*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini
Eduard Douwes Dekker tiba di Batavia tahun 1839 sebagai kelasi di kapal ayahnya. Di Batavia Eduard menjadi pegawai negeri (ambtenaar). Pada tahun 1842 dipindahkan ke Pantai Barat Sumatra. Oleh Gubernur AV Michiels ditempatkan sebagai Controleur di Natal. Pemberontakan di Angkola Mandailing menyebabkan banyak pemimpin dan penduduk eksodus ke Natal. Eduard mengadvokasi para pelarian namun dipandang pemerintah sebagai pelanggaran jabatan. Eduard dipecat dan dikenakan hukuman tahnan kota selama satu tahun di Padang. Eduard adalah saudara dari Jan Douwes Dekker yang merupakan kakek Ermest Douwes Dekker. Sejarah Bahasa Indonesia
Ernest François Eugène Douwes Dekker lahir di Pasuruan pada tanggal 8 Oktober 1879, sebagaimana yang dia tulis pada riwayat hidup singkat saat mendaftar di Universitas Zurich, September 1913. Ayahnya, Auguste Henri Eduard Douwes Dekker agen di bank Nederlandsch Indisch Escomptobank. Auguste memiliki darah Belanda dari ayahnya, Jan (adik Eduard Douwes Dekker alias Multatuli) dan dari ibunya, Louise Bousquet. Sementara itu, ibu Douwes Dekker, Louisa Neumann, lahir di Pekalongan dari pasangan Jerman-Jawa. DD terlahir sebagai anak ke-3 dari 4 bersaudara. Kakak perempuan dan laki-laki, yakni Adeline (1876) dan Julius (1878) lahir di Surabaya, sedangkan adik laki-lakinya Guido (1883) lahir di Meester Cornelis. Douwes Dekker menikah dengan Clara Charlotte Deije, anak dokter campuran Jerman-Belanda pada tahun 1903, dan mendapat lima anak, namun dua di antaranya meninggal sewaktu bayi (Edouard dan Sigmund, keduanya laki-laki), dan yang bertahan hidup semuanya perempuan (Louisa, Hedwig, dan Sieglinde). Perkawinan ini kandas pada tahun 1919 dan keduanya bercerai. Kemudian Douwes Dekker menikah lagi dengan Johanna Petronella Mossel, seorang Indo keturunan Yahudi, pada tahun 1927 (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Ernest Douwes Dekker dan orang Indo di Belanda dan Indonesia? Seperti disebut di atas, Ernest Douwes Dekker adalah seorang Indo yang kemudian menjadi antitesi Pemerintah Hindia Belanda. Dalam konteks inilah isu diskriminasi, integrasi, asimilasi dan segregasi mulai muncul. Lalu bagaimana sejarah Ernest Douwes Dekker dan orang Indo di Belanda dan Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Metode Riset Bisnis
