Sejarah Kota Padang (27): Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dan Mohamad Hatta di Belanda; Parada Harahap dan PPPKI

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Sejarah Mohammad Hatta sudah ditulis seluruhnya. Namun masih ada catatan yang tercecer yang kiranya perlu diungkapkan. Ini soal organisasi-organisasi kebangsaan Indonesia. Organisasi-organisasi yang selalu berkaitan dengan tokoh-tokoh muda dari Pantai Barat Sumatra. Sebagaimana diketahui, organisasi pemuda (pelajar) di Belanda yang diberi nama baru tahun 1921 Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) diketuai oleh Mohammad Hatta adalah transformasi Indisch Vereeniging yang didirikan oleh Soetan Casajangan tahun 1908.

Trio Revolusioner: Parada Harahap, Soekarno dan Moh. Hatta
Perhimpunan Pelajar Indonesia adalah transformasi Indisch Vereeniging yang sempat disela oleh kelahiran Sumatrane Bond di Belanda. Indisch Vereeniging dan Sumatranen Bond didirikan sebagai respon terhadap Jawa sentris yang diusung oleh Boedi Oetomo. Sedangkan Perhimpunan Pelajar Indonesia didirikan untuk merekatkan kembali anak bangsa yang memicu lahirnya Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Integrasi vs Disintegrasi

Dalam awal pembentukan bangsa Indonesia sesungguhnya sudah ada soal disintegrasi. Perhimpunan Hindia (Indsich Vereeniging) yang didirikan tahun 1908 di Belanda secara terbuka adalah awal untuk merekat bangsa yang terpisah-pisah dan tempat-tempatnya satu sama lain berjauhan. Indsich Vereeniging didirikan di satu sisi untuk merespon Boedi Oetomo (bersifat kedaerahan) dan di sisi lain untuk meluruskan kembali peran Medan Perdamaian (bersifat nasional) yang didirikan Dja Endar Moeda tahun 1900 di Kota Padang.

Namun dalam perkembangannya, pada awal tahun 1917 diproklamirkan Jong Sumatra di Belanda di bawah wadah Sumatra Sepakat untuk memberi respon terhadap anggota Indsich Vereeniging yang berasal dari (pulau) Jawa yang mulai berkiblat ke Boedi Oetomo. Lalu pada akhir tahun 1917 untuk mendukung mahasiswa-mahasiswa asal Sumatra di Belanda, di Batavia didirikan Jong Sumatra di bawah wadah Sumatranen Bond. Sejak itu, mahasiswa pribumi seakan terkotak-kotak.

Pada tahun 1919 Sumatranen Bond melakukan kongres pertama di Kota Padang. Kongres pertama ini dihadiri tokoh-tokoh pemuda asal Sumatra di Jawa dan Belanda. Tokoh pemuda (termasuk pelajar) dari internal Sumatra yang mencuat namanya adalah tokoh pemuda dari Tapanoeli bernama Parada Harahap yang baru mendirikan surat kabar bernama Sinar Merdeka di Kota Padang Sidempuan dan tokoh pelajar Mohammad Hatta. Dalam kongres ini juga hadir pentolan PNI dari West Sumatra, teman sekelas Dr. Tjipto (pendiri PNI) dulunya di Docter Djawa School bernama Dr. Abdoel Hakim Nasoetion (kelak, 1931 menjadi wakil Wali Kota Padang).

Koneksi Tiga Tokoh Integrasi

Soetan Casajangan memperkenalkan organisasi bagi kalangan mahasiswa yang dimulai di Belanda, yang diberi nama Indisch Vereeniging (1908).  Pada tahun 1921 Parada Harahap dan Mohammad Hatta adalah dua tokoh pemuda yang melejit namanya yang menjadi simpul-simpul lahirnya gagasan kebangsaan menuju Indonesia Merdeka. Parada Harahap dan Mohammad Hatta yang lahir di tengah hiruk pikuk Jong Sumatra dengan wadah Sumatranen Bond pada waktunya mewujudkan kembali persatuan dan kesatuan bangsa.

Saat Mohammad Hatta tengah kuliah di Belanda mulai memperbarui Indische Vereeniging dengan nama baru Persatoean Peladjar Indonesia (PPI). Organisasi transformasi Indisch Vereeniging ini didirikan tahun 1922 di Leiden (tempat dimana tahun 1908 Indisch Vereeniging didirikan oleh Soetan Casajangan dan kawan-kawan). Organisasi mahasiswa yang sudah terkotak-kotak mulai dirajut kembali dengan membingkainya dengan terbentuknya Persatoean Peladjar Indonesia (PPI).

Persatoean Peladjar Indonesia (PPI) di Belanda yang diketuai oleh Mohammad Hatta direspon baik di Batavia dengan mendirikan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) tahun 1926. Uniknya organisasi ini dimotori oleh mahasiswa-mahasiswa asal (pulau Jawa). Pada tahun 1927, Ketua PPPI Batavia kemudian dipegang oleh Soegondo Djojopoespito. Salah satu anggota PPPI asal Sumatra yang kelak sangat terkenal adalah Amir Sjarifoeddin.

Pendirian PPPI di Batavia ini merupakan copy paste dari PPI di Belanda mirip dengan pendirian Sumatranen Bond di Batavia tahun 1917 yang copy paste dari Sumatra Sepakat di Belanda. Pendirian PPPI di Batavia diduga kuat atas peran Amir Sjarifoeddin. Sebagaimana diketahui, Amir Sjarifoeddin adalah mahasiswa tingkat pertama di Recht School di Batavia (Sumatranen Bond sendiri dibidani oleh mahasiswa-mahasiswa STOVIA). Amir Sjarifoeddin yang menyelesaikan pendidikan tingkat sekolah menengah di Belanda pada tahun 1925 sudah kuliah bidang hukum di Universiteit Leiden. Pada saat dinyatakan lulus naik ke tingkat dua, Amir Sjarofoeddin pulang kampong di Sibolga karena masalah keluarga. Namun kemudian Amir Sjarifoeddin tidak kembali ke Belanda tetapi memulai kembali studi bidang hukumnya di Recht School di Batavia. Sudah tentu, Amir Sjarifoeddin sangat kenal dekat dengan Mohammad Hatta.

Pada tahun 1927 di Batavia Parada Harahap, pemimpin surat kabar Bintang Timoer, ketua KADIN pribumi Batavia dan sekretaris Sumatranen Bond melihat peluang dan mulai menggagas untuk memperrsatukan perhimpunan kebangsaan Indonesia, seperti Sumatranen Bond, Boedi Oetomo, Pasoendan, Kaoem Betawi dan lan sebagainya ke dalam wadah tunggal. Setelah rapat di rumah Husein Djajadiningrat yang juga dihadiri Soetan Casajangan (Direktur Normaal School Meester Cornelis) serta dua anggota Volksraad MH Tamrin (dapil Batavia) dan Mr. Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soeangkoepon) disepakati membentuk supra organisasi yang diberi nama Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Sebagai ketua diangkat MH Thamrin dan sebagai sekretaris ditunjuk sang penggagas Parada Harahap.

Mr. Soetan Casajangan dan Mr. Husein Djajadiningrat, PhD adalah pendiri Indische Vereeniging tahun 1908 di Leiden, Belanda dimana ketua pertama Soetan Casajanagan dan sekretaris Husein Djajadiningrat. Mangaradja Soeangkoepon salah satu anggota aktif. Kini, ketiga tokoh awal pergerakan kebangkitan bangsa ini berdiri di belakang dan memfasilitasi dibentuknya PPPKI. Dalam mengubah pakem Boedi Oetomo yang tetap kukuh berisfat kedaerahan Parada Harahap meminta Radjamin, teman sekelas Dr. Soetomo di STOVIA dulu untuk mempengaruhinya. Strategi ini sangat moncer. Untuk sekadar proyeksi: Kelak MH Thamrin (wakil Wali Kota Batavia) dan Dr. Abdoel Hakim Nasoetion (wakil Wali Kota Padang) besanan. Anak Dr. Abdoel Hakim bernama Mr. Egon Hakim menikah dengan putri dari MH. Thamrin. Untuk sekadar proyeksi lagi: Kelak, Radjamin Nasoetion menjadi anggota dewan kota Soerabaya atas rekomendasi Dr. Soetomo yang kala itu direktur rumah sakit di Surabaya. Dalam perkembangannya nanti Radjamin Nasoetion menjadi Wali Kota pribumi pertama Kota Surabaya.

Pada tahun 1928 ada dua agenda besar PPPKI (yang berkanto di Gang Kenari) yakni melakukan Kongres PPPKI dan mendukung dan memfasilitiasi Kongres Pemuda. Hanya ada tiga foto yang digantung di dinding di kantor PPPKI di Gang Kenari (Soeltan Agoeng, Soekarno dan Hatta). Mengapa demikian mudah dipahami (kita lihat nanti). Parada Harahap, sekretatis PPPKI (senior) lalu berkoordinasi dengan organisasi PPPI (junior). Lalu dibentuk panitia Kongres Pemuda dimana sebagai ketua adalah Soegondo dan bendahara adalah Amir Sjarifoeddin. Mengapa Amir Sjarifoeddin yang diharapkan Parada Harahap sebagai bendahara Kongres Pemuda 1928 sesungguhnya mudah dipahami. Kongres Pemuda (sebangaimana Kongres PPPKI) jelas membutuhkan biaya masing-masing yang tidak sedikit. Saat itu, Parada Harahap yang telah memiliki media tujuh buah dan berbagai usaha adalah Ketua KADIN pribumi Batavia.

Kongres PPPKI II Solo: Parada Harahap dan Sukarno
Dalam dua kongres di Batavia ini, Parada Harahap mengundang hadir untuk diberi kesempatan pidato di Kongres PPPKI, namun dengan sopan Mohammad Hatta mengirim surat kepada Parada Harahap: ‘Dengan segala hormat Bang, saya tidak bisa hadir karena kesibukan akhir perkuliahan. Namun begitu saya mewakilkan PPI dengan mengutus Ali Sastroamidjojo. Dalam Kongres PPPKI ini Parada Harahap mengundang Soekarno dan bersedia hadir untuk mengambil tempat di podium. Sementara Amir Sjarifoeddin fokus di Kongres Pemuda. Untuk sekadar diketahui: Parada Harahap, sang revolusioner (pendiri surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempuan tahun1919) adalah mentor politik praktis dari tiga tokoh muda revolusioner: Soekarno, Hatta dan Amir. Di Gang Kenari, Soekarno kerap datang dari Bandoeng bertandang untuk berdiskusi dengan Parada Harahap. Tulisan-tulisan Soekarno kerap pula dimuat di surat kabar Bintang Timoer (milik Parada Harahap). Mohammad Hatta sudah lama dikenal Parada Harahap sejak di Padang pada awal era Sumatranen Bond. Amir Sjarifoeddin yang sekampung dengan Parada Harahap di Padang Sidempuan tidak perlu dijelaskan.    

Bersama Melawan Belanda

Pada 29 Desember 1929 Soekarno dikabarkan ditangkap di Jogjakarta. Penangkapan ini hanya berselang dua hari setelah usai Kongres PPPKI kedua di Solo tanggal 27 Deesember 1929. Sukarno baru disidang pada 18 Juni 1930 di pengadilan negara di Bandung. Sukarno dituntut empat tahun penjara (di Sukamiskin, Bandung). Ada sembilan belas sesi dan permohonan Sukarno "Indonesia Menggugat" sepotong terkenal, diterbitkan dalam bahasa Belanda maupun dalam bahasa Indonesia (Nieuwsblad van het Noorden, 11-01-1969).

Melihat Soekarno, ‘anak buahnya’, Parada Harahap mulai menyingsingkan lengan baju. Radja delik pers sejak dari kota kelahirannya di Padang Sidempuan sudah kenyang siasat pemerintah Belanda melalui intel dan polisi Belanda mulai gerah. Parada Harahap sudah 100 kali dimejahijaukan dan beberapa kali masuk bui. Delik pers Parada Harahap yang terakhir (yang ke 101) adalah sebagai berikut:

De Sumatra post, 06-01-1931: ‘Mr Parada Harahap berdiri untuk keseratus kalinya di meja hijau. Kali ini Parada Harahap dipanggil ke pengadilan karena korannya memuat iklan tagihan hutang. Si penagih hutang digugat karena dianggap mencemarkan nama dan juga editor Bintang Timoer, Parada Harahap juga diseret. Ketika dituduhkan kepada Parada Harahap  bahwa ikut bertanggungjawab karena iklan itu menjadi pendapatannya (sumber penerimaan). Parada menjawab: ‘Bagaimana saya bertanggungjawab?’. Polisi mencecar: ‘Anda kan direktur editor?’. ‘Iya betul, tapi saya hanya bertanggungjawab untuk bagian jurnalistik’, jawab Parada Harahap enteng lalu menandaskan, ‘bagian administrasi bertanggungjawab untuk iklan’. Polisi terus mencecar: ‘Ah’, kata Sheriff, ‘tanya sekarang, setuju bahwa di koran Anda muncul iklan cabul, apakah Anda akan mengatakan tidak bertanggung jawab?’. Parada Harahap spontan menjawab: ‘Oh, kalau soal itu tanggungjawab saya’.

Soekarno sudah ditangkap, dipenjara dan kemudian diasingkan. Mohammad Hatta masih sibuk dengan tesis di Belanda. Amir Sjarifoeddin masih muda. Lalu, dengan tangan yang sudah dikepal setelah lengan baju disingsingkan, Parada Harahap berteriak, Belanda harus dienyahkan dari bumi pertiwi. Parada Harahap mulai menyusun strategi dengan memprovokasi pemeritah Belanda. Parada Harahap akan memimpin rombongan Indonesia pertama melawat ke Jepang.

Pada akhir tahun 1933, Parada Harahap benar-benar menunaikan janjinya. Dengan kapal Panama Maru Parada Harahap memimpin rombongan tujuh orang pertama berangkat ke Jepang. Dalam rombongan ini terdapat tujuh tokoh revolusioner yang terdiri dari berbagai bidang. Abdoellah Loebis, pemimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan. Seoang guru revolusioner daro Bandueng, Seorang pengusaha batik revolusioner dari Pekalongan. Seorang pengsuaha manufaktur dan seorang pengusaha pertanian. Last but not least: seorang akdemisi, yakni Mohammad Hatta yang baru lulus studi di Belanda dan sudah pulang ke tanah air.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar