Rabu, 31 Agustus 2022

Sejarah Jambi (9): Muara Tebo, Sungai Tebo Bermuara di Sungai Batanghari di Tebo; Muara Tebo, Muara Bungo dan Bungo Tebo


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jambi dalam blog ini Klik Disini 

Dimana Tebo berada? Di daerah aliran sungai Batanghari atau di daerah aliran sungai Asahan? Yang jelas nama Tebo telah disebut di dalam teks Negarakertagama, 1365 M. Namun yang dimaksud Tebo dalam hal ini adalah nama kota Tebo di daerah aliran sungai Batanghari. Nama Muara Tebo hanya sekadar kelurahan saja di kecamatan Tebo (Tengah), kabupaten Tebo Apakah ada kaitan Muara Tebo dengan Muara Bungo?


Muara Tebo adalah kelurahan di kecamatan Tebo Tengah, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari kabupaten Bungo Tebo, tanggal 12 Oktober 1999. Ibu kota kabupaten Kabupaten Tebo di Muara Tebo. Batas wilayah Kabupaten Tebo di utara Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau; di timur Kabupaten Batanghari dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat; di selatan Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin; di barat       Kabupaten Bungo dan Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Muara Tebo, sungai Tebo bermuara di sungai Batanghari di Tebo? Seperti yang disebut di atas, bagaimana sejarah Muara Tebo kurang mendapat perhatian. Padahal nama Tebo sudah ada sejak zaman kuno. Lalu bagaimana sejarah Muara Tebo, sungai Tebo bermuara di sungai Batanghari di Tebo? Seperti disebut di atas, dari sejarah candi inilah sejarah Jambi mulai dinarasikan. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jambi (8): Muara Tembesi, Kota di Jantung Daerah Aliran Sungai Batanghari; Asal Nama Tembesi dan Nama Batanghari


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jambi dalam blog ini Klik Disini  

Sejarah masa kini dan sejarah zaman kuno tentu saja sangat jauh berbeda. Namun antara dua masa itu ada hubungan relasinya. Muara Tembesi kini hanya sebagai kota kecil, yang hanya sebatas ibu kota kecamatan di kabupaten Batanghari. Nama Batanghari dan nama Muara Tembesi adalah nama kuno. Nama kabupaten Batanghari nama kota Muara Tembesi berada di jantung wilayah provinsi Jambi.  


Muaratembesi adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Batanghari, Jambi. Kabupaten Batanghari (atau Batang Hari) adalah salah satu kabupaten dibagian tengah provinsi Jambi. Ibukota kabupaten Batanghari berada di kecamatan Muara Bulian.Batas Wilayah di Utara Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tebo; di timur Kabupaten Muaro Jambi, di selatan   Kabupaten Musi Banyuasin; di barat Kabupaten Sarolangun. Secara topografis Kabupaten Batanghari merupakan wilayah dataran rendah dan rawa yang dibelah sungai Batanghari dan sepanjang tahun tergenang air, di mana menurut elevasinya daerah ini terdiri dari: 0-10 meter dari permukaan laut (11,80 %); 11-100 meter dari permukaan laut (83,70 %); 4,50 % wilayahnya berada pada ketinggian 101-500 meter dari permukaan laut. Kediaman Sultan Jambi di Dusun Tengah Desa Rambutan Masam (kini di Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batang Hari) pada tahun 1877-1879. Kabupaten Batanghari dibentuk pada 1 Desember 1948 melalui Peraturan Komisaris Pemerintah Pusat di Bukit Tinggi Nomor 81/Kom/U, tanggal 30 Nopember 1948 dengan pusat pemerintahannya di Kota Jambi. Pada tahun 1963, pusat pemerintahan daerah ini dipindahkan ke Kenali Asam, 10 km dari Kota Jambi. Kemudian pada tahun 1979, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1979, ibu kota kabupaten yang terkenal kaya akan hasil tambang ini pindah dari Kenali Asam ke Muara Bulian, 64 km dari Kota Jambi sampai saat ini. Desa/Kelurahan: Kel. Pasar Ma. Tembesi Kel. Kampung Baru; Ampelu; Ampelu Mudo; Jebak; Pelayangan; Pematang Lima Suku Pulau; Rambutan Masam; Rantau Kapas Mudo; Rantau Kapas Tuo; Suka Ramai; Sei. Pulai; Tj. Marwo (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah nama Kerinci di hulu Daerah Aliran Sungai Batanghari? Seperti yang disebut di atas, wilayah Kerinci juga termasuk era peradaban awal di (pulau) Sumatra, namujn kini menjadi penting bagi Sumatra Barat maupun Jambi. Lalu bagaimana sejarah nama Kerinci di hulu Daerah Aliran Sungai Batanghari? Seperti disebut di atas, dari sejarah candi inilah sejarah Jambi mulai dinarasikan. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 30 Agustus 2022

Sejarah Jambi (7): Nama Sabak Tua di Hilir Daerah Aliran Sungai Batanghari;Kini Nama Muara Sabak Menjadi Pelabuhan di Jambi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jambi dalam blog ini Klik Disini  

Wilayah hulu dan wilayah hilir, ibarat garis yang satu berada di ujung satu dan yang lain di ujung yang lain. Antara dua wilayah terjauh itu di dalam satu garis dapat dihubungkan oleh berbagai moda: jalan darat, pelayaran sungai maupun laut. Namun ada juga harus dihubungkan dengan moda transportasi udara. Dalam hal ini Muara Sabak berada di hilir sungai Batanghari di provinsi Jambi. Satu yang penting pada masa ini, Muara Sabak adalah pelabuhan utama di provinsi Jambi.


Muara Sabak adalah ibu kota Kabupaten Tanjung Jabung Timur, provinsi Jambi, Indonesia. Awalnya Muara Sabak adalah sebuah kecamatan, sekarang Muara Sabak terbagi dalam dua kecamatan, yakni: Muara Sabak Barat, dan Muara Sabak Timur. Kabupaten Tanjung Jabung Timur adalah salah satu kabupaten yang berada dibagian paling timur provinsi Jambi, Indonesia. Kabupaten ini hasil dari pemekaran Kabupaten Tanjung Jabung. Kabupaten Tanjung Jabung Timur berada di tepi pantai, dan berbatasan dengan provinsi Kepulauan Riau, tepatnya di kabupaten Lingga, dan juga provinsi Sumatra Selatan, tepatnya di kabupaten Banyuasin. Kabupaten ini terbagi menjadi 11 kecamatan yang terbagi lagi menjadi 73 desa, dan 20 kelurahan. Kabupaten Tanjung Jabung Timur terbentuk berdasarkan undang-undang No. 54 Tahun 1999 dan undang-undang No. 14 Tahun 2000. Sejalan dengan berlakunya undang-undang No. 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, luas wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur termasuk perairan dan 29 pulau kecil (11 di antaranya belum bernama). Disamping itu memiliki panjang pantai sekitar 191 km atau 90,5 % dari panjang pantai provinsi Jambi. Wilayah perairan laut kabupaten ini merupakan bagian dari alur pelayaran kapal nasional dan internasional (ALKI I) dari utara keselatan atau sebaliknya, sehingga dari sisi geografis daerah ini sangat potensial untuk berkembang. Batas wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur adalah sebagai berikut: di Utara        Selat Berhala; di Timur          Laut Cina Selatan; di Selatan Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Banyuasin; di Barat    Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Muaro Jambi. (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah nama Sabak di hilir Daerah Aliran Sungai Batanghari? Seperti yang disebut di atas, Muara Sabak kini menjadi pelabuhan utama di Jambi. Lalu sejarah nama Sabak di Hilir Daerah Aliran Sungai Batanghari? Seperti disebut di atas, dari sejarah candi inilah sejarah Jambi mulai dinarasikan. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jambi (6): Nama Kerinci di Hulu Daerah Aliran Sungai Batanghari; Awal Era Peradaban; Sumatra Barat versus Jambi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jambi dalam blog ini Klik Disini  

Wilayah Kerinci di pulau Sumatra, jauh di mata dekat di hati, baik di provinsi Sumatra Barat (Padang) maupun di provinsi Jambi (Jambi). Wiliayah serupa ini tipikal wilayah di perbatasan provinsi, seperti halnya Tapanuli Selatan di Sumatra Utara dan Pasaman di Sumatra Barat. Namun wilayah terpencil di perbatasan masa kini, ada yang justru menjadi pusat peradaban awal di zaman lampau. Bagaimana dengan di wilayah Kerinci?


Kabupaten Kerinci adalah salah satu kabupaten yang berada dibagian paling Barat provinsi Jambi, Indonesia. Kabupaten ini merupakan daerah wisata di provinsi Jambi, yang dikenal dengan sebutan sekepal tanah dari surga. Kabupaten Kerinci ditetapkan sebagai kabupaten sejak awal berdirinya provinsi Jambi dengan pusat pemerintahan di Sungai Penuh. Pada tahun 2011, pusat pemerintahan berpindah ke kecamatan Siulak Nama Kerinci berasal dari bahasa Tamil yaitu Kurinji, yang merupakan nama bunga yang tumbuh di daerah pegunungan India Selatan. Wilayah di utara  Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatra Barat; timur         Kabupaten Bungo dan Kabupaten Merangin; di selatan            Kabupaten Muko-Muko, Provinsi Bengkulu; barat   Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatra Barat (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah nama Kerinci di hulu Daerah Aliran Sungai Batanghari? Seperti yang disebut di atas, wilayah Kerinci juga termasuk era peradaban awal di (pulau) Sumatra, namujn kini menjadi penting bagi Sumatra Barat maupun Jambi. Lalu bagaimana sejarah nama Kerinci di hulu Daerah Aliran Sungai Batanghari? Seperti disebut di atas, dari sejarah candi inilah sejarah Jambi mulai dinarasikan. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 29 Agustus 2022

Sejarah Jambi (5): Sungai Batanghari, Nama Batang Hari; Sungai Terpanjang di Sumatra Mengalir, Gunung di Barat - Pantai di Timur


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jambi dalam blog ini Klik Disini 

Sungai Batanghari adalah sungai terpanjang di (pulau) Sumatra. Sungai yang berhulu di pegunungan Bukit Barisan. Pada wilayah hilir sungai masih ditemukan rawa-rawa (tanah sedimentasi), seperti halnya di hilir kota Palembang zaman kuno. Sungai Batang Hari; sungai terpanjang di Sumatra, bagai menceritakan air mengalir sampai jauh dari pegununungan wilayah terdekat dengan India hingga ke pantai timur Sumatra di Luat Cina (Selatan).


Sungai tidak hanya infrastruktur alam dalam bidang transportasi zaman kuno, juga nama sungai adalah penanda navigasi dalan pelayaran (laut dan sungai). Nama sungai besar di (provinsi) Jambi adalah sungai Batanghari, Nama ini merujuk pada batang yang juga diartikan sebagai sungai (Sungai Hari). Nama sungai Batang[hari] menjadi salah satu penanda nama geografis yang membedakan tidak adanya nama batang pada nama-nama sungai di wilayah Palembang (provinsi Sumatera Selatan). Tidak pernah ditemukan catatan tentang nama Batang Musi. Yang ada adalah nama sungai Banyu Asin (merujuk pada nama sungai di Jawa). Penggunaan nama batang terkesan dari Jambi hingga ke bagian utara di Atjeh. Dalam laman Wikipedia disebutkan Batang Hari, merupakan aliran sungai yang mulai dari hulu sampai ke muaranya banyak menyimpan catatan sejarah, terutama yang berkaitan dengan peradaban Melayu. Catatan sejarah juga mencatat bahwa pada Batang Hari inilah, pernah muncul suatu Kerajaan Melayu yang cukup disegani, yang kekuasaannya meliputi pulau Sumatra sampai ke Semenanjung Malaya. Dan juga dahulunya sejak abad ke-7 sehiliran Batang Hari ini sudah menjadi titik perdagangan penting bagi beberapa kerajaan yang pernah muncul di pulau Sumatra seperti Sriwijaya dan Dharmasraya.

Lantas bagaimana sejarah sungai Batanghari, nama batang adalah Hari? Seperti yang disebut di atas, sungai Batanghari adalah sungai terpanjang di Sumatra. Sebutan batang untuk sungai tidak ditemukan di selatan Sumatra tetapi di wilayah utara. Lalu bagaimana sejarah sungai Batanghari, nama batang adalah Hari? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jambi (4): Muaro Jambi dan Candi di Hilir Sungai Batanghari: Era Navigasi Pelayaran Perdagangan pada Zaman Kuno


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jambi dalam blog ini Klik Disini 

Kota Jambi dan Muaro Jambi. Apakah itu mengindikasikan suatu yang penting? Kota Jambi adalah kota yang menjadi ibukota provinsi Jambi yang sekarang. Muaro Jambi adalah suatu kampong di hilir kota Jambi di daerah aliran sungai Batanghari. Secara toponimi disebut Muaro Jambi karena di tempat itu sungai Jambi bermuara. Dalam hal ini apakah ada sungai yang bermuara di sungai Batanghari di kota Jambi. Yang jelas si Muaro Jambi ditemukan komplek candi yang luas mengikuti arah aliran sungai.

 

Candi Muaro Jambi adalah sebuah kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara, dengan luas 3981 hektar. yang kemungkinan besar merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Kompleks percandian ini terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, tepatnya di tepi Batang Hari, sekitar 26 kilometer arah timur Kota Jambi. Candi tersebut diperkirakakn berasal dari abad ke- 7 - 12 M. Candi Muara Jambi merupakan kompleks candi yang terbesar dan yang paling terawat di pulau Sumatra. Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1824 oleh seorang letnan Inggris bernama SC Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Baru tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius. Berdasarkan aksara Jawa Kuno pada beberapa lempeng yang ditemukan, pakar epigrafi peninggalan itu berkisar dari abad ke-7-12. Di situs ini baru sembilan bangunan yang telah dipugar, dan kesemuanya adalah bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano. Dari sekian banyaknya penemuan yang ada, daerah itu dulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia, China, dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan diketemukannya lempeng-lempeng bertuliskan "wajra" pada beberapa candi yang membentuk mandala. Kompleks percandian Muaro Jambi terletak pada tanggul alam kuno Sungai Batanghari. Situs ini mempunyai luas 12 km persegi, panjang lebih dari 7 kilometer serta luas sebesar 260 hektar yang membentang searah dengan jalur sungai. Di dalam kompleks tersebut tidak hanya terdapat candi tetapi juga ditemukan parit atau kanal kuno buatan manusia, kolam tempat penammpungan air serta gundukan tanah yang di dalamnya terdapat struktur bata kuno. Selain candi pada kompleks tersebut juga ditemukan gundukan tanah (gunung kecil) yang juga buatan manusia. Oleh masyarakat setempat gunung kecil tersebut disebut sebagai Bukit Sengalo atau Candi Bukit Perak. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Muaro Jambi dan candi di hilir sungai Batanghari? Seperti yang disebut di atas, di Muaro Jambi terdapat komplek candi, suatu wilayah di hilir kota Jambi di daerah aliran sungai Batanghari. Mengapa tidak ditemukan candi di (kota) Jambi? Lalu bagaimana sejarah Muaro Jambi dan candi di hilir sungai Batanghari? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 28 Agustus 2022

Sejarah Jambi (3): Awal Pemerintahan di Jambi; Perluasan Pemerintahan Palembang Era Hindia Belanda Berkedudukan di Jambi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jambi dalam blog ini Klik Disini

Kota Jambi dibentuk sebagai pemerintah daerah otonom kotamadya berdasarkan ketetapan Gubernur Sumatra 1946 yang kemudian ditingkatkan menjadi kota besar tahun 1956 dalam wilayah daerah provinsi Sumatra Tengah. Seiring dengan pembentukan Provinsi Jambi tahun 1957 Kota Jambi ditetapkan sebagai ibu kota. Namun sejarah pembentukan pemerintahan di Jambi dan di kota Jambi sudah dimulai sejak era Pemerintah Hindia Belanda.


Seperti di wilayah lain, sejatinya pemerintahan di Jambi masa kini tidak berdiri sendiri sebagai yang terpisah antara satu rezim ke rezim (dari Pemerintah Hindia Belanda hingga Pemerintah Republik Indonesia). Namun dalam narasi sejarah masa kini kerap direduksi hanya berdasarkan era Pemerintah Republik Indonesia. Dalam pembentukan atau terbentiknya cabang pemerintahan antara satu rezim ke rezim tidak terpisahkan. Hanya rezimnya, orang-orang yang memerintah yang berubah, tetapi dimana pemerintahan itu dibentuk dan berkembang tetap berada di wilayah (tanah) yang sama. Hal itulah mengapa sejarah pemerintahan, dalam hal ini pemerintahan daerah (di Jambi) harus dimulai dari era Hindia Belanda. Dalam konteks ini sejarah pemerintahan dapat dipahami sejak dari awal (sejak dari awal) hingga bentuknya yang sekarang.

Lantas bagaimana sejarah pembentukan pemerintahan di Jambi? Seperti yang disebut di atas, sejarah pemerintahan di Jambi sudah sejak lama ada dan dimulai pada era Pemerintah Hindia Belanda. Lalu bagaimana sejarah pembentukan pemerintahan di Jambi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jambi (2): Kota Jambi, Kota Tua, Kota Terbesar di Jambi; Posisi GPS Kota Jambi Zaman Kuno di Muara Batanghari


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jambi dalam blog ini Klik Disini

Seperti pada serial artikel kota-kota lainnya di blog ini, untuk memahami sejarah Jambi ada baiknya dimulai dari kota besar yang ada, biasanya kota yang menjadi ibu kota. Nama Jambi sendiri sudah disebut sejak zaman kuno, namun bagaimana Kota Jambi yang sekarang bermula kurang terinformasikan. Satu yang penting kota Jambi itu dari masa ke masa berada di daerah aliran sungai Batanghari.


Kota Jambi adalah sebuah kota yang berada di pulau Sumatra dan sekaligus merupakan ibukota dari provinsi Jambi. Kota ini dibelah oleh sungai terpanjang di Sumatra yang bernama Batang Hari, kedua kawasan tersebut terhubung oleh jembatan Aur Duri. Hari jadi Kota Jambi ditetapkan pada tanggal 28 Mei 1401 berdasarkan peraturan daerah Kota Jambi nomor 3 tahun 2014. Dalam pertimbangan disebutkan bahwa penetapan hari jadi tersebut tidak lepas dari momentum sejarah ditemukannya tanah pilih oleh Putri Selaras Pinang Masak bersama sepasang angsa yang terjadi pada tanggal 28 Mei 1401 Masehi, berlokasi disepanjang rumah dinas komandan resort militer sampai ke Masjid Agung Al-Falah. Kota Jambi dibentuk sebagai pemerintah daerah otonom kotamadya berdasarkan ketetapan Gubernur Sumatra nomor 103/1946, tanggal 17 Mei 1946. Kemudian ditingkatkan menjadi kota besar berdasarkan Undang-undang nomor 9 tahun 1956 tentang pembentukan daerah otonom kota besar dalam lingkungan daerah provinsi Sumatra Tengah. Kemudian kota Jambi resmi menjadi ibukota provinsi Jambi pada tanggal 6 Januari 1957 berdasarkan Undang-undang nomor 61 tahun 1958. Wilayah administratif pemerintah kota Jambi adalah ± 205.38 km², secara geomorfologis kota ini terletak di bagian barat cekungan Sumatra bagian selatan yang disebut sub-cekungan Jambi, yang merupakan dataran rendah di Sumatra bagian timur. Dari topografinya, kota Jambi relatif datar dengan ketinggian 0–60 m di atas permukaan laut. Bagian bergelombang terdapat di utara dan selatan kota, sedangkan daerah rawa terdapat di sekitar aliran Batanghari (1.700 km; 11 km yang berada di wilayah kota Jambi dengan lebar sungai ± 500 m), sungai ini berhulu pada Danau Di atas di provinsi Sumatra Barat (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Kota Jambi? Seperti yang disebut di atas, nama Jambi sudah disebut di zaman kuno di muara sungai Batanghari yang pada masa ini hari jadinya ditetapkan tanggal 28 Mei 1401. Seperti kota-kota lainnya, penetapan hari jadi kota adalah suatu hal. Dalam hal ini bagaimana kota Jambi tumbuh dan berkembang adalah hal lain lagi. Lalu bagaimana sejarah Kota Jambi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 27 Agustus 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (800): Kontribusi Akademisi Malaysia - Akademisi Indonesia dalam Bernegara; Dinamika Masa ke Masa


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Fungsi akademisi dan perguruan tinggi sangat strategis dalam bernegara dan menata proses bernegara yang baik dan benar. Para pemimpin Indonesia sebelum kemerdekaan sudah banyak yang memiliki tingkat pendidikan tingkat perguruan tinggi. Berbeda dengan di Malaysia yang hingga menjelang pemberian kemerdekaan oleh Inggris tahun 1957 sarjana Malaysia (Federasi Malaya) hanya dapat dihitung dengan jari. Dalam memulai bernegara, Indonesia jauh lebih siap dalam ketersediaan orang-orang akademisi (dalam hal ini orang terpelajar begelar akafdemik sarjana).


Dalam berbagai segi antara Indonesia dam Malaysia sangat banyak perbedaannya. Dalam hal yang terkait dengan peran akademisi dapat diperhatikan antara produk awal dalam bernegara antara konstitusi Indonesia (UUD 1945) dengan konstitusi Malaysia (sehiubungan dengan pembentukan negara Federasi Malaysia tahun 1963) yang dikenal sebagai MA (Malaysia Agreemen 1963). Satu yang pasti bahwa MA63 dapat dikatakan produk (pemikiran) orang-orang Inggris, Berbeda dengan Indonesia baik UUD 1945 dan maupun turuanannya dapat dikatakan hasil pemikiran anak bangsa sendiri (bangsa Indonesia) yang terbebas dari asing.  Apa yang menjadi isi konstitusi Melaysia 1963 tidak ada yang memikirkan kecuali hanya disepakati dan cukup dijalankan saja. Satu yang penting dalam fase awal Malaysia ini adalah soal bagaimana pengembangan bahasa resmi negara (bahasa Melayu) dan soal pengembangan pendidikan mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Masih sangat mendasar. Sementara di Indonesia sudah berbicara soal demokrasi, korupsi reorganisasi-reorganisasi dalam tubuh pemerintahan (pusat hingga daerah). 

Lantas bagaimana sejarah kontribusi akademisi Malaysia dan akademisi Indonesia dalam (proses) bernegara? Seperti disebut di atas, ada perbedaan antara Indonesia dan Malaysiia sejak awal, termasuk perbedaan dalam akademisi. Dalam konteks inilah kita berbicara tentang kontribusi para akademisi dalam bernegara. Lalu bagaimana sejarah kontribusi akademisi Malaysia dan akademisi Indonesia dalam (proses) bernegara? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (799): Malaysia Dulu-Indonesia Dibelakangi Masa Ini; Bagai Lagu Kau Memulai, Kau Yang Mengakhiri


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Kita pada masa ini kerap bingung membaca narasi sejarah Malaysia. Namun faktanya pada masa lampau tidak demikian. Uniknya para ahli di Malaysia membangun narasi sejarah yang nyaris tak pernah belajar dari sejarah Indonesia. Mangapa membangun narasi sejarah di Malaysia jika isi narasi itu tidak dapat dijalankan di dalam negeri tetapi sebaliknya narasi yang ada justru menyinggung negara lain (terutama Indonesia). Apa yang terjadi di Malaysia? Mengapa akademisi Malaysia kerap membuat bingung oeang Indonesia?


Dalam narasi sejarah Indonesia, meski ada banyak yang masih perlu diperbaiki, tetapi pathnya sudah pada garus yang lurus (benar). Narasi sejarah Indonesia dibangun di atas tanah (ranah) Indonesia. Fakta bahwa Indonesia itu sangat besar, dan sangat luas dengan populasi yang sangay besar. Berbeda dengan Malaysia masa kini yang adakalanya dipersepsikan hanya sebatas Semenanjung Malaya (dilupakan Singapoera dan terlupakan Serawak dan Sabah). Dalam konteks membangun dan mengembangan narasi sejarah Malaysia, sejumlah isu mengemuka, yang notabena adakalnya mrembuat orang Indonesia salah paham dan merasa gerah. Sejumlah isu tersebut yang menjadi menarik perhatian (berifat kontroversi) antara lain: Dominasi kekuasaan Melayu di Malysia, bahasa nasional dan usulan bahasa Melayu menjadi bahasa ASEAN, sistem pendidikan---berbeda Cina dan India, status penjajahan---dijajah vs tidak dijajah, kemederkaan di Malaysia---hari kemerdekaan, tetapi tidak sama, federasi negara dalam soal Sabah---akta dan pelanggaran, peran pahlawan Inggris vs pihak lain yang semua diangga[ komunis, budaya–klaim sejarah, klaim heritage, lupa bantuan Indonesia, hanya ingat Ganyang Malaysia, sengketa pulau dan perbatasan, soal TKI dan merasa diri kaya dan pintar, orang lain di Indonesia dianggap miskin dan bodoh.

Lantas bagaimana sejarah Malaysia tempo dulu dan mengapa Indonesia dibelakangi pada masa Ini? Seperti disebut di atas, ada persepsi yang berubah di Malaysia antara dulu dan sekarang tentang hubungan bernegara dan hubungan antar maysrakat. Persepsi itu cenderung tidak positif dan tidak mendukung suasana kondusif antara kedua negara. Itu menjadi memicu banyak hal soal ketegangan. Ibarat lagu judulnya adalah ‘Kau yang Memulai, Kau yang Mengakhiri. Lalu bagaimana sejarah Malaysia tempo dulu dan mengapa Indonesia dibelakangi pada masa Ini? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 26 Agustus 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (798): Pelurusan Sejarah Zaman Baru di Indonesia; Narasi Sejarah Indonesia Kini Ada Tidak Reliabel


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Sebagaimana pada artikel sebelum ini, ada perbedaan motif para peneliti/ahli sejarah era Hindia Belanda dibandingkan era Indonesia masa kini. Para peneliti masa kini, baik orang Indopnesia maupun orang asing (terutama orang Belanda) tentang sejarah Indonesia (sejarah Indonesia merdeka, sejarah Hindia Belanda, sejarah era VOC/Belanda dan era Portugis serta zaman kuno). Tujuan para peneliti pada masa ini tetap untuk tujuan kebenaran ilmiah, tetapi kerap tergoda dengan motif lainnya. Hal itulah mengapa narasi sejarah Indonesia masa kini tidak sedikit yang kontroversi (relative terhadap era Hindia Belanda).


Ada perbedaan ketersedian data sejarah pada era Hindia Belanda dengan era masa kini. Pada masa kini, para peneliti sudah cukup tinggi ketersediaan data, juga metode pengumpulan data dan analisis lebih canggih dan lebih banyak pilihan untuk yang sesuai. Hanya saja perlua diperhatikan bahwa data-data yang berasal dari era Hindia Belanda ada yang bersifat politis dan ada yang apa adanya. Dokumen-dokumen pemerintah harus dapat dipilah-pilah. Dokumen pemerintahm terutama yang bersifat kebijakan tidak mengacu pada fakta dan data. Selain itu, data yang bersumber dari era Indonesia merdeka meski banyak tersedia tetapi para peneliti tidak semurni pada era Hindia Belanda. Para peneliti masa kini sudah tergoda dengan pesanan (pihak lain) atau tujuan yang lain (tujuan pribadi) yang adakalanya tidak terkait dengan kebenaran ilmiah, tetapi ada yang sebaliknya kesimpulan penelitian yang dibuat malahan untuk tujuan pembenaran.

Lantas bagaimana sejarah pelurusan sejarah zaman baru Indonesia? Seperti disebut di atas, penelitian pada era Hindia Belanda banyak yang tidak valid lagi. Lalu penelitian pada masa ini narasi sejarah Indonesia merdeka banyak yang tidak reliabel. Semua itu karena masuknya motif pribadi yang tidak terkait dengan tujuan kebenaran ilmu pengetahuan. Lalu bagaimana sejarah pelurusan sejarah zaman baru Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (797): Pelurusan Sejarah Zaman Kuno di Nusantara; Narasi Sejarah Hindia Belanda Tidak Valid Lagi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Ada perbedaan motif para peneliti/ahli sejarah era Hindia Belanda dibandingkan era Indonesia masa kini. Para peneliti era Hindia Belanda (orang Belanda khususunya) ruang lingkup penyelidikannya sejara era VOC/Belanda dan era Portugis serta zaman kuno. Tujuan mereka hanya satu menemukan fakta yang sebenarnya, menganalisis dengan teliti dari data yang tersedia (saat itu). Motif mereka umumnya hanya bersifat akademik untuk kebenaran ilmu pengetahuan.


Ada perbedaan ketersedian data sejarah pada era Hindia Belanda dengan era masa kini. Pada masa Hindia Belanda, para peneliti terbilang masih sangat terbatas ketersediaan data. Metode pengumpulan data dan analisis masih bersifat manual. Meski tujuannya murni untuk tujuan ilmu pengetahuan, tetapi dengan keterbatasa serupa hasilnya valid pada masa itu tetapi nilai validitasnya berbeda dengan hal yang sama diselidiki kembali. Pada masa ini tidak hanya secara akumulatif data semakin tersedia, tetapi juga semakin terdokumentasi dengan baik. Teknologi informasi masa kini membedakan tools yang digunakan masa lalu. Oleh karenanya banyak hasil penelitian yang dilakukan pada era Hindia Belanda tidak valid lagi. Seharusnya penyelidikan masa kini pada topik yang sama harusnya lebih baik jika dibandingkan pada masa lalu. Satu yang penting hasil-hasil penelitian masa lalu juga perlua dibaca, dipahami agar penyelidikan masa ini dapat membenarkan dan juga dapat memperbaiki kesalahan yang ada.

Lantas bagaimana sejarah pelurusan sejarah zaman kuno Nusantara? Seperti disebut di atas, era Hindia Belanda sudah banyak dilakukan, tetapi dalam konteks narasi sejarah era Hindia Belanda sudah banyak yang tidak valid lagi. Lalu bagaimana sejarah pelurusan sejarah zaman kuno Nusantara? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 25 Agustus 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (796): Kenduri Swarnabhumi; Sungai Batanghari, Hulu di Sumatra Barat, Hilir Jauh di Muaro Jambi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Kenduri adalah satu haal, sungai Batanghari adalah hal lain lagi. Sejarah sungai Batanghari adalah sejarah yang panjang. Sungai Batanghari berhulu di Solok Selatan (Sumatra Barat) dan berhilir di Muaro Jambi dan Tanjung Jabung (Jambi). Dalam konteks inilah muncul gagasan kenduri Swarnabhumi.


Sungai menjadi bagian penting bagi manusia. Sungai merupakan jalur transportasi yang menghubung-rangkaikan satu lokasi dengan lokasi Dengan demikian, sungai bukan hanya berupa aliran air dari hulu ke hilir, melainkan bersamanya turut mengalirkan peradaban manusia. Satu di antara sungai yang dimaksud adalah sungai Batanghari, sungai Batanghari merupakan sungai terpanjang di pulau Sumatra. Panjangnya lebih kurang 800 km yang melintasi dua provinsi, yaitu Sumatra Barat dan Jambi, serta melewati sekian banyak kabupaten/kota, di antaranya adalah Kabupaten Solok Selatan, Dharmasraya, Bungo, Tebo, Batanghari, Kota Jambi, Muaro Jambi, dan Tanjung Jabung Timur. Sungai Batanghari mencatat perjalanan panjang sejarah kemelayuan di Sumatra hingga kawasan semenanjung. Setidaknya, hal tersebut telah ditapaki pada abad ke-7 hingga 13 Masehi dengan menjadi jalur perdagangan yang ramai. Tidak hanya para pedagang nusantara yang meramaikannya, melainkan juga dari Cina, India, Persia, hingga Arab dengan berbagai bahan perdagangannya. Maka, tidak mengherankan jika kemudian kita mendapati tinggalan arkeologi dan peninggalan penting lainnya yang menunjukkan adanya suatu peradaban atau pola hidup akuatik di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari. Prasasrti, candi/situs, area permukiman, perahu kuno, keramik, hingga arsitektur bangunan. Kembali mengingat pentingnya sungai Batanghari bagi peradaban kemelayuan di nusantara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) bersama 14 pemerintah daerah menginisiasi kegiatan Kenduri Swarnabhumi. Kenduri Swarnabhumi ini mengangkat tajuk utama: Peradaban Sungai Batanghari: Dulu, Kini, dan Nanti. Slogan kegiatan tersebut adalah “Cintai budaya kita lestarikan sungai, Cintai sungai kita lestarikan budaya”.(https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Lantas bagaimana sejarah kenduri Swarnabhumi? Seperti disebut di atas, gagasan kenduri itu dalam kontek sejarah sungai Batanghari, hulu di Sumatra Barat dan hilir di Muaro Jambi. Lalu bagaimana sejarah kenduri Swarnabhumi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (795): Kenduri Sko di Kerinci; Tanjung Tanah, Antara Pantai Barat Sumatra-Pantai Timur Sumatra


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Wilayah Kerinci adalah wilayah yang unik, berada diantara beberapa wilayah budaya (Batak, Minangkabau, Melayu dan Redjang). Wilayahnya juga strategis berada diantara pantai barat dan pantai timur Sumatra. Wilayah Kerinci awalnya dimasukkan ke wilayah Sumatra Barat tetapi kemudian ke wilayah Jambi (yang sekarang). Satu yang penting di wilayah Kerinci ditemukan teks tua di Tanjung Tanah. Naskah Tanjung Tanah adalah kitab undang-undang yang dikeluarkan oleh kerajaan Melayu pada abad ke-14. Naskah ini merupakan naskah Melayu yang tertua, dan juga satu-satunya yang tertulis dalam aksara Sumatera Kuno yang juga disebut sebagai aksara Malayu. Selain bahasa Melayu, naskah ini juga menggunakan bahasa Sanskerta.


Kenduri Sko adalah rangkaian acara adat berupa peringatan (kenduri) yang dilaksanakan oleh masyarakat suku Kerinci di provinsi Jambi. Acara ini juga disebut dengan istilah Kenduri Pusako (Pusaka). Istilah ‘sko’ berasal dari kata ‘saka’ berarti keluarga atau leluhur dari pihak ibu dan biasa disebut dengan khalifah ngan dijunnung dan waris yang dijawab. Sko sendiri dibagi menjadi sko tanah dan sko gelar, dimana sko gelar dapat diberikan oleh ibu kepada saudara laki-laki dari pihak ibu (mamak). Pada acara ini terdapat dua agenda pokok yaitu acara untuk menurunkan dan menyucikan benda-benda pusaka, dan acara untuk mengukuhkan pada orang yang akan menerima gelar adat. Acara penurunan benda pusaka biasanya dilaksanakan tiap setahun sekali, atau 5-10 tahun sekali, bahkan 25 tahun sekali. Di daerah Tanjung Tanah acara penurunan benda pusaka dilaksanakan setiap 7 sampai 10 tahun. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah kenduri Sko di Kerinci dan Tanjung Tanah? Seperti disebut di atas, Tanjung Tanah di wilayah Kerinci antara Pantai Barat Sumatra dan Pantai Timur Sumatra. Lalu bagaimana sejarah kenduri Sko di Kerinci dan Tanjung Tanah? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 24 Agustus 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (794): Temuan Harta Karun Barang Kuno Jatuh di Dasar Laut/Tanah; Kapal Karam dan Harta Karun

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Sejarah Indonesia (baca: Nusantara) adalah sejarah yang panjang dari zaman kuno. Peninggalan dari masa ke masa itu ada yang sudah ditemukan dan dilestarikan seperti candi dan prasasti, namun diduga masih banyak yang belum ditemukan. Penemuan baru akan terus berlangsung selama proses pencarian terus dilakukan, apakah dengan segaja atau tidak sengaja. Belum lama ini ada dua tempat ditemukan peninggalan zaman kuno di daerah aliran sungai Musi, Palembang dan di daerah aliran sungai Pinangsori/Lumut, Tapanuli.


Pada bulan Oktober 2021 diberitakan ada penemuan perhiasan emas yang mana ada yang menduga peninggalan masa kerajaan Melayu kuno atau Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Perhiasan emas tersebut ditemukan warga di dasar sungai Musi Palembang (Pulau Kemaro). Selama lima tahun terakhir harta yang ditemukan itu nilainya mencapai miliaran rupiah.  Salah satu harta karun tersebut berupa patung Buddha abad ke-8 yang dihiasi permata dan harganya ditaksir mencapai miliaran rupiah. Seorang arkeolog dari Inggris, Dr Sean Kingsley, mengatakan penemuan harta karun di sungai Musi Palembang selama lima tahun terakhir sangat luar biasa. Dia pun mengaitkan harta karun yang diduga peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Selanjutnya pada bulan Desember 2021 diberitakan penemuan harta karun di wilayah Tapanuli Tengah di (desa) Jago-Jago, Kecamatan Badiri (yang kemudian disebut situs Bongal). Penemuan warga tersebut antara lain pecahan gerabah, keramik, gelas-gelas, patung kayu, batu-batuan, koin-koin kuno yang diperkirakan berasal dari masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah pada abad ke-6. Untuk menemukan para warga menyelam di kanal dengan kedalaman satu hingga tiga meter bermodal sekop dan ember.

Lantas bagaimana sejarah temuan harta karun barang kuno jatuh di dasar laut? Seperti disebut di atas, dalam tahun-tahun terakhir ini ditemukan berbagai harta karun di dasar laut yang diduga berasal dari masa lampau. Dua tempat yang terkait barang-barang kuno berharga ditemukan di daerah aliran sungai Musi dan daerah aliran sungai Pinangsaori/Lumut (Tapanuli). Lalu bagaimana sejarah temuan harta karun barang kuno jatuh di dasar laut? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.