Sejarah Jakarta (50): Sejarah Menteng dan Presiden Suharto; Landhuis Land Menteng Menjadi Perumahan Elit Menteng, 1910


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Nama Menteng cukup terkenal. Pada masa ini nama Menteng ditabalkan sebagai nama kelurahan dan kecamatan di Jakarta Pusat. Tempo doeloe di Kampong Menteng terdapat landhuis Menteng. Paling tidak landhuis Menteng ini sudah dipetakan pada tahun 1825 (lihat Peta 1825). Hingga tahun 1897 (lihat Peta 1897) landhuis Menteng masih merupakan satu-satunya bangunan permanen di Land (tanah partikelir) Menteng. Land Menteng ini kira-kira seluas Kelurahan Menteng yang sekarang.

Landhuis di Land Menteng (Peta 1897)
Pada masa ini letak landhuis Menteng berada di sisi utara kanal barat (jalan Latuharhari). Di atas kanal barat ini terdapat dua jembatan yakni jembatan di jalan Teuku Cik Ditiro (Guntur) dan jembatan di jalan Sukabumi (Pasar Rumput). Jembatan Cik Ditiro ini pada masa dulu dari Gandangdia menuju Mampang Prapatan (lewat Koeningan), sedangkan jembatan Sukabumi dari Pegangsaan (Metropole yang sekarang) menuju Pantjoran (lewat jalan Menteng Wadas Timur yang sekarang). Posisi gps landhuis Menteng doeloe pada masa kini di jalan Latuharhari di sebelah barat jembatan Cikditiro.

Landhuis Menteng pada tempo doeloe adalah salah satu dari landhuis yang berada di tanah-tanah partiekelir (land) yang terdapat di wilayah Residentie Batavia. Landhuis terdekat dari landhuis Menteng adalah landhuis di Land Struiswijk (kini Kampus UI Salemba) dan landhuis di Land Matraman (tempat dimana Presiden Barack Obama pernah tinggal semasa kecil).

Sejarah Jakarta (49): Sejarah Matraman dan Presiden Barack Obama; Landhuis Weg di Land Matraman Kini Menjadi Jalan Tambak


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini 

Nama Matraman cukup terkenal. Pada masa ini nama Matraman ditabalkan sebagai nama kecamatan di Jakarta Timur. Tempo doeloe di Kampong Matraman terdapat landhuis Matraman (lihat Peta 1825). Letak landhuis ini berada di sisi barat sungai Tjiliwong. Dari landhuis ini dihubungkan sebuah jalan dan jembatan di atas sungai Tjiliwong menuju jalan pos (Postweg) di pertemuan jalan Salemba dan jalan Matraman yang sekarang.

Landhuis Matraman (Peta 1904)
Di Jakarta tempo doeloe banyak ditemukan tanah-tanah partikelir (landerein). Keberadan tanah-tanah partikelir ini secara langsung di sekitar landhis telah memicu dan memacu pertumbuhan dan perkembangan dalam bidang: pertanian, infrastruktur, transportasi,  ekonomi, sosial dan budaya serta lainnya. Itulah mengapa keberadaan tanah-tanah partikelir di Jakarta pada masa lampau penting dalam sejarah Kota Jakarta.

Jalan yang berada di sekitar landhuis yang disebut Landhuis laan setelah era NKRI diubah menjadi jalan Tambak (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-10-1950). Jalan Tambak ini mulai dari stasion Manggarai hingga persimpangan jalam Proklamasi.

Sejarah Jakarta (48): Sejarah Istana Negara dan Istana Merdeka di Koningsplein; Istana Gubernur Jenderal di Lapangan Monas


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini
 

Banyak istana di Indonesia tetapi hanya beberapa buah istana negara (istana kepresidenan) dan hanya satu buah Istana Merdeka. Kembaran Istana Negara yang berada di Lapangan Monas inilah yang disebut Istana Merdeka, tempat Presiden Republik Indonesia bekerja. Apakah karena fungsinya yang berbeda, lalu letak Istana Negara menghadap ke utara di sisi jalan Veteran, sementara Istana Merdeka menghadap ke selatan di sisi Lapangan Monas (dulu disebut Koningsplein). Istana Negara ini dulu di era Pemerintah Hindia Belanda disebut Hotel (istana) Gubernur Jenderal.

Istana Gubernur Jenderal di Koningsplein (Rijswijk-Noordwijk, 1740)
Bayangkan di masa lampau di era VOC, dibangun dua benteng (fort) di selatan stad (kota) Batavia yakni fort Rijswijk (di sisi timur sungai Kroekoet) dan fort Noordwijk (di sisi barat sungai Tjiliwong). Dalam perkembangannya antara dua benteng ini dibangun kanal dengan menyodet sungai Tjiliwong dan airnya diteruskan menuju sungai Kroekoet. Kanal tersebuat pada masa ini dikenal sebagai kali yang berada diantara jalan Juanda dan jalan Veteran yang sekarang. Di sisi jalan Veteran yang sekarang menghadap ke utara pada masa lampau sebuah bangunan mewah yang disebut Hotel Rijswijk yang menjadi kediaman Gubernur Jenderal. Sementara pekarangan belakang hotel (istana) tersebut dijadikan ruang terbuka yang disebut Koningsplein.

Sejarah awal Istana Negara di Lapangan Monas ini sudah sangat banyak ditulis. Namun bagaimana Istana Gubernur Jenderal (Palace of  Governor General) ini bermula dan bagaimana dinamika yang terjadi di area sekitarnya kurang terperhatikan. Tidak terlalu menarik memang, tetapi justru disitulah menariknya mengapa perlu mendeskripsikannya. Untuk itu, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (47): Pasar Senen, Pasar Snees, Pasar Lama di Weltevreden; Cornelis Chastelein, Vinck, Mossel, Parra, Daendels


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Pasar Senen buka tiap hari, tetapi tempo doeloe awalnya hanya buka pada hari Senin. Pasar ini terbentuk di sisi jalan poros (hoofdplaat) baru antara benteng (fort) Noordwijk di Batavia melalui kampong-kampong utama di sisi timur sungai Tjiliwong hingga fort Padjadjaran di hulu sungai Tjiliwong. Fort Noordwijk dibangun 1660 dan fort Padjadjaran dibangun 1687. Pasar ini dibentuk untuk menggeser pusat transaksi ke luar stad (kota) Batavia agar terjadi pertemuan pedagang-pedagang Tionghoa dan Arab dari Batavia dengan pedagang-pedagang pribumi dari wilayah pedalaman.

Jalan poros lama adalah antara benteng (fort) Noordwijk dengan pedalaman di sisi barat sungai Tjiliwong melalui Tjikini, Kalibata, Sringsing, Pondok Tjina, Depok terus ke hulu sungai Tjiliwong di benteng Padjadjaran. Oleh karena sisi timur dianggap lebih aman maka dibuka jalan baru sehubungan dengan pembangunan jembatan di atas sungai Tjiliwong di dekat fort Noordwijk. Jembatan ini juga disebut Sluisburg (Pintu Air). Jalur baru ini mengikuti kanal Pasar Pasar Baru yang sekarang berbelok ke kanan menuju ke Lapangan Banteng yang sekarang terus ke arah Pasar Senen yang sekarang, Kramat, Salemba hingga Meester Cornelis (kini Jatinegara). Di jalan poros baru inilah Cornelis Chastelein membangun land baru untuk usaha perkebunan yang kelak land itu disebut Weltevreden dengan landhuisnya berada dekat sungai di Lapangan Banteng yang sekarang.

Inisiatif pembentukan pasar ini dilakukan oleh Justinus Vinck setelah sebelumnya pada tahun 1733 Justinus Vinck membeli lahan Weltevreden dari (keluarga) Cornelis Chastelein. Pasar yang buka setiap hari Senin ini terus berkembang dan adakalanya pasar ini disebut Pasar Vincke merujuk pada nama Justinur Vinck sebagai pionir. Sementara Land Weltevreden yang pertama kali dikembangkan oleh Cornelis Chastelein sering disebut sebagai Bapak Weltevreden.

Sejarah Jakarta (46): Sejarah Pasar Tanah Abang; Kanal Kali Krukut, Landhuis Daalxigt, Trem dan Stasion Kereta Api


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Pasar Tanah Abang adalah salah satu pasar tertua di Jakarta. Sudah dikenal sejak era VOC. Pasar Tanah Abang masih eksis hingga ini hari. Pasar Tanah Abang diduga setua Pasar Senen. Dua pasar ini menjadi simpul perdagangan antara Kasteel Batavia atau Stad (kota) Batavia dari arah pantai dengan pedalaman. Pasar Senen simpul pedagangan dari pedalaman sisi timur sungai Tjiliwong dan Pasar Tanah Abang simpul perdagangan dari pedalaman sisi barat sungai Tjiliwong. Pada Peta 1682 di tempat dimana kelak dikenal sebagai Tanah Abang sudah ada bangunan rumah orang Eropa/Belanda dan kanal sungai Kroekoet.

Pasar Tanah Abang, 1770-1772
Pada tahun 1650 Pemerintah VOC membangun dua buah benteng (fort) di selatan Stad (kota) Batavia. Dua benteng ini adalah fort Noordrwijk di sisi barat sungai Tjiliwong  (sekitar stasion Juanda yang sekarang) dan fort Rijswijk di sisi timur sungai Kroekoet (sekitar Harmoni yang sekarang; muara sungai Kroekoet di Setoe Tjitajam). Dalam perkembangannya antara dua benteng ini dibangun kanal yakni menyodet sungai Tjiliwong di Noordwijk dan meneruskannya ke sungai Kroekoet di Rijswijk. Kanal ini menjadi semacam barier baru untuk kota (stad) Batavia. Tidak lama kemudian dari kanal ini disodet dengan membangun kanal baru menuju sungai Tjiliwong di stad (kota) Batavia di sekitar Gkodok yang sekarang. Kanal baru ini kini berada diantara jalan Gajah Mada dan jalan Hayam Wuruk yang sekarang.dan dibenteng Sebelum tahun 1682 sungai Kroekoet divermak menjadi kanal dari hulu hingga ke benteng (fort) Rijswijk. Suatu kanal yang menarik garis lurus sungai Kroekoet dari Tanah Abang hingga ke Rijswijk.

Pada waktu yang relatif sama, di tenggara benteng (fort) Noordwijk Cornelis Chastelein membuka lahan untuk perkebunan. Pada tahun 1697, Chastelein sudah memiliki sebuah rumah dan dua pabrik gula di area baru ini. Area kepemilikan Cornelis Chastelein ini kemudian dikenal sebagai Weltevreden. Setahun sebelumnya tahun 1696 Cornelis Chastelein juga membuka lahan di Sringsing (kini Lenteng Agoeng) dan kemudian pada tahun 1704 Cornelis Chastelein membeli lahan baru di Depok.

Sejarah Jakarta (45): Sejarah Kebayoran yang Sebenarnya; Sebuah Distrik di Meester Cornelis yang Menjadi Kota Satelit CSW


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Kebayoran kini terdiri dari dua kecamatan: Kebayoran Lama dan Kebayoran Baru. Kebayoran Baru sesungguhnya sebuah rekonstruksi yang bermula dari suatu pembentukan kota satelit di selatan batas Batavia/Djakarta yang masuk ke Afdeeling Meester Cornelis. Rekonstruksi ini dimulai pada tahun 1949 oleh Pemerintah Hindia Belanda/NICA dib bawah yayasan yang disebut Centrale Stichting Wederopbouw (CSW). Area kota satelit ini berada diantara sungai Kroekoet di timur dan sungai Grogol di barat. Pembentukan kota satelit Kebajoran ini dalam upaya pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak.

Master Plan Kota Sateli Kebajoran (1949)
Kebayoran (Baru) adalah kota satelit pertama di Indonesia. Untuk menghubungkan Kota Batavia/Djakarta dengan kota satelit Kebajoran dibangun jalan dan jembatan di atas kanal barat dan rel kereta api di Kampong Doekoe (kini Dukuh Atas). Panjang jembatan ini 106 meter, yang saat itu merupakan jembatan modern terpanjang di Indonesia. Jalan poros (jalan utama) antara pusat kota Jakarta di Lapangan Merdeka dan Kebajoran ditingkatkan Pemerintah Indonesia sehubungan dengan tuan rumah penyelenggaraan Asian Games 1962. Pembangunan fasilitas olahraga (stadion Bung Karno) dan bangunan pendukungnya (Hotel Indonesia, Pusat Pertokoan Sarinah dan jembatan Semanggi) mengeliminasi jarak antara Jakarta dan Kebajoran.    

Bagaimana sejarah awal Distrik Kebajoran dan pembangunan kota satelit Kebajoran tidak tertulis secara komprehensif. Sejarah Kebajoran (Baru) ditulis seadanya tanpa rujukan yang tidak jelas. Oleh karena itu, untuk melihat sejarah evolutif Distrik Keajoran dan sejarah revolutif Kota Satelit Kebajoran tentu masih menarik untuk diperhatikan. Untuk merekonstruksi memori masa lampau di sekitar kawasan Kebajoran pada masa lampau mari kita telusuri sumber-sunber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (44): Sejarah Awal Bundaran HI; Tempo Doeloe Dari Stasion Pegangsaan ke Kebon Sirih via Kampong Menteng


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini  

Pada masa kini Bundaran HI (Hotel Indonesia) menjadi salah satu ikon Kota Jakarta. Hotel Indonesia dan Bundaran HI dibangun sehubungan dengan penyelenggaraan Asian Games 1962. Posisi Bundaran HI berada di tengah garis lurus jalan antara Lapangan Monas dengan Jembatan Semanggi dan Stadion Bung Karno di Senayan. Satu situs penting lainnya adalah gedung Sarinah. Garis lurus imajiner berpotongan dan titik imajiner di Bundaran HI sehubungan dengan penyelenggaraan Asian Games 1962 menjadi titik awal perkembangan baru kota Djakarta tempo doeloe menjadi kota metropolitan Jakarta masa depan.

Garis Imajiner Bundaran HI (Peta 1897)
Dengan dibangunnya Bundaran HI, perkembangan kawasan di Menteng yang dulunya berpusat di Prapatan (Weltevreden) dan Tanah Abang menjadi terintegrasi dan membentuk kawasan yang lebih luas berpusat di Bundaran HI. Posisi strategis Bundaran HI juga menjadi batas pemisah antara lingkungan Eropa/Belanda tempo doeloe di sekitar Harmoni dan Koningsplein dengan area pengembangan baru di selatan kota di Kebajoran, Dalam hal ini, penentuan dan penetapan Bundaran HI seakan menjadi suatu titik imajiner Kota Jakarta di masa selanjutnya (masa kini). Seperti yang diharapkan, Bundaran HI yang awalnya berada di belakang perumahan Menteng telah mengubah posisi spasial 180 derajat Bundaran HI menjadi berada di depan. Itulah pemikiran futuristik ala Presiden Soekarno.

Bagaimana dinamika pembangunan Kota Jakarta setelah tahun 1962 tentu saja sudah banyak ditulis dan telah menjadi pengetahuan umum. Namun bagaimana proses evolutif pengembangan kawasan sebelum tahun 1962 (ketika Bundaaran HI masih imajiner) kurang terinformasikan dengan baik. Bagaimana sejarah kawasan sebelum adanya Bundaran HI tentu masih menarik untuk diperhatikan. Untuk merekonstruksi memori masa lampau di sekitar kawasan baru itu mari kita telusuri sumber-sunber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (43): Benteng Rijswijk dan Gedung Societeit Harmonie; Gedung Sosial Inspirasi Pribumi Kini Sekretariat Negara


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini
 

Harmoni, nama suatu kawasan di Jakarta hingga kini sangatlah terkenal. Namanya diturunkan dari sebuah gedung pertemuan yang disebut Gedung Societeit Harmonie. Suatu gedung pertemuan yang dimiliki oleh organisasi sosial Societeit Harmonie. Gedung societeit ini dibangun tahun 1810 tetapi telah dibongkar tahun 1985. Jauh sebelum adanya Societeit Harmonie, kawasan ini disebut Risjwijk. Suatu nama yang diturunkan dari nama sebuah benteng yang disebut benteng (fort) Risjwijk.

Sosieteit Harmoni (Peta 1903); Insert googlemap)
Societeit Harmonie adalah organisasi sosial pertama di Batavia dan di Hindia. Organisasi ini pada awalnya adalah klub sosial para pensiunan militer yang kembali ke masyarakat. Dalam perkembangannya wajahnya telah bergeser menjadi klub sosial kemasyarakat umum. Para pensiunan militer generasi berikutnya mendirikan organisasi sosial yang baru yang disebut Societeit Concordia di Waterlooplein (kini lapangan Banteng). Klub sosial sejenis juga muncul di Meester Cornelis yang diberi nama Amicitia. Sejak adanya klub Societeit Concordia, di berbagai kota juga didirikan klub sosial sejenis seperti di Soerabaja, Semarang, Padang, Bandoeng, Singapore, Penang dan Medan. Tentu saja warga pribumi mulai belajar membentuk organisasi sosial meniru societeit orang Eropa/Belanda. Societeit pribumi pertama didirikan di Padang tahun 1900 yang diberi nama Medan Perdamaian. Organisasi sosial Medan Perdamaian ini adalah organisasi sosial (pribumi) Indonesia pertama, delapan tahun lebih awal dari pendirian organisasi sosial Boedi Oetomo. Peta 1903 (insert: googlemap)

Kawasan Harmonie atau tempo doeloe disebut Rijswijk adalah kawasan dimana awal mula hal yang bersifat sosial muncul diantara kalangan orang Eropa.Belanda di Hindia. Itulah hal terpenting dari kawasan ini. Hal itu pula mengapa begitu penting sejarah kawasa ini untuk diketahui. Untuk menambah pemahaman kita, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (42): Benteng Noordwijk Jadi Masjid Istiqlal; Fort Frederik Hendrik, Wilhelmina Park, Taman Wijaya Kusuma


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Satu sejarah penting di Jakarta pada masa lampau adalah keberadaan benteng (fort) Noordwijk. Di area sekitar benteng ini banyak hal yang dapat diceritakan. Pertama, lokasi benteng Noordwijk berada di hulu sungai Tjiliwong di sisi seblah barat. Dari sinilah sungai Tjiliwong disodet membentuk kanal ke arah barat (sepanjang Jalan Juanda/Veteran yang sekarang) dan kemudian disodet lagi membentuk kanal ke arah timur (Pasar Baru yang sekarang). Akibat penyodetan sungai Tjiliwong tersebut, sungai Tjiliwong ke arah hilir tamat. Eks sungai Tjiliwong ke hilir ini kelak di atasnya dibangun rel kereta api, yaitu ruas rel kereta api antara stasion Juanda dan stasion Mangga Dua yang sekarang.

Fort Noordwijk (Peta 1740)
Kedua, benteng Fort Noordwijk ini kemudian dibongkar dan dibangun baru benteng Frederik Hendrik (dari nama pangeran Belanda). Area sekitar benteng baru ini kemudian dibangun taman yang disebut Wilhelmina Park (dari nama ratu Belanda). Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (1949) nama Wilhelmina Park diubah namanya menjadi Taman Widjaja Koesoema. Sehubungan dengan adanya pembangunan masjid besar di Djakarta, Presiden Soekarno mengusulkan lokasi masjid berada di Taman Widjaja Koesoema. Dengan dibangunnya masjid besar yang diberi nama masjid Istiqlal, maka tamat sudah benteng Frederik Hendrik sebagai suksesi benteng (fort) Noordwijk.   

Bagaimana kisah-kisah ini berlangsung tentub masih menarik untuk diperhatikan. Ini diawali dengan pembangunan benteng (fort) Noordwijk dan kemudian diakhiri dengan membangun masjid besar Istiqlal. Bagaimana detail ceritanya? Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (41): Sejarah Awal Stasion Gambir (1871); Tempo Dulu Disebut Station Koningsplein dan Station Weltevreden


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Stasion Gambir di Monas masa kini, tempo doeloe adalah stasion Koningsplein di Weltevreden. Stasion Koningsplein sering dipertukarkan dengan nama stasion Weltevreden. Stasion Koningsplein ini dioperasikan kali pertama tahun 1871 sebagai bagian dari jalur kereta api ruas antara stasion Beos (stasion Kota) dan stasion Meester Cornelis (stasion Boekit Doeri).

Koningsplein (Peta 1866)
Jalur kereta api pertama di Hindia Belanda (baca: Indonesia) dibangun tahun 1867 yang menghubungkan Semarang dengan luar kota (26 Km). Jalur ruas Semarang ini dibuka untuk umum pada tahun 1867. Lalu pada tahun 1970 dibuka jalur Semarang-Soeracarta. Pada tahun 1871 jalur kereta api di Batavia mulai dioperasikan.

Sebelum adanya stasion kereta api di Koningsplein (Lapangan Raja), situs terpenting di area itu adalah gereja Willem (kini gereja Imanuel). Saat dioperasikannya jalur kereta api ruas Beos-Meester Cornelis, stasion Koningsplein belum dibangun. Stasion yang ada adalah stasion Noordwiijk dan stasion Meester Cornelis.

Sejarah Jakarta (40): Hari Jadi Kota Jakarta Versi Adolf Heuken; Kapan Sebenarnya Hari Lahir Kota Jakarta? Perlu Verifikasi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Seperti kota-kota lain, hari jadi Kota Jakarta juga terus menjadi perdebatan. Dalam versi pemerintah kota, Hari Jadi Kota Jakarta ditetapkan pada tanggal 22 Juni 1527. Akan tetapi, Adolf Heuken, seorang sejarawan Jakarta tidak sepakat. Adolf Heuken berpendapat bahwa nama Jakarta sendiri baru kali pertama disebut pada tahun 1760. Adolf Heuken menyebut pada fase awal Belanda nama yang disebut adalah Sunda Kelapa.

Nama Jacatra (Peta 1740)
Adolf Heuken adalah seorang sejarawan Jakarta. Nama Adolf Heuken menjadi terkenal ketika menulis buku berjudul ‘Sumber-Sumber Asli Sejarah Jakarta’. Adolf Heuken adalah seorang Jerman yang terlah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Perhatian Adolf Heuken terhadap sejarah Jakarta, harus diapresiasi. Adolf Heuken adalah seorang sejarawan Jakarta yang langka.

Kapan sebenarnya hari Kota Jakarta? Tentu saja penetapan hari Kota Jakarta masih relevan didiskusikan. Hal ini karena hari jadi Kota Jakarta yang selama ini diakui tanggal 22 Juni 1527 tidak dapat diverifikasi. Padahal hari jadi kota akan digunakan dan diperingati selamanya. Namun menjadi soal adalah apakah harus memperingati hari jadi yang sumber penetapannya tidak jelas. Lantas bagaimana selanjutnya? Para sejarawan harus terus bekerja keras untuk memastikan kapan sebenarnya.

Sejarah Jakarta (39): Berlan, Kini Nama Kampung, Dulu Nama Beeren Laan; Sejarah Benteng-Benteng Tempo Doeloe di Jakarta


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Ada nama kampung bernama Berlan di Jakarta. Kampung Berlan terkenal karena berada diantara Jalan Matraman dan sungai Ciliwung. Dari namanya, Berlan bukan berasal dari nama kampung asli (lama), tetapi nama baru yang muncul kemudian. Nama kampung Berlan merujuk pada nama jalan tempo doeloe yakni Beeren Laan. Dalam perkembangan jaman, nama jalan Beeren Laan mereduksi menjadi Berlan.

Jalan Beeren Laan (Peta 1930)
Kampung Berlan kini termasuk Kelurahan Kebon Manggis, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, Di kampung Berlan pernah menjadi perumahan TNI, Akan tetapi pada masa ini perumahan tersebut telah berganti penghuni, sebagian anak cucu anggota TNI Zeni dan sebagian yang lain warga biasa. Nama kampung Berlan masih dikenal pada masa ini.

Bagaimana nama Beeren Laan muncul? Di ujung jalan Beeren Laan ini dulu terdapat sebuah benteng kuno. Benteng ini berada di sisi sungai Tjiliwong. Lantas apa hubungan benteng dengan Beeren Laand? Mungkin sepintas terkesan tidak penting, tetapi sesungguhnya ceritanya menjadi penting di masa lampau. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Kota Ambon (10): Mr. Willem van Outhoorn, Gubernur Jenderal VOC Lahir di Ambon; Siapa Sebenarnya HJ van Mook?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Ambon dalam blog ini Klik Disini 

Ada satu orang Gubernur Jenderal VOC yang lahir di Hindia yaitu Willem van Outhoorn. Lahir di Larike, Leihitu, Amboina, Maluku pada tanggal Mei 1635. Willem van Outhoorn sendiri menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC dari tahun 1690 hingga 1704. Ini tentu saja sangat unik. Sebab semuanya Gubernur Jenderal VOC adalah kelahiran Eropa/Belanda, kecuali Willem van Outhoorn.

Ambon dan Willem van Outhoorn
Jumlah Gubernur Jenderal selama VOC sebanyak 30 orang. Yang pertama adalah Pieter Both (1610-1614). Saat itu pusat perdagangan VOC berada di Banten. Pieter Both memiliki andil dalam penguasaan wilayah Maluku sehingga pusat pos perdagangan dipindahkan ke Maluku. Setelah dari Maluku, pusat pos perdagangan kembali ke Banten. Pada era gubernur jenderal yang keempat, Jan Pieterszoon Coen, pusat pos perdagangan direlokasi ke Soenda Kalapa yang kemudian membangun benteng (casteel) Batavia. Sejak itu Batavia dijadikan sebagai ibukota. Pada tahun 1799 akhirnya VOC dibubarkan dan digantikan dengan Pemerintah Hindia Belanda.

Lantas bagaimana Willem van Outhoorn bisa menjadi Gubernur Jenderal? Apa peran ayahnya? Ini tentu sangat menarik untuk diketahui. Sementara itu dalam deretan nama Gubernur Jenderal pada era Pemerintah Hindia Belanda juga terdapat satu orang kelahiran Hindia yaitu Hubertus Johannes van Mook. Sebagaimana diketahui, HJ van Mook adalah yang memimpin NICA ketika Belanda kembali ke Indonesia. Ternyata kisah Willem van Outhoorn dan HJ van Mook memiliki kemiripan. Bagaimana itu bisa mirip? Mari kita telusuri seumber-sumber tempo doeloe.  

Sejarah Jakarta (38): Dr Marzoeki, Kepala Djawatan Kesehatan Kota Djakarta; Disiksa Jepang (1945), Diusir Belanda (1947)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Era penjajahan adalah era yang paling menyakitkan bagi bangsa Indonesia. Penjajah dalam hal ini apakah Belanda atau Jepang sama kejamnya. Penjajahan adalah praktek dominasi terhadap penduduk pemilik hak berdaulat. Diantara penduduk muncul para pemimpin yang berusaha berjuang demi rakyat, tetapi para pemimpin selalu dapat dikalahkan. Itulah gambaran umum tentang penjajahan. Kalah dalam berjuang adalah biasa, tetapi melakukan tindakan perjuangan adalah patriot.

Penjajajahan Belanda berakhir tahun 1942 setelah Jepang melakukan pendudukan di Indonesia. Awalnya Jepang datang membebaskan Indonesia dengan iming-iming sesama bangsa Indonesia. Namun kenyataannya Jepang tidak kalah kejamnya dibanding Belanda. Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang takluk kepada sekutu. Pasukan sekutu/Inggris datang untuk melucuti militer Jepang dan membebaskan para interniran Eropa/Belanda. Akan tetapi di belakangnya, Belanda kembali mengambil alih Indonesia. Belanda kembali menjajah.  

Pengalaman Dr Marzoeki, Kepala Djawatan Kesehatan Kota Djakarta adalah salah satu contoh pengalaman dari para pejuang bangsa Indonesia dalam menghadapi tindakan penjajah apakah Jepang atau Belanda. Dr Marzoeki pernah disiksa Jepang, Dr Marzoeki juga pernah diusir Belanda. Pengalaman Dr Marzoeki adalah gambaran umum bagaimana pemimpin Indonesia berjuang melawan penjajah. Mari kita telusuri bagaimana Dr Marzoeki berjuang.  

Sejarah Jakarta (37): Antara Jakarta dan Palangka Raya; Soekarno dan Batu Pondasi Bangun Ibukota Kalimantan Tengah, 1957


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Ibukota Jakarta adalah ibukota yang tumbuh dan berkembang mengikuti jaman. Bekermbang dari Casteel Batavia hingga ke Lenteng Agung pada masa ini. Itu dimulai sejak tahun 1619. Pada era kemerdekaan Indonesia ibukota Jakarta mulai dirasakan sangat sesak lebih-lebih pada masa ini. Sering dikaitkan pemindahan ibukota dengan dibangunnya ibukota Kalimantan Tengah di Palangkara Raya pada tahun 1957.

Peta Schophuys-Plan, 1952
Kota-kota lama yang sudah berkembang selalu dijadikan sebagai ibukota baru, apakah ibukota negara atau ibukota provinsi dan ibukota kabupaten. Tapi tidak demikian dengan penetapan ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Pembangunan ibukota Provinsi Kalimantan Tengah mendapat perhatian pemerintah pusat. Hal yang mirip dengan ibukota Kalimantan Tengah adalah pembangunan ibukota Provinsi Riau.    

Nama Palangka Raya, ibukota Provinsi Kalimantan Tengah kembali menjadi pembicaraan umum. Ini sehubungan dengan adanya rencana pemerintah pusat untuk memindahkan ibukota negara. Salah satu kandidatnya adalah Kota Palangka Raya. Lepas dari soal terpilihnya atau tidak Kota Palangka Raya, bagaimana proses awal pembangunan ibukota Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Kota Depok (57): FKN Harahap dan ‘Proklamasi Indonesia’ 11 Agustus 1945 di Belanda; Peran Perhimpunan Indonesia (PI)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini

Di tengah-tengah orang Jepang di Djakarta, proklamasi kemerdekaan Indonesia dilangsungkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Enam hari sebelumnya di Belanda, di tengah-tengah orang Belanda FKN Harahap melakukan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Isi proklamasi kemerdekaan Indonesia tersebut di Belanda dimuat pada surat kabar Het parool, 11-08-1945. FKN Harahap adalah pemimpin Perhimpunan Indonesia di Belanda.

Het parool, 11-08-1945
Sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia hanya dicatat dalam sejarah Indonesia yang terkait dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Djakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi kemerdekaan Indonesia ala Perhimpunan Indonesia tidak pernah dikutip sebagai bagian sejarah peroklamasi kemerdekaan Indonesia. Sengaja atau tidak sengaja, terkesan ada reduksi dalam catatan sejarah Indonesia. Padahal proklamasi kemerdekaan Indonesia di Belanda adalah wujud kesadaran bernegara dari para pejuang-pejuang Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia di Belanda.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia di Belanda yang dimuat di surat kabar beroplah luas di Eropa dengan sendirinya dapat dibaca di seluruh Eropa. Bagaimana gagasan proklamasi kemerdekaan Indonesia muncul adalah wujud dari dinamika yang terjadi di Belanda dan peran Perhimpunan Indonesia dalam berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Untuk memahami hal tersebut pada tahun 1945 mari kita telusuri surat kabar yang terbit di Belanda dan majalah Perhimpuann Indonesia.   

Sejarah Jakarta (36): Sejarah Salemba, Struiswijk, Pabrik Opium dan STOVIA; Kini Jalan Salemba Raya No. 4 Jakarta


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Jalan Salemba Raya adalah ruas jalan antara Persimpangan Jalan Paseban dan Persimpangan Jalan Pramuka. Pada dua sisi jalan ini dulu namanya Kampong Salemba. Di wilayah Kampong Salemba ini terbentuk sebuah landerein, suatu tanah partikelir. Area landerein ini pada masa kini antara Jalan Salemba dengan sungai Tjiliwong dan antara Jalan Diponegoro dengan Jalan Kenari. Area tanah partikelir ini kemudian dikenal sebagai Struiswijk (lingkungan Eropa/Belanda Struis).

Salemba (Peta 1825)
Keutamaan Struiswijk (eks landerein ini) karena di area tersebut kemudian secara bertahap muncul situs-situs penting, yakni pabrik opium, stasion kereta api Salemba, sekolah kedokteran STOVIA dan rumah sakit CBZ. Gedung eks pabrik opium ini kelak menjadi gedung FEUI, gedung eks STOVIA kelak menjadi gedung FKUI, rumah sakit CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting) berumah nama menjadi RS Tjipto Mangoenkoesoemo, dan eks stasion Salemba dan rel keretapi menjadi pemukiman penduduk di Jalan Kenari. Jembatan kereta api di atas sungai Tiliwong kini masih terlihat utuh.     

Bagaimana sebuah area (sebuah persil) di Kampong Salemba menjadi landerein dan kemudian berubah menjadi pusat orang Eropa/Belanda tentu masih menarik untuk diperhatikan. Satu hal yang kerap terlupakan, di sekitar stasion Salemba di era kolonial Belanda adalah pusat perjuangan para revolusioner Indonesia dimana terdapat gedung PPPKI yang dibangun tahun 1927. Gedung ini kini dikenal sebagai Gedung MH Thamrin. Untuk itu mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.