Sejarah Kota Depok (42): Setu Babakan di Srengseng Dibangun 1830; Kini Menjadi Pusat Perkampungan Budaya Betawi

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Setu Babakan berada di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Setu ini kini dijadikan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pusat perkampungan budaya Betawi. Dalam artikel ini, kita tidak sedang menelusuri sejarah terbentuknya Setu Babakan sebagai pusat perkampungan budaya Betawi (itu akan menjadi artikel Sejarah Jakarta), tetapi ingin menelusuri sejarah terbentuknya setu itu sendiri. Pembentukan setu di Srengseng yang kini disebut Setu Babakan dalam hal ini juga menjadi bagian dari Sejarah Depok.

Peta Lenteng Agoeng, 1900
Sejauh ini, bagaimana setu Babakan bermula tidak pernah ditulis. Padahal setu Babakan adalah setu (danau) buatan. Boleh jadi pada saat ini setu besar yang berada di Srengseng tidak terlihat lagi penampakan sebagai setu buatan karena umurnya memang sudah tua. Untuk menambah pengetahuan kita, mari kita telusuri.

Cornelis Chastelein

Ada tiga lahan (land) yang terbilang paling awal di sisi barat sungai Tjiliwong yang diperuntukkan (diserahkan) pada era VOC untuk pengembangan pertanian sebagai lahan kelas satu, yaitu: di Sringsing (Srengseng), Tjinirie (Tjinere) dan Tjitajam. Tiga area ini dianggap paling subur (vegetasi baik dan memiliki sumber air). Land Srengseng menjadi milik Cornelis Chastelein (pejabat sipil VOC) sedangkan Land Tjinere dan Land Tjitajam menjadi milik St. Martin (komandan militer VOC).

Sejarah Kota Depok (41): Pecatur Terkenal Kelahiran Depok; FKN Harahap Kalahkan Juara Dunia Dr. Max Euwe dari Belanda

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Frits, anak seorang pendeta yang lulus Sekolah Tinggi Teologi di Belanda. Frits sejak kanak-kanak sudah sangat menyukai permainan catur. Ketika Frits berada di Belanda sempat bertanding dan mengalahkan Max Euwe (Juara Catur Belanda yang kemudian menjadi Juara Catur Dunia). Frits juga seorang aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda yang memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Frits lebih terkenal sebagai pecatur dan penulis catur daripada seorang pendeta dan pengkhotbah.

Memang tidak ada salahnya seorang pecatur menjadi pendeta, atau sebaliknya tidak dilarang seorang pendeta menggemari permainan catur. Namun kombinasi dua profesi ini sangat jarang terjadi. Tidak hanya itu, Frits juga adalah seorang penulis, dosen sejarah di Akademi Wartawan. Frits juga seorang pengusaha. Lantas mengapa bisa demikian? Itulah pertanyaan? Dan siapakah sesungguhnya Frits? Mari kita telusuri.

Frits, Anak Depok

Frits yang memiliki nama lengkap Frits Kilian Nicolas lahir di Depok tanggal 5 Maret 1917. Ayahnya adalah seorang pendeta di Depok. Ayahnya pada tahun 1915 mempublikasikan buku Kamus Logat Melayu (Bataviaasch nieuwsblad, 26-01-1915). Keluarga mereka di Depok tampaknya cukup berada. Pada tahun 1923 ayahnya memasang iklan di surat kabar dua rumah untuk disewakan (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-01-1923). Ibunya juga seorang aktivis sosial di Depok yang bergerak di bidang kegiatan gadis-gadis (Bataviaasch nieuwsblad, 01-05-1934). Gadis-gadis diajarkan disiplin dan kebersihan, mereka juga mendapatkan pelajaran dalam membuat kerajinan.

Sejarah Kota Depok (40): Ultah Blog Poestaha Depok 17 Agustus; 600 Artikel Sudah Diupload

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Blog Poestaha Depok launching pada tanggal 17 Agustus 2012. Ini berarti blog ini sudah berlangsung selama lima tahun. Jumlah artikel yang sudah diupload sebanyak 217 artikel.  Artikel pertama tanggal 17 Agustus 2012 berjudul ‘Sejarah Tata Ruang Kota Depok: Menyambung Mata Rantai Yang Terputus Antara Depok Masa Kini dan Depok Tempo ‘Doeloe’. Sedangkan artikel terakhir berjudul ‘Sejarah Kota Depok (39): Perayaan HUT RI Pertama, 17 Agustus 1950; Kapan Kali Pertama Peringatan HUT RI di Depok?’ Blog Poestaha Depok sesungguhnya blog kembar. Kembarannya adalah blog Tapanuli Selatan dalam Angka.

Blog Tapanuli Selatan dalam Angka launching pada tanggal 15 Januari 2011 dengan artikel pertama berjudul Meneliti Itu Mudah. Blog ini awalnya membatasi diri untuk seputar Sumatera Utara. Namun karena dirasakan sejarah Padang Sidempuan di Sumatera Utara tidak berdiri sendiri, maka untuk menampung sejarah yang lebih luas (nasional) dianggap keberadaan blog Poestaha Depok dijadikan sebagai blog paralel (kembar). Kebetulan, bukankah pustaka terbesar di Indonesia terdapat di Depok, tepatnya di Universitas Indonesia?

Untuk saat ini di blog Poestaha Depok baru terbatas Sejarah Bandung (37 artikel); Sejarah Bogor (23), Sejarah Jakarta (16), Sejarah Kota Padang (39) dan Sejarah Kota Depok (39 artikel). Sementara itu di blog Tapanuli Selatan dalam Angka sudah diupload Sejarah Padang Sidempuan (20 artikel) dan Sejarah Kota Meda (54 artikel). Ke depan akan menyusul Sejarah Semarang, Sejarah Surabaya, Sejarah Makassar dan Sejarah Kuala Lumpur atau Singapoera. Dengan demikian, berdasarkan framework yang sekarang, pada nantinya akan dimungkinkan terpetakan Sejarah (kota-kota) Indonesia, termasuk Depok dan Padang Sidempuan (dua kota yang sejak awal menjadi perhatian di era Belanda)

Sejarah Kota Depok (39): Perayaan HUT RI Pertama, 17 Agustus 1950; Kapan Kali Pertama Peringatan HUT RI di Depok?

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Sesungguhnya, perayaan (peringatan) Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. baru kali pertama dilakukan tahun 1950 (pasca Pengakuan Kedaulatan RI oleh Belanda). Pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) yang kelima tersebut dipusatkan di Istana Merdeka yang dihadiri tiga puluh ribu orang (Het vrije volk: democratisch-socialistisch dagblad, 17-08-1950). Dalam upacara HUT RI tanggal 17 Agustus 1950 yang dimulai pukul 10.00 pagi, Presiden Soekarno berpidato.

Kapal perang Belanda di Irian Barat, 1950
Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia juga dilakukan di berbagai kota seperti di Medan. Upacara peringatan Kemerdekaan RI yang kelima di Medan dilangsungkan di Lapangan Merdeka yang dihadiri 55 ribu orang.  Pada saat Presiden  Soekarno berpidato di Istana Merdeka para hadirin mendengarkan secara langsung melalui radio. Setelah pidato presiden, tiga tokoh berpidato, GB Josua Batubara (Ketua Front Nasional Medan, ketua panitia), Kol. Maludin Simbolon dan Gubernur Rekso (Het nieuwsblad voor Sumatra, 18-08-1950).

Isi pokok pidato Presiden Soekarno pada Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1950 adalah bahwa Indonesia terus berjuang untuk membebaskan (mengebalikan) Irian Barat dari Belanda (Leeuwarder courant: hoofdblad van Friesland, 17-08-1950). Soal ini ditekankan Soekarno karena di dalam hasil kesepakatan KMB disebutkan bahwa masalah Irian Barat akan diselesaikan dalam satu tahun setelah Pengakuan Kedaulatan Indonesia.

Sejarah Kota Depok (38): Raimuna Nasional dan SEJARAH PRAMUKA INDONESIA SEBENARNYA; Dari Padang Sidempuan ke Cibubur Depok

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Pada hari ini, tanggal 14 Agustus 2017 adalah Hari Pramuka. Pada pagi hari ini juga akan digelar pembukaan Raimuna Nasional XI yang diadakan di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur yang akan dibuka Presiden RI, Joko Widodo. Satu hal yang menarik, Kontingen Kota Depok akan memimpin pembukaan Raimuna Nasional. Yang lebih menarik lagi, dari Kontingen Kota Depok yang memimpin upacara pembukaan, Anna Balqish adalah warga Kecamatan Tapos, kecamatan yang langsung bersentuhan dengan Kecamatan Ciracas. Ini berarti rumah dari pemimpin upacara, Anna Balqish tidak jauh dari tempat upacara pembukaan Raimuna Nasional XI/2017 diselenggarakan.

Ketua (topi) dan Sekretaris DKC TS (1982)
Saya teringat ke masa lampau, Raimuna Nasional tahun 1982 yang diselenggarakan di tempat yang sama dengan yang sekarang, saya memimpin regu putra Kontingen Tapanuli Selatan, kontingen terjauh dari Kontingen Provinsi Sumatera Utara. Saya kini tinggal di Kota Depok, sebagai pengajar di Universitas Indonesia. Anak-anak saya bersekolah di tempat dimana Anna Balqish sebagai siswa SMA Negeri 1 Kota Depok (dua alumni dan dua masih aktif sebagai siswa). Ini berarti kisah saya ini sudah terjadi 35 tahun yang lalu pada saat Raimuna IV., saat kali pertama Raimuna dilakukan di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur (kala itu masih banyak pohon-pohon karet di sekitar perkemahan).

Selain itu saya akan kontribusi sedikit tentang sejarah kepanduan/pramuka di Indonesia. Sejarah pramuka, sejatinya, memiliki sejarah yang panjang, bahkan jauh sebelum tahun 1961. Garis patah sejarah pramuka Indonesia bermula ketika tahun 1961 Presiden RI, Soekarno coba mengubah ‘mindset’ pramuka Indonesia dengan ‘mindset’ yang baru sebagaimana terus diikuti hingga ini hari. Lantas kapan pramuka di Indonesia dimulai sebelum Soekarno mengubahnya? Ini pertanyaannya. Mari kita telusuri sejarah pramuka sejak era Hindia Belanda.

Sejarah Kota Depok (37): Seputar Pengakuan Kedaulatan RI di Depok; Abdul Haris Nasution dan Ibrahim Adji

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Belanda tidak mengakui Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Belanda hanya mengakuinya pada tanggal 27 Desember 1949. Mengapa bisa begitu? Belanda menganggap tidak merasa memberikan kemerdekaan bagi Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Karena saat itu Indonesia ‘merebut’ kemerdekaan dari Jepang. Jika Belanda baru mengakui kemerdekaan Indonesia tanggal 27 Desember 1945, sesungguhnya Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Namun Belanda sendiri tidak mengakuinya, padahal negara-negara lain sudah mengakuinya sejak 17 Agustus 1945. Jadi, urusan Indonesia sudah selesai, bahwa Belanda tidak mengakuinya, itu urusan Belanda sendiri.

Afdeeling Padang Sidempoean, Residentie Tapanoeli
Dalam hal ini, pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949 adalah penanda waktu dimana Belanda harus keluar dari Indonesia. Sebagaimana diketahui, pada bulan Oktober 1945 Belanda menyusup ke Indonesia di belakang pasukan sekutu Inggris, padahal pasukan sekutu Inggris adalah satu-satunya negara sekutu yang mendapat mandat untuk memasuki Indonesia dalam rangka membebaskan tawanan Belanda dan melucuti tentara Jepang. Selesai tugas itu pasukan sekutu Inggris keluar dari Indonesia. Namun dalam perjalanan waktu yang begitu cepat, tiba-tiba pasukan Belanda menjadi 'penumpang gelap' dari pasukan sekutu Inggris. Akan tetapi, pasukan sekutu Inggris malah membiarkan kendali diambil alih oleh pasukan Belanda. Dalam hal ini pasukan sekutu Inggris sesungguhnya pasukan tidak bertanggungjawab. Dengan demikian: Belanda dan Inggris melakukan perbuatan curang di Indonesia, negara yang telah memproklamasikan kemerdekaan.

Apa yang terjadi di Depok dan sekitar pada seputar tanggal 27 Desember 1949 yang disebut tanggal pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda? Pertanyaan itu tentu perlu ditelusuri karena selama ini kurang terinformasikan. Lantas apa menariknya? Itu pertanyaannya. Mari kita telusuri.

Sejarah Kota Depok (36): Seputar Perang Kemerdekaan di Indonesia (1945-1949); Perang Kemerdekaan Bermula di Depok?

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Peristiwa berdarah di Depok pada tanggal 11 Oktober 1945 boleh dikatakan bersisi dua. Di satu sisi kerusuhan yang terjadi di Depok dapat disebut perang saudara, Dari sudut pandang nasional dapat dikatakan sebagai revolusi sosial, sementara dari sudut pandang warga Depok (Depokker) sendiri sebagai penyerangan yang dilakukan kelompok tertentu (rampokker). Dari sisi lain, kerusuhan di Depok dapat dianggap sebagai bagian dari (permulaan) perang kemerdekaan. Permulaan perang kemerdekaan ditandai dengan kedatangan pasukan sekutu Inggris yang memasuki wilayah Indonesia untuk alasan membebaskan tawanan Belanda dan melucuti (senjata, seragam dan atribut) tentara Jepang.

Anak-anak di Depok, 1939
Pada tanggal 8 September 1945 utusan sekutu yang dipimpin Inggris datang ke Djakarta. Utusan ini datang setelah sebelumnya Soekarno menemui pimpinan sekutu di Singapoera (De patriot, 18-10-1945). Kemudian tanggal 29 September 1945 pasukan sekutu Inggris telah merapat di pelabuhan Tandjong Priok. Pasukan sekutu Inggris berikutnya memasuki wilayah Indonesia mendarat di Padang pada tanggal 13 Oktober 1945 pasukan sekutu Inggris mendarat di Padang dan Medan.

Awalnya pasukan sekutu untuk mengamankan tawanan perang yang selama ini dikurung oleh militer Jepang. Namun di tengah jalan Belanda (NICA) ikut di belakang memunculkan reaksi keras dari Indonesia. Kehadiran sekutu (Inggris) menjadi hambar apalagi NICA telah mengkonsolidasikan eks KNIL.

Sejarah Kota Depok (35): Seputar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia; Revolusi Sosial di Depok, 11 Oktober 1945

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi ini ditandai dengan pembacaan teks Proklamasi oleh Soekarno di Djakarta. Proklamasi ini juga menandai kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah. Kemerdekaan penduduk asli yang dirampas oleh VOC, penduduk yang terjajah terus dipertahankan oleh Pemerintah Hindia Belanda yang menyusul kemudian. Secara khusus total, kolonisasi di Depok telah berlangsung 240 tahun (1705-1945).

Depokker, Warga Depok (1939)
Penjajahan secara defacto dimulai tahun 1619 ketika VOC (Belanda) memulai koloni di hilir sungai Tjiliwong dengan mendirikan benteng yang kemudian disebut Casteel Batavia. Koloni yang bermula di benteng tersebut meluas dengan dimulainya Kota Batavia (Stad Batavia) tahun 1626. Dari ibukota koloni ini kolonialisme dimulai memperluas wilayah koloni (jajahan) ke seluruh wilayah nusantara, termasuk di Depok di hulu sungai Tjiliwong. Cornelis Chastelein secara dejure memulainya di Depok tahun 1705 yang kemudian tahun 1714 Land Depok diserahkan (diwariskan) kepada para tenaga kerjanya yang turunannya kelak disebut Depokker (warga Depok) yang dibedakan dengan orang Depok, penduduk asli.

Pasca proklamasi kemerdekaan, situasi dan kondisi di Depok dan sekitar tidak terinformaasikan. Pada tanggal 8 Maret 1942 pemerintahan Belanda di Indonesia benar-benar takluk tanpa syarat kepada militer Jepang. Sejak berakhirnya era kolonial Belanda awal tahun 1942, situasi dan kondisi di Depok dan sekitar pada era pendudukan Jepang benar-benar gelap gulita. Hanya beberapa hal yang terpublikasikan ke publik. Hanya beberapa helai informasi yang berserakan yang berhasil dikumpulkan.

Sejarah Kota Depok (34): Seputar Berakhirnya Era Kolonial Belanda; Situasi dan Kondisi di Tanah-Tanah Partikelir di Onderdistrict Depok

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Sebagaimana di seluruh Hindia Belanda, sejak berabad-abad kolonial Belanda berlangsung, juga di Depok tidak menduga secepat ini harus berakhir dan digantikan oleh pendudukan Jepang. Bagaimana situasi dan kondisi di Depok jelang berakhirnya era kolonial Belanda mungkin menarik untuk ditelusuri. Kita telah menelusuri bagaimana Belanda mengawali kolonial di Depok, kini giliran kita untuk melihat bagaimana kolonial berakhir di Depok. Ibarat lirik sebuah lagu ‘Kau yang memulai, Kau yang mengakhiri’.

Hilang lonceng Depok buatan 1675 (ft 1930)
Munculnya landerien dan adanya Land Depok berawal dari defisit finansial VOC, lalu dewan VOC mulai menjual lahan kepada pihak lain (swasta) yang dikenal dengan munculnya Tanah Partikelir. Yang terbilang awal dalam hal ini Land Depok, yang dibeli oleh Cornelis Chastelein tahun 1705 yang kemudian satu dekade berikutnya properti diserahkan (diwariskan) kepada penyewa (budak) yang lebih dahulu telah menjadi Kristen yang kelak disebut Gemeente Depok. Satu lagi land yang menarik ketika VOC jual lahan lagi yang dikenal sebagai Land Campong Baroe yang dibeli van Imhoff yang kemudian diatasnya didirikan villa peristirahatan yang kelak menjadi cikal bakal munculnya Istana Buitenzorg.

Semua permulaan itu ternyata kemudian ada batasnya. Pendudukan Jepang adalah batas akhir kolonialisme Belanda sejak era VOC. Namun bagaimana situasi jelang berakhirnya kolonial Belanda di Depok sebelum pendudukan Jepang tidak pernah dilukiskan. Apa menariknya? Itu yang menjadi pertanyaan. Mari kita telusuri.

Sejarah Kota Depok (33): Dokter RJ Loen di Depok, Alumni Docter Djawa School; Dokter-Dokter van Padang Sidempuan

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Pada era Pemerintahan Hindia Belanda hanya sedikit siswa sekolah pribumi yang menjad dokter. Selain masuknya sulit (bersaing ketat) juga untuk lulus tidak mudah (banyak yang DO). Jumlah siswa tiap tahunnya yang diterima sangat terbatas (8-12 siswa). Namun demikian, seorang siswa dari Depok mampu berada diantaranya. Siswa tersebut berasal dari keluarga Loen di Onderdistrict Depok, Afdeeling Buitenzorg, Residentie Buitenzorg, Province West Java..

Gedung Dokter-Djawa Svhool di Weltevreden, Batavia, 1902
Dokter Djawa School didirikan tahun 1851 (Universitas Indonesia merujuk pada tahun ini sebagai tahun kelahirannya). Sekolah Tinggi kedokteran ini berlokasi di rumah sakit militer di Weltevreden (kini RSPAD). Pada tahun 1902 Dokter Djawa School berganti nama menjadi STOVIA. Hal ini sehubungan dengan program kedokteran pada tahun 1902 mengikuti program sembilan tahun (sebelumnya tujuh tahun).

Dokter RJ Loen

Pada tahun 1902 sejumlah siswa di Dokter Djawa School, kelas persiapan naik ke kelas 3 diantaranya Andreas Loen van Depok, Si Mohamad van Padang Sidempoean dan Si Isa van Padang Sidempoean (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 29-11-1902). Empat diantara mereka mengulang dan dua orang dikembalikan ke kampung halaman masing-masing (belum ada istilah DO=drop out). Last but not least: satu siswa yang lulus dari sekelas Loen adalah Radjamin dari Padang.

Sejarah Kota Depok (32): Daftar Kecelakaan Kereta Api Jakarta-Bogor; Tabrakan Maut di Depok 1968 dan 1993

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Kereta api jalur Batavia-Buitenzorg via Depok mulai dioperasikan pada tahun 1873. Halte kereta api di jalur tersebut berada di Pasar Minggoe, Lenteng Agoeng, Pondok Tjina, Depok (lama), Tjitajam, Bodjong Gede dan Tjiliboet. Dalam perjalanan waktu, di jalur kereta api terpadat di luar Batavia itu muncul peristiwa kecelakaan yang tidak diinginkan akibat tabrakan: dua kereta api berlawanan arah beradu kepala.

Kereta api di stasion Buitenzorg, 1927
Tabrakan maut terjadi pada tahun 1968 dan tahun 1993. Dua peristiwa kecelakaan tabrakan kereta api ini mengakibatkak banyak korban meninggal.

Tabrakan Pertama, 1904

Pada tahun 1904 terjadi kecelakan di jalur kereta api Batavia-Buitenzorg di stasion Bodjong Gede. Persoalannya sepele tetapi dampaknya serius, yakni soal pengaturan berhenti. Akibat kelalaian masinis terjadi kecelakaan tabrakan kereta di stasion (Bataviaasch nieuwsblad, 15-01-1904). Dalam berita ini tidak disebutkan apakah ada korban.

Sejarah Kota Depok (31): Sejarah Sepak Bola di Depok; Awalnya Dikekang Misionaris, Tapi Sepak Bola Jalan Terus

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Apakah ada sejarah sepak bola di Depok? Tentu saja ada. Sejarah sepak bola di Depok sesungguhnya tidak hanya sejak lahirnya klub Persikad Depok, bahkan jauh sebelumnya. Sejarah sepak bola di Kota Depok di masa lampau bahkan sejajar dengan sejarah sepak bola di kota-kota besar yang sekarang, seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang dan Bandung. Mengapa dikatakan begitu? Mari kita lacak.

Bataviaasch nieuwsblad, edisi 15-09-1928
Persikad adalah singkatan dari Persatuan Sepak Bola Kota Administrasi Depok. Persikad berarti itu nama yang identik lama, karena Depok kini (sejak 1999) sudah menjadi Kota (kota administratif menjadi Kota). Jadi: Persikad harus dibaca Persatuan Sepak Bola Kota Depok. Kota Administratif Depok kala itu baru terdiri dari tiga kecamatan: Pancoran Mas, Beji dan Sukmajaya. Sekarang sudah 11 kecamatan:  Beji, Pancoran Mas, Cipayung, Sukmajaya, Cilodong, Limo, Cinere, Cimanggis, Tapos, Sawangan dan Bojongsari. Jadi sejarah sepak bola di Kota Depok dalam hal ini merujuk pada 11 kecamatan ini di masa lampau

Awal Sepak Bola di Depok

Pada tahun 1924 di Depok diselenggarakan pertandingan sepak bola segitiga: Weltevreden (Gambir), Meester Cornells (Jatinegara) en Buitenzorg (Bataviaasch nieuwsblad, 09-09-1924). Depok yang dalam hal ini mewakili Buitenzorg, klub D-pok adalah klub yang didirikan oleh Gymnastiek, Muziek en Voetbal vereeniglng Qymmuvoet di Depok. Dalam pertandingan, Depok (D-pok) kalah 0-3 melawan Militairen (Werltevreden). Depokkers dalam menanggapi kekalahan timnya kecewa. Berita ini dengan sendirinya menunjukkan di Depok sepak bola sudah eksis.

Sejarah Kota Depok (30): Sejarah Cibubur dan Tanjung Timur; ECC Ament, Anak Pemilik Land Tandjong Oost di Landhuis Tjiboeboer

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Pada tanggal 2 Oktober tahun 1847 Pemerintah Hindia Belanda telah mengeksekusi Land Tjiboeboer. Siapa pemilik lahan sebelumnya tidak diketahui. Lahan ini terdiri dari lahan padi sawah yang luas, kerbau, kuda, perabot rumah, dan sejumlah properti lainnya (Javasche courant, 25-09-1847). Seperti biasanya, setelah suatu lahan dieksekusi tidak lama kemudian lahan beserta properti di dalamnya akan disewakan (semacam konsesi) kepada publik.

Javasche courant, 25-09-1847
Dalam sebuah iklan tahun 1870, Land Tandjong Oost dan Land Tjiboeboer akan disewakan kepada publik. Yang berminat dapat menghubungi HM Ament, Administrateur di Fekajong (Pekayon). Batavia 8 April 1870 (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 08-04-1870).

Setelah pemerintah menyewakan lahan yang telah dieksekusi, Land Tjiboeboer tampaknya telah diambilalih (sewa beli) oleh HM Ament, seorang tuan tanah (Landheer) Land Tandjong Oost (Pasar Rebo). Tidak diketahui kapan HM Ament mengakuisisi Land Tjiboeboer hingga keberadaan Land Tjiboeboer akan disewakan kepada publik oleh HM Ament tahun 1870.

Sejarah Kota Depok (29): Islam, Kristen, Pagan Sama Penting Bagi Pemerintah Hindia Belanda; Gemeente Depok Pernah Mangkir

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Dalam banyak hal, Pemerintah Hindia Belanda tidak terlalu mengistimewakan warga Land Depok dibandingkan penduduk land lainnya. Pemerintah menganggap Islam, Kristen dan pagan dipandang sama, yang membedakan adalah siapa yang bersedia berpartisipasi dalam pembangunan dalam wujud kerjasama untuk membangun jalan; jembatan dan mengembangkan lahan-lahan pertanian. Itulah inti politik kolonial: memaksimumkan keuntungan.

Papan nama Gemeente Bestuur Depok
Bagi Pemerintah Hindia Belanda melihat tidak ada yang istimewa di Land Depok, yang ada adalah popularitas Land Depok karena warga terus melestarikan wasiat Cornelis Chastelein sejak era VOC. Meski popularitas Land Depok terus meningkat, karena jemaat Kristen (gemeente) Land Depok telah menjadi pusat zending (1871), pemerintah tidak bergeming. Dalam perbedaan sudut pandang antara pemerintah dam gereja, sejumlah warga di Gemeente Depok justru mulai coba mengkapitalisasi popularitas.

Pemerintah Hindia Belanda menganggap warga Gemeente Depok hanyalah sebagai penyewa lahan (pemerintah). Namun warga Gemeente Depok tetap menganggap lahan Land Depok adalah warisan Cornelis Chastelein sejak 1714. Ketika muncul peraturan perpajakan yang baru tahun 1933 (Staatsblad No. 352), pemerintah bertindak tegas terhadap warga yang tidak memenuhi kewajiban untuk membayar pajak. Tidak diketahui apa yang melatarbelakangi motif ‘setangah membangkang’ ini.

Sejarah Kota Depok (28): Dodol Depok Terkenal Sejak 1908; Setengah Abad Mendahului Dodol ‘Picnic’ Garut

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Pada tahun 1908 muncul sebuah iklan di surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, edisi 21-08-1908 tentang dodol terkenal Dodol Depok (de bekende Dodol Depok). Iklan ini pada intinya menginformasikan dodol tersebut dapat dibeli di stasion Depok dan juga stasion Weltevreden (Gambir), stasion Bandoeng dan stasion Padalarang. Dodol Depok ini adalah produksi Ny. Laurens.

Het nieuws van den dag voor NI, edisi 21-08-1908
Dodol sebagai penganan sudah dikenal sejak lama. Bahkan Firma J. Hoefftcke & Co di Leiden memasang iklan menjual Sambalai Kerri, Atjars, Dodol, Watjiek, enz (Apeldoornsche courant, 26-04-1898). Lalu muncul berita yang mulai fokus agar pabrik mengolah dan mengemas penganan asli seperti wadjik, dodol, dan lainnya karena kini banyak permintaan dari Belanda (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 04-01-1899). Jenis-jenis dodol juga bermacam-macam seperti sebuah iklan Toko Betawie di Batavia yang juga menjual dodol doerian, dodol manggies, dodol zuurzak (Haagsche courant, 19-07-1902). Dodol sebagai penganan asli sudah dilaporkan adanya pada tahun 1880 (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-06-1880).

Dodol dari Depok yang sudah beredar luas tentu saja sudah diproduksi jauh sebelum iklan tahun 1908. Dodol Depok tidak hanya sekadar penganan asli yang sudah diiklankan, juga menjadi nama yang kerap diperbicangkan di masyarakat (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-10-1911).

Sejarah Kota Depok (27): Bioskop Tertua di Depok, Inisiatif LE Loen (1934); Awalnya Gemeente Bestuur Malu-Malu Kucing

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Gagasan awal pendirian bioskop di Depok adalah inisiatif  LE. Loen. Ini terjadi tahun 1934. Namun keinginan mendirikan bioskop ditolak dewan Gemeente Depok. Para anggota dewan berdalih, keberatan karena sedang kesulitan. Akan tetapi sebagian besar warga berkeinginan adanya bioskop. Melihat animo masyarakat atas inisiatif ini, Loen membawa lebih 100 tanda tangan warga kepada Bestuur Gemeente Depok (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-06-1934).

Het nieuws van den dag voor NI, 18-06-1934
Bioskop pada waktu itu baru ada di Batavia dan Buitenzorg. Di Batavia bahkan sudah sejak 1900 bioskop diperkenalkan dan jumlahnya sudah ada beberapa. Sementara di Buitenzorg sudah terdapat dua buah.

Deadlock antara warga yang diwakili LE Loen dengan Dewan Gemeente Depok akhirnya Asisten Residen Buitenzorg turun tangan untuk menengahi. Hal ini petisi pendirian bioskop sudah berjumlah 120 orang. Namun tetap gagal. Dalam konferensi yang kedua yang diprakarsai Asisten Residen, dalam keputusan akhir, disepakati pendirian bioskop dapat dilanjutkan dengan ketentuan Gemeente Bestuur mendapat lima persen hasil penjualan tiket (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 16-07-1934).