Jumat, 13 Mei 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (588): Pahlawan Indonesia – Melayunisasi di Tanah Malaya; Minangkabau Sumatra Tanggalkan Melayu

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, Melayu di Malaysia (Semenanjung) mulai banyak yang menggunakan marga. Demikian juga warga Melayu Malaysia mulai banyak yang mengidentifikasi diri sebagai orang Minangkabau, orang Jawa, orang Bugis dan sebagainya. Hal itu juga yang terjadi sebelumnya di Sumatra Timur. Tampaknya proses Melayunisasi yang panjang mulai mengalami titik balik. Mengapa? Karena asal-usul mereka memang bukan Melayu.

Kesadaran berbangsa itu sudah sejak lama terjadi. Semua (suku) bangsa ingin merujuk kepada (asal-usul) nenek moyang. Saat politik kebangsaan di Malaysia semakin menguat (generalsiasi Melayu/Melayunisasi), di berbagai wilayah, terutama di Indonesia, proses politik kebangsaan justru sebaliknya. Orang Soenda menyadari bahwa mereka bukan orang Jawa, demikian juga orang Madura di pantai timur Jawa menyadari mereka bukan orang Jawa. Tentu saja orang Makassar menyadari mereka bukan orang Bugis. Di wilayah Melayu mulai muncul politik kebangsaan meski merekan orang Melayu tetapi merasa lebih nyaman disebut orang Palembang, orang Djambi. Secara khusus orang Minangkabau menyadari mereka bukan orang Melayu dan mempromosikan sebagai orang Minangkabau. Idem dito, orang Karo dan orang Mandailing menyangkal sebagai orang Batak. Mengapa begitu? Yang jelas ras adalah satu hal, (suku) bangsa sebagai wujud peradaban (kebudayaan) adalah suatu afiliasi. Agama yang dianut adalah hal lain lagi. Meski demikian ada juga yang mengasosiasikan (suku) bangsa sama dengan agama: misalnya adanya sebagian suku Melayu yang mengusung bahwa Melayu adalah Islam.  

Lantas bagaimana sejarah Melayunisasi di Tanah Semenanjung Malaya? Seperti disebut di atas, Melayunisasi di Malaysia adalah proses politik daripada proses kebudayaan. Sebaliknya yang terjadi orang Soenda menyadari bukan orang Jawa dan orang Minangkabau menanggalkan identitas Melayu. Lalu bagaimana sejarah Melayunisasi di Tanah Melayu Semenanjung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Sejarah Menjadi Indonesia (587): Pahlawan Indonesia – Gelar Pahlawan Belanda dan AP Godon; Pahlawan Indonesia RS Casajangan

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Dua pemuda belia Belanda menjadi pejabat terendah yang kemudian ditempatkan di Pantai Barat Sumatra. Kedua pemuda belia tersebut adalah Edward Douwes Dekker ditempatkan sebagai Controleur di (afdeeling) Natal dan AP Godon di (afdeeling) Bondjol. Dengan kepribadian yang sama untuk misi yang sama tetapi Edward Douwes Dekker bertindak sedikit radikal, tetapi AP Godon dengan cara yang lebih pelan tapi pasti. Keduanya pada akhirnya tidak dianggap sebagai Pahlawan (Hindia) Belanda.

Perang Padri yang berlarut-larut (1821-1838) telah dimenangkan Pemerintah Hindia Belanda tetapi begitu banyak korban di kedua belah pihak. Perang Jawa hanya diselesaikan selama lima tahun 1825-1830). Meski Perang Padri sudah lama berakhir, tetapi bentuk-bentuk perlawanan terhadap otoritas Hindia Belanda di Pantai Barat Sumatra tidak sepenuhnya hilang. Masih ada perang yang panjang yang relatif bersamaan (parelel), yakni: Perang Batak (Sisingamangaradja) dan Perang Atjeh (Teuki Tjik Ditiro dan Teuku Umar). Diantara dua fase perang inilah AP Godon yang menjadi Asisten Residen (Afdeeling) Angkola Mandailing, Residenti Tapanolei melakukan ekspedisi (ke wilayah perbatasan Sumatra Utara dan Riau (Padang Lawas) 1855 tanpa harus mengorbankan darah. AP Godon memenangkan perselisihan dengan damai. Salah satu pribumi yang dilibatkan AP Godon dalam ekspedisi ini adalah Eadja Batoenadoea Patoean Soripada (kakek Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan). Sebagian kisah ekspedisi AP Godon ini dideskripsikan dalam makalahnya berjudul Geen Militaire Expeditisn, maar Een Kundig en Beleidvol Bestuur op Sumatra yasng diterbitkan HM van Dorp en Co, Batavia, 1872. Satu yang penting yang dapat dibaca dalam buku itu: "di Hndia penghargaan lebih mungkin diberikan kepada pejabat atau pejabat yang telah membakar beberapa kampung dan menyebabkan orang tertembak”, daripada "intervensi dan musyawarah tenang, untuk menyelesaikan kesulitan yang muncul tanpa pertumpahan darah”. “Nafsu akan kehormatan mengundang ekspedisi”.  

Lantas bagaimana sejarah gelar Pahlawan Belanda menurut pandangan AP Godon? Seperti disebut di atas, AP Godon pernah berada di tiga tempat berbeda dimana konflik terjadi. AP Godon, Asisten Residen Angkola Mandailing terbentuk berhasil dengan kemenangan damai dalam ekspedisi Padang Lawas 1855. Lalu bagaimana sejarah gelar Pahlawan Belanda menurut pandangan AP Godon? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..