*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini
Dr Ir Purbaya Yudhi Sadewa, PhD, Menteri Keuangan Republik Indonesia saat ini dari berbagai sumber terhubung dengan dua guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB): Prof Drh J Soegiri (dosen FKH) dan Prof Ir Nawangsari (dosen FMIPA).
IPB University: Januari 1, 2009. Berita: ‘Turut Berduka Cita atas Meninggalnya Prof. Nawangsari Sugiri. IPB berduka cita atas meninggalnya Prof Nawangsari Sugiri (FMIPA IPB) pada Kamis, 1 Januari 2009, pukul 14.00 WIB. Semoga amal ibadah almarhumah diterima di sisi-Nya, dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan (https://www.ipb.ac.id/news/). IPB University: 22 Nov 2025. Berita/Pendidikan: ‘Menteri Purbaya Kenang Masa Kecilnya di Kampus IPB: Rutinitas Jalan Pagi Bentuk Ketangguhan Saya. Sedikit yang tahu kisah masa kecil Menteri Keuangan RI, Dr Purbaya Yudhi Sadewa. Menteri Purbaya ternyata tumbuh besar di lingkungan Kampus IPB Dramaga. “Saya dari 1972 sampai 1983 hidup di Kampus IPB Dramaga, Jalan Anggrek nomor 12. Saya ingat, rumah di sini, sekolahnya di Bogor,” cerita Purbaya saat Kuliah Umum Menteri Keuangan RI di Grha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga (21/11). Dalam acara yang dihelat Himpunan Alumni (HA) IPB University itu, ia menyebut satu rutinitas Purbaya kecil yang menempanya menjadi sosok yang tangguh layaknya hari ini: jalan pagi. Ia mengisahkan, berjalan kaki sejak dini hari menuju sekolah kala itu menjadi tempaan yang membentuk kedisiplinan, ketangguhan mental, dan karakter kepemimpinannya saat ini. “Setengah lima udah bangun. Jam lima sudah jalan kaki. Dua kilometer dari rumah ke depan (kampus) (https://www.ipb.ac.id/news/).
Lantas bagaimana sejarah J Soegiri dan Nawangsari, dua guru besar di Institut Pertanian Bogor (IPB)? Seperti disebut di atas, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa dihubungkan dengan dua nama professor tersebut? Lalu bagaimana sejarah J Soegiri dan Nawangsari, dua guru besar di Institut Pertanian Bogor (IPB)? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
J Soegiri dan
Nawangsari, Dua Guru Besar di Institut Pertanian Bogor (IPB); Menteri Keuangan
RI Purbaya Yudhi Sadewa
Unversitas Indonesia pada fase peralihan dari era kolonial (Belanda) ke era kedaulatan (Indonesia) dilakukan pada tanggal 2 Februari 1950 yang mana pimpinan universitas berganti dari Prof. Dr. Wietse Radsma kepada Ir. RM Pandji Soerachman Tjokroadisoerio. Tanggal peralihan tersebut yakni tanggal 2 Februari 1950 menjadi titik tolak Universitas Indonesia secara resmi beradaulat. Fakultas yang ada adalah: Fakultas Kedokteran, Fakultas Hukum dan Sosial dan Fakultas Sastra dan Filsafat. Tiga fakultas ini berada di Djakarta.
Ada dua fakultas di Bandoeng: Fakultas Teknik dan Fakultas Matematika dan Ilmu Alam; di Bogor ada dua fakultas: Fakultas Pertanian dan Fakulteit Kedokteran Hewan; Fakultas Hukum di Makassar; Fakulteit Kedokteran di Soerbaja. Disamping itu masih terdapat lembaga-lembaga (di Bogor, Bandoeng dan Soerabaja dan tentunya juga di Djakarta).
Mahasiswa-mahasiswa yang lulus ujian transisi pada masa transisi kedaulatan Indonesia ini di Bogor, antara lain: Moh. Ishak untuk ujian kandidat (tahun kedua) dan untuk ujian propaedeutis (tahun pertama): Asrul Sani, JH Hutasoit dan I Gde Njoman Djiwa Darmadja (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 07-02-1950).
Nama Drh Asrul Sani kelak dikenal sebagai sastrawan dan sutradara terkenal. Nama ayah: Marah Sani Syair Alamsyah, nama ibu: Nuraini Nasution. Istri Drh Asrul Sani juga adalah artis cukup terkenal dengan nama Mutiara Sarumpaet (saudara dari Ratna Sarumpaet). Drh Jannes Humuntal (JH) Hutasoit kelak dikenal sebagai Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Peternakan dan Perikanan periode 1983-1988 (namanya diabadikan sebagai Auditorium Fakultas Peternakan IPB)..
JH Hutasoit lulus sarjana kedokteran hewan di Bogor pada tahun 1953 (lihat De nieuwsgier, 08-10-1953). Yang lulus ujian sarjana adalah Soenarjo dan M Pandjaitan. Lalu bagaimana dengan Arsul Sani dan lainnya? Yang jerlas pada tahun 1953 ini yang lulus ujian transisi untuk tingkat propaedeutis diantaranya Soegiri (nama yang diduga kuat kelak ayah dari Dr Ir Purbaya Yudhi Sadewa, PhD, Menteri Keuangan Republik Indonesia).
De nieuwsgier, 08-10-1953: ‘Ujian Universitas. Di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia di Bogor, mahasiswa yang lulus ujian propaedeutik sebagai berikut: Tb Achjani Atmakusuma, Julcham Muslihun, R Soeharto Djojosoedarmo, Ong Sie Boe, I Gusti Bagus Amitaba, MA Dasuki, Soegiri, R Soenarno, dan Sjahfri Sikar; ujian kandidat: Tan Hok Seng, Sanoebari, dan Erom Wargadipoera; ujian sarjana pertama: Soejoto; dan ujian sarjana kedua: Soenarjo, Soepardi Dandesasmita, R Abdulrachman Prawirawinata, JH Hutasoit, dan M Pandjaitan’.
Het nieuwsblad voor Sumatra, 27-02-1954: ‘Untuk kelancaran pekerjaan, Indonesia membutuhkan setidaknya 600 dokter hewan. Saat ini, hanya ada 120 dokter hewan. Minat di bidang ini cukup baik, tetapi bisa jauh lebih baik, demikian dinyatakan. Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor memiliki 170 mahasiswa, dibandingkan dengan 106 di Jogja. Diharapkan 16 kandidat akan menyelesaikan studi mereka tahun ini’. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-10-1954: ‘Ujian. Di Fakultas Kedokteran Hewan Bogor, mahasiswa berikut lulus ujian propaedeutik pada bulan September dan Oktober: Abdurachman (dengan pujian), Sajoga (dengan pujian), Zainul Arifin Arif (dengan apresiasi), Juntiwa (dengan apresiasi), I Gusti Njoman T Temadja (dengan apresiasi), Wirasmono Soekotjo, I Gusti Njoman Sukla, R Hartono, R Hasan Sastrahadiprawira, Hasan Zaini, Rd Darmawan. Ujian kandidat: Rachmana, Abd. Muis Nasution (dengan pujian), Kusmat. Untuk ujian sarjana pertama: Tan Hok Seng (dengan apresiasi), Erom Wargadipura. Untuk ujian sarjana kedua: Rustandi (dengan apresiasi), Soemardi Sastrakusumah, Soeratno. Di Fakultas Teknik Bandung, Lie Han Tiong, Tap King Hok dan Humalatna Naïnggolan lulus insinyur teknik sipil’. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 26-11-1954: ‘Ujian. Berikut ini adalah kandidat yang lulus ujian dokter hewan (veaarts-examen) di fakultas kedokteran hewan di Bogor: JH Hutasoit dan M Pandjaitan’.
Pada ujian tahun 1955 tidak terinformasikan nama Soegiri (lihat De nieuwsgier, 15-02-1955). Mengapa? Yang terinformasikan antara lain adalah Achjani Atmakusuma dan Julcham Muslihun.
De nieuwsgier, 15-02-1955: ‘Ujian Universitas. Di fakultas kedokteran hewan Universitas Indonesia di Bogor, lulus ujian untuk propaedeutic: Herdi Sumeri, Muktiati, GM Nainggolan, Prajogo, Penny Suprapti, Sri Hartini, Warkidi, dan Willingen; untuk kandidat Julcham Muslihun dan Tubagus Achjani Atmakusuma; untuk ujian sarjana pertama: Gratianus Budihardjo dan Sutopo Andar; dan untuk ujian sarjana kedua I Gd Njoman Djiwa Darmadja, M Moh Halil Wanitasasmita, dan D Susetiadi. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 31-05-1955: ‘Ujian. Di Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor, Sri Hadiati dan Ibrahim lulus ujian propaedeutik. Drs R Muchidin Apandi lulus ujian dokter hewan’. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-06-1955: ‘Ujian. Di Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor, lulus ujian kandidat Soeharto Djojosoedarmo dan B. Soenarno. Untuk ujian sarjana pertama, Rd Anggorodi, AA Soerjadi Wiradisoeria, dan Soeprapto Soekardono. Untuk ujian sarjana kedua, Arjo Darmoko’.
Pada masa itu banyak sebab mengapa mahasiswa tidak berkesinambungan kuliahnya dari tahun ke tahun. Misalnya, Asrul Sani pada tahun 1955 di luar kampus sudah menjadi terkenal sebagai penyair (lihat Algemeen Handelsblad, 26-02-1955). Disebutkan dalam beberapa tahun terakhir, hanya sedikit yang dapat disebutkan di sini, penyair terkemuka termasuk: Asrul Sani dan Rivai Apin.
De nieuwsgier, 01-04-1955: ‘Film "Lewat Djam Malam" Membuka Festival Film Indonesia Pertama: Permintaan Tinggi di Metropole. Festival film Indonesia pertama dibuka tadi malam dengan pemutaran meriah di Metropole. Festival ini akan berlanjut hari ini dan beberapa hari mendatang, baik di Metropole maupun di Cathay. Ini adalah festival sederhana, yang sepenuhnya didedikasikan untuk produksi film nasional. Festival ini dimaksudkan sebagai stimulus untuk pembuatan film dan pendahuluan bagi partisipasi Indonesia dalam festival film internasional. Acara seperti ini seharusnya mendorong para pembuat film untuk fokus pada kualitas karya mereka, dan oleh karena itu film yang membuka pemutaran mungkin lebih kurang simbolis, karena merupakan upaya bersama dari dua perusahaan film nasional: Persari dan Perfini. "Lewat djam malam" adalah sebuah cerita, yang skenarionya ditulis oleh Asrul Sani, dan yang mengulas kembali masalah-masalah yang menyertai revolusi—dan sampai batas tertentu masih terjadi hingga kini. Film ini menggambarkan bagaimana seorang pejuang gerilya yang telah demobilisasi berjuang untuk menemukan jalan kembali ke masyarakat. Awalnya, ia mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan normal dan kemudian berhubungan dengan beberapa orang yang, dengan niat baik, menasihatinya tentang bagaimana ia harus "bekerja," tetapi mereka tidak menyadari jarak yang masih memisahkan pria ini dari masa-masa tegang dan bergejolak selama perjuangannya untuk kebebasan dan lingkungan kerja yang tertib di masyarakat di mana, tentu saja, ada juga orang-orang dengan pandangan yang kurang idealis tentang tugas mereka. Tokoh protagonis, khususnya, berulang kali dan dengan keras membenci kelompok yang terakhir. Ia memiliki cita-cita luhur, tetapi ia berhubungan dengan orang-orang yang berpikiran sempit dan bahkan terang-terangan tidak jujur. Dalam hal ini, film ini sangat jujur dan menggambarkan beberapa orang yang tidak simpatik tanpa rasa iba, dan tidak menunjukkan rasa malu palsu dalam menyebut beberapa hal apa adanya…’.
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa: Para Lulusan Veeartsen School hingga Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan Universitas Indonesia di Bogor
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






Tidak ada komentar:
Posting Komentar