Sabtu, 18 Mei 2019

Sejarah Jakarta (44): Sejarah Awal Bundaran HI; Tempo Doeloe Dari Stasion Pegangsaan ke Kebon Sirih via Kampong Menteng


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini  

Pada masa kini Bundaran HI (Hotel Indonesia) menjadi salah satu ikon Kota Jakarta. Hotel Indonesia dan Bundaran HI dibangun sehubungan dengan penyelenggaraan Asian Games 1962. Posisi Bundaran HI berada di tengah garis lurus jalan antara Lapangan Monas dengan Jembatan Semanggi dan Stadion Bung Karno di Senayan. Satu situs penting lainnya adalah gedung Sarinah. Garis lurus imajiner berpotongan dan titik imajiner di Bundaran HI sehubungan dengan penyelenggaraan Asian Games 1962 menjadi titik awal perkembangan baru kota Djakarta tempo doeloe menjadi kota metropolitan Jakarta masa depan.

Garis Imajiner Bundaran HI (Peta 1897)
Dengan dibangunnya Bundaran HI, perkembangan kawasan di Menteng yang dulunya berpusat di Prapatan (Weltevreden) dan Tanah Abang menjadi terintegrasi dan membentuk kawasan yang lebih luas berpusat di Bundaran HI. Posisi strategis Bundaran HI juga menjadi batas pemisah antara lingkungan Eropa/Belanda tempo doeloe di sekitar Harmoni dan Koningsplein dengan area pengembangan baru di selatan kota di Kebajoran, Dalam hal ini, penentuan dan penetapan Bundaran HI seakan menjadi suatu titik imajiner Kota Jakarta di masa selanjutnya (masa kini). Seperti yang diharapkan, Bundaran HI yang awalnya berada di belakang perumahan Menteng telah mengubah posisi spasial 180 derajat Bundaran HI menjadi berada di depan. Itulah pemikiran futuristik ala Presiden Soekarno.

Bagaimana dinamika pembangunan Kota Jakarta setelah tahun 1962 tentu saja sudah banyak ditulis dan telah menjadi pengetahuan umum. Namun bagaimana proses evolutif pengembangan kawasan sebelum tahun 1962 (ketika Bundaaran HI masih imajiner) kurang terinformasikan dengan baik. Bagaimana sejarah kawasan sebelum adanya Bundaran HI tentu masih menarik untuk diperhatikan. Untuk merekonstruksi memori masa lampau di sekitar kawasan baru itu mari kita telusuri sumber-sunber tempo doeloe.

Perhatikan Peta 1897 di atas. Titik imajiner Bundaran HI adalah suatu ruang kosong berupa areal persawahan yang luas. Jauh dari keramaian di bilangan Kebon Sirih dan dari stasion Pegangsaan (sekitar Metropole yang sekarang). Lintas rel kereta api dari stasion Beos (stasion Kota) ke Tanah Abang masih di sekitar Kebon Sirih (kira-kira stasion Gondangdia yang sekarang). Pada tahun 1903 lintasan rel kereta api ini digeser ke arah Tjikini sehubungan dengan pembangunan lintasan kereta api via Salemba. Lintasan rel kereta api via Salemba ini dimaksudkan untuk menghubungkan halur kereta api utara-selatan (Batavia- Buitenzorg) dengan jalur barat-timur (Batavia-Krawang). Lintasan kereta api Gondangdia-Tanah Abang sebelum tahun 1903 sangat jauh di utara titik imajiner Bundaran HI, tetapi lintasan kereta api ini semakin dekat setelah pergeseran tahun 1903. Pada tahun 1918 lintasan kereta api ini telah melewati titik imajiner Bundaran HI. Sejak 1910 terjadi perubahan spasial drastis. Wilayah Menteng akan dijadikan kawasan perumahan elit. Periode waktu pembangunan kawasan perumahan Menteng ini relatif bersamaan dengan pembangunan stasion Manggarai dan pembangunan kanal barat. Sehubungan dengan pembangunan perumahan elit di Menteng, lintasan kereta api di Menteng digeser lagi lebih ke selatan dengan mengikuti arah kanal barat dari stasion Manggarai. Sejak itu tidak banyak yang berubah di kawasan Menteng. Jalan poros (jalan utama) di Menteng adalah dari Prapatan melalui Gondangdia terus ke selatan melalui Goentoer dan berbelok sedikit ke arah jalan Setiabudi yang sekarang terus ke Mampang dan Boentjit.

Kawasan (area) Menteng (Peta 1940)
Seorang pembaca yang menulis pengalamannya di surat kabar, bahwa pada tahun 1949 tepat di titik imajiner sekitar Bundaran HI ini adalah lokasi mereka melakukan camping dalam kegiatan pramuka. Lokasi perkemahan ini mereka pilih karena alasan semak-semak di sekitar tidak terlalu tinggi. Lokasi ini berada beberapa ratus meter di belakang perumahan Menteng. Informasi ini setidaknya mengindikasikan bahwa di titik imajiner Bundaran HI pada awal tahun 1950an masih terbilang area persawahan dan lahan kering yang dipenuhi semak-semak belukar. Gambaran yang dilukiskan seorang pembaca tersebut tampaknya bersesuaian dengan topografi pada peta publikasi terakhir (Peta 1940). Dalam Peta 1940 ini belum ada jalan akses menuju titik imajiner Bundaran HI (pengembangan jalan di kawasan Menteng baru sampai taman utama (yang kini disebut Taman Suropati). Tentu saja saat mereka melakukan perkemahan sudah ada jalan poros baru yang menghubungkan Koningsplein dengan wilayah yang jauh di selatan kota dalam rangka pembangunan kota satelit Kebajoran.

Pertumbuhan Wilayah (land) Menteng

Setelah VOC bubar 1799, Hindia Timur diakusisi Kerajaan Belanda dengan membentek Pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah Hindia Belanda ini baru efektif berjalan ketika Daendels menjadi Gubernur Jenderal. Program pertama Daendels adalah melanjutkan misi perdagangan dengan para pemimpin lokal di Jawa. Untuk memperkuat pemerintahan, Daendels mulai merancang kota-kota dan membangun koneksi antar berbagai tempat utama (hoofdplat) di Jawa dengan membangun jalan trans-Java antara Anjer dan Panaroekan. Dua kota utama yang lebih dahulu dikembangkan adalah Batavia dan Buitenzorg. Dalam pengembangan dua kota ini pemerintah Gubernur Jenderal Daendels membeli lahan-lahan swasta.

Bataviasche koloniale courant, 05-01-1810
Pembangunan jalan trans-Java ini dimulai dari Batavia ke arah dua tempat terujung. Ke arah barat jalan trans-Java menuju Anjer via Tangerang dan Banteng. Ke arah timur jalan trans-Java menuju Panaroekan via Buitenzorg, Tjiseroa, Baybang (di Preanger), Sumedang, Tjirebon, Tagal, Pacalongan, Semarang, Joeana, Banjer, Sedajoe dan Soerabaja. Lalu dari Soerabaja diteruskan ke Panaroekan.

Pilihan Daendels untuk pengembangan kota tidak lagi di Batavia, tetapi lebih ke hulu di sekitar benteng (fort) Rijswijk (kawasan Harmoni sekarang) dan fort Noordwijk (kawasan Juanda yang sekarang). Kantor Gubernur lokasinya dipilih di dekat fort Rijswijk temaat dimana Istana Negara yang sekarang dengan menyisakan ruang di depannya yang disebut Koningsplein (kini lapangan Monas). Sedangkan Istana Gubernur Jenderal lokasinya dipilih di sekitar Noordwijk yang menyisakan lahan di depannya yang disebut Waterlooplein (kini lapangan Banteng). Area pembangunan di sekitar Waterlooplein ini kemudian disebut Weltevreden. Dengan demikian, ibukota telah bergeser dari Batavia (stad Batavia) ke Weltevreden. Jalur trans-Java dari Stad Batavia melalui Molenvliet (kini jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk), Riijswik (kini Harmoni), Noordwijk (stasion Juanda), Pasar Baroe, belok ke Waterlooplein (Weltevreden), Pasar Senen, Kramat, Salemba, Matraman, Meester Cornelis, Bidara Tjina, Tandjong, Tjimanggis, Tjibinong, Tjiloear dan Buitenzorg.

Land Matraman dan Land Menteng (Peta 1824)
Jalur trans-Java ini mengambil posisi sebelah timur sungai Tjiliwong. Suatu jalan yang telah dikembangkan sejak era VOC tahu 1745 (era Gubernur Baron van Imhoff). Dua jembatan penghubung di atas sungai Tjiliwong dibangun yakni di Noordwijk (jembatan sekitar stasion Juanda yang sekarang) dan di Buitenzorg (jembatan Warung Jambu yang sekarang). Jalan poros trans-Java sisi timur sungai Tjiliwong ini disebut Oosterweg. Sedangkan jalan kuno sejak era Padjajdjaran yang berada di sisi barat sungai Tjiliwong disebut Westerweg. Jalan kuno ini mulai dari Pakuan-Padjadjaran hingga Sunda Kelapa di muara sungai Tjiliwong (berseberangan dengan Casteel Batavia) melalu Tjileboet, Bodjong Gede, Tjitajam, Ratoe Djaja, Depok, Pondok Tjina, Sringsing (Lenteng Agoeng), Tanjong, Kalibata (jalan Pasar Minggu dan jalan Saharjo yang sekarang), Tjikini (jalan Cikini, jalan Merdeka Timur yang sekarang) dan terus menuju Sunda Kelapa. Jalur Westerweg ini tidak pernah memotong sungai Tjiliwong.

Area yang menjadi kota baru ini (Rijswijk dan Noordwijk/Weltevreden) sebelumnya adalah area perkebunan yang telah dimiliki oleh swasta sejak era VOC. Area perkebunan di sisi timur sungai Tjiliwong ini ini meluas hingga Tanah Tinggi, Salemba, Matraman, Bidara Tjina hingga Tjililitan. Di sisi barat sungai Tjiliwong perkebunan hanya terdapat di sekitar Kebon Sirih, Gondangdia dan Menteng serta Matraman . Beberapa area baru yang dibuka untuk perkebunan di sisi barat pada era VOC adalah di Sringsing (Lenteng Agoeng) oleh Cornelis Chastelein serta Tjiniere dan Tjitajam (oleh St. Martin).

Land Menteng dan Land Menteng (Peta 1866)

Yang mengusahakan perkebunan di Menteng adalah keluarga asal Belanda Mr. Menting (yang diduga menjadi asal nama Land Menteng). Lokasi landhuis Land Menteng sejajar dengan lanhuis Land Matraman kira-kira di kawasan Guntur yang sekarang. Lokasi landhuis dari Land Kebon Sirih kira-kira berada di jalan Sabang yang sekarang. Sementara landhuis dari land Gondangdia berada di sekitar Prapatan. Lokasi landhuis land Matraman (sisi barat sungai berada di sekitar jalan Tambak yang sekarang). Satu land yang terkenal di sisi timur sungai Tjiliwong yang berdekatan dengan Land Menteng adalah Land Struiswijk (kini area kampus UI Salemba).

Dalam perkembangannya siapa pemilik Land Menteng pada era Pemerintahan Hindia Belanda (setelah berakhirnya pendudukan Inggris 1811-1816) telah silih berganti. Land Menteng ini termasuk lahan-lahan di kampong Tjikini. Land Kebon Sirih tidak berkembang karena telah berubah fungsi menjadi wilayah pemukiman baru (di sisi selatan Koningsplein). Pada tahun 1894 jalan dari Landhuis Menteng (sekitar terminal Manggarai yang sekarang) ke Buitenzorg via Depok diperkuat (Bataviaasch handelsblad, 04-06-1894). Jalan ini kelak dikenal sebagai Jalan Sahardjo dan Jalan Pasar Minggu. Pemilik land Menteng sebelum dibeli pemerintah adalah seorang Arab, Alie Shahab (Bataviaasch nieuwsblad, 12-08-1898).

Land Menteng dibeli oleh pemerintah kota (Gemeente) Batavia dari swasta pada tahun 1908. Land Menteng tamat. Land Menteng sebagai sebuah kawasan perumahan sudah dipetakan sejak lama. Realisasi pengembangan kawasan (land) Menteng baru dilakukan beberapa tahun kemudian. Pada tanggal 25 April 1913 Komisi Menteng menyerahkan sebuah memorandum terperinci tentang kegiatan di land tersebut. Pada 28 Juli 1913 diputuskan bahwa tahun 1914 diinformasikan oleh Administrator Menteng tentang langkah-langkah persiapan yang harus diambil pada saat dalam operasi yang diusulkan. Pada 11 Oktober 1915, Heer Schoemaker, dua rancangan awal untuk pembangunan lahan. Pada 3 Januari 1916, Dewan memutuskan untuk menunjuk tiga insinyur konstruksi, dengan tugas melayani Dewan pertimbangan dan saran mengenai usulan  1916, komite ini menyerahkan laporan terperinci tentang rencana pembangunan awal yang sudah ada. Pada 1 Desember 1916, Komisi Pekerjaan Umum diikuti; rencana pembangunan yang dimodifikasi dibawa ke Dewan pada tanggal 11 Juni 1917. Pada 5 September 1917 diikuti perintah kerja dan peta  dari. jalan dan pekerjaan perbaikan; maka ditugaskan untuk membuat rencana rencana dan 17 Desember 1917, Wali kota (Burgemeester) membuat rencana perkerasan infastruktur. Usulan-usulan disampaikan kepada Dewan dalam waktu yang panjang. Itu adalah sepuluh tahun sejarah Land Menteng. Administratur Menteng mulai bekerja ke denah bangunan dll. Secara lebih detail. Pada 20 Maret 1917, diputuskan untuk mengkonversikan jalan (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-01-1918).

Pengembangan Kawasan (area) Menteng

Kebon Sirih telah berkembang pesat sebagai wilayah pemukiman. Demikian juga area sekitar Prapatan telah menjadi area pemukiman yang ramai. Wilayah Kebon Sirih dan area Prapatan ini berkembang pesat setelah dibangunnya jembatan Kwitang pada tahun 1830an (era Gubernur Jenderal van den Bosh). Sehubungan dengan koffiestelsel di wilayah barat Buitenzorg jalan poros westerweg (sisi barat sungai Tjiliwong) semakin ditingkatkan. Pada tahun 1860an perkebunan Eropa/Belanda sudah mencapai Koeripan (sekitar Paroeng). Pengembangan jalan poros baru dimulai dari Parong menuju Tangerang dan Tanah Abang. Jalan poros Parong ini kemudian dikenal sebagai Westerweg, sedangkan jalan Westerweg yang sebelumnya dikenal menjadi jalan poros tengah atau Middenweg (yang melalui Land Menteng). Pada jalan poros tengah inilah kemudian dilakukan pembangunan transportasi (rel) kereta api.

Peta Proyeksi Rel Kereta Api di (pulau) Jawa, 1864
Rencana pembangunan kereta api tahun 1864 mulai direalisasikan pada tahun 1869. Awalnya rencana ini di sisi timur sungai Tjiliwong dari Stad Batavia menuju Bekasi lalu ke Tjibionong dan selajutnya ke Buitenzorg. Namun dalam perkembangan terakhir investor lebih tertarik untuk membuka jalur kereta api sisi barat sungai Tjiliwong. Pada tahun 1870 jalur kereta api mulai dioperasikan ruas Stad Batavia ke Meester Cornelis (di dipo Bukit Duri yang sekarang). Bersamaan dengan pembangunan ruas kereta api Batavia-Meester Cornelis ini dibangun dua jembatan permanen di atas sungai Tjiliwong yakni di Matraman (jalan Slamet Riyadi yang sekarang) dan di Meester Cornelis (jalan Jatinegara Barat menuju stasion Meester Cornelis dekat dengan SMA 8 yang sekarang). Sementara jalan di Land Matraman (jalan Proklamasi/jalan Tambak yang sekarang tetap sebagai jembatan bambu.

Adanya jalur kereta api melalui Meester Cornelis, Manggarai, Pegangsaan dan Tjikini membuat Land Menteng lebih terbuka. Apalagi dengan adanya akses jembatan di Matraman (jalan Tambak dan jalan Slamet Riyadi). Pada tahun 1873 ruas jalur kereta api Meester-Cornelis ke Buitenzorg dioperasikan. Pada saat pembangunan ruas baru ini bersamaan dibangun dua stasion/halte baru yakni di Pegangsaan dan di Koningsplein (Weltevreden). Letak stasion Pegangsaan ini kira-kira di sekitar Metropole yang sekarang. Stasion Koningsplein kini dikenal sebagai stasion Gambir. Adanya stasion Pegangsaan ini membuat Land Menteng lebih terbuka lagi (lihat Peta 1897 di atas).

Rumah Raden Saleh di Menteng, 1862
Sebelum adanya jalan kereta api ini, di kampong Tjikini (di selatan Prapatan) pelukis terkenal Raden Saleh yang pulang dari Eropa pada tahun 1851 membangun villa mewah di atas sebidang lahan yang luas di kampong Tjikini Menteng tahun 1862 (lihat Bataviaasch handelsblad, 19-04-1862). Villa ini berada di dekat sungai Tjiliwong di jalan Raden Saleh yang sekarang. Lahan villa ini termasuk komplek TIM yang sekarang. Keberadaan villa Raden Saleh di kampong Tjikini juga menjadi satu sebab mengapa Land Menteng lebih dikenal.

Semakin terbukanya Land Menteng, pemilikan Land Menteng semakin tidak jelas. Hal ini karena sejumlah persil lahan telah diperjual belikan. Penjualan lahan ini diawali ketika Raden Saleh pada tahun 1850an membangun villa di Kampong Tjikini. Di sisi jalanTjikini dan area sekitar stasion Pegangsaan sudah muncul bangunan-bangunan pribadi. Meski keramaian sudah tampak di sekitar jalan Tjikini dan area stasion Pegangsaan, lahan-lahan di eks Land Menteng masih terkesan hijau.

Rencana pengembangan perumahan area Menteng (Peta 1904)
Tidak terdeteksinya bangunan di lahan-lahan di eks Land Menteng boleh jadi ini karena persil lahan-lahan tersebut sudah banyak beralih kepemilikan yang diusahakan oleh orang kaya Arab. Sebagaimana diketahui Raden Saleh sendiri adalah keturunan Arab (dari pihak ayah). Satu hal yang membedakan di eks Land Menteng adalah dibukanya tahun 1903 jalur kereta api lintas Salemba-Paseban menuju stasion Tanah Abang. Sebelumnya jalur kereta api ke Tanah Abang adalah dari Stad Batavia melalui Angke dan Doeri.

Pada Peta 1904 di eks Land Menteng sudah teridentifikasi rencana pengembangan wilayah Menteng menjadi area perumahan baru. Rencana pengembangan perumahan baru di Menteng ini mengikuti lanskap di area Prapatan. Dengan kata lain, pengembangan perumahan di area Menteng sebagai perluasan perumahan di area Prapatan. Oleh karenanya area Prapatan dan area Menteng diintegrasikan sebagai satu kawasan yang sangat luas.

Realisasi perumahan area Menteng (Peta 1824)
Realisasi pengembangan kawasan perumahan di Menteng ini tidak dapat segera diwujudkan. Besar dugaan karena lambatnya penyelesaian pembebasan lahan oleh pengembang. Baru pada tahun 1910 pembangunan dapat dilakukan secara bertahap. Seperti disebut terintegrasi dengan area Prapatan, maka setahap demi setahap pembangunan kawasan perumahan Menteng dimulai dari sisi area perumahan di Prapatan.

Oleh karena realisasi pembangunan perumahan di kawasan Menteng semakin meluas ke dalam, maka jalur rel kereta api yang melalui Menteng dari Salemba menjadi persoalan tersendiri. Sehubungan dengan pembangunan stasion/dipo kereta api di Manggarai dan pembuatan kanal barat maka tahun 1914 rel kereta api di tengah Land Menteng digeser ke arah sisi kanal barat. Proses penyelesaian pembangunan stasion Manggarai dan kanal barat berakhir pada tahun 1918. Sedangkan proses pengembangan perluasan perumahan di kawasan Menteng terus berlanjut bahkan hingga melewati kanal barat di area Guntur yang sekarang.

Kawssan Menteng (Peta 1897, 1903, 1914, 1924, 1934, 1940)
Proses pembangunan perumahan di kawasan Menteng tidak dilakukan sekaligus, tetapi secara bertahap dan terus menerus hingga meliputi seluruh wilayah Menteng yang telah direncanakan tahun 1903 (berdasarkan Peta 1903). Realisasi baru dimulai tahun 1918. Periode waktu 1918 sampai tahun 1924 adalah puncak kegiatan pembangunan. Lalu setelahnya dilakukan secara perlahan hingga mencapai keseluruhan wilayah direncanakan sekitar tahun 1940. Proses pembangunan perumahan kawasan di Menteng ini membutuhkan waktu sekitar 20 tahun.  

Sebagai catatan tambahan pembangunan perumahan secara terintegrasi dan terencana dengan baik tidak hanya di Menteng, Batavia. Hal yang sama juga dilakukan oleh para pengembang dalam tempo yang relatif bersanaab seperti di Bandoeng (Bandoeng Utara), Semarang dan Soerabaja dan Medan.

Pembentukan Pusat Pertumbuhan Baru di Titik Imajiner Bundaran HI

Pada tahun 1942 Jepang menginvasi Belanda di Indonesia. Tampaknya selama pendudukan Jepang tidak ada perubahan yang berarti di sekitar perumahan Menteng. Kawasan perumahan elit ini tetap menyisakan lahan-lahan di belakang perumahan di sisi barat sebagai lahan persawahan dan tegalan. Jika memperhatikan Peta 1940 pengembangan perumahan di kawasa Menteng sejatinya belum selesai, ada tampak rencana baru untuk memperluas ke lahan-lahan yang tersisa berupa persawahan dan tegalan tersebut. Boleh jadi dalam hal ini, pendudukan Jepang menjadi sebab mengapa lahan-lahan persawahan dan tegalan tersebut tetap eksis hingga kembali Belanda/NICA pasca kemerdekaan Indonesia tahnn 1945.

Foto udara kawasan Menteng 1943 dan Googlemap Now
Perumahan elit di kawasan Menteng memang benar-benar direncanakan dan diselesaikan sepenuhnya oleh pengembang. Lanskap perumahan ini diatur sedemikian rupa menghadap ke arah utara (Koningsplein) yang diintegrasikan dengan area perumahan lain seperti di Prapatan, Kebon Sirih, Tjikini dan Pegangsaan/Matraman. Di dalam kawasan Menteng, sejumlah elemen lanskap kawasan dibuat sedemikian rupa sehingga antara bangunan rumah dengan jalan, taman (park) dan lapangan (plein) terjadi keserasian. Gambaran ini tampak lebih jelas pada foto udara yang dibuat pada tahun 1943. Taman utama, area yang menjadi lapangan hijau terbuka terlihat jelas berada di Taman Surapati dan lahan yang berada di belakang Bappenas yang sekarang.

Hingga berakhirnya era kolonial, dan era dimana kedaulatan Indonesia diakui Belanda pada tahun 1949, wilayah pemukiman modern (Eropa/Belanda) di selatan kota hanya sampai di Guntur/Menteng. Tetapi tidak untuk warga pribumi. Pemerintah Belanda/NICA mulai sebelumnya telah menginisasi pembangunan kota satelit di Kebajoran (lihat De nieuwsgier, 18-09-1948). Pembangunan kota satelit ini sebagai upaya rekonstruksi terkait dengan kehadiran kembali Belanda yang juga sekaligus merangkul penduduk pribumi agar eksistensinya lebih terjaga.

Het dagblad, 02-04-1949
Suatu badan rekonstruksi yang dibentuk pemerintah Belanda/NICA pada tahun 1948 diimplementasikan dalam bentuk yayasan yang disebut Centrale Stichting Wederopbouw (CSW). Yayasan ini bekerja di bawah bimbingan pemerintah dengan mengharapkan dukungan investor. Tujuan yayasan ini adalah untuk membantu kebutuhan rekonstruksi terutama di bidang infrastruktur terutama jalan dan jembatan serta perumahan. Dalam hal ini meliputi rehabilitasi jalan dan jembatan dan bangunan rumah juga pembangunan baru. Salah satu program CSW ini adalah pembangunan kota satelit Kebajoran. Dalam mewujudkan kota satelit ini dibangun jembatan penghubung di atas kanal barat dan rel kereta api di kampong Doekoe. Jembatan ini menjadi jembatan modern terpanjang yang dibangun di Indonesia. Panjang jembatan ini 106 M dan lebar 16 M (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 02-04-1949).

Meski sudah terwujud kota satelit di Kebajoran, sejatinya masih sangat luas wilayah Djakarta yang perlu direncanakan dalam wujud tata ruang (pengembangan) kota. Sehubungan dengan Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggraraan Asian Games yang akan diadakan pada tahun 1962 menjadi pemicu dan pemacu mengapa Pemerintah Indonesia mulai melakukan perencanaan tata kota yang lebih lebih luas dan terintegasi. Tentu saja perencanaan perluasan kota yang baru di era Presiden Soekarno ini secara teknis telah memperhitungkan kawasan perumahan di Menteng yang sudah jadi dengan kawasan perumahan baru di selatan kota di Kebajoran.

Bundara HI 1985
Proyek pengembangan kota yang dintegrasikan dengan pembangunan fasilitas Asian Games menjadi keputusan ideal. Jalan poros (hoofdweg) baru ditetapkan pada jalan yang sudah terbentuk pada era pemerintahan Belanda/NICA dari Lapangan Merdeka (Koningsplein) dengan mengikuti jalur jalan Medan Merdeka Barat (Koningsplein West) ke arah selatan hingga ke suatu titik yang disebut CSW (Centrale Stichting Wederopbouw). Diantara jalan poros inilah kemudian dibangun fasilitas utama Asian Games (stadion Bung Karno) termasuk fasilits pendukungnya (Hotel Indonesia dan Gedung (pusat perbelanjaan) Sarinah. Dalam hubungan pembangunan stadion megah tersebut diintegrasikan dengan pembangunan jembatan Semangga, suatu jembatan yang tidak hanya sekadar interchange lalu lintas, tetapi titik simpul baru dalam rancangan besar Pemerintah Indonesia dalam pengembangan kota Jakarta ke masa depan.

Dalam hal ini, garis imajiner dan titik imajiner Bundaran HI di atas menjadi kunci segalanya dalam pengembangan kawasan modern Kota Jakarta seperti yang bisa kita lihat sekarang. Bundaran HI, suatu interchange baru sehubungan dengan pembangunan Hotel Indonesia menjadi titik pusat yang baru dari kota. Itulah titik imajiner Bundaran HI. Titik imajiner tambahan adalah Jembatan Semanggi. Dua titik imajiner ini menjadi kerangka dasar dalam pembentukan downtown Kota Metropolitan Jakarta antara bundaran Lapangan Merdeka (koningsplein) dengan bundaran CSW,


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar