*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini
Tanggal 9 Februari ini, Hari Pers Nasional (HPN) di Indonesia diperingati. Tanggal ini “dipilih” untuk memperingati hari berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946 di Surakarta. Hari Kebebasan Pers di Jepang umumnya diperingati setiap tanggal 3 Mei. Tanggal ini “tidak dipilih” tetapi bertepatan dengan Hari Peringatan Konstitusi (Kenpō kinen-bi) di Jepang, yang menandai berlakunya Konstitusi Jepang pada tahun 1947, yang menjamin kebebasan pers dan hak asasi manusia. Artikel ini tidak sedang membicarakan tanggal tersebut, tetapi bagaimana sejarah pers yang sebenarnya berawal di Jepang (dan Indonesia).
Surat kabar di Jepang menggunakan kombinasi tiga sistem aksara utama dan terkadang alfabet Latin untuk menyampaikan informasi secara efisien: Kanji digunakan untuk menuliskan kata benda, batang kata kerja, dan kata sifat yang memiliki makna spesifik; Hiragana digunakan untuk elemen tata bahasa seperti partikel, kata bantu, serta akhiran kata; Katakana digunakan khusus untuk menuliskan kata serapan dari bahasa asing, nama tempat atau orang luar negeri, serta untuk penekanan tertentu; Alfabet Latin (Romaji) dan angka Arab sering digunakan untuk singkatan internasional, nama merek, atau data statistik. Secara visual, teks dalam surat kabar Jepang umumnya dicetak menggunakan gaya huruf Minchō (serif) yang memiliki garis vertikal tebal dan horizontal tipis agar lebih mudah dibaca dalam format cetak. Selain itu, banyak surat kabar masih mempertahankan gaya penulisan tradisional Tategaki, yakni ditulis secara vertikal dari atas ke bawah dan dibaca dari kanan ke kiri (AI Wikipedia)..
Lantas bagaimana sejarah pers di Jepang dan pers di Indonesia? Seperti disebut di atas, artikel ini tidak sedang membicarakan sejarah tanggal hari pers tetapi bagaimana sejarah pers yang sebenarnya di Jepang dan di Indonesia. Di Indonesia sejak era Pemerintah Hindia Belanda, semua surat kabar ditulis dalam aksara Latin. Lalu bagaimana sejarah pers di Jepang dan pers di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
