Tampilkan postingan dengan label Sejarah TATA KOTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah TATA KOTA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juli 2023

Sejarah Tata Kota Indonesia (44): Soekarno dan Para Insinyur Indonesia Berjuang; Tata Kota dan Tata Politik Bernegara (Merdeka)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Sebelum perguruan tinggi Teknik (THS) di Bandung dibuka tahun 1920, sudah ada sejumlah pribumi yang meraih gelar insinyur di perguruan tinggi teknik di Belanda. Dalam pembukaan THS, mahasiswa yang diterima adalah siswa-siswa pribumi. Cina dan Eropa/Belanda lulusan HBS/AMS. Salah satu lulusan pertama THS dari golongan pribumi adalah Ir Soekarno. Para lulusan pribumi ada yang berjuang lewat pembangunan fisik termasuk dalam bagian penataan kota juga ada yang berjuang melalui jalur politik (dalam hubungannya dengan tata politik bernegara). Ir Soekarno dan Ir Anwari dua diantara lulusan THS yang memilih jalur politik sejak awal karir.


Ir. Soekarno (6 Juni 1901 – 21 Juni 1970) adalah Presiden pertama Republik Indonesia yang menjabat pada kurun waktu 1945–1967. Ia adalah seorang tokoh perjuangan yang berperan penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari kolonialisme Belanda. Bersama Mohammad Hatta, ia memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Tamat HBS Soerabaja bulan Juli 1921, bersama Djoko Asmo rekan satu angkatan di HBS, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil pada tahun 1921, setelah dua bulan dia meninggalkan kuliah, tetapi pada tahun 1922 mendaftar kembali dan tamat pada tahun 1926. Soekarno dinyatakan lulus ujian insinyur pada tanggal 25 Mei 1926 dan pada Dies Natalis ke-6 TH Bandung tanggal 3 Juli 1926 dia diwisuda bersama delapan belas insinyur lainnya. Prof. Jacob Clay selaku ketua fakultas pada saat itu menyatakan "Terutama penting peristiwa itu bagi kita karena ada di antaranya 3 orang insinyur orang Jawa". Mereka adalah Soekarno, Anwari, dan Soetedjo, selain itu ada seorang lagi dari Minahasa yaitu Johannes Alexander Henricus Ondang. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Soekarno dan para insinyur Indonesia juga berjuang? Seperti disebut di atas di Indonesia pada tahun 1920 dibuka perguruan tinggi teknik semasa Pemerintah Hindia Belanda. Ada yang berjuang untuk penataan kota dan juga da yang berjuang melalui jalur tata politik bernegara untuk mencapai kemerdekaan seperti Ir Soekarno. Lalu bagaimana sejarah Soekarno dan para insinyur Indonesia juga berjuang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Tata Kota Indonesia (43): Perguruan Tinggi Teknik - Tata Kota di Indonesia Sejak Pemerintah Hindia Belanda; THS Kini ITB


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Sebelum dikenal Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Technische Universiteit Delft (TU Delft) pada masa ini, pada masa lampau dikenal Polytechnische School di Delft dimana Raden Kartono diterima pada tahun 1896. Dalam perkembangannya politeknik ini diubah statusnya menjadi perguruan tinggi teknik (Technische Hoogeschool te Delft) yang menjadi cikal bakal TU Delft. Bagaimana dengan di Indonesia? Itu bermula di Bandoeng dengan didirikannya tahun 1920 Technische Hoogeschool te Bandoeng (yang menjadi cikal bakal ITB).


Technische Universiteit Delft (TU Delft) adalah sekolah sulit tapi prestisius. Salah satu pribumi yang studi di sekolah tinggi teknik ini di masa lalu adalah direktur pertama PT. PINDAD Bandung (1950-1954) Ir AFP Siregar gelar Mangaradja Onggang Parlindoengan. Sejak doeloe, selain TU Delft sebagai jalur mahasiswa asal Indonesia di bidang eksak adalah Fakultas Kedokteran Universiteit van Amsterdam, salah satu alumninya adalah perempuan Indonesia pertama bergelar Doktor (PhD) di bidang kedokteran tahun 1931 Dr Ida Loemongga Nasoetion, PhD. Satu lagi universitas yang sulit di Belanda adalah Fakultas Kedokteran Hewan Universiteit Utrecht yang mana salah satu alumninya adalah orang Indonesia pertama berlisensi Eropa sebagai Dokter Hewan tahun 1920 Dr Sorip Tagor Harahap, dokter hewan yang memulai karir di Istana Gubernur Jenderal yang kemudian dipromosikan menjadi Kepala Dinas Kedokteran Hewan Province West Java di Bandoeng (Dr Sorip Tagor Harahap kelak dikenal sebagai kakek Inez/Risty Tagor).

Lantas bagaimana sejarah perguruan tinggi teknik dan tata kota di Indonesia sejak era Pemerintah Hindia Belanda? Seperti disebut di atas, perguruan tinggi teknik (Technische Hoogeschool) dobuka tahun 1920 di Bandoeng yang menjadi cikal bakal ITB sekarang. Lalu bagaimana sejarah perguruan tinggi teknik dan tata kota di Indonesia sejak era Pemerintah Hindia Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 21 Juli 2023

Sejarah Tata Kota Indonesia (42): Ahli Tata Kota dan Insinyur Teknik Sipil Pribumi Era Pemerintah Hindia Belanda; Apa Perannya?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Orang yang kompeten dalam urusan tata kota di Hindia Belanda (baca: Indonesia) adalah insinyur teknik. Kompetensi ini awalnya hanya diperoleh di perguruan tinggi teknik di Belanda (terutama di Universiteir te Delft). Di universitas ini ada berbagai bidang termasuk insinyur teknik sipil, insinyur teknik arsitektur dan sebagainya. Meski jauh di Belanda, tentu saja ada siswa pribumi di Hindia yang mampu meraihnya. Untuk kompetensi itu kemudian pada tahun 1920 dibuka sekolah tinggi teknik di Bandoeng.


Herman Thomas Karsten Perancang Tata Kota Semarang, Arsitek Belanda Sangat Hargai Budaya Jawa. Tribunjateng.com. Selasa, 3 Januari 2023. Herman Thomas Karsten, arsitek ditunjuk Pemerintahan Hindia Belanda menata Kota Semarang 914. Karsten sangat berkontribusi dalam pengembangan Kota Semarang. Pemerintah Hindia Belanda menyebutkan Karsten sebagai sebagai perancang modernisme Semarang. Guna menunjang perkembangan perekonomian Pemerintah Hindia Belanda, pembangunan infrastruktur hingga akses transportasi dilakukan secara masif di Kota Semarang. Minimnya pemukiman layak huni, pertumbuhan kampung urban secara organik, masalah sanitasi, kebersihan hingga estetika perkotaan jadi problematika yang dihadapi pemerintah Hindia Belanda saat itu. Karsten pun ditugaskan oleh pemerintah kolonial untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pada 1919 ia menerapkan rencana kota yang merefleksikan teori desain kota Eropa modern dengan konsep garden city. Dalam penerapannya, Karsten lebih menekankan tata kota yang fungsional, harmonis dan organis. Konsep itu dianggap sebagai sebuah rencana kota pertama ekstensif dan komprehensif di Hindia Belanda. Rencana Karsten tersebut mencakup area selatan Kota Semarang, yang kemudian dinamai Candi Baru, serta kawasan menuju pusat kota. (https://jateng.tribunnews.com/)

Lantas bagaimana sejarah ahli tata kota dan insinyur teknik sipil pribumi semasa era Pemerintah Hindia Belanda? Seperti disebut di atas, untuk urusan yang terkait tata kota ahli yang kompeten adalah insinyur teknik. Bagaimana orang pribumi mencapai kompetensi tersebut? Lalu bagaimana sejarah ahli tata kota dan insinyur teknik sipil pribumi semasa era Pemerintah Hindia Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Tata Kota Indonesia (41): Pekerjaan Umum (BOW) Dinas Sipil dan Tata Kota Era Pemerintah Hindia Belanda; Apa Peran?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Pada masa ini di setiap kabupaten/kota ada dinas terkait dengan tata kota. Meski ada penamaan umum sebagai Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, namun ada juga kabupaten/kota yang mengintegrasikasikannya dengan bidang lain seperti Dinas Pertanahan dan Tata Ruang, Dinas Tata Kota dan Pariwisata dan sebagainya. Di masa lampau semasa Pemerintah Hindia Belanda hanya satu nomenklatur: Dinas Pekerjaan Umum (BOW). Namun apa pun nama dinas yang berwenang untuk soal tata ruang ini pada intinya penting dalam dalam pembangunan dan pengembangan di dalam kota.


Pekerjaan Umum adalah Openbare Werken pada zaman Hindia Belanda disebut "Waterstaat swerken". Di Pusat Pemerintahan dibina oleh Dep.Van Verkeer & Waterstaat, sebelumnya terdiri 2 Dept: Van Guovernements Bedri jven dan Dept.Van Burgewrlijke Openbare Werken. Dep. VW dikepalai Direktur membawahi beberapa Afdelingen dan Diensten. Yang meliputi bidang PU (openbare werken) termasuk afdeling Waterstaat dengan onder afdelingen: 1. Lands gebouwen, 2. Wegen, 3. Irrigatie & Assainering, 4. Water Kracht, 5. Constructie burreau (untuk jembatan), plus afd. Havenwezen (Pelabuhan), afd. Electriciteitswezen (Kelistrikan) dan afd. Luchtvaart (Penerbangan Sipil). Organisasi PU di daerah adalah sebagai berikut: 1. Di Prov West Java, Midden Java dan Oost Java urusan Waterstaat/openbare werken diserahkan pada Pemerintahan Provinsi. 2. Di wilayah Gouv Yogyakarta dan Gouv. Soerakarta urusan Pekerjaan Umum/Waterstaat dijalankan oleh "Sultanas Werken" (Jogja) "Rijkswerken" (Soerakarta), Mangkunegaranwerken" plus di wilayah Vorstenlander terdapat 3 organisasi "Waterschap", "s" Lands gebouwendienst", Regentschap Werken" dan "Gremeente werken". 3. Untuk daerah luar Jawa Gouv. Sumatera, Borneo dan Grote Oost terdapat organisasi "Gewestelijke Inspectie v/d Waterstaat" dikepalai oleh seorang Inspektur. Di wilayah Residentie terdapat "Residentie Water Staatsdienst" yang sebelumnya dikenal "Dienst der BOW". (https://pu.go.id/) 

Lantas bagaimana sejarah Dinas Pekerjaan Umum (BOW) Sipil dan Tata Kota semasa era Pemerintah Hindia Belanda? Seperti disebut di atas, dinas yang terkait dengan penataan kota berawal dari pembentukan Dinas Pekerjaan Umum (BOW). Bagaimana perannya? Lalu bagaimana sejarah Dinas Pekerjaan Umum (BOW) Sipil dan Tata Kota semasa era Pemerintah Hindia Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 20 Juli 2023

Sejarah Tata Kota Indonesia (40): Tata Kota dan Pemberlakuan Desentralisasi 1903 Era Pemerintah Hindia Belanda; Apa Relasiya?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Kota-kota di Indonesia yang sekarang adalah garis continuum dari masa lampau, sejak kota-kota tersebut masih kecil (bahkan sebesar kampong). Ketika kota-kota tersebut sudah tumbuh dan berkembang, lalu system pemerintahan dintroduksi mengikuti politik desentralisasi (dalam hal ini dibatasi kota mengurus ruang kotanya sendiri). Pemberlakuan desentralisasi itu dimulai tahun 1903. Apa relasinya?


Pengembangan Wilayah dan Kota di Indonesia: Dimensi Urbanisasi dan Desentralisasi. Pengarang Tommy Firman. Penerbit ITB Press. 2020. Pengembangan Wilayah dan Kota bersifat kompleks dan melibatkan banyak disiplin ilmu pengetahuan. Penulisan buku ini juga melihat PWK dalam konteks yang lebih luas tidak semata-mata sebagai pengembangan tata ruang wilayah dan kota. Bahasan pada buku ini terfokus pada kaitan PWK dan desentralisasi dan urbanisasi di Indonesia. Buku ini merupakan suatu koleksi atau kumpulan (antologi) sebagian karya-karya terpilih Jabatan Guru Besar dari ITB, sejak tahun 1998 hingga 2018, yang telah diterbitkan dalam bentuk artikel yang telah mengalami proses review oleh pakar (peer-reviewed articles) pada berbagai jurnal internasional dalam bahasa inggris, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Walaupun beberapa artikel ditulis pada awal tahun 2000-an, akan tetapi isunya masih sangat relevan dengan kondisi PWK di Indonesia pada saat ini. Buku ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama (Bab 2-bab 4) membahas pengembangan wilayah kota dikaitkan dengan urbanisasi, sedangkan bagian kedua (Bab 5-bab 7) dikaitkan dengan desentralisasi. (https://pu.go.id/pustaka/)

Lantas bagaimana sejarah tata kota dan pemberlakuan desentralisasi 1903 era Pemerintah Hindia Belanda? Seperti disebut di atas, pemberlakuan desentralisasi semasa Pemerintah Hindia Belanda tahun 1903, sementara kota sudah tumbuh dan berkembang sejak lama. Apa relasiya? Lalu bagaimana sejarah tata kota dan pemberlakuan desentralisasi sejak era Pemerintah Hindia Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Tata Kota Indonesia (39): Tata Kota di Nabire dan Wamena; Teluk Cendrawasih dan Lembah Besar Baliem di Gunung Tinggi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Pada masa ini Wamena ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Papua Pegunungan dan Nabire juga telah ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Papua Tengah. Dua kota ini jelas berjauhan, satu di pesisir pantai dan satu lagi di pedalaman. Kota Nabire tepat berada di bagian paling dalam teluk besar Cendrawasih. Kota Wamena tepat berada di tengah lembah luas (lembah Baliem) di lereng gunung tertinggi di Papua (gunung Jayawijaya). Kedua kota ini sulit dihubungkan dengan jalan darat. Sungai Baliem bermuara ke pantai barat di Laut Arufuru.


Wamena adalah ibu kota kabupaten Jayawijaya dan sekaligus juga sebagai ibu kota Provinsi Papua Pegunungan. Wamena juga merupakan sebuah distrik di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan. Wamena adalah pusat kota di daerah pedesaan yang menampung dataran tinggi dengan konsentrasi populasi tertinggi di Lembah Baliem dan daerah sekitarnya. Penduduk Wamena memiliki sejumlah kelompok etnis, yang paling dominan adalah suku Dani, Lani dan Yali. Kabupaten Nabire adalah salah satu kabupaten yang juga merupakan ibu kota Provinsi Papua Tengah, yang berbatasan dengan Provinsi Papua Barat di sebelah barat. Ibu kota kabupaten ini terletak di punggung pulau Papua (di bagian dalam teluk Cendrawasih)
(Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah tata kota Nabire dan tata kota Wamena? Seperti disebut di atas, dua kota ini masing-masing telah ditetapkan sebagai ibu kota provinsi. Kota Nabire di teluk besar (Teluk Cendrawasih), sungai Membramo di pantai utara berhulu di lembah luas (Lembah Baliem) di lereng gunung tertinggi. Lalu bagaimana sejarah tata kota Nabire dan tata kota Wamena? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 19 Juli 2023

Sejarah Tata Kota Indonesia (38): Tata Kota Merauke Fakfak Sorong Pantai Barat Papua; VOC hingga Pemerintah Hindia Belanda


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Sejumlah provinsi baru dibentuk di wilayah Papua. Papua Selatan dengan ibu kota Merauke (UU No 14/2022) dan Papua Barat Daya beribu kota di Sorong (UU No 29/2022). Sebelumnya sudah terbentuk provinsi Papua Barat dengan ibu kota Monokwari (UU No 45/1999). Salah satu kabupaten di Papua Barat adalah Fakfak yang menjadi ibu kota. Kota Merauke, Fakfak dan Sorong secara geografis berada di pantai barat wilayah Papua (Kota Manokwari sendiri berada di pantai utara).


Harmonisasikan Ranperbup Kabupaten Merauke, Kanwil Kemenkumham Papua Bantu Sempurnakan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Merauke. Jayapura, Senin 17 Juli 2023. Bupati Kabupaten Merauke dalam hal ini diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan beserta jajaran melakukan kunjungan ke Kanwil Kemenkumham Papua, dalam rangka Harmonisasi Rancangan Peraturan Bupati Merauke tentang Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Merauke. Proses pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan rancangan peraturan perundang-undangan merupakan salah satu dari rangkaian proses pembentukan peraturan perundang-undangan yang harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan Pasal 58 ayal (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2022 bahwa "Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh instansi vertikal Kementerian atau Lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan". (https://papua.kemenkumham.go.id/)

Lantas bagaimana sejarah tata kota di Merauke, Fakfak, Sorong Pantai Barat Papua? Seperti disebut di atas ada tiga kota utama di pantai barat Papua yakni Merauke, Fakfak dan Sorong yang mana Merauke dan Sorong masing-masing telah ditetapkan sebagai ibu koyta provinsi baru. Lalu bagaimana sejarah tata kota di Merauke, Fakfak, Sorong Pantai Barat Papua? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Tata Kota Indonesia (37): Tata Kota Dili di Pulau Timor; Sejak Era Portugis dan VOC hingga Pemerintah Hindia Belanda


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Pada tahun 2021 Pemerintah Timor Leste mulai merencanakan penataan ulang tata kota Dilli (lihat Jose Reis: Perencanaan Tata Kota Dilli Sangat Pentinghttps://id.tatoli.tl/). Salah satu pemicu gagasan itu terjadinya banjir bandang pada tanggal 4 Juli 2021. Menteri Jose Reis menjelaskan pada tahun 2030 populasi di Dili akan menjadi 500.000 orang sehingga sangat sulit mengelola kota kecil seperti Dili dengan populasi begitu besar.


Timor Lester sudah beberapa decade menjadi negara yang berdiri sendiri. Sebelumnya wilayah (negara) Timor Leste dengan nama Timor Timur adalah salah satu provinsi di Indonesia. Sebelum Timor Timur berintegrasi denganh wilayah Republik Indonesia, adalah wilayah yang terpisah dengan Indonesia dimana pengaruh Portugis masih ada. Gerakan politik yang terjadi (faksi-faksi yang ingin, memisahkan diri dari pengaruh Portugis, merdeka sepenuhnya dan diintegrasikan dengan, dengan Indonesia menyebabkan terjadi perang saudara yang pada akhirnya wilayah Timor Timur menjadi bagian dari wilayah Indonesia sebagai satu provinsi (bertetangga dengan provinsi Nus Tenggara Timur). Gerakan politik yang terus berlanjut untuk perjuangan kemerdekaan Timor Timur sepenuhnya menyebabkan wilayah Timor Timur dilepaskan kembali di wilayah Indonesia yang kemudian menjadi negara Timor Leste. Dalam konteks ini nama Dilli menjadi penting karena menjadi ibu kota selama ini. Dalam konteks Timor Leste yang telah merdeka sepenuhnya, pada tahun 2021 mulai merencanakan kembali tata kota Dilli.

Lantas bagaimana sejarah tata kota di Dilli pulau Timor? Seperti disebut di atas, kota Dilli menjadi ibu kota dari masa ke masa hingga hari ini. Dalam hal ini bagaimana kota Dilli terbentuk dan tumbuh berkembang sejak era Portugis dan VOC hingga semasa era Pemerintah Hindia Belanda dan era Republik Indonesia. Lalu bagaimana sejarah tata kota di Dilli pulau Timor? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 18 Juli 2023

Sejarah Tata Kota Indonesia (36): Tata Kota di Mataram, Lombok dan Bima; Sejak Era VOC hingga Pemerintah Hindia Belanda


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Narasi sejarah Lombok khususnya kota Mataram sangat minim karena data yang tersedia sangat minim hingga rintisan ke narasi yang lebih lengkap di mulai dalam blog ini pada Juni 2020. Salah satu aspek sejarah Lombok yang dinarasikan adalah kota Mataram. Dalam konteks inilah narasi tata kota Maram menjadi bagian dari narasi tata kota di Indonesia. Kota Mataram sendiri adalah kota baru, kota-kota lama sejak era VOC umumnya di pantai seperti Lombok di pantai timur Lombok dan Bima di pulau Sumbawa.


Nama Jalan hingga Tata Kota Jadi Saksi Sejarah Mataram Tempo Dulu. Ahmada Efendi. 12 Januari 2022. Klikmataram. Pohon-pohon kenari berjejer di kanan kiri Jalan Langko dan Jalan Pejanggik di Kota Mataram peninggalan pemerintahan kolonial Belanda. Ruas Jalan Pejanggik dan Jalan Langko sudah terbentang sebelum Kolonial Belanda bercokol di Lombok. Tulisan dalam The Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia volume V, June 1851. Ahli botani dari Swiss Heinrich Zollinger menjelaskan tentang Mataram sebagai ibukota kerajaan. Berjarak 3 mil dari pantai Pelabuhan Ampenan. Satu mil berupa jalan berkelok dan dua mil sisanya adalah jalan lurus menuju Mataram. Zollinger menyebut jalan lurus itu sangat indah. Lebarnya sekitar 20 M dan di kanan kirinya tumbuh Pohon Ara yang berjajar menaungi sepanjang jalan itu. Menurut Zollinger, belum pernah dia temukan avenue atau jalan-jalan seindah itu di manapun. Tampaknya pemimpin Kerajaan Mataram Karangasem memang mempunyai keahlian tata kota yang mampu memberi jawaban untuk sebuah generasi zaman yang panjang. Hingga hari ini Jalan Langko dan Pejanggik tidak pernah tergantikan, melainkan hanya direnovasi dan dihiasi seiring waktu. Belanda sebagai pemenang mulai menata kota itu kembali. (https://mataram.pikiran-rakyat.com/)

Lantas bagaimana sejarah tata kota di Mataram, Lombok dan Bima? Seperti disebut di atas, kota Mataram memiliki sejarah sendiri. Namun sebelum nama Mataram dikenal, sejak era VOC sidah dikenal nama kota Lombok dan kota Bima. Pada era Pemerintah Hindia Belanda kota Mataram di pantai barat telah menggantikan kota Lombok di pantai timur. Lalu bagaimana sejarah tata kota di Mataram, Lombok dan Bima? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Tata Kota Indonesia (35): Tata Kota Serang, Anyer, Banten; Sejak Era Portugis, VOC hingga Pemerintah Hindia Belanda


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Sejak kapan terbentuk kota Serang? Pertanyaan yang lebih penting adalah sejak kapan kota Banten terbentuk? Dalam hal ini kesinambungan antara Banten dengan Serang, yang mana kota Serang adalah suksesi kota Banten. Untuk memahami sejarah kota Serang khususnya tata kota, haruslah memahami sejarah tata kota Banten, suatu kota tua yang sudah dikenal sejak era Portugis dan era VOC. Pada era Pemerintah Hindia Belanda muncul nama Serang.


Sejarah Di Balik Bangunan Kolonial Kota Serang. Bpcbbanten. 1 Agustus 2019. Tahun 1596 merupakan awal kedatangan armada Belanda di Banten. Adanya persaingan dagang dengan Spanyol dan Portugis, tahun 1603 mendirikan kantor dagang di Banten. Sultan Banten memaksa kantor tersebut dipindahkan ke Jayakarta tahun 1611. Tanggal 5 Januari 1808, Deandels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan bahwa Jayakarta menjadi pusat pemerintahan. Daendels melakukan birokratisasi di kalangan pemerintahan tradisional dengan menjadikan para sultan dan bupati sebagai pegawai pemerintahan. Sultan Banten pada saat itu, tidak mengakui kekuasaan Daendels. Sultan Banten ditangkap kemudian benteng serta Keraton Surosowan dihancurkan dan dibakar. Pada saat Raffles pusat pemerintahan berada di Keraton Kaibon. Berakhir eksistensi Kesultanan Banten. Pada 1828, pusat pemerintahan di Banten dipindahkan dari Kaibon ke daerah di sebelah selatannya, dengan membangun kota Serang. Dimulainya Serang sebagai kota ditandai didirikannya bangunan bergaya Eropa. Sebagai ibukota Keresidenan Banten, Serang satu-satunya tempat paling ramai di Banten. Bangunan tinggalan masa kolonial saat ini masih berdiri di Kota Serang antara lain Pendopo Gubernur, Kantor Bupati, Gedung Joeang 45, Gedung Dinas Pendapatan, Mapolres Serang, Korem, Stasiun Kereta Api Serang. (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/)

Lantas bagaimana sejarah tata kota di Serang, Anyer dan Banten? Seperti disebut di atas, wilayah Banten sudah dikenal luas sejak era Portugis. Kehadiran Belanda telah mengubah situasi dan kondisi di Banten. Dimana kota bermula di (pelabuhan) Banten dan berakhir di Serang (pedalaman). Proses ini berlansung sejak era Portugis, VOC hingga Pemerintah Hindia Belanda. Lalu bagaimana sejarah tata kota di Serang, Anyer dan Banten? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 17 Juli 2023

Sejarah Tata Kota Indonesia (34): Tata Kota Bandar Lampung,Tanjung Karang dan Teluk Betung; Orang Banten dan Penduduk Asli


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Kisah Kota Bandar Lampung bermula di selat Sunda diantara Banten pantai barat Jawa dan Lampung pantai selatan Sumatra. Satu nama tempat sejak awal (sejak era Portugus) di teluk Lampung diidentifikasi nama Dampin. Nama Teluk Betong muncul dan semakin popular pasca letusan gunung Krakatau tahun 1883. Teluk Betong kemudian menjadi Pelabuhan utama di ujung selatan Sumatra. Bagaimana dengan Tanjung Karang?


Kota Bandar Lampung ibu kota provinsi dan kota terbesar di provinsi Lampung. Secara geografis, Kota ini merupakan gerbang utama Pulau Sumatra. Suku Lampung diyakini sebagai penyebab penggunaan bahasa Lampung. Suku-suku Lampung secara geografis menempati wilayah mulai dari Kepaksian Paksi Pak Sakala Brak di Lampung Barat Lampung Timur hingga ke bagian wilayah Sumatra Selatan dan Bengkulu, bahkan di pantai barat Banten. Wilayah yang menjadi Kota Bandar Lampung era Pemerintah Hindia Belanda masuk wilayah Onder Afdeling Telokbetong (Stbls 1912 No 462) terdiri ibu kota Telokbetong dan wilayah sekitarnya. Sebelum tahun 1912, Ibu kota Telokbetong ini meliputi juga Tanjungkarang, 5 km di sebelah utara Kota Telokbetong. Ibu kota Onder Afdeling Telokbetong adalah Tanjungkarang, sementara Kota Telokbetong sebagai ibu kota Residentie Lampung. Semasa Jepang, kota Tanjungkarang-Telokbetong dijadikan shi (Kota). Lalu sejak era RI, Kota Tanjungkarang dan Kota Telokbetong menjadi bagian dari Kabupaten Lampung Selatan hingga diterbitkannnya UU No 22 tahun 1948 yang memisahkan kedua kota dari Kabupaten Lampung Selatan dan dibentuk Kota Tanjungkarang-Telukbetung. PP No 24 tahun 1983, nama Kotamadya Tanjungkarang-Telukbetung diubah menjadi Kotamadya Bandar Lampung (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah tata kota di Bandar Lampung, Tanjung Karang dan Teluk Betung? Seperti disebut di atas nama Bandar Lampung adalah nama baru, tetapi Teluk Betung dan Tanjung Karang sudah lebih awal eksis sebagai kota-kota. Bagaimana perkembangan Kawasan teluk Lampung diantara orang Banten dan penduduk asli Lampung? Lalu bagaimana sejarah tata kota di Bandar Lampung, Tanjung Karang dan Teluk Betung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Tata Kota Indonesia (33): Tata Kota Padang Sidempuan dan Sibolga di Tapanuli; Orang Cina di Angkola dan Charles Miller


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Ada pepatah lama: ‘ketika Medan masih sebuah kampong, Padang Sidempoean sudah menjadi kota’. Implikasinya, ketika kampong Medan mulai tumbuh menjadi kota, orang Padang Sidempoean banyak migrasi ke Medan. Yang menjadi kepala kampong pertama di kampong Kesawan adalah orang Padang Sidempoean. Kampong Kesawan dalam perkembangan kota, menjadi pusat kota Medan. Pada tahun 1880 Padang Sidempoean adalah kota terbesar kedua di Sumatra (setelah Padang—ibu kota provinsi). Padang Sidempoean menjadi ibu kota Residentie Tapanoeli (province Sumatra’s Wesykust) tahun 1885 tetapi direlokasi kembali ke Sibolga tahun 1905 (seiring pemisahan Residentie Tapanoeli dari province Sumatra’s Westkust).


Padang Sidempuan sebuah kota di provinsi Sumatra Utara, kota terbesar di wilayah Tapanuli, dikenal sebagai Kota Salak (lembah di lereng gunung Lubukraya, kawasan perkebunan salak. Nama kota berasal dari "Padang na dimpu", dalam Bahasa Batak Angkola; padang artinya hamparan atau kawasan luas, na artinya yang, dan dimpu artinya tinggi. Pada zaman dahulu daerah ini merupakan tempat persinggahan para pedagang dari berbagai wilayah, pedagang ikan dan garam dari Sibolga–Padangsidimpuan–Panyabungan, Padang Bolak. Seiring perkembangan zaman, tempat persinggahan ini semakin ramai dan kemudian menjadi kota. Kota ini dibangun pertama kali sebagai benteng pada tahun 1821 oleh pasukan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Lelo. Benteng ini membentang dari Batang Ayumi sampai Aek Sibontar. Sisa-sisa benteng peninggalan Perang Paderi saat ini masih ditemukan, walau sudah tidak terawat dengan baik. Salah satu pengaruh pasukan Paderi ini pada kota bentukan mereka ialah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk kota ini, yaitu agama Islam. Pada zaman penjajahan Belanda, kota Padangsidimpuan dijadikan pusat pemerintahan oleh penjajah Belanda di daerah Tapanuli. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah tata kota di Padang Sidempuan dan Sibolga di Tapanuli? Seperti disebut di atas, kota Padang Sidempoean berada di pedalaman di Tapanuli pernah menjadi kota terbesar kedua di Sumatra yang mana saat itu menggantikan Sibolga sebagai ibu kota residentie Tapanoeli. Namun sebelum itu di masa lampau ada kisah Orang Cina di Angkola dan ekepedisi Charles Miller ke Angkola. Lalu bagaimana sejarah tata kota di Padang Sidempuan dan Sibolga di Tapanuli? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 16 Juli 2023

Sejarah Tata Kota Indonesia (32): Tata Kota di Pekanbaru di Daerah Aliran Sungai Siak; Indragiri di Selatan dan Bengkalis di Utara


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Pada masa ini disebutkan kota Pekanbaru tengah mengubah konsep membangun kota: dari ‘taman dalam kota’ akan menjadi ‘kota dalam taman’. Kita tunggu saja. Yang tidak bisa ditunggu, namun sudah berlalu adalah bagaimana narasi sejarah awal kota Pekanbaru sendiri. Apakah itu mendesak? Sejarah kota adalah garis continuum kota dari masa lampau ke masa kini hingga ke masa depan. Konon, dulunya, di awal sejarah kota Pekanbaru sudah menggunakan konsep ‘kota dalam taman’. Bagaimana bisa?


Pekanbaru Menuju Kota Dalam Taman. Rabu, tempo.co. 28 April 2021. Kota Pekanbaru saat ini bersalin rupa menjadi Kota Metropolitan. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengatur perencanaan tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH) yang luas minimalnya sebesar 30 persen dari luas wilayah kota. Bagaimana dengan Kota Pekanbaru? Agar tak bernasib sama dengan kota-kota lainnya, Wali Kota Pekanbaru mengubah konsep pembangunan dari membangun ‘taman dalam kota’ menjadi membangun ‘kota dalam taman’. Pusat perkantoran baru di Kecamatan Tenayan Raya menjadi percontohan berbasis green city. Proyeksi 20 persen RTH di Kota Pekanbaru akan terwujud. Konsep pengelolaan kota yang mengedepankan lingkungan diadopsi dari Singapura dan Xiamen, Cina. Kawasan Perkantoran di Kecamatan Tenayan Raya akan menjadi kota baru. Dari tota lahan seluas 300 ha baru 117 ha yang digunakan untuk pembangunan 10 gedung. Modelnya sembilan gedung menjadi satelit atau mengelilingi gedung utama yang menjadi pusat pemerintahan. (https://nasional.tempo.co/)

Lantas bagaimana sejarah tata kota Pekanbaru di daerah aliran sungai Siak? Seperti disebut di atas, kota Pekanbaru tengah berbena dari ‘taman dalam kota’ akan menjadi ‘kota dalam taman’. Okelah, itu satu hal. Dalam hal ini bagaimana terbentuk kota Pekanbaru? Yang jelas di masa lampau Indragiri di wilayah selatan dan Bengkalis di wilayah utara. Lalu bagaimana sejarah tata kota Pekanbaru di daerah aliran sungai Siak? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Tata Kota Indonesia (31): Tata Kota Pangkal Pinang, Muntok, Tanjung Pandan; Riwayat Pulau Bangka dan Pulau Belitung


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Nama pinang banyak dijadikan nama kota. Ada Kota Pinang di pantai timur Sumatra (Tapanoeli), Pangkal Pinang di pulau Bangka dan Tanjung Pinang di pulau Bintan. Lalu apakah nama Pinang merujuk pada nama pohon/buah pinang? Itu satu hal. Hal lain yang lebih penting adalah bagaimana sejarah kota Pangkal Pinang di pantai timur pulau Bangka? Kota Pangkal Pinang terbentuk di pangkal (hulu) daerah aliran sungai Pangkal Pinang (gabungan sungai Padindang dan sungai Rangkawe). Sementara itu kota yang sudah tua ditemukan di pantai barat pulau (Muntok). Bagaimana dengan kota Tanjung Pandan? Suatu kota di pulau Belitung.


Kota Pangkalpinang adalah ibu kota Provinsi Bangka Belitung. Kota ini terletak di bagian timur Pulau Bangka. Secara administratif, kota Pangkalpinang ditetapkan sebagai ibukota provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tanggal 9 februari 2001. Secara etimologi, kata "Pangkalpinang" berasal dari dua kata yaitu Pangkal dan Pinang. Kata Pengkal dalam bahasa Melayu Bangka sebagai pusat atau awal mulanya. Sebagai pusat pengumpulan timah, kemudian berkembang. Sedangkan kata Pinang, berasal dari pohon Pinang. Dalam rangka untuk mengontrol kaya tambang timah deposit di Timur Bangka, kolonial Belanda memindahkan ibu kota Belitung Bangka dari Muntok ke Pangkalpinang pada tahun 1913. Kota Pangkalpinang berkembang dari status sebagai kota kecil pada tahun 1956 (UU Darurat No. 6 Tahun 1956) kemudian menjadi kotapraja, kotamadya, hingga menjadi kotamadya daerah tingkat II Pangkalpinang. Lahirnya Pangkalpinang dengan status Kota Kecil meliputi dua gemeente yaitu gemeente Pangkalpinang dan gemeentee Gabek. Sebagai pejabat Wali Kota yang pertama adalah R. Supardi Suwardjo (alm), Patih di Kantor Residen Bangka Belitung. Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1959 status kota kecil ditingkatkan menjadi Kotapraja pada tanggal 24 Juli 1958. Berdasarkan UU No. 18 Tahun 1965 status Kotapraja diubah menjadi Kotamdya. Dengan berlakunya UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, status Kotamadya menjadi Kotamadya daerah Tingkat II Pangkalpinang. (Wikipedia))

Lantas bagaimana sejarah tata kota di Pangkal Pinang, Muntok dan Tanjung Pandan? Seperti disebut di atas, kota yang sudah terbilang tua adalah kota Muntok di pulau Bangka. Bagaimana dengan riwayat pulau Bangka dan pulau Belitung? Ada kampong Pangkal Pinang pangkal sungai Pinang di pantai timur Bangka dan ada kampong Tanjung Pandan di tanjong sungai Tjeroepoet. Lalus bagaimana sejarah tata kota di Pangkal Pinang, Muntok dan Tanjung Pandan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 15 Juli 2023

Sejarah Tata Kota Indonesia (30): Tata Kota di Palangkaraya, Pangkalanbun dan Sampit; Daerah Aliran Sungai Kahayan Kalimantan


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Seberapa tua kota Palangka Raya? Tentu saja masih terbilang kota baru. Meski demikian, Palangka Raya dijadikan sebagai ibu kota provinsi Kalimanten Tengan, di jantung pulau Borneo. Nama-nama kota tua antara lain Pangkalanbun dan Sampit. Dalam perkembangan wilayah porovinsi Kalimantan Tengah ketiga kota tersebut dihubungkan dengan pembangunan jalan darat. Kota Pangkalanbun dapat dikatakan adalah suksesi kota kuno Kotawaringin.


Perkembangan fisik kota baru Palangka Raya. Suryanto. 2008. Tesis. MPKD. Abstrak. Kota Palangka Raya kota baru dibangun awal kemerdekaan Republik Indonesia. Cikal bakal Kota Palangka Raya sebuah kampung pada tepian sungai Kahayan. Kota Palangka Raya dibangun maksud Ibukota Negara Republik Indonesia, namun dalam perkembangannya tidak terjadi dan ditetapkan sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan perkembangan fisik Kota Palangka Raya sejak pendiriannya tahun 1957. Berdasarkan perkembangannya dari tahun 1957 sampai 2007, arah perembetan Kota Palangka Raya terjadi secara konsentris, linear dan meloncat, sehingga pola kota terbentuk memencar (dispersed), terpecah (fragmented) dan konsentris memanjang (concentric-lineair). Dengan demikian Kota Palangka Raya mengalami perkembangan selama kurun waktu 1957 sampai 2007. Perkembangan Kota Palangka Raya dipengaruhi oleh faktor-faktor: (1) keberadaan peraturan tata ruang, (2) kebijakan infrastruktur, (3) pembangunan fasilitas-fasilitas kota, (4) harga tanah dan (5) ketersediaan pelayanan angkutan kota. Dari faktor-faktor tersebut dapat dimaknai bahwa faktor politis dimana peranan kekuasaan dari pemerintah, berperan besar dalam arah dan pola perkembangan Kota Palangka Raya. (https://etd.repository.ugm.ac.id/)

Lantas bagaimana sejarah tata kota di Palangkaraya, Pangkalanbun dan Sampit? Seperti disebut di atas, kota Palangka Raya adalah kota baru, kota yang menjadi ibu kota provinsi Kalimantan Tengah. Kota yang lebih tua adalah kota Sampit dan Pangkalanbun (suksesi kota kuno Kotawaringin). Kota Palangka Raya di daerah aliran sungai Kahayan di Kalimantan. Lalu bagaimana sejarah tata kota di Palangkaraya, Pangkalanbun dan Sampit? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Tata Kota Indonesia (29): Tata Kota di Samarinda, Balikpapan dan Tanjungselor; Daerah Aliran Sungai Mahakam Kalimantan


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Banyak sungai terkenal di pulau Kalimantan. Tiga yang paling terkenal sejak masa lampau adalah Barito, Kapuas dan Mahakam. Sungai-sungai ini di wilayah muara bercabang, cabang paling banyak adalah muara sungai Mahakam. Kota Samarinda berada di daerah aliran sungai Mahakam. Tepatnya berada di belakang cabang-cabang sungai tersebut. Apa yang menarik dengan itu? Bagaimana dengan kota Balikpapan dan kota Tanjungselor?


Kota Samarinda: Penataan Ruang dan Simbol Perkotaan. Ilham. Penelitian Kolaboratif antara Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kaltim dan Departemen Ilmu Sejarah FIB Universitas Hasanuddin Tahun 2022. Transformasi perkotaan dalam penataan ruang mengalami fase menentukan seiring dengan pemberlakuan Undang-undang Desentralisasi awal abad ke-20. Jalan perkotaan dibangun seiring dengan dipindahkannya pusat pemerintahan dan administrasi kolonial dari Palaran ke pusat kota baru. Tatanan kota baru dipusatkan di antara Sungai Karang Mumus dan Sungai Karang Asam Besar. Pusat pemukiman lama di Samarinda Seberang juga tidak diperhatikan lagi dan sebuah kota baru yang identic dengan kekuasaan kolonial Belanda dibangun dan dikembangkan. Kota baru tersebut ingin menegaskan hanya ada satu pusat administrasi pemerintahan di Samarinda dan tidak ada riwayat kekuasaan sebelumnya yang mendasarinya. Berdasar peta wilayah Vierkante-Paal Samarinda tahun 1896, dasar kota baru dirancang di antara kedua sungai tersebut dengan berpatokan pada alur sungai hingga ke wilayah daratan. Tampak dalam peta ini satu jalur jalan tepat beberapa meter dari pinggir sungai yang di sisi jalan tersebut terdapat pelabuhan, markas tentara hingga kediaman Asisten Residen. (https://sejarah.unhas.ac.id/)

Lantas bagaimana sejarah tata kota ta di Samarinda, Balikpapan dan Tanjungselor? Seperti disebut di atas, kota Samarinda ibu kota provinsi Kalimantan Timur terbentuk di daerah aliran sungai Mahakam. Suatu sungai dengan cabang banyak di muara. Sementara Tanjung Selor kini ibu kota provinsi Kalimantan Utara. Sedangkan Balikpapan, kota besar yang terbilang kota tua. Lalu bagaimana sejarah tata kota di Samarinda, Balikpapan dan Tanjungselor? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 14 Juli 2023

Sejarah Tata Kota Indonesia (28): Tata Kota Palu, Mamuju dan Parepare; Wilayah Antara Makassar - Manado di Pantai Barat Sulawesi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Pada era Pemerintah Hindia Belanda, Poso di teluk Tomini dijadikan sebagai ibu kota (afdeeling) Midden Celebes, Residentie Manado. Pada era Republik Indonesia (daerah) Sulawesi Tengah dihapuskan pada tahun 1952 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-08-1952). Tamat Poso sebagai ibu kota afdeeling (daerah). Pada tahun 1964 provinsi Sulawesi dimekarkan dengan membentuk provinsi Sulawesi Tengah namun ibu kota provinsi Sulawesi Tengah tidak dipilih di Poso (ibu kota lama) tetapi ditentukan di Paloe (sebagai ibu kota baru).


Sejarah Kota Palu. 20-03-2018. Sulawesi Tengah. Palu adalah “Kota Baru” letaknya di muara sungai. Dr. Kruyt menguraikan Palu tempat baru dihuni orang (De Aste Toradja’s van Midden Celebes). Awal mula pembentukan kota dari penduduk Desa Bontolevo di Pegunungan Ulayo, setelah pergeseran penduduk ke dataran rendah. Kota Palu bermula dari kesatuan empat kampung: Besusu, Tanggabanggo, Panggovia, Boyantongo. Mereka membentuk satu Dewan Adat disebut Patanggota. Salah satu tugasnya adalah memilih raja dan para pembantunya yang erat hubungannya dengan kegiatan kerajaan. Kerajaan Palu lama-kelamaan menjadi salah satu kerajaan yang dikenal dan sangat berpengaruh. Itulah sebabnya Belanda mengadakan pendekatan terhadap Kerajaan Palu. Belanda pertama kali berkunjung ke Palu pada masa kepemimpinan Raja Maili (Mangge Risa) untuk mendapatkan perlindungan dari Manado di tahun 1868. Pada tahun 1888, Gubernur Belanda untuk Sulawesi bersama dengan bala tentara dan beberapa kapal tiba di Kerajaan Palu, mereka pun menyerang Kayumalue. Setelah peristiwa perang Kayumalue, Raja Maili terbunuh oleh pihak Belanda dan jenazahnya dibawa ke Palu. Setelah itu ia digantikan oleh Raja Jodjokodi, pada tanggal 1 Mei 1888 Raja Jodjokodi menandatangani perjanjian pendek kepada Pemerintah Hindia Belanda. (https://bpmpsulteng.kemdikbud.go.id/)

Lantas bagaimana sejarah tata kota di Palu, Mamuju dan Parepare? Seperti disebut di atas, Palu adalah kotaa baru, bahkan jauh lebih muda dibandingkan dengan Mamuju dan Parepare. Suatu wilayah diantara Makassar dan Manado pantai barat Sulawesi. Lalu bagaimana sejarah tata kota di Palu, Mamuju dan Parepare? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Tata Kota Indonesia (27): Tata Kota Kendari, Baubau, Kolaka; Wilayah Antara Makassar-Manado Pantai Tenggara Sulawesi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Kota Kendari tidak setua Makassar dan Buton. Pada masa ini disebut hari jadi kota Kendari bermula tahun 1831. Buton yang kini dikenal sebagai Kota Bau-Bau. Sementara sejarah awal peradaban bukan di (pulau) Buton, tetapi di (pulau Muna). Dalam sejarah Kota Kendari disebut bahwa penemu, penulis dan pembuat peta pertama tentang Kendari adalah Vosmaer tahun 1831. Pada tanggal 9 Mei 1831 Vosmaer membangun istana raja Tolaki bernama Tebau di sekitar pelabuhan Kendari. Tanggal inilah yang kini dijadikan sebagai hari jadi Kota Kendari. Lantas bagaimana sejarah Baubau dan Kolaka.


Sejarah Titik Nol Kilometer dan Kawasan Kota Lama Kendari, Endry Tekaka: Titik Nol Kilometer Berfungsi Mengukur Jarak dari Kota Kendari dan Daerah Sekitarnya. Rabu, 5 Juli 2023. Fajar.co.id. Kendari. Banyak warga Kota Kendari, yang mungkin tidak lagi mengetahui sejarah titik nol kilometer dan kawasan Kota Lama Kendari. “Berdasarkan sejarah, titik nol kilometer Kendari dibangun pada masa pemerintahan Raja Saosao, yang dibangun di sebuah kawasan yang saat itu dikenal dengan sebutan Kendari Van Laiwoi atau Kawasan Kota Lama Kendari saat ini”. Lanjutnya, bahwa titik nol kilometer ini dibangun di kawasan pemerintahan kolonial pada tahun 1867, dan didalam kawasan itu juga dibangun beberapa bangunan-bangunan penting sebagai pusat kerajaan dan pemerintahan kolonial. “Adapun yang dibangun saat itu, yakni Gedung Agung adalah Istana Raja Kendari sebagai tempat tinggal Raja dan juga merupakan tempat menjalankan pemerintahan”. Sambungnya, didalam kawasan itu, terdiri dari masyarakat lokal maupun pendatang serta juga dihuni oleh pedagang-pedagang China dan Arab. “Di masa itu, pemerintah kolonial ikut serta membangun pemukiman masyarakat, gedung pemerintah seperti kantor pemerintahan antara lain Loji, Pelabuhan, Kantor Pengawas atau Duane yang digunakan untuk mengawasi lalu lintas di sepanjang Teluk Kendari”. (https://sultra.fajar.co.id/)

Lantas bagaimana sejarah tata kota di Kendari di Baubau di Kolaka? Seperti disebut di atas, kota Kendari di pantai timur Semenanjung Tenggara belum setua Buton di pulau. Bagaimana dengan kota Kolaka di pantai barat Semenanjung Tenggara. Suatu wilayah antara Makassar dan Manado Pantai Tenggara Sulawesi. Lalu bagaimana sejarah tata kota di Kendari di Baubau di Kolaka? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.