Indeks Pembangunan Manusia di Kota Depok: Tertinggi di Provinsi Jawa Barat dan Peringkat Tiga Nasional







Warga Kota Depok boleh senyum sedikit. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Depok merupakan yang tertinggi di Provinsi Jawa Barat dan berada pada peringkat ketiga secara nasional setelah Kota Yogyakarta dan Kota Jakarta Selatan. Pada tahun 2011 IPM Kota Depok  adalah 79.20. IPM Kota Depok pada tahun 2013 ditargetkan akan mampu melampaui angka 80. Sebagai perbandingan, IPM Kota Bekasi berada di peringkat 50 nasional, Kota Bandung berada pada peringkat 58 dan Kota Bogor pada peringkat 63.

Distribusi Etnik di Kota Depok: Betawi Or Sunda?


Sekurang-kurangnya terdapat sebanyak 260 etnik yang bertempat tinggal di Kota Depok. Lima etnik yang terbilang signifikan (persentasenya di atas dua persen) adalah Betawi, Jawa, Sunda, Batak dan Minangkabau. Hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa persentase etnik terbanyak adalah Betawi sebanyak 36.70 persen, kemudian disusul etnik Jawa dengan persentase sebanyak 33.07 persen.  Sementara etnik Sunda di posisi ketiga persentase sebanyak 16.50 persen. Sedangkan dua etnik lainnya yang persentasenya di atas dua persen adalah etnik Batak (2.91 persen) dan etnik Minangkabau (2.66 persen). Pertanyaannya, etnik mana yang menjadi penduduk ‘asli’? Betawi or Sunda? 

Bahasa Sehari-hari di Kota Depok: Promosi Bahasa Indonesia, Degradasi Bahasa Sunda


Kota Depok adalah bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada umumnya masyarakat Jawa Barat menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari di rumah. Akan tetapi tidak demikian di sejumlah kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Di Kota Depok sendiri ada sebanyak 82.63 persen warganya yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari di rumah. Ini sangat kontras dengan yang menggunakan bahasa Sunda yang hanya tersisa sebanyak 2.80 persen saja. Anehnya,  penggunaan bahasa Betawi dan bahasa Jawa justru lebih menonjol di Kota Depok jika dibandingkan dengan bahasa Sunda sendiri. Ini mengindikasikan bahwa bahasa sehari-hari di Kota Depok semakin Indonesia dan sebaliknya bahasa Sunda semakin terdegradasi. Lantas bagaimana di kabupaten/kota lainnya di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Barat?

Perumahan di Kota Depok: Where Do You Live?


Jumlah rumah tangga di Kota Depok berdasarkan Sensus Penduduk 2010 adalah sebanyak 440.475 unit rumah tangga. Dari jumlah tersebut terdapat sebanyak 64.62 persen rumah yang ditempati berstatus milik sendiri. Sebanyak 96.25 persen dari mereka yang memiliki rumah sendiri dapat menunjukkan ada bukti kepemilikan tanah dari rumah tersebut. Jenis bukti kepemilikan tanah sebagian besar adalah sertifikat hak milik (SHM). Namun demikian, kepemilikan SHM tampaknya tidak distribusi merata di sebelas kecamatan. Kepemilikan SHM yang terbilang sedikit terdapat di Kecamatan Limo, Kecamatan Sawangan, Kecamatan Bojongsari dan Kecamatan Cipayung. Sementara kepemilikan SHM yang terbilang tinggi terdapat di Kecamatan Beji, Kecamatan Sukmajaya dan Kecamatan Pancoranmas.

Penduduk Kota Depok: Where Are You From?


Penduduk Kota Depok pada tahun 2010 berjumlah sebanyak  1.736.565 jiwa. Dalam kurun waktu 10 tahun (2000-2010), penduduk Kota Depok naik sebesar 66,84 persen. Hasil Sensus Penduduk 2000 jumlah penduduk Kota Depok sebesar 1.160.791 jiwa. Hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa 49,91 persen lahir di Provinsi Jawa Barat, 23,68 persen di DKI Jakarta, 12,09 persen di Jawa Tengah, 3,70 di Jawa Timur dan 2,16 di Sumatera Utara. Total lima provinsi ini adalah 91.53 persen.  Sementara 8,47 persen lagi lahir di provinsi lainnya. Penduduk yang lahir di Jawa Barat, sebagian besar lahir di Kota Depok (72.50 persen) dan sebanyak 9.77 persen lahir di Kabupaten Bogor serta 3.70 lahir di Kota Bogor. Sementara penduduk yang lahir di Provinsi DKI Jakarta, persentase tertinggi lahir di Jakarta Seatan (45.47 persen) disusul Jakarta Timur (22.63 persen) dan Jakarta Pusat (21.26 persen). Catatan: Dari 1,7 juta penduduk Kota Depok tahun 2010, sebanyak 5.21 persen  bertempat tinggal di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2005.

Universitas Indonesia: Sebuah Otonomi Perguruan Tinggi yang Berlokasi di Daerah Otonomi Kota Depok yang Mengikuti Kebijakan Provinsi DKI Jakarta

Kampus UI dari sisi Kota Depok
Menurut pemahaman umum, Universitas Indonesia berada di Kota Depok. Namun tidak sepenuhnya benar. Kenyataannya alamat Universitas Indonesia di dalam kop surat resmi dicantumkan dua alamat: (1) Kampus Salemba, Jalan Salemba Raya No. 4 Jakarta 10430 (2) Kampus Depok, Depok 16424. Adanya dua alamat ini karena  Universitas Indonesia yang sebelumnya berlokasi di Jakarta, tahun 1987 memilih pindah ke Depok. Akan tetapi hingga sekarang belum semua fakultas pindah karena masih ada dua fakultas lagi yang masih di Jakarta yakni Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi. Pertanyaannya, apakah karena dua fakultas yang tersisa di Jakarta itu yang menyebabkan Universitas Indonesia memiliki dua alamat? Namun yang membingungkan, bukankah gedung rektorat (kantor rektor UI) sudah sejak lama berada di Kota Depok? Lantas mengapa UI tetap merujuk ke Jakarta?

Kampung Orang Asli di Metropolitan Depok: Cikal Bakal Pemukiman Urban di Kota Depok

Peta Depok Sekitar, 1850
Pada masa ini Kota Depok terdiri dari 63 kelurahan yang tersebar di 11 kecamatan. Lima tahun yang lalu, di Kota Depok masih ada yang berstatus desa Dalam terminilogi sekarang, desa/kelurahan adalah suatu wilayah administratif pemerintahan  yang mana kelurahan berciri urban (perkotaan) dan desa berciri rural (perdesaan). Desa-desa yang kini telah menjadi kelurahan-kelurahan di Kota Depok pada masa lalu terdiri dari kampung-kampung. Dengan kata lain satu atau beberapa kampung dibentuk menjadi desa. Namun seiring dengan terbentuknya desa-desa dan berubah menjadi kelurahan, nama-nama kampung lambat laun mulai kurang populer dan menghilang. Dengan semakin banyaknya warga pendatang, maka yang muncul ke permukaan adalah nama perumahan, nama kawasan atau pusat-pusat bisnis, serta nama-nama lainnya. Kini warga Depok lebih mengenal Margocity daripada Kampung Gedong; Perumnas Depok I atau II daripada Kampung Sugutamu; Depok Baru daripada Kampung Lio dan sebagainya. Berikut adalah nama-nama kampung orang asli di Depok.

Depok Outer Ring Road (DORR): Suatu Jalan Akses Menuju Tol di Kota Depok

*Artikel Outer Ring Road Tempo Doeloe dalam blog ini Klik Disini

Pembangunan jalan tol di Kota Depok telah dimulai. Tujuan utama pembangunan jalan tol tersebut adalah untuk meningkatkan akses dari dan ke Depok.  Jalan tol Kota Depok itu adalah Jalan Tol Cinere-Jagorawi (Cijago) dan Jalan Tol Depok-Antasari (Desari). Cijago membelah Kota Depok dari arah timur ke barat yang dimulai dari Jalan Tol Jagorawi dan berakhir di Cinere, sedangkan Desari membelah kota dari utara ke selatan yang dimulai dari Jalan Tol TB Simatupang (Antasari) dan berakhir di Cipayung. Posisi silang dua jalan tol tersebut berada di Kelurahan Rangkapan Jaya. Untuk menghubungkan dua ujung jalan tol Kota Depok itu akan dibangun Depok Outer Ring Road (DORR).

Sejarah Cibubur Depok: Suatu Area 'Bumi Perkemahan Pramuka' yang Berkembang Menjadi Kawasan Perumahan 'Segi Tiga Emas' (Jakarta, Depok dan Bekasi)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini KLIK DISINI
**Sejarah Cibubur Tempo Doeloe dalam blog ini Klik Disini
***Sejarah Pramuka Indonesia Sebenarnya dalam blog ini klik disini

Cibubur bukanlah wilayah Depok, melainkan sebuah desa/kelurahan di Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur. Tetapi faktanya pada masa ini ada suatu kawasan yang diidentifikasi sebagai Cibubur Depok. Sekalipun ini agak membingungkan, namun masih bisa ditelusuri mengapa muncul istilah Cibubur Depok pada masa ini. Penelusuran ini dimaksukan untuk memberi penjelasan kepada berbagai kalangan yang kerap salah dalam mengidentifikasi apakah Cibubur masa kini adalah sebuah nama desa/kelurahan atau sebuah nama kawasan.
***
Sebelum ada Desa Cibubur (Jakarta), ada sebuah desa lama yang disebut sebagai Desa Cisalak yang menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Cimanggis Kabupaten Bogor (kini menjadi bagian wilayah Kota Depok). Di sudut Desa Cisalak ini ada sebuah setu (danau kecil) yang disebut Setu Jemblang (kini disebut Setu Baru). Pada tahun 1969 di selatan setu ini (kini Kelurahan Harjamukti) dipilih sebagai tempat Pertemuan Pramuka Penegak Pandega Puteri Putera (PERPPANITERA). Lokasi ini dipilih karena hawanya sejuk, lingkungan yang hijau, setu yang jernih dan adanya hutan di utara setu membuat area ini sesuai untuk sebuah ‘perkampungan’ pramuka bagi penegak/pandega (setingkat SMA/perguruan tinggi). Disamping itu, lokasinya yang tidak jauh dari Jakarta, membuat area ini menjadi pilihan yang tepat untuk sebuah bumi perkemahan bagi PERPPANITERA (yang kini disebut Raimuna) secara nasional. Kawasan kegiatan kepramukaan (yang kemudian disebut BUPERTA) yang luasnya 210 Ha sebelumnya merupakan areal perkebunan karet.

Pasar Citayam, Kota Depok: Sejak Tahun 1999 ‘Dianeksasi’ Pemerintah Kabupaten Bogor

Pasar Citayam (foto:internet)

Wilayah Pasar Citayam--sesuai UU Nomor 15 tahun 1999 tentang Pembentukan Kota Depok--adalah bagian dari wilayah Kelurahan Pondok Terong, Kecamatan Pancoran Mas (kini menjadi Kecamatan Cipayung) Kota Depok). Secara dejure hal ini ditegaskan dalam peta yang menyertai undang-undang tersebut. Sedangkan secara de facto warga yang tinggal di lingkungan pasar tersebut memiliki KTP Kelurahan Pondok Terong. Namun sejak 1999 pengelolaan pasar tersebut masih tetap dikuasai oleh Pemda Kabupaten Bogor. Ini berarti aset pasar masih diklaim Pemda Kabupaten Bogor sebagai miliknya dan hasil retribusi pasar  masuk ke kas daerah Kabupaten Bogor. Berbagai upaya telah dilakukan Pemda Depok untuk ‘menagihnya’, tetapi Pemda Kabupaten Bogor kukuh ‘menganeksasinya’. 

Polda Metro Jaya, Polres Depok, dan Polsek Bojong Gede; Kodam Jaya/Jayakarta, Kodim Depok dan Koramil Bojong Gede

*Artikel asal usul Kodam Jaya dan Polda Metro Jaya dalam blog ini Klik Disini

Awalnya perihal keamanan di Depok berada di bawah Polsek Depok yang menjadi bagian dari Polda Jabar. Pada tahun 1981 Polsek Depok ditingkatkan menjadi Polres Depok seiring dengan pembentukan Kota Administratif (Kotif) Depok yang sekaligus Polres Depok  masuk ke dalam kewenangan Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya (Polda Metro Jaya).  Polres Depok saat itu membawahi tiga polsek yakni Polsek Beji, Polsek Pancoran Mas dan Polsek Sukmajaya. Pada tahun 1996, Polres Depok diperluas yang juga meliputi Polsek Cimanggis, Polsek Sawangan, Polsek Limo dan Polsek dan Polsek Bojong Gede. Pada tahun 1999 Depok ditingkatkan statusnya dari kotif menjadi kota yang terdiri dari enam kecamatan yakni Beji, Pancoran Mas, Sukmajaya, Cimanggis, Sawangan, dan Limo. Sementara Kecamatan Bojong Gede tetap sebagai bagian dari Kabupaten Bogor. Kini, Polres Depok terdiri enam polsek meliputi  11 kecamatan di Kota Depok plus satu polsek di dua kecamatan di  wilayah Kabupaten Bogor yakni Kecamatan Bojong Gede dan Kecamatan Tajur Halang (pemekaran dari Kecamatan Bojong Gede). Sebagai catatan: struktur dan tahun pembentukan Kodim dan Koramil di Kota Depok sama dengan struktur dan tahun pembentukan 
Polres dan Polsek di Kota Depok.

Minimarket ‘Menjamur’ di Depok: Bertambah Satu Unit Per Minggu


Minimarket yang pertama hadir di Kota Depok adalah Indomaret yang lokasinya berada di Jalan Kartini. Pada masa ini jumlah minimarket sudah sangat banyak dan bahkan pertumbuhannya tergolong sangat  pesat. Pada tahun 2002 jumlah minimarket di Kota Depok  masih bisa dihitung dengan jari. Kini, jumlah minimartket sudah mencapai 410 unit. Dengan luas kota yang hanya 200 KM2 berarti setiap satu kilometer persegi terdapat dua unit minimarket. Berdasarkan perda yang ada, jumlah ini terbilang sudah jauh melampuai kuota yang ditentukan yakni sebanyak satu unit minimarket per kecamatan. Jika diperhatikan bahwa kehadiran minimarket di Kota Depok yang baru berlangsung selama 10 tahun, maka pertambahan minimarket di Kota Depok adalah satu unit per minggu. Masihkah akan bertambah?

Sejarah Cinere: Secara ‘defacto’ Masuk Wilayah Sosial DKI Jakarta, Tetapi Secara ‘dejure’ Bagian Wilayah Administratif Kota Depok

*Baca juga Sejarah Cinere terbaru dalam blog ini Klik Disini


Pada masa awal kolonial di wilayah Cinere (Ci Kanyere) terdapat satu hamparan lahan milik Isaac de I’ Ostale de Saint Martin (lahir di Oleron, Bearn, Prancis tahun 1629) yang bekerja untuk VOC. Pada era kemerdekaan Cinere bahkan tidak pernah dibicarakan, karena pada waktu itu, Cinere hanyalah kumpulan beberapa dusun yang didiami oleh orang Betawi yang di sana sini masih terdapat hutan karet, lahan persawahan dan rawa-rawa. Namun pada masa kini, adakalanya  Cinere justru lebih populer dibanding Depok atau Cimanggis. Apa yang menyebabkan Cinere menjadi begitu populer khususnya bagi warga Jakarta?

Stasiun Depok Lama: Stasiun KRL Tertua Setelah Jakarta dan Bogor

*Artikel Sejarah Stasion Depok 1873 dalam blog ini Klik Disini

Stasiun Depok adalah stasiun kereta api yang terletak di Jalan Stasiun, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok.  Stasiun yang kerap disebut Stasiun Depok Lama (Stadela) ini merupakan salah satu stasiun tertua di wilayah Jabodetabek.  Stasiun ini berada antara jalur kereta api Batavia (Jakarta)-Buitenzorg (Bogor). Stasiun Depok ini dibangun pada masa kemerdekaan. Sebelum stasiun ini dibangun, penggunaan kareta api rel listrik (KRL) antara Beos (Stasiun Kota)-Buitenzorg sudah dioperasikan sejak tahun 1930. Pada waktu itu, KRL Batavia-Buitenzorg  merupakan sistem angkutan umum massal pertama yang ramah lingkungan dan merupakan sistem transportasi paling maju di Asia. Sementara itu, Stasiun Bogor yang terletak di Kota Bogor dibangun pada tahun 1881 seiring dengan selesainya dibangun lintas Batavia–Buitenzorg sepanjang 59 Km pada tahun 1880. Sedangkan Stasiun Beos (Stasiun Kota) di Batavia dibangun pada tahun 1870.

Depok Dari Masa Ke Masa: Depok Lama, Kota Lama; Depok Baru, Kota Baru

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini  

Pada tanggal 4 Agustus 1952 Pemerintah Republik Indonesia (RI) mengambil alih 'Republik Depok' (Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok) dengan membayar ganti rugi sebesar Rp. 229.261  kepada seluruh 'marga' yang ada di Gemeente Bestuur Depok. Seluruh tanah di kota Depok resmi menjadi milik Pemerintah RI kecuali hak-hak eingendom dan beberapa bangunan seperti: gereja, sekolah, pastoran, balai pertemuan dan pemakaman. Sejak itu pula Depok secara resmi menjadi sebuah kecamatan di Kewedanaan Parung, Kabupaten Bogor. Pada saat itu Kecamatan Depok terdiri dari 21 buah desa dengan ibukota berada di Desa Depok. Jalan Kartini yang sekarang merupakan pusat kota kala itu dimana terdapat kantor-kantor milik pemerintah seperti kantor kecamatan (sekarang menjadi kantor Kecamatan Pancoran Mas), kantor desa, kantor pos, kantor telepon, koramil, PDAM. Di sebelah barat jalan poros (jalan ke stasiun) dibangun SD Negeri 1; di sebelah timur (Jalan Pemuda) didirikan SD Negeri 2 (eks pusat kesehatan di era Gemeente Bestuur) dan SMP Negeri 1 (eks sekolah berbahasa Belanda). Sementara pasar sudah sejak dulu ada yang berlokasi di samping rel ke arah Sawangan (sekarang Jalan Dewi Sartika). Sedangkan  kantor Polsek dibangun di dekat pemakaman (sekarang kantor Polresta Depok). Dalam perkembangannya berdiri sebuah bioskop di Jalan Pemuda (depan SD). Pusat kota kecamatan inilah yang menjadi kota lama yang kini sering disebut Depok Lama. Lantas dimana Depok Baru?

Taman Kota ‘Lembah Gurame’: Pertama di Depok


Setelah sekian lama ditunggu-tunggu warga kota, kini telah dibangun sebuah taman kota di Depok. Lokasi taman kota yang pertama ini berada di Jalan Gurame, Perumnas Depok I, Beji (dekat SMP Negeri 2).  Taman kota yang diberi nama Taman Kota Lembah Gurame ini akan selesai tahun 2012. Taman kota sebagai ruang terbuka hijau akan memperkuat lanskap kota, yang berfungsi sebagai area sosialisasi bagi warga membantu kesegaran dan keasrian lingkungan. Areal taman kota yang seluas 3 Ha ini sebelumnya adalah lahan pemda yang sudah lama digunakan 34 petak bangunan liar. Taman ini dilengkapi dengan hutan kota, lapangan futsal, parkir dan kuliner dengan tetap mempertahankan keberadaan empang gurame.

Pertumbuhan Rumah Sakit di Depok: Berkembang Pesat Dari Sebuah Rumah Bersalin

RSIA menjadi RSU Bunda Margonda Depok

Kini, warga Kota Depok tidak perlu khawatir terhadap kesehatannya, karena di setiap sudut kota sudah tersedia rumah sakit. Namun jika kita mengingat pada belasan tahun yang lalu, fasilitas kesehatan yang ada di Depok sungguh sangat minim. Sebelum tahun 2000 hanya ada dua rumah sakit yang representative yakni: Rumah Sakit Bhakti Yuda dan RS Hospital Cinere (yang berubah nama menjadi RS Puri Cinere). Pada masa ini  di seluruh Kota Depok sudah terdapat belasan rumah sakit yang berkualitas. Daftar lengkap rumah sakit tersebut adalah: RS Bhakti Yuda (1980-Klinik Bersalin 1976), RS Puri Cinere (1991); RSIA Hermina (2000); RS Sentra Medika (2000); RSIA Tumbuh Kembang (2001-Rumah Bersalin 1986); RS Harapan (2004); RSIA Graha Permata Ibu (2004-Klinik 2001); RS Simpangan Depok (2004-Dokter Praktek/Rumah Bersalin 1976); RSIA Bunda Margonda (2005-berubah menjadi RSU 2008); RS Tugu Ibu (2005-Rumah Bersalin 1982); RS Meilia (2006); RSUD Depok (2008); RS Mitra Keluarga (2008); RS Hasanah Graha Afiah (2008-Rumah Bersalin 2002); dan RS Citama dan RS Bhayangkara Brimob.

Hotel dan Apartemen di Kota Depok: Suatu Transformasi ‘Kamar Kost’ dan ‘Rumah Kontrakan’


Pada awalnya Kota Depok tidak membutuhkan hotel, karena Kota Depok sendiri adalah kota perumahan.  Dulu hanya ada satu hotel di Depok, sebuah hotel kecil yang lokasinya di Cimanggis. Hotel ini biasanya melayani orang-orang yang datang dari daerah industri di sepanjang jalan raya Bogor. Hotel tidak berkembang di sekitar jalan raya Bogor, yang berkembang adalah kamar kost dan rumah kontrakan untuk pegawai/pekerja.  Seiring dengan hadirnya Universitas Indonesia hadir di Depok, booming  kamar kost dan rumah kontrakan untuk mahasiswa terjadi. Untuk mengantisipasi kebutuhan tamu Universitas Indonesia ketiadaan hotel yang representative dibangun Wisma Pusat Studi Jepang dan Wisma Makara. Kedua wisma ini berada di dalam kampus Universitas Indonesia. Pesaing baru muncul, dengan dibangunnya Hotel Bumi Wiyata di Jalan Margonda Raya.

Pertumbuhan dan Perkembangan Pasar Modern di Depok: Pra dan Pasca Krisis


Pasar Modern yang pertamakali hadir di Depok adalah Agung Shop (Jalan Arif Rahman Hakim), Ramanda (Jalan Margonda Raya), Super Ekonomi (Jalan Tole Iskandar) dan Mitra (Cimanggis). Toserba-toserba ini pada waktu itu menjadi pusat perbelanjaan modern (ritel) yang menyediakan berbagai kebutuhan warga seperti pakaian, atk, makanan snack dan soft drink. Namun sangat disayangkan toserba-toserba ini tutup setelah terjadi krisis moneter. Kemudian era toserba ini digantikan pusat perbelanjaan model supermarket. Pertama didirikan supermarket Target yang awalnya mengambil lokasi di ruko Depok Timur dan kemudian membangun sendiri bangunan yang lebih besar dan megah di Jalan Proklamasi Depok Timur. Supermarket ini mulai kalah pamor seiring dengan munculnya mal-mal di Margonda. Mal-mal yang bermunculan di awal tahun 2000-an berturut-turut adalah adalah Hero, Plaza Depok dan Mal Depok (ketiganya di Jalan Margonda Raya) dan Mall Cinere.

Usaha Tanaman di Jalan Juanda : Pedagang Kaki Lima (PKL) ala Depok


Di kiri-kanan hampir sepanjang Jalan Juanda Depok terdapat ratusan usaha tanaman. Produk yang diperdagangkan adalah tanaman hias, tanaman produktif, berbagai macam pupuk. Para pengusaha tanaman ini dulunya tersebar di berbagai tempat utamanya di Jalan Margonda Raya. Setelah dibuka Jalan Juanda dan pesatnya pertumbuhan bisnis di sepanjang Margonda, para pedagang ini menempati kedua sisi Jalan Juanda sebagai tempat usaha baru. Kini Jalan Juanda yang panjangnya 6 Km bagaikan pasar tanaman yang selalu ramai dikunjungi para pembeli. Yang menarik para pedagang kaki lima (PKL) ala Depok ini membuat para pengendara yang melalui Jalan Juanda terasa berada di karnaval Pasadena. Para pedagang  menata produknya (kombinasi tanaman hias dan bibit tanaman produktif plus batu-batu alam) sedemikian rupa sehingga tampak indah dan rapih yang juga dilengkapi gubuk-gubuk mungil terbuat dari bambu dan beratap ijuk.

Tugu Garuda di flyover UI Depok: Monumen Selaras Alam yang Memberi Spirit


Tugu yang pertama dibangun di Kota Depok adalah Tugu Garuda. Tugu ini berada di dalam lingkaran flyover Universitas Indonesia (UI). Di puncak tugu terdapat seekor burung garuda yang tengah membawa satu tandan kelapa—yang seakan mengingatkan setiap warga Depok yang pergi ke luar Depok agar pulangnya harus membawa hasil. Tidak jauh dari tugu ini di lingkungan kampus UI terdapat sejumlah tugu kecil namun yang spektakuler adalah sebuah bangunan baru dengan model monumen purba yang menjadi bagian dari perpustakaan Universitas Indonesia. Sejumlah tugu lainnya di Depok terdapat di persimpangan jalan raya atau di dalam lingkungan perumahan. Beberapa tugu tersebut adalah: Tugu Jam di pertigaan Margonda-Siliwangi-Kartini; Tugu Goong Si Bolong di Tanah Baru; dan Tugu Grand Depok City.

Flyover Universitas Indonesia (UI) hingga Underpass Citayam: Solusi Kemacetan di Depok

Peta (google maps)  Flyover UI

Kota Depok merupakan jalur lalu lintas kereta api Jakarta-Bogor yang frekuensinya terbilang tinggi. Akibatnya perlintasan kereta api di Depok kerap menjadi simpul kemacetan yang sulit diurai. Pembangunan flyover (overpass) atau underpass (subway) adalah suatu solusi. Pembangunan flyover pertama di Depok dibangun di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1989. Pembangunan flyover yang kedua dilakukan pada tahun 2006 di Jalan Arif Rahman Hakim dan pada tahun 2008 dibangun flyover di Ratu Jaya menuju Depo KRL Depok. Dua solusi kemacetan di perlintasan keret api yang memerlukan penanganan segera adalah di perlintasan Jalan Dewi Sartika dan Stasiun Citayam. Masing-masing perlintasan kereta api ini lebih sesuai pembangunan underpass daripada flyover. Namun pembangunan flyover dan underpass bukanlah hal yang mudah dan murah. Pembebasan lahan adakalanya lebih mahal daripada pembangunan flyover/underpass. Kasus ‘Pondok 1 Milyar’ ketika pembebasan lahan pembangunan flyover UI hingga kini konon belum tuntas terselesaikan. Pemilik tanah meminta ganti rugi sebesar Rp 1 Milyar atas tanahnya yang kini menjadi  bagian dalam lingkaran flyover UI.

Pengelolaan Setu di Universitas Indonesia: Suatu Model Integrasi Antara Hutan Beton dengan Hutan Kota

Universitas Indonesia terletak di Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok. Di dalam lingkungan universitas ini terdapat empat setu (danau): Kenanga, Puspa, Mahoni dan Agathis. Setu Kenanga juga disebut danau Salam terletak di antara rektorat, balairung, masjid dan perpustakaan UI. Setu Kenanga memiliki luas 2 Ha dengan kedalaman 1-4 M. Setu Mahoni terletak diantara FE, FT, FIB. Antara FE/FT dengan FIB dihubungkan oleh sebuah jembatan yang diberi nama Jembatan Teksas (teknik-ekonomi-sastra). Luas Setu Mahoni 4 Ha dengan kedalaman 1-4 M. Setu Puspa terletak antara FMIPA dan Lapangan Hoki dengan luas 2 Ha dengan kedalaman 1-4 M. Setu Agathis berada di antara asrama mahasiswa/hotel makara, FEUI dan restotan Mang Engking.  Luas Setu Agathis 4 Ha dengan kedalaman 1-4 M.

Banjir Kanal Selatan Cisadane-Ciliwung (1854): Sumber Irigasi Pertanian di Depok


Peta-1. Posisi Sodetan Sungai Ciliwung (merah kiri bawah)
Jauh sebelum ada Banjir Kanal Barat (BKB) dan Banjir Kanal Timur (BKT) di Batavia (Jakarta) sudah ada Banjir Kanal Selatan (BKS). Banjir Kanal Selatan dibangun tahun 1854 oleh Belanda--suatu kanal atau terusan yang menghubungkan Sungai Cisadane dan Sungai Ciliwung yang daerah alirannya terletak antara Kota Buitenzorg (Bogor) dan Kota Depok. Kanal ini dulu disebut Westerlokkan (kanal barat Ciliwung). 


Foto-1. Muara BKS/Sodetan di Sunga Cisadane di  Kota Bogor



Muara dari kanal ini disodet dari Sungai Cisadane di Kota Bogor, tepatnya di daerah Pancasan/Empang (lihat Peta-1, tanda merah pada sisi kiri bawah; tanda merah pada sisi kanan atas adalah Sungai Ciliwung. Untuk lebih detil melalui foto satelit (google maps) dapat diperhatikan dalam Foto-1. 






Jembatan Merah di Bogor 1900

Aliran kanal ini dari Empang melalui Paledang, Jembatan Merah (belakang Pasar Jalan Merdeka), Ciwaringin, Jalan Semeru, Cimanggu Barata. Di Cimanggu Barat kanal bercabang, yang satu ke kiri menuju Cilebut dan yang lain ke kanan menuju Jalan Martadinata kemudian masuk Jalan Ahmad Yani dan selanjutnya aliran air masuk ke Sungai Ciliwung. Inilah yang kemudian disebuat ada kanal yang menghubungkan antara Sungai Cisadane dengan Sungai Ciliwung di Kota Bogor sebagai Banjir Kanal Selatan (BKS). 

Universitas Indonesia ‘Go Green’: Kampus Hijau Terbaik di Indonesia


Universitas Indonesia (UI) mulai menempati kampus barunya di Kota Depok pada semester gasal tahun 1987. Kampus baru UI ini menempati lahan seluas 320 Ha. Kini UI termasuk 50 besar kampus hijau terbaik di dunia. Ini seiring dengan kebijakan UI yang tetap mempertahankan kawasan hijau terhadap lahan yang ada. Hanya sebagain kecil saja (25 persen) yang digunakan untuk pembangunan gedung-gedung. Sebagian besar lahan yang ada merupakan taman, setu (danau) dan hutan. Secara garis besar alokasi tata ruang kawasan kampus terbagi ke dalam empat ekosistem, yaitu: bangunan fisik gedung dan penyangga hijauan lanskap (170 Ha); perairan (30 Ha); kawasan hutan (100 Ha); dan sarana prasarana penunjang termasuk penyangga lingkungan (12 Ha).

Perumnas Depok: Perumahan Nasional Pertama di Indonesia


Peta Perumnas Depok: 1. Beji, 2 Tengah, 3 Timur Sukmajaya
Perumahan yang dibangun pertamakali oleh pemerintah adalah perumahan nasional (Perumnas) di Depok. Perumahan tersebut mulai dibangun tahun 1976 dengan lokasi di Beji (Depok I). Pada tahun 1977 dibangun lagi di Sukmajaya (Depok II Tengah). Luas tanah perumahan Depok II Tengah 117 Ha. Pada tahun 1978 dibangun lagi di atas lahan seluas 170 Ha di Sukmajaya (Depok II Timur). Lokasi perumahan perumnas ini kini berada di pusat Kota Depok. Pengembang (developer) yang membangun perumnas di Depok itu adalah Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas)--suatu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang perumahan yang didirikan pada tahun 1974. Kini BUMN tersebut telah membangun perumahan dan pemukiman di 400 lokasi di Indonesia dengan total 500.000 unit rumah.

Jalur Pipa Gas (JPG) Alam: Balongan-Cilegon via Depok


Jalur pipa gas (JPG) alam di Depok merupakan bagian dari pipa gas yang berasal dari Balongan (Indramayu) menuju Krakatau Steel (Cilegon). Jalur pipa gas alam ini dibangun Pertamina pada tahun 1974. Pipa gas ini berfungsi sebagai jalur pasokan/distribusi gas melalui pipa dari ladang gas alam di lepas pantai (offshore) laut Jawa dan kawasan Cirebon untuk kebutuhan pabrik pupuk (Cikampek), semen (Cibinong), baja (Cilegon), dan pabrik keramik. Di wilayah Depok JPG alam ini melalui Cimanggis, Jalan Juanda, batas kampus UI dan Limo. Pembangunan jalan tol Cinere-Jagorawi (Cijago) dibuat sejajar dengan jalur pipa gas alam ini.

Cagar Alam Depok, Pertama Sejak Era Hindia Belanda: Mengapa Sekarang Disebut 'Taman Hutan Raya"


Buga juga Sejarah Cagar Alam terbaru dalam blog ini Klik Disini

Cagar Alam (Tahura) Depok di tengah pemukiman padat
Cagar Alam Depok sudah ditetapkan sejak era Hindia Belanda. Kini, cagar alam pertama tersebut sering disebut Taman Hutan Raya (Tahura). Cagar alam/tahura Depok ini berada di Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok (dekat dengan stasiun kereta api Depok Lama). Hutan yang dulu luasnya 30 Ha, kini hanya tersisa seluas 6 Ha. Hutan ini adalah hutan peninggalan di Depok sejak abad-17. Waktu itu, wilayah Depok masih memiliki hutan yang luas, namun lambat laun hutan tersebut beralih menjadi areal pertanian. Khawatir dengan menyusutnya luas hutan, maka hutan yang masih tersisa oleh Nederlands Indische Vereniging Tot Natuur Berscherming (Perhimpunan Perlindungan Hutan Alam Hindia Belanda) bekerja sama dengan kota praja (Gemeente) Depok ditetapkan sebagai cagar alam (natuur reservaat). Konon, penetapan cagar alam ini dilaporkan kepada Prof Porsch di Wina, Austria dan dinyatakan secara resmi sebagai cagar alam pertama di Hindia Belanda. Peruntukkan hutan  cagar alam merupakan hibah dari seorang partikelir bernama Cornelis Castelein seluas 30 ha. Ini berbeda dengan pembangunan Kebun Raya Bogor di Buitenzorg (Bogor) yang dimaksudkan untuk menghutankan kembali dengan mengumpulkan pohon langka (forest). Cagar Alam Depok sendiri justru ditetapkan untuk tetap mempertahankan keasliannya sebagai asli hutan belantara (jungle).

Masjid ‘Kubah Emas’ Termegah di Asia Tenggara: Tempat Destinasi Wisata Religi di Depok


Masjid Dian Al Mahri atau lebih dikenal sebagai Masjid Kubah Emas. Masjid Dian Al Mahri ini terletak di Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok. Masjid yang mulai dibangun 2001 dan selesai tahun 2006 berdiri di atas lahan seluas 70 Ha. Masjid ini tergolong  masjid termegah di kawasan Asia Tenggara. Bangunan masjid memiliki luas 8.000 M2 yang terdiri dari bangunan utama, mezanin, halaman dalam, selasar atas, selasar luar, ruang sepatu dan ruang wudu. Masjid ini mampu menampung 15 ribu jamaah shalat dan 20 ribu jamaah taklim.  Masjid ini dibangun oleh Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid yang telah membeli tanah ini sejak tahun 1996.

Depo KRL di Depok: Terbesar di Asia Tenggara


Depo KRL Depok terletak di Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok (di sebelah selatan Stasiun Depok Lama). Depo berfungsi sebagai ‘bengkel’ perawatan rutin kereta yang mencakup pemeriksaan harian, bulanan dan tahunan serta perbaikan-perbaikan kecil untuk memastikan kenyamanan dan keamanan kereta api. Depo ini dibangun sejak 2004 di atas lahan seluas 26 Ha dan dioperasikan tahun 2008. Depo ini memiliki panjang 1,3 Km dengan lebar 200 meter. Fasilitas yang dimiliki Depo Depok ini terbilang lengkap yakni 14 Jalur rel stabling (area perkir), gedung kantor seluas 2.200 M2, gedung pemeliharaan seluas 8.600 M2 dan kawat listrik pensuplai daya sepanjang 21.800 meter serta dilengkapi dengan mes masinis sebanyak 30 kamar dengan jumlah tempat tidur 120 unit tempat tidur. Kapasitas depo ini mampu menampung sebanyak 224 unit KRL dan menjadi depo yang terbesar di Asia Tenggara.

‘Rumah Tua Cimanggis’ di Depok: Pesanggrahan Janda Gubernur Jenderal Belanda


Rumah Cimanggis adalah rumah yang terletak di jalur Batavia-Buitenzorg via Cibinong di Cimanggis. Rumah ini merupakan pengganti sebuah pesanggrahan sederhana yang pemilik awalnya adalah janda Gubernur Jenderal Petrus Albertus Van der Parra, meninggal 1787. Rumah Cimanggis pernah berperan dalam membuka hutan antara Jakarta-Bogor pada abad ke 18. 

‘Rumah Tua Pondok Cina’: Rumah Pertama di Pondok Cina, Depok


Rumah Tua Pondok Cina dibangun pada 1841. Didirikan dan dimiliki seorang arsitek Belanda, tapi pada pertengahan abad ke-19 dibeli oleh saudagar Tionghoa, Lauw Tek Lock dan kemudian diwariskan kepada putranya bernama Kapitan Der Chineezen Lauw Tjeng Shiang. Di sekitar rumah tua ini terdapat perkebunan karet dan persawahan. Yang tinggal di daerah tersebut hanya lima keluarga yang semuanya orang keturunan Tionghoa.  Mereka ini selain berdagang ada juga yang bekerja sebagai petani di sawah sendiri serta bekerja di ladang kebun karet milik tuan tanah orang-orang Belanda.  Dalam perjalanan waktu, beberapa keluarga ada yang pindah ke tempat lain yang tidak diketahui apa alasannya sampai akhirnya hanya satu keluarga yang tersisa. Keluarga ini mendiami rumah tua yang kini situsnya masih dapat dilihat di Margo City.

‘Rumah Tanah Baru' F. Widayanto di Depok: Galeri Maestro Keramik Indonesia


‘Rumah Tanah Baru' atau juga disebut 'Rumah Keramik’ F. Widayanto beralamat di Jalan Curug Agung No. 1 Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok. Rumah keramik ini pemiliknya adalah F. Widayanto, seorang maestro keramik terkenal di Indonesia, yang didalamnya dipenuhi dengan aneka kreasi keramik yang mewarnai bangunan rumah ini mulai dari lantai, dinding, patung-patung hingga peralatan kamar mandi.. Rumah keramik yang pertama dan terbesar di Jabodetabek ini dibangun di atas tanah seluas 1.3 Ha. Areal rumah kermaik ini dibangun tahun 1997 yang terdiri dari tiga dataran (berundak-undak) yang dipenuhi dengan aneka pepohonan hijau yang membuat rumah keramik ini tampak asri dan susana segar bebas polusi. 

‘Karnos Filmmaking Camp’ Rano Karno di Depok: Si Doel Jadi Dosen Anak Sekolahan

‘Karnos Filmmaking Camp’ adalah salah satu unit bisnis PT Karnos Film yang bergerak di bidang pelatihan dan pendidikan secara menyeluruh di bidang digital filmmaking and broadcasting. Kampus ‘Karnos Filmmaking Camp’ beralamat di Jalan Alternatif Cibubur, Kota Depok. Gedung kampus ini dibangun di atas tanah seluas 4.000 M2. Dengan telah dibukanya Tol Cinere–Jagorawi (Cijago) maka kampus ini menjadi lebih mudah dijangkau dari pusat Kota Depok.

‘Panggung Kita’ Iwan Fals di Depok: Bongkar!

 *Artikel Sejarah Tapos dalam blog ini Klik Disini

‘Panggung Kita’ adalah sebuah sebutan untuk menunjukkan pada sebuah panggung pertunjukan yang terletak di halaman belakang rumah Iwan Fals. Areal rumah Iwal Fals seluas 1.5 Ha yang berlokasi di Desa Leuwinanggung, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok. Awalnya, Iwan pada tahun 1982 membeli tanah yang menjadi tempat tinggalnya sekarang hanya sekadar untuk investasi saja. Namun di tahun 1995, Iwan berkekuatan hati untuk membangun areal tersebut menjadi tempat tinggal.  Iwan Fals sendiri membangun sebuah rumah besar yang luas tanahnya  6.000 M2. Di dalam kavling rumah ini juga terdapat sebuah studio musik dan garasi mobil (termasuk bus). Sementara sisa areal digunakan untuk bangunan toko, pendopo, kantor organisasi penggemar yang diberi nama Oi dan sebuah panggung terbuka yang dikenal sebagai ‘Panggung Kita’.

‘Bengkel Teater' WS Rendra di Depok: 'Burung Camar' Diantara Pepohonan Hijau


Pada tahun 1985 WS Rendra mendirikan ’Bengkel Teater Rendra’ di Desa Cipayung, Kecamatan Cipayung, Depok. Bengkel ini dibangun di atas lahan yang asri seluas 3 Ha yang di dalamnya terdapat bangunan tempat tinggal Rendra dan keluarga, serta bangunan sanggar untuk latihan drama dan tari. Selain itu, WS Rendara merancang lahan tersebut untuk ditami dengan berbagai jenis tanaman yang sebagian besar berupa tanaman keras dan pohon buah yang sudah ada sejak lahan tersebut dibeli, antara lain jati, mahoni, ebony, bambu, turi, mangga, rambutan, jengkol, tanjung, singkong dan lain-lain. Konon, setelah WS Rendra wafat tahun 2009, warisan lokasi sanggar yang asri tersebut pernah diusulkan menjadi Cagar Budaya. WS Rendra dikebumikan di dalam lingkungan sanggar tersebut. Kini sanggar tersebut tetap masih digunakan untuk kegiatan seni.

Studio Alam (TVRI) Depok: Aku Cinta Indonesia

Di Kota Depok terdapat sebuah studio alam yang terletak di Jalan Raden Saleh Kecamatan Sukmajaya, Depok. Lanskap studio alam ini dibangun pada tahun 1980. Luas studio alam adalah 28 Ha. Di dalam kawasan studio ini terdapat banyak pohon rindang, beberapa buah danau dan bangunan-bangunan rumah-rumah tradisional. Awalnya studio alam ini digunakan sebagai lokasi shooting film (sinetron) dengan tema latar belakang alam dan hutan dari sejumlah program acara TVRI seperti Rumah Masa Depan, Aku Cinta Indonesia (ACI) pada tahun 1980-an. Kini, studio alam ini tidak termanfaatkan secara maksimal. Di areal yang termasuk kawasan studio alam ini kini terdapat lapangan tenis dan dimanfaatkan juga untuk latihan tembak.

Sejarah Tata Ruang Kota Depok: Menyambung Mata Rantai Yang Terputus Antara Depok Masa Kini dan Depok Tempo ‘Doeloe’

Kini saya tinggal di Kota Depok. Setiap kali kita memandang dari Depok ke arah selatan, sejajar denga rel kereta api Jakarta-Bogor, maka di kejauhan sangat jelas terlihat suatu pemandangan (lanskap) Gunung Salak. Sejatinya, pemandangan Gunung Salak ini hanya indah jika dipandang dari Kota Depok--tidak dari Kota Bogor (terlalu dekat) dan juga tidak dari Kota Jakarta (terlalu jauh). Ini berarti karunia adanya keindahan Gunung Salak sesungguhnya ditujukan buat warga Kota Depok. Dalam hubungan ini, jika kita telusuri sejarah Depok, satu-satunya yang tidak berubah dari masa ke masa adalah pemandangan Gunung Salak ini. Lantas, apa saja yang telah berubah. Mari, saya ingin mengajak anda untuk ikut mencermatinya.