Rabu, 22 Januari 2020

Sejarah Kota Sibolga (4): Sejarah Bandara Pinangsori, Bermula di Padang Sidempuan; FL Tobing dan Sejarah Bandara di Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sibolga dalam blog ini Klik Disini

Nama Ferdinand Lumban Tobing dan Bandara Pinangsori tidak terpisahkan. Peran FL Tobing pada awal pembangunan bandara di Pinangsori begitu penting. Itu terjadi pada era perang kemerdekaan. Celakanya, sebelum bisa difungsikan yang pertama menggunakan adalah NICA/Belanda. Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, tepatnya pada saat hangat-hangatnya perlawanan Sumatra Tengah terhadap pusat (Djakarta), kembali FL Tobing mengurus perbaikan bandara di Pinang Sori. Sejak itulah bandara di Pinangsori secara bertahap dioperasikan. Kelak nama FL Tobing ditabalkan menjadi nama bandara di Pinangsori.

De Sumatra post, 04-11-1935
Pesawat pertamakali mendarat di Indonesia adalah di Medan. Dari Medan ke Singapura dan dari Singapura ke Batavia. Itu terjadi pada tahun 1924. Penerbangan pertama ini merupakan langkah radikal dalam transportasi Belanda (Nederland) dengan Indonesia (baca: Hindia Belanda). Jalur perdana Medan-Singapoera-Batavia ini kemudian menjadi jalur internasional dari Batavia ke Eropa/Belanda. Namun demikian, penerbangan domestik justru dimulai di Jawa baru kemudian menyusul di Sumatra. Rencana baru dimulai tahun 1926 yakni membangun jalur baru: Batavia, Telok Betong, Moeara Bliti, Pajacombo, Padang Sidempoean dan Medan terus ke Kota Radja. Namun dalam perkembangan rencana berubah dengan membuat dua rute (timur dan barat Sumatra). Pada tahun 1934 jalur Batavia-Padang akan diteruskan ke Medan melalui Padang Sidempoean dan (sekitar danau) Toba. Rencana pembangunan bandara Padang Sidempuan ini ternyata mendapat penolakan dari sebagian penduduk sebagaimana dilaporkan oleh De tribune: soc. dem. Weekblad, 16-12-1935. Alasannya jika ada bandara diPadang Sidempoean (yang hanya terbatas untuk orang Eropa/Belnada) akan mempromosikan penerbangan militer di wilayah, sementara di sisi lain penduduk banyak yang lapar dan kesusahan.

Menjelang selesainya bandara di Padang, pada tahun 1938 kembali muncul gagasan membuat bandara penghubung untuk jalur Batavia, Padang dan Medan, tidak lagi di Padang Sidempoean tetapi dipilih di Sibolga (lihat De Sumatra post, 23-04-1938). Namun sebelum rencana baru benar-benar dilaksanakan mulai terjadi pendudukan militer. Di Sibolga terjadi pemboman militer Jepang pada tanggal 20 Janari (lihat De Sumatra post, 21-01-1942). Rencana bandara kembali masuk laci (selama pendudukan militer Jepang). Untuk lebih memhami secara keseluruhan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Kota Sibolga (3): Asal Usul Nama dan Hari Jadi Kota; Sibolga, Sibogha, Siboga, Sibogah, Sibalga dan [Sie]bolga


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sibolga dalam blog ini Klik Disini

Nama Sibolga dijadikan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1843 sebagai nama ibu kota Residentie Tapanoeli. Nama ibu kota ini mengambil nama kampong Sibolga, karena kota baru dibangun di dekat kampong Sibolga. Sebelum ibu kota dipindahkan ke Sibolga, ibu kota berada di (kampong) Tapanoeli. Nama kampong Tapanoeli, meski tidak lagi menjadi ibu kota, tetapi namanya ditabalkan sebagai nama Residentie tahun 1843.

Sibolga, Residentie Tapanoeli berada di wilayah Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust). Pada permulaan Pemerintah Hindia Belanda di Pantai Barat Sumatra tahun 1821, ibukota berada di (kampong) Tapanoeli, suatu kampong yang sudah eksis sejak era Inggris. Lalu kemudian ibu kota direlokasi ke (kampong) Padang di kaki gunung Padang sisi timur sungai Batang Araoe. Dalam perkembangannya, nama ibu kota (Padang) dijadikan nama wilayah: Residentie Padangsche Benelanden (ibu kota di Padang) dan Residentie Padangsche Bovenlanden (ibu kota di Fort de Kock). Pada tahun 1837 wilayah Pantai Barat Sumatra dibentuk menjadi provinsi dengan mengangkat AV Michiels sebagai Gubernur. Pada tahun 1845 Provinsi Sumatra’s Westkust terdiri dari tiga residentie: Padangsche Benelanden (ibu kota di Padang), Residentie Padangsche Bovenlanden (ibu kota di Fort de Kock) dan Tapanoeli (ibu kota di Sibolga). Kelak tahun 1905 Residentie Tapanoeli dipisahkan dari Provinsi Sumatra’s Westkust menjadi berdiri sendiri. Pada tahun 1915 Provinsi Sumatra’s Westkust dilikuidasi dan dua residentie yang tersisa digabung lalu dijadikan setingkat residentie dengan nama baru: West Sumatra (bukan Sumatra’s Westkust) beribu kota di Padang.

Lantas bagaimana asal-usul nama Sibolga? Itu satu hal. Hal lain lagi yang sangat penting adalah soal penulisan nama Sibolga. Nama Sibolga pada era Inggris sudah eksis. Namun dalam era Pemerintah Hindia Belanda, penulisan nama Sibolga banyak ragamnya. Keragaman penulisan nama Sibolga ini sangat penting. Hal ini karena mempengaruhi dalam pencarian data dalam penulisan sejarah Sibolga. Sehubungan dengan itu, kapan hari jadi Kota Sibolga? Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.