Sejarah Kota Depok (2): Situ Pitara di Depok Disodet untuk Mengairi Persawahan di Tandjong Barat; Bendungan Situ Pitara Ditutup Tahun 1930

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Jumlah situ (danau) di Kota Depok sekarang hanya tinggal 23 buah. Jumlah ini sudah sangat berkurang jumlahnya dibanding pada masa lampau. Dari jumlah situ yang tersisa sekarang, hampir semuanya telah berkurang luasnya. Situ yang lebih awal berkurang luasnya adalah Situ Pitara atau juga kini disebut Situ Pancoran Mas. Lahan yang menjadi lokasi Komplek Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias di Kota Depok yang sekarang adalah eks Situ Pitara. Bagaimana jumlah situ berkurang jumlahnya dan bagaimana pula luasnya berkurang, mari kita telusuri.

Peta Tjipajoeng, 1901
Situ, setu, danau, lake atau meer secara teknis karena gejala alam atau intervensi manusia. Umumnya situ terbentuk karena gejala alam. Akan tetapi ada juga situ akibat kombinasi gejala alam dan intervensi manusia. Di Kota Depok, Situ Rawa Besar terbentuk karena adanya intervensi manusia di masa lampau dalam pembutan bata untuk di pasok ke Batavia. Pabrik batu bata ini disebut lio. Nama kampong Lio diduga berasal dari situasi ini.

Situ Pitara

Situ Pitara atau Situ Pancoran Mas di Kota Depok yang sekarang kini hanya tinggal setengah hektar. Padahal di masa lampau situ yang tidak jauh dari Stasion Depok ini luasnya sekitar tujuh hektar (lihat Rapport de Kommisie Eene Zehaven voor Batavia, 1872). Bagaimana luas Situ Pitara jauh berkurang karena adanya intervensi manusia. Berkurangnya luas situ ini bermula karena berkurangnya debit air dan perluasan sawah di Tandjong Barat sebagai pemicunya. Beritanya ditemukan pada tahun 1930 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 21-07-1930).  

Sejarah Kota Depok (1): Menyusun Kembali Sejarah Depok; Cornelis Chastelein Pionir Gemeente (Kota) Depok

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Untuk memahami sejarah suatu kota yang sebenarnya, perlu memeriksa (menguji) kembali data dan informasi masa lalu. Berdasarkan data dan informasi yang lebih baik (lebih lengkap dan lebih akurat), perjalanan suatu area menjadi kota, sejarah suatu kota baru dapat disusun. Demikian juga dengan Sejarah Kota Depok. Penelusuran yang cermat dan komprehensif akan sendirinya memberikan gambaran seutuhnya bagaimana kota bermula (origin), bagaimana kota berkembang dan bagaimana kota lestari hingga ini hari.

Stasion Depok, 1925
Sesungguhnya, sejak awal saya ingin menulis Sejarah Kota Depok. Akan tetapi saya tunda dulu. Saya memikirkan ulang, ada baiknya saya mulai dari Sejarah Batavia (Jakarta), Sejarah Preanger (Bandung) dan Sejarah Buitenzorg (Bogor). Hal ini tidak saja karena ketiga kota ini adalah kota besar tetapi juga karena (kota) Depok berada di garis continuum tiga kota tersebut. Paralel dengan itu saya juga (telah) menulis Sejarah Padang Sidempuan, Sejarah Tapanuli, Sejarah Kota Medan dan Sejarah Kota Padang. Pada hari ini, sebelum saya melanjutkan langkah berikutnya menulis Sejarah Semarang, Sejarah Soerabaja, Sejarah Macassar dan Sejarah Koeala Loempoer, saya harus menyelesaikan Sejarah Kota Depok terlebih dahulu. Semua itu pada nantinya dapat dirangkaikan menjadi satu kesatuan pemahaman dalam pelukisan gambaran awal Nusantara (baca: Sejarah Indonesia).

Serial Sejarah Kota Depok ini (seperti sejarah kota-kota lain) akan dibuat berdasarkan tematik, setiap artikel akan mendeskripsikan topik-topik tertentu (relevan) yang akan menyajikan asal mula (origin) hingga puncak-puncak perkembangan kota. Topik-topik tersebut (Depok) akan dikaitkan dengan wilayah dekat (regional) dan wilayah yang lebih luas (nasional). Dengan mengacu pada kurun waktu sejaman (data historis) dan spasial diharapkan penulisan Sejarah Depok yang sebenarnya dapat tersusun dengan baik. Mari kita mulai dari artikel pertama: Cornelis Chastelein: Pionir Kota Depok.