Minggu, 05 Juli 2026

Sejarah Casajangan (8): Oost en West dan Gerakan Indie Weerbaar; Dewan Volksraad dan Technisch Hooegeschool te Bandoeng


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Apakah cara berpikir Soetan Casajangan bersifat intuitif? Soetan Casajangan ingin studi ke Belanda tetapi tidak bisa berbahasa Belanda. Soetan Casajangan belajar bahasa Belanda dan pada bulan Juni 1904 berangkat studi ke Belanda. Jumlah mahasiswa baru 15 orang di Belanda, Soetan Casajangan mendirikan organisasi mahasiswa Indische Vereeniging pada bulan Oktober 1908. Banyak pelajar pintar pribumi ingin studi ke Belanda tetapi tidak mampu, Soetan Casajangan menggagas Studiefonds. Segera setelah perang di Eropa meletus, Soetan Casajangan menggagas cara terbaik untuk mempertahankan negara Indonesia dari musuh asing. Soetan Casajangan lebih suka bermain catur daripada bermain sepak bola. Sejarah Mahasiswa di Indonesia


Indie Weerbaar (Pertahanan Hindia) adalah sebuah gerakan dan komite yang dibentuk pada tahun 1916 di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) untuk mengadvokasi pembentukan milisi sipil bumi putera demi memperkuat pertahanan militer koloni menghadapi Perang Dunia I. Gerakan ini memicu perdebatan sengit di kalangan tokoh pergerakan nasional serta mengubah arah perjuangan politik di Indonesia. Pengusaha dan tokoh pertahanan seperti KAR Bosscha mendirikan Comite Indie Weerbaar pada tahun 1916 untuk mendesak pembentukan milisi lokal yang melibatkan warga pribumi. Gagasan mengenai wajib militer bagi warga pribumi ini memecah opini organisasi pergerakan nasional di Indonesia. Organisasi seperti Budi Utomo dan sebagian tokoh Sarekat Islam (SI) mendukung gagasan ini. Mereka bersedia membantu pertahanan Belanda, namun dengan syarat (barter politik) agar pemerintah Belanda memberikan hak politik dan membentuk parlemen bagi rakyat Hindia Belanda. Pada awal tahun 1917, Comite Indie Weerbaar mengirimkan delegasi resmi ke Belanda, seperti Abdoel Moeis (wakil Sarekat Islam) dan Dwidjosewojo (wakil Budi Utomo). Pemerintah Kerajaan Belanda di Amsterdam akhirnya menolak usulan wajib militer atau milisi pribumi tersebut karena kekhawatiran persenjataan itu justru akan digunakan pribumi untuk memberontak (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Oost en West dan gerakan Indie Weerbaar? Seperti disebut di atas, Soetan Casajangan memiliki cara berpikir yang cenderung intuitif berpikir secara alamiah sebelum dampaknya terlihat benar-benar nyata. Hal itulah mengapa perlu studi ke Belanda, mengapa organisasi mahasiswa didirikan, mengapa studiefond dibentuk dan mengapa perlu menggalang potensi penduduk untuk mempertahankan negara dan bangsa. Lalu bagaimana sejarah Oost en West dan gerakan Indie Weerbaar? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Oost en West dan Gerakan Indie Weerbaar; Perlemen Volksraad dan Technisch Hooegeschool Bandoeng

Tunggu deskripsi lengkapnya

Perlemen Volksraad dan Technisch Hooegeschool Bandoeng; Guru Berjuang dengan Caranya Sendiri

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar