Sejarah Bogor (23): Kereta Api Batavia-Buitenzorg via Depok (1873); Rencana Awal Batavia-Bekasi-Buitenzorg (1864)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disin


Pembukaan jalur kereta api Batavia dan Buitenzorg sangat berdampak luas: menghubungkan istana di Bogor dan istana di Batavia; memudahkan transportasi penduduk maupun wisatawan yang ke Buitenzorg. Manfaat lainnya adalah menjadi angkutan utama barang dan komoditi dari hulu sungai Ciliwung. Jalur kereta api Batavia-Buitenzorg mulai dioperasikan tahun 1873. Jalur ini dikelola oleh swasta (NIS).

Stasion Buitenzorg, 1880
Pembukaan jalur Batavia-Bogor telah mengoptimalkan perkebunan-perkebunan di Buitenzorg dan wilayah pertanian penduduk. Sebagaimana diketahui sudah sejak lama antara Batavia dan Buitenzorg terjadi komersiaisasi lahan (land) dan terbentuknya perkebunan-perkebunan (onderneming). Jalur antara Batavia dan Buitenzorg yang dibuka tahun 1873 merupakan kelanjutan jalur kereta api barang dari Jakarta kota yang sekarang dari dan ke pelabuhan baru di Tandjong Priok. Stasion Buitenzorg, 1880.

Jalur Kereta Api: Batavia-Bekasi-Buitenzorg

Di ’sGravenhage (kini Den Haag) telah ada rencana konsesi pada tahun 1864 untuk mengeksploitasi jalur kereta api di (pulau) Jawa. Yang mendapat hak konsesi ini adalah JE Banck Cs. Rencana ini sudah dituangkan dalam proposal dan sudah dipetakan. Dalam peta tersebut, jalur kereta api yang akan dibangun untuk ruas Batawia-Buitenzorg melalui Bekasi, Tjibidong (Cibitung), Tjilengsi dan Tjitrap (Citeureup).  

Peta Proyeksi Rel Kereta Api di (pulau) Jawa, 1864
Konsesi eksploitasi kereta api di Jawa ternyata menarik perhatian pengusaha lainnya. Adalah Stieltjies Cs yang coba memasukkan proposal untuk membuka jalur lain. Pada ruas Batawia-Buitenzorg, Stieltjies Cs akan membuka jalur Batavia-Buitenzorg melalui Tjilengsi (tidak melalui Bekasi seperti Banck Cs).

Perubahan peta proyeksi pembangunan kereta api di (pulau) Jawa segera berubah tahun berikutnya (1865). Untuk ruas Batavia-Buitenzorg akan dioperasikan oleh dua operator: Banck Cs dan Stieltjies Cs. Masuknya investor baru, Banck Cs tetap merencanakan jalur semula (tanpa perubahan). Stieltjies Cs akan membuat jalur baru antara Batavia-Buitenzorg tidak melalui Bekasi tetapi dari Batavia langsung ke Tjilengsi.

Peta Proyeksi Rel Kereta Api di (pulau) Jawa, 1865
Realisasi jalur kereta api pertama di Hindia Belanda (dalam hal ini masih terbatas di pulau Jawa) terjadi tahun 1867 yang menghubungkan jalur Semarang dengan luar kota (26 Km). Jalur ini dibuka untuk umum pada tanggal 10 Augustus 1867. Pada tahun 1870 dibuka jalur Semarang-Surakarta.

Namun dalam perkembangannya pembangunan jalur kereta api ruas Batavia-Buitenzorg tidak segera dimulai. Sementara jalur kereta api di wilayah Semarang berlangsung sesuai rencana dan sudah mulai beroperasi pada tahun 1867. Apa yang menyebabkan kelambatan untuk pengoperasian kereta api jalur Batavia-Buitenzorg diduga karena alasan-alasan teknis (berdasarkan studi kelayakan lebih lanjut).

Tampaknya jalur kereta api ruas Batavia-Buitenzorg tidak efisien melalui Bekasi dan juga tidak efisien melalui sisi timur sungai Tjiliwong. Pembangunan yang efisien adalah melalui sisi barat sungai Tjiliwong (sebagaimana yang kita lihat sekarang): Batavia- Depok-Buitenzorg.

Bataviaasch handelsblad, 29-01-1873
Akhirnya realisasi pembangunan kereta api ruas Batavia-Buitenzorg direalisasikan pada tahun 1869.  Pembangunan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg ini ditandai dengan pencangkulan pertama yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal pada tanggal 25 October 1869. Pembangunan jalur kereta api ruas Batavia-Buitenzorg via Depok selesai dan awal operasi dimulai tanggal 31 Januari 1873 (lihat Bataviaasch handelsblad, 29-01-1873).

Jadwal Kereta Api Batavia (Jakarta Kota)-Buitenzorg (Bogor)

Jadwal Buitenzorg-Batavia (Bataviaasch handelsblad, 29-01-1873)
Jalur kereta api Batavia-Buitenzorg melayani penumpang diantara dua kota ini yang mana kereta api berhenti pada setiap halte yang telah ditentukan. Jalur kereta api Batavia-Buitenzorg ini terdiri dari satsion utama (hoofdstatsion), stasion (stasion kecil), halte (halte besar) dan overweg (halte kecil). Stasion utama berada di Batavia lama (Stadhuis/NIS) dan Buitenzorg. Stasion antara berada di Meester Cornelis (stasion Jatinegara yang sekarang). Untuk halte dan overweg terdapat di: Cileboet, Bodjong Gede, Tjitajam, Depok, Pondok Tjina, Lenteng Agoeng, Pasar Minggoe. Halte lainnya terdapat di Pegangsaan (kini Cikini), Koningsplein (kini Gambir), Noordwijck (kini Juanda) dan Sawah Besar. Satu lagi halte yang terpisah adalah halte Kleine Boom (Pasar Ikan?).

Jadwal Batavia-Buitenzorg (Bataviaasch handelsblad, 29-01-1873)
Pada hari pertama operasi kereta api Batavia-Buitenzorg sudah diterapkan langsung penjadwalan tetap. Penjadwalan tetap ini meliputi ketentuan pemberhentian di setiap stasion/halte menurut waktu keberangkatan dan kedatangan. Ketentuan ini secara umum adalah jadwal Batavia-Buitenzorg dan jadwal Buitenzorg-Batavia. Hanya ada dua jadwal keberangkatan dari Buitenzorg ke Batavia (Trein VII pukul 07.01 dan Trein XVII pukul 14.28). Sebaliknya hanya ada dua jadwal keberangkatan dari Batavia ke Buitenzorg (Trein II pukul 07,12 dari Kleine Boom dan Tein XIV pukul 15.09 dari Batavia ). Untuk jadwal kereta antara Batavia-Meester Cornelis lihat Tabel-1 dan Tabel-2.

Interchange Tjikini dan Stasion Tanah Abang

Jalur interchage di Cikini (Peta 1903)
Pada Peta tahun 1903 terlihat sudah ada jalur kereta yang menghubungkan antara jalur Batavia-Jawa dan Batavia-Buitenzorg di Tjikini. Jalur penghubung (interchange) ini belum ada pada Peta 1897. Pembangunan jalur ini dihubungkan dengan perluasan kereta api ke Banten dengan stasion penghubung di Tanah Abang. Dengan adanya jalur interchange di Cikini ini di satu pihak kereta dari Jawa bisa ke Tanah Abang dan kereta dari Buitenzorg bisa ke Jawa. Peta 1903

Jaringan kereta/trem di Batavia (Peta 1908)
Stasion interchange Tjikini (Gang Kenari) juga memungkinkan kereta dapat melakukan pemberangkatan dari Stasion Batavia (BOS) ke Tanah Abang lalu ke Banten. Hal ini juga memungkinkan kereta dari Jawa langsung ke Tanah Abang, kemudian Doeri dan kembali ke stasion Batavia (BOS) terus ke Kampung Bandan dan Tanjong Priok. Atau sebaliknya, dari Tandjong Priok e Jawa melalui Kampung Bandan, Batavia (BOS), Doeri, Tanah Abang lalu interchange Tjikini dan seterusnya ke Jawa. Jalur ini juga dapat dianggap jalur lain menuju ke barat (Baten): jalur Stadhuis (BOS) ke Doerie lalu Pesing ke Tangerang; dan jalur Stadhuis (BOS) ke Doerie lalu Tanah Abang kemudian ke Tjiledug lalu ke Rangkas Bitoeng (Banten). Peta 1908

Jalur interchage yang baru di Manggarai (Peta 1925)
Dalam perkembangannya, stasion interchange Tjikini telah  digantikan stasion interchange yang baru di Manggarai. Pembangunan ini termasuk pertimbangan untuk menghilangkan rel dari Menteng. Rel yang baru ke Tanah Abang melalui selatan Menteng. Dalam pembangunan rel baru ke Tanah Abang ini juga termasuk pembuatan kanal baru (Kanal Barat) yang dihubungan dengan kanal yang sudah ada sejak doeloe di Tanah Abang (kanal sodetan dari Kali Kroekoet). Pembangunan stasion Manggarai (eks stasion Boekit Doeri) juga telah menghilangkan stasion Meester Cornelis (yang fungsinya sebagai dipo Bukit Duri seperti yang ada sekarang). Pembangunan stasion Manggarai dilakukan tahun 1914 dan selesai tahun 1918. Sejauh ini kereta komuter hanya jalur Batavia-Buitenzorg (NIS) dan belum ada jalur komuter dari dan ke Bekasi. Peta 1925.

Setelah selesai pembangunan stasion Manggarai, interchange antara stasion Jatinegara dan stasion Manggarai dan rel kereta api ke Tanah Abang via selatan Perumahan Menteng, maka interchange Cikini tidak difungsikan lagi. Lambat laun jejak rel kereta api di Gang Kenari hilang selamanya. Namun demikian, jembatan rel kereta api di atas sungai Ciliwung masih kelihatan situsnya hingga ini hari. Jembatan itu masih tampak kokoh.
Eks jembatan kereta di atas sungai Ciliwung di Cikini (ft internet)
Saya sudah lama bertanya-tanya di dalam hati, mengapa ada begitu kokoh jembatan ini jika hanya sekadar untuk jembatan penyeberangan orang. Saya memang tidak berkeingiuan menanyakan kepada penduduk sekitar. Jembatan ini kerap saya lewati jika berjalan kaki dari belakang kampus UI Salemba ke stasion Cikini. Jembatan besi ini (sekarang di atas rel sudah dicor beton) ukuran lebarnya cukup untuk gerbong kereta api. Saat ini jalan menuju jembatan ini dari Pasar Kenari dan dari Pasar Cikini hanya gang kecil yang hanya bisa dilalui motor (bajaj pun tidak cukup). Saat menulis artikel inilah saya baru bisa saya jawab sendiri. Eureka!


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber ang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar