Minggu, 05 Juli 2026

Sejarah Casajangan (8): Perang Eropa dan Gerakan Indie Weerbaar; Dewan Volksraad dan Technisch Hooegeschool Bandoeng


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Apakah cara berpikir Soetan Casajangan bersifat intuitif? Soetan Casajangan ingin studi ke Belanda tetapi tidak bisa berbahasa Belanda. Soetan Casajangan belajar bahasa Belanda dan pada bulan Juni 1904 berangkat studi ke Belanda. Jumlah mahasiswa baru 15 orang di Belanda, Soetan Casajangan mendirikan organisasi mahasiswa Indische Vereeniging pada bulan Oktober 1908. Banyak pelajar pintar pribumi ingin studi ke Belanda tetapi tidak mampu, Soetan Casajangan menggagas Studiefonds. Segera setelah perang di Eropa meletus, Soetan Casajangan menggagas cara terbaik untuk mempertahankan negara Indonesia dari musuh asing. Soetan Casajangan lebih suka bermain catur daripada bermain sepak bola. Sejarah Mahasiswa di Indonesia


Indie Weerbaar (Pertahanan Hindia) adalah sebuah gerakan dan komite yang dibentuk pada tahun 1916 di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) untuk mengadvokasi pembentukan milisi sipil bumi putera demi memperkuat pertahanan militer koloni menghadapi Perang Dunia I. Gerakan ini memicu perdebatan sengit di kalangan tokoh pergerakan nasional serta mengubah arah perjuangan politik di Indonesia. Pengusaha dan tokoh pertahanan seperti KAR Bosscha mendirikan Comite Indie Weerbaar pada tahun 1916 untuk mendesak pembentukan milisi lokal yang melibatkan warga pribumi. Gagasan mengenai wajib militer bagi warga pribumi ini memecah opini organisasi pergerakan nasional di Indonesia. Organisasi seperti Budi Utomo dan sebagian tokoh Sarekat Islam (SI) mendukung gagasan ini. Mereka bersedia membantu pertahanan Belanda, namun dengan syarat (barter politik) agar pemerintah Belanda memberikan hak politik dan membentuk parlemen bagi rakyat Hindia Belanda. Pada awal tahun 1917, Comite Indie Weerbaar mengirimkan delegasi resmi ke Belanda, seperti Abdoel Moeis (wakil Sarekat Islam) dan Dwidjosewojo (wakil Budi Utomo). Pemerintah Kerajaan Belanda di Amsterdam akhirnya menolak usulan wajib militer atau milisi pribumi tersebut karena kekhawatiran persenjataan itu justru akan digunakan pribumi untuk memberontak (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah perang Eropa dan gerakan Indie Weerbaar? Seperti disebut di atas, Soetan Casajangan memiliki cara berpikir yang cenderung intuitif berpikir secara alamiah sebelum dampaknya terlihat benar-benar nyata. Hal itulah mengapa perlu studi ke Belanda, mengapa organisasi mahasiswa didirikan, mengapa studiefond dibentuk dan mengapa perlu menggalang potensi penduduk untuk mempertahankan negara dan bangsa. Lalu bagaimana sejarah Oost en West dan gerakan Indie Weerbaar? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Perang Eropa dan Gerakan Indie Weerbaar; Perlemen Volksraad dan Technisch Hooegeschool Bandoeng

Soetan Casajangan, setelah sembilan tahun di Belanda, dan dengan akta guru tertinggi MO sudah waktunya untuk kembali ke tanah air. Ini seiring dengan permintaan Pemerintah Hindia Belanda kepada Soetan Casajangan untuk ditempatkan di bidang pendidikan masyarakat pribumi (lihat De nieuwe courant, 22-02-1913). Soetan Casajangan tidak lagi keberatan.


Ini berbeda dengan tahun 1907 saat Soetan Casajangan lulus ujian mendapat akta guru LO. Saat itu Soetan Casajangan masih ingin meningkatkan studi keguruannya untuk mendapat akta MO. Seperti disebutkan sebelumnya, Soetan Casajangan pada bulan Oktober 1908 mendirikan organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda yang diberi nama Indische Vereeniging (Perhimpoenan Hindia). 

Saat ini, situasi dan kondisi di Eropa termasuk di Belanda masih tampak baik-baik saja. Namun ada dua hal yang terus dipikirkan oleh Soetan Casajangan: 1. Bagaimana situasi dan kondisi bangsanya di Indonesia; 2. Dalam hal pendidikan pribumi, bagaimana cara untuk mempercepat peningkatan. Jadi dalam hal ini, Soetan Casajangan sebagai guru, sudah mulai memasuki dunia politik baru.

 

Pada bulan Maret 1913 Soetan Casajangan artikelnya berjudul “Dari Belanda! Untuk Rakyat Hindia!” dimuat di surat kabar Het vaderland, 12-03-1913. Artikel ini merupakan topik yang sama sebagaimana artikelnya telah dimuat di surat kabar di Indonesia pada tanggal 11 Februari yang sama-sama tentang uluran tangan orang yang mampu untuk mendukung studiefond (dana pendidikan) untuk memperbanyak pengiriman guru Indonesia meningkatkan studinya ke Belanda . Khusus artikel yang dimuat di surat kabar Het vaderland, 12-03-1913, Soetan Casajangan terkesan mengancam orang-orang Belandi di Belanda yang secara harpiah: “jika orang Belanda tidak bersedia mendukung studiefond, rakyat Indonesia akan menjauh, dan akan berpotensi jika ada serangan asing ke Indonesia, Belanda akan kehilangan Indonesia”. Artikel ini menjadi viral di Belanda. Ada sebagian yang proaktif mendukung, dan tentu saja ada sejumlah pihak orang Belanda yang nyinyir dan bahkan membully Soetan Casajangan. Lalu kemudian Soetan Casajangan kembali menulis artikelnya yang dimuat di Het vaderland, 25-03-1913. Surat kabar yang terbit di Bandoeng, De expres, 24-04-1913 memberitakan pada bulan Juli mendatang, R Soetan Casajangan akan berangkat ke Hindia sebagai pejabat yang ditugaskan untuk pendidikan penduduk pribumi, Indonesia masih dapat memperoleh manfaat besar dari orang-orang seperti dia. Surat kabar De expres dipimpin oleh Ernest Douwes Dekker. Upaya Soetan Casajangan itu dengan cepat menggerakkkan orang-orang Belanda dan proaktif (lihat De expres, 29-04-1913). Disebutkan di Den Haag, 27 April. Dalam waktu dekat, atas inisiatif Soetan Casajangan, sebuah asosiasi akan didirikan dengan tujuan memperkuat hubungan dengan Hindia melalui studiefonds. De avondpost, 29-04-1913: ‘Pertemuan, dengan tujuan mendirikan "Institut untuk Persatuan dan Kemajuan Belanda Raya". Pembicara: R Soetan Casajangan SP. Pukul 14.00’. 

Gagasan Soetan Casajangan tentang pembentukan studiefonds untuk memperpercpat peningkatan penduduk pribumi segera mendapat dukungan luas bahkan Yang Mulia Ratu, Ibu Suri, Pangeran, beberapa mantan Gubernur Jenderal dan otoritas lainnya serta terlebih lagi, sekitar 400 pihak yang berminat (lihat De avondpost, 01-05-1913). Disebutkan dewan studiefonds saat itu terbentuk yang terdiri bapak-bapak Abendanon, Blok, Boissevain, Prins, dan Meyer terpilih sebagai anggota yang akan menyusun anggaran dasar, mencari kerja sama sebanyak mungkin dengan asosiasi-asosiasi yang sudah ada, dan membangun asosiasi tersebut seluas mungkin termasuk Indische Vereeniging. 


De expres, 08-05-1913: ‘Hindia di Belanda. Dalam surat kabar kami tanggal 24 April 1919, kami telah memberi tahu pembaca beberapa detail mengenai rencana kepala sekolah Batak, Soetan Casajangan, yang, saat berada di Belanda, berhasil mendapatkan penerimaan atas idenya mengenai pendirian "Dana Studi Abadi" untuk pemuda Jawa yang akan melanjutkan studi mereka di Eropa… Jika setiap orang Belanda memberikan sesuatu, betapa pentingnya dukungan yang diberikan kepada penduduk Hindia Belanda untuk pembangunan yang lebih besar? Setiap orang Belanda—saya tidak berani mengharapkan itu—tetapi banyak orang Belanda, saya tidak ragu akan hal itu, akan dengan senang hati memberikan kontribusi mereka, baik kecil maupun besar, kepada sebuah yayasan yang bertujuan untuk menjadi sangat penting bagi peradaban yang lebih tinggi dari penduduk asli Hindia Belanda. Semoga beberapa kata ini menginspirasi tindakan lebih lanjut untuk tujuan tersebut!’. De expres, 13-05-1913: ‘Dana Studi untuk Penduduk Pribumii. Wibisana menulis kepada kami: Menurut laporan di surat kabar Hindia Belanda, Anggota Dewan Soetan Casajangan dikabarkan telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan di Belanda untuk mendirikan dana studi bagi penduduk asli di Belanda. Seruan kepada rakyat Belanda yang merdeka, yang tahun ini percaya bahwa mereka merayakan seratus tahun kemerdekaan mereka, untuk menjadikan tahun peringatan ini juga sebagai tahun dimulainya perkembangan intelektual bebas bagi penduduk asli, tidak sia-sia. Ibu Suri dan Pangeran Hendrik, dan banyak tokoh berpengaruh seperti Van Heutsz, Snoeck Hurgronje, Van Deventer, dan teman-teman penduduk asli lainnya, telah menyatakan dukungan Casajangan untuk gagasan tersebut. Oleh karena itu, tampaknya sangat mungkin bahwa kita dapat menantikan pembentukan dana tersebut segera. Menurut sumber yang dapat dipercaya, dana semacam itu sudah ada untuk Hindia Belanda, dan dengan demikian juga untuk penduduk asli. Namun, hanya kaum muda yang telah berhasil lulus ujian akhir HBS. yang memenuhi syarat untuk ini. Betapa dana ini saat ini gagal memenuhi kebutuhan yang ada menjadi jelas beberapa bulan yang lalu, ketika seorang dokter muda pribumi membutuhkan dukungan untuk menyelesaikan studinya di Belanda. Berdasarkan statuta-nya, dana tersebut, betapapun bersemangatnya dewan pengurusnya untuk membantu pemuda itu, tidak dapat memberikan dukungan yang dimintanya. Untungnya, seorang teman dari Jawa, yang namanya telah disebutkan di atas, datang membantu dokter muda tersebut dengan membiayai seluruh biaya studi pemuda Jawa yang menjanjikan itu dari kantongnya sendiri. Tanpa bantuan filantropis ini, dokter Jawa tersebut, yang dipuji-puji oleh para gurunya, tentu saja harus meninggalkan rencana studinya. Dari uraian di atas, jelas betapa pentingnya inisiatif Soetan Casajangan. Putra-putra Hindia telah mendambakan pengetahuan yang lebih tinggi selama bertahun-tahun, namun sejauh ini belum ada kesempatan yang cukup untuk memenuhi keinginan tersebut. H.B.S. hanya dihadiri oleh anak-anak dari kelas istimewa masyarakat pribumi, sehingga hanya sedikit yang dapat memperoleh manfaat dari dana studi yang ada, sementara dana tersebut sama sekali di luar jangkauan masyarakat. Dan sudah terbukti lebih dari sekali bahwa bahan terbaik untuk studi lanjutan justru berasal dari kelas pekerja. Para dokter pribumi, misalnya, yang melalui usaha keras dan pengorbanan finansial berhasil menyelesaikan studi mereka di Belanda sepenuhnya dengan biaya sendiri, adalah bukti nyata hal ini. Sehubungan dengan langkah pemerintah yang akan datang di bidang pendidikan, yang telah disebutkan oleh Javabode beberapa hari yang lalu, yaitu pembukaan m. u. 1 tahun depan, terkait pendidikan bagi siswa kelas satu sekolah pribumi, pendirian Dana Studi Casajangan akan lebih terwujud. Bagaimanapun, pendidikan MULO dan dana ini akan membentuk jembatan yang sangat diperlukan bagi kaum muda dari komunitas tersebut, yang memiliki bakat dan ketekunan yang dibutuhkan untuk studi lebih lanjut, untuk dapat mencapai universitas dan lembaga pendidikan kejuruan di Belanda. Memang, pendidikan MULO akan mempersiapkan pemuda pribumi untuk pendidikan kejuruan di Hindia Belanda seperti Stovia, Sekolah Tinggi Keguruan untuk Guru Pribumi, Sekolah Pertanian, KWS, dll. Soetan Casajangan telah menyatakan keinginannya bahwa, pada periode awal, hanya guru pribumi atau mantan siswa sekolah tinggi keguruan di Hindia Belanda yang terbukti memiliki bakat yang diperlukan untuk studi lebih lanjut di sekolah tinggi keguruan Belanda yang akan memenuhi syarat untuk Dana Studi. Bukan kepentingan sesama profesional—Soetan Casajangan adalah seorang guru—yang mendorong penggagasnya untuk memprioritaskan guru, melainkan keinginan untuk memberikan perhatian utama pada pendidikan pribumi di Hindia Belanda. Bagaimanapun, guru pribumi masih sangat membutuhkan peningkatan agar pendidikan pribumi menjadi berkah bagi masyarakat. Pendidikan, pada akhirnya, adalah sumber energi dan kebahagiaan nasional’. 

Setelah semuanya apa yang telah dipikirkan Soetan Casajangan selama di Belanda (utamanya pendirian Indische Vereeniging dan pembentukan Studiefond), akhirnya Soetan Casajangan bersiap-siap kembali ke tanah air. Seperti disebut sebelumnya, Soetan Casajangan berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi keguruan pada tahun 1904. Soetan Casajangan benar-benar kembali ke tanah air (lihat Algemeen Handelsblad, 04-07-1913). Disebutkan kapal ss “Prinses Juliana” berangkat dari Amsterdam dengan tujuan akhir Batavia pada tanggal 5 Juli dimana di dalam manifest kapal dicatat nama “R. g. (Radjioen gelar) Soetan Casajangan Soripada”. 


Soetan Casajangan dalam keluarganya adalah anak terkecil (bungsu). Ayahnya Maharadja Soetan, murid guru Willem Iskander adalah kepala Koeria di Batoe Na Doea, afdeeling Padang Sidempoean. Ayahnya meninggal 1888 sebelum Soetan Casajangan menyelesaikan studi keguruannya di sekolah guru (Kweekschool) Padang Sidempoean. Lalu Soetan Casajangan menjadi kepala sekolah di sekolah dasar di Simapil-apil di lereng gunung Loeboek Raja. Sejak 1884 di semua sekolah guru di Hindia tidak lagi diajarkan bahasa Belanda. Setelah 13 tahun mengajar, muncul keinginan Soetan Casajangan untuk meingkatkan pendidikannya dengan studi keguruan ke Belanda. Soetan Casajangan belajar privat bahasa Belanda dengan guru sekolah dasar Eropa (ELS) di Padang Sidempoean SA Bastatra pada tahun 1903. Pada tahun 1904 Soetan Casajangan berangkat studi ke Belanda. Seperti disebut di atas Soetan Casajangan mendapat akta guru LO tahun 1907, mendirikan Indische Vereeniging tahun 1908, mendapat akta guru MO tahun 1910. Pada tahun 1911 Soetan Casajangan mulai merintis studiefonds di Belanda bersama Abdoel Firman Siregar gelar Mengaradja Soangkoepon. Dan kini, tahun 1913 Soetan Casajangan akan pulang ke tanah air. 

Lantas siapa sebenarnya Radjioen gelar Soetan Casajangan Soripada dan apa makna dari nama gelarnya? Orang Angkola Mandailing di Tanah Batak, setelah akil baligh, anak laki-laki diberi gelar adat. Nama gelar yang dipilih sesuai karakter si anak yang akan diharapkan bersesuaian dengan realitas di masa depan (jadi dalam hal ini nama gelar adalah nama harapan atau doa). Radjioen adalah nama kecilnya dan Harahap adalah marganya. Gelar yang diberikan kepada Si Radjioen adalah Soetan (bukan kategori Baginda, Mangaradja dan lainnya).  Baginda untuk anak laki-laki pertama, kemudian di bawahnya gelar Mangaradja dan kemudian Soetan. Seperti disebut di atas Soetan Casajangan adalah anak bungsu. Soripada gelar yang digunakan untuk oppungnya (kakeknya). Soripada dalam hal ini merujuk pada hormat kepada ibu seperti Inatta Soripada. Lalu bagaimana dengan Kasajangan? Boleh jadi karena anak bungsu yang menjadi kesayangan ibunya. 


Meski Radjioen gelar Soetan Casajangan Soripada adalah anak bungsu, tetapi bukan orang yang lemah dan cengeng. Saat ayahnya meninggal tahun 1888 tidak melemahkan Soentan Casajangan menyelesaikan studinya menjadi guru. Soetan Casajangan sangat setia dengan profesinya sebagai guru. Setelah 13 sudah cukup baginya untuk meningkakan pendidikannya ke Belanda walau sudah berusia 30 tahun. Dengan menyadari kurang mampu berbahasa Belanda, Soetan Casajangan berinisiatif untuk les privat. Semua yang diharapkannya kini telah terwujud: Indische Vereeniging dan studiefond. Oleha karena dewan studiefond yang terbentuk di Belanda diberi nama Juliana Fonds (karena juag mendapat dukungan dari Ratu Juliana). Saat kembali ke tanah air untuk mengabdi kepada Ibu Pertiwi (Tanah Air), entah kebetulan Soetan Casajangan menumpang kapal ss “Prinses Juliana”. 

Lalu bagaimana dengan nama gelar Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon di Belanda yang menjadi asisten Soetan Casajangan dalam merintis studiefonds? Abdoel Firman adalah nama kecilnya dan  Siregar marganya. Gelar yang diterimanya dari orangtua/keluarga adalah Mangaradja (bukan anak tertua). Oleh karena karakternya suka menolong maka keluarga/orangtua memberi gelar Soangkoepon. Dalam bahasa Angkola, Soangkoepon, kata dasar “angkoep” adalah penolong. Pada tahun 1912 di Belanda, Mangaradja Soangkoepon proaktif menolong rekan sebangsanya dari Jawa dan Madura yang bertikai hingga ke Pengadilan.

 

Algemeen Handelsblad, 13-03-1912: ‘Dua imigran terlibat perkelahian dari Madura dengan sesama imigran dari Jawa (Oost Java), korban akhirnya meninggal dunia akibat tusukan. Di pengadilan Amsterdam terdakwa disidangkan dan menghadirkan saksi-saksi. Aparat pengadilan bingung, karena para imigran (terdakwa dan saksi-saksi) tidak bisa berbahasa Belanda. Untuk mencari penerjemah dan juga untuk pemandu sumpah (secara Islam) ternyata tidak mudah meski sudah ada Indische Vereeniging (perhimpunan Hindia). Diantara mahasiswa yang ada hanya Abdoel Firman gelar Mangaradja Soangkoepon yang masih sekolah menengah yang bersedia dan sukarela (tanpa paksaan). Dari namanya memang pantas (Abdoel + Firman), dan memang ternyata Abdoel Firman pemuda asal Tapanuli adalah orang yang alim. Dalam masyarakat Belanda disebutkan  Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon dianggap sebagai pemimpin (imam) Islam dari para imigran dari Hindia. Abdoel Firman tidak keberatan. Di dalam pengadian tersebut Abdoel Firman tidak hanya menjadi penerjemah dan pemandu sumpah (secara agama Islam), Abdoel Firman juga memberi pebelaan terhadap terdakwa untuk dikurangi tuntutan djaksa. Dan, berhasil’. Catatan: Mangaradja Soangkoepon setelah lulus sekolah dasar Eropa (ELS) di Medan melamar menjadi pegawai negeri sipil (klein ambtenaar). Gagal dalam ujian, yang diterima semua adalah anak-anak Eropa/Belanda. Mangaradja Soangkoepon kelahiran Padang Sidempoean tidak patah arang, langsung BTL ke Belanda untuk melanjutkan studi sekolah menengah. Oleh karena lulusan sekolah ELS, Mangaradja Soangkoepon fasih berbahasa Belanda bahkan di Pengadilan (layaknya pengacara yang meringankan terdakwa). 

Sebagai seorang guru yang telah mendirikan wadah persatuan (Indische Vereeniging) dan kemudian ingin meningkatkan pendidikan bangsanya melalui studiefond, Radjioen gelar Soetan Casajangan Soripada merintisnya bersama juniornya Mangaradja Soangkoepon (orang yang yang jika membantu tidak ketulungan). 


Hal itu pula saat Soetan Casajangan Soripada ingin mendirikan wadah persatuan organisasi mahasiswa Indische Vereeniging tahun 1908, dengan meminta bantuan juniornya RM Soemitro untuk mengirim undangan kepada semua mahasiswa Indonesia di Belanda untuk berkumpul di kediamannya di Leiden. RM Soemitro jelas tidak keberatan, karena dalam tradisi Jawa nama Soemitro diartikan Soe=baik dan “mitro”=teman atau sahabat, maka RM Soemitro di mata Soetan Casajangan adalah teman yang baik. Lalu terbentuklah Indische Vereeniging, seperti halnya sekarang tahun 1913 terbentuklah studiefond dengan nama Juliana Fonds. 

Soetan Casajangan yang berangkat dari Belanda dengan kapal Prinses Juliana dari Amsterdam tanggal 5 Juli telah tiba di Batavia awal Agustus 1913. Soetan Casajangan setelah tiba di Batavia mengirim surat kepada Gubernur Jenderal di Buitenzorg untuk audiensi. Namun permintaan Soetan Casajangan di kantor inspektorat pendidikan pribumi ditolak tetapi hanya diberi kesempatan lebih dulu sebagai guru di sekolah guru pribumi. 


Soetan Casajangan legowo saja dan kemudian berangkat ke sekolah guru di Fort de Kock. Soetan Casajangan tidak terlalu ngotot. Soetan Casajangan adalah seorang guru, guru yang berjuang untuk pendidikan bangsanya dengan cara berpikir seorang guru. Soetan Casajangan jauh dari isu politik. Soetan Casajangan hanya focus pada persatuan bangsa yang dengan demikian di atas persatuan dirancang berbagai program pembangunan bangsa seperti percepatan peningkatan pendidikan pribumi. 

Soetan Casajangan Soripada berangkat ke Fort untuk mengabdi sebagai guru. Namun sebelum Soetan Casajangan berangkat ke Sumatra, buku kecil Soetan Casajangan yang berjudul “Indische toestanden, gezien door een inlander” (Kondisi Indonesia Dilihat oleh Seorang Pribumi) yang diterbitkan oleh penerbit Hollandia-Drukkerij di telah dijual (lihat Zutphensche courant, 24-10-1913). 


Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 25-10-1913: ‘Seorang Pribumi di Hindia. Monograf yang diterbitkan oleh Hollandia Drukkerij telah terbit dengan judul “Indische toestanden, gezien door een inlander” (Kondisi Indonesia Dilihat oleh Seorang Pribumi) karya R Soetan Casajangan SP. Buku kecil ini ditulis dengan lancar dan berisi permohonan yang hangat dan simpatik untuk perbaikan bentuk pemerintahan di Hindia kita, sehingga penduduk pribumi dapat berkembang secara moral dan ekonomi serta mengambil tempat yang berhak mereka dapatkan menurut konsep kemanusiaan yang berlaku saat ini. Secara khusus, penulis berfokus pada "adat", hukum tak tertulis yang telah mapan, tetapi yang, menurut pandangannya, tidak tetap dan seringkali membutuhkan perbaikan demi kepentingan penduduk pribumi itu sendiri. Adat, kata penulis, saat ini seringkali menjadi penghalang kemajuan dan hambatan untuk menganggap penduduk pribumi setara dengan orang Eropa. Lebih lanjut, ia menunjukkan perlunya pendidikan yang lebih baik dan terutama pentingnya guru-guru pribumi di Hindia Belanda, dan ia mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat pribumi dan cara-cara yang dapat mengarah pada peningkatan di sini. Buku kecil ini—yang tentu saja mampu membangkitkan minat pada urusan koloni kita—diakhiri dengan kalimat-kalimat berikut: “Bukan Hindia untuk orang Hindia atau Hindia hanya untuk masyarakat pribumi, tetapi Hindia Belanda di bawah bendera tiga warna yang berkibar di Buitenzorg, satu Belanda yang besar untuk rakyat Belanda dan masyarakat pribumi sebagai setara. Setara dalam hak, setara dalam kesetiaan dan keterikatan serta penghormatan terhadap bendera Belanda, dan terserah kepada Anda, rakyat Belanda! jika masyarakat pribumi segera diberdayakan, melalui lembaga pendidikan Anda, untuk juga menjadi setara dalam pembangunan”, 

Dalam bukunya Soetan Casajangan pada intinya menekankan pentingnya kesetaraan amtara orang pribumi Indonesia dengan orang Belanda. Setara dalam hak, setara dalam kesetiaan dan keterikatan serta penghormatan terhadap bendera Belanda, dan terserah kepada Anda, rakyat Belanda! jika masyarakat pribumi segera diberdayakan, melalui lembaga pendidikan Anda, untuk juga menjadi setara dalam pembangunan. Jadi dalam hal ini Soetan Casajangan adalah orang pribumi Indonesia pertama yang mengemukakan secara terbuka kesetaraan bagi semua pihak dan dalam segala hal. 


Seperti disebut sebelumnya pada tanggal 25 Agustus 1912 Komite Indische Partij dari Bandoeng telah melakukan “kudeta” di Indische Bond di Batavia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 28-10-1912). Indische Partij ini kemudian diketahui ketua pusatnya adalah Ernest Douwes Dekker (lihat De expres, 18-12-1912). Surat kabar De Express yang terbut di Bandoeng dipimnpin oleh -1912). Indische Partij ini kemudian diketahui ketua pusatnya adalah Ernest. Dalam pengumuman tersebut secretariat pusat di Bandoeng dipimpin oleh GP Carli di Naripanweg. Daftar pemimpin cabang yang sudah ada di Bandoeng, Batavia, Cheribon, Tegal, Pekalongan, Kendal, Semarang, Soerabaja, Djokja, Djombang, Modjokerto, Blora, Indramajoe, Serang dan Padang. Juga disebut para musuh Indische Partij: (1)  Het Nieuws v. d. Dag, v. Ned.-lndiĆ« te Batavia. (2) M. v. Geuns en het Soerabajasch Handelsblad.(3) De journalist mr. JF Dijkstra te Bandoeng. (4) De firma G. Kolff & Co. te Bandoeng en de Preanger-bode. (5) W. Kerremans en het Soerabajasch Nieuwsblad. (6) Het dagblaadje Mataram te Djokja. Lalu pada tanggal 25 Desember 1912 Indisch Partij secara resmi didirikan (lihat De expres, 27-12-1912). Dalam pembentukan itu turut hadir perwakilan resmi dari asosiasi Sarikat Islam, yang sekarang berjumlah lebih dari 90.000 anggota. Perwakilan SI tersebut adalah R Tjokro Aminolo dan Hassan Alijralie. Dalam statute: Pasal-2, ayat-1: "Tujuan I.P. adalah untuk membangkitkan patriotisme seluruh rakyat Hindia terhadap tanah yang memelihara mereka, untuk memaksa mereka bekerja sama atas dasar kesetaraan politik, untuk membawa tanah air Hindia ini menuju kemakmuran dan mempersiapkannya untuk keberadaan nasional yang merdeka. Pasal-2, ayat-4: mengenai “membuat Hindia tangguh melawan penjajah asing”. Dalam Pasal-2, bahwa konsep orang Belanda tidak ada bagi Indische Partij. Indische Partij hanya meerujuk pada Indier (orang Hindia) yang dalam hal ini dimana orang tersebut dilahirkan menjadi tidak relevan lagi. 

Dalam artikelnya Soetan Casajangan perihal studiefond di surat kabar Het vaderland, 12-03-1913 sudah sejalan dengan gagasan Indisch Partij. Kedua belah pihak menganggap  bahwa bukan kaum revolusioner yang melakukan revolusi, tetapi kaum tradisionalis dan konservatif yang mencegah penetrasi ide-ide modern. Secara khusus bagi Soetan Casajangan percepatan peningkatan pendidikan pribumi hanya dapat dicapai jika terjadi stabilitas dan berkeadilan. Intinya Soetan Casajangan dan Indisch Partij sudah sama-sama menggarisbawahi pentingnya Hindia tangguh yang dapat melawan penjajah asing. Soetan Casajangan sudah memperingkatkan Belanda pada pembentukan studiefond tersebut (lihat Het vaderland, 12-03-1913) sebagai berikut: 


“Disini, yang ditaklukkan menuntut pengetahuan tentang bahasa para penakluk; disini yang dikalahkan menginginkan pembangunan dan pendidikan dari para pemenang, dan sebagai pemenang mereka. Betapa indahnya perspektif yang terbuka bagi Belanda kecil untuk mempertahankan Insulinde yang agung dan untuk melestarikan warisan leluhur yang paling berharga dan tak ternilai harganya terhadap tetangga yang iri. Dengan jutaan penduduk pribumi sebagai teman, kepemilikan Insulinde dijamin untuk Belanda; Dengan jutaan penduduk pribumi sebagai lawan yang acuh tak acuh atau, lebih buruk lagi, sebagai lawan yang tidak puas, pada akhirnya akan terbukti mustahil bagi Belanda kecil untuk mempertahankan kepemilikannya terhadap musuh asing atau domestik yang kuat. Memanfaatkan arus tersebut di antara penduduk pribumi pada waktu yang tepat dan memberikan arahan, saat ini, merupakan tugas besar dan benar-benar bersejarah yang diemban oleh Belanda”. 

Siapa yang dimaksud Soetan Casajangan musuh asing dalam konteks Indonesia? Satu yang jelas dalam hal ini di wilayah Hindia ada tiga kelompok pemikiran dalam menyikapi situasi dan kondisi di Inndonesia. 


Yang pertama adalah penganut paham kolonial yang memandang penduduk pribumi adalah untuk dieksploitasi yang mengagungkan kebesaran Belanda dan bersifat menindas dan merendahkan penduduk pribumi. Mereka ini umumnya adalah Belanda totok yang bersifat rasialis. Kelompok yang kedua adalah kelompok yang menginginkan kesetaraan semua pihak dalam semua bidang. Dalam kelompok kedua ini terdapat paksi garis lembut seperti Soetan Casajangan dkk (Studiefonds) dan paksi garis keras seperti E Douwes Dekker dkk (Indisch Partij). Kelompok ketiga adalah penduduk pribumi (termasuk Cina dan Arab) yang masih apatis. 

Tiga kelompok warga di Indonesia ini berpotensi diserang musuh dan dikuasai asing seperti halnya dulu Inggris menyerang dan menguasasi Hindia (1811-1816). Pada tahun 1913 ini kelompok kedua dari garis keras (Indisch Partij) yang dipimpin E Douwes Dekker dkk telah dihambat pemerintah. Untuk membungkam, pemerintah menangkap tiga orang yang terkait dengan pertemuan umum di Bandoeng yakni E Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Sorjaningrat. 


Pada saat ini di luar wilayah Hindia yang bertetangga terdapat (kekuasaan) Inggris di The Strait Settlement (Penang, Malaya, Singapoera dan Borneo utara) dan di wilayah Australia; Portugis di bagian timur pulau Timor (kini Timor Leste) serta Jerman di bagian timur pulau Papua (kini Papua Nugini) dan Amerika Serikat di wilayah Filipina. Jerman di wilayah Papua Nugini dimulai sejak tahun 1884, ketika Kekaisaran Jerman mengklaim bagian timur laut pulau Papua dan pulau-pulau sekitarnya sebagai koloni protektorat yang dinamai Nugini Jerman (Deutsch-Neuguinea). Amerika Serikat di Filipina sejak 1898 menggantikan Spanyol. 

Ringkasnya pada tahun 1914 di Eropa terjadi kenaikan eskalasi politik yang tajam yang kemudian memicu terjadinya perang. Perang Eropa ini dimulai pada tanggal 28 Juli 1914. Tidak lama setelah perang ini meletus, pada tanggal 25 Agustus 1914, Soetan Casajangan di Fort de Kock mengundang sekitar 70 kepala suku, pejabat, dan warga yang berada di Fort de Kock untuk menghadiri pertemuan di perkumpulan "Madjoe" di sini. Saya memberikan ceramah tentang: "Satu-satunya dan cara terbaik untuk mempertahankan negara kita dari musuh asing tidak lain adalah kerja sama dengan pemerintah". 

 

De Preanger-bode, 08-09-1914: ‘Pembentukan Korps Pribumi Pertama di Fort de Kock. Atas inisiatif Bapak RS Casajangan S.p., sebuah pertemuan para kepala suku, pejabat, dan warga berada dari Fort de Kock dan sekitarnya diadakan di Madjoe Society pada tanggal 25 Agustus 1914, pukul 97 pagi. RSCSp, sebagai ketua, membuka pertemuan dan menyampaikan ceramah mengenai situasi terkini di Eropa. Setelah menyapa hadirin dan mengucapkan selamat—seperti yang tertulis dalam JB—atas Hari Raja, pembicara memulai dengan menjelaskan hubungan antara berbagai ras di Hindia Belanda, khususnya di Sumatra. Setelah itu, ia menceritakan bagaimana ia memiliki gagasan untuk belajar di Belanda agar dapat memberikan informasi kepada rekan senegaranya, untuk berjuang demi kemajuan Negara dan Rakyat; betapa sulitnya jalan yang harus ia tempuh; bagaimana ia belajar di Belanda; betapa banyak persahabatan yang ia alami di sana dari orang Belanda; dan bagaimana, setelah menyelesaikan studinya, ia ragu, yaitu, apakah ia harus tetap tinggal di Belanda untuk kepentingannya sendiri, atau apakah ia harus kembali ke Hindia untuk kepentingan bangsanya. Ia memutuskan untuk melakukan yang terakhir. Kemudian ia menceritakan apa yang telah ia lakukan di Belanda untuk usahanya, termasuk memberikan kuliah di berbagai asosiasi, seperti O en W, M en K. Dua asosiasi didirikan: Indische Vereeniging dan studiefond Juliana Fonds untuk persatuan dan kemajuan Belanda Raya. Sebuah brosur diterbitkan olehnya, dll., semuanya bertujuan untuk persatuan Belanda dan Hindia, yang penduduknya harus memiliki hak dan kewajiban yang sama. Sebagai penjelasan, ia mengutip sejarah dari zaman kuno. Satu per satu, ia menceritakan keadaan rakyat pada waktu itu, diikuti oleh kedatangan orang Hindu, Tionghoa, Arab, Portugis, Inggris, dan Belanda. Ia membahas hal ini untuk waktu yang lama; Ia mengenang kembali persahabatan, kejujuran, dan perilaku baik orang Belanda terhadap penduduk pribumi pada waktu itu, pendirian Perusahaan Hindia Timur (VOC); lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penduduk pribumi secara bertahap menganggap Perusahaan sebagai guru, pemimpin, dan penguasa, bahkan sebagai ayah dan ibu, dan bagaimana Perusahaan berubah menjadi Pemerintah saat ini. Sebagai contoh perbuatan baik Pemerintah, ia menyebutkan lalu lintas, perdamaian dan ketertiban, pertanian, peternakan dan perdagangan, industri, kesehatan, dll. Ia membandingkan kehidupan saat ini dengan kehidupan masa lalu. Oleh karena itu, kemakmuran saat ini disebabkan oleh Pemerintah yang bersifat kebapakan. Kepentingan rakyat terjalin dengan kepentingan Pemerintah. Siapa pun yang membela kepentingan Pemerintah membela kepentingannya sendiri. Dan kerja sama rakyat dengan Pemerintah adalah kekuatan maksimal untuk membela negara dan Rakyat dari musuh asing’. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Perlemen Volksraad dan Technisch Hooegeschool Bandoeng; Guru Berjuang dengan Caranya Sendiri

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar