Tampilkan postingan dengan label Sejarah Padang Sidempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Padang Sidempuan. Tampilkan semua postingan

Sejarah Padang Sidempuan (8): Marga dan Transformasi Pembentukan Marga Secara Formal; Sejarah Marga-Marga Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini
 

Pada masa ini marga menjadi kata generik untuk nama keluarga (family name). Tidak hanya untuk orang Batak, untuk orang Arab, orang Tionghoa tetapi seluruh bangsa Indonesia. Penggunaan nama marga di Indonesia secara administratif  awalnya muncul pada era kolonial dan semakin intens dipraktekkan di Indonesia. Namun demikian, jika diperhatikan ke belakang, asal-usul pembentukan marga berbeda satu sama lain.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) marga diartikan secara berbeda-beda. Secara khusus marga diartikan sebagai berikut: (1) binatang liar (tidak diternakkan atau dipelihara) seperti terminologi margasatwa; (2) kelompok kekerabatan yang eksogam dan unilinear, baik secara matrilineal maupun patrilineal; (3) bagian daerah (sekumpulan dusun) yang agak luas (di Sumatra Selatan); (4) satuan taksonomi di antara suku dan jenis, serta merupakan wadah yang mempersatukan jenis-jenis yang erat hubungannya, huruf depan nama marga ditulis dengan huruf kapital dan selalu tercantum dalam nama jenis; (5) jalan dasar yang dipakai sebagai pegangan hidup, bekerja, dan sebagainya seperti saptamarga dan jasamarga. Dalam artikel ini hanya fokus pada no (2).

Praktek penggunaan marga sesungguhnya secara sosial jauh sebelum orang-orang Eropa/Belanda mempopulerkannya diantara orang-orang non-Eropa di Indonesia (baca: Hindia Belanda). Namun, bagaimanapun, orang-orang Eropa/Belanda yang mendorong kebutuhan marga di belakang nama untuk orang-orang non-Eropa terutama Arab, Tionghoa dan pribumi. Lalu muncul gagasan pembentukan marga baru (yang harus disahkan oleh pemerintah) termasuk diantara orang-orang yang Batak yang telah memiliki marga. Nah, untuk menambah pengetahuan mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Padang Sidempuan (7): Soetan Kasajangan, Pionir Pendidikan Tinggi; Pendiri Indische Vereeniging di Leiden 1908


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Siapa Bapak Pendidikan Indonesia? Yang jelas adalah ada dua sosok putra Indonesia terbaik yang menjadi pionir pendidikan dasar dan yang menjadi pionir pendidikan tinggi. Pendidikan menengah adalah intersection antara pendidikan dasar dan pendidikan tinggi. Sejatinya pionir pendidikan dasar adalah Willem Iskander dan pionir pendidikan tinggi adalah Soetan Kasajangan. Kedua pionir ini sama-sama menempuh pendidikan di Belanda. Willem Iskander berangkat studi ke Belanda pada tahun 1857 dan Soetan Kasajangan berangkat studi ke Belanda pada tahun 1905.

Satie Nasoetion alias Willem Iskander berangkat studi ke Belanda tahun 1857 agar bisa menjadi guru di kampongnya di Mandailing (Afdeeling Mandailing en Angkola). Willem Iskander adalah pribumi pertama ke luar negeri. Setelah lulus dan mendapat diploma guru di Belanda, Willem Iskander kembali ke tanah air dan mendirikan sekolah guru di Tanobato (onderafdeeling Mandailing). Dua diantara muridnya yang pertama adalah Soetan Abdoel Azis (Nasoetion) dan Maharadja Soetan (Tagor Harahap). Pada tahun 1905 Radjioen Harahap gelar Soetan Kasajangan (setelah sebelumnya magang setahun di Belanda) berangkat studi ke Belanda untuk mendapatkan sertifikat Sarjana Pendidikan. Pada tahun 1908 Soetan Kasajangan mendirikan organisasi mahasiswa Indonesia pertama di Leiden. Melalui organisasi ini (kembali) Soetan Kasajangan untuk mengajak putra-putri Indonesia terbaik untuk belajar ke Belanda. Yang merespon semuanya putra. Namun putri Indonesia pertama yang merespon ajakan ini adalah Ida Loemongga yang berangkat studi kedokteran ke Belanda pada tahun 1922.. Ida Loemongga tidak hanya lulus sajana kedokteran (1927) tetapi juga meraih gelar doktor (Ph.D) di bidang kedokteran pada tahun 1931. Mr. Soetan Kasajangan adalah putra kedua Maharadja Soetan dan Dr. Ida Loemongga, Ph.D adalah cucu Soetan Abdoel Azis. Willem Iskander adalah kakek buyut Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion (Rektor IPB 1978-1987).

Willem Iskander adalah pionir pendidikan Indonesia. Lantas mengapa Soetan Kasajangan dianggap sebagai pionir pendidikan tinggi Indonesia? Soetan Kasajangan adalah orang Indonesia pertama yang secara sadar mengklaim pendidikan tinggi sangat diperlukan orang pribumi (baca: Indonesia). Inisiatif Soetan Kasajangan ini didukung oleh Mr. Abendanon (sahabat Pena RA Kartini). Gerakan Soetan Kasajangan inilah yang menyebabkan putra-putri Indonesia dari tahun ke tahun berbondong-bondong studi (perguruan tinggi) ke Belanda. Dalam rombongan ini termasuk Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia (tiba di Belanda 1911) dan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang tiba di Belanda bulan Oktober 1913 (lihat Bredasche courant, 03-10-1913). Soetan Kasajangan sendiri pada bulan yang sama kembali ke tanah air setelah menyelesaikan sarjana pendidikan. Mr. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat kelak dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara (Menteri Pendidikan RI yang pertama) dan Menteri Pendidikan RI yang kedua adalah Mr. Soetan Goenoeng Moelia, Ph.D, Itulah true story-nya. Untuk menambah pengetahuan dan untuk meningkatkan wawasan sejarah nasional Indonesia, mari kita telusuri kiprah Soetan Kasajangan berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Padang Sidempuan (6): Dr. Achmad Ramali, Epidemik, Kebersihan, Al-Qur'an; Dokter-Dokter Asal Padang Sidempoean


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Pada saat pandemik COVID-19 yang sekarang, salah satu protokol yang dianjurkan adalah soal kebersihan (mencuci tangan). Gagasan serupa ini pernah muncul ketika terjadi epidemik malaria di Afdeeling Padang Sidempoean tahun 1932. Dokter Achmad Ramali meminta semua penduduk yang memiliki karamba menggunakan penutup agar jentik-jentik nyamuk malaria tidak berkembang. Pemimpin lokal setuju dan membentuk brigade untuk mengkampanyekan lingkungan yang sehat.

Program yang dijalankan Dr. Achmad Ramali ini bersama penduduk menimbulkan inspirasi baru bagi sang dokter. Dokter ini mendapatkan masukan dari ulama-ulama lokal bahwa dalam agama Islam, di dalam Alquran diajurkan hidup bersih dan sehat. Selesai berdinas di Padang Siempoean, Dr. Achmad Ramali berhasil menyusun satu makalah yang menghubungkan kesehatan masyarakat dengan anjuran kebersihan dalam agama Islam. Makalah yang diterbitkan dalam jurnal kedokteran masyarakat membuat pembaca orang-orang Belanda heboh. Tidak ambil pusing dengan kehebohan, Dr. Achmad Ramali memajukan makalah tersebut untuk mengikuti program doktoral di Geneeskundige Hoogeschool di Batavia,

Nama dokter Achmad Ramali dan nama Padang Sidempoean menjadi titik tolak kajian kedokteran yang dikaitkan dengan hubungan sosial. Selama ini kajian kedokteran hanya terbatas pada sistem biologi penyakit dan agen pembawa penyakit seperti bakteri, virus dan sebagainya. Sekaran dalam situasi tidak normal pada masa pandemik virus Covid-19 belum ada obat dan belum ditemukan vaksin (pencegah) maka protokol kesehatan menjadi satu-satunya jalan keluar. Disinilah relevansi Dr. Achmad Ramali dan kota Padang Sidempoean tentang apa yang kita hadapi sekarang. Untuk menambah pengetahuan kita tentang epidemik dan kebersihan di Padang Sidempoean oleh Dr. Achmad Ramali, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Padang Sidempuan (5): Tokoh Terkenal Asal Padang Sidempoean di Jawa Era Pendudukan Jepang; Siapa Mereka?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Ada satu masa di Indonesia begitu sulit didapat informasi yakni pada era Pendudukan Militer Jepang. Surat kabar, majalah dan buku-buku yang terbit di era tersebut kurang terdokumentasikan dengan baik dan nyaris tidak ada yang peduli untuk menyimpannya. Akibatnya ketika kita pada masa ini ingin melihat potret situasi dan kondisi Indonesia di era pendudukan Jepang menjadi suram. Satu sumber yang penting yang dapat dibaca pada masa ini salah satu diantaranya adalah buku berjudul ‘Orang Indonesia jang terkemoeka di Djawa’.

Buku ini terbit pada tahun 1944 (tebalnya 552 halaman). Di dalam buku ini dicatat nama-nama orang Indonesia yang terkemuka di Djawa saja. Banyaknya 3.109 orang.  Mereka ini tergolong mempunyai kedudukan, kepandaian dan pekerjaan yang berarti dalam masing-masing golongan masyarakat. Buku ini adalah hasil suatu survei yang dilakukan, namun tidak semua orang yang dikirim kuesioner mengembalikannya. Dalam buku terdapat nama-nama terkenal di era kolonial Belanda seperti Ir. Soekarno, Drs. Mohamad Hatta, Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap dan Parada Harahap. Secara umum buku ini dibagi ke dalam tiga kategori yang masing-masing dikelompokkan dalam beberapa bidang-pekerjaan. Kategori pertama Urusan Negara yang terdiri dari Administrasi Umum Negeri, Pangreh Praja, Urusan Keuangan Negeri, Penjagaan Keamanan dan Pengadilan. Kategori kedua Perekonomian yang trerdiri dari Pertanian, Kehutanan, Peternakan dan Perikanan, Kerajinan, Perhubungan, Berbagai Urusan Teknik, Perdagangan, Keuangan dan Perhimpunan-Perhimpunan Memajukan Perekonomian. Kategori ketiga terdiri dari Penerangan, Pertolongan dalam Kehakiman, Kesehatan, Pengajaran, Kebudayaan, Agama. Urusan Politik dan Soal Pekerjaan, Urusan Kaum Dhaif dan Urusan Perempuan, dan Urusan Pemuda, dll. Orang Indonesia jang terkemuka tentu saja ada di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan lainnya. Namun tampaknya buku ini terbit sebelum publikasi buku berikutnya selesai sudah berakhir era pendudukan Jepang dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Survei ini bukan sesuatu yang khusus, pada era kolonial Belanda kegiatan survei ini dilakukan setiap lima tahun.

Lantas siapa saja orang Indonesia yang terkemuka di Jawa yang berasal dari Padang Sidempoean. Pada era kolonial Belanda dan pada masa pendudukan Jepang afdeeling Padang Sidempoean kini menjadi Tapanuli Bagian Selatan. Mereka yang berasal dari Padang Sidempoean tidak hanya lahir di afdeeling Padang Sidempoean tetapi juga banyak yang lahir di perantauan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasioanl dalam artikel ini didaftarkan orang Indonesia jang terkemuka yang berasal dari Padang Sidempoean baik yang berada di Jawa maupun di daerah lainnya di Indonesia serta di luar negeri. Riwayat hidup mereka ini diperkaya dengan merujuk pada sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Padang Sidempuan (4): Mangaradja Soangkoepon, Macan Pejambon-Volksraad; Bela Pemuda Madura di Belanda, 1911


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini
 

Mangaradja Soangkoepon adalah seorang anggota dewan pusat (Volksraad) yang tidak ada takutnya. Mangaradja Soangkoepon membela siapa pun dimana saja. Mangaradja Soangkoepon juga penuh humor, pernah berseloroh di Volkraad dengan menyatakan bahwa (pulau) Sumatra itu bukan Pintu Belakang Luar Djawa, tetapi Pintu Depan Indonesia (baca: Hindia Belanda). Semua tertawa, tetapi dia sendiri tetap serius dalam mengemukakan pendapatnya.

Mangaradja Soangkoepon (Matjan Pedjambon)
Mangaradja Soangkoepon, kelahiran Padang Sidempuan tetapi tidak pernah memperjuangkan kepentingan wilayah (residentie) Tapanoeli di Volksraad. Sikapnya demikian, karena Mangaradja Soangkoepon terpilih ke Volksraad mewakili dapil (residentie/province) Oost Sumatra (Sumatra Timur). Mangaradja Soangkoepon terpilih kali pertama tahun 1927. Selama empat periode hingga berakhirnya era kolonial Belanda, Mangaradja Soangkoepon selalu memenangkan kursi ke Volksraad. Kepercayaan warga Sumatra Timur sangat tinggi kepadanya karena terbukti tidak pernah membela wilayah kampong halamannya, Tapanoeli. Namun jangan salah sangka. Karena anggota Volksraad dari dapil Tapanoeli adalah Dr. Abdul Rasjid Siregar kelahiran Padang Sidempoean (adik kandungnya sendiri). Catatan: Sumatra hanya terdiri dari empat dapil, masing-masing satu kursi: Oost Sumatra, West Sumatra, Zuid Sumatra dan Noord Sumatra (Residentie Tapanoeli dan Residentie Atjeh).   

Mangaradja Soangkoepon, bukanlah macan ompong, dan juga bukan Macan Kemajoran, tetapi Macan Pedjambon. Gedung dewan pusat (Volksrad) tempo doeloe di Pedjamboen (kini di Senayan). Mangaradja Soangkoepon bertarung di DPR benar-benar membela atas nama rakyat, seluruh rakyat Indonesia. Kisahnya dimulai di Belanda pada tahumn 1911 ketika membela pemuda Madura di pengadilan. Bagaimana kisah selanjutnya, mari kita ikuti berdasarkan hasil penelusuran sumber-suimber tempo doeloe.

Sejarah Padang Sidempuan (3): Sibualbuali, Perusahaan Oto Bis Jarak Jauh Pertama di Indonesia; MH Thamrin Bela Sibualbuali


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Nama gunung Sibual-buali identik dengan kota Sipirok. Pemerintah Hindia Belanda telah menabalkan nama Sipirok sebagai nama sebuah kapal uap (ss). Orang Sipirok juga menabalkan nama usaha angkutan bis mereka dengan nama Siboeal-boeali. Perusahaan bis Siboeal-boeali adalah perusahaan bis pertama di Indonesia. Perusahaan bis yang menyertai perjuangan bangsa Indonesia.

Kereta api, bandara, kapal uap dan oto bis Angkola dan Sipirok
Orang Padang Sidempuan awalnya hanya berharap jalur kereta api dibangun dari kampong mereka ke Sibolga (pelabuhan laut). Tingggal selanggah lagi rencana itu direalisasikan, Pemerintah Hindia Belanda di Batavia (kini Jakarta) pada tahun 1920 membatalkannya karena anggaran defisit pasca Perang Dunia I. Pada tahun 1926 Pemerintah pusat menawarkan pembangunan bandara (Batavia, Palembang, Padang, Padang Sidempoean, Medan) namun itu ditolak masyarakat melalu dewan (raad) Onderfadeeling Angkola en Sipirok. Alasannnya simpel: pembangunan bandara hanya akan mempermudah pergerakan militer Belanda dan kenyamanan untuk segelintir orang Eropa/Belanda saja. Pemerintah pusat angkat tangan. Pengusaha-pengusaha Sipirok mulai berinisiatif dengan merintis perusahaan oto bis jarak jauh. Muncullah nama perusahaan oto bis Siboeal-boeali tahun 1937. Catatan: Afdeeling Padang Sidempoean terdiri dari: Onderafdeeling Angkola en Sipirok: Onderfadeeling Groot en Klein Mandailing, Oeloe en Pakantan; dan Onderafdeeling Padang Lawas.  

Orang Padang Sidempoean ingin segera sampai di kota-kota besar. Tidak seperti di Jawa, untuk melakukan perjalanan jarak jauh orang sudah sejak lama mengenal transportasi kapal laut dan kereta api. Orang Padang Sidempoean tidak punya rel dan juga tidak punya laut. Hanya hutan belantara yang ada. Gagasan pendirian oto bis jarak jauh adalah solusi terburuk yang dapat direalisasikan. Muncullah nama Siboeal-boeali. Untuk lebih memahaminya mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.  

Sejarah Padang Sidempuan (2): Sinondang Sipirok, Sinondang Tapian Na Uli, Gordon Tobing; Sejarah Musik Modern di Sipirok


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Tempo doeloe di Djakarta ada muziek orchest namanya Sinondang Tapian Na Uli. Orkest musik ini didirikan oleh pemuda-pemuda asal Sipirok, Tapanuli. Orkest musik bukan gondang, tetapi band. Grup musik ini membawakan lagu-lagu daerah Tapanoeli khususnya daerah Sipirok. Pada tahun 1952 Sinondang Tapian Na Uli merekrut Gordon Tobing. Tahun ini pula Sinondang Tapian Na Uli dan Gordon Tobing mulai tampil di radio Djakarta.

Lagu dari Sipirok, Sinondang Sipirok di Djakarta (1954)
Pemuda-pemuda Sipirok di Tapanoeli terbilang awal dalam penggunaan alat-alat musik modern (Eropa). Ketika para pemuda Sipirok di era kolonial Belanda cukup banyak di Batavia mereka mendirikan grup musik. Beberapa nama yang turut bergabung dalam grup musik Sipirok ini antara lain Saidi Hasjim Nasution (ayah dari Keenan Nasution) dan Ismail Harahap (ayah dari Ucok AKA) dan Sakti Alamsjah Siregar (pendiri surat kabar Pikiran Rakyat Bandung). Satu pemusik lagi yang berafiliasi dengan grup musik Sipirok ini adalah komponis terkenal Nahum Situmorang (lahir di Sipirok, 14 Februari 1908). Grup musik asal Sipirok ini pada pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda namanya disebut Sinondang Na Uli. Pada awal tahun 1980an ketika saya masih kuliah, di Jakarta terbentuk organisasi naposo nauli bulung (pemuda-pemudi) asal Tapanuli Selatan (lahir di Tapanuli Selatan, lahir di Jakarta dan sekitar) yang diberi nama Sinondang. Dalam bnku tahunan saya lihat para donatur sangat wah semisal Adam Malik, Ir. Hasjroel Harahap, Dr, Arifin Siregar, Jenderal AH Nasution dan Sakti Alamsjah. Para seniot tampaknya sedang bernostalgia.
.
Ketika nama Gordon Tobing menjadi lebih terkenal dan banyak menerima order tampil di berbagai acara, grup musik Sinondang Tapian Na Uli berganti nama menjadi Sinondang Sipirok (sejak Agustus 1955). Bagaimana musik berkembang lebih awal di Sipirok (Tapanoeli) adalah satu hal dan bagaimana terbentuk grup musik Sinondang Sipirok di Djakarta adalah hal lain lagi. Untuk lebih memahaminya dan menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Padang Sidempuan (1): Guru Dja Mangantar Wafat di Kemajoran Batavia, 1874; Murid Terbaik Willem Iskander


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Dja Mangantar gelar Baginda Radja hanyalah seorang guru sekolah dasar, namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Pemerintah Hindia Belanda membangun makamnya di Kemajoran Batavia begitu megah. Hal itu sangat jarang terjadi. Pemerintah Hindia Belanda memberikan penghargaan kepada seorang pribumi jika benar-benar sangat berjasa. Bukankah Dja Mangantar gelar Baginda Radja hanya seorang guru?

Sejarah Padang Sidempuan adalah serial artikel sejarah Padang Sidempuan dan sekitar. Sejak 1905 Afdeeling Padang Sidempoean, Residentie Tapanoeli terdiri dari tiga onderafdeeling, yakni Onderafdeeling Angkola en Sipirok, Onderafdeeling Mandailing en Natal, Onderafdeeling Batangtoroe dan Onderafdeeling Padang Lawas. Kota Padang Sidempoean pernah menjadi ibu kota Residentie Tapanoeli (1875-1905). Pada masa kini Afdeeling Padang Sidempoean adalah Tapanuli Bagian Selatan yang terdiri dari empat kabupaten dan satu kota (Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas dan Kabupaten Padang Lawas Utara). Serial artikel Padang Sidempuan ini telah melengkapi sejarah kota-kota di dalam blog ini. Seelumnya sudah ada serial artikel Kota Jakarta, Kota Depok, Kota Bogor, Kota Bandung, Kota Surabaya, Kota Jogjakarta dan lainnya (lihat peta). Masih ada beberapa kota yang masih tahap pengumpulan data.

Makam Dja Mangantar gelar Baginda Radja disebutkan berada di Kemajoran, Batavia. Disebutkan dalam keterangan foto yang dibuat Petz & Co, Dja Mangantar meninggal di Batavia pada tanggal 8 Oktober 1874 dalam usia 22 tahun dan dimakamkan di Kemajoran (Overleden op 8 Oktober 1874 op 22-jarige leeftijd). Masih muda, namun sudah mendapat penghargaan dari Pemerintah Hindia Belanda. Bagaimana bisa? Untuk memahaminya, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.