Sabtu, 10 Januari 2026

Sejarah Jepang (1): Shizuoka, Prefektur di Pulau Honshu di Jepang; Gunung Fuji, Iklim Lebih Hangat dan Perkebunan Teh Hijau


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini 

Sebelum ini sudah ada ‘sejarah Australia’ dan ‘sejarah Filipina’ dan ‘sejarah Singapura (Malaysia)’. Tiga wilayah di luar ‘sejarah Indonesia’. Artikel ini berjudul Shizuoka adalah artikel pertama ‘sejarah Jepang’. Artikel-artikel dalam ‘sejarah Jepang’ ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari data-data yang tidak digunakan dalam draf buku saya berjudul “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang’. 


Prefektur Shizuoka adalah wilayah di Jepang yang terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah, termasuk sebagian Gunung Fuji, kebun teh yang luas, dan garis pantainya yang indah, serta dikenal sebagai pusat industri otomotif (Honda, Yamaha) dan kuliner khas seperti unagi (belut) dan wasabi. Terletak di wilayah Chūbu, Shizuoka menawarkan perpaduan budaya, sejarah, dan alam, dengan kota Shizuoka sebagai ibu kotanya dan kota terbesar kedua adalah Hamamatsu. Poin-Poin Penting tentang Prefektur Shizuoka: Lokasi: Terletak di pesisir Samudra Pasifik di wilayah Chūbu, berbatasan dengan Kanagawa, Yamanashi, Nagano, dan Aichi; Ibukota: Kota Shizuoka (Shizuoka-shi); Ikon Alam: Gunung Fuji, Semenanjung Izu, Teluk Suruga, Danau Hamana; Industri dan Ekonomi: Pusat manufaktur otomotif (Honda, Suzuki, Yamaha), pusat produksi teh Jepang, dan perikanan. Kuliner: Teh berkualitas tinggi, belut panggang (unagi), wasabi-zuke, dan Unagi Pie; Wisata dan Budaya: Kuil Konuzan Toshogu, Gotemba Premium Outlets, Situs Toro (reruntuhan kuno), Taman Sumpu (bekas Istana Ieyasu); Ramah Muslim: Menyediakan fasilitas dan makanan halal, menjadikannya destinasi yang nyaman bagi wisatawan Muslim. Shizuoka sering disebut sebagai "miniatur Jepang" karena kekayaan alamnya yang beragam, menjadikannya tempat yang ideal untuk menikmati perpaduan antara keindahan alam dan pengalaman budaya yang kaya (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah Shizuoka, prefektur di pulau Honshu, Jepang? Seperti disebut di atas, prefektur (provinsi) Shizuoka memiliki keutamaan: gunung Fuji, perkebunan teh hijau dan iklim yang lebih hangat. Lalu bagaimana sejarah Shizuoka, prefektur di pulau Honshu, Jepang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Shizuoka, Prefektur di Pulau Honshu, Jepang; Gunung Fuji, Perkebunan Teh Hijau dan Iklim Lebih Hangat

Shizuoka awalnya dikenal sebagai suatu distrik dengan ibu kota di Shizuoka. Lalu kemudian nama Shizuoka dijadikan nama provinsi (prefektur). Beberapa prefektur yang berdekatan tahun 1888 digabungkan menjadi satu profektur baru (termasuk di dalamnya eks prefektur Hamamatsu) dengan nama Prefektur Shizuoka dengan ibukota di Shizuoka. Mengapa harus Shizuoka? Boleh jadi karena lebih dekat dari Tokio dan juga kota Shizuoka adalah dengan populasi terbesar di prefektur baru tersebut. 


Penataan wilayah administrasi di Jepang dimulai setelah berakhirnya era Shogun berakhir tahun 1868. Pada tahun 1871 pemerintah Meiji (Meiji Restoration) menerapkan wilayah provinsi (prefektur) secara nasional. Nama Prefektur di Indonesia dimulai pada permulaan era Pemerintah Hindia Belanda semasa Belanda di bawah Prancis (1800). Pasca pendudukan Inggris (1811-1816) terminologi prefektur menghilang. Pada tahun 1834 Gubernur Jenderal Hindia Belanda membentuk satu wilayah administrasi baru di Sumatra dengan menggunakan nama province, yakni Sumatra’s Weskust (Provinsi Pantai Barat Sumatra yang terdiri dari tiga residentie: Padangsche Benelanden, Padangsche Bovenlanden dan Tapanoeli). 

Pada masa ini kota Hamamatsu adalah kota terbesar dengan populasi terbanyak di prefektur Shizuoka (2023: 780,128 jiwa). Bandingkan dengan kota Shizuoka (2023: 677,867 jiwa). Pada masa lampau kota Shizuoka lebih besar dari kota Hamamatsu. Berdasarkan sensus penduduk tahun 1930: Kota Shizuoka berpenduduk 140.800 jiwa, sementara Kota Hamamatsu sebanyak 109.000 jiawa. 


Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap, 1930: ‘Penduduk Jepang. Kementerian Dalam Negeri Jepang telah menerbitkan publikasi yang berisi hasil sensus 1 Oktober 1929. Publikasi tersebut menunjukkan bahwa penduduk Jepang pada saat itu adalah 62.938.200 jiwa. Dari jumlah tersebut, 31.683.400 adalah laki-laki dan 31.254.800 adalah perempuan. Populasi kota-kota kira-kira sepertiga dari populasi pedesaan, yaitu 15.376.500 jiwa dibandingkan dengan 47.561.700 jiwa. Saat ini terdapat 28 kota dengan lebih dari 100.000 penduduk, dipimpin oleh Osaka dengan 2.408.800 penduduk. Tokyo, ibu kota, menyusul dengan 2.294.600 penduduk. Ke-28 kota besar tersebut adalah: Osaka, Tokyo, Nagoya (904,700), Kyoto (755,200), Kobe (755,200), Yokahama (543,500), Hiroshima (276,500), Fukuoka (217,800), Nagasaki (199,800), Sendai (189,300), Sappori (181,100), Hakodate (180,300), Kure (176.900), Kumamoto (162.100), Otaru (156.800), Kanasawa (166.400), Kagosnima (143.000), Yawata (141.900), Shizuoka (140.800), Okayama (136.400), Sakai (124.300), Niigata (123.200), Wakayama (120.700), Sasebo (120.500), Hamamatsu (109.000), Shimonoseki (104.000), Moji (103.400), Yokosuka (101.700). Kesimpulan umum berikut dapat ditarik dari statistik populasi ini: 1. bahwa migrasi dari pedesaan ke kota meningkat dari tahun ke tahun; 2. bahwa angka kelahiran menunjukkan sedikit penurunan dibandingkan dengan sensus sebelumnya; Malthusianisme sekarang juga secara terbuka dikhotbahkan di Jepang, dengan persetujuan dan seringkali bahkan dukungan dari pemerintah; 3. bahwa wilayah tengah dari Shizuoka dan barat berkembang lebih cepat daripada bagian timur; dengan pengecualian Tokyo dan Yokohama, karena gempa bumi tahun 1923 menyebabkan penundaan yang signifikan dalam pembangunan; 4. bahwa pulau Hokkaido (Yezo), yang masih hampir kosong sebelum perang, sekarang mengalami peningkatan yang kuat dalam populasi menetapnya’. Catatan: Penduduk Indonesia pada masa Hindia Belanda, hasil sensus penduduk 1930: 60.727.233 jiwa. 

Nama Shizuoka sendiri dalam bahasa Jepang terdiri dari dua kata: "Shizu" berarti tenang/diam, dan "oka" berarti bukit yang dengan demikian Shizuoka arti kanjinya adalah "bukit tenang" atau "bukit sunyi". Bagaimana dengan nama Hamamatsu? Secara harfiah, nama Hamamatsu mengandung unsur "Hama" (pantai) dan "Matsu" (pohon pinus), yang berarti "Pantai yang ada pohon Pinus". 


Ada keutamaan kota Shizuoka dibandingkan kota Hamamatsu secara geografis. Kota Tokio (eks Jeddo) sebagai pusat (negara) Jepang (dengan kota tetangganya Yokohama: komersial dan kosmopolitan). Untuk mencapai kota Osaka (dengan kota tetanganya Kyoto) dari Tokio naik kereta api uap para penumpang, khususnya orang asing bermalam di kota Hamamatsu yang berada di tengah perjalanan 16 jam (lihat Langs den Tokaido door S Kalff di dalam Eigen haard; geïllustreerd volkstijdschrift, 1895, No. 49). Jalur kereta api ini berada di sepanjang jalur Tokaido (Tokaido, jalan raya kuno antara Tokyo dan Kyoto) yang juga melewati kota Shizuoka dan kota Hamamatsu. Kota Yokohama sendiri adalah kota untuk konsulat negara asing, sementara  kota Kyoto dianggap kota suci orang Jepang. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Gunung Fuji, Perkebunan Teh Hijau dan Iklim Lebih Hangat: Relasi Indonesia dan Jepang

Kota Shizuoka di wilayah prefektur Shizuoka berada di teluk Suruga. Kota Suruga di zaman kuno berada di daerah aliran sungai (DAS) Fuji. Ikon kota Shizuoka pada masa ini dapat dikatakan juga gunung Fuji. Namun sungai Fuji tidak berhulu di gunung Fuji. Sungai yang berhulu di gunung Fuji adalah sungai Urui, sungai yang mengalir di tengah kota Fuji yang sekarang. 


Lantas mengapa disebut gunung Fuji? Tidak diketahui secara pasti. Lalu mengapa disebut teluk Suruga? Boleh jadi karena nama (kerajaan) Suruga sudah dikenal sejak lama. Pada peta 1669, nama Suru(n)ga diidentifikasi sebagai ibu kota kerajaan di jalan kuno jalur Tokaido di sungai Abe yang sekarang. Dalam peta ini nama Shizuoka belum diidentifikasi. Dalam peta tersebut juga diidentifikasi gunung Fuji dan danau Ashi yang sekarang. Nama Fuji juga menjadi nama kota (di sebelah timur laut kota Shizuoka) dimana terdapat dua sungai besar: sungai Fuji dan sungai Urui. Yang berhulu di gunung Fuji adalah sungai Urui. 

Suruga dalam hal ini adalah nama provinsi lama Jepang (Suruga no Kuni) yang sekarang menjadi bagian utama dari Prefektur Shizuoka modern di wilayah Chubu. Pada masa ini ibu kota prefektur Shizuoka adalah Shizuoka City.


Sungai Fuji yang terkenal deras di provinsi Suruga, yang sekarang dilalui jalur kereta api Tokaidö, pertama kali diperbaiki atas perintah Iyeyasu Tokugawa, shogun pertama atau panglima tertinggi klan Tokugawa, yang memegang kekuasaan shogun hingga restorasi tahun 1868. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar