Sejarah Air Bangis (7): Detik-Detik Terakhir Belanda pada Era Kolonial Belanda di Air Bangis; Kolonisasi Jawa di Ranah Batahan


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Air Bangis dalam blog ini Klik Disini

Air Bangis termasuk salah satu daerah koloni Belanda tertua di Sumatra. Secara resmi Pemerintah Hindia Belanda membentuk pemerintahan di Air Bangis tahun 1826. Sejak itu Air Bangis tumbuh berkembang. Namun kemudian ibu kota tempat dimana (Asisten) Residen berkedudukan dipindahkan dari Air Bangis ke Loeboeksikaping. Sejak relokasi ibu kota ini, laju pertumbuhan dan perkembangan mengalami turbulensi (stagnan) yang mengakibatkan Talu lebih maju dari Air Bangis.

Air Bangis (Peta 1941); Land Clearing di Ophir (1920an)
Pada era VOC kota Air Bangis pernah lebih penting dari kota Padang. Padang sempat ditinggalkan Belanda sebagai posthouder karena tidak aman, lalu diambil alih oleh Inggris. Padang saat itu belum dianggap sebagai kota penting, bahkan kota Air Bangis sendiri masih lebih penting dari kota Padang. Hal ini terindikasi dalam berita surat kabar Leydse courant, 04-05-1764 yang terbit di Leiden sebagai berikut: ‘Pemerintah VOC menempatkan Residen di (pulau) Chinco, (residen) di Air Bangies dan (residen) di Barros..sedangkan di Padang hanya menempatkan seorang administrateur tingkat dua'. Oleh karenanya, pada saat Pemerintah Hindia Belanda (setelah bubarnya VOC) mulai membentuk Pemerintahan Hindia Belanda di pantai barat Sumatra, pilihan kota untuk dijadikan ibu kota cukup banyak, salah satu diantaranya kota Air Bangis. Namun yang dijadikan ibu kota adalah Tapanoeli. Baru setelah Traktat London (1824: tukar guling antara Bengkulu/Inggris dan Malaka/Belanda) ibu kota pantai barat Sumatra dipindahkan dari kota Tapanoeli ke kota Padang. Setelah kota Padang ditabalkan sebagai ibu kota provinsi tahun 1837, dua tahun berikutnya kota Air Bangis dijadikan sebagai ibu kota Residentie.

Ketika Belanda memulainya, saat itulah kota Air Bangis tumbuh pesat. Namun semuanya harus berakhir. Ketika kota Air Bangis jatuh hingga posisi titik nadir, saat itu pula Belanda harus berakhir. Serupa apa situasi dan kondisi di kota Air Bangis jelang detik-detik berakhirnya Belanda di Indonesia? Mungkin kisahnya tidak penting, tetapi apapun yang terjadi pada setiap detik-detik terakhir, selalu menarik perhatian. Satu yang penting adalah penempatan 500 orang kolonisasi dari Jawa di dekat kampong Baharoe dan kampong Pasir Pandjang pada bulan Januari 1941 (lihat De Indische courant, 27-03-1941).  Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.