Sejarah Bandung (4): Tata Ruang Kota Bandung; Situs Pertama, Kantor Controleur di Jalan Pos Trans-Java



Kota Bandung adalah kota pegunungan, kota yang sangat luas dan terbilang datar yang dikelilingi oleh pegunungan. Hawanya yang sejuk membuat lingkungan perkotaan Bandung sangat ideal. Namun lokasi ini pernah diragukan untuk dijadikan kota (ibukota di era Belanda) karena dianggap tidak sehat (banyak rawa) dan karenanya lokasi ibukota Preanger dipilih di Tjiandjoer. Namun dalam perkembangannya tata letak Bandung yang memang ideal dan memungkinkan suatu kota dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Lantas, bagaimana awal munculnya kota Bandoeng dan bagaimana pula perkembangan tata ruang kota selanjutnya. Mari kita lacak.

Tata Letak Bandoeng

Untuk memahami tata ruang kota Bandung yang sekarang, kita harus membayangkan suatu ruang kosong di cekungan Bandoeng pada masa lampau (era VOC). Cekungan Bandoeng yang dikelilingi oleh ‘bukit barisan’ ini adalah suatu area yang benar-benar kosong dan tidak berpenghuni. Tengah-tengah area ruang kosong ini banyak rawa-rawa akibat luapan sungai Tjikapoendoeng dan sungai Tjitaroem. Ruang kosong ini juga diselimuti alang-alang yang di sana sini terdapat semak yang memungkin populasi rusa berkembang biak (menjadi area perburuan rusa). Kampung-kampung hanya berada di lahan yang agak tinggi, umumnya di sebelah utara cekungan Bandoeng.

Kota Bandung dikelilingi oleh 'Bukit Barisan'
Kampong-kampong yang berada di lahan-lahan yang agak tinggi, jauh dari rawa dan bahaya banjir (Peta Topographij 1818) tersebut antara lain kampong Tjitjendo, Tjitepas, Tjipaganti, Tjibenjieng dan Odjong Brong. Kampung-kampung ini pada tahun 1810 menjadi rute jalan pos trans-Java antara Batavia-Chirebon ruas antara Baybang (kelak menjadi Radja Mandala) dengan Sumadang (lihat Bataviasche koloniale courant, edisi pertama tanggal 05-01-1810). Sementara kampong Bandoeng sendiri berada di selatan cekungan Bandoeng yang letaknya berada di pertemuan sungai Tjikapoendoeng dan sungai Tjitaroem. Kampong Bandoeng ini terus eksis hingga pada waktunya nanti lambat laun namanya lebih dikenal sebagai kampong Dajeh Kolot.

Lahan-lahan di utara cekungan Bandung ini pada tahun 1810 menjadi rencana rute jalan pos trans Java pada ruas Tjiandjoer-Sumedang. Akses menuju kampong Bandoeng yang berada di selatan cekungan Bandoeng adalah dari Tjiandjoer di sisi selatan sungai Tjitaroem (Peta 1818). Oleh karenanya, sisi utara Bandoeng lebih awal berkembang yang secara ekonomi menghubungkan Batavia, Buitenzorg, Tjiandjoer, Baybang (Radjamandala), Odjoeng Brung, Tandjongsari, Sumedang, Carang Sambong dan Chirebon.