Sejarah Kota Depok (17): Sejarah Tanjung Barat, Tandjong West Tetangga Depok di Westerweg; Bagaikan Frisia Timur, Howdy!

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Orang Eropa/Belanda di masa doeloe, memberikan julukan kepada suatu tempat tidak sembarangan. Ada alasan yang kuat, dan karena itu mereka senang menuliskannya dan mempopulerkannya. Alamiah memang. Satu tempat di hulu sungai Tjiliwong: Tandjong West (Tanjung Barat) dijuluki sebagai Frisia Timur (Oostvriesland).

Tandjong West dijuluki Oostvriesland (1760)
Beberapa tempat di Indonesia di masa doeloe diberi julukan, seperti: Bandoeng, Parijs van Java; Bombaj van Java, Delhi van Java, Carribean van Java, Japan van Java, Swiss van Java dan Venice van Java. Tentu saja Kota Radja (kini Banda Aceh) dijuluki sebagai Serambie Mecca.

Tandjong West, Tanjung Barat

Secara historis, dejure Tanjung West (Tanjung Barta) masuk Batavia (DKI Jakarta) tetapi secara defacto lebih dekat ke Depok; sebaliknya Tjinere (Cinere) secara dejure masuk Depok (Buitenzorg) tetapi secara defacto lebih dekat ke Batavia. Dua area yang menjadi landerien (tanah partikelir) ini di masa lampuu seakan menjadi tanah rebutan.

Peta kuno Tjiliwong, 1695 (Tjililitan dan Sringsing)
Pada era Cornelis Chastelein (1691-1714), area Batavia berada di sisi timur sungai Tjiliwong. Di sisi barat sungai Tjiliwong belum dikenal, karena rawan terhadap musuh. Sisi barat sungai Tjiliwong semakin ke hulu bagaikan Wild West. Sementara itu, tempat terjauh adanya orang Eropa/Belanda di sisi timur Tjiliwong adalah Land Tjililitan. Cornelis Chastelein adalah pionir yang membuka area baru dan memperkenalkan area baru di sisi barat sungai Tjiliwong. Pada tahun 1691 Cornelis Chastelein membeli lahan di Sringsing, lalu membeli lahan lagi di Depok tahun 1696. Sringsing dan Depok adalah area orang Eropa/Belanda terjauh di hulu sungai Tjiliwong.

Peta Land TandjongWest, 1901
Situasi di wilayah sisi barat sungai Tjiliwong seakan dua abad lebih awal untuk menggambarkan julukan Wild West di Amerika Serikat yang membedakan wilayah lama di timur dengan wilayah baru di barat. Wilayah baru di sisi barat sungai Tjiliwong yang sebelumnya dikenal sebagai Land Sringsing (berganti) menjadi lebih populer disebut Land Tandjong West.

Kapan muncul landerien di Tandjong West tidak diketahui. Namun yang jelas, Land Sringsing dan Land Depok sudah ada lebih dulu sebelum adanya Land Tandjong West. Disebutkan Land Tandjong West berada di sisi barat (pelabuhan) sungai Tjiliwong. Jarak dari Batavia diperkirakan sejauh 30 kilometer ke selatan Batavia. Untuk perjalanan melalui sungai dari Batavia ke Tanjong Barat, hulu Sungai Ciliwung selama 48 jam, dan perjalanan ke hilir ke Batavia hanya dutempuh selama 6 jam.

Jan Andries Duurkoop Pemilik Land Tandjong West: Memiliki 400 Budak

Lanskap Land Tandjong West, latar G. Salak (lukisan 1760)
Siapa yang memiliki kali pertama Land Tandjong West tidak diketahui jelas. Jan Andries Duurkoop membeli dari pemilik sebelumnya. Saat kepemilikan land ini ada di tangan Jan Andries Duurkoop, Jhos Rach mengabadikan Land Tandjong West lewat beberapa lukisan (1760-1780). Land Tandjong West bukan lahan yang subur karena air berada di bawah (sungai Tjiliwong dan Kali Bata). Land Tandjong West adalah padang alang-alang dan semak belukar yang sangat luas.

Pintu gerbang ranch Land Tandjong West (lukisan 1760)
Di lahan inilah pemilik sebelum Jan Andries Duurkoop mendirikan peternakan untuk menghasilkan daging dan susu. Jan Andries Duurkoop, yang lahir tahun 1722, seorang pensiunan militer berpangkat Mayor meneruskan usaha peternakan tersebut di Land Tandjong West.

Pagar ranch Land Tandjong West (lukisan 1760)
Kapan Land Tandjong West diakuisisi Jan Andries Duurkoop tidak diketahui. Lukisan yang dibuat Johs Rach antara tahun 1760-1780, peternakan yang berada di Land Tandjong West sudah established: terlihat ada bangunan besar, pagar dan pintu gerbang serta menara yang tingginya 25 meter. Dari gambaran di dalam peternakan berdasarkan pohon yang ditanam mengikuti lanskap peternakan diduga dibangun jauh sebelum tahun 1760 (oleh pemilik sebelum Jan Andries Duurkoop). Saat Jan Andries Duurkoop memiliki Land Tandjong West terdapat sebanyak 5.000 ekor sapi perah untuk memproduksi susu.

Soerabaijasch handelsblad, 17-08-1893
Dengan memperhatikan luasnya lahan peternakan (Land Tandjong West) dan populasi sapi perah yang diusahakan sudah barang tentu membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Jan Andries Duurkoop dilaporkan sejak 1754 memiliki sebanyak 400 budak sebagai tenaga kerja (lihat Soerabaijasch handelsblad, 17-08-1893).

Dari berbagai keterangan ini dapat diduga bahwa Jan Andries Duurkoop paling tidak sejak 1754 telah memiliki Land Tandjong West. Jika Jan Andries Duurkoop lahir tahun 1722, maka umurnya saat memulai bisnis peternakan di Land Tandjong West adalah 32 tahun. Peternakan itu sendiri sudah dimulai jauh sebelum tahun 1754. Untuk sekadar menginformasikan Cornelis Chastelein di Land Depok meninggal tahun 1714 (yang terkenal dengan testamennya). Jika Cornelis Chastelein adalah pionir di hulu sungai Tjiliwong, maka Land Tandjong West dimulai setelah meninggalnya Cornelis Chastelein.  

Saat Johs Rach melukis lanskap peternakan milik Jan Andries Duurkoop (1760-1780), peternakan ini dalam situasi dan kondisi puncaknya. Sebagaimana digambarkan dalam lukisan itu, peternakan Land Tandjong West bagaikan Frisia Timur (Oostvriesland) yang mengacu pada wilayah Frisia di perbatasan wilayah pesisir Belanda dan Jerman.

Frisia adalah suatu wilayah pantai di sebelah utara Belanda dan Jerman. Friesland adalah suatu wilayah pertanian yang sejak dari dulu terkenal dengan sapi berwarna hitam dan putih dan kuda hitam yang juga terkenal. Sebagai wilayah peternakan dan pertanian, wilayah ini juga sejak dari dulu penghasil susu yang terkenal. Hingga saat ini wilayah ini tetap terkenal sebagai produsen susu. Salah satu merek susu terkenal yang ada sekarang adalah susu merek Frisian Flag.

Nasib Peternakan Land Tandjong West

Bangunan utama ranch Land Tandjong West (lukisan, 1760)
Pada tahun 1780 Jan Andries Duurkoop diketahui tidak mampu lagi membayar kepada tenaga kerjanya (lihat Soerabaijasch handelsblad, 17-08-1893). Tidak diketahui sebab-sebabnya mengapa demikian. Dengan peternakan sebesar ini paling tidak telah berlangsung di bawah kepemilikan Jan Andries Duurkoop selama 26 tahun (1754-1780). Ini adalah waktu yang cukup lama bagi umur suatu perusahaan besar.

Bangunan lain ranch Land Tandjong West (lukisan, 1760)
Seperti apa performa peternakan Land Tandjong West setelah tahun 1780 tidak diketahui secara jelas. Pada tahun 1791 Jan Andries Duurkoop diketahui telah meninggal dunia dengan meninggalkan seorang istri dan seorang anak yang masih kecil. Tampaknya sang istri yang ditinggal mewarisi sepenuhnya peninggalan almarhum suaminya. Janda Jan Andries Duurkoop yakni Johanna Adriana Christina Duurkoop pada tahun yang sama menikah dengan Conraag Jonas dan pindah ke Jepang mengikuti dinas militer suami yang baru, suatu profesi yang sama dengan almarhum Jan Andries Duurkoop  (Javasche courant, 13-10-1838).

Landhuis Tandjong West, 1901 (makam JA Duurkoop)
Jan Andries Duurkoop (1722-1792) meninggal dan dimakamkan di land miliknya, Land Tandjong West. Makam Jan Andries Duurkoop diketahui dengan nisan ditemukan di halaman rumput dekat Landhuis Tandjong-Barat (De Indische courant, 22-07-1937). Dalam Peta 1901 terlihat tanda kuburan (di sebelah kiri) dekat Landhuis Tandjong-Barat (tanda salib).  Peta ini harus dilihat berbeda antara tahun 1901 ketika dibuat peta dengan situasi dan kondisi Land Tandjong West pada tahun 1780 (saat peternakan tidak mampu membiayai tenaga kerjanya) dan 1791 saat Jan Andries Duurkoop meninggal dunia.

Setelah selesai berdinas di Jepang tampaknya pasangan Johanna Adriana Christina dan Conraag Jonas kembali ke Land Tandjong West. Conraag Jonas dokabarkan meninggal dunia tahun 1803 sebagaimana diketahui ketika Johanna Adriana Christina membuat iklan di surat kabar (lihat Groninger courant, 30-09-1803). Land Tandjong West kemudian diwariskan kepada anak Johanna Adriana Christina (Javasche courant, 13-10-1838).

Land Tandjong West Menjadi Lahan Pertanian

Pemerintah Hindia Belanda menggantikan VOC pada awal tahun 1800an. Pemerintah di bawah Gubernur Jenderal Daendles mulai mengkonsolidasi lahan-lahan antara Batavia dan Buitenzorg dengan membuat program pengembangan pertanian dengan cara irigasi baik di sisi timur maupun sisi barat sungai Tjiliwong. Kanal yang sudah dibuat sejak era VOC di sisi timur sungai Tjiliwong ditingkatkan agar mampu mengairi pencetakan sawah baru dan agar lebih terpenuhi kebutuhan air bagi perkebunan-perkebunan. Di sisi barat sungai Tjiliwong pertanian lebih dikembangkan dengan pengembangan irigasi dengan membuat kanal-kanal (sebelum tahun 1835).

Kanal-kanal ini masih terpisah-pisah. Di Buitenzorg kanal dibuat dengan mengangkat air sungai Tjiakantjilan yang jatuh ke sungai Tjisadane. Kanal ini mengairi perswahan bari di Land Kedong Badak dan Land Tjiliboet. Di Land Depok dengan membuat kanal yang terlebih dahulu membendung rawa dan terbentuknya Situ Pitara. Di Land Tandjong West hal serupa dilakukan dengan membendung rawa dan terbentuknya Situ Babakan. Kanal dibuat dari Situ Babakan melalui Lenteng Agoeng hingga Tandjong Barat.

Pada tahun-tahun (sebelum 1835) inilah diduga Land Tandjong West bergeser dari area peternakan menjadi area pertanian (tanaman pangan) dengan mencetak sawah-sawah baru.

Pada tahun 1864 muncul program baru untuk meningkatkan luasan areal pertanian baik di sisi timur sungai Tjiliwong maupun di sisi barat sungai Tjiliwong dengan meningkatkan bendungan Katoelampa di sungai Tjiliwong dan membuat bendungan baru di Empang dari sungai Tjisadane. Bendungan Tjisadane selesai tahun 1872.

Dampak adanya bendungan di Empang dari sungai Tjisadane di Buitenzorg tidak hanya meningkatkan kapasitas air di Land Kedong Badak dan Land Tjiliboet tetapi juga memperluas pencetakan sawah baru di Land Bojong Gede dan Land Depok. Kanal penghubung antara Land Tjiliboet, Land Bojong Gede, Land Tjitajam dan Land Depok yang kemudian terbentuk Kali Baroe (dari Buitenzorg hingga Depok).

Dengan adanya kanal baru di Tjitajam dan di Depok dengan sendirinya kapasitas Situ Pitara semakin meningkat yang limpahan airnya diteruskan ke Tanah Baru melalui pembuatan kanal (yang pada gilirannnya kanal Tanah Baroe ini diteruskan ke Situ Babakan (yang pada gilirannya meningkatkan debit air ke Tandjong West, Pasar Minggoe, Kalibata hingga Pegangsaan lalu masuk ke sungai Tjiliwong). Kanal baru di Depok ini juga memungkinkan pembuatan kanal baru dari Kali Baroe melalui Land Depok menuju Land Pondok Tjina (yang sisanya diteruskan ke Situ Babakan).

Pembangunan Jalur Kereta Api Batavia-Buitenzorg

Land Tandjong West sebagai pemasok daging dan susu untuk Batavia dan daerah-daerah lain sudah lama berlalu. Peternakan Land Tandjong West sudah lama tidak terdengar. Yang terdengar dari Land Tandjong West adalah produktivitas pertaniannya semakin meningkat. Lahan kering di Tandjong West yang menjadi pemicu munculnya peternakan telah berubah menjadi lahan basah untuk menghasilkan tanaman pangan dan hortikultura.

Pada tahun 1873 jalur kereta api Batavia-Buitenzorg dibuka. Ini menandai moda transportasi dari kereta kuda dan pedati menjadi moda transportasi kereta api (massal). Halte-halte yang dibangun di rute jalur barat Westerweg tepat berada di jantung sentra pertanian, yakni: Halte Lenteng Agoeng (Land Tandjong West), Halte Pondok Tjina (Land Pondok Tjina), Halte Depok (Land Depok), Halte Tjitajam (Land Tjitajam), Halte Bojong Gede dan Halte Tjiliboet. Rute jalur timur Oosterweg antara Batavia-Buitenzorg adalah Meester Cornelis, Bidara Tjina, Tandjong Oost, Tjimanggis, Tjibinong dan Tjiloear.

Dengan adanya halte di Lenteng Agoeng yang menjadi pusat dari Land Tndjong West, maka Land Tnadjong West telah mengalami pergeseran moda transportasi dari transportasi sungai, menjadi transportasi jalan darat dan kemudian transportasi kereta api.

Pada saat susu hasil produksi peternakan di Land Tandjong West sejak era VOC diangkut melalui kendaraan air (yang lamanya enam jam dari pelabuhan sungai Tjiliwong di Land Tandjong West). Lalu kemudian bergeser dengan angkutan kereta kuda melalui jalan Pasar Minggoe hingga ke Meester Cornelis lalu ke Batavia (Westerweg).

Pada saat muncul moda transportasi baru kereta api (1873) peternakan di Land Tandjong West sudah lama berakhir. Para penumpang kereta api ketika melewati Land Tandjong West tidak melihat lagi cowboy-cowboy di atas kuda menghalau ternak di era VOC. Tidak lagi terdengar teriakan ihaaa! Yang terlihat (di era Pemerintah Hindia Belanda) adalah areal persawahan yang luas di Land Tandjong West. Para cowboy telah lama hilang dan yang muncul adalah para petani. Setiap kereta lewat di Land Tandjong West, para petani hanya bisa melambaikan tangan kepada para penumpang kereta api: Howdy!

Situ Pitara Ditutup:  Menyelamatkan Sawah di Tandjong West

Dalam perkembangan lebih lanjut, muncul persoalan baru. Oleh karena pada musim kemarau mata air di hulu makin mengecil dan air dari Kali Baroe makin mengecil dampaknya semakin ke hilir, maka sawah-sawah yang berada di hilir mengalami kekurangan air. Yang paling parah dampak kemarau adalah pertanian dan persawahan di Land Tandjong West.

Pada tahun 1930, untuk mengatasi persoalan air di Land Tandjong West maka Situ Pitara harus ditutup yang mana air dari Kali Baroe langsung dialirkan ke Tandjong West melalui kanal Tanah Baroe, Situ Babakan dan kanal di Lenteng Agoeg. Penutupan Situ Pitara ini direalisasikan dengan memberi konpensasi kepada Gemeente Depok.    

Kini, sawah-sawah yang luas dan areal perkebunan yang luas di Land Tandjong West hanya tinggal kenangan. Semua lahan yang dulu yang pernah menjadi arena para cowboy dan petani dan tukang kebun sekarang telah beralih fungsi menjadi kavling pemukiman yang nilainya sangat mahal, seperti Rancho Indah. Apakah rancho berasal dari ranch (peternakan)? Howdy!


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

5 komentar:

  1. May I get the full map of the 1901 Depok map, where Tanjung Barat landhuis was indicated?

    BalasHapus
  2. Natuurlijk. Ik laat u de onderstaande link zien, Dank je.
    http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced?q_searchfield=lenteng+agoeng

    BalasHapus
  3. May I know the source for the Soerabaijasch handelsblad, 17-08-1893? A link would be helpful.

    BalasHapus
  4. Rizky Ikhsani, please contact me via email ('read me'), I will send the document (pdf)

    BalasHapus