Sejarah Kota Padang (28): Volksraad dan Mangaradja Soangkoepon; Sumatra, Pintu Gerbang Indonesia, Bukan Pintu Belakang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Mangaradja Soangkoepon protes keras. Mangaradja Soangkoepon melakukan protes keras karena punya alasan yang kuat untuk menyatakan secara terbuka bahwa Sumatra adalah ‘pintu gerbang Indonesia’ dan bukan pintu belakang. Statement ini dikemukakan  Mangaradja Soangkoepon di parlemen pusat (Volksraad) tahun 1931 untuk menyindir pemerintah Hindia Belanda dan anggota Volksraad yang berasal dari Jawa yang membangun Indonesia hanya terkonsentrasi di Jawa dan mengabaikan pulau-pulau besar lainnya.

Volksraad, 1930
Protes Mangaradja Soangkoepon muncul seiring dengan semakin seringnya istilah ‘orang seberang’ untuk memperkuat eksklusivitas mainstream pembangunan berada di Jawa, dan luar Jawa sebagai pelengkap. Kota-kota besar di Sumatra seperti Medan, Padang dan Sibolga adalah muara ekspor utama ke Eropa. Namun kenyataannya hanya prinsip ‘trickle down effect’ yang dilestarikan: Luar Jawa hanya kebagian jika di Jawa sudah meluber.

Mangaradja Soangkoepon

Mangaradja Soangkoepon dan Mohammad Hoesni Thamrin adalah ‘duo vokalis’ terpenting di Pedjambon, tempat anggota dewan Volksraad bersidang (kini di Senayan). Mangaradja Soangkoepon memiliki koneksi yang baik dengan semua anggota dewan dari Sumatra dan M. Hoesni Thamrin dari Betawi. MH Thamrin yang merupakan anggota dewan dari Kaoem Betawi tampaknya mendukung statement Mangaradja Soangkoepon.