita-berita resmi (seperti LAPAN) menginformasikan bahwa peristiwa Super Blue Blood Moon ini terjadi pada tanggal 31 Maret 1866.

Gerhana bulan total istimewa (three lunar events collide)
Gerhana bulan total terjadi saat matahari, bumi, dan bulan berada pada satu garis lurus. Peristiwa ini sedikitnya terjadi dua kali dalam satu tahun. Gerhana bulan istimewa ini tidak hanya gerhana total (total lunar eclips) tetapi juga terjadi fullmoon (a blue moon) dan supermoon. Pada hari ini fullmoon, supermoon, dan eclips terjadi secara bersama-sama (three lunar events collide). Inilah yang disebut Super Blue Blood Moon yang hanya terjadi berulang setiap 150 tahun.

Berita-berita Super Blue Blood Moon yang sekarang begitu heboh. Setiap orang tampaknya mengetahui akan terjadinya peristiwa. Ini terbantu karena setiap orang di ear IT ini sudah terhubung satu sama lain (era zaman now) sehingga informasi dari titik manapun di dunia ini menyebar dan beredar ke semua penjuru secara cepat dan masif. Lantas bagaimana, fenomena alam yang sama ini di masa tempo doeloe. Sebagaimana diyakini Super Blue Blood Moon terjadi pada tanggal 31 Maret 1866. Apakah berita Super Blue Blood Moon kala itu seheboh sekarang? Mari kita lacak!

Sejarah Jakarta (18): Benteng-Benteng VOC di Batavia dan Sekitar; Benteng Terjauh Fort Padjadjaran, Bogor Hulu Sungai Tjiliwong

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Benteng Batavia (Casteel Batavia) adalah benteng pertama di Batavia. Benteng Batavia  dibangun seiring dengan penetapan muara sungai Tjiliwong sebagai ibukota (stad) VOC yang baru, sejak 1619. Casteel Batavia tentu saja bukan satu-satunya benteng VOC di Batavia. Benteng sendiri bagi VOC dari sisi luar adalah untuk fungsi pertahanan, tetapi dari sisi dalam benteng juga berfungsi sebagai komplek bangunan untuk berbagai hal: pimpinan, administrasi, gudang komoditi, gudang senjata, barak pekerja, barak tentara dan sebagainya. Benteng Batavia (Casteel Batavia) adalah benteng terbesar VOC di Oost Indie (Hindia Timur).

Stad Batavia dan benteng sekitar Batavia (Peta 1660)
Benteng-benteng VOC tidak hanya terdapat di Batavia. Benteng VOC juga terdapat di Ternate, Tidore dan Amboina dan Macassar. Benteng-benteng VOC lainnya berada di Atjeh, Baros, Singkel dan Padang serta (pulau) Gontong di Riaouw di Sumatra. Benteng-benteng di timur Batavia diantaranya benteng Missier di Tegal, benteng-benteng di Semarang dan sekitar serta benteng-benteng di di Soerabaja dan sekitar. Di sebelah barat Batavia juga ditemukan benteng VOC di Banten. Satu benteng VOC yang berada di selatan Batavia adalah benteng Padjadjaran.   

Benteng di Batavia dan sekitar terbilang cukup banyak. Jumlah benteng VOC di sekitar Batavia diperkirakan sebanyak 20 buah. Benteng-benteng dibangun sesuai dengan situasi dan kondisi wilayah. Lokasi dimana benteng dibangun ditentukan atas pertimbangan potensi (ekonomi) wilayah dan kemungkinan munculnya ancaman (serangan) di wilayah sekitar. Pembangunan benteng adalah investasi pertama VOC di wilayah yang baru.

Sejarah Jakarta (17): Pemimpin Lokal di Batavia Era Daendels (1807-1811); Moor, Tionghoa, Melayu, Bugis, Jawa, Lainnya

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Pemerintah Hindia Belanda menggantikan VOC. Pada akhir 1799 VOC dinyatakan bangkrut. Saat itu Belanda dan Batavia (Oost Indie) diduduki Prancis sejak 1795. Pemerintah Hindia Belanda (selama pendudukan Prancis) baru efektif pada awal tahun 1808 (Gebernur Jenderal Daendels).

'Almanak' 1811
Pendudukan Prancis baru berakhir 1810, namun tidak lama kemudian digantikan oleh Inggris. HW Daendels memulai pemerintah tanggal 14 Januari 1808 menggantikan Albertus Henricus Wiese. HW Daendels sendiri sejak 6 Desember 1806 hingga 1 Januri 1808 menjabat sebagai kepala Majeiseits Land end Zeemagt. Pada masa-masa sulit inilah Daendels memerintah.

Pada Pemerintahan Hindia Belanda di bawah Gubernur Jenderal Daendels, pemimpin lokal disertakan (lihat 'Almanak' Naam-lyst van gouverneur generaal en raden van Indiƫn, uitmakende het..1811). Saat itu hanya diberlakukan di Batavia. Pemimpin lokal dijabat oleh seorang Belanda J. Nicolass yang membawahi pemimpin lokal: Major van de Mooren, Amiet Lebe Ibenoe Oessen Kandoe (sejak 1809). Selain itu terdapat Kapitein China yang dibantu enam orang sebagai Luitenant.

Sejarah Jakarta (16): Raffles (1811-1816); Java Government Gazette, Surat Kabar Inggris di Batavia Terbit Perdana 29-02-1812

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Sejauh ini, informasi Batavia hanya bersumber dari surat kabar berbahasa Belanda. Hal itu , karena Belanda yang mnguasai Batavia. Pada tanggal 26 Agustus 1811 Inggris menduduki Batavia. Dua minggu kemudian, Inggris membuat proklamasi pada tanggal 11 September 1811 lalu disusul kemudian tanggal 18 September 1811 membuat perjanjian dengan Belanda yang isinya Jawa dan Madura dikuasai Inggris. Butir berikutnya dari perjanjian tersebut bahwa semua tentara Belanda menjadi tawanan Inggris dan orang sipil Belanda dapat dijadikan pegawai Inggris. Pimpinan Inggris dalam hal ini Thomas Stamford Raffles.

Java Government Gazette, edisi pertama 29-02-1812

Pimpinan Inggris di India yaitu Lord Minto memerintahkan Thomas Stamford Raffles yang berkedudukan di Penang untuk menguasai Jawa. Lalu Raffles diangkat sebagai Letnan Gubernur dengan tugas mengatur dan inisiasi perdagangan dan keamanan.

Lantas apakah semua surat kabar Belanda berhenti? Ternyata tidak. Namun demikian diantara surat kabar berbahasa Belanda muncul surat kabar berbahasa Inggris. Surat kabar tersebut adalah Java Government Gazette yang terbit di Batavia. Surat kabar bentukan pemerintah Inggris di Hindia Belanda (East India) inilah yang mengabarkan segala sesuatu yang berkenaan dengan pemindahan kekuasan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sejarah Jakarta (15): Buitenzorg Ibukotanya Blubur, Sejarah Kota Bogor yang Sebenarnya



*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Jika kita datang ke Bogor, kini kita disambut dengan satu monumen ‘pintu gerbang’ yang menempel pada latar belakang Kebun Raya Bogor. Monumen ini terdiri dari sembilan pilar ‘paku alam’ yang sejajar, yang menopang satu batang besar sebgai plakat yang bertuliskan ‘Dinu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga’. Arti harfiahnya adalah yang ada sekarang adalah hasil masa lampau dan yang dilakukan sekarang buat masa datang.

Semboyan ini saya paham betul artinya dari sudut sejarah, dan saya juga paham betul geografi Kota Bogor secara rinci. sebagai sebuuah lanskap dimana semboyan itu melekat. Saya pernah menjadi warga kota yang indah ini dengan KTP Kota Bogor selama sepuluh tahun. Ketika saya datang ke Kota Bogor baru-baru ini, saya tidak kaget melihat semboyan ini tetapi justru saya menggugatnya: Mengapa monumen semacam itu tidak sejak dulu dibuat?.

Titik singgung sungai Ciliwung dan Cisadane
Kota Bogor masa kini adalah kota yang di masa lampau yang dipilih oleh para pendahulu sesuai dengan anugerah alam untuk kebutuhan pertahanan, panorama dan religi. Pilihan lanskap kota alam ini sejauh yang saya tahu terbaik di nusantara. Titik origin kota Bogor (sebelumnya bernama Buitenzorg) yang sekarang adalah titik persinggungan antara sungai Ciliwung dan sungai Cisadane.

Bayangkan kita berada di tengah kota (titik origin) di masa lampau. Kita berada diantara dua sungai besar yang sejajar yang merupakan jarak terdekat dua sungai ini (titik singgung) yakni sungai Ciliwung dan sungai Cisadane. Diantara dua sungai besar ini terdapat sungai kecil bernama Cipakancilan. Ke arah selatan (sisi sungai Cisadane) terdapat panorama gunung Salak, ke arah utara panorama melandai menuju ke laut. Ke hulu arah timur menuju pusat ibukota kerajaan Pakuan dan ke hilir arah barat persawahan dan berbelok ke utara mengikuti aliran sungai Ciliwung menuju laut. Titik singgung inilah pusat kota Bogor yang sekarang (Bazaar/Pasar Bogor).  Dari titik origin ini ke arah hulu adalah kota lama (Pakuan Pajajaran) dan ke arah hilir terbentuk kota Buitenzorg. Batas itu kini berada di Pasar Bogor dimana di pangkal jalan Suryakencana kini dibuat gapura dengan bertuliskan ‘Lawang Suryakancana’ (lawang=pintu gerbang). 

Untuk mudahnya kita dapat membagi periode kota ini: masa kini (Kiwari), masa lalu (Bihari) dan masa datang. Kita mulai dari nama Buitenzorg sebagai hasil kearifan lokal masa lampau dan memproyeksi ke masa datang.

Sejarah Jakarta (14): Jalan Pos, Cikal Jalan Raya; Titik Nol Casteel Batavia. Pos Pertama di Bidara Tjina

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Jalan pos (postweg) adalah jalan utama yang menghubungkan satu tempat utama (hoofdplaats) dengan tempat utama lain untuk keperluan pos. Jalan pos juga menjadi jalur moda transportasi darat untuk arus barang dan orang. Jalan pos dalam perkembangannya menjadi jalan raya utama pada masa kini. Jalan pos sudah ada sejak era VOC. Jalan pos kemudian dirancang ulang oleh Daendles dengan kebijakannya yang terkenal, yakni pembangunan jalan pos trans-Jawa dari Anyer-Panaroekan.

Bataviasche koloniale courant, 05-01-1810
Daendles membuat keputusan yang dimuat dalam surat kabar, Bataviasche koloniale courant edisi pertama (lihat Bataviasche koloniale courant, 05-01-1810). Di dalam keputusan ini (General Reglement) terdapat aturan umum (general reglement) yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Daendles (setelah dua tahun menjabat untuk) menetapkan beberapa nama tempat yang dijadikan sebagai patokan (check poin) jaringan jalan pos yang menghubungkan semua wilayah di Jawa (dimana orang-orang Eropa tinggal).

Satu hal yang menarik dalam pembagian wilayah (distrik) ini hanya disebutkan nama tempat Bantam, Batavia, Semarang dan Surabaya. Hal ini terkait dengan penarikan garis dari satu tempat ke tempat lain sebagai jalan pos. Ini berarti belum ada pembagian wilayah administrasi sebagaimana nanti Jawa dibagi tiga (lima) wilayah: West Java, Midden Java dan Oost Java (Djocjakarta dan Soerakarta). Sementara dalam General Reglement, 1810, rute antar tempat-tempat utama yang disebut tidak diperinci seperti rute Batavia-Buitenzorg.

Jalan Pos Batavia-Buitenzorg

Jalan pos Batavia-Buitenzorg adalah salah satu ruas jalan pos utama di Jawa. Jalan pos ini bermula ketika istana Buitenzorg dibangun sebagai tempat peristirahatan Gubernur Jenderal (dalam perkembangannya menjadi kantor Gubernur Jenderal). Jalan pos Batavia-Buitenzorg menjadi bagian dari jalan pos trans-Jawa (Daendles).

Sejarah Jakarta (13): Nama-Nama Kampong Tempo Doeloe di Batavia (Jakarta)



Nama-nama kampong di Jakarta (Batavia) sudah ada sejak doeloe, era VOC. Kemudian Era Hindia Timur (VOC) berganti menjadi era Hindia Belanda (Pemerintah Kerajaan Belanda) pada tahun 1799. Antara tahun 1799  hingga tahun 1811 dapat dianggap era transisi yang juga diantaranya terjadi pendudukan Inggris (1811-1816). Era transisi ini membedakan era lama (sarikat dagang) dan era baru (pemerintahan colonial). Pada era VOC ibukota berada di Batavia  lama (sekitar casteel) sedangkan pada era pemerintah Hindia Belanda sudah bergeser ke Batavia baru (yang sekarang).

Era VOC

Nama-nama situs penting di era Batavia lama yang masih eksis di era Batavia baru, antara lain (Almanak 1819): Kasteel (Kota Intan), Vierkant (pabean), Groot River (Kali Besar), Diestpoort (Pintu Kecil), Nieuwpoort (Pintu Besar), Buiten de Boom (Luar Jembatan) dan Molenvlier. Pada era VOC ini sudah teridentifikasi nama-nama kampong di Batavia. Nama-nama kampong terawal dicatat di Batavia seperti Kampong Bandan dan Kampong Heemraden, Kampong Pisang, Kampong Borrong (Loear Batang). Dalam perkembangannya nama-nama kampong yang teridentifikasi adalah (Peta 1825):

Bagian Barat Batavia: Djacatra, Djambattan Doea, Djambattan Lima, Goesti, Sawa, Doerie, Boegis, Kapoelian, Soekaboemi, Pisang, Baroe/Baroo, Rawa, Tandjong, Pamanggisan, Tommang, Silipie, Koabamboe, Kebon Dalam, Baroe, Gallong, Rawa, Tamboeran, Pedjompongan, Bendoengan, Boekoenang, Doekoe, Boeloe, Bingan, Dapos, Rontakan, Tjidodol, Goenong, Snahan, Jaman, Batoechepper, Anke, Jacatra.

Bagian Selatan Batavia: Peljote (Petojo?), Diemet, Tjidang, Menting, Slemba, Tjikenie, Kramat, Doekoe, Bazaar Baroe, Kare, Koenang Tiga, Panggilingan, Kwitang, Menting Pisang, Pagansang, Doerin, Panjoran, Dalam, Matraman, Kebon Manggis, Oetang Kaijoe, Tanarenda, Balie, Magran, Jawa, Malajo, Lalen, Pangadegan, Lengkong, Tandjong, Baroe, Bedara Tjina, Pataroeman (Petamburan?), Tanabang.

Bagian Timur Batavia: Kampong Malajo (Melayu), Bidara Tjina, Meester Cornelis, Djacatra, Kebon Nanas, Tjipinang Lobang Boaja, Tjipinang, Rawa Bankee, Pisangan, Rawa Mangoon, Kedong Ratoe, Tana Baroe, Pedongkelan, Kandang Sampi, Lembo, Stot, Bandan, Poelo Nanka, Malajoe, Pagansan, Padoerenan. Toekangan, Pakoeboerang, Tjakong, Kajotingi, Rawa Ratee, Jatti Nagara, Tano Koja, Baroe, Pondok Gede, Peesing, Gonong Sahare, Tandong Poora, Pacojan dan Sonthar (Sunter).

Era Pemerintah Hindia Belanda

Era pemerintahan Belanda yang efektif mulai tahun 1810 baru sekadar mengidentifikasi nama-nama daerah di seluruh Hindia Belanda.  Awalnya dibentuk Residentie (Province), seperti: Bantam, Batavia, Preanger, Teribon dan sebagainya. Pada masa ini (1865) Residentie Batavia terdiri dari tujuh afdeeling (semacam kabupaten): Tangerang, Batavia, Weltevreden, Meester Cornelis, Tandjong, Tjibinoeng dan Buitenzorg.

Sejarah Jakarta (12): Surat Kabar Pembrita Betawi (1885) Hingga Pers Berbahasa Melayu; Tata Bahasa van Ophuijsen Hingga Balai Poestaka (1920)



Setelah pers Belanda di Hindia Belanda berkembang, kemudian menyusul surat kabar berbahasa Melayu diterbitkan tahun 1858. Tentu saja surat kabar berbahasa Melayu menggunakan bahasa Melayu. Namun bahasa Melayu yang digunakan entah versi siapa. Memang bahasa Melayu sudah sejak dahulu menjadi lingua franca dari Andaman hingga Maluku, namun belum pernah diperhatikan sebagai tatabahasa. Dan belum ada yang menyusun tata bahasa Melayu. Ketika bahasa Melayu dijadikan bahasa surat kabar maka apa yang dipikirkan oleh si penulis dengan si pembaca bisa berbeda. Ini berbeda dengan bahasa Belanda yang sudah memiliki tata bahasa baku.

Bahasa Melayu banyak ragamnya tergantung siapa yang menggunakan. Ada versi Belanda, versi Tionghoa dan ada versi pribumi. Disamping bahasa Melayu juga terdapat dialek Melayu yang berbeda satu sama lain misalnya Minangkabau, Ambon dan Betawi. Hal-hal serupa ini akan menyulitkan penerbitan surat kabar berbahasa Melayu. 

Surat Kabar Berbahasa Melayu

Surat kabar berbahasa Melayu pertama diterbitkan di Surakarta tahun 1856 (lihat Soerabaijasch handelsblad, 25-01-1889). Di Batavia menyusul surat kabar Bintang Oetara (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-03-1856). Lalu kemudian dua tahun berikutnya (cf. 1858) sebagaimana disebut koran Soerabaijasch handelsblad, 25-01-1889, di Surabaya terbit surat kabar bernama Bintang Timor. Setelah sekian lama, kemudian di Batavia terbit lagi surat kabar baru, Bintang Barat yang diterbitkan oleh De Lange & Co (Bataviaasch handelsblad, 19-04-1869)

Sejarah Jakarta (11): Surat Kabar Pertama Bataviaasche Nouvelles (1744); Bataviaasch Genootschap dan Pers Belanda



Bataviaasch Genootschap didirikan. Lembaga pengetahuan VOC ini didirikan tahun 1778 di Batavia (Tanggal 24 April). Pada saat ini kantor semacam institusi VOC yang disebut Dagh-Register masih aktif melakukan pencatatan tentang Hindia Timur, khususnya dinamika di Batavia.

Hollandsche historische courant, 11-01-1785
Satu catatan Dagh Register yang berhasil ditemukan adalah catatan tentang kedatangan seorang Tionghoa di Batavia dari Angkola tahun 1701. Catatan-catatan lainnya belum pernah ada yang dilaporakan. Namun semua catatan Dagh Register sejak 1624 sudah diekstrak di dalam berbagai volume (volume 1624 hingga volume 1782). Oleh karena itu, catatan parsial (dalam bentuk asli) tentang satu hal hanya catatan tentang Tionghoa tersebut.

Lembaga pengetahuan baru telah muncul. Yang kemudian disebut Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Lembaga ini tentu di awal pendiriannya belum efektif bekerja. Hasil pertama mereka adalah sebuah prosiding yang dipublikasikan dan dijual secara komersol (lihat Hollandsche historische courant, 11-01-1785) Lembaga ini diduga baru efektif bekerja di era pemerintahan colonial Belanda (VOC bangkrut lalu diakuisisi Kerajaan Belanda dengan membentuk Pemerintah Hindia Belanda tahun 1799).

Pada era Inggris (1811-1816) nama Batavian Literary Society muncul, Gubernur Jenderal Inggris, Raffles termasuk salah satu anggota (kehormatan) dan duduk sebagai Presiden Kehormatan (di atas Vice President). Raffles adalah penulis handal, bukunya yang terkenal adalah Th History of Java. Salah satu anggota kehormatan adalah William Marsden, penulis buku The History of Sumatra yang diterbitkan pertama kali tahun 1811. Meski demikian nama Bataviaasch Genootschap tetap eksis (lihat ava government gazette, 03-04-1813). Dengan kata lain ada dua lembaga yang berbeda anggota dan bahasa.

Pada masa selanjutnya, sumber-sumber yang dapat dijadikan rujukan selain Dagh Register adalah beberapa surat kabar yang terbit di Belanda (Amsterdam, Haarlem, Rotterdam dan Leyden). Surat kabar semasa VOC tidak ditemukan di Batavia. Dua sumber tersebut (dagh register dan surat kabar di Belanda) menjadi sumber data terpenting.

Sejarah Jakarta (10): Penduduk Betawi di Batavia; Istilah Anak Betawi Asli (1886), Nama Betawi Pernah Dilarang (1951)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Penduduk Betawi di Batavia sudah sejak lama disebutkan. Penduduk Betawi umumnya berbahasa Melayu. Penduduk Betawi dikelilingi oleh penduduk berbahasa Sunda di area yang lebih tinggi (bovenlanden). Bagaimana penduduk Betawi terbentuk sudah ada yang pernah menelitinya. Oleh karena itu, penduduk Betawi diasumsikan adalah penduduk asli Batavia. Satu hal yang menarik dilihat, ketika Batavia telah berproses dan namanya berganti menjadi Jakarta, muncul pertanyaan baru: dimana pemukiman mereka terkonsentrasi sekarang?.

Sunda Kalapa Hingga Batavia

Secara teoritis, area yang menjadi Batavia di masa lampau adalah teritori yang berbahasa Sunda—mulai dari garis pantai di Banten hingga di Chirebon ke pedalaman. Teritori berbahasa Sunda ini dipertegas ketika Portugis/Belanda menyebut pelabuhan di muara Ciliwong sebagai Cunda Kalapa (Sunda Kalapa). Sunda berarti terkait dengan pegunungan di pedalaman (Kerajaan Pakuan Pajajaran), Kalapa berarti tanaman yang banyak ditemukan di dataran rendah dekat garis pantai. Satu-satunya pintu (gate) penduduk berbahasa Sunda di pedalaman adalah muara Tjiliwong. Sebaliknya muara sungai adalah pintu (gate) bagi pihak luar untuk berinteraksi dengan penduduk dari pedalaman. Oleh karena itu, muara sungai Tjiliwong (Sunda: cai, ci= air, sungai) adalah titik strategis untuk memulai memahami penduduk Betawi.

Soerabaijasch handelsblad, 28-08-1886
Kalapa diyakini berasal dari bahasa Melayu. Penduduk berbahasa Sunda berhadapan langsung dengan penduduk pengguna bahasa Melayu (pantai timur Sumatra, semenanjung Malaya, kepulauan dan pantai barat/selatan Kalimantan). Interaksi antara dua penduduk yang menggunakan bahasa Melayu tersebut dengan penduduk yang menggunakan bahasa Sunda terjadi sangat intens. Bahasa Melayu yang muncul sebagai lingua franca dalam perdagangan/pelayaran menyebabkan teritori penduduk berbahasa Sunda menjadi lebih Melayu daripada lebih Sunda (dari sudut penggunaan bahasa). Nama-nama tempat (yang kemudian menjadi nama kampong) dan nama sungai di Batavia adalah kombinasi penggunaan bahasa Melayu dan bahasa Sunda.  

Kehadiran orang asing (Asia seperti India, Tiongkok, Arab, Persia) dan yang kemudian disusul orang Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis dan Inggris telah menambah keramaian pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan Sunda Kelapa sendiri yang sejak dari doeloe menjadi tempat pertukaran (exchange) yang penting dari luar (garam, kain, besi dan sebagainya) dan dari dalam di pedalaman (rempah-rempah, dan hasil-hasil hutan). Moda transportasi awal adalah melalui air (laut dan sungai). Sungai Ciliwong menjadi moda terpenting dari dan ke pedalaman (Pakuan/Padjadjaran). Paling tidak hingga beberapa pelabuhan sungai yang penting di sungai Ciliwung yang bahkan sampai ke Bodjong Gede (Moera Beres).

Sejarah Jakarta (9): Kereta Api Batavia-Buitenzorg Dioperasikan 31 Januari 1873; Tanah Partikelir Berkembang; Trem Listrik Batavia, 1899

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Pembukaan jalur kereta api Batavia dan Buitenzorg sangat berdampak luas: menghubungkan istana di Bogor dan istana di Batavia; memudahkan transportasi penduduk maupun wisatawan yang ke Buitenzorg. Manfaat lainnya adalah menjadi angkutan utama barang dan komoditi dari hulu sungai Ciliwung. Jalur kereta api Batavia-Buitenzorg mulai dioperasikan tanggal 31 Januari 1873 (lihat Bataviaasch handelsblad, 29-01-1873). Jalur ini diklola swasta (NIS).

Bataviaasch handelsblad, 29-01-1873
Jalur kereta api pertama di Hindia Belanda dibangun tahun 1867 yang menghubungkan jalur Semarang dengan luar kota (26 Km). Jalur ini dibuka untuk umum pada tahun 1867. Pada tahun 1970 dibuka jalur Semarang-Surakarta. Jalur antara Batavia dan Buitenzorg yang dibuka tahun 1873 merupakan kelanjutan jalur kereta api barang dari Jakarta kota yang sekarang dari dan ke pelabuhan baru di Tandjong Priok.

Pembukaan jalur Batavia-Bogor telah mengoptimalkan perkebunan-perkebunan di Buitenzorg dan wilayah pertanian penduduk. Sebagaimana diketahui sudah sejak lama antara Batavia dan Buitenzorg terjadi komersiaisasi lahan (land) dan terbentuknya perkebunan-perkebunan.

Kereta Api Batavia (Jakarta Kota)-Buitenzorg (Bogor)

Jadwal Buitenzorg-Batavia (Bataviaasch handelsblad, 29-01-1873)
Jalur kereta api Batavia-Buitenzorg melayani penumpang diantara dua kota ini yang mana kereta api berhenti pada setiap halte yang telah ditentukan. Jalur kereta api Batavia-Buitenzorg ini terdiri dari satsion utama (hoofdstatsion), stasion (stasion kecil), halte (halte besar) dan overweg (halte kecil). Stasion utama berada di Batavia lama (Stadhuis/NIS) dan Buitenzorg. Stasion antara berada di Meester Cornelis (stasion Jatinegara yang sekarang). Untuk halte dan overweg terdapat di: Cileboet, Bodjong Gede, Tjitajam, Depok, Pondok Tjina, Lenteng Agoeng, Pasar Minggoe. Halte lainnya terdapat di Pegangsaan (kini Cikini), Koningsplein (kini Gambir), Noordwijck (kini Juanda) dan Sawah Besar. Satu lagi halte yang terpisah adalah halte Kleine Boom (Pasar Ikan?).