Rabu, 31 Desember 2025

Sejarah Kota Depok (60): Refleksi di Tahun Baru 2026 di Blog Sejarah Poestaha Depok; Sejarah Itu adalah Narasi Fakta dan Data


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini

Pada tahun ini satu peristiwa sejarah yang cukup penting adalah penulisan ulang Sejarah Indonesia. Hasilnya dalam bentuk buku sebanyak 10 jilid telah dipublikasikan (diluncurkan) pada tanggal 14 Desember 2025 bertepatan dengan Hari Sejarah Nasional Indonesia yang diperingati setiap tahun pada tanggal 14 Desember. 


Blog ini dimulai dengan artikel pertama pada hari Jumat, 17 Agustus 2012 dengan judul artikel: “Sejarah Tata Ruang Kota Depok: Menyambung Mata Rantai Yang Terputus Antara Depok Masa Kini dan Depok Tempo Doeloe”. Pada hari ini akhir tahun, tanggal 31 Desember 2025 “genap” usia blog ini 13 (tiga belas) tahun. Suatu rentang waktu yang sudah terbilang lama untuk usia blog (sejarah) dengan total 3.397 postingan. Bagaimana dengan para pembaca? Untuk memasuki tahun baru 2026 jumlah pageview sebanyak tiga juta (3.000.000). Pada bulan Desember 2025 ini sebanyak 140.410 pageview dan bulan lalu (November) sebanyak 157.292 pageview. Bagaimana selanjutnya? Jumlah postingan yang diupload selama tahun 2025 ini sebanyak 86 artikel. Jumlah ini telah menurun jika dibandingkan setiap tahun dengan lima tahun terakhir. Hal ini karena saya sendiri sejak 2023 sebagai penulis blog ini mulai berbagi waktu untuk menulis buku-buku sejarah. Saya juga masih berbagi waktu untuk blog yang lainnya yang dimulai tahun 2011 yang mana hingga bulan Desember 2025 sebanyak 579 postingan dengan 1.346.949 pageview. 

Lantas bagaimana sejarah refleksi tahun baru 2026 blog sejarah Poestaha Depok? Seperti disebut di atas, blog sejarah Poestaha Depok mengusung pendekatan bahwa sejarah adalah narasi fakta dan data. Lalu bagaimana sejarah refleksi tahun baru 2026 blog sejarah Poestaha Depok? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Refleksi Tahun Baru 2026 Blog Sejarah Poestaha Depok; Sejarah adalah Narasi Fakta dan Data

Sejarah adalah narasi fakta dan data. Fakta, yang benar-benar pernah terjadi dan harus didukung dengan data. Banyak fakta, yang benar-benar pernah terjadi di masa lalu, namun jika tidak didukung dengan data (bukti), narasi menjadi tidak valid (kabur). Mengapa? Sebab semua orang dapat berbicara sesuai pendapatnya. Hal serupa ini ibarat sastra (rasa), setiap orang dapat mengemukakan apa yang diinginkannya (art). Sementara, sejarah sebagai suatu narasi fakta dan data, maka narasinya sama setiap orang (scientific).


Science is a systematic discipline that builds and organizes knowledge about the universe through observation and experimentation. It is characterized by its reliance on evidence and the scientific method to develop testable hypotheses and general laws. Art is the expression or application of human creative skill and imagination, typically in a visual form such as painting or sculpture, produced to be appreciated primarily for its beauty or emotional power (AI Wikipedia).
 

Oleh karena sejarah adalah narasi fakta dan data, maka sejarah bersifat historis (masa lampau). Dalam hal ini sejarah bukan bersifat masa depan (futuris). Hal yang bersifat futuris dimasukkan sebagai peramalan (forecasting). Peramalan yang berbasis data (bersifat historis) diperlukan dalam membuat perencanaan (planning). Sejarah bukan perencanaan (apa yang akan terjandi di masa depan), tetapi sejarah hanyalah tentang apa yang pernah benar-benar terjadi di masa lalu. Sadar tidak sadar, narasi sejarah yang bersifat futuris menjadi bersifat propagandis.


Sejarah sebagai suatu cara berpikir scientific (jawaban tunggal), maka sejarah dengan sendirinya tidak memiliki “jenis kelamin”, tidak memiliki ideology, tidak memiliki afiliasi politik, dan lain sebagainya serta tidak memiliki rasa (psikologis). Sejarah semata-mata hanya suatu titik atau kumpulan titik-titik yang memiliki ukuran tertentu berdasarkan ruang dan waktu (di masa lalu). 

Tentang apa (keberadaan/kejadian) yang pernah benar-benar terjadi di masa lalu, hanya berbentuk titik yang tidak memiliki “jenis kalamin”. Titik tersebut hanya dapat diperhatikan dari dua aspek: dari (segi) ruang dan dari (urutan) waktu. 


Sejarah berdimensi ruang dan waktu. Dalam hal ini “ruang” memiliki dimensi banyak, sekurang-kurangnya berdimensi dua (vertical dan horizontal) yang akan membentuk koordinat “bidang” yang akan menghasilkan empat arah mata angin. “Bidang” berdasarkan horizontal dan vertical membentuk “ruang”. Sementara “waktu” hanya bersifat linier (garis lurus). 

Kombinasi “ruang” dan “waktu” membentuk cara berpikir kontekstual. Artinya fakta dan data merujuk pada ruang dan waktu (atau sebaliknya: waktu dan ruang). Dalam hal inilah sejarah dapat dipahami dengan baik dan benar. Narasi sejarah yang mengabaikan (gagal memahami) dimensi waktu dan ruang, akan kesulitan mengidentifikasi fakta (dan dukungan datanya). 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Sejarah adalah Narasi Fakta dan Data: Peristiwa Sejarah Memiliki Permulaan, Tidak Memiliki “Jenis Kelamin” dan Hanya Memiliki Ukuran Tertentu Berdasarkan Waktu dan Tempat

Peristiwa sejarah memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Permulaan sejarah adalah awal dari interval masa dalam analisis (data) sejarah. Misalnya tentang tokoh tertentu, interval masa merujuk pada sejak kapan lahir dan kepan meninggalnya. Demikian juga tentang suatu interval masa suatu kota, suatu peradaban dan sebagainya. Untuk masa yang jauh di masa lampau (prasejarah) sudah barang tentu tidak ada lagi data tertulis. 


Dalam analisis (data) sejarah masa ini, data tidak lagi dianggap semata-mata hanya data yang bersumber dari tulisan (aksara dan bahasa) yang tertulis dalam guratan batu, kayu dan bamboo, yang ditulis dengan tinta pada bahan kertas, bahan lainnya seperti kulit kayu, daun dan sebagainya. Dalam hal ini aspek linguistik (folologi) dan arkeologi tidak cukup lagi dan jelas memerlukan keilmuan lagi seperti fisika, kimia dan biologi dengan pendekatan matematis seperti halnya ilmu geologi, ilmu tanah, biokimia, ilmu geomorfologi, bahkan hingga ilmu astronomi. Hal itulah mengapoa kini ukuran-ukuran usia karbon, pencitraan dari udara dan peta-peta DNA diperlukan dalam analisis (data) sejarah masa kini.
 

Dalam konteks sejarah adalah narasi fakta dan data, maka ilmu (data) sejarah adalah ilmu yang bebas nilai (budaya, psikologi, politik, agama dan lainnya) yang tidak memiliki “jenis kelamin”. Nilai ilmu (data) sejarah hanya tergantung nilai dari ukuran ruang dan waktu. Hal itulah mengapa ilmu (data) sejarah ilmu bebas nilai, suatu ilmu yang tidak memiliki “jenis kelamin”. 


Untuk mendukung ketersediaan data, tidak lagi cukup tulisan, lukisan di berbagai media bahan, pada masa ini sudah dimungkinkan data yang disediakan dari berbagai platform, seperti peta googleearth, peta google map, rekaman video dari udara (dari pesawat dan drone) yang bersifat audio-visual. Berbagai platform sumber data tidak cukup lagi dari perpustakaan (digital), juga dari youtube termasuk yang berbasi AI seperti google. 

Oleh karena itu, analisis (data) sejarah masa ini dan masa depan tidak lagi cukup dengan pendekatan holistik, tetapi lebih tepatnya sangat tergantung pada pendekatan total. Mengapa demikian? Sejarah adalah narasi fakta dan data. Data yang bersifat ruang dan waktu, data yang secara social tidak memiliki “jenis kelamin”, tetapi data yang dapat diuji oleh pilihan yang sesuai oleh berbagai pendekatan keilmuan dan metode praktis. 


Ibarat dalam ilmu kalkulus, untuk membuktikan bahwa posisi suatu titik presisi (differentiable), tidak cukup hanya didekati dari satu sisi (limit kiri), tetapi juga dari sisi lain (limit kanan). Demikian juga posisi suatu hal dalam dimensi ruang tidak cukup lagi hanya satu arah (misalnya timur), tetapi juga harus dari sisi lainnya (barat, utara, selatan). Hal itu juga berlaku untu mengukur besarnya (volume) ruang tidak cukup lagi dari sisi-sisi horiziontal/datar (panjang/lebar, keliling/luas) juga diperlukan dari sisi vertical (ketinggian dan kedalaman). Sebagai contoh sederhana, pada peta-peta Portugis diantara dua pulau berdekatan terdapat suatu daratan kecil (pulau), tetapi pada masa ini dapat diuji dengan pendekatan geomorfoilogi dengan menggunajkan googleearth (yang juga dapat digunakan untuk melihat jalur sungai lama/baru).

Sejarah adalah narasi fakta dan data, kejadian yang benar-benar terjadi dan didukung oleh data (yang dicatat, dihitung dan dapat dipikirkan). Kejadian atau keberadaan sejarah tersebut berada pada suatu ruang yang ada masanya (interval waktu kapan). Dalam konteks ini pula perlu memperhatian permulaannya (dan kapan berakhirnya). Secara faktual ruang (pada sisi alas/bumi) sangat luas dan pada rentang waktu sejarah sangat panjang (sejak masa lampau ke masa kini). Kemampuan membedakan ruang dan waktu itu sangat penting dalam narasi sejarah. Namun sayangnya banyak yang kurang memperhatikannya. 


Dalam hubungannya dengan ruang dan waktu, analisis sejarah (yang menjadi dasar untuk menarasikan sejarah), terdiri dua tahap yakni analisis deskriptif dan analisis inferensial. Dalam hal ini analisis deskriptif, hasil temuan (data dan informasi) hanya dideskrifsikan tentang apa adanya, tentang peristiwa sejarah itu sendiri (dimana terjadi dan kapan terjadi) dan bagaimana data mendukung (valid atau masih perlu data pendukung lainnya). Kata/kalimat yang umumnya dipakai dalam analisis deskriptif ini antara lain: ‘diketahui’, ‘dipahami’, ‘tersedia datanya’ dan sebagainya. Sementara analisis inferensial mencoba membuat generalisasi (bersifat menyeluruh). Namun sejatinya, untuk sampai ke kesimpulan menyeluruh (generalisasi) harusnya menyisir seluruh luasnya ruang (yang didefinisikan, misalnya se-Indonesia) dan juga harus menyisir seluruh interval waktu (yang juga didefinisikan, misalnya dalam masa/era tertentu). Narasi sejarah masa kini, banyak yang terjebak dalam narasi yang terkesan dibesarkan-besarkan (yang menyebabkan yang lainnya terkesan dikerdilkan). Hal ini terjadi karena hasil analisis tidak dilakukan verifikasi secara ruang atau waktu. Kata-kata yang umum digunakan dalam hal ini dengan awal ‘ter’, ‘paling’, ‘hanya satu-satunya’ dan sebagainya. Sebagai contoh: Si A adalah pahlawan paling berani. Pernyataan ini sangat terbuka untuk munculnya banyak pertanyaan: pahlawan apa (di bidang apa)? paling berani di mana (ruang)? paling berani kapan (sepanjang masa atau pada era tertentu dan sebagainya)?.

Narasi sejarah oleh ahli sejarah haruslah dibedakan dengan narasi sejarah oleh publik. Oleh ahli sejarah harus lebih cendering menarasikan secara deskriptif. Artinya, ahli sejarah dengan keahliannya lebih mengedepankan bagaimana harus dideskripsikan, bukan bagaimana dikampanyekan (digeneralisasikan). Ahli sejarah bukan bagian dari publik, tetapi bagian yang terpisah dari public sejarah. Dalam hal ini, sejarah yang terikat dengan waktunya (dimensi waktu), dalam konteks ahli sejarah, ahli sejarah harus lebih mengedepankan kemampuan presisi untuk mendeskripsikan yang ini lebih dahulu/lebih akhir dibandingkan yang lainnya. Seperti disebut di atas, dimensi waktu ini otomatis dikaitkan dengan dimensi ruang. 


Buku sejarah seharusnya kumpulan deskripsi-deskripsi materi sejarah. Hanya sekadar mendeskripsikan secara ilmiah (ranah akademik). Tentang interpretasi itu sebaiknya diserahkan kepada para pembaca, masyarakat umum (ranah publik). Kumpulan deskripsi-deskripsi yang ditulis oleh para ahli sejarah (sejarawan), seperti disebut di atas, harus menjaganya tetap tidak memiliki jenis kelamin dan hanya terikat pada ruang dan waktu semata. Dalam hal ini kumpulan deskripsi-deskripsi yang ditulis oleh para ahli sejarah (sejarawan), harus dibaca publik sebagai narasi sejarah yang bersifat netral dan apa adanya, ibarat Bahasa Indonesia yang menggunakan aksara Latin yang apa yang ditulis (tulisan) sama dengan yang dibaca (lisan) atau sebaliknya dan yang lebih penting lagi hanya memiliki pengertian (makna) tunggal. 


Sekali lagi, sejarah adalah narasi fakta dan data. Fakta yang benar-benar terjadi dan didukung data. Benar-benar terjadi artinya, suatu fakta yang bukan suatu kesimpulan (atau konsensus) yang hanya didasarkan pada hasil analisis semata, tetapi data yang dianalisis yang tidak pernah menyentuh fakta yang sebenarnya. Analisis sejarah hanya semata-mata menganalisis data untuk membuktikan adanya fakta. Artinya analisis data untuk kebutuhan ke belakang (retrospektif), bukan kebutuhan ke depan (prosfektif). 


Narasi sejarah yang bersifat prosfektif akan mengedepankan kebutuhan pragmatis dan propagandis. Narasi sejarah yang cenderung bersifat propagandis akan dengan sendirinya memberi kontribusi dalam pengaburan sejarah (fakta). Pada masa ini AI tidak pernah menyelesaikan masalah tersebut. Artinya, analisis sejarah harus kembali ke data untuk menarikan fakta. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar