Jumat, 03 Juli 2026

Sejarah Casajangan (7): Sorip Tagor Masa Awal Perjuangan Politik, Ekonomi; Kongres Hindia 1917 dan Adopsi Nama Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Sorip Tagor adalah penerus Soetan Casajangan di Belanda. Sorip Tagor tidak sendiri di Belanda, juga ada nama Baginda Djamaloedin dan Tan Malaka. Penghubung antar dua generasi itu adalah Soetan Goenoeng Moelia. Sementara Indisch Vereeniging juga tetap relevan di Belanda. Hanya saja di masa Sorip Tagor dkk situasi dan kondisinya telah berubah jika dibandingkan di masa Soetan Casajangan dkk. Soetan Goenoeng Moelia tiba di Belanda pada tahun 1910 dan Soetan Casajangan kembali ke tanah air tahun 1913 (pada tahun dimana trio Sorip Tagor, Baginda Djamaloedin dan Tan Malaka berangkat studi ke Belanda). Pengantar Studi Kelayakan Bisnis


Kongres Pendidikan Kolonial Pertama (Eerste Koloniaal Onderwijs-Congres) diadakan pada tanggal 28 hingga 30 Agustus 1916 di Den Haag. Kongres ini dipimpin oleh JH Abendanon, mantan Direktur Pendidikan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda yang dikenal sebagai pendukung kemajuan pendidikan bumiputra. Pertemuan bersejarah ini mengumpulkan para pejabat kolonial, pendidik, misionaris, serta mahasiswa asal Hindia Belanda (Indonesia) yang sedang belajar di Belanda guna merumuskan arah kebijakan pendidikan bagi masyarakat pribumi. Peran Mr C Th van Deventer (tokoh utama Politik Etis) sangat besar di balik terselenggaranya kongres tersebut melalui advokasi pendidikan bagi kaum pribumi. Kongres Mahasiswa Hindia 1917 adalah pertemuan mahasiswa dari tanah jajahan di Belanda pada 23-24 November 1917 di Leiden. Digagas oleh Hubertus Johannes van Mook melalui Indologie Vereniging, kongres ini menjadi wadah musyawarah perwakilan pelajar untuk mengumpulkan aspirasi mengenai masa depan koloni Hindia Belanda. Jong Sumatranen Bond adalah organisasi kepemudaan yang didirikan di Batavia pada 9 Desember 1917 oleh para pelajar Sumatra. Bertujuan mempererat persatuan antarpelajar asal Sumatra dan memajukan budayanya (AI Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Sorip Tagor dan awal perjuangan politik dan ekonomi Indonesia? Seperti disebut di atas, Sorip Tagor dapat dikatakan adalah penerus Soetan Casajangan di Belanda. Lalu bagaimana sejarah Sorip Tagor dan awal perjuangan politik dan ekonomi Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Bahasa Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Sorip Tagor dan Awal Perjuangan Politik dan Ekonomi; Kongres Hindia 1917 dan Adopsi Nama Indonesia

Dalam dunia akademik, orang Indonesia sudah lama terlibat dalam bidang pendidikan. Namun tetap tidak pernah cukup. Demikian juga dalam bidang kesehatan, sudah banyak di bidang kedokteran, tetapi tetap belum sepenuhnya cukup. Lantas mengapa dua bidang itu yang mengemuka lebih dulu? Yang jelas penduduk pribumi harus lebih pintar (lebih berkreasi) dan lebih sehat (lebih produktif). Dengan latar belakang itulah kemudian orang pribumi mulai terlibat dalam dunia jurnalistik dan percetakan/penerbitan. Saat jurnalis Belanda bertanya kepada Dja Endar Moeda mengapa mengapa setelah pension guru menjadi jurnalis? Dja Endar Moeda menjawab enteng: “pendidikan dan jurnalistik sama pentingnya, sama-sama mencerdaskan bangsa”. 


Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 28-02-1899 mengutip pernyataan goeroe Dja Endar Moeda (koran ini masih memberi label kepada Dja Endar Moeda sebagai guru meski bertindak sebagai jurnalis/editor surat kabar Pertja Barat), bahwa orang Melayu harus mengoreksi kesalahan sendiri bangsanya, bagaimanapun, harus tetap ada keinginan untuk bekerja di bidang pertanian, dan menunjuk ke jumlah berlatih pertanian oleh orang lain (non Melayu) dan mendorong Melayu untuk mengikuti contoh itu. Dja Endar Moeda, memang seorang nasionalis yang juga memperhatikan bangsanya sendiri dari suku bangsa yang lain. 

Singkatnya: pada tahun 1900 pensiunan guru yang menjadi jurnalis Dja Endar Moeda yang kini telah mengakuisisi surat kabar Pertja Barat (dengan motto baru: “Oentoek Sagala Bangsa” segera mendirikan wadah persatuan (organisasi) bangsa “Medan Perdamaian” di Padang. Pada tahun 1901 “Medan Perdamaian” di bawah pimpinan Dja Endar Moeda membentuk organnya sendiri berupa majalah bulanan dengan nama “Insulinde” (baca: Indonesia). 


Majalah bulanan “Insulinde” yang menjadi organisasi kebangsaan Indonesia yang pertama Medan Perdamaian mengusung topik-topik yang berkenaan langsung dengan dunia nyata di tengah penduduk seperti pengembangan pertanian, pengembangan industri kerajinan/rumah tangga. Pengetahuan dan pengalaman penduduk (seperti sawah padi, perkebunan ladang kopi) tidak cukup lagi dalam dunia ekonomi (perdagangan) yang baru. Dalam hal inilah majalah Insulinde menjadi relevan bagi mencerdaskan penduduk dalam bidang pertanian (bahan pangan lainnya selain beras dan hortikultura) dan dalam bidang industri rumah tangga (produk alami yang dikembangkan untuk laku dijual di pasar). Topik tambahan dalam Insulinde termasuk pendidikan, social budaya dan sebagainya termasuk hukum adat). 

Demikianlah awalnya yang kemudian pada tahun 1903 Dja Endar Moeda mendorong salah satu asisten editornya di Insulinde untuk melanjutkan studi pertanian ke Belanda. Asisten editor tersebut adalah Baginda Djamaloedin, lulusan sekolah guru (kweekschool) Fort de Kock. Dja Endar Moeda memberi alamat surat kabar berbahasa Melayu di Belanda Bintang Hindia yang dipimpin kawan lamanya Clockener Brousson yang belum lama ini pada bulan April 1903 berkunjung ke Padang. Dja Endar Moeda menjadi perwakilan Bintang Hindia di Sumatra. Baginda Djamaloedin pada bulan Agustus 1903 berangkat dengan kapal uap dari Padang menuju Amsterdam. 


Dja Endar Moeda sebagai direktur Medan Perdamaian mengirim tiga orang ke Belanda sekaligus. Namun karena Soetan Casajangan, guru kepala sekolah di Padang Sidempoean yang masih mempersiapkan kemampuan bahasa Belanda baru menyusul kemudian. Soetan Casajangan akan mengambil studi keguruan. Pada tanggal 5 Juli 1904 Soetan Casajangan mendarat di pelabuhan Amsterdam yang dijemput oleh Baginda Djamaloedin. Setelah Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin telah menemukan sekolah yang diinginkan masing-masin dan telah diterima, lalu keduanya mengajukan untuk memperoleh surat pembebasan tugas mengajar di Hindia untuk melanjutkan studi (di Belanda) dengan biaya sendiri (lihat Utrechtsch provinciaal en stedelijk dagblad, 22-07-1904). Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin tinggal di Den Haag (lihat Sumatra-bode, 13-09-1904). 

Organisasi kebangsaan Indonesia pertama, “Medan Perdamaian” yang dipimpin Dja Endar Moeda pada tahun 1904 praktis sudah menempatkan dua anggotanya studi di Belanda. Seperti pernah dikatakan Dja Endar Moeda bahwa “pendidikan dan jurnalistik sama pentingnya, sama-sama mencerdaskan bangsa”. Dalam hal ini Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin yang telah diterima pendidikan yang lebih tinggi di Belanda akan lebih mencerdaskan bangsa lagi. 


Soetan Casajangan menyelesaikan studinya tahun 1907 di perguruan tinggi keguruan  Rijksweekschool di Haarlem (lihat Algemeen Handelsblad, 23-05-1907). Disebutkan Soetan Cajasangan lulus ujian pada tanggal 22 Mei di Haarlem dan mendapat akte guru LO (Lager Onderwijs). Baginda Djamaloedin dalam studinya juga cukup lancar di Rijks-Landbouwschool. Baginda Djamaloedin berhasil lulus ujian akhir tingkat dua pada bulan Juli 1907 (lihat Algemeen Handelsblad, 10-07-1907). Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin kemudian sama-sama melanjutkan studinya ke tingkat yang lebih tinggi di kampus masing-masing. 

Seperti disebut sebelumnya, seiring dengan semakin banyaknya mahasiswa Indonesia yang studi di Belanda, Soetan Casajangan menginisiasi pendirian organisasi mahasiswa.  Pada tanggal 25 Oktober 1908 di tempat kediaman Soetan Casajangan di Leiden dalam pertemuan yang dihadiri sebanyak 15 mahasiswa didirikan organisasi mahasiswa Indonesia yang diberi nama Indisch Vereeniging. Lalu kemudian dipilih pengurus dimana Soetan Casajangan terpilih sebagai ketua dan RM Soemitro sebagai sekretaris/bendahara. 


Dja Endar Moeda di tanah air yang membaca pendirian Indisch Vereeniging melalui surat kabar pada awal tahun 1909 tentu saja sumringah. Indisch Vereeniging dalam bahasa Belanda adalah Perhimpoenan Hindia (baca: Indonesia). Seperti disebut di atas, Dja Endar Moeda pada tahun 1900 telah mendirikan organisasi kebangsaan Indonesia pertama di Padang (Medan Perdamaian), organisas “sagala bangsa” dengan membentuk organnya majalah Insulinde (baca: Indonesia). Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda dan Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan adalah sama-sama lulusan sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean. Dja Endar Moeda lulus tahun 1885 dan Soetan Casajangan lulus tahun 1889. Pada saat Soetan Casajangan masih di Belanda, Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepoen tiba di Belanda pada tahun 1910. Lalu pada tahun 1911 Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia setelah menyelesaikan sekolah dasar Eropa (ELS) di Sibolga berangkat dari Batavia menuju Belanda dengan menumpang kapal Prinses Juliana tanggal 2 November 1911 (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 27-11-1911).


Tunggu deskripsi lengkapnya

Kongres Hindia 1917 dan Adopsi Nama Indonesia: Garis Continuum Dja Endar Moeda, Soetan Casajangan dan Sorip Tagor

Setelah sembilan tahun di Belanda, Soetan Casajangan akhirnya kembali ke tanah air pada bulan Juli 1913. Selain telah menyelesaikan studi keguruannya dengan mendapat akta guru kepala banyak hal yang telah dirintis oleh Soetan Casajangan di Belanda (yang paling penting adalah organisasi mahasiswa Indische Vereeniging dan dana studi Studiefond). Soetan Casajangan di tanah air akan memulai (lagi) kehidupan yang akan sendirinya berinteraksi dengan penduduk di Hindia (baca: Indonesia). 


Pada bulan Agustus 1913 Soetan Casajangan meminta audiensi yang diterima oleh Gubernur Jenderal di Buitenzorg. Soetan Casajangan meminta Gubernur Jenderal menempatkannya di inspektorat pendidikan pribumi di Sumatera, jika perlu sebagai pengawas di sekolah dasar, namun pemerintah menyarankan secara halus agar Soetan Casajangan memulai karirnya sebagai guru di sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kok yang kelak akan dipindahkan ke inspektorat pendidikan pribumi. Lalu apakah Soetan Casajangan kecewa? 

Seperti biasanya, jabatan atau posisi yang selama ini diduduki oleh (pejabat) Belanda tidak pernah diberikan kepada orang pribumi meski pendidikannya sudah setara dengan orang Eropa. Yang pertama mengalaminya adalah Ismangoen Danoe Winoto setelah lulus di Delft dalam studi Indologi tahun 1876 hanya ditempatkan sebagai staf di sekretariat negara, yang jauh dari harapan dan tidak sesuai dengan jenjang pendidikannya. Kini, Soetan Casajangan alih-alih untuk ditempatkan di Inspektorat Pendidikan Pribumi (sesuai kapasitas dan kompetisinya), hanya ditempatkan sebagai asisten guru di sekolah guru pribumi di Fort de Kock (yang tidak sesuai lagi dengan jenjang pendidikannya). Sebagaimana diketahui pada saat ini sudah ada gerakan untuk memisahkan (pemerintah) Hindia (Belanda) dari (pemerintah kerajaan) Belanda sehubungan dengan pendirian Indische Partij (sebagai bagian dari Indisch Bond). Pada saat di Buitenzorg inilah Soetan Casajangan bertemu dengan Sorip Tagor. 


Gerakan pemisahan Hindia dan Belanda muncul pertama tahun 1882. Gerakan ini terutama didorong oleh orang-orang Indo (orang Eropa/Belanda yang lahir di Hindia atau yang telah bercampur dengan penduduk pribumi). Namun secara organisatoris baru terbentuk tahun 1898 dengan didirikannya Indisch Bond di Batavia. Tokoh utamanya adalah K Zaalberg. Indisch Bond didirikan dengan tujuan untuk memperjuangkan hak-hak dan meningkatkan kedudukan sosial komunitas Indo-Eropa (Eurasia), yang sering menghadapi diskriminasi dan marginalisasi yang parah di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Sebagai implikasi dari gerakan Indisch Bond ini kemudian di Belanda muncul  organisasi Vereeniging Oost en West yang didirikan tanggal 3 Mei 1899 di Den Haag yangt diinisiasi oleh Ny N van Zuylen-Tromp yang bertujuan untuk memperkuat hubungan antara Belanda dengan (khususnya) Hindia Timur. Aspirasi RA Kartini menjadi salah satu latar belakang pendirian. Lalu pada tahun 1901 muncul pula di Den Haag organisasi Vereeniging "Moederland en Koloniën" yang didirikan tanggal 14 Maret 1901. Organisasi ini meski mirip dengan Vereeniging Oost en West tetapi ada perbedaannya. Setelah Oost-Indische Kiesvereeniging (Asosiasi Pemilih Hindia Timur) dibubarkan pada bulan Desember 1900 dibentuk Vereeniging "Moederland en Koloniën" yang bertujuan untuk memperhatikan, membahas, dan mempromosikan kepentingan hubungan serta kebijakan antara negeri induk (Belanda) dan wilayah (khususnya) Hindia Timur. Organ Vereeniging Oost en West adalah majalah Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West (terbit pertama tahun 1901). Mereka inilah yang kemudian mendorong dan munculnya Politik Etis (Politik Balas Budi) mulai diberlakukan secara resmi pada tahun 1901. Kebijakan yang digagas oleh C Th van Deventer sebagai bentuk tanggung jawab moral pemerintah ini diumumkan secara resmi oleh Ratu Wilhelmina. Singkatnya, pada tahun 1907 di Hindia terbentuk organisasi Insulinde (yang juga didalamnya termasuk orang pribumi). Pada bulan Agustus 1912 Komite Indisch Partij di Bandoeng diintegrasikan ke dalam Indische Bond yang kemudian terbentuk Partai Hindia (Indisch Partij) pada tanggal 25 Desember 1912 dengan motto Hindia voor Indie yang mana tokoh utamanya antara lain Ernest Douwes Dekker, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Tujuan Indisch Partij antara lain menghapuskan diskriminasi rasial dan memperjuangkan kesetaraan hak hak bagi seluruh penduduk Hindia. Salah satu brosur yang diidarkan Indisch Partij berjudul "Als ik een Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang dianggap meresahkan pemerintah lalu Indisch Partij sebelum berkembang dilarang dan para tokohnya ditangkap pada tanggal 28 Juli 1913 tepat pada saat tibanya Soetan Casajangan dari Belanda. 

Selama Soetan Casajangan di Belanda begitu hangatnya sambutan orang Belanda terhadapnya. Soetan Casajangan banyak interaksi dengan orang Belanda termasuk dalam hal ini artikel-artikel Soetan Casajangan yang dimuat surat kabar maupun majalah serta pernah diundang untuk berpidato di hadapan forum Vereeniging "Moederland en Koloniën". Namun sepak terjang Soetan Casajangan di Belanda mulai dibully oleh orang-orang Belanda di Hindia dari golongan Chauvinis (diskriminatif). Saat Soetan Casajangan yang beraudiensi dengan Gubernur Jenderal juga menjadi sasaran tembak para Belanda totok tersebut termasuk diantaranya C van der Pol (jurnalis) di Belanda dan CO van der Plas di Jawa (yang pangkatnya masih aspiran Controleur). 


Sejak Indisch Bond didirikan tahun 1898, pembagian kelompok warga tidak lagi pembagian lama (Eropa/Belanda, Timur Asing dan pribumi), tetapi sudah mulai bergeser modusnya menjadi Belanda totok (rasial), Indo-Belanda, dan pribumi (termasuk Cina/Arab). Pada fase inilah Soetan Casajangan berangkat studi ke Belanda tahun 1904 dan kini pada tahun 1913 sudah kembali berada di Hindia. Intinya pengelompokkan siapa yang menjadi penjajah yang sebenarnya telah bergeser. Kelompok Belanda yang mendukung politik etik tidak lagi dapat dikatakan sepenuhnya sebagai golongan penjajah. Kelompok pendukung etik (yang mendukung persatuan antara putih dan coklat) berseberangan dengan kelompok pembully Soetan Casajangan. Diantara kelompok pendukung etik orientasinya terbagi dua; negara merdeka condong ke persemakmuran dan negara condong ke terpisahan. Oleh karena Soetan Casajangan memiliki rekan (kolega) Belanda di Belanda menjadi lebih condong ke negara persemakmuran. 

Setelah Soetan Casajangan bertemu Sorip Tagor di Buitenzorg tidak lama kemudian Sorip Tagor berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi di bidang kedokteran hewan. Pada tahun 1913 ada sejumlah siswa di Buitenzorg yang berasal dari afdeelingt Padang Sidempoenan, yakni selain Sorip Tagor di Veartsenschool, juga ada nama Alimoesa dan di Middlebare Landbouwschool antara lain Abdoel Azis Nasoetion. Sementara itu Soetan Casajangan sudah terinformasikan di Fort de Kock (lihat De nieuwe courant, 30-04-1914). 


Sumatra-bode, 29-05-1914: ‘Juliana fonds. Pada tanggal 25 April, sebuah pertemuan umum diadakan di Kedai Kopi Holland Selatan di Den Haag dari Juliana fonds di Den Haag, yang bertujuan untuk mendukung pengembangan mereka yang lahir di India untuk mempromosikan persatuan dan kemajuan dari Belanda Raya. Ini terdengar agak megah, meskipun modal dana ini cukup kecil dan tidak signifikan. Itu akan menjadi, menurut niat awal, sebuah Soetan Casajangan Fonds, dan Batak yang terkenal cukup naif untuk memimpin rapat pendirian sendiri. Namun, pada saat-saat terakhir, ia bertindak bodoh, dan Abendanon membiarkan dirinya dipaksa menjadi ketua dan mengambil inisiatif baru. Dengan nama Soetan Casajangan, pengaruhnya pada dana tersebut juga lenyap—dan selain itu, tidak ada uang nyata yang bisa dihasilkan. Pada tanggal 25 April lalu, dikomunikasikan bahwa telah muncul pertanyaan sejauh mana Asosiasi dapat bekerja sama dengan rencana untuk menyatukan semua asosiasi yang ada di bidang tersebut di bawah satu Dewan Pengawas pusat. Menyusul komunikasi dari ketua, JH Abendanon, bahwa dalam rapat yang diadakan di Amsterdam, alih-alih komite pusat, sebuah asosiasi akhirnya didirikan di samping asosiasi yang sudah ada. Mengingat adanya asosiasi yang sudah ada, sehingga kini terdapat tujuh asosiasi serupa, salah satu anggota dewan mengusulkan pembubaran asosiasi Juliana-fonds—yang belum mampu berbuat banyak—dan menyetorkan modalnya (kurang dari 3.000 gulden) ke kas sebuah asosiasi yang disebut "asosiasi saudara". Namun, usulan ini ditentang oleh anggota dewan lainnya, yang menganggap saran tersebut agak terlalu dini dan percaya bahwa informasi lebih lanjut mengenai situasi saat ini harus ditunggu terlebih dahulu. Anggota dewan yang terakhir ini, bersama dengan beberapa anggota dewan lainnya dan beberapa anggota biasa, juga percaya bahwa upaya masih dapat dilakukan untuk membawa asosiasi Julianafonds, yang telah berdiri kurang dari setahun, menuju kemakmuran yang lebih besar. Sekitar 450 orang telah menyatakan dukungan untuk aspirasi Vereenigiug; lebih dari 400 gulden telah dijanjikan sebagai kontribusi tahunan. Dipercaya bahwa asosiasi tersebut dapat diperkuat lebih lanjut melalui propaganda yang efektif. Gagasan terakhir ini akhirnya mendapat persetujuan dalam rapat tersebut. Diputuskan untuk melanjutkan kegiatan perkumpulan setidaknya selama satu tahun lagi dan, sementara itu, berupaya untuk mendapatkan dukungan baik di Den Haag maupun di tempat lain di Belanda, dan selanjutnya mencari afiliasi dengan perkumpulan di Hindia Belanda. Pengumuman oleh ketua, JH Abendanon, bahwa ia—meskipun awalnya bermaksud untuk mengundurkan diri—kini menganggap lebih baik untuk bergabung dengan dewan pengurus mengingat keadaan perkumpulan yang genting saat ini, disambut dengan tepuk tangan. Diingatkan bahwa perkumpulan bermaksud untuk memberikan uang muka, jika perlu, tidak hanya kepada anak laki-laki tetapi juga kepada anak perempuan yang dianggap sehat secara mental dan fisik untuk melanjutkan studi oleh pihak berwenang yang ditunjuk. JH Abendanon dan HE Prins terpilih kembali sebagai anggota dewan pengurus, dan WC Schrijnen dan WJ Giel terpilih untuk perluasan, sehingga dewan pengurus sekarang terdiri dari WF Boissevain, CPJ Plok dan JJ Meijer’. 

Setelah Soetan Casajangan meyakini bahwa melanjutkan studi ke Belanda adalah cara yang sesuai dan dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas penduduk pribumi di Hindia. Satu yang jelas dalam hal ini, meski Soetan Casajangan berada di pedalaman Sumatra yang terpencil, pada hakikatnya telah menyiapkan tempat tujuan (Indische Vereemiging) dan kendaraannya (studiefond yang kini diberi nama Juliana Fonds). Kini, Soetan Casajangan di Fort de Kock tengah mulai menyiapkan tempat asalnya (domain/ranahnya) dengan mendirikan organisasi kemasyarakat pada bulan Agustus 1914 (lihat De Preanger-bode, 08-09-1914). Organisasi kemasyarakat untuk pembangunan masyarakar lokal di Fort de Kock ini dibangun tentu saja untuk banyak fungsi seperti ekonomi/perdagangan, pengiriman siswa berprestasi studi ke Belanda yang dimungkinkan terhubung dengan studiefond dan Indische Vereemiging. 


De Preanger-bode, 08-09-1914: ‘Pembentukan Korps Pribumi Pertama di Fort de Kock. Atas inisiatif Bapak RS Casajangan S.p., sebuah pertemuan para kepala suku, pejabat, dan warga berada dari Fort de Kock dan sekitarnya diadakan di Madjoe Society pada tanggal 25 Agustus 1914, pukul 97 pagi. RSCSp, sebagai ketua, membuka pertemuan dan menyampaikan ceramah mengenai situasi terkini di Eropa. Setelah menyapa hadirin dan mengucapkan selamat—seperti yang tertulis dalam JB—atas Hari Raja, pembicara memulai dengan menjelaskan hubungan antara berbagai ras di Hindia Belanda, khususnya di Sumatra. Setelah itu, ia menceritakan bagaimana ia memiliki gagasan untuk belajar di Belanda agar dapat memberikan informasi kepada rekan senegaranya, untuk berjuang demi kemajuan Negara dan Rakyat; betapa sulitnya jalan yang harus ia tempuh; bagaimana ia belajar di Belanda; betapa banyak persahabatan yang ia alami di sana dari orang Belanda; dan bagaimana, setelah menyelesaikan studinya, ia ragu, yaitu, apakah ia harus tetap tinggal di Belanda untuk kepentingannya sendiri, atau apakah ia harus kembali ke Hindia untuk kepentingan bangsanya. Ia memutuskan untuk melakukan yang terakhir. Kemudian ia menceritakan apa yang telah ia lakukan di Belanda untuk usahanya, termasuk memberikan kuliah di berbagai asosiasi, seperti O en W, M en K. Dua asosiasi didirikan: Indische Vereemiging dan studiefond Juliana Fonds untuk persatuan dan kemajuan Belanda Raya. Sebuah brosur diterbitkan olehnya, dll., semuanya bertujuan untuk persatuan Belanda dan Hindia, yang penduduknya harus memiliki hak dan kewajiban yang sama. Sebagai penjelasan, ia mengutip sejarah dari zaman kuno. Satu per satu, ia menceritakan keadaan rakyat pada waktu itu, diikuti oleh kedatangan orang Hindu, Tionghoa, Arab, Portugis, Inggris, dan Belanda. Ia membahas hal ini untuk waktu yang lama; Ia mengenang kembali persahabatan, kejujuran, dan perilaku baik orang Belanda terhadap penduduk pribumi pada waktu itu, pendirian Perusahaan Hindia Timur (VOC); lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penduduk pribumi secara bertahap menganggap Perusahaan sebagai guru, pemimpin, dan penguasa, bahkan sebagai ayah dan ibu, dan bagaimana Perusahaan berubah menjadi Pemerintah saat ini. Sebagai contoh perbuatan baik Pemerintah, ia menyebutkan lalu lintas, perdamaian dan ketertiban, pertanian, peternakan dan perdagangan, industri, kesehatan, dll. Ia membandingkan kehidupan saat ini dengan kehidupan masa lalu. Oleh karena itu, kemakmuran saat ini disebabkan oleh Pemerintah yang bersifat kebapakan. Kepentingan rakyat terjalin dengan kepentingan Pemerintah. Siapa pun yang membela kepentingan Pemerintah membela kepentingannya sendiri. Dan kerja sama rakyat dengan Pemerintah adalah kekuatan maksimal untuk membela negara dan Rakyat dari musuh asing’. 

Dalam hal ini, Soetan Casajangan di Fort de Kock, selain menunaikan kewajibannya sebagai guru di sekolah guru (kweekschool) Fort de Kock, juga sudah terlihat di luar itu telah turut aktif dalam pembangunan masyarakat. Organisasi pembangunan masyarakat di Fort de Kock ini juga dapat dihubungkan dengan perusahaan perdagangan yang didirikannya dengan SA Barststra di Belanda. Tentu saja di Belanda juga adalah perusahaan orang Indonesia lainnya (lihat Algemeen Handelsblad, 28-06-1914). Disebutkan pada tahun 1914 di Belanda didirikan suatu perusahaan ekspor-impor dari dan ke Hindia dengan nama Firma Soangkoepon en Mangkoeto Dari nama perusahaan firma ini mengindikasikan investor utamanya adalah Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon dan Amaroellah gelar Soetan Mangkoeto. 


Leeuwarder courant, 29-05-1912: ‘Pengumuman. Melalui akta tanggal 25 Mei 1912, pihak-pihak yang bertanda tangan di bawah ini, yang masing-masing berdomisili di Beeklaan 3C9 di Den Haag dan di Heerenveen, telah membentuk Firma dengan nama perusahaan "Bartstra en Casangan", dengan tujuan mendirikan dan mengoperasikan kantor komisi untuk ekspor dan barang bersih ke Hindia Timur Laut. Persekutuan ini didirikan di Heerenveen, tetapi dengan persetujuan kedua mitra, kantor terdaftar dapat dipindahkan ke tempat lain. Persekutuan ini dibentuk untuk jangka waktu yang tidak terbatas dan berakhir 6 bulan setelah pemberitahuan oleh salah satu mitra kepada mitra lainnya, tetapi tidak pernah sebelum tanggal 1 Juli 1915. Masing-masing mitra berwenang untuk bertindak dan menandatangani dengan nama perusahaan. Namun, persetujuan dan tanda tangan kedua mitra diperlukan untuk pembelian, penjualan, dan penggadaian real estat, pembuatan jaminan, pembelian aset yang berkaitan dengan kemitraan yang melebihi £5.000 dalam jumlah sekaligus, pembuatan penyelesaian, dan untuk tindakan yang tidak termasuk dalam lingkup kemitraan biasa. Jika salah satu mitra sakit atau absen, mitra lainnya dapat menjalankan kemitraan dan menjalankan bisnis atas tanggung jawabnya sendiri. Heerenveen, 25 Mei 1912. Soetan Casajangan Sp dan SA Bartstra. Catatan: SA Bartstra adalah guru les privat bahasa Belanda Soetan Casajangan di Padang Sidempoean pada tahun 1903. Seperti disebut sebelumnya, saat itu SA Bartstra adalah guru sekolah Eropa (ELS) di Padang Sidempoean (sejak 1902). 

Sementara Mangkoeto di Belanda, Mangaradja Soangkoepon kembali ke tanah air. Besar dugaan, Mangaradja Soangkoepon akan menjadi perwakilan firma mereka di tanah air. Mangaradja Soangkoepon diketahui pada bulan Oktober sudah berada di Medan (lihat Deli courant, 29-10-1914). Soetan Casajangan diantara tugas-tugasnya sebagai pengajar di sekolah, terus mendidik penduduk dan juga sebagai penghubung antara orang pribumi di Hindia dengan orang Belanda di Belanda. Guru Soetan Casajangan berjuang dengan caranya sendiri dengan cara guru berjuang. 


De avondpost, 22-02-1915: ‘R.S. Casajangan Sr. Jangkauan tangan! Mengamankan Hindia untuk Belanda!! M- R! Kepulauan Hindia Timur, wilayah yang sangat luas yang terdiri dari banyak pulau dan pulau kecil, dihuni oleh orang-orang yang terdiri dari berbagai ras dan suku, yang bahasa dan adat istiadatnya hanya serupa secara garis besar. Namun, kolonisasi Belanda modern bertujuan untuk menyatukan seluruh Hindia Belanda dalam bahasa, hak, dan kewajiban di bawah perlindungan Kekaisaran Belanda, khususnya melalui kebijakan etika. Untuk mencapai tujuan itu, Pemerintah membimbing arus intelektual semua orang tersebut di sepanjang jalur pendidikan, khususnya pendidikan, yang didukung oleh berbagai upaya untuk meningkatkan kemakmuran tanah dan rakyat, termasuk pertanian, industri, perdagangan, dll., seperti anak sungai yang berkumpul menjadi satu sungai yang mengarah ke tujuan tertentu: laut. Untuk mengamati, memimpin, dan mengendalikan arus-arus ini, Pemerintah harus selalu mampu memposisikan diri di garis depan, dengan bantuan dan kerja sama dari badan-badan dan pejabatnya. Dan untuk dapat melakukan hal ini, Pemerintah mencari titik penghubung antara tujuan dan kondisi rakyat. Sama seperti yang dilakukan dalam pendidikan—yaitu, dengan menghubungkannya dengan pengetahuan (pengetahuan tentang lingkungan) anak-anak ketika mereka memasuki sekolah pada usia 6 atau 7 tahun. Untuk mencapai hubungan ini, guru harus mampu menempatkan diri pada posisi anak-anak dan mengenal mereka dengan baik. Hal yang sama berlaku untuk hubungan antara Pemerintah dan rakyat: Pemerintah harus, yaitu, mengenal rakyat secara menyeluruh. Pengetahuan ini disebut: "Linguistik, Geografi, dan Etnologi Hindia Belanda," yang dibedakan menjadi umum dan khusus. Dalam mempelajari yang pertama, yaitu hanya satu yang membutuhkan pengetahuan, tetapi untuk yang kedua, pengetahuan dan kemampuan tersebut, yaitu teori dan praktik, dengan kata lain, penerapannya. Selama Hindia belum bersatu sepenuhnya, seperti Amerika, studi tentang kedua bagian tersebut tidak mungkin dilakukan oleh semua orang, setidaknya bagian-bagian tertentu tidak mungkin dilakukan oleh orang asing; mereka hanya dapat mendekati praktik. Namun kemudian, setelah ratusan tahun berlalu, orang dapat mempelajari dan menganggap kedua bagian tersebut sebagai satu kesatuan. Agar orang asing dapat mendekati Linguistik, Geografi, dan Etnologi khusus suatu ras atau suku, seperti suku Jawa, Sundanese, Madura, Menadonia, Makassar, Ambon, Bugis, Melayu, Batak, Aceh, dan lain-lain, mereka harus tinggal di tempat tersebut sedikit lebih lama; oleh karena itu mereka tidak boleh sering berpindah tempat. Di sisi lain, penduduk asli yang berpendidikan dapat mempelajari dan menerapkan pengetahuan khusus di sana, karena mereka dapat memperoleh pengetahuan tersebut bukan hanya karena dipelajari, tetapi juga dari perasaan. Ini dapat dibandingkan dengan bahasa yang dipelajari dan pemahaman bahasa. Dengan kata lain, mereka telah mampu mengalami semua adat dan kebiasaan. Untuk mengilustrasikan argumen ini, saya ingin mencantumkan beberapa contoh peristiwa di bawah ini, yaitu: I. Pemberontakan orang Melayu di Pemerintahan Pantai Barat Sumatra pada tahun 1908. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan khusus tentang bahasa dan masyarakat di wilayah ini di antara berbagai pejabat. Pengenalan pajak terjadi tanpa konsultasi yang diperlukan dengan berbagai lapisan masyarakat. Orang Melayu sebenarnya bersedia; tetapi mereka harus terlebih dahulu memahami semuanya dengan benar. Apakah situasinya berbeda dengan Belanda? II. Selama saya tinggal di Fort de Kock, saya mengalami dua fakta khusus; yaitu: 1. Pada tanggal 25 Agustus 1914, tak lama setelah perang Eropa pecah, saya mengundang sekitar 70 kepala suku, pejabat, dan warga Fort de Kock yang berada untuk menghadiri pertemuan di perkumpulan "Madjoe" di sini. Saya memberikan ceramah tentang: "Satu-satunya dan cara terbaik untuk mempertahankan negara kita dari musuh asing tidak lain adalah kerja sama dengan pemerintah". Sebagai pengantar, saya mengutip sejarah Perusahaan Hindia Timur dan Pemerintah. Setelah itu, saya menceritakan perbuatan baik dan niat Pemerintah untuk negara kita. Dalam melakukannya, saya memberikan contoh dan membandingkan kehidupan di masa lalu dengan kehidupan saat ini. Setelah debat, orang Melayu sampai pada keyakinan bahwa proposisi yang disebutkan di atas mengandung kebenaran. Kemudian saya mengusulkan untuk mengajukan petisi kepada Pemerintah untuk pembentukan korps sukarelawan, juga sebagai contoh bagi negara dan wilayah lain, agar pengenalan milisi pribumi di seluruh Hindia Belanda menjadi mungkin. Usulan saya diterima dengan antusiasme yang besar. Pada tanggal 29 Agustus 1914, petisi yang ditandatangani oleh sekitar 80 orang tersebut diserahkan kepada Pemerintah. Dan untuk mengukuhkan fakta ini, sebuah jamuan makan diadakan di perkumpulan "Madjoe", yang dihadiri oleh berbagai pejabat pemerintah. dan orang Eropa lainnya. Walikota, asisten residen KA James, yang sangat bersimpati kepada penduduk asli, memberikan pidato yang indah dan ramah kepada mereka yang hadir. 2. Setelah Komite Utama untuk Kabupaten Pantai Barat Sumatera dibentuk di Padang untuk mengumpulkan dana bagi kaum miskin di Hindia Belanda, banyak orang Eropa, penduduk pribumi, dan orang Oriental asing mulai menyusun rencana tentang cara terbaik untuk mengumpulkan dana, misalnya, dengan mengadakan pertunjukan musik atau film, atau dengan mementaskan opera. Para kepala dan pejabat Fort de Kok tidak ingin gagal dalam hal ini: oleh karena itu mereka ingin mementaskan opera jenis Melayu. Ketika saya mendengar ini dari Bapak Nawawi Soetan Maamoer, guru pembantu tingkat bawah di sini, mendengar, dan saya langsung berkata kepadanya: “Memang bagus mengadakan opcraderma di sini, tetapi hal itu menimbulkan banyak kesulitan, memakan waktu lama, banyak biaya yang terkait dengannya, dan hasilnya sedikit, karena hanya sumbangan tertentu yang dapat diperoleh dan dari orang-orang tertentu. Tetapi, jika Anda mendekatinya dengan cara yang berbeda, maka Anda tidak hanya akan mendapatkan lebih banyak, tetapi bahkan lebih banyak uang dan etika. Maka bentuklah Komite Pribumi di sini sendiri untuk tujuan itu! Anda memiliki wewenang dan taktik untuk ini, mengingat pengetahuan Anda tentang Bahasa dan Masyarakat. Tugas sekarang ada pada Anda untuk melakukannya. Jika Anda mengizinkannya, saya yakin Anda dapat memperoleh dukungan, bahkan dari para haji dan syekh, asalkan Anda menyampaikannya dengan baik dan jelas. Selain itu, Anda memperkuat ikatan antara mereka”. “Pemerintah dan penduduk”. Pada malam berikutnya, 22 Oktober 1914, berbagai kepala suku, pejabat, dan warga kaya dari F. d. K. berkumpul di perkumpulan "Madjoe", atas undangan pria yang disebutkan di atas. Setelah uraian singkat dan penjelasan darinya, diputuskan, tanpa keberatan, untuk membentuk komite pribumi untuk pengumpulan dana demi kesejahteraan kaum miskin di Hindia Belanda. Berikut ini terpilih sebagai anggota dewan: Nawawi Soetan Maamoer, Presiden; Dat. Kajo, Sekretaris-Bendahara; St. Marodjo, anggota; Datoe. Sati, anggota; Datoe. Batoeah, anggota; Datoe. R. Asa'i, anggota; Karim, anggota; Radjo Bagindo, anggota. Pada 24 Oktober 1914, anggota dewan bertemu lagi untuk menyusun daftar dan mendistribusikan tugas. Saya menghadiri pertemuan ini. Setelah itu, semua orang melakukan apa yang mereka bisa! Semua orang memberi sesuatu: kaum miskin, labei, Haji, dan bahkan khalifah dan Syekh. Dan memang, pengumpulan pertama, yang berjumlah ƒ679,69, telah ditransfer ke Padang pada tanggal 19 November. Selain itu, janji sumbangan bulanan dibuat hingga tahun 1915, yang secara keseluruhan berjumlah sekitar ƒ500.—. 3. Betapa seringnya kita mendengar bahwa pejabat pemerintah mengalami kesulitan dalam masalah pajak, semata-mata karena kurangnya pengetahuan praktis tentang bahasa dan masyarakat! 4. Berkali-kali kita membaca di surat kabar bahwa para asisten di perusahaan telah meninggal karena kecerobohan dalam berurusan dengan kuli; sekali lagi, itu karena kurangnya pengetahuan tentang bahasa dan masyarakat. Oleh karena itu, dari contoh-contoh ini, jelas bahwa saat ini perlu menggunakan penduduk pribumi yang berpendidikan sebagai perantara (penasihat) antara Pemerintah dan penduduk, sebagaimana mereka bertindak sebagai perantara antara produsen dan konsumen. Penduduk pribumi yang berpendidikan, yang sangat mengenal bahasa dan masyarakat mereka, dapat memberikan banyak jasa kepada Pemerintah dan rakyat dalam memperkuat ikatan mereka, masalah pajak, dll. Oleh karena itu, mereka adalah: "Orang yang tepat di jalan yang tepat". Berikan kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar! F. d. K. 01-12-14. RS Casajangan Sr.’. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar