Jumat, 24 Juli 2026

Sejarah Dr Tjipto (7): Kembali ke Tanah Air, Soewardi Soerjaningrat Lulus Akta Guru LO di Den Haag; Kongres Pendidikan I (1916)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

EFE Douwes Dekker, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat berangkat dari Tandjoeng Priok pada tanggal 6 September 1913 ke Belanda. Seperti disebut sebelumnya,  Dr Tjipto Mangoenkoesoemo karena sakit dan setelah mendapat izin dari pemerintah kembali ke tanah air pada bulan Agustus 1914. Bagaimana dengan EFE Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat? Yang jelas pada tahun 1916 di Den Haag diadakan Kongres Pendidikan Hindia. Sejarah Bahasa Indonesia


Kongres Pendidikan Hindia 1916 (Eerste Koloniaal Onderwijs-Congres atau Kongres Pengajaran Kolonial Pertama) diselenggarakan pada tanggal 28–30 Agustus 1916 di Den Haag (Ruang pertemuan Koninklijken Zoölogischen Botanischen Tuin/Dierentuin). Kongres ini mempertemukan para pendidik, pejabat pemerintah kolonial, praktisi misi keagamaan, serta mahasiswa asal Hindia untuk membahas arah kebijakan dan masa depan sistem pendidikan bagi masyarakat pribumi di Hindia. Tokoh pendidik Belanda, politisi kolonial, organisasi zending, serta para pelajar pribumi yang sedang menempuh studi di Belanda (seperti anggota Indische Vereeniging). Tujuan Kongres ini lahir dari perdebatan mengenai Politik Etis yang dijalankan oleh pemerintah. Terdapat kesadaran bahwa pendidikan bagi masyarakat pribumi di Hindia Belanda sangat tertinggal dan diatur secara diskriminatif. Pemerintah kolonial membutuhkan tenaga kerja pribumi berpendidikan rendah untuk mengisi posisi administratif sekunder, namun para tokoh pergerakan menuntut sistem pendidikan yang lebih adil, luas, dan berpihak pada kemajuan bangsa pribumi. Rekomendasi kongres memicu diskusi lanjutan pada kongres-kongres berikutnya (1917) dan mendorong berdirinya sekolah-sekolah guru yang lebih tinggi (Hogere Kweekschool-HKS) (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah kembali ke tanah air, Soewardi Soerjaningrat lulus akta guru LO di Den Haag? Seperti disebut di atas, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo akan melanjutkan studi kedokteran, tetapi harus kembali ke tanah air. Soewardi Soerjaningrat berhasil lulus akta guru LO dan kemudian pada tahun 1916 diadakan Kongres Pendidikan Pertama di Den Haag. Lalu bagaimana sejarah kembali ke tanah air, Soewardi Soerjaningrat lulus akta guru LO di Den Haag? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Willem Iskander Pionir Pendidikan Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Kembali ke Tanah Air, Soewardi Soerjaningrat Lulus Akta Guru LO di Den Haag; Kongres Pendidikan Pertama 1916

Seperti disebut sebelumnya, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo karena sakit dan setelah mendapat izin dari pemerintah kembali ke tanah air pada bulan Agustus 1914. Sementara EFE Douwes Dekker telah menetap di Geneve (kini di Swiss). Bagaimana dengan Soewardi Soerjaningrat? Satu yang jelas, sudah terinformasikan Soewardi Soerjaningrat terinformasikan melanjutkan studi di Belanda (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 05-01-1914). Disebutkan Soewardi Soerjaningrat sedang belajar. Soewardi telah memulai studinya untuk menjadi seorang guru. Pada bulan Juni disebutkan Soewardi Soerjaningrat juga akan pergi ke Jenewa dalam beberapa bulan (lihat Delftsche courant, 29-06-1914). 


Soewardi Soerjaningrat memiliki latar belakang sekolah dasar Eropa (ELS) di Jogjakarta dan sekolah kedokteran di Batavia. Soewardi Soerjaningrat diterima di tingkat persiapan Docter Djawa School/Stovia tahun 1903 (lihat De locomotief, 07-11-1903). RM Soewardi pada tahun 1904 lulus ujian transisi naik dari kelas satu ke kelas dua di tingkat persiapan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-11-1904). Pada tahun 1907 ini di Stovia, RM Soewardi naik dari kelas tiga tingkat persiapan ke kelas satu tingkat medik (lihat De locomotief, 10-10-1907). Yang juga satu kelas dengan RM Soewardi adalah Abdoel Rasjid Siregar, Mohamad Joesoef, Mohamad Sjaaf dan Raden Soesilo. Pada tahun 1909 RM Soewardi dan Abdoel Rasjid Siregar naik dari kelas satu ke kelas dua tingkat medik (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-09-1909). Sejak ini nama RM Soewardi tidak pernah terinformasikan lagi. Sementara Abdoel Rasjid Siregar masih terinformasikan pada tahun 1911 naik dari kelas tiga ke kelas empat tingkat medik (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-08-1911). Singkatnya: Abdoel Rasjid Siregar lulus sekolah kedokteran Stovia tahun 1914. Lalu Dr Abdoel Rasjid dingkat sebagai dokter pemerintah yang ditempatkan di BGD Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 10-07-1914). 

Ada apa Soewardi Soerjaningrat ke Jenewa dalam beberapa bulan sementara sekolahnya berada di Den Haag? Boleh jadi saat ini tengah libur studi di Belanda lalu ke Geneve untuk bertemu dengan koleganya EFE Douwes Dekker. Lalu apakah keduanya masih membicarakan politik? 


De nieuwe courant, 30-11-1914: ‘Tjipto. Soer. Nbl. melaporkan: Sabtu siang sekitar pukul setengah dua, telah tiba di Soerabaja dari Djokja. Ya, ditemani oleh seorang Kristen setempat, Darma Kasoema, dan disambut di stasiun Kotta oleh presiden perkumpulan De Indische Club, Bapak W., dan berbagai anggota Eropa dan pribumi dari Insulinde, Tjipto Mangoenkoesoemo, yang telah kembali dari Belanda, bukan Koesoema. Tjipto, mengenakan jas putih, sarung, dan penutup kepala, tidak banyak bicara. Setelah memberi salam, ia segera berangkat ke rumah yang disewanya di Peneleh. Menurut N. Soer. Ct., sebuah petisi kepada Ratu beredar di kalangan masyarakat pribumi, meminta izin kepada Douwes Dekker dan Soewardi, seperti Tjipto, untuk kembali ke Hindia. Perguruan Tinggi Pelatihan Guru untuk Guru Pribumi . Dr. Hazeu, Direktur Pendidikan, meresmikan perguruan tinggi pelatihan guru domestik (Hoogere kweekschool vau inlandsche onderwijzers) di Poerworedjo pada tangga; 19 Oktober. Leeuwarder courant, 30-11-1914: ‘Menurut "N. Soer. Ct.", sebuah petisi kepada Ratu beredar di kalangan penduduk pribumi, meminta izin kepada Douwes Dekker dan Soewardi, serta Tjipto, untuk kembali ke Hindia’.

Lantas mengapa Soewardi Soerjaningrat memilih sekolah keguruan di Belanda. Bukankah Soewardi Soerjaningrat telah terjun ke dunia politik. Di Belanda juga ada mahasiswa Indonesia yang mengambil bidang hokum, yang boleh jadi dapat sesuai dengan aktivitas Soewardi Soerjaningrat selama ini. Yang studi di bidang hukum di Belanda antara lain RM Noto Soeroto. Satu yang jelas, lawan-lawan politik mereka di Hindia tidak senang kembalnya Dr Tjipto apalagi ketiganya. 


Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-12-1914: ‘Kepergian yang menyedihkan. Ketika trio terkenal Tjipto, Soewardi, dan Douwes Dekker memilih untuk melarikan diri ke Eropa setelah perintah interniran, yang dimungkinkan oleh sumbangan dari "rekan partai" dikatakan bahwa ketiganya akan "belajar". Tjipto untuk menjadi dokter, Soewardi menjadi guru, dan duo terkenal Multatuli untuk mempelajari "masalah kolonial". Semua itu dibayar "oleh sumbangan". Para "kawan" menyediakan biaya hidup mereka. Namun, Tjipto melakukan hal lain selain belajar untuk menjadi dokter; ia merasa lebih tertarik pada "hubungan antara kulit putih dan cokelat", menjadi lumpuh, dan diizinkan kembali ke Jawa karena sakitnya. Soewardi gagal dalam ujian guru, dan Douwes Dekker tidak lebih dari beberapa artikel ancaman konyol di Die neue Zeit yang ditujukan kepada Pemerintah Belanda. Tak perlu diragukan lagi bahwa hasil dari begitu banyak pengorbanan finansial pasti berdampak melumpuhkan bahkan bagi badan Tadofonds. Memberikan uang kepada para pemalas dan pengangguran yang menjalani hidup malas di Eropa, sementara para kontributor Tadofonds bekerja keras untuk mencari nafkah di tengah panas yang menyengat, sangat tidak produktif; dalam jangka panjang, hal itu bahkan membunuh antusiasme IP yang paling bersemangat sekalipun. Sampai-sampai wesel pos mulai berkurang. Tjipto mungkin tidak lagi "diberikan kepada badan amal", tetapi bahkan untuk dua orang yang tersisa dari longsoran IP, tidak ada lagi tunjangan pensiun. Krisis ekonomi, yang membuat banyak orang disini menganggur, tentu saja langsung terasa dan dalam semua keparahannya pertama kali oleh para parasit. Karena alasan ini, Douwes Dekker menganggap bijaksana untuk mendekat sedikit. Dari Swiss yang indah, menurut laporan terbaru, ia akan turun ke Singapura. "Jauh di mata, jauh di hati": ia merasakan kebenaran pepatah ini di dompetnya, dan karena itu ia akan menetap sedikit lebih dekat dengan sumber dari mana sedekah diberikan kepadanya. Sang pahlawan tidak lagi memiliki uang untuk bepergian; kas Insulinde dan para pekerja Tadofonds yang miskin, yang di masa-masa sulit ini hanya bisa bertahan hidup dengan susah payah, mungkin akan berlumuran darah untuk biaya perjalanan. Dua ribu gulden harus dikumpulkan "begitu saja"! Betapa lebih bermanfaatnya uang ini dapat digunakan untuk mendukung para pekerja setia dan pekerja keras di Belanda, yang bersedia tetapi tidak mampu bekerja dan yang menderita kekurangan bersama keluarga mereka! Kami menawarkan ide kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang yang bijaksana. Namun, begitu berada di Singapura, DD akan dapat melakukan studi yang cermat tentang perbedaan perlakuan terhadap orang Indo di masyarakat di sana (Inggris) dan di koloni Belanda. Lebih lanjut, dilaporkan bahwa Ibu Douwes Dekker ingin membuka sekolah swasta di Semarang. Baiklah, kami mendoakan yang terbaik untuk warung pendidikan wanita ini, tetapi kami masih sedikit ragu untuk mengucapkan selamat kepada warga Semarang atas guru dadakan ini. Lagipula, dalam surat kabar kami tanggal 30 April 1911, kami membahas rencana gila yang menghantui pikiran para kaki tangan DD yang rela dan disalahgunakan pada hari-hari setelah 26 Desember 1912, ketika IP didirikan. Kami menulis: “Dengan menggunakan nama samaran, hasutan untuk melakukan pembunuhan dilakukan secara terselubung, begitu terselubung sehingga hakim pidana tidak dapat menangkapnya”. Dan kami ingat bagaimana Ibu Douwes Dekker, dalam sebuah artikel di Expres yang ditandatangani dengan nama lengkapnya, mengecam seorang penentang IP dan menyatakan keterkejutannya bahwa dia tidak diracuni! Apakah mengherankan jika kita tidak dapat mengucapkan selamat kepada Semarang atas pendidik yang lembut dan bijaksana ini, dan bertanya-tanya apakah wanita ini memang orang yang tepat untuk mempercayakan anak-anak kita kepadanya? Waspadalah!’. Catatan: Surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie yang terbit di Batavia dipimpin oleh Karel Wijbrand, seorang yang di dalam pers berbahasa Belanda di Hindia termasuk anti nasionalis dan cenderung rasis. Seperti dilihat nanti Karel Wijbrand akan mendapat lawan yang sepadan dengan jurnalis Parada Harahap. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Kongres Pendidikan Pertama 1916; Indische Vereeniging di Belanda dan Soewardi Soerjaningrat

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar